Author Topic: Strawberry, Lovers or Haters?--#CHP 15 PART II# 6 Nov' 11  (Read 29024 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER TEN
dokter Kwon



Wine uring-uringan di kamarnya. Berulangkali dia membalik tubuhnya, .. sebentar ke sebelah kanan, sebentar lagi ke sebelah kiri, begitu seterusnya sampai ke posisi tertelungkup di atas ranjang.

Kejadian tadi sore, … ketika entah setan apa menguasai pikirannya untuk melakukan perbuatan itu terhadap Strawberry, .. terputar silih berganti dalam otaknya laksana rol film yang seakan enggan berhenti.

“HUHH!!”

Wine menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di atas bantal. Dia menahan nafas, .. berusaha membuang pikiran yang dianggapnya kotor dan sangat tidak pantas itu. Tapi bagaimanapun keras usahanya, kelihatannya sia-sia saja. Bayangan gadis berkulit putih mulus dengan pipi dan bibirnya yang merah merona itu sangat kuat, menari-nari di pelupuk matanya, .. seolah menguasai seluruh jiwa dan raganya.

“AHHH!!!” Wine berteriak sembari melempar bantal yang digenggamnya sampai jatuh mendarat di lantai.

Wine bangun ke posisi duduk. Saking stressnya, rambutnya yang tebal dan hitam pekat itu diacak-acaknya hingga berantakan. Sebagian dari untaian rambut yang cukup panjang itu menutupi wajahnya, .. membuatnya sudah seperti orang gila saja.

Wine menghembuskan nafas kuat-kuat ke udara. Dari posisi menengadah ke langit-langit kamar, tubuhnya dihempaskan di atas ranjang. Dia memejamkan mata. Dan perlahan tapi pasti, .. bayangan-bayangan itu kembali merasuki pikirannya. Kali ini, bahkan jauh lebih jelas dari beberapa saat lalu.


oooOOOooo



flash back …

Wine melintasi jalan desa dengan sangat cepat. Beberapa penghalang seperti, gundukan-gundukan kerikil, kubangan air dan lumpur yang becek, rumput-rumput pendek yang teramat tajam, dan pohon-pohon besar, dihindarinya dengan agak terhuyung-huyung. Kesepuluh jarinya tidak henti-hentinya mengaruk-garuk dan menekan-nekan tangan dan wajahnya yang sudah dipenuhi bintik-bintik merah darah, terutama bibirnya yang membengkak.

Beberapa penduduk desa yang kebetulan melewatinya, segera meliriknya keheranan.

“Wine, kenapa denganmu?”

“Omo—ada apa dengan bibirmu? Kenapa bengkak begitu?”

“Kau sakit, Wine?”

Begitulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari bibir mereka. Wine tidak mengubris mereka. Dengan sempoyongan dia terus berlari sampai hampir mencapai ujung desa, di mana di sana berdiri sebuah rumah yang cukup besar, dengan dekorasi warna putih.

“DOKTER KWONNN!!!” Teriakan yang berulangkali terlontar dari mulutnya terdengar semakin sengit.

Wine sampai di teras depan rumah putih itu. Di depan pintu tercetak huruf yang cukup besar ‘Klinik Herbal dr. Kwon’. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Wine langsung mendobrak pintu itu sampai terbuka lebar. Dan ini sudah merupakan kebiasaannya setiap kali mengunjungi dr. Kwon, karena dia sadar, pintu klinik dr. Kwon tidak pernah dikunci.

“Dokter Kwonnnn!!!”

Brakkk!! Baki berisi berbagai tanaman herbal yang sedang dipegang seorang pria kurus usia tengah abad terbang ke lantai. Wajah tirus itu pucat seketika, akibat kekagetan yang melandanya dengan tiba-tiba. Mata keriputnya terbelalak lebar, seakan melihat hantu di siang bolong. Tidak terkecuali anak kecil usia tujuh tahun yang menjadi pasiennya saat ini. Anak itu segera memeluk ibunya erat-erat.

“Wi .. wine .. ,” ucap pria tengah baya berjubah putih itu gugup.

“Dokter Kwonn!!” Wine segera meraih pundak dr. Kwon kuat-kuat, dengan nafas tersengal-sengal. “O .. obat penawar .. “

Mengabaikan permintaan Wine yang tidak santun, dokter malang itu mengibaskan tangan cowok itu dari pundaknya. Dia meringgis kesakitan dan menyadari bahwa urat otot lengannya yang sudah tua sedikit cedera akibat kelakuan anak muda itu.

“Apa ini sudah menjadi kebiasaanmu, Wine?” ngomel dr. Kwon.

Wine mengangkat alis tidak mengerti. Nafasnya masih tersengal-sengal hingga menerpa wajah dr. Kwon yang berdiri begitu dekat darinya.

“Kalau kau terus-terusan begini, suatu saat nanti kau akan kehilangan dokter satu-satunya yang mampu menyembuhkan penyakit anehmu .. ,” lanjut dokter itu dengan nada datar. “Saya bisa mati berdiri akibat serangan jantung mendadak .. “

Tidak diubrisnya lagi si Wine. Dengan cepat pria tengah baya itu berjongkok dan memunguti tanaman-tanaman herbal yang berserakan di lantai, untuk kemudian ditaruhnya di baki penampungnya yang selanjutnya diletakan di atas meja dan mulai menghadapi pasiennya tadi.

“Joon tidak apa-apa, Tae ahjuma. Dia hanya demam biasa. Nanti akan kurebus obat baginya, dan kau bisa mengambilnya sekitar dua jam lagi .. “

Tae ahjuma, ibu dari anak laki-laki bernama Joon, mengangguk. Dia berdiri dan menyalami dr. Kwon. “Gumawo, dr. Kwon .. ,” katanya sambil membimbing Joon keluar dari klinik itu. Sesekali dia melirik Wine. “Lain kali, jaga sikapmu, Wine. Dokter Kwon tidak akan ditahan diperlakukan kau begini terus .. ,” nasehat si ahjuma sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Si anak kecil turut mengiyakan dengan mengangguk-anggukan kepalanya yang agak lonjong.

Wine memanjangkan bibir sampai ibu dan anak yang dirasanya sangat, teramat, cerewet itu menghilang dari pandangannya. Setelah itu, bibir itu ditekuknya. Tidak mengherankan kalau si ahjuma tadi sebal padanya. Sudah menjadi rahasia umum bagi para pasien di klinik itu kalau Wine suka mengagetkan dr. Kwon. Setiap kedatangannya selalu diawali dengan teriakan-teriakannya yang memekakan telinga, .. dan yang akan diakhiri dengan hentakan pintu yang berdebam keras.

“Dokter Kwon .. ,” panggil Wine.

Namun segera diputus dr. Kwon. “Antri dulu! Kau tidak boleh seenaknya!” tukas dokter itu tanpa berpaling padanya.

“Yeee!!” Kesal, Wine menghempaskan tubuh jangkungnya ke bangku panjang yang menyandar di dinding.

Dokter Kwon meliriknya sekilas, dan pria tua itu menyengir lebar begitu mendapati Wine bisa juga duduk dengan tenang menunggunya menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.

Setelah pasien terakhir keluar dari kliniknya, dokter Kwon beralih pada Wine yang memejamkan mata di tempatnya.

“Bagaimana?” tanya dokter Kwon. “Apa lagi masalahmu?”

Wine membuka matanya lambat-lambat. Bibirnya mengerut. “Dokter masih nanya?”

“Omo—“ Seperti baru menyadari keadaan Wine, dokter Kwon segera menekan wajah cowok itu dan menarik kearahnya. “Parah banget?” ujarnya dengan mata mengeriput.

Wine segera mengibaskan tangan dokter Kwon.

“Apa yang kau lakukan?” lanjut dokter itu penasaran. “Mulutmu bengkak banget?” Alis dokter tua itu mengerut. “Apa kau habis makan strawberry?”

“Sa .. saya .. “ Wine tidak mampu melanjutkan perkataannya. Bagaimana mungkin dia menjelaskan pada dokter Kwon kalau dia bukan habis makan strawberry tapi habis nyium ‘Strawberry’? Yaishh, mengingatnya aja sudah membuat lututnya bergetar hebat.

“Jadi, benar kau habis makan strawberry?”

Wine memejamkan mata, .. tidak ada cara lain, akhirnya dia mengangguk.

“Kau ini sungguh bandel!” Omel dokter tua itu. “Sudah berapa kali kuperingatkan, itu sangat berbahaya bagi penyakitmu .. “

Dokter Kwon menuju lemari kayu yang tingginya mencapai langit-langit ruangan, yang dipenuhi laci-laci kecil yang jumlahnya melebihi tigapuluhan. Dibukanya salah satu laci yang berada paling tengah dan mengeluarkan sebuah tabung yang berisi pil-pil warna coklat tua.

“Obatmu sudah habis kan, makanya kau kemari?” tanya dokter itu tanpa berpaling pada pasien di belakangnya.

Wine mengangguk. Setelah pertanyaan tadi, rasanya dia enggan menjawab pertanyaan dokter Kwon.

“Saya heran dengan kau .. ,” lanjut si dokter sambil memutar badan dan menyodorkan tabung di tangannya. “Biasanya kau paling anti menyentuh buah yang namanya strawberry. Kenapa sekarang kau malah memakannya?” Jidat yang sudah keriput itu mengernyit sangat dalam.

“Sa .. ya lupa .. ,” ujar Wine pelan. Dia masih jua tidak beranjak dari posisinya, .. begitupun hanya untuk menerima tabung berisi obat dalam genggaman dokter Kwon.

“Lupa?” ulang dokter Kwon tak percaya. “Bagaimana mungkin kau lupa? Dulu kau pernah berkata, ‘selama kau tidak berdekatan, menyentuh apalagi memakan yang namanya strawberry’ maka hidupmu akan baik-baik saja. Itu pula yang menjadi alasanmu kenapa selama ini kau tidak mau disembuhkan olehku kan? Jadi, kenapa bisa begitu?”

“Aku tidak tahu!!” Wine jadi kesal. Diserobotnya tabung dari dokter itu. Kemudian berdiri dari duduknya. “Pembayarannya akan dilakukan ayahku!”

Wine memutar diri ke pintu lalu beranjak ke sana.

“Masih tidak berniat disembuhkan?” tawar dokter Kwon.

“Tidak!!” teriak Wine. Sebentar saja, sosoknya menghilang dari pandangan dokter tirus itu.

“Dasar anak kurang ajar!” omel dokter Kwon sembari mengeleng-gelengkan kepalanya.

Sudah terlalu lama dia mengenal Wine, .. itu sudah sejak kelahiran dan kelemahan yang diketahui keluarganya tentang anak itu terhadap kandungan-kandungan yang terdapat dalam obat-obat western. Karena itu, pengobatan Wine sudah khusus dipercayakan kepadanya sejak bayi. Semua karena Wine lebih cocok dengan pengobatan herbal alami. 

End of flash back ..


oooOOOooo



”TIDAKKK!!!” Wine menjerit dan tersentak bangun dari tidurnya.

Ya, dia ketiduran tadi. Dan .. mimpi buruk. Kejadian yang mengelisahkannya itu, ternyata kebawa sampai ke mimpi.

“Antwee!! Tidak mungkin terjadi!!” Wine mengeleng keras-keras. “Tidak boleh terjadi!!” ulangnya berkali-kali, .. sambil komat-kamit layaknya seorang dukun yang sedang membacakan mantranya.

Wine menghembuskan nafasnya, lalu memejamkan mata. Dia mengeleng kembali. Untuk kemudian, wajahnya yang sudah bersimbah keringat itu ditutupnya rapat-rapat dengan sepasang tangannya.

“Saya tidak mungkin memikirkan Strawberry terus-menerus … ,” ucapnya ngeri. “Tidak mungkin … “ Kembali dia mengelengkan kepalanya. “Saya tidak mungkin menyukainya. Tidak boleh! Ini sangat mengerikan .. “ Dia bergidik. Bulu kuduknya berdiri seketika mengingat kemungkinan yang melandanya saat ini. “Saya akan mampus mengenaskan .. ,” ucapnya dengan suara bergetar.


oooOOOooo



”Kenapa wajahmu pucat, sayang?” tanya Nyonya So pada Wine saat sarapan keesokan harinya.

Wine menghela nafas lemah. Wajahnya yang pucat terlihat makin kuyu. Perlahan diletakannya garpu dan pisau di tangannya di dua sisi piring.

“Saya sakit, omma .. ,” jawabnya pelan.

“Sakit?” Nyonya So yang bersiap membawa makanan ke mulutnya, terhenti. “Sakit apa? Gwencana?”

Wine mengelengkan kepala segera. “Tidak!! Saya tidak baik-baik saja!!”

“Omo—“ Mulut Nyonya So mengangga. “Ada apa dengan mu? Kelihatannya sakit mu parah sekali .. “

“Ne .. ,” timpal Tuan So yang duduk di samping istrinya. “Apa tidak sebaiknya appa panggilkan dokter Kwon?” anjurnya khawatir. “Bibirmu sampai bengkak begitu .. “

“Tidak!! Tidak perlu!!!” tukas Wine cepat. “Kemarin saya sudah memeriksakan diri ke sana, dan dr. Kwon sudah memberikan obat-obat yang kuperlukan .. “

“O ya?” Nyonya So terlihat menghela nafas lega. “Lalu, apa katanya tentang penyakitmu? Parahkah?”

“Tidak!!” Wine segera menghindar. Tatapan dari kedua orangtuanya segera ditepisnya dengan memalingkan muka kearah lain.

“Ada yang kau sembunyikan?” selidik ommanya beberapa saat kemudian.

“Tidak!!” sahut Wine sengit.

“Omma tidak percaya!” balas Nyonya So. Tangannya yang memegang garpu terulur ke depan dan menghenting-henting piring di depan Wine. “Jangan berbohong! Sekarang, pandang omma!” Perintahnya lantang dan, tidak mungkin dibantah.

Dengan lemas, Wine menoleh lambat-lambat.

“Ada hubungan dengan Stro?” tebak Nyonya So tiba-tiba. Matanya menyipit ketika menatap Wine.

“Ti .. tidak .. ,” jawab Wine gugup. “A .. aku akan segera sembuh jika .. jika omma dan appa tidak memaksaku ke ladang hari ini .. Eh—mungkin juga buat hari-hari yang akan datang ..” Dia segera melarat perkataannya begitu menyadari ada sedikit kesalahan di sana.

“Wee?” tanya Nyonya So tajam, yang segera didukung suaminya dengan anggukan halus.

“Pokoknya saya tidak mau ke sana!!!” Wine berkeras. Suaranya yang rada-rada rendah dan dalam itu jadi melengking tinggi.

“Tidak bisa!!” sahut Nyonya dan Tuan So bersamaan, tegas dan tidak mungkin dibantah.

“Omma tidak mengijinkanmu melakukannya!!”

“Appa juga!!”

Lanjut kedua orangtua itu sengit.

“Apapun alasanmu itu, kau harus ke ladang!!” tukas Tuan So.

“Terlebih kalau urusannya dengan Stro, kau harus segera menyelesaikannya! Tidak boleh tidak!!” sambung Nyonya So tegas. “Jangan menghindar dari Stro!”

“Omma!! Appa!!” Wine melompat dari kursinya. “Saya tidak mau!!”

“Coba saja!” tantang ommanya.

“Sa .. saya tidak mungkin bertemu dengannya .. ,” balas Wine akhirnya. Tampangnya terlihat memelas dan perlu dikasihani. Tapi dia sadar, percuma melakukan itu di hadapan orangtuanya, karena ekspresi itu tidak pernah mempan terhadap kedua orangtuanya jika sudah menyangkut Strawberry.

“Kenapa?” tanya Nyonya So tanpa memperlihatkan perasaan apa-apa.

“Pokoknya saya tidak ingin bertatap muka dengannya .. ,” ujar Wine salah tingkah. “Sa .. saya .. saya sudah melakukan .. sesuatu yang .. yang tidak mungkin dimaafkan .. “

“Apa itu?” tanya orangtuanya bersamaan, .. terlihat agresif dan tertarik.

“Eh—“ Wine menyusut dengan agak sempoyongan. Raut kedua orangtuanya membuatnya ngeri. Segera ditahannya kursi yang agak oleng karena tersenggol olehnya begitu berdiri. Setelah posisinya benar, terburu-buru Wine melarikan diri dari ruang tamu itu.

“WINE!!” teriak Nyonya dan Tuan So.

“KALIAN TERLALU CEREWET!!” jerit Wine serak. “JANGAN MEMAKSAKU!!”


oooOOOooo



Sementara itu, .. jauh di seberang ladang strawberry, di sebuah villa yang sudah agak tua ..

“Stro, kau masih di sini?” tanya omma heran begitu mendapatiku masih bermalas-malasan di atas ranjang. “Kau tidak sarapan?” tanya omma lebih lanjut, seraya memasuki kamarku dan menghempaskan badannya di pinggir ranjang, di sebelahku.

Aku meliriknya sebentar, lalu terburu-buru mengalihkan pandangan ke majalah yang terhampar di depanku. “Saya tidak lapar, omma ..”

“O ya?” Omma membuka mulutnya. Mendadak dia mendaratkan tangannya di jidatku. “Kau sakit?”

“Tidak .. “ Dengan agak risih kusingkirkan tangan omma dari jidatku. “Saya baik-baik saja kok .. “

“Lalu kenapa kau tidak ke ladang?”

Nah, aku tahu ini yang akan ditanyakannya kemudian. Benar kan dugaanku?, desahku dalam hati.

Kugeser majalah tadi ke samping, lalu bangun dan duduk di pembaringan. “Saya tidak ingin pergi hari ini, omma. Please .. “

“O tidak bisa!” ujar omma seraya mengerak-gerakan telunjuknya. “Memangnya kenapa kau tidak ingin ke sana?” tanyanya menyelidik. Matanya terlihat berkilat-kilat sehingga aku yakin omma telah menyusun sebuah rencana dalam otaknya. Mungkin dia telah menebak sesuatu ditilik dari keenggananku.

“Tidak berhubungan dengan Wine jika itu yang omma pikirkan!” tukasku cepat. Sebelum dia mengambil keputusan buat terkaannya yang, .. ya, kuakui benar adanya—Yaishh!! Kenapa jadi begini?!! .. , aku harus menghancurkannya terlebih dahulu. Ngeri rasanya jika semua yang berhubungan dengan si geblek itu langsung dikaitkan denganku.

“Omma tidak bilang begitu .. “

Jawaban santai dari omma membuatku mengangga. Seketika, pipiku bersemu merah. “Eh--?”

“Omma tidak menyinggung Wine. Kenapa kau sepeka itu?”

#Gubrakk, .. omma, omma, .. Makin membuatku salah tingkah aja hu .. hu ..

Terburu-buru aku menurunkan kaki ke lantai, dan bergegas-gegas aku ngeloyor pergi dari kamar itu.

“Hey—mau kemana?” teriak omma.

“Ke ladang!!” balasku sekeras-keras.

#Teng, teng, .. Tanpa kusadari, omma menyengir licik di tempatnya.


oooOOOooo

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun