Author Topic: DON'T TOUCH MY MAID HIATUS  (Read 15036 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DON'T TOUCH MY MAID PART 3 IS UP 15 april
« Reply #240 on: April 14, 2011, 10:39:17 pm »
DON’T TOUCH MY MAID © VOLDY

CHAP YANG GAK TAU KEBERAPA TAPI PART 3 *kayaknya*

HAPPY READING
[/b][/size][/color]

“Kenapa tak dengarkan penjelasan omma dulu?”

Jun Pyo tak menjawab. Ia juga tak melangkah pergi. Yang dilakukannya hanyalah berdiri mematung sambil membelakangi ibunya.

“Kau tahu Jan Di yatim piatu, tapi kau tidak pernah tahu siapa yang merawatnya kan?”

Perlahan Jun Pyo berbalik. Rahangnya mengeras seiring nafasnya yang kian memberat.

Mrs. Goo mengangguk pelan seakan tahu apa yang dipikirkan anaknya. “Omma Woo Bin-ssi.”

Jun Pyo tersenyum sinis. Dengan angkuh ia berkacak pinggang seraya berkata, “Balas budi ya. Cih.”

“Kau tidak tahu apa-apa soal Jan Di.”

“Aku tahu semuanya!! Aku tahu tentang Jan Di.”

“Tidak!!  Kau tidak tahu apapun, anak muda. Apa kau tahu sewaktu Jan Di berumur 10 tahun ia pernah mengalami kecelakaan? Apa kau tahu bahwa Jan Di hampir saja meninggal jika mrs Song tidak menyumbangkan darah dan ginjalnya? Kau tidak tahu apa-apa, Goo Jun Pyo!!!”

Penjelasan dari ibunya sontak membuat Jun Pyo shock. Perlahan ia mundur kebelakang dan menabrak dinding. Dengan kuat ia bersandar pada dinding kokoh itu agar tak terjatuh. Jan Di? Kecelakaan? Hampir saja meninggal? Ia sama sekali tak tahu tentang fakta ini. Benar. Ia tak tahu apapun soal Jan Di.

Dengan linglung Jun Pyo berbalik. Ia tak menghiraukan panggilan ibunya. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah sebuah fakta bahwa Jan Di punya hutang budi sangat besar pada keluarga Woo Bin. Dan juga...kenyataan bahwa peluanyannya untuk memiliki Jan Di semakin kecil.[/size][/color]

OoO
[/size][/color]

Sudah lebih dari tiga tahun Jan Di tidak menginjakkan kakinya ke rumah sederhana ini. Kesibukannya yang mengurus Jun Pyo membuatnya lupa bahwa masih ada seorang lagi yang lebih membutuhkannya.

Derak pintu yang dibuka Woo Bin mengalihkan lamunannya. Ia yang tadinya menatap dengan pandangan kosong ke arah kebun samping rumah menoleh. Didapatinya Woo Bin tersenyum lembut kearahnya, dan dengan canggung dibalasnya senyum itu. Kemudian ia mengikuti Woo Bin masuk kedalam. Pencahayaan remang-remang menyambut keduanya. Woo Bin sengaja tidak menyalakan lampu dengan alasan ini masih pagi.

“Kau mau ketempat omma?”

Jan Di mengangguk sekali. Setelah meletakkan tasnya di sofa didepannya, Jan Di berjalan memasuki sebuah kamar tak jauh dari tempatnya berdiri. Didalam kamar itu pencahayaannya juga remang-remang. Diatas sebuah tempat tidur, terbaring sebuah tubuh lemah. Jan Di melangkah pelan mendekati orang itu.

Setelah cukup dekat, Jan Di menunduk. Diraihnya dan digenggamnya tangan kurus itu. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak tumpah.

“Omma, aku pulang.”

Dengan segenap hati diciuminya punggung tangan orang yang dipanggilnya omma itu. Setetes air mata jatuh keatasnya diikuti tetesan air mata lainnya.

“Omma tidak akan suka jika kau menangis Jan Di.”

Entah sejak kapan Woo Bin sudah berdiri dibelakangnya. Sambil tertawa pelan Jan Di menghapus air matanya.

Hening. Yang terdengar hanyalah suara napas pelan dari sang ibu yang terbaring. Jan Di mendengar suara berisik dibelakangnya. Dengan maksud ingin menegur Woo Bin, Jan Di berbalik. Tapi alangkah kagetnya ia ketika menemukan Woo Bin yang sedang berlutut dibawahnya.

“Dihadapan omma, aku ingin melamarmu. Geum Jan Di, maukah kau merubah statusmu menjadi Nyonya Song?”

Pancaran pengharapan terlihat jelas di iris Woo Bin. Jan Di tergugu. Ditatapnya dua cincin yang ada digenggaman Woo Bin.

“Oppa...”

“Aku tidak bisa menunggu lagi, Jan Di-a. Aku sudah terlalu lelah melihatmu bersama Goo Jun Pyo.”

Jan Di menarik napasnya pelan. Ditutupnya kedua matanya sedangkan tangannya semakin kuat menggenggam tangan kurus ibu Woo Bin. Ingatan mengenai kecelakaan dirinya waktu itu kembali berkelebat di pikirannya.

Karena aku omma jadi seperti ini.

Karena aku oppa jadi harus bekerja keras sampai memutuskan kuliahnya.

Karena aku keluarga ini jadi berantakan.

Jesus, inikah cara yang paling baik yang harus aku lakukan? Berikan petunjukmu, Bapa.

Dengan bayangan Jun Pyo dipikirannya, Jan Di mengangguk pelan. Dibiarkannya Woo Bin menyematkan cincin putih itu ke jari manisnya dan kemudian mengangguk lagi ketika Woo Bin berkata dengan gembira, “Pernikahan kita dua minggu lagi. Kau setuju?”

Hingga malam tiba, bayangan Jun Pyo dengan segala macam ekspresinya terus menghantui Jan Di.


TBC
[/b][/size]

HIYAAAAAAAAA.....HARI SENIN UAN GW MALAH BUAT FF!!! eh, gak juga sih, sebenarnya ini udah ada di lappi tinggal nambahin dikit aja. nah, berhubung gw lagi bosan ngapal, jadilah gw ngetik. parah bener [wacko]

WAJIB KOMEN YANG SUDAH BACA
[/size][/color]
« Last Edit: April 14, 2011, 11:13:01 pm by voldi »
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME