SECRET RAINBOW
A 2011 MinSun Fanfiction Colaboration by Lovelyn, Voldy, Itaraya
Yellow : Part 2 dan 3 *jangan gorok gw*
“Eeeeh? Kencan?”
Eryn tersenyum canggung mendengar penawaran dari Ashley. Kencan. Berdua. Tanpa pengawal. Itu berarti tanpa Gavin. Dibelakang mereka Gavin berdiri dengan tegak dan wajah datar, seakan tak terpengaruh dengan pembicaraan mereka.
“Ne. Ini akan jadi kencan pertama kita. Kau setuju?” tanya Gavin lagi.
Sekali lagi Eryn tersenyum canggung. “Tanpa...pengawal?” tanyanya pelan seraya menunjuk Gavin dibelakang.
“Ne. Kenapa? Kau keberatan? Kau tidak suka jika tidak ada pengawalmu ini?”
“A—aniyo...bukan begitu maksudku.” Eryn terdiam. Ia melirik Gavin dari sudut matanya, kemudian menghela napas berat. “Baiklah. Jam berapa?”
Ashley menyeringai. “Jam 7 aku jemput.”
“Jadi tuan Joen, malam ini kau tidak perlu mengawal Eryn. Akulah yang akan melindunginya mulai sekarang,” lanjutnya. Ia menatap Gavin dengan pandangan dingin, tapi sayangnya Gavin tak terpengaruh. Ia membalas dengan tajam tatapan Ashely, seakan-akan mengatakan; kau-sakiti-nonaku-neraka-menantimu-jerk.
Setelah perang urat mata itu, Ashley memutuskan untuk pulang. Ia beranjak dari duduknya dan dengan sengaja mengecup puncak kepala Eryn didepan Gavin. “Aku pulang dulu, sayang. Jangan lupa dandan yang cantik.”
Melihat kemesraan Eryn dan Ashley membuat jantung Gavin berdetak cepat. Nafasnya memburu dan wajahnya memerah.
“Gav? Kau sakit?” tanya Eryn ketika melihat wajah merah Gavin.
Gavin mengalihkan pandangannya ke lain arah, menolak memandang Eryn. “Anyi, agashi.”
“Kau sih, kan sudah kubilang lebih baik kau istirahat dulu,” ujar Eryn sambil mencibir. Ia kemudian mendekati Gavin dan memandang wajah tampan Gavin dengan intens.
“Sepertinya kau benar-benar sakit.” Tanpa antisipasi Gavin, Eryn menyentuh keningnya dengan telapak tangan sehingga membuat Gavin sedikit berjengit. Dengan agak keras Gavin menjauhkan tangan Eryn dari keningnya.
Eryn mengernyit heran, seraut wajah kecewa muncul diwajahnya. “Kau tidak suka jika aku perhatian padamu?”
Ia kemudian melangkah pergi, meninggalkan Gavin yang wajahnya masih saja datar (timpuk gavin rame-rame yuk). Baru beberapa langkah Eryn berjalan, ia berhenti. Tanpa berbalik ia berujar, “Aku hanya ingin membalas kebaikanmu selama ini, apa itu tidak boleh?”
Ia lalu kembali berjalan. Meninggalkan Gavin dengan raut wajah penuh penyesalan, “Miane, Ern.”.
.
.
Ngaret hampir satu jam Ashley tiba dirumah Eryn. Disambut wajah Eryn yang sudah ditekuk 12, Ashley malah mengobrol dengan Eros mengenai inflasi-atau-apalah-namanya. Ia hanya tersenyum singkat ke Eryn tanpa mengucapakan satu kata ‘maaf’ pun.
“Dasar cowok.”
Gavin yang dijadikan objek pelampiasan Eryn hanya berdiri tegak. Ia dan Eryn sama-sama berdiri, bedanya Gavin dengan sikap tegaknya sperti biasa, sedangkan Eryn dengan wajah dongkol luar biasa. Mereka tengah memandang tajam Ashley yang sedang berbicara dengan Eros.
“Janjinya jam 7. Kenapa malah terlambat?! Bukannya minta maaf malah ngobrol. Dasar cowok!”
Puas mengobrol dengan Eros, Ashley menghampiri Eryn. “Sudah siap, sayang?”
“Kalau aku bilang aku mengantuk karena kelamaan menunggu bagaimana?” sindir Eryn.
“Hahaha. Kau benar-benar lucu, Ern. Tidak salah aku memilihmu.”
Speechless. Eryn memandang Ashley dengan keki. Ingin sekali ia menendang bokong pemuda gila ini sambil berteriak, “ENYAHLAH KAU, BUSUK!” tapi tentu saja ia tidak berani. Disamping ada ayahnya yang masih memandang mereka dengan tertarik seakan mereka adalah species langkah, Ashely adalah ‘pacarnya’. Yeah, pacar. Jangan lupakan itu, Ern.
“Ayo berangkat.” Dengan menjulurkan tangannya ke Eryn, Ashley tersenyum riang. Matanya nakal menatap Eryn. Eryn hanya tersenyum canggung. Agak ragu-ragu ia membalas uluran tangan Ashley.
“Kami pergi.”
Keduanya kemudian melangkah pergi sambil bergandengan tangan. Beberapa langkah dibelakang mereka Gavin mengikuti dengan wajah datar.
“Ehm, Gav.”
Panggilan dari Eros membuat Gavin terhenti. Dengan pelan ia berbalik dan menatap Eros tepat di manik matanya. “Ne, tuan?”
“Tadi Ashley bilang, katanya mereka hanya ingin berdua. Dan dia juga bilang dia sudah memberitahukannya padamu mengenai hal itu.”
Gavin mengangguk kaku. Jadi si brengsek itu serius dengan ucapannya, batinnya.
“Jadi kuharap kau tidak menganggu, Gav. Kau masih ingat dengan perkataanku tempo hari?”
Sekali lagi Gavin mengangguk. Ia tak ada niatan untuk bersuara.
“Kuharap kau mengerti.” Setelah itu Eros beranjak dari duduknya. Ia menyempatkan diri menepuk pundak Gavin.
Sepeninggalan Eros, Gavin masih berdiri mematung di tempatnya. Wajahnya menatap sofa tempat Eros duduk tadi, sejurus kemudian segaris senyum terpampang dibibirnya..
.
.
Eryn terpana. Dihadapannya kolam renang sudah dihias sedemikian rupa, ratusan lilin terapung diatasnya, bermacam-macam bunga pun tak luput dari pandangannya. Jalan setapak yang menuju ke sebuah meja dihiasi lampion bermacam warna. Belum sempat Eryn bertanya, tarikan pelan ditangannya membuatnya menoleh.
“Ayo kesana,” ujar Ashley sambil menunjuk meja di ujung kolam.
Masih dengan pandangan tak percaya Eryn mengikuti langkah Ashley.
“Kau yang menyiapkan semua ini?”
Seperti pria-pria lainnya, Ashley mendorong kursi untuk Eryn. Masih dengan sikap canggungnya, Eryn tersenyum. “Gomawo.”
Setelah Ashley duduk dikursinya, keduanya lantas mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling.
“Indah.”
Satu kata yang terucap dari bibir Eryn membuat Ashley kembali menyeringai nakal. “Kau suka?”
“Ne.” Eryn lalu menatap Ashley, “Aku belum pernah diperlakukan seperti ini oleh pria. Gumawo.”
“Setelah ini masih ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Dengan senyum mautnya Ashley menatap Eryn, “Kau mau?”
Eryn mengangguk.
“Nah, kalau begitu ayo makan.”
Makan malam mereka dihiasi oleh tawa dan candaan (jayus) Ashley. Beberapa pelayan yang melayani mereka terkadang juga ikut tersenyum, dan akhirnya bergosip bahwa Ashley dan Eryn adalah pasangan paling serasi.
“Ayo pergi.”
Eryn menangkat alisnya tinggi-tinggi, “Kemana?”
“Kau akan tahu nanti. Kacha.” Setengah memaksa Ashley menarik tangan Eryn, berlalu dari hotel berbintang lima itu.
“Karena inilah aku terlambat.”
Sekali lagi Eryn dibuat terpana. Kali ini bukan candle light dinner, tapi sebuah teropong bintang yang gedeeeeeee, kursi taman untuk dua orang, selimut tebal, disertai taburan bunga sakura disekeliling kursi. Satu kata; ROMANTIS.
“Waw, Ashley. Aku...” Eryn speechless. Ia hanya bisa memandang Ashley dengan senyum. Bukan senyum canggung seperti biasa, tapi senyum tulus yang biasa dia berikan pada Secret Rainbow-nya.
“Gumawo.”
“Kalau dihitung-hitung ini sudah yang ketiga kalinya kau berterima kasih padaku. Sudahlah,” Ashley mengibaskan tangannya dan kemudian menarik Eryn untuk duduk, “Aku hanya melakukan ini pada orang yang kucintai.”
Hati Eryn terenyuh. Ashley-lah pemuda pertama yang melakukan semua ini padanya, dan mungkin setelah malam ini Eryn yakin bahwa Ashley adalah jodoh yang tepat untuknya.
“Gumawo.”
“Empat kali, nona.”
Keduanya lantas tertawa bersama. Mereka tak sadar bahwa ada sepasang mata hitam tajam yang terus mengawasi mereka sejak keluar dari dalam hotel. Sepasang manik hitam yang terus mengawasi pergerakan Ashley dan memandang lembut Eryn yang selalu tersenyum. Gavin bersembunyi agak jauh dari mereka dengan motor besarnya (ngojek gav?)
.
“Ehm, Ern.”
Eryn menoleh. Didapatinya Ashley tengah memandangnya dengan lembut. Awalnya ia tak mengerti apa arti pandangan itu, tapi ketika jarak diantara ia dan Ashley mulai menipis, tubuh Eryn jadi kaku. Ia tak bisa bergerak, sedangkan kepala Ashley mulai mendekatinya.
GEDEBUK (bunyi batu kena kepala gimana ya?)
“AWW!!!”
Keduanya lantas langsung mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling. Sunyi. Hanya ada mereka berdua disini. Diam-diam Eryn bersyukur karena Ashley tak jadi menciumnya. Dan tanpa mereka ketahui, dibalik semak-semak beberapa meter dibelakang mereka, Gavin tersenyum setan sambil memegang sebongkah batu..
.
.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika Eryn dan Ahsley sampai dirumah.
“Jadi...selamat malam.”
Eryn mengangguk. Ia baru saja berbalik untuk masuk ketika tangan Ashley menahan lengannya. “Ne? Ada apa?”
Ashley menggaruk pipinya dengan kikuk.
“Ashley, ada apa?”
Ashley tak menjawab. Dengan cepat ia mendekatkan kepalanya ke kepala Eryn. Sekali lagi Eryn terdiam kaku. Ia tak bisa bergerak. Selain karena tidak tahu harus berbuat apa, genggaman Ashley dilengannya membuat ia seakan terpaku ditempatnya.
“Agashi.”
Tinggal sedikit lagi, sedikiiiiiiiiiiit lagi bibir penuh godaan milik Eryn bisa dikecupnya, tapi suara bariton Gavin menghentikannya. Dengan pandangan membunuh Ashley menatap Gavin.
Seakan tidak menganggap Ashely ada, Gavin terus berjalan menuju Eryn. “Sudah sangat larut, agashi. Sudah waktunya istirahat.” Dengan agak menyeret Gavin membawa Eryn masuk. Dibelakang mereka Ashley masih terdiam mematung. Setelah memastikan Eryn sudah hilang dari pandangannya, Ashley beranjak pergi.
“Bodyguard sialan.”.
.
.
Eryn masih membiarkan dirinya ditarik oleh Gavin. Ia tak melawan karena dia sedang menunggu waktu yang tepat.
Sesampainya didepan kamar, Gavin membuka pintu kamar dan mempersilahkan Eryn masuk.
Baru satu langkah Eryn melewati batas ambang pintu, ia berbalik. Seulas senyum manis terpampang diwajahnya. “Gumawo.”
Wajah Gavin tetap datar, tapi Eryn bisa melihat ada seraut tanda tanya di sana.
“Untuk malam ini,” lanjutnya.
Eryn tertawa melihat wajah Gavin yang kian menunjukkan tanda tanya. “Hahaha. Ayolah, Gav. Kau pikir aku tidak tahu? Kau sudah menemaniku sejak aku berumur 12 tahun, jadi tidak mungkin jika aku tidak mengenalimu sama sekali.” Dengan pelan Eryn menepuk lengan Gavin—yang membuat Gavin berjengit (lagi), setelah itu ia berbalik dan melangkah masuk.
“Selamat malam, Gav.”
Pintu kamar pun ditutup. Meninggalkan Gavin dengan seraut senyum tipis. Ia lalu berbalik, menyandar didinding, dan masih tersenyum tipis.