Author Topic: DESTINY HIATUS  (Read 20531 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DESTINY update 14 januari
« Reply #300 on: April 24, 2011, 06:44:08 am »
Kejadian di jalan tempo hari tak urung membuat hubungan Min Ho dan Hye Sun ‘agak’ merenggang. Walaupun satu kamar bukan berarti mereka akan mengobrol layaknya pasangan pada umumnya. Tak ada kata yang terucap. Bangun pagi keduanya akan sibuk dengan kesibukan masing-masing. Tak ada ciuman selamat pagi, apalagi making love.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Min Ho dan Hye Sun akan turun bersama ke ruang makan, tapi bukan berarti mereka akan saling berangkulan mesra. Lupakan soal itu. Meja makan hanya di duduki oleh mrs. Lee. Min Ho mengambil tempat disamping kanan dan berturut Hye Sun.

“Hari ini akan ada jamuan makan malam dari perusahaan dari Jepang. Kalian berdua saja yang pergi, omma merasa tidak enak badan.” Mrs. Lee membuka percakapan. Matanya masih terpaku pada deretan kalimat di koran pagi.

Hye Sun mengangkat kepalanya dengan cepat ke arah mrs. Lee, “Omma sakit?” tanyanya panik.

“Aniyo, sayang.” Mrs. Lee tersenyum lembut sambil memberikan korannya pada pelayan. “Omma baik-baik saja. Hanya sedikit pusing.”

“Sudah panggil dokter?” tanya Hye Sun lagi.

Min Ho yang sedari tadi hanya sibuk dengan sarapan paginya kini menoleh dengan kesal kearah Hye Sun. “Yya...kau ini masih pagi tapi sudah cerewet.”

Mendengar pernyataan dari Min Ho dengan kesal Hye Sun menggembungkan pipinya, “Bego! Ibumu sakit dan kau masih bisan santai? Dasar anak durhaka!”

“Mwo? Kau bilang apa?”

Tak bisa dihindari pagi itu kembali dihiasi pertengkaran khas Lee Min Ho-Goo Hye Sun. Keduanya saling beradu death-glare kebanggaan keluarga masing-masing. Mereka tak memperdulikan tatapan heran dari mrs. Lee.

“Kalian bertengkar?” pertanyaan mrs. Lee membuat perang urat mata MinSun terhenti.

“Dia yang duluan!” seperti anak kecil Hye Sun mengadu pada mrs. Lee, yang disambut dengan senyum dari mrs. Lee dan cibiran dari Min Ho.

“Childish.”

“Kau bilang apa?”

Dan sekali lagi perang urat mata terjadi.

Seiring dengan masuknya seorang pelayan, Hye Sun dengan cepat menoleh ke arah pintu. Matanya tajam menatap baki yang dibawa pelayan itu.

“Apa itu?” tanyanya. Hidungnya mengernyit menahan mual.

Pelayan itu membungkuk sedikit, “Kopi, nona.”

“Bawa kembali. Aku tidak suka baunya.”

Disampingnya Min Ho dengan kesal memukul telapak tangannya. “Itu minumanku, idiot.”

“Ya tapi aku tidak suka.” Keras Hye Sun.

Tanpa menghiraukan protes Hye Sun, Min Ho mengambil cangkir kopi itu dari baki. Dan dengan sengaja ia mendekatkannya pada Hye Sun.

“HUEEEK!”

Min Ho melotot memandang Hye Sun. “YYA!! Kau tidak sadar ini ruang makan!”

“Aku mual, bodoh. Cepat jauhkan kopi itu!”

“Tidak mau!”

“HUEEEK!!”

“YYAAA!!”

Mrs. Lee yang daritadi hanya memperhatikan mereka akhirnya turun tangan. Didekatinya Hye Sun dan ditepuknya pelan punggung Hye Sun. “Gwenchana, sayang?”

“HUEEEK!” dengan cepat Hye Sun berdiri dari duduknya dan berlari ke luar ruangan. Melihat keadaan Hye Sun, dengan panik Min Ho berlari mengejarnya. Meninggalkan mrs. Lee yang sedang tersenyum-senyum gaje.

“Yyaa...gwenchana? Hye Sun-a?” dengan lembut di tepuknya punggung Hye Sun yang sedang mengeluarkan seluruh isi perutnya di wastafel.

“HUEEEK!”

“Yyaa...jangan menakutiku. Gwenchana?”

Dengan lemas Hye Sun menangguk, “Ne. Gwenchana.”

Mendengar perkataan Hye Sun tak urung membuat Min Ho tambah panik. Nada suara Hye Sun sangat lemah. Dan itu berarti Hye Sun sedang tidak baik-baik saja.

“Perlu omma panggilkan dokter?”

Dari belakang muncul mrs. Lee yang masih saja tersenyum gaje. Melihat ommanya yang tersenyum membuat Min Ho keki setengah mati. “Omma, kenapa masih bisa tersenyum seperti itu?”

Mengabaikan pernyataan anaknya dengan lembut ditariknya lengan Hye Sun sehingga Hye Sun menghadap ke arahnya. “Kapan biasanya siklus menstruasimu datang?”

Mendengarnya sontak membuat Min Ho blushing. Matanya sibuk menatap langit-langit toilet. Sedangkan Hye Sun hanya bersikap biasa. Tapi sedetik kemudian,

“A-anyi. Tidak mungkin!”

Mendengar suara Hye Sun yang gugup, Min Ho menoleh. “Weo?” tangannya kemudian menangkup wajah mungil Hye Sun. “Yyaa...kenapa wajahmu merah? Kau sakit?” Padahal dia juga tidak sadar kalo wajahnya juga merah.

Dengan pandangan kosong Hye Sun menggeleng, “Anyi. Tidak mungkin. Tidak mungkin.”

Min Ho menjadi semakin bingung dengan racauan Hye Sun. “Yyaa...wee?”

“Omma? Dia kenapa?”

Mrs. Lee tidak menjawab. Ia hanya menatap Hye Sun dengan senyum dan pandangan terima kasih. Setelah itu ia kemudian berbalik dan berkata pada salah satu pelayannya, “Siapkan mobil, aku ingin mengunjungi toko terbaik yang menyediakan perlengkapan bayi. Jangan lupa hubungi dokter Kim.”

Suara sayup-sayup mrs. Lee semakin hilang dari pendengaran Min Ho. Tapi yang jelas, Min Ho bisa menangkap maksud dari perkataan itu. Dari senyum gaje itu. Dari racauan tak jelas Hye Sun. Dan dari...

Dengan pandangan horor Min Ho menatap Hye Sun. “Yyaa...itu...bagaimana mungkin?”

BLETAK!

Satu jitakan mendarat di puncak kepala Min Ho diiringi pekikan keras, “MEMANGNYA KAU PIKIR BAGAIMANA!! DASAR MESUM! GARA-GARA KAU KAN JADI SEPERTI INI!”

Tidak seperti biasanya Min Ho pasrah menerima amukan Hye Sun. Sambil tersenyum lemah ia menarik pelan lengan Hye Sun dan membawanya ke ruang keluarga. Ia mendudukkan Hye Sun yang menatap kosong karpet merah dibawah kakinya.

“Gwenchana?”

Hye Sun tak menjawab. Ia masih menatap bawah kakinya dengan kosong.

“Yyaa...gwenchana? Jangan buat aku takut.”

“Aku belum siap, hiks.”

Min Ho tertegun. Tangisan pelan Hye Sun membuat terdiam. Matanya menutup perlahan. Dengan lembut ditariknya bahu Hye Sun dan menyandarkan Hye Sun di tubuhnya.

“Gwenchana. Semua pasti akan baik-baik saja.” Ditepuk-tepuknya punggung Hye Sun. Puncak kepala Hye Sun di ciuminya dengan lembut. Hye Sun menutup matanya. Tanpa sadar ia semakin meringkuk dipelukan hangat Min Ho. Ini pertama kalinya mereka sangat dekat—kecuali malam pertama itu.

“Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji.”

OoO

Kabar kehamilan Hye Sun meluas dengan cepat. Di setiap headline koran-koran akan tercantum besar-besar;

ISTRI PEWARIS SHINWHA GROUP, HAMIL TIGA MINGGU

OoO

PRANG

Lagi-lagi gelas kaca itu dibanting dengan kasar oleh Ji Eun. Matanya membara menatap koran-koran yang berserakan di bawah tempat tidurnya.

“Aku membencimu, Goo Hye Sun!”

Jae Ha yang mendengarnya hanya menghela napas berat. Dengan pelan dihampirinya Ji Eun dan dipeluknya. Ji Eun tidak menolak, ia juga tidak merespon pelukan itu. Tapi Jaa Ha tidak memperdulikannya. Ia semakin memperat pelukannya pada Ji Eun.

‘Tidak bisakah kau melihatku?’

Entah takdir apa yang sedang mempermainkan mereka. Min Ho dengan kebahagiaannya sebagai calon ayah, Hye Sun dengan ketakutannya, Ji Eun dengan kebenciannya, dan Jae Ha dengan cinta tak terbalaskan. Semuanya hanya tinggal bahasa hati.[/size][/color]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME