Author Topic: LOVE : "WHAT'S HAPPENING?" update 17 oktober  (Read 17403 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: LOVE : sparkling update 26 maret
« Reply #210 on: April 26, 2011, 07:20:11 am »
Gadis itu berjalan sedikit menghentakkan kakinya menuju halaman belakang asrama.

Ya. Dia tinggal di asrama. Asrama Hi High School. Bukan, membacanya bukan 'hai haigh schul', tapi 'hi haigh schul'.

Asrama siswi dan siswa Hi High School dibuat di gedung yang terpisah. Asrama putra menghadap ke selatan, asrama putri menghadap ke utara, kedua asrama itu berhadap-hadapan. Asrama guru di sebelah timur, menghadap ke barat, dan berseberangan dengan ruang kelas siswa-siswi sehari-hari. Dan keempat gedung tersebut, mengelilingi lapangan olahraga.

Oke, kita kembali ke gadis yang berjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya tadi. Dia menuju ke taman belakang―begitu orang-orang menyebutnya―yang terletak di belakang gedung yang terdiri dari ruang-ruang kelas.

Angin malam membuatnya mau tak mau merapatkan mantelnya yang berwarna hitam. Tengkuknya merinding saat angin malam menerbangkan rambut panjangnya dan meniup tengkuknya.

Saat sampai di taman belakang, ternyata sudah ada seseorang disana.

"What the..?" gumam Hye Sun―nama gadis itu―pelan, sangat pelan.

Seseorang yang ada di taman belakang itu adalah kekasihnya sejak dua bulan yang lalu. Lee Min Ho. Lelaki itu duduk di rerumputan membelakangi Hye Sun dengan kedua tangannya menumpu berat badannya di belakang.

Hye Sun memutuskan untuk diam. Tidak kembali ke kamar, tapi juga tidak mendekati Min Ho. Dia memilih diam dan memandangi Min Ho di depannya yang sekali-kali membetulkan helaian rambut lebatnya yang tertiup angin.

'Dia benar-benar sempurna. Aku beruntung sekali mendapatkannya.' gumam Hye Sun mengulum senyum.

"Mau sampai kapan di situ, Hye Sun?" lamunan gadis itu berakhir saat suara bariton yang sangat dihafalnya menanyainya. Min Ho bertanya tanpa menoleh, tanpa berubah posisi, tetap seperti tadi.

"A-e-a, ehehe.." gadis itu menggaruk perlahan belakang kepalanya yang tidak gatal. Salah tingkah. Terlihat dari pipinya yang merona tipis.

"Duduklah." tawar Min Ho―yang tetap tidak menoleh―sambil menepuk-nepuk rumput di sebelah kirinya menggunakan tangannya yang kiri, lalu mengembalikan tangan kirinya ke posisi semula.

"Ah, iya." Hye Sun duduk tepat di rumput yang tadi minta Min Ho. "Sejak kapan kau tahu kalau aku di situ?"

"Sejak kau datang." tanya lelaki itu tanpa memandang kekasihnya, memandang langit cerah jauh di atas yang menunjukan beberapa bintang.

"Bagaimana kau tahu? Kau dengar aku datang?"

Min Ho menggeleng. "Entahlah, feeling. Tidak tidur?"

Sekarang Hye Sun yang menggeleng. "Suasananya tidak enak sekali. Min Jung tidak sengaja mematahkan bolpoin kesayangan Eun Hye. Bilangnya, sih, sudah dimaafkan, tapi masih ada hawa membunuh, jadi tidak nyaman." terang gadis itu sambil memeluk kedua kakinya yang memakai celana piyama.

"Kenapa kesini?" lagi-lagi Min Ho bertanya, dan lagi-lagi tidak memandang ke arah sang gadis. Tetap menatap bintang di langit.

Gadis itu lama-lama lelah juga memandangi pacarnya yang tidak menoleh padanya sedikit pun, turut melihat bintang di langit malam. Hye Sun mengedikkan bahunya. "Entahlah, feeling." setelah berucap, Hye Sun baru sadar jawabannya sama dengan jawaban Min Ho tadi.

"Hn."

"Kau sendiri kenapa tidak tidur?" tanya Hye Sun balik.

"Aku cuma bisa tenang waktu malam. Ye Jin selalu mengikuti kemana pun, kecuali, yaah, saat malam." Min Ho mengedikkan bahunya.

Hye Sun tertawa kecil. "Memangnya kau pikir tubuhmu tidak butuh tidur?"

"Aku sudah biasa tidur kurang dari enam jam."

Si gadis mendengus sambil menggumamkan kata-kata seperti 'tapi tetap saja kurang.' Tentu saja tidak diambil pusing oleh Min Ho.

"Hei, Min Ho."

"Hn?"

"Kau tahu tidak kenapa banyak gadis yang mengejarmu?"

Yang ditanya hanya mengedikkan bahu. "Mungkin mereka kurang kerjaan."

Jawaban yang lagi-lagi membuat Hye Sun tertawa. "Kau itu berkilau."

Kali ini Min Ho menoleh pada Hye Sun dengan tatapan tanya.

Hye Sun mengangguk. "Iya, kau itu berkilau. Menonjol di antara teman-temanmu. Kau tampan, kaya, jenius, mahir piano―"

"Kau bicara begitu seakan lupa kalau kau juga mahir piano."

"Jangan potong orang yang sedang berbicara, Tuan Muda." sahut Hye Sun dengan nada memerintah.

"Hn."

"Sampai mana tadi? Oh, iya, mahir piano, kapten basket, keturunan Lee, pewaris Shinwha. Kau itu sempurna. Sangat sempurna, malah. Kontras, ya , denganku?"

Min Ho mendecih. "Hye Sun kau lihat bintang yang di sebelah kanan bulan itu?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan." kata Hye Sun sambil menyibakkan poninya yang membuatnya risih.

"Aku bertanya." jawab Min Ho.

"Tidak, tidak ada bintang di sebelah kanan bulan. Ada juga di sebelah kirinya."

"Masa tidak lihat? Itu." kali ini lelaki itu menggunakan telunjuk tangan kanannya itu menunjukkan bintang yang dimaksud.

Hye Sun menggeleng. "Tidak ada, Min Ho. Kau mengantuk, tuh."

Min Ho ikut menggeleng, lalu mengembalikan tangan kanannya ke tempatnya semula. "Nah, bagiku kau jadi bintang yang ada di sebelah kanan bulan itu. Biarlah orang lain tidak melihat keberadaannya, tidak melihat kilaunya. Yang penting, aku lihat, aku tahu, dan aku suka." terang Min Ho mantap.

Hye Sun terpana. Terpana karena baru sekali didengarnya Min Ho berucap sepanjang itu. Terpana karena Min Ho yang benar-benar menyayanginya sebagai dirinya menurut pandangan Lee Min Ho, bukan orang lain.

"Gumawo." Hye Sun menunduk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.

"Hn." Min Ho menangguk.

Sekarang Hye Sun yakin, dan Hye Sun tahu. Biar pun Min Ho tidak berkata secara langsung laki-laki itu mencintainya, tapi dia tahu melalui pandangannya, sikapnya, perhatiannya. 'Biarlah Lee Min Ho mengungkapkan rasa cintanya dengan caranya sendiri.' batin Hye Sun.

Memang dari dulu Min Ho tidak pernah bilang cinta, mereka pacaran pun Min Ho hanya berkata 'Would you be my girlfriend, Goo Hye Sun?'. Tapi tak apa, toh gadisnya tahu kalau dia mencintainya, kan?

"Min Ho."

"Hn?"

"Sekarang aku tahu apa yang membuatku kesini. Dirimu."

"Hn." laki-laki yang dimaksud mengangkat ujung bibirnya sedikit. "Gomawo." kali ini Min Ho manghadap Hye Sun dan tersenyum tulus.

Hye Sun terkesiap. Baru sekali ini Lee Min Ho berterimaksih dan baru sekali ini juga Lee Min Ho tersenyum setulus itu.

"Sama-sama." Hye Sun mengangguk dan menatap bintang kembali, mencoba mengacuhkan rasa panas di wajahnya.
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME