Song of this Chapter
Untitled By Maliq D’Essential
Ketika ku rasakan sudah ada ruang di hatiku
Yang kau sentuh
oh....
Dan ketikan, ku sadari sudah
Tak selalu indah cinta yang ada
Mungkin memang ku yang harus mengerti
Bila ku bukan yang ingin kau miliki
Salahkahku bila, kau yang ada di hatiku
Oh...
Adakah ku singgah di hatimu
Mungkinkah kau rindukan adaku
Adakahku sedikit di hatimu..
Bilakahku, mengganggu harimu
Mungkin kau tak inginkan adaku
Akankah ku sedikit di hatimu...
Bila memang ku yang harus mengerti
Mengapa cintamu tak dapat ku miliki
Salahkah ku bila, kau yang ada di hati ku
Kau yang ada di hati ku...
Bila cinta kita tak akan tercipta
Ku hanya sekedar ingin tuk mengerti
Adakah diriku oh... singgah di hatimu
Dan bilakah kau tahu kaulah yang ada di hatiku
Kaulah yang ada di hatiku, Adakahku di hatimu
“Aku baik-baik saja oppa” sahut Hyesun tegas, “Apa Tuan Lee menyakitimu” ucap Il Woo melirik tajam Hyesun.
“Anhi” sergah Hyesun cepat, “wow.., baguslah” sahut Il Woo singkat, kembali di laju kendaraan-nya dengan normal.
Ada rasa kecewa terbersit di wajah Il Woo saat mendengar jawaban Hyesun, namun dia bersikap sewajar-nya.
Seminggu setelah kepergian Hyesun dari Lee mainson, perkembangan kesehatan Nenek Lee sedikit menurun, Jin Ah yang yang bertugas merawat Nenek Lee telah melakukan segala usaha-nya.
Namun apa yang di lakukan Jin Ah selalu salah di mata Minho, dia tidak puas dengan cara perawatan yang Jin Ah lakukan.
Mrs.Yang, yang selalu membantu Jin Ah merawat Nenek Lee juga kena imbas dari ketidak puasa Minho.
“Sonsaengheyo Tuan muda, kami sudah semaksimal mungkin merawat Nyonya besar.
Kami lakukan sama seperti Hyesun lakukan!, saya rasa Nyonya besar lebih nyaman jika di rawat oleh Hyesun” ucap Mrs.Yang gamblang, mengharapkan pengertian dari Tuan muda-nya.
“Tuan muda.., bagaimana jika kita minta Dokter Min, untuk menggantikan perawat itu?” ujar Mr.Park lantang, Minho memonyongkan bibir-nya. Berusaha mencerna setiap kata-kata dari Mr.Park, Minho menjentikan jemari-nya, wajah-nya bersinar saat otak-nya terkoneksi dengan usulan Mr.Park.
“Baiklah, sekarang aku akan ke Rumah sakit Shinwha, batalkan semua janji hari ini Mr.Park!” perintah Minho tegas, dengan sigap Minho melangkah keruang kerja-nya di ikuti Mr.Park.
Dengan lihai Minho menarik Jas hitam-nya dari sandaran kursi, ringan di langkahkan kaki-nya keluar dari ruang kerja itu, namun langkah-nya terhenti saat Mr.Park menyerukan nama-nya.
Dengan cepat Minho membalikkan badan-nya menghadap ke ajudan-nya itu. “Weayo..” ujar Minho dengan garang-nya, Mr.Park hanya tertunduk dalam, sesaat Mr.Park menghela nafas.
“Annyeong Tuan muda Lee” sapa Kimbun sambil memukul pelan bahu Minho.
“Apa yang kau lakukan di sini” ucap-nya bergidik ke Kimbun, “Aishh kau ini, tidak pernah sopan menyambut tamu” sergah Kimbun cepat.
“Aku tahu, kau akan emosi tingkat tinggi mengetahui, pengunduran jadwal peresmian Hotel di Jeju” jelas Kimbun percaya diri, Minho mendengus saat di lihat-nya sahabat di depan-nya membusungkan dada.
“Ini file-nya, kau bisa lihat semua penjelasan yang tertera di situ”
Mata Kimbun jelatatan mengamati setiap ruang di mainson itu, Minho yang melihat aksi Kimbun hanya menatap risih.
“Weayo...” ujar Minho memukul lengan Kimbun, namun Kimbun hanya cengengesan saja.
“Mana gadis itu” tanya-nya sambil memainkan ke dua alis-nya.
“Dia sudah tidak ada di sini” sergah Minho cepat, tidak membuang waktu lagi Minho melesat cepat ke luar dari mainson, Kimbun mengernyitkan alis melihat kepergian Minho.
____@@____
Dengan memasang wajah sedingin mungkin, Minho duduk dengan angkuh-nya di ruang kerja Dokter Min, di hentakan jari tangan-nya di meja, berusaha mengusir kejenuhan yang sudah merayapi diri-nya.
“Sonseangheyo Tuan Lee, anda sudah menunggu saya lama” sapa Dokter Min dengan senyum lebarnya, namun Minho hanya mendehem melihat Dokter itu.
“Ada gerangan apa anda datang ke mari, Tuan Lee?” tanya Dokter Min ragu.
“aku mau, Nona Goo yang merawat Healmonieku” ucap-nya meyakinkan
“Nona Goo, siapa dia?” gumam pelan Dokter berkacamata tebal itu berfikir keras, pelan di susutkan tubuh-nya di antara kursi kerja-nya dan kaca mata tebal itu juga menyusut hingga di ambang hidung, saat tatapan tajam Minho mengarah pada-nya.
“Kau tidak mengenal-nya” suara ketus Minho lantang terdengar di ruangan itu.
“Sonsaengheyo Tuan Lee, saya memang tidak mengenal-nya” ucap Dokter itu lugas.
Dahi Minho mengkerut mendengar pengakuan Dokter itu, perlahan di condongkan tubuh-nya mendekat ke arah Dokter Min.
“Tanya Dokter yang kau rekomendasikan untuk merawat Nenekku” ucap-nya dengan tatapan garang ke Dokter itu.
“Nee... Tuan Lee, saya akan panggilkan Dokter Joeng” ucap Dokter Min, sesaat melesat dari hadapan Minho.
Hanya butuh waktu lima menit Dokter Min sudah kembali bersama Il Woo, walaupun posisi Minho membelakangi Il Woo, dengan mudah Il Woo dapat mengenali sosok-nya.
Dangan dahi berkerut Il Woo memasuki ruangan Dokter Min, pikiran-nya penuh dengan pertanyaan dari maksud kedatangan pria ini, Il Woo mencibir ujung bibir-nya saat di lihat pria itu membalikan tubuh menghadap-nya.
“Jadi” ucap Minho santai, sambil menghempaskan tubuh jangkung-nya di kursi itu, tanpa memperdulikan ke hadiran Il Woo di ruangan tersebut, tatapan mata-nya masih menusuk ke arah Dokter Min dan Dokter itu dapat menangkap maksud tatapan Minho.
“Heeem...Dokter Joeng, Tuan Lee meminta Nona Goo yang menjadi perawat untuk Nyonya besar Lee!”
Il Woo tersenyum hambar mendengar permintaan Dokter Min, dengan ujung mata-nya melirik Minho yang duduk dengan angkuh-nya di samping Il Woo.
“Saya tidak setuju” ucap Il Woo bangkit dari kursi itu
“Aishh.., kau ini” sergah Dokter Min menarik pergelangan tangan Il Woo, kembali ke posisi-nya.
“Weayo...” tanya Dokter Min, membelalakan indra penglihatan-nya, “Dia asisten pribadiku, dan hanya bekerja untukku” sahut Il Woo lantang, sontak membuat Dokter Min berkacak pinggang ke arah-nya.
Sepintas Il Woo melirik Minho, namun pria itu tidak berekspresi dengan perkataan-nya.
Minho bangkit dari kursi-nya, lekat di tatap-nya kedua pria itu, wajah Minho mulai mengeras saat pandangan mata-nya tertuju ke Il Woo.
Dengan tampang cuek Il Woo merespon tatapan Minho, tanpa memberikan ekspresi apapun ke dua pria itu saling menatap, sesaat suasana ruangan itu terasa tegang.
Dokter Min yang ada di antara mereka mati kutu melihat ke aksi dua pria ini, bingung dengan apa yang harus di perbuat.
“Berikan alamat-nya padaku” ujar Minho pada pada Dokter Min, “Saya tidak punya Tuan Lee, tapi saya akan carikan segera”
“Saya tetap tidak mengijinkannya Dokter” sergah Il Woo, saat di lihat-nya Dokter Min bergegas dari ruangan itu.
“Apa hak anda, Dokter?” ucap Minho ketus.
“Seperti yang saya bilang Tuan Lee, dia hanya bekerja dengan saya dan saya yang menggaji-nya.
Dia tidak ada hubungan-nya dengan Rumah sakit ini, dan saya berhak mengijinkan dan melarang dia bekerja dengan siapapun” ujar Il Woo tegas, Minho tertawa mendengar penjelasan Il Woo, tawa mengejek yang dapat terdengar jelas dalam nada suara Minho.
“Dokter Joeng.., apa yang kau katakan” kecap Dokter Min.
“Sudah jelas bukan? Saya permisi Tuan-tuan” ucap Il Woo acuh, dan bergegas keluar dari ruangan itu.
Minho mendengus melihat ke pergian Il Woo, di alihkan tatapan-nya ke arah Dokter Min.
“Well.., Dokter…. anda tidak berhasilkan??” ucap Minho dengan sikap mengejek.
Dokter Min tertunduk lemah mendengar perkataan Minho, “Tuan Lee tunggu sebentar, saya akan carikan alamat gadis itu!” pinta Dokter Min memohon .
Minho mengernyitkan alis melihat kepergian Dokter Min, sejenak terdengar helaan nafasnya yang berat.
Emosinya sempat mencuat saat berhadapan dengan Il Woo, hampir lima menit lamanya Minho menunggu ke datangan Dokter Min, namun pria itu tidak juga menunjukkan batang hidung-nya.
“Saya mendapatkan alamat gadis itu” seru Dokter Min, sesaat memasuki ruang kerja-nya, dengan sigap Minho meraih secarik kertas dari tangan Dokter Min, dan melesat ke luar dari ruangan itu.
“Aku mendapatkanmu Nona” gumam Minho dengan senyum terkulum di wajah-nya.
____@@____
Hyesun menggeliat saat mendengar deringan seluler-nya,tangan-nya sibuk mencari benda yang berbunyi itu, dengan mata masih terpejam di letakkan telephon tersebut di telinganya.
“Yeoboseyo...” menyapa dengan suara bantal-nya.
“Yeoboseyo, Sun-a” sapa pria di seberang sana, pelan Hyesun membuka mata-nya di pertajam pendengaran-nya, dengan sama dia dapat mengidentifikasikan suara pria ini.
“Oppa” ucap Hyesun melonjak dari tidur-nya.
“Ne.., gwancana Sun-a” sahut Ji Hoon tersentak, “Gwancanayo oppa” sergah Hyesun cepat.
“Tapi suaramu terdengar beda, apa kau sakit” ucap Ji Hoon kuatir.
“Bisa kita bertemu, karna ada hal yang ingin aku bicarakan?”
“Nee, kapan oppa mau bertemu” ucap-nya memastikan.
“Hari ini, di taman dekat rumahmu, jam 5 sore.”
“Ne oppa, aku pasti menunggumu!!” sahut Hyesun meyakinkan.
Sesaat setelah komunikasih itu berakhir, Hyesun turun dari tempat tidur-nya, tubuhnya sedikit goyah saat di paksakan untuk berdiri.
Wajah-nya masih terlihat pucat, dan kaki-nya gemetar saat akan melangkah, dengan tertatih tatih tetap di paksakan-nya menuju kamar mandi.
Tubuh Hyesun tersungkur di lantai saat dia ke luar dari kamar mandi, walau tingkat kesadaran-nya hanya 50% tanpa putus asa Hyesun merangkak menuju tempat tidur-nya.
Sesaat di baringkan tubuh-nya di tempat tidur, berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga-nya.
“Oppa, aku pasti akan datang, tunggu aku di sana” ucap Hyesun parau.
Hyesun bangkit dari tempat tidur-nya, setelah di rasakan tubuh-nya sudah bertenaga, sesaat Hyesun mematutkan diri di depan cermin.
Jelas terlihat rona wajah-nya yang memucat, garis kantung mata yang menghitam dan mata indah itu berubah cekung tampak sayu.
Ragu Hyesun melihat penampilan-nya, niat membatalkan pertemuan dengan Ji Hoon terlintas di benak-nya sesaat.
Namun asa itu lebih kuat dari keraguan-nya “Aku tidak akan mengecewakanmu oppa” gumam Hyesun menyemangatu diri-nya.
Dengan langkah goyah di raih-nya switer coklat yang bergantung di balik pintu, pelan di buka pintu kamar-nya, perhatian-nya tertuju pada setiap ruang di rumah itu.
Hyesun mempercepat langkah-nya saat di dengar suara pintu yang terbuka, dia tahu pasti itu eomma-nya, dan akan sulit bagi Hyesun jika eomma-nya mengetahui dia akan bertemu Ji Hoon.
Untuk ke dua kali-nya Hyesun tersuruk di teras rumah-nya, goresan luka akibat tersayat sisi pot besar bunga di teras rumah-nya, itupun di abaikan-nya.
Rasa ingin bertemu Ji Hoonlah yang menjadi motivator Hyesun untuk tetap kuat.
____@@____
Hyesun menghempaskan pelan tubuh-nya di bangku yang terbuat dari batu marmer itu, senyum tipis terpampang di wajah-nya, seiring rasa kagum-nya melihat suasana senja di taman itu.
Hamparan langityang berwarnabiru muda menyamarkan diri menjadi jingga kemerahan, semilir angin yang bertiup sangat nikmat membelai wajah pucat-nya.
Hampir 30 menit Hyesun terdian di taman itu, namun sosok yang akan di temui-nya belum juga nampak.
Minho memelankan laju mobil-nya saat mata-nya mengenali sosok yang duduk sendiri di taman itu, senyum besar terhias di wajah-nya, setidak-nya usaha untuk menemui gadis ini tidaklah sulit.
Bergegas Minho keluar dari mobil sport-nya, dengan langkah lebar dan senyum terkulum Minho menuju taman itu, Hyesun mengalihkan pandangan-nya ke segala arah untuk menghilangkan rasa bosan akan penantian-nya kian memuncak, samar di kenal-nya sosok pria yang berjalan ke arah taman “Tuan Lee” terka hati-nya.
Namun perhatian-nya teralih saat Ji Hoon menyapa-nya dari kejauhan, Minho menghentikan langkah-nya saat di lihat ada seorang pria menghampiri gadis itu.
Wajah Minho berubah tanpa ekspresi saat mengetahui siapa pria yang bersama Hyesun, Minho menyusutkan tubuh-nya menghindari tatapan mengenal dari ke dua orang itu.
Perlahan Minho memundurkan langkah-nya kembali ke mobil-nya, namun Minho tidak beranjak dari posisi-nya, mata tajam-nya lekat memperhatikan dua insan di taman itu.
“Mian Hyesun-a, aku terlambat” ucap Ji Hoon membela diri, hanya sapaan senyum yang Hyesun berikan.
“Tapi, kenapa wajahmu tampak puncat” ujar Ji Hoon sembelai wajah Hyesun.
Minho menggeretakkan gigi, senyum tipis-nya mengejek terlukis di wajah-nya saat melihat Ji Hoon membelai pipi Hyesun.
Ingin rasa-nya Minho menarik hyesun dari hadapan pria itu, namun di urungkan-nya niat tersebut, karna dia tahu Hyesun buka milik-nya, dia hanya mengenal wanita itu sebagai perawat Nenek-nya tidak lebih.
“Sun-a, ada yang ingin aku sampaikan” ucap Ji Hoon pelan, lekat Ji Hoon menatap wajah Hyesun ragu di sampaikan niat-nya pada gadis ini, namun janji yang telah di buat-nya pada Ji Hun memaksa-nya melakukan hal itu.
“Oppa, gwancana” ujar Hyesun mengagetkan lamunan Ji Hoon.
“Anhi, Sun-a” pelan Ji Hoon meraih tangan Hyesun, “Mianhea, jika selama ini aku telah membuatmu susah” Ji Hoon menghentikan ucapan-nya, entah kenapa semua kalimat yang ada di kepala-nya buyar.
Hyesun menatap nanar Ji Hoon, semua perkataan Ji Hoon membuat-nya bingung.
“Wea, oppa” ucap Hyesun, meremas lembut tangan Ji Hoon.
“Ini adalah pertemuan kita yang terakhir, Mianhea kita tidak bisa bertemu lagi!”
“Weayo, oppa” serga Hyesun cepat, merasa tidak percaya dengan pendengaran-nya.
“Aku tidak ingin menyakiti perasaan eonnimu”, ‘Eonni..’ ?” sergah Hyesun lagi.
“Mianhea kalau selama ini kau salah mentafsirkan kebaikanku, sejujurnya orang yang sangat aku cintai adalah Ji Hun, bukan kau Sun-a” ujar Ji Hoon tertunduk pasrah.
Hyesun menggeleng lemah mata-nya memblalak menatap Ji Hoon, wajah pucat-nya mulai merona merah, perasaan Hyesun hancur lebur seperti tersengat halilintar saat mendengar ucapan Ji Hoon.
“Jadi selama ini oppa memperalatku agar bisa bertemu Ji Hun, ternyata oppa lebih jahat dari Ji Hun eonni” ucap Hyesun lantang.
“mianhea Sun-a, kalau aku telah mengecewakanmu!!” ucap Ji Hoon pelan.
“Apakah sedikipun oppa tidak perduli dengan perasaanku” ucap Hyesun hampir terisak, Hyesun menghela nafas dalam, berusaha menahan air mata-nya yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Ji Hoon menggeleng lemah menjawab pertanyaan Hyesun, tanpa mampu menatap mata gadis itu, tubuh Hyesun goyah saat melihat gelengan kepala Ji Hoon.
Hancur itulah gambaran perasaan Hyesun saat ini, pengorbanan yang dia lakukan selama ini terhadap Ji Hoon ternyata sia-sia (Mian.. pengorbanan yang Hyesun lakukan tidak akan di jelaskan secara detail).
“Perasaan yang aku miliki terhadapmu hanyalah seresaan seorang oppa terhadap dongsaengnya, hanya itu Sun-a” ucap Ji Hoon tertunduk lemah, dia tahu pasti perkataan-nya telah membuat Hyesun kecewa.
“Kau jahat oppa, kau tahu betapa aku sangat mencintaimu oppa, betapa aku sangat menyayangimu oppa” ujar hyesun bangkit dari duduk-nya, dengan sigap Ji Hoon meraih tangan Hyesun berusaha mencegah gadis itu pergi.
Minho yang melihat Ji Hoon menarik tangan Hyesun dengan cepat keluar
dari mobil-nya, namun sekali lagi langkah Minho tertenti saat di lihat-nya Ji Hoon menarik tubuh Hyesun ke dalam dekapan-nya.
“Sun-a, ku mohon maafkan aku, tolong dengar penjelasanku” rengek Ji Hoon, dengan kuat mempererat pelukan-nya terhadap Hyesun.
“Oppa ku mohon lepaskan aku, oppa kau menyakitiku!” pinta Hyesun memelas.
Hyesun menarik nafas lega setelah Ji Hoon melepaskan dekapan-nya, ke dua tangan-nya masih bertengger di bahu Hyesun. “Aku tahu aku salah, setidak-nya kau mau memaafkan kesalahanku ini Sun-a?” ucap Ji Hoon mengguncang pelan bahu Hyesun.
“Jangan tanyakan itu sekarang oppa, aku terlalu kecewa terhadapmu, kau jahat oppa, jahat.., jahat” pekik Hyesun terisak, air mata yang di tahan-nya akhirnya keluar sudah, dengan sigap Hyesun berlari meninggalkan Ji Hoon.
Minho mengangkat ke dua alis mata-nya, pandangan mata-nya mengikuti arah Hyesun berlari, samar di dengar-nya pekikan suara Hyesun ‘kau jahat oppa...’
“Bo.., mau kemana gadis itu” gumam Minho di posisi yang sama.
“Sun-a, ku mohon maafkan aku, tolong kau dengar penjelasanku” pekik kencang Ji Hoon, Minho tersentak mendengar perkataan Ji Hoon.
Sekilas Minho mengamati keadaan Ji Hoon yang duduk terpuruk di tanah, Minho bingung dengan situasi yang terjadi, sigap di ambil-nya langkah seribu mengejar Hyesun.
Hyesun menghentikan langkah kaki-nya, tubuh-nya terkulai lemah, semua tenaga-nya sudah habis terkuras.
Hyesun terjongkok di pinggir trotoar jalan,dengan kasar di hapus-nya airmata yang membasahi ke dua pipi-nya, namun perkataan Ji Hoon masih terngiang di otak-nya.
“Aku sangat membencimu oppa...” pekik Hyesun kencang, dan mulai terisak.
Minho yang kehilangan jejak Hyesun mulai terlihat kesal, usaha-nya mengitari sekeliling taman hanya sia-sia belaka.
Pelan di hempaskan tubuh jangkung-nya di antara bangku bebatuan yang ada di sekitar taman, hela-an nafas kasar keluar dari diri-nya, samar Minho mendengar isak tangis seseorang, di pertajam pendengaran-nya mencari asal suara tersebut.
Langkah kaki-nya mulai mendekati asal suara tersebut, dahi-nya mengkerut saat mengenalin tubuh gadis yang terjongkok di pinggir jalan itu.
Minho menghampiri tubuh gadis itu, jarak di antara mereka hanya lima kaki saja, sekali lagi Minho menghela nafasnya secara kasar, di tatap-nya nanar saat tubuh gadis itu bergetar pelan.
“Gadis bodoh!, apa yang kau lakukan di situ?” ujar Minho berkacak pinggang, perlahan Hyesun mengalihkan pandangan-nya ke pria itu.
“Tuan muda Lee” ucap Hyesun sangat pelan, Minho yang melihat rona wajah Hyesun yang sangat pucat hanya dapat menghela nafas dalam.
Hyesun tersenyum kecut saat melihat Minho mengulurkan tangan pada-nya.
“Mari” pinta Minho membentu Hyesun berdiri, tubuh Hyesun bergetar pelan saat di paksa mengangkat tubuh-nya.
“Gwancana?” ucap Minho kuatir, namun Hyesun hanya menggeleng pelan, Minho mempererat pegangan tangannya saat di rasakan tubuh Hyesun bergetar.
Tingkat kesadaran Hyesun mulai melemas, penglihatannya mulai terasa gelap.
Ingin rasanya Minho menarik tubuh Hyesun kedalam pelukan-nya, belum juga niat itu terlaksana tubuh Hyesun rubuh kedalam dekapan Minho.
Alhasil membuat Minho panik, pelan di guncangnya tubuh Hyesun, di tepuknya kedua pipi-nya berharap reaksi dari gadis itu.
“Hyesun, kumohon bangunlah, Sun-a!!” pekik Minho panic.
“Tu..an..mu..da” sahut Hyesun terbata-bata, melihat kondisi Hyesun yang mulai memprihatinkan, dengan sigap Minho membopong tubuh mungil itu ke dalam mobil.