Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 37387 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (Chapter 12 --- 7 mei 2011)
« Reply #570 on: May 06, 2011, 11:10:29 am »
THE MAESTRO
Chapter 12

Song of The Day

The Woman in Love

By. Barbara Streisand


Life is a moment in space
Where the dream has gone
Its a lonelier place
I kiss the morning goodbye
But down inside you know we never know why

The road is narrow and long
Where eyes meet eyes
And the feeling is strong
I turn away from the wall
I stumble and fall
But I give you it all

CHORUS
I am a woman in love
And I'd do anything
To get you into my world
And hold you within
Is it right?
I defend
Over and over again
What do I do?

With you eternally mine
In love there is no measure of time
We planned it all at the start
But you and I live in each other's heart

We may be oceans away
But you feel my love and I hear what you say
No truth is ever a lie
I stumble and fall
But I give you it all......................

CHORUS
I am a woman in Love
And I'd do anything
To get you into my world
And hold you within
Is it right?
I defend
Over and over again
What do I do?

Ohhhhhh

CHORUS
I am a woman in love
And I'm talking to you
I know how you feel
What a woman can do
Is it right?
I defend
Over and over again...................

And I'd do anything to get you into my world
And hold you within
Is it right?
I defend
Over and over again.


Sinar keemasan lambat-lambat memasuki kamar melalui celah-celah jendela. Pagi memang telah tiba namun tak mengganggu pasangan pengantin baru yang sedang tidur berpelukan itu. Saat suara gaduh di ruang tengah terdengar, salah satu diantara mereka terusik dan dengan malas mulai membuka mata.

“Letakkan benda itu di sini! Menghadap ke barat!” suara dari ruang tengah terdengar memerintah.

“Nany?” batin Aldian menyimpulkan sang empunya suara itu. Dengan berjuta tanda tanya di otaknya, dia membangunkan Joana,”Bangun, Yeobo.”

Joana agak terkejut saat Aldian menggoncang pelan bahunya. “Miane,” sesal Aldian.

“Tolong angkat juga koper-koper itu!” suara Nany lagi dari ruang tengah. Pasangan di dalam kamar jadi saling berpandangan. Seolah mempunyai jalan pikiran yang sama, mereka segera keluar kamar menuju ruang tengah.

“Nany?” seru mereka bersamaan. Mata mereka semakin terbelalak melihat benda yang kini hadir kembali di ruang tengah. Piano tua itu!

“Aku tahu kalian pasti kemari,” kata Mina Im. Joana berjalan ke arahnya dan memeluk. Aldian menuju ke piano, mengelus benda itu, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Piano itu milik keluarga Goo, jadi aku tidak kesulitan membawanya kemari,” sambung Mina lagi seolah tahu yang dipikirkan Aldian.

Joana tersenyum dalam pelukan Mina lalu berjalan ke arah suaminya yang masih menekuri piano itu. “Ruangan ini sekarang lengkap, Oppa,”  bisik Joana sambil tersenyum. Aldian berbalik menatap Mina. “Gumawo,” dia mengucapkan terima kasih dengan bersungguh-sungguh.

Mina Im tersenyum. “Aku juga membawa barang-barang Joana yang lain tapi barang Doronim, aku kesulitan…

“Aku tahu, Nany…,” pasti Aldian,”Appa tidak mengijinkannya.”

Joana memandang suaminya. Trenyuh mendapati nasib yang harus ditangguh Aldian karena nekat menikahinya. Mina Im tersenyum, lalu menyodorkan bungkusan agak besar yang sedari tadi dibawanya. “Terimalah ini, Doronim.”

Ragu-ragu Aldian menerima bungkusan itu.”Apa ini, Nany?”

“Beberapa stel pakaian untuk anda, hadiah pernikahan dariku,” jawab Mina.
“Tapi…
“Terimalah, Doronim,” desak Mina.”Anda pasti memerlukannya.”

Aldian menoleh pada Joana. Istrinya hanya tersenyum  menyembunyikan kepiluan hati. Berusaha tidak menangis. Aldian Lee, pria yang dari kecil selalu berlimpah kemewahan itu, kini bahkan tidak mempunyai pakaian ganti satu pun. “Miane, Oppa,” batin Joana.

“Gumawo, Nany,” akhirnya pria itu menyerah juga. Sebesar apa pun rasa gengsinya itu harus ditekannya sekarang.

Mina Im mengangguk. Seketika tangannya merogoh tas selempangnya. Sebuah kotak dia sodorkan pada Joana, giliran gadis itu menerima sambil bertanya,”Apa ini, Nany?”

“Perhiasan-perhiasan warisan keluarga Goo,” jawab Mina mantab. “Selama ini memang ada di tanganku. Harabojimu memwasiatkan agar aku menyerahkan perhiasan ini padamu setelah menikah.”

Joana membuka kotak perhiasan kayu itu yang ternyata penuh berisi perhiasan emas dan berlian. Agak silau saat cahaya pagi memantul ke benda itu. Dia tidak menyangka benda ini sebelumnya. “Almarhum Halmonimu suka sekali berinvestasi di perhiasan,” seakan tahu jalan pikiran Joana, Mina Im menjelaskan.

“Nany,” panggil Aldian. Bungkusan hadiah Mina, dia letakkan di atas meja di ruangan itu. Aldian menghela nafas. Sebenarnya dia agak tidak enak hati jika harus mengatakan ini tapi harus berterus terang,”Saat ini bisa kubilang kalau aku tidak mampu menggajimu. Apa Nany  tidak memilih melayani keluarga Lee?”

Mendengar kalimat itu, Mina Im merasa tersinggung.”Apa selama ini saya menuntut gaji, Doronim?”

“Miane, Nany tapi….

“Saya tetap di sini karena Joana,” seru Mina.

“Nany…,” bisik Joana. tidak mampu membendung air matanya lagi. Baru semalam dia berjanji pada suaminya untuk tidak menangis, tapi sekarang ini dia belum mampu menepati janji itu. Mina Im berjalan ke arahnya, lalu mengulurkan kedua tangan menangkup wajahnya lembut sembari mengusap air mata dengan kedua telunjuk.”Kau sudah kuanggap putriku sendiri. Tegakah kau meninggalkan wanita tua ini?”

“Nany,” Joana memeluk Mina Im erat. Tangisnya semakin pecah. Benar, semua ini benar. Dari dulu kami bertiga. Aku, Oppa dan… Nany. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan tanpa Nany. Joana mendekati suaminya. Menangkupkan kedua tangan dan memohon,”Ijinkan Nany tinggal bersama kita, Oppa.”

Aldian menatap lurus bola mata istrinya. Mata itu memerah kembali dan inilah letak kelemahannya. Tidak mau jika mata itu memancarkan kesedihan sehingga dia mengangguk, meng-iya-kan permintaan Joana. sambil tersenyum gadis itu memeluknya erat. Dia memejamkan mata menikmati pelukan itu. Pelukan pertama di pagi hari itu.

“Kau dengar, Nany? Kita sekarang tinggal bertiga di sini,” kata Joana riang. Dia menoleh pada Mina walaupun masih memeluk suaminya. Mina mampu merasakan bahwa cinta pasangan ini terlampau besar satu terhadap yang lain. Dalam hati dia mendoakan kebahagiaan Joana.

“Mulai sekarang jangan panggil aku ‘Doronim’, Nany,” perintah Aldian,”Panggil aku Aldian.”

Mina Im mengangguk.
“Dan kau sekarang harus mandi lalu berangkat ke kampus,” perintah Aldian pada Joana.
“Mwo?” tentu saja Joana kaget.
“Waeyo? Ini bukan hari libur, kan?” tanya Aldian.
“Tapi…

“Benar kata suamimu, Joana. Kau harus tetap kuliah,” Mina Im sependapat dengan Aldian.  Joana mengkerucutkan bibir walau pada akhirnya melangkah juga menuju kamar mandi.

“Pakaianmu ada di koper-koper itu, Sayang!” teriak Mina sambil menunjuk koper di sudut ruangan.

“Ne!” jawab Joana sambil menyeret koper yang ditunjuk ke arah kamar.

Aldian tersenyum geli melihat tingkah istrinya. Saat Joana mulai sibuk dengan aktifitas mandi, dia berbincang dengan Mina Im. Wanita itu menyiapkan sarapan roti oles mentega dan susu. Bahan-bahan itu memang sudah dipersiapkan Mina sebelum menuju rumah ini.

“Aku berencana menemui Nicky, Nany,” kata Aldian. “Beberapa waktu yang lalu dia menawarkan kerja sama bisnis, aku rasa sekaranglah saatnya.”

“Terserah anda saja, Aldian-ssi,” tanggapan Mina. Memang wanita ini kurang begitu tahu urusan laki-laki.

“Nany,” panggil Aldian lagi. Mina jadi menghentikan aktifitas mengolesi roti dengan mentega.
“Bagaimana pendapatmu tentang pernikahan kami?” tanya Aldian.

Mina tersenyum. “Secara jujur?” tanyanya.

“Ne!” angguk Aldian.

“Menghebohkan,” jawab Mina yang membuat keduanya tertawa bersama. “Kau dan Joana! Aku tidak menyangka kalian senekat itu. Sekarang ini apa yang kau rasakan? Adakah keanehan karena gadis cilik itu menjadi istrimu sekarang?”

Aldian menggeleng. Dia menghela nafas lalu tersenyum tipis. “Permainan nasib yang aneh.”

“Ne…, permainan nasib,” kata Mina mengamini kalimat Aldian.
“Aku harap kau membahagiakannya mulai sekarang,” ancam Mina sambil mengacung-acungkan pisau oles roti. “Kau tidak tahu bagaimana sedihnya dia sebelum acara pernikahanmu dengan Jenifer.”

“Dia sedih?”
Mina mengangguk,”Ne, sangat sedih. Jangan buat dia sedih lagi. Jangan duakan cintanya, Aldian-ssi, karena itu bisa membuatnya sedih.”

Menduakan cinta. Itulah yang membuat Joana sedih. Gadis itu sedih jika suaminya menduakan cintanya. Setidaknya itulah yang harus Aldian ingat. Dalam hati pria itu berjanji akan menjadikan Joana sebagai satu-satunya wanita dalam hidupnya.


>…….*…….<


Semua orang yang dilewatinya memandang penuh penghakiman. Gadis itu hanya menunduk. Seoul Art Chollege yang dulunya ramah, seakan memusuhinya kini. Ternyata benar kata Dong Wook semalam, entertainment memang suka membesar-besarkan masalah. Kini Joana bagai seorang wanita yang merebut kekasih orang, setidaknya itu yang dia pikirkan.

Joana yakin, dunia pasti mengkucilkannya. Bahkan saat dia membuka lemari lokernya, mengambil beberapa buku sebelum memasuki kelas, tatapan itu masih menusuk di sekelilingnya. Tatapan yang tidak berani dia balas. Tak ada satu pun yang berpihak padanya sekarang, tak ada yang mau berteman dengannya di kampus ini. Sekali lagi, itulah yang Joana pikirkan. Namun saat dia menutup lemari lokernya, Albert sudah berdiri di balik pintu loker itu, menyandar ke dinding sambil menyunggingkan senyum manis.

“Anyong, pengantin baru!” sapa pria itu. Joana memandang keheranan.
“Tak kusangka kau tetap masuk. Tidak bulan madu?” tanya Albert sambil nyengir.

“Albert-ssi…,” gumam Joana. Albert tertawa sejenak, lalu dengan mengulurkan tangan, dia berkata,”Chukae, Joan-a.”

Ragu-ragu Joana menyambut uluran tangan itu. Albert segera menyamber jabat tangan Joana. Menggoncang-goncangkan sesaat.”Kuakui aku naksir padamu, tapi kalau kau sudah jadi istri orang seperti ini….

Sekali lagi Albert terkekeh,”Lebih baik aku cari gadis lain.”

Joana jadi tidak enak hati. Memang sudah jadi rahasia umum di kampus ini kalau Albert menyukainya. “Miane, Albert-ssi.”

Albert jadi menghibaskan tangan.”Sudahlah! Oh ya, sekarang suamimu kerja apa?”

Joana tersenyum.”Oppa akan menjajagi bisnis dengan sahabatnya.”
Albert jadi lega mendengar jawaban itu.”Syukurlah. Suamimu itu tidak cocok  jadi pegawai. Kau pikir apa bisa dia diperintah-perintah atasannya kalau dari kecil saja dia terbiasa memerintah.”

Sekarang Joana-lah yang menyadari kekeliruannya. Dia sama sekali tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Dalam hati berterima kasih, Albert sudah mengingatkan hal itu.

“Ngomong-ngomong aksimu kemarin boleh juga.” Joana jadi memiringkan kepala, memikirkan ucapan Albert barusan. Pria itu mengulurkan tangannya ke depan, bergaya layaknya superman,”Mengancam mau terjun dari balkon seperti ini.” Lalu tertawa, membuat Joana jengkel dan memukul dadanya.

“Gumawo, Albert-a,” ucap Joana kemudian.
“Buat apa?”
“Karena masih mau berteman denganku,” jawab Joana yakin. Albert jadi tersenyum lebar. Pria ini yakin kalau Joana pasti merasa terkucil. Perasaan yang menyiksa pasti. Tiba-tiba Albert menarik lengan Joana,”Kacha!”

“Kemana?” tanya Joana heran.
“Menyerahkan kado pernikahanmu,” teriak Albert. Dia menarik Joana menuju studio satu dan duduk di depan piano yang ada di studio itu.”Lagu ini nanti akan jadi hadiah pernikahan buatmu.”

“Mwo?”
“Ne…, tapi kau yang harus menyanyi.”
“Aku?” tunjuk Joana pada hidungnya sendiri.
“Ne, kau tahu… ada lagu yang cocok untuk aksi konyolmu kemarin.”

Joana jadi sewot mendengar ungkapan Albert perihal tingkahnya kemarin. “Kau tahu lagu ‘Woman in Love’-nya Barbara Streisand?” tanya pria berambut pirang itu.

Joana mengangguk. “Sepertinya begitu.”
“Oke, menyanyilah…,” perintah Albert. Piano berdenting, sebagai intro yang mengawali lagu. Joana memejamkan mata, membayangkan hal yang dilakukannya kemarin lalu bersenandung lirih, ”Life is a moment in space…. Where the dream has gone… Its a lonelier place… I kiss the morning goodbye…. But down inside you know we never know why.”

Lampu latar menyala tiba-tiba lalu mengarah ke seseorang yang menimpali lagu Joana. “The road is narrow and long, where eyes meet eyes and the feeling is strong…  I turn away from the wall…I stumble and fall …. But I give you it all.”

“Dara-ssi…,” bisik Joana menatap orang itu yang kini memeluknya hangat. Lampu studio menyala seluruhnya, dan semua mahasiswa seni music klasik menyanyi untuk Joana,” I am a woman in love and I'd do anything to get you into my world. And hold you within.  Is it right?...I defend…Over and over again….What do I do?”

“Gumawo, Chingu… Gumawo,” ucap Joana berkali-kali saat teman-temannya masih menyanyikan lagu itu. Lagu dengan syair yang mirip dengan kisah hidupnya. Ternyata dia salah, masih banyak yang memperhatikannya. Termasuk Mr. Liu yang sekarang juga menyanyi untuknya,” With you eternally mine… In love there is no measure of time….We planned it all at the start….But you and I live in each other's heart.”

“We may be oceans away…. But you feel my love and I hear what you say….No truth is ever a lie…..I stumble and fall….But I give you it all.....................

I am a woman in Love…. And I'd do anything….To get you into my world…. And hold you within….Is it right?....I defend….Over and over again ….What do I do?

“Kau tahu, Joana?” kata Mr. Liu saat lagu itu sudah selesai dan gadis itu dikerubungi teman-temannya.”Apa pun yang kau lakukan, kami kelas seni music klasik selalu mendukungmu.”

“Ne,” semua mahasiswa mengangguk, mendengar ucapan Mr. Liu.
“Berjuanglah untuk cintamu, Joana,” ucap Dara. Joana tersenyum. Digenggamnya tangan Dara erat. “Kau juga berjuanglah untuk cinta Albert,” bisik Joana di telinga Dara. Sekali lagi, sudah rahasia umum  kalau Dara naksir Albert. Gadis itu tersipu  malu mendengar bisikan Joana.Mr. Liu mendekati mereka dan menyerahkan secarik kertas pada Joana.

Joana, temui aku di taman belakang kampus.

“Danny,” desis Joana setelah membaca tulisan di kertas itu. Dia tahu benar kalau itu tulisan Danny.  Pria itu benar-benar menunggunya di taman belakang kampus. Tersenyum walau kekecewaan masih menyelimuti hatinya.

“Chukae buat pernikahanmu, Joan-a,” kata Danny sambil mengulurkan tangannya. Joana membalas jabat tangan dengan senyuman manis. “Gumawo, Danny-a.”


Danny mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya lalu mengarahkannya pada Joana. “Hadiah pernikahan dariku.” Joana menerima kotak persegi panjang itu. Dia semakin bimbang saat melihat isinya yang ternyata sepasang gelang rantai emas. Segera ditutup kembali dan menyodorkanya pada Danny. “Aku tidak bisa menerimanya, Danny-a,” tolak Joana.

“Aku mohon terimalah, Joan-a,” pinta Danny, tangannya menampik kotak itu ke arah Joana lagi.

“Oppa pasti marah jika aku menerimanya,” protes Joana.

“Kalau begitu jangan sampai Ajhusi tahu. Kalau kau tak mau menyimpannya, setidaknya juallah! Jadikan perhiasan ini modal bagi  rumah tangga kalian,” penjelasan  Danny.

“Aku mohon terimalah,” pinta Danny yang menatap penuh pengharapan hingga Joana mengangguk.

 “Semoga pernikahan kalian bahagia selalu,” kalimat Danny untuk terakhir kalinya  sebelum memasuki mobil untuk meninggalkan taman itu. Joana melambaikan tangan mengiringi kepergian Danny. Gadis itu tidak tahu kalau di dalam mobil Danny ada orang lain.

“Kenapa Halmoni tidak menyerahkan benda itu sendiri pada Joana?” tanya Danny pada orang itu. Orang itu menggeleng dan membuang muka. Menatap pemandangan di sepanjang perjalanan itu bersamaan dengan linangan air mata yang mengalir kembali. Jika aku menyerahkannya sendiri, sudah pasti Joana menolaknya, batinnya.

[/color]
----- < *** > -----


Joana tersenyum saat memasuki rumah. Aroma bulgogi yang dimasak Mina menyambut indra penciumannya. Gadis itu segera ke dapur dan memeluk Mina.

“Sudah pulang, Sayang,” sambut Mina Im  pada pelukan itu. Joana mengangguk riang.
“Oppa sudah pulang?” tanya Joana.
“Ne, sepertinya dia di kamar,” jawab Mina. Wajah Joana jadi tambah sumringah. “Joan temui oppa dulu, ya, Nany.” Mina tersenyum melihat tingkah gadis itu yang sudah melesat ke kamar menemui suaminya.

Dalam kamar, Joana melihat Aldian sedang membaca Koran di sofa bahkan  menandai beberapa bagian di Koran itu dengan pensil.

“Apa yang Oppa lakukan?” tanya Joana sambil menjatuhkan diri  di samping Aldian. Matanya segera tertuju ke Koran yang di tandai ALdian.

“Oppa mau cari kerja,” jawab Aldian.
“Cari kerja?” Joana jadi kaget mendengarnya. “Oppa bilang mau kerja sama dengan Nicky Oppa buat usaha Desain grafis,kan?”

Aldian menghela nafas. “Aku sudah menemuinya tadi pagi. Dulu dia bilang semuanya sudah siap dan aku tinggal modal dengkul saja tapi nyatanya dia maunya kongsi… aku tanam modal separuh, dia separuh…tentu saja Aku mundur.”

Joana memandang nanar. Perkataan Albert tadi pagi terngiang lagi di telinganya,” Syukurlah. Suamimu itu tidak cocok jadi pegawai. Kau pikir apa bisa dia diperintah-perintah atasannya kalau dari kecil saja dia terbiasa memerintah.”

Benar juga, selama ini Aldian tidak pernah jadi bawahan. Seumur hidupnya Aldian memerintah. Jika Aldian mencari kerja, itu berarti dia harus mulai dari awal. Joana berpikir lebih baik Aldian membuka usaha sendiri walau pun kecil-kecilan dari pada  jadi pegawai di perusahaan besar yang selalu diperintah-perintah.

Aldian masih saja menandai lowongan kerja yang dirasa cocok untuknya. Joana berjalan menuju lemari pakaian. Menggapai kotak perhiasan yang tadi pagi diberikan Mina. Hati-hati, dia menempatkan sepasang gelang rantai emas yang diberikan Danny bersama perhiasan lain di kotak itu. Aku harap perhiasan ini cukup untuk memulai semuanya, doa Joana  ketika berjalan ke arah Suaminya. Duduk kembali di samping pria itu dan merebut secara halus Koran yang ada di tangannya.

“Oppa tidak cocok jadi pegawai,” ucap Joana saat Aldian menatapnya heran lalu menyodorkan kotak perhiasan ke arah Aldian. “Juallah semua yang ada di kotak ini, Oppa,” pinta Joana.

Kening Aldian berkenyit. Joana tersenyum. “Semoga perhiasan ini cukup menjadi modal.”

Aldian menggeleng,”Anhi, Yeobo. Ini perhiasan warisan keluargamu. Halmonimu pasti marah.”

“Nany bilang kalau halmoni suka berinvestasi di perhiasan. Joan yakin halmoni akan menjual perhiasan ini jika keluarga dalam kesulitan keuangan karena beliau mengumpulkan perhiasan ini untuk tabungan, bukan untuk berhias,” terang Joana panjang lebar.

Aldian merekuh tubuh mungil Joana dalam pelukannya. Gadis itu memejamkan mata saat ciuman hangat mendarat di jidatnya.”Joan ikhlas, Oppa.”

Aldian menghela nafas,”Gumawo, Yeobo… Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Aku akan kerja keras untuk keluarga kita,” janji Aldian di sore itu. Janji yang penuh kesungguhan untuk mencukupi rumah tangga mereka. Kerja keras… itulah hal yang akan mengisi hari-hari Aldian berikutnya demi membahagiakan istri mungilnya yang selalu dia puja, yang rela
mengorbankan apa saja demi cinta mereka, Joana.



BERSAMBUNG

« Last Edit: May 06, 2011, 11:30:35 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]