Malam harinya…
Suara hingar-bingar musik dan keriuhan orang-orang di dalam klub malam itu tidak terdengar dari ruangan tempat Hyun Soo sekarang berada. Dengan ditemani sebotol brandy yang belum disentuh dan gelas kosong yang masih belum dipakai, Hyun Soo duduk di tempat itu seorang diri.
Hyun Soo duduk termenung. Otaknya mengulang kembali kejadian yang berlangsung di kediaman orangtuanya beberapa jam sebelumnya…Flashback
Mobil yang membawa Hyun Soo dari bandara Inchoen akhirnya tiba di kediaman keluarga Lee, tepat jam 8 malam. Sesuai dengan janjinya pada sang ibu, Hyun Soo langsung meluncur ke rumah orangtuanya itu sepulangnya dari Singapore. Dia tidak ingin membuat ayahnya menunggu terlalu lama…dan disamping itu, dia juga merasa sangat penasaran dengan masalah yang akan dibicarakan oleh ayahnya nanti.
Hyun Soo sangat yakin kalau masalah itu bukanlah masalah yang berhubungan dengan perusahaan mereka, karena ayahnya bukan tipe pria yang suka membawa urusan kantor ke dalam rumah…bila ada urusan yang berhubungan dengan perusahaan, maka urusan itu harus diselesaikan di kantor…demikian prinsip dari seorang Lee Hyun Shik.
“Selamat malam, Butler Nam” sapa Hyun Soo hangat pada sang kepala pelayan yang langsung membukakan pintu depan begitu Hyun Soo tiba di rumah besar itu.
“Selamat malam, tuan muda Lee. Tuan dan nyonya sudah menunggu anda di ruang baca”
Hyun Soo menatap Butler Nam dengan pandangan sedikit terkejut.
“Nyonya berpesan agar saya menyampaikan hal itu bila tuan muda sudah tiba” sambung Butler Nam setelah menangkap keterkejutan di wajah Hyun Soo.
Hyun Soo mengangguk tanda mengerti, dan langsung menuju ruang baca, diiringi oleh tundukan kepala hormat dari Butler Nam.
‘Tok…tok…tok…’
Beberapa detik kemudian pintu ruang baca terbuka. Di baliknya, Hyun Soo melihat seraut wajah yang sudah sangat dirindukannya dua hari ini…wajah ibunya.
“Omma” ucap Hyun Soo sayang sambil memeluk tubuh ibunya yang juga membalas pelukan itu dengan kasih sayang yang besar untuk putra tunggalnya itu.
“Hyun Soo-a…akhirnya kau datang, nak. Apakah kau baik-baik saja, sayang?”
Sambil menengadahkan kepalanya, Soo Yun meneliti wajah Hyun Soo yang langsung tertawa geli melihat tingkah laku ibunya itu.
“Omma, aku sehat” ujar Hyun Soo sambil beberapa kali menghindari terjangan jari-jari lincah ibunya yang mencoba membawa kepala Hyun Soo ke dekat pandangannya.
Saat itulah terdengar suara deheman dari arah belakang mereka. Hyun Shik duduk di sofa panjang, menunggu reuni ibu dan anak itu selesai, dan Hyun Soo datang untuk menyapanya.
Soo Yun melepaskan kepala Hyun Soo dari pegangannya, sehingga Hyun Soo dapat menemui ayahnya,
“Selamat malam, aboji”
“Selamat malam. Bagaimana keadaanmu?”
“Aku sehat, aboji…seperti yang aboji lihat”
“Baguslah. Bagaimana dengan pertemuan di Singapore?”
“Semuanya berjalan lancar, aboji. Pada rapat internal pemegang saham 3 hari lagi, aku akan melaporkan semua kesepakatan bisnis yang berhasil kita capai di sana”
“Bagus. Tapi kau tahu, Hyun Soo-a, aboji tidak ingin membahas masalah itu di sini”
‘Tepat seperti tebakanku’ bisik hati Hyun Soo.
“Duduklah” Hyun Shik menunjuk sofa di hadapannya, Hyun Soo menurut dan duduk di sana. Soo Yun mengambil tempat duduk di samping kiri suaminya.
“Ada apa, aboji? Apa ada masalah lain yang begitu mendesak, sampai aboji memintaku datang ke sini dengan segera?”
“Apakah kau hanya akan datang ke rumah ini kalau aboji memintamu, Hyun Soo-a? Apakah kau tidak menganggap rumah ini sebagai rumahmu lagi?”
Nada suara Hyun Shik terdengar sangat sarkastik di telinga Hyun Soo, sehingga dia segera menyanggahnya,
“Tentu saja bukan seperti itu, aboji. Rumah ini tetap kuanggap rumahku…tapi soal pemanggilan aboji ini, yang seperti kata omma, tidak bisa ditunda…itu membuatku merasa kalau hal yang akan aboji bicarakan sangat penting”
Hyun Shik tidak menjawab kata-kata putranya itu, dia malah berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju meja kerjanya. Hyun Soo memperhatikan gerak-gerik ayahnya itu dengan rasa penasaran yang semakin besar, sementara Soo Yun menjadi semakin gugup dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hyun Shik mengambil kamera yang disimpannya di dalam laci meja kerjanya. Setelah dia kembali ke tempat duduk istri dan anaknya, kamera itu diserahkannya ke tangan Hyun Soo.
“Kau kenal kamera itu, Hyun Soo-a?”
Hyun Soo memandangi kamera itu dengan seksama…Hyun Soo mengenalinya sebagai kamera yang sama dengan kamera yang disita oleh sekretaris Im di malam sebelum keberangkatannya ke Singapore…sekretaris Im sempat memperlihatkan kamera itu kepadanya,
’Kamera si paparazzi’ ujar Hyun Soo di dalam hati.
“Ya, aboji. Aku mengenalinya”
“Bagus. Berarti kau paham benar dengan gambar yang ada di dalamnya”
Hyun Soo mengangguk mantap. Dia memang tidak pernah melihat gambar ciuman panasnya bersama Jessica di kamera itu, namun dia tahu kalau peristiwa itulah yang diabadikan oleh si fotografer. Hyun Soo memang pernah meminta agar sekretaris Im tidak menghapus gambar itu, karena dia ingin melihatnya nanti. Dia tidak sempat melihatnya, karena Jessica sudah tidak sabar untuk segera pergi ke apartemennya. Yang tidak disangkanya adalah kamera itu malah berpindah tangan ke ayahnya.
“Kau juga pahamkan dengan apa yang akan aboji bicarakan denganmu sekarang?”
“Ya, aku paham. Aku tidak akan membela diriku, aboji karena aku merasa aku tidak melakukan suatu kesalahan”
Hyun Shik, yang sudah kembali duduk di tempatnya, langsung menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi mendengar kata-kata Hyun Soo itu, sementara Soo Yun menatap anak dan suaminya bergantian…wajahnya memucat berkat ucapan Hyun Soo tadi.
“Kau pikir melakukan hal itu di tempat umum bukan suatu kesalahan? Yeobo, lihat bagaimana jalan pikiran putra kesayanganmu”
Hyun Soo memandang ayahnya tanpa berkedip, hal ini sama dengan yang pernah mereka alami 9 tahun sebelumnya, dan sejak saat itulah hubungan mereka berdua berjarak...saat itulah Hyun Soo kehilangannya…
“Choesonghamnida, aboji. Bukannya aku bermaksud untuk kurang ajar, tapi apa yang aku lakukan bersama kekasihku adalah hal yang biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan lagi”
Emosi Hyun Shik semakin terpancing dengan kata-kata itu, Soo Yun sampai harus menahan lengannya agar tidak berdiri dan menampar putra mereka. Atas ucapannya itu, Hyun Soo juga mendapat ‘hadiah’ delikan dari ibunya.
“Tidak perlu dibesar-besarkan? Apa yang kau lakukan dengan perempuan itu adalah suatu skandal, Hyun Soo-a! Suatu skandal yang dapat merugikan reputasi perusahaan yang didirikan dengan susah payah oleh harabojimu, bahkan mungkin bisa membuat perusahaan kita terpuruk! Sebagai seorang pria yang berpendidikan dan cerdas, seharusnya kau menggunakan otakmu dulu sebelum kau berbuat hal itu! Dan kau sebut perempuan itu sebagai kekasihmu? Apakah kau akan menikahinya?”
Untuk beberapa saat, Hyun Soo terdiam mendengar kata-kata ayahnya…penyebutan nama sang kakek sedikit banyak membuatnya bergetar, dia dan kakeknya dulu sangatlah dekat, dan Hyun Soo sangat menyayangi dan menghargai kakeknya itu. Namun ketika ayahnya membawa-bawa Jessica dalam topic pembicaraan mereka, Hyun Soo mau tidak mau harus segera bersuara.
“Aku dan dia tidak ada niatan untuk menikah”
“Lalu kau dan dia berencana untuk tetap seperti ini seumur hidup kalian?! Sebagai ayahmu, aboji menentang niatan kalian itu, Hyun Soo-a! Dan aku pikir ibumu juga setuju denganku” Hyun Shik menoleh kea rah Soo Yun yang langsung mengangguk setuju, kemudian beralih lagi ke Hyun Soo,
“Aku sebagai ayahmu, menginginkan kau sebagai satu-satunya putraku untuk segera menikah dan memberikan keluarga ini keturunan yang bisa melanjutkan nama keluarga…ingat, usiamu sudah 27 tahun, Hyun Soo-a, aboji pikir sudah waktunya kau mendapatkan pendamping hidup, sehingga kau bisa melakukan apapun yang kau sukai bersama istrimu di manapun juga tanpa merusak reputasi keluarga dan perusahaan”
“Aboji ingin aku dan Jessica untuk menikah?” tanya Hyun Soo lagi, kali ini ada nada kebingungan dalam suaranya.
Hyun Shik mengembangkan senyuman sinis di bibirnya,
“Aboji tidak pernah mengatakan kalau kau dan perempuan itu harus menikah, Hyun Soo-a. Seperti yang kau katakan, kau dan dia tidak ada niatan untuk menikah…dan aku juga tidak berniat untuk menjadikan dia sebagai menantu keluarga Lee dan mendapatkan cucu darinya”
“Lalu?”
“Kau akan menikah dengan wanita terhormat dan bukan dengan wanita seperti kekasihmu itu. Kau tidak mencintai perempuan itu, bukan?”
Hyun Soo terdiam lagi. Selama ini Hyun Soo merasa nyaman bersama Jessica, karena Jessica tidak pernah menggerecokinya seperti perempuan-perempuan lain yang sempat menjalin hubungan dengannya. Profesi Jessica sebagai model membuatnya harus bepergian ke berbagai tempat seperti halnya Hyun Soo, dan mungkin itu yang membuat Jessica tidak pernah berusaha menjadi seorang pacar yang menuntut ‘laporan’ setiap saat dari dirinya…dan Hyun Soo sangat menyukai sifatnya itu, dan dia yakin kalau ‘kecuekan’ Jessica itu yang membuatnya bertahan di sisi wanita itu selama setahun terakhir.
Tapi untuk rasa cinta??? Selama mereka bersama mereka memang berbagi gairah yang besar terhadap satu sama lain, tapi tidak pernah terucap satu patah katapun tentang cinta dari bibir mereka berdua...setidaknya Jessica tidak pernah membangkitkan perasaan yang dulu pernah dirasakannya untuk seorang gadis di masa lalunya.
“Apa kau mencintainya, nak?” suara lembut ibunya menyentakkan lamunan Hyun Soo.
“Aku rasa aku tidak pernah jatuh cinta padanya, omma” jawab Hyun Soo terus terang.
“Bagus! Aboji pikir tidak akan ada masalah dengannya bila kau menikah dengan wanita lain, kalau begitu?!”
“Aku rasa begitu” Hyun Soo kembali memandang ayahnya dengan kaku.
“Bagus! Karena aboji sudah menemukan pasangan yang cocok untuk dirimu!”
Hyun Soo dan Soo Yun memandang Hyun Shik dengan terkejut. Mereka sama-sama terkejut karena Hyun Shik ternyata memiliki calon pendamping untuk Hyun Soo tanpa pernah kompromi kepada mereka sebelumnya.
“Aku pikir aboji tidak akan pernah mau mencampuri urusan pribadiku lagi” tukas Hyun Soo tajam pada sang ayah.
Hyun Shik kembali menyunggingkan senyuman sinisnya. Di sisinya, Soo Yun duduk dengan tegang…keringat mulai bermunculan di sudut keningnya, dan kedua tangannya menangkup satu sama lain di atas pangkuannya…dia sama sekali tidak berani bersuara, hanya berdo’a agar kedua pria yang dicintainya ini tidak saling membunuh gara-gara masalah ini.
“Kalau untuk hal ini, aboji akan kembali mencampurinya lagi, Hyun Soo-a! Karena hal ini menyangkut masa depan keluarga dan perusahaan”
“Lalu siapa pilihan aboji?”
“Park Chung Ae”
“Park Chung Ae?” Hyun Soo dan ibunya sama-sama menyerukan nama itu dengan kaget.
Hyun Shik mengangguk, “Ya, Park Chung Ae. Putri sahabat karibku, Park Chung Ho. Aku rasa kau akan setuju, Hyun Soo-a. Bukankah kau pernah sempat dekat dengan Chung Ae dulu?”
Hyun Soo langsung bereaksi keras dengan pernyataan ayahnya itu,
“Aku tidak setuju bila aku harus menikah dengannya, aboji! Aku dan dia memang pernah dekat. Dan kedekatan kami dulu itulah yang membuatku menolak perjodohan ini!”
“Mangapa kau tidak setuju. Chung Ae adalah gadis yang sangat cantik, berpendidikan dan yang paling penting berasal dari keluarga terhormat. Apa lagi yang kau rasa kurang dari dirinya?”
“Cukup aku saja yang tahu kekurangannya, aboji. Yang paling penting aku merasa kami tidak akan pernah bisa bersatu dalam ikatan pernikahan…kecuali kalau kau menginginkan pernikahan kami gagal sebelum kau mendapatkan cucu yang kau dambakan, aboji” jawab Hyun Soo tegas.
“Lalu apa yang kau inginkan? Menikah dengan perempuan yang kau sebut kekasihmu itu?”
“Tidak. Aku sudah tegaskan, aku dan dia tidak pernah berniat membawa hubungan kami ke jenjang pernikahan”
“Lalu kau akan biarkan nama keluarga kita tidak memiliki pewaris sama sekali, dan perusahaan kita yang sudah susah payah dibangun oleh harabojimu ambruk tanpa pewaris?”
“Cukup, aboji! Cukup membawa-bawa nama haraboji di dalam pembicaraan ini! Aku sadar dengan kewajibanku sebagai satu-satunya putramu yang harus memberikan keturunan bagi kelangsungan keluarga ini dan juga perusahaan! Tidak perlu memasukkan nama haraboji untuk mengingatkan aku akan tugasku itu”
“Hyun Soo-a…jangan pernah berpikir seperti itu, nak…kami tidak menganggapmu hanya sebagai anak yang wajib memberikan keturunan kepada keluarga ini” ucap Soo Yun terisak.
Hyun Soo memandang ibunya sebentar. Melihat airmata sang ibu, dia sebenarnya tidak tega…namun begitu melihat wajah tegas sang ayah, Hyun Soo kembali membulatkan tekadnya untuk melindungi haknya sebagai seorang pria yang bebas dan merdeka, tanpa campur tangan dari pria lain yang sejak dia lahir, berfungsi sebagai ayah kandungnya itu.
“Bagus kalau kau sadar akan tugasmu”
“Yeobo…”
“Ya, aku sadar dengan apa yang kuhadapi sebagai satu-satunya putramu, aboji. Tapi aku juga seorang manusia…aku tidak ingin dipaksa lagi. Cukup sudah pemaksaan yang kau lakukan kepadaku 9 tahun yang lalu…itu akan jadi pemaksaan pertama dan yang terakhir yang pernah kau lakukan padaku, aboji!”
“Hyun Soo-a…”
“Sudahlah, omma. Jangan membutakan mata terhadap masa lalu. Aku tidak ingin didikte lagi oleh aboji. Bila kali ini aku harus menuruti keinginannya untuk menikah, maka aku juga memiliki posisi tawar tersendiri”
Hyun Shik memandang putranya dengan sangat tertarik, sedangkan Soo Yun masih terisak di tempat duduknya.
“Apa yang akan kau tawarkan, putraku?”
Hyun Soo memandang ayahnya, ada kegeraman tersendiri di kilatan matanya yang sempat ditangkap oleh Hyun Shik,
“Aku menawarkan cucu yang sangat kau idamkan, aboji. Seorang pewaris untuk masa depan nama keluarga dan perusahaan…dan aku akan memberikannya lewat wanita pilihanku sendiri”
Alis Hyun Shik menaik lagi, putranya membuat penawaran yang baik…Hyun Soo tidak ingin merugi.
“Wanita pilihanmu bukan perempuan yang kau akui sebagai kekasih itu, bukan?”
“Tentu saja bukan, aboji. Dia bukan pilihanku”
“Baiklah, kau mendapatkan apa yang kau inginkan, Hyun Soo-a…tapi dengan dua syarat!Pertama...kau boleh menikah dengan wanita pilihanmu sendiri, tapi pastikan dia berasal dari keluarga baik-baik yang terhormat di masyarakat…dan yang kedua, aku minta kau sudah harus menemukannya dalam jangka waktu dua bulan ke depan…kalau tidak, Park Chung Ae yang akan menjadi menantuku!”
“Aku terima dua syaratmu itu, aboji”
Sambil berkata demikian, Hyun Soo berdiri dan langsung beranjak keluar dari ruangan itu. Soo Yun mengejarnya, masih dengan airmata di pipiya, sementara Hyun Shik duduk dengan santai sambil memandang punggung putranya. Dan ketika Hyun Soo dan Soo Yun sudah keluar dari ruangan itu, Hyun Shik merebahkan kepalanya ke belakang, sebuah senyuman puas mengembang di bibirnya,
“Lee Hyun Soo…kau memang putra kebanggaanku!” ucapnya pelan.
end of flashback
Sebuah tepukan halus di punggungnya menyadarkan Hyun Soo dari lamunannya. Sebuah suara mengiringi tepukan itu,
“Hei, man...aku sudah tahu, kau pasti ada di sini…mengapa wajahmu murung seperti itu? Kau dicampakkan oleh Jessica, ya?” goda Jung Dae Kwan yang baru saja memasuki ruangan tempat Hyun Soo duduk seorang diri.
Hyun Soo tersenyum lemah, dia tidak berniat membalas gurauan sahabatnya itu, tapi dia tetap menjawabnya,
“Jessica sedang ada di London sekarang. Dia akan berada di sana selama 3 bulan ke depan”
“Pantas saja wajahmu ditekuk seperti itu. Kau pasti kesalkan, karena ditinggalkan olehnya sementara kau baru saja pulang dari Singapore”
Hyun Soo kembali tersenyum. Diisinya gelas kosongnya dengan brandy, lalu dihabiskannya dalam satu kali tegukan.
“Wo…wo…wo…easy, man…easy! Sudahlah, daripada kau sendirian bermuram durja di tempat ini, lebih baik kau ikut aku ke pesta bujangan Jung Hwan-hyung…dia akan melangsungkan pernikahan besok…kau juga diundangkan?”
“Ya, aku diundang" Hyun Soo berhenti dan berpikir sebentar, "Baiklah, aku turuti permintaanmu itu. Tapi, apa Jung Hwan-hyung mau diberi pesta bujangan ini? Setahuku dia paling anti dengan pesta bujangan seperti ini, aku juga sebenarnya kurang suka…tapi apa boleh buat, aku harus sedikit melonggarkan syaraf-syaraf otakku”
“Hyung tidak akan tahu…pestanya berlangsung di apartemen Seung Woo. Dia sedang dijemput sekarang, jadi kita masih sempat mengikuti pestanya dari awal...ayo, bangun!”
"Kau duluan saja...aku menyusul sebentar lagi"
Hyun Soo membiarkan Dae Kwan berjalan keluar mendahuluinya. Dituangkannya lagi sedikit brandy ke dalam gelasnya…ketika itulah dia merasakan sesuatu yang menggelitik di sudut hatinya ketika hati nuraninya berkata, ‘Istri…’
***
Grand ballroom hotel JW Marriott tampak semarak dan dihias dengan cantik, didominasi dengan rimbunan bunga lilly putih, ballroom itu menjadi tempat yang sesuai bagi Myung Hee dan Jung Hwan untuk mengikat janji sehidup semati mereka.
Sang mempelai laki-laki tampak gugup menunggu di depan altar ditemani oleh pengiringnya yang sesekali menepuk-nepuk punggungnya untuk memberikannya semangat.
Di antara barisan tamu undangan yang bersiap menyaksikan penyatuan janji dua insan itu, terdapat Dae Kwan dan Hyun Soo yang duduk di barisan undangan pengantin pria, mereka duduk di barisan ketiga dari depan. Hyun Soo memperhatikan tingkah laku Jung Hwan yang kelihatannya semakin gugup seiring detik waktu mendekat ke saat pernikahannya.
“Jung Hwan-hyung benar-benar merasa gugup. Aku tidak tahu apakah dia gugup karena ini merupakan pengalaman pertamanya menikah atau karena pengalamannya menghadiri pesta bujangan semalam…kelihatannya dia merasa bersalah dengan calon istrinya, sehingga harus cepat-cepat pulang dan meninggalkan penari itu bengong sendirian, untung saja ada Seung Woo yang cepat bereaksi, sehingga penari malang itu tidak merasa dipermalukan” oceh Hyun Soo geli, “Bagaimana menurutmu, Dae Kwan-a?”
Dae Kwan tidak memberikan respon atas kata-kata Hyun Soo itu, kedua matanya terpaku ke barisan bangku di seberang, tempat dimana keluarga dan teman-teman pengantin wanita duduk.
Hyun Soo mengikuti pandangannya, dan di sana dia mendapatkan dua orang wanita yang sama-sama cantik namun kelihatan sekali memiliki perbedaan usia yang besar. Pakaian yang mereka pakai juga berbeda, yang lebih tua memakai Hanbok, sedangkan yang muda tidak. Di samping itu, wanita cantik yang lebih tua sekarang sedang direpotkan dengan kegiatan memasang dasi kupu-kupu kepada seorang remaja laki-laki berusia sekitar 14 tahun yang duduk dengan patuh di sampingnya…dan Hyun Soo yakin bukan dialah yang menjadi objek pandangan tak berkedip sahabatnya itu…kalau bukan dia berarti, gadis yang duduk di samping anak laki-laki itu.
‘Cantik’ ucap Hyun Soo di dalam hati, namun tak urung bibirnya tersenyum geli melihat ketertarikan Dae Kwan kepada wanita muda itu. Segera ditepuknya lengan atas Dae Kwan dengan agak keras, sehingga Dae Kwan serta merta sadar dari pengaruh ’sihirnya’.
“Han Eun Kyung…tambah cantik saja setiap aku bertemu dengan dia”
“Siapa?”
“Han Eun Kyung”
Hyun Soo ingin bertanya lagi, namun sebuah suara yang mengumumkan tentang kedatangan mempelai wanita, membuatnya mengurungkan niatnya. Seperti para hadirin yang lain, Hyun Soo menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah pintu masuk…namun, perhatiannya harus teralihkan ketika bunga yang menjadi hiasan bangkunya terlepas dan jatuh ke bawah. Hyun Soo membungkuk untuk memungutnya…saat itulah dia melihatnya…
Diiringi dentingan piano yang mengalun indah, untuk pertama kalinya tatapan Hyun Soo terpaku pada sepasang betis ramping tercantik yang pernah dilihatnya selama kehidupannya sebagai pria dewasa.
Sepasang betis indah yang dibungkus oleh kulit putih mulus tanpa cela itu seperti membius Hyun Soo untuk terus melihatnya…perlahan-lahan seiring tubuhnya yang kembali duduk dengan tegap di atas bangku, pandangannya naik ke atas, ke wajah pemilik sepasang betis cantik yang memukau itu…dan untuk pertama kali Hyun Soo melihatnya…dia melihat Goo Hee Young!
selesai
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
boring ya??? mian klo jelek (btw,gumawo buat koment2 sblumnya
![[lovestruck]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/lovestruck.gif)
)
kritikan + masukan dr chingu2 smua,gw tunggu dgn senang hati...HWAITING
![[AddEmoticons04262]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/AddEmoticons04262.gif)