Author Topic: SECRET RAINBOW, colab by me, voldi and itaraya--> Green : Part 4, 6 August 2011  (Read 16733 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
SECRET RAINBOW
A 2011 MinSun Fanfiction Colaboration by Lovelyn, Voldi, Itaraya
Orange : Part 3



Gavin membalas tatapan Eros untuk beberapa lama, .. sebelum pertanyaan meluncur pelan dari mulutnya. “Maksud Tuan?”

“Maksudku sudah sangat jelas kan?” Eros menyunggingkan senyum lebar, .. meskipun begitu, tersirat sinar-sinar menyelidiki dalam pandangannya. Dijatuhkan tubuhnya kembali ke kursi kerjanya, kemudian menatap Gavin lekat. “Apa pendapatmu tentang pria ini, Ashley Jung?”

“Saya masih tidak mengerti maksud Tuan .. ,” sahut Gavin lebih lanjut. Posisinya agak berpindah, .. walaupun dia terlihat lebih waspada dari sebelumnya, tapi rautnya tetap datar seperti biasa.

“Seperti yang telah saya katakan padamu,” Eros berdiri dari kursinya dan, .. sekarang dia berhadapan langsung dengan Gavin. Tangannya menekan dan menumpu meja, dengan tatapan yang jatuh, tak berkedip ke mata pemuda itu. “Eryn akan kujodohkan dengan pria ini!” ulang pria arogan itu dengan menekan kata-katanya satu persatu. “Jadi, .. ,” lanjutnya sambil menjatuhkan diri kembali ke kursi. Nada suaranya berubah ringan. “ .. bagaimana menurutmu? Apa pria ini cocok buat Eryn?”

Sesaat keheningan menyelimuti ruang kerja tersebut. Gavin tidak segera menjawab pertanyaan Eros. Dia terdiam dengan posisi kaku. Mungkin saja dia sedang berpikir namun, .. sangat dipercaya tidak seorangpun dapat menebak apa yang dipikirkan dan dirasakannya saat ini.

“Saya tidak mengerti mengapa Tuan menanyakan ini padaku .. “ Akhirnya Gavin mengeluarkan suaranya. “Tapi hanya satu yang saya ketahui, .. agashi mau dijodohkan dengan siapa, kurasa Tuan tidak perlu meminta pendapatku. .. Lagipula, aku tidak layak memberi masukan apa-apa .. “ Gavin membungkukan badannya, .. dan kemudian mengundurkan diri dengan hormat. “Permisi, Tuan Kim .. “

Sebelum Gavin keluar dari ruangan itu, Eros segera berujar keras.

“Bagus kau mengetahui posisimu, Gav!!” Suaranya terdengar mengelegar dalam ruang kerja yang sangat luas itu. “Aku menanyakan ini hanya untuk memastikan bahwa kau tidak akan memporak-porandakan semuanya. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu tapi, .. untuk kau ketahui—Kau dan Eryn, tidak mungkin! Araso?”

Tanpa membalikan badannya, Gavin mengangguk. “Saya sangat jelas posisi dan tempatku. Dan .. saya juga tidak pernah menaruh harapan apa-apa pada agashi .. “

Perlahan sosok jangkung itu melangkah keluar. Kemudian pintu dari kayu tebal itu menutup dengan sangat pelan.

“Bagus jika kau tahu .. ,” desis Eros.

Dia masih menatap pintu kokoh di depannya selama beberapa menit. Setelah itu dia memutar kursi kerjanya, menghadap ke jendela .. kemudian menerawangkan pandangan ke pemandangan di luar yang agak tertutup mendung.


oooO@Oooo



Pintu kamar Eryn terdengar diketuk pelan.

“Masuk!” perintah Eryn sambil berpaling dari majalah yang sedang dihadapinya.

Pintu tersebut dibuka, kemudian raut Gavin nonggol dari balik pintu.

“Agashi, .. bisa keluar sebentar?” kata pemuda itu dengan nada pelan dan agak kaku.

“Dhe?” Eryn bangun dari posisi tengkurap di atas ranjang dan menutup majalahnya. “Ada apa?”

“Ikut denganku!” sahut Gavin sambil mengerakan kepalanya.

Alis Eryn berkerut. Diamatinya pemuda itu, .. namun tanpa sadar, sepasang kakinya diturunkan jua dari ranjang. “Ke mana?”

“ikut saja!” sahut Gavin kembali.

Kemudian, .. tanpa menunggu Eryn lagi, apakah gadis itu setuju mengikutinya atau tidak, Gavin beranjak dari tempatnya.

“Yaa--!!” Panggil Eryn. Dia memakai sandal rumahnya dengan tergesa-gesa, lalu mengejar Gavin yang sudah berada sangat jauh darinya. “Tunggu!! Mau kemana sih? GAV!!”


oooO@Oooo



Pintu ruangan di tingkat dua yang berada di sayap paling kanan rumah itu dibuka dengan sangat pelan oleh Gavin. Eryn yang sudah sampai di sampingnya, mengamati keadaan sekeliling dengan tertarik. Pandangannya dialihkan silih berganti. Semenjak kakinya diinjakan di Kim’s Mansion, memang baru untuk pertama kali inilah dia berada di bagian rumah ini.

“Ini tempat apa?” tanyanya antusias.

Gavin tidak menjawab. Dia mengangguk pendek seraya mempersilahkan Eryn masuk. “Silahkan, agashi!”

Eryn memanyunkan bibirnya. Pandangannya masih terarah pada Gavin ketika memasuki ruangan di depannya.

“Itu—di sudut ruangan .. ,” kata Gavin sambil menunjuk ke depan.

Eryn mengejapkan matanya ingin tahu, untuk kemudian mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk Gavin. Dan, mulutnya mengangga. Apa yang dilihatnya di depan, sungguh tidak dapat dipercayanya.

“Ba .. bagaimana .. mungkin .. ?” tanyanya gagap.

Kakinya bergerak dengan sangat pelan dan tidak yakin ke benda besar dan kokoh yang memojok di sudut ruangan. Benda yang selama ini ingin dimilikinya, .. tapi juga benda yang tidak didapatkannya karena dia tidak punya uang.

“Kau .. kau membelinya?” Tangan Eryn menyapu piano tua berlapis kayu yang sudah kusam itu. Tangan dan sekujur badannya bergetar, .. begitu juga hatinya saat ini. Berdegup dengan kencang.

“Ini bukan pemberian berharga .. ,” ucap Gavin pelan. “Tidak sebanding jika dibandingkan pemberian-pemberian dari para kolega bisnis ayah agashi .. Namun, .. saya ingin memberikan sesuatu, dan .. “ Gavin sudah sampai di sampingnya sekarang. Aroma khas yang terhembus dari pria itu tercium jelas oleh hidung Eryn. “Hanya ini yang terpikirkan olehku .. “

“Saya suka .. ,” ujar Eryn pelan, .. memutus perkataan Gavin yang belum selesai.

“Dhe?” tanya Gavin sambil menatapnya.

Eryn tersenyum. “Dari semua hadiah, kado, dan pemberian yang aku terima .. “ Dia berpaling pada Gavin. “Ini yang paling kusukai!” serunya lantang. “Gumawo, Gavin-ssi .. “ Tiba-tiba dia berjinjit dan memberikan kecupan yang tidak terduga di pipi Gavin.

Pemuda itu terperanjat kaget. Matanya terbelalak lebar. Reflek saja, badannya munyusut ke belakang.

“Saya akan memainkan sebuah lagu sebagai hadiah untukmu!” lanjut Eryn bersemangat.

Seakan tidak mengetahui keterkejutan pemuda itu terhadap perbuatannya barusan, Eryn menjatuhkan diri di atas kursi yang ada di depan piano. Membuka penutup piano tersebut, dan keahliannya pun mulai dilancarkan, .. jemari-jemari lentiknya menari-nari dengan lincah di atas tut-tut hitam putih yang berjejer rapi di atas piano.

Dalam sekejap, ruangan tersebut terselubungi musik syahdu nan lembut yang mengalir dari permainan Eryn.

Gavin mundur sampai menempel ke dinding. Tangannya bersidekap di depan dada, .. perlahan pandangannya memutar ke arah Eryn, .. diperhatikannya gadis itu dengan pandangan yang berubah sendu. Beragam pikiran merasuki otaknya sekarang. Kekhawatiran? Mungkin. Tapi satu yang paling ditakutkannya, … kepicikan dan kedengkian, terlebih—kecemburuan, .. yang dia sadar—seperti yang dimaksud Eros Kim lewat pertanyaan menguji yang sengaja diajukan ayah Eryn itu beberapa saat lalu.


oooO@Oooo          

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun