Author Topic: My Angel, Thank You Chapter 7 ' August, 25, 2011'  (Read 5921 times)

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Tapi Yong Hwa hanya memandang tangan yang terulur itu tanpa berniat membalasnya. Perlahan-lahan wajah Yong Hwa mendongak keatas. Pertama kali yang ia lihat adalah senyuman tulus bagaikan malaikat yang turun dari surga. Yong Hwa menatap senyuman itu lekat. Karena dipandang seperti itu, Eun menjadi bingung. Yoon ah yang melihat cara Yong Hwa memandang Eun juga bingung.  
“ Yong Hwa.. Kenapa kau memandang Eun Sun seperti itu? ” Tanya Yoon ah lembut. Yong Hwa tidak membalasnya, hanya memandang wajah Eun lekat.


Chapter 2

Perlahan-lahan tangan Yong Hwa terulur, membalas uluran tangan Eun Sun. Ketika menjabat tangan Eun, Yong Hwa merasakan ada perasaan nyaman dan tangan Eun yang putih dan lembut itu membuat Yong Hwa terbuai. Baru kali ini Yong Hwa merasakan tangan yang selembut ini, bahkan tangan kekasihnya saja “ Hyo Joo ” tidak selembut ini apalagi Yoon ah noonanya!

“ Namaku Lee Eun Sun. Yong Hwa bisa memanggilku Eun saja ” kata Eun sambil tersenyum manis ke Yong Hwa.

Lagi-lagi senyuman itu terlukis dibibir tipis Eun. Senyuman termanis dan tulus yang pernah Yong Hwa lihat. Bahkan kekasihnya saja “ Hyo Joo ” tidak pernah tersenyum semanis ini apalagi Yoon ah noonanya!

 Yong Hwa tidak membalas perkataan Eun. Masih dengan sikap semula, hanya memandang Eun lekat. Semakin lama Yong
Hwa menatap Eun seperti itu, membuat Eun gugup. Lalu, pinggangnya sudah pegal karena terlalu lama membungkuk mengingat posisi Yong Hwa yang duduk di lantai.

Akhirnya Eun hanya tersenyum kepada Yong Hwa dan mencoba melepas genggaman Yong Hwa ditangannya dengan lembut, tapi tidak bisa, genggaman Yong Hwa sangat kuat, berkali-kali Eun mencoba tapi tak bisa. Tanpa diduga Eun, Yong Hwa menarik tangan Eun dan membuatnya duduk disisi Yong Hwa. Lalu, Yong Hwa memeluk tangan Eun erat dan menyandarkan kepalanya dibahu Eun lalu memejamkan matanya. Ada perasaan nyaman dan terlindungi yang dirasakan Yong Hwa.

Yoon ah, Geun Seuk dan Eun Sun kaget atas sikap Yong Hwa yang manja. Yong Hwa tidak pernah bersikap seperti ini terhadap psikolog-psikolog sebelum Eun. Bahkan pada kekasihnya saja “ Hyo Joo ” tidak pernah bersikap seperti ini apalagi Yoon ah noonanya!

Geun Seuk perlahan mendekati Yong Hwa dan Eun Sun. Ia mencoba melepaskan rangkulan Yong Hwa di tangan Eun. Tiba-tiba Yong Hwa membuka kelopak matanya dan menatap Geun Seuk tajam. Seketika Geun Seuk ternganga dengan pandangan tajam Yong Hwa.

‘‘ Hmm.. Yong Hwa akan lebih baik bila Eun merawatnya. Pandangan itu tak pernah dilihatkannya, pandangan itu seolah-olah melindungi sesuatu miliknya. Pandangan itu sangat tajam dan menusuk, aku saja takut melihatnya ’’ Bisik Geun Seuk sambil terkekeh pelan tepat di telinga Yoon ah.

Yoon ah hanya mengangguk kepalanya pelan menyetujui pendapat Geun Seuk. Sedangkan Eun, gadis itu hanya menatap Geun Seuk dengan raut wajah memelas meminta pertolongan. Ia sedikit risih dengan perlakuan Yong Hwa, bukan berarti ia tidak suka, tapi ia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang pemuda.

Seakan bisa membaca raut wajah Eun, Geun Seuk berkata “ Biarkan saja. Tunggu ia telelap dan aku akan membantumu memindahkannya ke atas kasur ”

“ Tapi berapa lama lagi. Aku.. tak pernah diperlakukan… seperti ini. Ayolah Dr. Jang bantu aku ” Pinta Eun memohon

“ Tidak bisa Eun Sun sayang. Apakah kau tak lihat pandangan Yong Hwa padaku? Melihatnya saja aku sudah ngeri, jadi biarkanlah seperti itu untuk sementara. Lalu, kau harus mencoba membiasakan diri dengan sikapnya yang sekarang ini. Sepertinya Yong Hwa akan sering seperti ini. ” Geun Seuk menjelaskan panjang lebar dan sedikit menggoda

“ Onnie.. ” Eun merengek pada Yoon ah. Tapi Yoon ah hanya menggelengkan kepalanya.

Lima belas menit sudah berlalu, Eun mulai merasakan pelukan Yong Hwa pada tangannya mulai mengendur. Pada saat itu, Geun Seuk dan Yoon ah tidak berada di sini. Geun Seuk dipanggil untuk memeriksa orang stress lainnya sedangkan Yoon ah izin keluar mau mencari makanan untuknya dan Eun. Jadilah ia sendiri disini duduk bersama Yong Hwa yang sudah tidur lelap dan menyandarkan badannya ke badan Eun dan LAGI-LAGI pinggang Eun menjadi pegal (secret: Eun sering merasakan pegal pada pinggangnya kalau tidak bergerak atau hanya diam dalam posisi yang sama  dalam waktu yang cukup lama)

Eun mencoba bangkit dan menumpu badan Yong Hwa dengan menyandarkan badan Yong Hwa dikakinya agar tidak jatuh. Eun meregangkan pinggangnya yang pegal. Lega rasanya setelah pinggangnya merasa baikan. Tiba-tiba ia merasakan  cengkraman dan getaran dikakinya. Eun segera menunduk dan melihat badan Yong Hwa yang gemeteran dan Yong Hwa memeluk sebelah kakinya dengan mata terpejam.

Cengkraman Yong Hwa dikakinya semakin erat dan membuat Eun meringis kesakitan tapi ditahannya.

“ Aaaakkkkhhhh!!! Kenapa datang lagi!! Pergi!! Pergi!! ” Eun yang mendengar teriakan Yong Hwa menutup kedua telinganya dengan sepasang tangannya erat. Begitu kerasnya teriakan Yong Hwa.  

Eun panic mendengar teriakan histeris yang keluar dari mulut Yong Hwa, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ini merupakan pengalaman pertama baginya, menenangkan orang-orang seperti Yong Hwa belum pernah ia mencobanya dan ini saatnya.

Eun jongkok untuk berhadapan dengan Yong Hwa yang masih teriak-teriak itu. Eun menatap Yong Hwa lekat dan menelusuri wajah pemuda itu. Keringat dingin mengalir didahinya. Tubuh serta bibir yang bergetar. Wajah yang tampan dan memikat itu berubah menjadi pucat dan ketakutan juga kesedihan terlihat jelas. Eun merasa sedih melihat kondisi Yong Hwa. Lalu, Eun mengeledah tasnya mencari sapu tangan, tapi sapu tangan tersebut tidak ditemukannya. Lalu, Eun mengangkat tangannya dan menghapus keringat diwajah Yong Hwa. Seketika saja, Yong Hwa berhenti berteriak. Dia merasa tenang setelah merasakan sentuhan lembut Eun diwajahnya.  

Klek..

Terdengar bunyi pintu yang dibuka seseorang, Eun menoleh dan melihat kedatangan seseorang yang ternyata Yoon ah noona Yong Hwa.

“ Oh.. Apa yang terjadi dengan Yong Hwa? ” Tanya Yoon ah sedikit berteriak saat melihat Eun mengelus wajah Yong Hwa.

“ Ini… Yong Hwa tadi berteriak histeris. Awalnya aku panik, tapi setelah menyentuh dan menghapus keringat diwajahnya.

Ia langsung diam. Aku bingung dengan sikapnya ini. Tapi tak apa, itu wajar bagi orang-orang seperti Yong Hwa ” Balas Eun sambil tersenyum

“ Hah… baguslah. Gomawo Eun-a. Sepertinya Yong Hwa merasa nyaman didekatmu. ”

Eun hanya tertunduk malu mendengar pujian dari Yoon ah. Tapi itu hanya sesaat, Eun mendongakkan kepalanya dan memperlihatkan wajah seriusnya kepada Yoon ah.

“ Onnie.. ”

“ Ne,.. ” Balas Yoon ah dengan tampang bingung saat melihat wajah serius Yong Hwa

“ Kenapa Yong Hwa seperti ini? ” Tanya Eun pelan. Yoon ah tidak menjawab pertanyaan Eun. Yoon ah memalingkan
wajahnya kearah lain, dia gugup waktu itu.  

Eun menghela nafasnya perlahan dan melanjutkan “ Bukan maksudku untuk ikut campur, tapi aku harus tahu apa yang membuat Yong Hwa seperti ini, tekanan seperti apa yang diterimanya. Kalau aku tahu, Yong Hwa akan cepat sembuh dan bisa melupakan kejadian yang membuatnya seperti ini. Jika masalah itu pribadi, jangan menceritakan secara detail, tapi secara garis besarnya saja. ” Eun menjelaskan panjang lebar ke Yoon ah untuk tidak salah paham.

“ Baiklah, tapi tidak disini. Diluar saja. ” Yoon ah melangkahkan kakinya keluar kamar Yong Hwa. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara Eun.

“ Onnie.. bisakah membantuku merebahkan tubuh Yong Hwa diatas ranjang. Tubuhnya berat dan jangkung, aku tidak bisa melakukannya sendiri. ”

>>>>>>******<<<<<<

“ Onnie.. Bisakah menceritakannya sekarang? ” desak Eun kepada Yoon ah karena Yoon ah diam tak bersuara.
Yoon ah menganggukkan kepalanya dan memandang ke atas. Dengan pikiran melayang Yoon ah mulai bercerita tentang Yong Hwa kecil.[/color][/size]

Flashback

“ Omma!! Appa!! Noona!! Cepatlah!! Nanti kita terlambat!! ” Suara Yong Hwa kecil membahana dirumah yang tak begitu besar itu.

“ Sabar sayang!! ” terdengar balasan dari Mrs. Kim

“ Yong Hwa, bagaimana penampilan noona? ” Yong Hwa menoleh kebelakang ketika mendengar suara noonanya.

“ Ck, noona sangat cantik. ” decak Yong Hwa kagum.

“ Benarkah? ” Tanya Yoon ah tak percaya. “ Aku ragu dengan pernyataanmu, biasanya kau selalu bilang kalau noona tak menarik. Kenapa memuji noona sekarang ”

“ Kali ini aku tak berbohong noona. Noona sangat cantik dan menarik. Pasti banyak pemuda yang melirik noona. Tapi… ”
Perkataan Yong Hwa berhenti ketika mengingat sesuatu. Ia memandangi baju yang dikenakan noonanya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, Yong Hwa kecil melakukannya berkali-kali. Yoon ah yang melihat tingkah adiknya melakukan hal yang sama, melihat dirinya sendiri.

“ Tapi apa Yong Hwa? Ada yang aneh di baju noona? ” Tanya Yoon ah penasaran

“ Itu… kenapa.. ”


“ Yong Hwa, Yoon ah ayo berangkat sekarang, nanti kita terlambat. ” Teriakan Mr. Kim menghentikan perkataan Yong Hwa.

“ Yoon ah apakah Joon sudah datang? ” Tanya Mrs. Kim lembut

“ Sebentar lagi omma ”

“ Noona mau kemana? Tak ikut bersama kami? Acaranya asyik lo ” Yong Hwa memandangi noonanya dengan raut wajah bingung

“ Noona mau pergi kencan Yong Hwa.. Sejak kapan noona suka pertunjukan Magic. Noona tidak suka magic dank au tahu itu kan ” Jawab Yoon ah pada adiknya yang menatapnya bingung.

“ Sudah sudah.. Omma Appa pergi dulu ya.. ” Pamit Mr dan Mrs Kim

[/size]
>>>>>>******<<<<<<<

“ Waktu itu Yong Hwa masih berumur 4 tahun. Ia anak yang ceria dan humoris tapi kadang – kadang ia sangat
menjengkelkan. ” Sampai disini Yoon ah tersenyum pahit. “ Omma dan Appa selalu memanjakannya. Jadi, apapun yang ia mau harus dituruti, kalau tidak ia bisa saja melakukan apapun yang tidak pernah kami duga. Seperti, ia pernah lari dari rumah selama 2 minggu karena omma dan appa membatalkan liburan ke keliling Eropa. ”

“ Bagaimana kalian menemukan Yong Hwa kembali? ”

“ Kami melaporkan ke polisi untuk mencari Yong Hwa. Dan polisi tersebut menemukan Yong Hwa di bawah kolong jembatan. Kami sangat shock waktu itu. ”

“ Lalu..? ”

“ Yong Hwa berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tidak lagi bersikap manja. Tapi itu hanya bertahan selama sebulan.
Setelah itu, sikap manjanya muncul lagi, tambah parah malahan. Waktu itu, ia ingin melihat pertunjukan Magic.

Pertunjukan itu diadakan setelah kepulangan omma dan appa dari Australia. Mereka sangat capek dan Yong Hwa tidak mempedulikan itu, yang penting baginya adalah pertunjukan tersebut. Pada saat itu pula, Yong Hwa memaksa appa untuk lebih cepat karena pertunjukan tersebut akan dimulai. Omma dan Appa sudah mencoba beberapa kali agar Yong Hwa diam. Tapi Yong Hwa tidak mempedulikannya. Hingga… ”

>>>>>>******<<<<<<

“ Appa lebih cepat. 5 menit lagi akan dimulai. Aku tidak mau melewatkannya. Cepat Appa!! Cepat!! ” Desak Yong Hwa sambil menggoyangkan tubuh appanya yang sedang menyetir

“ Jangan Yong Hwa.. Appa sedang menyetir, bagaimana kalau kita kecelakaan dan omma appa tidak bisa bertemu dengan mu lagi. Siapa yang memanjakanmu lagi. Huh? ” Kata Mrs. Kim sambil membelai rambut lebat anaknya itu, berharap Yong Hwa diam dan tak rewel lagi.

“ Aku tak peduli. Yang penting Cepat! Aku tak mau melewatkannya sedikitpun. Lebih Cepat appa!! ” Bukannya tenang tapi Yong Hwa semakin mendesak appanya. Karena ingin menyenangkan hati putranya, Mr. Kim langsung menyelip tanpa melihat keadaan terlebih dahulu. Tanpa sepengetahuan Mr. Kim sebuah truk melaju kencang dan...

 DASHH….

Mobil yang ditumpangi Keluarga Mr. Kim menabrak truk tersebut. Bagian depan mobil itu hancur. Tubuh Mr dan Mrs. Kim berlumuran darah dan tak sadarkan diri. Sedangkan Yong Hwa hanya mengalami luka ringan, kepalanya hanya terbentur pintu mobil, kakinya terkilir dan tangannya berdarah akibat goresan kaca mobil yang pecah.

Yong Hwa merangkak menghampiri orangtuanya. Ia menjadi panic ketika melihat tubuh orangtuanya yang berlumuran darah.

“ Omma… Appa… ” Panggil Yong Hwa pelan. Ia mengguncang tubuh kedua orangtuanya. Tapi Mr dan Mrs. Kim tak kunjung sadar

“ Omma!! Appa!! ” Teriak Yong Hwa lagi. Tapi tetap saja, tak ada jawaban.


>>>>>>******<<<<<<

“ Sejak kecelakaan itu, Yong Hwa selalu menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa orang yang paling jahat sedunia. Kecelakaan itu berarti ia sudah membunuh orangtuanya sendiri. Apalagi setelah mengetahui omma dan appa meninggal setelah 2 hari koma, ia semakin menyalahkan dirinya sendiri. Hingga hampir saja bunuh diri, untung saja aku mengetahui dengan cepat, jadi aku bisa mencegahnya. ” Yoon ah menceritakan semuanya dengan pikiran melayang ke masa lalu.

“ Jadi, Yong Hwa sudah seperti ini sejak kecil? ”

“ Tidak. Ia menjadi seperti ini 6 bulan yang lalu. Dulu, ia baik-baik saja. ” Kata Yoon ah yakin
Eun menyandarkan badannya, lalu mendesah pelan. Kisah hidup Yong Hwa memang berat dan penuh tekanan. Ini adalah salah satu penyebab stress.

“ Baiklah onnie.. Aku sudah mengetahui penyebab stress ini. Dan aku akan berusaha menyembuhkan Yong Hwa secepatnya. ” Kata Eun sambil tersenyum untuk menenangkan Yoon ah yang berwajah muram setelah selesai bercerita.

>>>>>>******<<<<<<

“ Aku pulang ” Sapa Eun sesampainya dirumah. “ Omma!! Appa!! ”

“ Kami diruang keluarga… ” Terdengar balasan dari Mrs. Lee

Eun melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Terlihat olehnya, ommanya sedang menjahit, sedangkan appanya meminum kopi sambil menonton.

“ Eun-a.. Kenapa berdiri disitu, ayo kemari duduk disebelah omma dan menceritakan pengalamanmu sebagai Psikolog ” Kata Mrs. Lee sambil menepuk kursi disebelahnya.

Eun menurut dan duduk disebelah ommanya.

“ Bagaimana? ” Tanya Mrs. Lee

“ Hmm.. sedikit berat. Yong Hwa mengalami masa kecil yang rumit. ” Eun mulai menceritakan pengalaman yang terjadi padanya hari ini.

“ Seperti? ” Tanya Mrs. Lee lagi

“ Orangtuanya meninggal karena kecelakaan waktu ia berusia 4 tahun. Kecelakaan itu terjadi ketika mereka menyaksikan pertunjukan sulap. Karena pertunjukan tersebut akan dimulai, Yong Hwa mendesak appanya melajukan mobil lebih cepat. Akibatnya, terjadilah kecelakaan tersebut dan ia menyesal. ”

“ Jadi, Yong Hwa mengalami stress sejak kecil begitu? ” Pertanyaan Mrs. Lee sama dengan pertanyaannya tadi. Eun terkejut awalnya, tapi ia memilih melanjutkan cerita

“ Nah itu yang buat Eun bingung omma. Yong Hwa mengalami stress sekitar 6 bulan yang lalu, bukan sewaktu kecil. Itu yang Eun pikirkan sejak perjalanan pulang ”

“ Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kau iku-ikutan gila ” Kali ini Mr. Lee yang bersuara

“ Appa… ”

“ Jangan dengarkan apa yang dikatakan Appa, lebih baik kau ke kemar dan membersihkan diri. ” Lerai Mrs. Lee

>>>>>>******<<<<<<

“ Ahh… segarnya ”

Bukk..

Eun merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Ia sangat lelah hari ini. Bukan karena banyak pekerjaan tapi pinggangnya. Pinggangnya masih sedikit pegal karena Yong Hwa menyandarkan tubuhnya di tubuh mungil Eun.

Mengingat nama Yong Hwa, Eun teringat dengan masa lalu Yong Hwa. Di usia 4 tahun sudah kehilangan kasih sayang orangtua. Sedangkan Eun, saat umur 4 tahun Eun sangat dimanjakan walaupun sebenarnya ia tidak ingin dimanja. Eun mendesah perlahan. Ia memikirkan Yong Hwa saat ini. Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya

“ Bagaimana ia menghabiskan hari-harinya tanpa orangtua? ”

“ Apakah ia bahagia walaupun hidup dengan Yoon ah onnie? ”

“ Apakah ia mendapatkan kasih sayang yang cukup?”

“ Apakah ia menyelesaikan sekolahnya dengan baik? ”

“ Apakah ia mempunyai seorang kekasih? ”

Sampai disini, Eun mengerutkan keningnya, tanda ia sedang berpikir.

“ Kekasih? Apakah ia sudah mempunyai kekasih? Oh tentu saja punya mengingat wajah Yong Hwa yang tampan dan
menarik serta tubuhnya yang Jangkung dan berotot. Tapi, kenapa aku tak melihat wanita lain selain Yoon ah onnie? Jika benar, apakah kekasihnya masih peduli dengan keadaan Yong Hwa yang seperti ini? ”  Eun memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi atas pertanyaan yang ia buat sendiri.

“ Huh.. kenapa aku memikirkannya. Itu kan masalahnya, aku tak mau ikut campur. Tapi, jika kekasihnya tak peduli lagi sama Yong Hwa, kasihan juga.. Ahh Sudahlah. ”

Eun langsung menarik selimutnya sampe kehidungnya. Lalu, memejamkan matanya dan tidur menyambut mimpi indah.
Baru 5 menit Eun tidur, ia terbangun lagi. Lalu menepuk jidatnya keras

“ Aduuhh… Bagaimana bisa lupa. Pantesan saja ada yang hilang. Dimana aku meletakkannya. Pasti tertinggal di kamar rawat Yong Hwa. Aduh bagaimana ini. Didalam tas itu ada ponsel dan dompet. Bagaimana bisa melupakannya.. Pabo! ” Eun memukul-mukul kepalanya.

Eun bangkit dari pembaringannya dan mengambil jaket, merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan lalu keluar dari kamar dan berlari menuju pintu keluar.

“ Eun-a kau mau kemana? Eun-a! ” Panggilan Mrs. Lee hanya dibalas dengan lambaian.

>>>>>>******<<<<<<

Ckleek..

Eun membuka pintu kamar rawat Yong Hwa. Eun melihat Yong Hwa duduk dikasurnya sambil memegang ponsel yang tidak asing baginya. Lalu perhatiannya jatuh tepat di tasnya. Keadaan tas Eun terbuka, berarti ponsel tersebut miliknya. Segera Eun mendekati Yong Hwa dan memintanya pada Yong Hwa. Tapi, Yong Hwa tak merespon, ia melihat ke layar ponsel lalu ke wajah Eun, ke layar ponsel ke wajah Eun. Itu yang dilakukan Yong Hwa terus menerus.
Setelah 10 menit lamanya. Akhirnya Yong Hwa memperlihatkan foto yang ada di ponsel tersebut ke Eun. Lalu bertanya “ Ini.. mi..lik…mu..? ” Tanya Yong Hwa agak tersendat-sendat

“ Ne.. Yong Hwa bisakah kau mengembalikan ponselku? Aku sangat memerlukannya.. ” Kata Eun selembut mungkin

Perlahan Yong Hwa mengembalikan ponsel Eun. Lalu, Eun berdiri dan menekan bahu Yong Hwa agar Yong Hwa berbaring. Setelah itu, mengambil selimut dan menyelimuti Yong Hwa. Yong Hwa hanya menatap Eun tak berkedip, seolah-olah Eun adalah benda langka yang baru ia lihat atau sesuatu yang menarik dan sayang untuk ditinggalkan.[/color][/size]

End Chap
« Last Edit: May 09, 2011, 05:02:31 am by Rie_sHa »