Author Topic: Paint Pastel Princess Chapter 4 (Update Now 03.07.2011) ^^  (Read 6287 times)

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: Paint Pastel Princess (SPOILER ONLY) ^^
« Reply #90 on: May 10, 2011, 08:08:44 am »
Chapter 2

CAST





KIM JOON as Song Woo Bin Sahabat Karib Jin Ho



EUN HYUK as Jang Oppa




Jin Ho termenung didalam kamarnya, ia terduduk diranjangnya menyandarkan bahunya di tepi ranjang miliknya. Tatapannya kosong, ia masih sangat shock dengan kejadian tadi. Ia berharap semuanya hanya mimpi, namun ia sadar bahwa semua yang terjadi tadi bukanlah mimpi namun kenyataan pahit yang harus ia terima sebagai konsekuensi keabsenannya selama 5 tahun belakangan ini.


Jin Ho POV


Andaikan saja bukan Tae Yoon hyung yang menikahimu mungkin aku masih bisa berbesar hati untuk menerimanya siapapun yang kau pilih untuk mendampingimu, namun entah kenapa hatiku terasa sangat sakit bagaikan kau menusukkan sebilah pedang yang langsung menghujam ke jantungku yang membunuhku secara perlahan-lahan, Na Ra-ssi waeyo…? Kenapa takdir membuat kita seperti ini. Aku sungguh tidak percaya kau bisa membuatku menjadi seperti ini. Kenapa harus dia? Kenapa harus Hyung. Kenapa tidak ada satu katapun terucap darimu ketika aku bertanya mengapa. Kenapa kau hanya menangis. Apakah kau menyesal Na Ra-ssi apakah air mata yang kau teteskan sedemikian derasnya tadi adalah air mata penyesalanmu? Kalaupun kau menangis sekarang, semua sudah terlambat, semua sudah terjadi. Tidak akan bisa mengembalikan dirimu kembali.   


Perlahan Jin Ho memejamkan matanya, sebutir air bening mengalir membasahi pipinya. Ia menangis dalam sunyi.


******************************

Pagi itu, suasana di kediaman keluarga Lee masih sunyi. Nyonya Lee yang belum mengetahui apa yang terjadi kemarin malam masih sibuk mempersiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Ia masih bisa ceria dan lincah memberitahukan pelayan yang membantunya untuk menyiapkan ini dan itu, ia ingin membuat sarapan pagi ini istimewa karena sarapan pagi ini adalah sarapan pertama sejak Jin Ho pulang ke rumah. Karena itu Nyonya Lee mempersiapkan segala sesuatu yang disuka oleh putra bungsunya tersebut.


“Apa Jin Ho sudah bangun Pak Cho?” Tanya Nyonya Lee pada kepala pelayannya.


“Kelihatannya belum Nyonya, apa saya perlu membangunkan tuan muda?” jawabnya hormat.


“Ah tidak perlu, biar nanti saya yang membangunkannya sendiri, terima kasih anda boleh pergi sekarang” jawabnya sembari menyunggingkan senyuman dibibirnya.


Pak Cho, membungkukkan badannya sebelum pamit pergi. Sementara Nyonya Lee yang sudah selesai membereskan semuanya bersiap untuk membangunkan putranya, sebelum pergi ia kembali mengecek makanan yang tersaji dan tersenyum puas karena semuanya telah sesuai dengan apa yang diinginkannya.


Pagi ini hanya ia dan Jin Ho saja yang akan sarapan karena tadi pagi-pagi sekali Tae Yoon putra sulungnya memberi tahukan bahwa ia dan Na Ra istrinya pergi dari rumah karena ada urusan mendadak dan tidak memberitahunya tentang kejadian semalam. Nyonya Lee merasa sedikit lega karena baginya masih terlalu berat menyembunyikan kenyataan tersebut dari Jin Ho terutama dengan sikap mereka berdua kemarin. Disadari atau tidak perubahan sikap mereka jelas kentara dan dapat menimbulkan kecurigaan Jin Ho. Karena itu ada baiknya untuk sementara waktu mereka saling menghindar dahulu begitu pikir Nyonya Lee.


Nyonya Lee berjalan menuju ke lantai atas ketempat dimana kamar Jin Ho berada. Sesampainya didepan pintu kamar Jin Ho, Nyonya Lee terdiam sejenak kemudian mengetuk pintu kamar tersebut pelan. Ia menunggu sejenak tidak ada jawaban dari dalam. Nyonya Lee mengetuk pintu lebih keras sembari memanggil nama Jin Ho.


“Jin Ho-yya, apa kau sudah bangun? Omma masuk yah?” ujarnya seraya menekan ganggang pintu kamar tersebut. Nyonya Lee mendongakkan kepalanya kedalam. “Jin Ho..” panggilnya pelan sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam. Sesampainya didalam, ia memandang kesekeliling namun keadaan kamar tersebut sepi, tidak nampak sosok Jin Ho didalamnya. “Jin Ho” panggilnya ulang, tetap tidak ada jawaban, Nyonya Lee memeriksa kedalam kamar mandi dan kamar ganti namun tetap kosong yang didapatnya. “Kemana anak itu?” gumamnya cemas. Nyonya Lee kemudian bergegas keluar dari kamar Jin Ho untuk mencari tahu keberadaan putranya tersebut.


Nyonya Lee bertanya kepada beberapa pelayan yang berpapasan dengannya menanyakan kepada mereka tentang keberadaan Jin Ho namun rata-rata dari mereka menggeleng pertanda mereka tidak mengetahui keberadaan tuan mudanya tersebut. Kejelasan akhirnya didapatkan dari satpam rumah yang melihat tuan mudanya pergi meninggalkan rumah pagi-pagi sekali dengan mengendarai mobilnya. Nyonya Lee merasa heran kenapa Jin Ho tidak berpamitan ataupun memberitahunya apapun. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi handphone Jin Ho namun ternyata handphonenya juga mati, karena itu Nyonya Lee meninggalkan pesan kepada Jin Ho untuk menghubunginya segera setelah menerima pesan darinya.


******************************


Jin Ho tertidur disofa disebuah ruang tamu apartemen sederhana. Ia tampak tertidur sangat pulas. Suara – suara gaduh dari dapur sama sekali tidak menggangunya. Woo Bin yang tengah sibuk menyiapkan sarapan sesekali mengintip dan memperhatikan Jin Ho, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran sambil sesekali menghela nafas dalam-dalam. Bagaimana tidak, pagi-pagi buta disaat semua orang masih sibuk terlelap dengan mimpinya, seorang Jin Ho tiba-tiba datang mengetuk pintu apartemennya.


Awalnya Woo Bin tidak menghiraukan suara ketukan pintu dan pencetan bel yang semakin lama semakin keras dan mengganggunya karena ia masih merasa berat untuk beranjak dari tidurnya. Namun akhirnya ia menyerah dengan semakin intensnya suara ketukan dan pencetan bel yang tidak kunjung berhenti. Ia sudah bersiap untuk mengumpat namun semuanya sirnah takkala melihat sosok Jin Ho dihadapannya. Woo Bin membelalakkan matanya tidak percaya, ia beberapa kali mengusap matanya dan menepuk pipinya.


“Yo man, what’s up” sapaan khas milik Jin Ho setiap kali mereka bertemu sontak membangunkannya.


“Jin Ho-yya?” tanyanya memastikan. “Kau hidup kembali atau kau ini arwah Jin Ho yang sedang berpamitan kepadaku” tanyanya polos. Ia memang belum tahu tentang kesadaran Jin Ho karena tidak ada seorangpun yang memberitahunya terutama Tae Yoon karena memang ia tidak seberapa dekat dengan kakak sulung Jin Ho tersebut.


Jin Ho tersenyum tipis menanggapi pertanyaan konyol Woo Bin. Tanpa bicara ia langsung menerjang masuk kedalam apartemen milik sahabatnya tersebut. Saat ia sudah berada didalampun ia langsung menghempaskan dirinya di satu-satunya sofa yang ada diruangan tersebut. “Kenapa tempat ini masih juga sama seperti dulu sama sekali tidak ada perubahan” oceh Jin Ho. Woo Bin masih memandang heran setengah bermimpi ia berjalan menghampiri Jin Ho.


“Mwo?” Tanya Jin Ho saat Woo Bin berdiri didepannya dengan tatapan mata tidak percaya.


“Shitttt!!! Apakah ini benar-benar kau yoo buddy?” Tanya Woo Bin


“Tentu saja kau pikir aku ini siapa? Hantu? Jangan konyol Woo Bin-aa jaman sudah canggih begini kau masih percaya dengan hantu?” jawab Jin Ho asal. Namun perkataannya tersebut langsung terpotong oleh teriakan Woo Bin.


“HYUNGGGGGGGGGGG-AAAA!!!!!” Woo Bin tiba-tiba menerjang tubuh Jin Ho dan memeluk pemuda dihadapannya tersebut.


“YYa…YYAAAAA.. WOO BIN-AAAA HENTIKAN!!!” protes Jin Ho, namun rupanya Woo Bin sudah kalap. Ia memeluk Jin Ho sangat erat, sebulir air mata jatuh dipipinya.


“Hyung… kau.. benar-benar kau….Oh My GOD.. Hyungggg”  teriaknya. “Welcome back bro-yyo” lanjutnya. Jin Ho yang awalnya merasa sedikit kesal akhirnya hanya bisa tersenyum melihat kekonyolan sahabatnya tersebut. Jin Ho menepuk bahu sahabatnya itu berulang-ulang.


Jin Ho segera menghentikan ulah Woo Bin yang terus memeluknya “Hey sudah hentikan” katanya. Woo Bin yang tersadar segera melepaskan pelukannya dan mengusap “setitik” air mata yang membasahi pipinya.


“Hahaha, Hyung kenapa kau menangis hah, kalau sampai anak buahmu melihat, bisa-bisa mereka akan segera meninggalkanmu” goda Jin Ho. Woo Bin hanya tersenyum mendengar ejekan Jin Ho. Woo Bin kemudian mengambil posisi duduk di samping Jin Ho.


“Apa yang terjadi hyung, kenapa pagi-pagi buta begini kau datang kemari kebiasaanmu memang tidak pernah berubah jika kau punya masalah” dengus Woo Bin, sementara Jin Ho hanya tersenyum tipis, wajahnya terlihat getir.


“Aku memang selalu tidak bisa menyembunyikan apapun darimu yah” tukas Jin Ho pelan, ia menghela nafasnya berat, seakan-akan ia tengah memanggul beban yang amat sangat berat. Sementara Woo Bin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan pertanda ia setuju dengan pernyataan Jin Ho barusan.


“Ini tentang Na Ra dan Tae Yoon hyung…” lanjutnya lemah, suaranya parau. Woo Bin sedikit tersentak namun ia tetap berusaha untuk menguasai dirinya. “Dari ekspresimu, aku rasa kau sudah tahu semuanya” lanjut Jin Ho melirik Woo Bin dengan ekor matanya. Woo Bin terdiam sesaat, ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Jin Ho barusan.


“Hmmm” gumamnya pelan “Miane hyung aku tidak bisa menjaga Na Ra-ssi untukmu” sesal Woo Bin. Jin Ho hanya terpaku. Mereka berdua kembali terdiam. “Jujur pada saat itu, aku sempat bersitegang dengan Tae Yoon-ssi karena masalah ini” lanjut Woo Bin lemah “Tapi…..” Woo Bin tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia kembali terdiam, wajahnya menunjukkan ekspresi penyesalan yang sangat dalam.


Jin Ho meletakkan tangan kanannya di pundak Woo Bin seraya berkata “Sudahlah hyung jangan menyalahkan dirimu, gomawo….” Ujarnya, kali ini ia tersenyum getir. Ia tahu tidak sepantasnya melimpahkan kekesalannya kepada sahabatnya ini karena bagaimanapun ini semua adalah takdir. Hanya itu jawaban satu-satunya yang cocok dan bisa menghibur kegalauan hatinya saat ini.


******************************


“Hyung… bangun” ujar Won Bin sembari menggoyang-goyangkan tubuh Jin Ho pelan untuk membangunkan temannya tersebut.


“Mmmmmm” gumam Jin Ho malas, ia perlahan membuka matanya. Jin Ho melirik sekilas jam tangan yang dipakainya dan membaca angka 9 pagi. Ia perlahan bangkit dan merapikan rambutnya yang acak-acakan.


“YYa cepat cuci wajahmu dan makan sarapanmu yang sudah aku siapkan tadi” ujar Won Bin seraya menunjuk kearah meja makan dengan wajahnya. Jin Ho mengikuti arah pandangan Won Bin. Ia tersenyum geli.


“Yya, kenapa kau tersenyum hah” Tanya Won Bin penasaran.


“Kau ini sudah seperti istriku saja, karna itulah aku sangat mencintaimu Won Bin-aa” Goda Jin Ho, ia tertawa geli.


“Aish, kau membuatku jijik, sana cepat mandi sarapan lalu pergi” balas Won Bin, ia berpura-pura cemberut dengan godaan Jin Ho.


“Baiklah sayang, anything for you” Jin Ho masih semangat menggoda Won Bin, ia berlalu sambil mencolek dagu Won Bin.


“Yya, kau sama sekali tidak berubah, tetap gila” umpat Won Bin, ia tersenyum lega karena ternyata kekhawatirannya semalam tidak terbukti.


Jin Ho keluar dari kamar mandi 20 menit kemudian, wajahnya terlihat segar dengan rambut setengah basah. Ia menghampiri Won Bin yang tengah duduk menikmati sarapannya. Jin Ho menjatuhkan dirinya dikursi yang ada disamping Won Bin dan mulai melahap makanan yang ada dimeja tersebut. Won Bin memandang Jin Ho heran. “Waeyo? Ada yang aneh” seru Jin Ho masih dengan mulut yang penuh dengan makanan.


“Ahni, sudah makan dulu baru ngomong, ampun aku merasa seperti seorang baby sitter” balas Won Bin yang hanya dijawab dengan seulas senyuman oleh Jin Ho. “Ngomong-ngomong, apa ibumu sudah tau kau disini?” lanjutnya. Jin Ho hanya menggeleng.


“Aush, sudah kuduga” gumamnya. Ia lalu beranjak dari kursinya dan berjalan mengambil handphonenya. Memencet sederet nomor yang sudah dihafalnya diluar kepalanya, ia memutuskan untuk menghubungi Nyonya Lee karena ia sudah hafal benar dengan watak sahabatnya itu saat tengah dirundung masalah.


“Yeoboseyo, omoni” ujar Won Bin saat sebuah suara menyahut dari seberang. Jin Ho menghentikan sejenak aktivitas sarapannya ia menoleh kearah Won Bin dengan pandangan bertanya. Won Bin mengacuhkan pandangan Jin Ho.


“Yeoboseyo Won Bin-aa, benar ini kau?”


“Ne, omoni. Bagaimana kabar omoni?” sahut Won Bin


“Omoni baik-baik saja, ada apa kau menelponku apa Jin Ho ada ditempatmu?” ujar Nyonya Lee ragu-ragu.


“Ne, dia ada disini, omoni tidak usah cemas, saya akan menjaganya dan memastikan kalau ia akan pulang dengan selamat nanti” canda Won Bin terkekeh. Nyonya Lee tersenyum geli mendengar canda Won Bin, sahabat Jin Ho yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri. Ia ingat Won Bin meskipun usianya lebih muda dari Jin Ho namun sikapnya sangat dewasa, bahkan saat Jin Ho tengah bermasalah, Won Binlah yang selalu menemaninya dan menasehatinya. Malah seringkali saat Jin Ho tidak dapat dihubungi kabarnya, Won Binlah yang selalu menenangkannya.


“Syukurlah kalau begitu, omma minta tolong temani dia” ujar Nyonya Lee pelan, ada nada kesedihan dan cemas terselip disana, Won Bin dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Nyonya Lee saat ini.


“Ne, omoni anyong” tukas Won Bin. Ia mematikan handphonenya, kemudian menoleh kearah Jin Ho yang tengah menatap tajam kearahnya. Namun Won Bin sama sekali tidak gentar dengan tatapan Jin Ho. Ia berjalan kembali kearah Jin Ho dan saat sampai didekatnya, dijitaknya kepala sahabatnya itu.


Jin Ho meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya, ia mengumpat kesal “Yaishhhh…kau…” ujarnya merengut.


“Itu untuk kebodohanmu yang tidak sembuh-sembuh, aku kira dengan tidur selama 5 tahun kau bisa berubah ternyata sama saja” sahut Won Bin cuek ia meraih cangkir kopinya dan menghabiskan sisa setengah kopinya yang sudah mulai dingin. Jin Ho hanya terdiam mendengar omelan Won Bin. Ia sadar tingkahnya sudah terlewat batas saat ini, bukannya ia takut menghadapi kenyataan namun saat ini ia sangat terluka.


“Setelah ini sebaiknya kau pulang, jangan membuat ibumu cemas lagi karena beliau sudah cukup menderita selama kau absen” tukas Won Bin bijak. Jin Ho hanya tersenyum getir mendengarnya.


Sesaat kemudian Won Bin beranjak, setelah mencuci peralatan makannya ia kemudian berpamitan pada Jin Ho. “Hyung, aku pergi kerja dulu. Kalau kau masih ingin disini silahkan saja toh ini juga sudah seperti rumahmu sendiri” tukas Won Bin seraya menepuk bahu Jin Ho pelan.


“Gomawo” ujar Jin Ho membuat Won Bin berhenti “Sama-sama friend kita kan bro” Won Bin tertawa, memamerkan sederetan gigi putihnya yang rapi. Jin Ho ikut terkekeh ternyata Won Bin masih tidak melupakan ungkapan candaan mereka. Won Bin melambaikan tangannya setelah itu iapun bergegas pergi meninggalkan Jin Ho yang masih terpaku ditempatnya.


*************************************


Jin Ho berjalan dengan langkah gontai saat memasuki kediamannya. Ia akhirnya memutuskan pulang setelah 3 jam lamanya ia habiskan dengan merenung diapartemen Won Bin. Nyonya Lee tampak tergopoh-gopoh menyambut kedatangan putranya tersebut, dengan wajah khawatir ia menyambut Jin Ho. “Jin Ho-yya, gwenchana” seru Nyonya Lee sembari mengecek tubuh Jin Ho.


“Gwenchana omma, mian aku sudah membuat omma cemas” jawab Jin Ho datar.


“Syukurlah, omma takut jika terjadi apa-apa padamu, kenapa kau keluar tidak bilang-bilang. Kondisimu belum fit benar sayang, omma takut terjadi apa-apa padamu” seru Nyonya Lee, ia begitu khawatir melihat keadaan Jin Ho terlihat dari ekspresi wajahnya.


“Miane, omma gwenchana-yo, aku tidak akan membuat omma cemas lagi, promise” balas Jin Ho. Seulas senyuman tersungging dibibirnya.


“Chinja?” Nyonya Lee memandang wajah putranya “Ne” jawab Jin Ho pelan namun tegas. Jin Ho meraih tangan ibunya dan menggandengnya masuk ke dalam. Saat mereka sudah berada diruang tengah, Nyonya Lee membimbing Jin Ho untuk duduk di sofa kemudian.


“Jin Ho-yya, miane…omma ingin mengatakan sesuatu padamu” sesal Nyonya Lee. Jin Ho yang mengerti arah pembicaraan ibunya hanya bisa terdiam pasrah.


“Omma sudahlah aku mengerti” tukas Jin Ho.


“Ahni-yyo, seandainya saja omma lebih keras menentang pernikahan kakakmu dan Na Ra pasti hal ini tidak akan pernah terjadi, omma sungguh sangat menyesal”


“Omma sudahlah, ini semua bukan salah omma. Ini sudah takdir”


“Tapi sayang,……”


“Omma, sudah cukup.” Potong Jin Ho. “Aku tidak ingin mendengar lagi, benar saat ini hatiku sangat sakit, tapi aku akan mencoba untuk berkompromi dengan rasa sakit ini dan suatu saat aku ingin bisa memberikan restuku pada Hyung dan Na Ra dengan tulus, nanti….. jika aku sudah dapat merelakan semuanya, karena itu aku mohon pengertian omma, berikan aku waktu” ratap Jin Ho pelan. Nyonya Lee merasa batinnya teriris mendengar perkataan Jin Ho barusan, namun ia harus menghargai semua keputusan Jin Ho, ia ingin mendukung Jin Ho. Wanita cantik paruh baya itu kemudian tersenyum, ia meraih wajah Jin Ho dan mengelusnya pelan. “Putra omma sudah semakin dewasa, miane omma sudah mengecewakanmu sayang, tapi omma yakin suatu saat kau akan mendapatkan gadis yang pantas untukmu, omma akan selalu berdoa untuk itu” ujar Nyonya Lee bijak, ia tersenyum penuh kearifan.


Jin Ho meraih tubuh Nyonya Lee dan memeluknya lembut “Gomawo omma” ujarnya haru.
 

*************************************


“Noona, kau sudah pulang?” Chang Min segera bangkit dan meletakkan gitar yang sedari tadi dimainkannya. Satine hanya melirik sekilas kearah dongsaengnya itu dan menganggukkan kepalanya pelan. Ia berjalan kearah kamarnya namun langkahnya terhenti karena Chang Min menghalangi jalannya. Satine menatap pemuda tanggung yang ada dihadapannya dengan pandangan bertanya.


“Noonaaaaa, kenapa diam saja, kau masih marah padaku? Bukankah aku sudah meminta maaf berulang-ulang padamu” rajuk Chang Min memelas. Satine masih terdiam, ia hanya menatap Chang Min.


“Noonaaaaaa kumohon jangan kau diamkan aku seperti ini” Ia kembali merajuk, seperti seorang anak kecil yang tengah merayu ibunya. “Noona boleh menghukumku untuk melakukan apa saja asal noona tidak mendiamkanku ini sudah 3 hari 14 jam noona tidak bicara padaku” lanjutnya. Satine terdiam berpikir, ia menatap mata Chang Min seolah sedang mencari ketulusan disana.


“Arasso” akhirnya Satine-pun berbicara singkat.


“Dhe?”


“Aku bilang, aku mengerti” lanjutnya. Chang Min masih melongo dibuatnya. Ia sama sekali tidak mengerti perkataan Satine.


“Noonaaaa… app..” kalimat Chang Min tiba-tiba terputus “Buatkan noona sarapan” ujar Satine. Ia menatap Chang Min, kedua tangannya ia letakkan bersidekap didadanya.


“Mwo? A…Arasso” jawab Chang Min pelan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun bergegas pergi kedapur dan melaksanakan perintah Satine. Diam-diam tanpa sepengetahuan Chang Min, Satine tersenyum geli melihat tingkah dongsaengnya itu. Setiap kali Chang Min membuat masalah yang ia lakukan untuk menghukum anak bengal itu adalah dengan mendiamkannya. Dan Satine tahu kalau ia selalu berhasil dengan cara seperti itu daripada harus mengomel berkepanjangan tanpa ujung pangkal. Chang Min pasti akan selalu kelabakan sendiri jika Satine sudah mengeluarkan jurus diamnya, ia akan selalu berusaha merajuk kepada Satine untuk dimaafkan.


Satine beranjak masuk kedalam kamarnya, ia merebahkan dirinya sejenak di tempat tidurnya. Ia sangat lelah karena semalaman ia harus menemani tamu-tamu lelaki hidung belang yang dibencinya, namun ia sungguh tidak punya pilihan lain. Ia melirik kearah jam weker yang ada disamping ranjangnya. Jam 10 pagi ia membaca. Kemudian iapun bangkit dan meregangkan beberapa bagian ototnya yang pegal, setelah itu iapun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


30 menit kemudian, Satine keluar dari kamar mandi. Ia mengusap-usap rambutnya yang basah. Kali ini wajahnya sudah bersih dari polesan make-up tebal yang selalu ia kenakan saat sedang “bekerja”. Wajahnya yang putih mulus tampak bersemu merah. Satine melihat kearah Chang Min yang masih sibuk dengan kegiatannya didapur. Ia pun berjalan kearah Chang Min dan berdiri disebelahnya.


“Oh, noona kau sudah selesai mandi? Chakaman, sarapanmu akan siap beberapa saat lagi” seru Chang Min. Satine melirik kearah wajan yang dipegang oleh Chang Min. “Aku buatkan sarapan special untuk noona” seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Satine, Chang Min pun berusaha meraih simpati Satine. “Noona duduklah, aku siapkan mejamu” ujarnya kembali. Satinepun menurut, ia melangkah menuju meja makan dan menjatuhkan dirinya disana.


“Sarapan special untuk noona hari ini” seru Chang Min sembari meletakkan piring berisi daging panggang dan telur dadar gulung kesukaannya.


“Kau tidak kekampus hari ini?” Ujar Satine disela-sela sarapan pagi itu. “Ahni, kampus masih libur” jawab Chang Min.


Satine menghentikan makannya. Pandangannya mengarah pada mata Chang Min, berusaha mencari kepastian di sana,”Chinja-yyo?”. Chang Min menghentikan makannya dan balas menatap Satine. “Noonaaaaa, kenapa kau selalu tidak percaya padaku, aku tidak bohong” ujarnya memelas. Ia merasa sangat frustasi diinterogasi oleh Satine.


“Aku kan hanya bertanya, kalau benar yah sudah” jawab Satine cuek sembari melahap makanannya.


“Yaish…. Noona kau selalu membuatku frustasi setiap kali kau tidak percaya padaku. Noona aku tidak akan pernah bosan bicara tentang ini padamu, suatu hari nanti aku pasti akan bisa membuat noona bangga padaku dan aku akan membahagiakan noona jadi noona tidak perlu lagi bekerja sebagai….” tukas Chang Min berapi-api namun perkataannya itu terpotong oleh Satine. “Pabo-yya, aku akan selalu menunggumu merealisasikan janjimu itu anak bodoh” jawab Satine sembari menggetok kepala dongsaengnya itu membuat Chang Min meringis . Sejenak kemudian iapun beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju ke kamarnya. Sebelum masuk ke kamarnya, ia berseru kepada Chang Min “Cuci piringnya sebelum kau pergi” kemudian iapun melangkah masuk meninggalkan Chang Min yang cemberut. “Aku kan sudah memasak masa cuci piring juga” omelnya pelan. Namun hal itu dilakukannya juga akhirnya. ^^


*************************************


Satine membaringkan tubuhnya diranjang, matanya belum terpejam, ia menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Sesekali ia mengerjabkan mata indahnya. Satine mengangkat kedua tangannya keatas seakan-akan ingin meraih sesuatu. Hanya sejenak kemudian ia turunkan kembali. Ia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Saat ini ia meletakkan kedua tangganya menyilang didadanya, mencoba merasakan detak jantungnya sendiri. Perlahan namun pasti sebulir air mata menetes membasahi pipinya. Ia menangis untuk sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui alasannya. Hanya ingin menangis begitu pikirnya, tidak berapa lama iapun tertidur.


*************************************


“Sayang kau mau kemana dengan dandanan serapi itu” tegur Nyonya Lee pada Jin Ho saat dilihatnya putranya pagi itu berdandan rapi dengan jas dan dasi yang bertengger di lehernya.


“Aku mau pergi kerja omma, waeyo? Sudah terlalu lama aku vakum dari dunia itu” jawabnya santai.


“Mworagu? Tapi kau masih harus banyak istirahat sayang, kondisimu belum pulih benar” Nyonya Lee memandang dengan perasaan khawatirnya kepada Jin Ho.


“Omma, gwenchana. Semakin aku banyak berdiam diri pikiranku semakin kacau, karena itu aku mohon pada omma untuk mengijinkan aku kembali bekerja mengurus Lee Corp”


Nyonya Lee menatap wajah putranya tersebut dengan pandangan sayu, seolah tidak rela, namun sejenak kemudian ia tersenyum “baiklah” ujarnya pelan. “tapi jangan terlalu memaksakan dirimu oke, jangan berpikir terlalu berat” lanjutnya bijak yang hanya diamini oleh Jin Ho dengan anggukan kepala dan senyuman. “Aku pergi dulu omma” pamit Jin Ho seraya mengecup dahi Nyonya Lee lembut. Jin Ho berjalan menuju ke mobilnya, setelah melambaikan tangannya kepada ibunya iapun meluncur pergi. Nyonya Lee menatap kepergian Jin Ho sampai mobil yang ditumpanginya tidak terlihat lagi.


*************************************


Hari pertama Jin Ho bekerja kembali sungguh melelahkan, bukan hanya secara fisik namun juga secara batin. Ia bukan orang yang tuli untuk mendengarkan gunjingan-gunjingan dari beberapa karyawan kantor Lee Corp, meskipun tidak secara terang-terangan, namun pandangan beberapa orang yang tidak sengaja bertatap muka dengannya membuatnya muak. Padangan yang seolah-olah mengasihani nasibnya yang malang karena sudah menjadi rahasia umum sekarang tentang hubungannya dengan Na Ra dan Tae Yoon. Ingin rasanya ia menyumpal mulut orang-orang tersebut atau lebih extremenya mencakar-cakar wajah mereka, namun hal itu urung dilakukannya demi menjaga harga dirinya sebagai salah satu manajer Lee Corp.


Dan disinilah ia kini duduk disebuah bar kecil dipinggir kota yang kurang terkenal. Sengaja ia lakukan itu karena ia sudah muak dengan perlakuan orang-orang yang baca mengasihaninya. Ia paling benci dengan hal itu. Jin Ho menemukan bar tersebut saat sedang mengemudikan laju mobilnya tanpa arah, ia ingin memusnahkan bayangan Na Ra dari pikirannya. Ia duduk sambil meneguk beberapa gelas bir yang dipesannya. Tidak ia perdulikan beberapa wanita-wanita yang berdandan norak yang berusaha menggodanya. Saat pandangannya sudah semakin sayu, sayup-sayup ia mendengar suara merdu mengalun bersama dentingan piano yang menarik hatinya.



saehayan meopeulleoe eolgureul mutgo
bulgeojin nuneul kkamppagimyeo neol gidaryeosseo
museun yaegil hago peunji geu mal
al geotdo gateunde moreugesseo
eosaekhan nuninsae mogi meigo
han bal mulleo seon uri dul gonggane nunmul teojigo
hwaganaseo sorichideut garan nae mareun
beolsseo neon aju meolli darana beoryeosseo


oneul heeojyeosseoyo uri heeojyeosseoyo
nae mam al geot gatdamyeon yeopeseo gachi ureojwoyo
naneun andoenabwayo yeoksi aningabwayo
eolmana deoureoya jedaero saranghalkkayo


gwitgaen simjangsori geudae ulligo
jiun ni beonho jiulsurok deouk ttoryeotaejigo
eonjebuteo eodibuteo meoreojingeonji
bunmyeonghi eojekkajin nal saranghaenneunde


oneul heeojyeosseoyo uri heeojyeosseoyo
nae mam al geot gatdamyeon yeopeseo gachi ureojwoyo
naneun andoenabwayo yeoksi aningabwayo
eolmana deo ureoya jedaero saranghalkkayo


cham johasseo neomu johaseo deo apeujyo
sarange tto sogeun naega miwo


geunyang naoji mal geol geunyang apeuda hal geol
uri saranghan gieok geuge neol butjaba jul tende
neoneun naeireul salgo naneun oneureul sara
amudo amugeotdo nal utgehal suneun eobseo


oneul heeojyeosseoyo uri heeojyeosseoyo
nae mam al geot gatdamyeon yeopeseo gachi ureojwoyo
naneun andoenabwayo yeoksi aningabwayo eolmana
deo ureoya jedaero sarang halkkayo


Bait demi bait lagu itu terlantun dengan lembut dan penuh dengan perasaan. Jin Ho merasa terhanyut, ia mengamati dengan serius sosok yang sedang menyanyikan lagu tersebut. Sosok semungil itu bisa mengeluarkan suara seindah ini pikirnya, angannyapun melayang. Ia begitu terhanyut tanpa terasa air mata menetes dipipinya.


Pandangan Jin Ho masih tidak terlepas dari Satine sampai gadis itu selesai menyanyi dan beranjak dengan anggunnya dari piano yang dimainkannya tadi. Untuk ukuran seorang penyanyi bar ia termasuk angkuh, begitu pikir Jin Ho. Bagaimana tidak, seorang pelayan bar biasanya sangat ramah atau genit pada tamunya, namun Jin Ho tidak menemukan hal itu pada sosok Satine. Ia berjalan begitu angkuh, bahkan untuk tersenyum sekalipun Jin Ho tidak melihatnya kecentilan tersenyum kepada setiap lelaki yang dilewatinya.


Jin Ho kembali mengamati sosok gadis yang begitu menyita perhatiannya tersebut. Cara berdandannya tidak seperti kebanyakan “pelayan” bar kecil kebanyakan. Meskipun tubuhnya tidak terlalu tinggi dan kurus namun itu semua tertutupi sepenuhnya dengan cara membenahi kekurangan alami ini dengan penataan benda-benda yang ia kenakan. Gaun merah terusan yang menjuntai sampai dibawah lututnya tidak mengurangi keindahan lekuk kakinya. Kepalanya sungguh menawan, begitu mungil namun begitu pas dengan tubuhnya. Pasangkanlah dua mata coklat dalam bentuk oval yang sungguh mempesona dinaungi dengan sepasang alis sedemikian murninya sehingga terlihat laksana lukisan. Mata itu diselubungi oleh bulu mata nan lentik dan indah yang ketika merunduk menciptakan bayangan pada kedua belah pipinya yang memerah laksana mawar. Lukislah sebatang hidung yang lurus dan lembut, rancanglah selarik mulut dengan bibir mungil yang merekah anggun. Kulitnya yang putih dan mulus tampak bercahaya diantara lampu ruangan yang temaram. Dari gambaran itu kita akan mendapatkan garis besar dari wajah menawan itu. Rambutnya yang hitam tersanggul dengan beberapa helai ikal entah alami atau tidak menjuntai menutupi telinganya. Bagaimana kehidupannya yang keras meninggalkan ekspresi kekanakan pada wajah Satine, ekspresi yang menjadi kekhasan wajahnya adalah misteri yang hanya bisa kita ucapkan, tanpa sanggup untuk dipecahkan. 


Saat Satine berjalan melewatinya, ia melirik Jin Ho sekilas. Sejenak tatapan mereka bertemu, entah kenapa ada suatu perasaan aneh menjalari Jin Ho saat ini, mereka hanya terdiam beberapa detik. Satine kemudian berlalu ia berjalan menuju ke meja yang terletak diujung ruangan bar itu. Beberapa orang duduk disana. Satine menjatuhkan dirinya begitu saja di sofa. Mengambil segelas soju dan meminumnya dalam sekali tegukan. Pria yang berada disebelahnya menuangkan minuman sekali lagi dan mereka bersulang. Satine tersenyum namun semuanya hanya sebuah kepura-puraan. Jin Ho memandang semua itu sambil mendengus kesal.


“Wanita, semuanya sama saja” runtuknya pelan. 


*************************************


Satine urus pria mabuk ini, ia tertidur disini kalau ia tidak pergi kita tidak bisa menutup bar ini  sayup-sayup terdengar suara berat seorang pria yang mungkin pemilik bar ini batin Jin Ho di tengah kesadarannya yang menipis, matanya terlalu berat untuk dibuka dan badannya juga terlalu berat untuk digerakkannya.


Oppa kenapa selalu aku yang harus mengurus pria-pria tidak berguna ini kali ini suara seorang gadis, yah suara gadis itu gadis yang menyanyi tadi batin Jin Ho.


Pria yang dipanggil oppa oleh si gadis itu hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum, membuat Satine semakin cemberut. Perlahan-lahan Satine mendekati sosok Jin Ho yang tengah terkapar saking mabuknya “chogiyo”  Satine mengguncang tubuh Jin Ho pelan. Tidak ada reaksi dari Ji Ho matanya semakin berat akhirnya iapun tertidur.


“Huh, tidak bisa minum masih juga nekat” dengus Satine. Ia berpikir sejenak, kemudian menatap si pemilik bar. “Oppa, berapa banyak yang dia minum?” tanyanya. Pria yang dipanggil oppa tersebut menjulurkan badannya kedepan melihat kearah Jin Ho. “Entahlah, mungkin 5 gelas atau lebih” jawabnya cuek.


“Apa dia sudah membayar?” Tanya Satine kembali.


“Bagaimana aku bisa memintanya kalau dia sudah sangat mabuk seperti ini” jawab si pria enteng. Satine hanya bisa mendengus, “Selalu saja begini” gumamnya, ia menghela nafasnya berat. “Jang oppa Apa perlu kita menelpon seseorang dirumahnya?” Satine memandang bosnya meminta persetujuan.


“Aku sudah mencoba mencari handphonenya tapi tidak aku temukan, kelihatannya ia tidak membawa handphone”


“Bo…yya? Aish menyusahkan saja. Lalu bagaimana ini, apa perlu kita panggilkan taxi”


“Lalu kau mau menurunkannya dimana, apa kau tahu alamat rumahnya?” Satine hanya melirik Jang. Kemudian. “Dompet..!!!” seru mereka bersamaan. Satine langsung menggeledah saku kameja Jin Ho namun kosong yang didapatnya. Ia kemudian berpindah ke saku celananya dan menemukan dompet Jin Ho disana. “Got it!!!” serunya. Ia membuka dompet Jin Ho dan memeriksa isinya. Membolak-balik dompet itu namun tidak menemukan kartu identitas Jin Ho. Hanya ada beberapa lembar ribuan won dan kartu kredit dan ATM. Satine menaikkan alisnya heran


“Mwo?” Tanya Jang heran


“Tidak ada identitas” gumamnya pelan.


“Kau yakin” seru Jang, ia meraih dompet Jin Ho dari tangan Satine dan memeriksa isinya.


“Orang bodoh macam apa yang keluar rumah tanpa handphone dan identitas diri” runtuk Satine heran. “YYa,…. Bangun dimana rumahmu cepat pergi!!!” kali ini Satine mengguncang tubuh Jin Ho agak keras. Ia terlihat begitu kesal “Hah, kenapa kau ini begitu merepotkan!!!” ujarnya kembali


“YYa, Satine-aa apa yang kau lakukan? Hentikan” cegah Jang oppa. Membuat Satine semakin kesal.


“Lalu bagaimana oppa, apa kau mau aku tinggal disini sampai menunggu ia sadar?”


Jang oppa terdiam, ia tampak berpikir. Kemudian. “Bawa saja kerumahmu” putusnya.


“MWOOO? YYa--- oppa kau sudah gila yah, antwee aku tidak mau memangnya rumahku itu penginapan apa!!! Kenapa tidak ketempatmu saja hah” Satine mendelik kesal kearah Jang oppa.


“Miane, Satine-aa kalau bisa aku juga maunya begitu tapi… tapi…. Ditempatku ada…hehehe.. kau tahu kan….”


“Aush, kau ini selalu saja seenaknya, aku tidak mau pokoknya aku tidak mau antwee” tolaknya tegas


“Hey..hey..tenang dulu, coba pikirkan baik-baik tidak ada ruginya, kalau dilihat dandanannya kelihatannya ia orang kaya meskipun didompetnya saat ini tidak ada begitu banyak uang dan juga…”


“OPPAAAAAAAA!!!” bentak Satine kesal membuat Jang oppa menyusut.


“Kalau dilihat-lihat ia tampan juga, lumayan lho buat hiburanmu” lanjutnya pelan.


“YYA OPPAAAAAAAAA!!!”


Jang oppa tertawa geli “Mian…mian… aku hanya bercanda, kau ini kenapa pemarah sekali sih”


“TIDAK LUCU!!!!” umpat Satine kesal. Jang oppa tersenyum geli melihat Satine yang tengah naik darah. Ia selalu suka menggoda gadis itu.


“Lalu bagaimana, apa kita bawa ke hotel saja?” gumam Satine.


“Ide yang baik, tapi maaf aku tidak bisa mengantarmu, aku ada keperluan penting sekarang, kalau mau pakai saja mobilku aku bisa naik taxi”


“Mwo? kenapa… aush… oppaaaaa… kau ini selalu saja” Satine merengut giginya bergemerutuk menahan amarahnya . “Oppa kau ini PABO-yya. Karena sikapmu yang seperti ini yang membuat kita hampir bangkrut. Kenapa kau masih bisa memikirkan pelanggan seperti dia yang sama sekali tidak menguntungkan dan bahkan membuat kita kerepotan hah, coba pikirkan kapan kita bisa kaya kalau begini caranya” Lagi-lagi Satine mengomel. Jang oppa hanya bisa menunduk tanpa bisa membalas karena ia tahu kalau ia tidak akan pernah bisa menang melawan gadis itu.


“Miane Satine-aaa, kali ini saja aku minta tolong padamu terserah kau mau melakukan apa, ini kunci mobilku dan dompet pria ini” ujar Jang oppa memelas, ia menyodorkan kunci mobilnya dan meletakkan dompet Jin Ho di bar table. Satine cemberut, wajahnya mengeras menahan amarah. Jang oppa benar-benar hafal sifat Satine karena itu sebelum gadis itu meledak ia segera berlari pergi. “Tolong yah, kali iniiiiiiiiii saja kuserahkan padamu.” serunya saat berada didepan pintu dan secepatnya melesat pergi.


Satine berdiri memandang Jin Ho tajam “dasar Jang oppa sialan” umpatnya kesal sembari melirik Jin Ho yang tengah tertidur.   


*********************************


And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^