Author Topic: Paint Pastel Princess Chapter 4 (Update Now 03.07.2011) ^^  (Read 6065 times)

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: Paint Pastel Princess (SPOILER ONLY) ^^
« Reply #90 on: May 10, 2011, 08:38:29 am »
Chapter 3



Jin Ho terbangun pagi itu oleh suara dentingan pelan piano yang samar-samar mulai merasuki telinganya. Alunan nadanya yang pelan namun membiaskan kesedihan yang dalam saat mendengarnya. Ia mulai berusaha membuka irisnya yang masih setengah berat untuk menerima pancaran cahaya sang mentari yang samar-samar merasuki sudut-sudut ruangan itu. Jin Ho menatap ke sekelilingnya, rupanya ia tertidur di sebuah sofa merah yang terletak disudut ruangan, Jin Ho memantapkan pandangannya kearah piano yang berada di tengah ruangan bar yang ia datangi semalam, ia ingin melihat lebih dekat sosok yang tengah menghantarkan senandung pagi itu.


Terlihat olehnya, gadis itu, gadis yang semalam sempat membuatnya terpana dengan nyanyiannya, sosok gadis “angkuh” untuk ukuran seorang wanita penghibur. Begitulah kira-kira penilaian Jin Ho padanya sejak kemarin. Jin Ho perlahan bangun dan duduk menyandarkan dirinya di sofa. Ia begitu menikmati alunan nada yang dimainkan oleh si gadis tersebut pagi ini. Meskipun kepalanya masih terasa berat, namun ia masih sanggup menerima asupan melodi dari dentingan piano Satine.


Satine menghentikan permainan pianonya saat ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Perlahan ia reflek menoleh ke belakang dan menatap sosok Jin Ho yang kini tengah memandangnya. Mereka berdua saling berpandangan cukup lama hingga akhirnya Satine pun beranjak dari bangku piano dan berjalan kearah Jin Ho.


“Anda sudah sadar tuan” Tukas Satine saat ia telah berada dihadapan Jin Ho. Nadanya kalem namun tajam.


“Ah..N..Ne…” sahut Jin Ho tergagap. “Dimana aku sekarang?” tanyanya polos.


“Shhhh…anda bahkan tidak tahu anda dimana?” desis Satine. “Kalau memang anda tidak kuat minum, saya sarankan anda untuk tidak mabuk sembarangan” sindir gadis itu kembali.


“Mwo?Yya, nona.. apa anda tidak bisa bicara sopan sedikit, setidaknya kau ini seorang wanita apa tidak bisa lembut sedikit” balas Jin Ho. Kali ini ia sudah sadar sepenuhnya. Satine hanya bisa mendengus kesal. Ia memajukan bibirnya beberapa centi.


“Orang yang tidak bisa minum, sok mabuk-mabukan dan sekarang ia malah ingin mengajar sopan santun yang benar saja” omel Satine pelan tampak seperti menggumam pada dirinya sendiri, namun malang baginya ternyata Jin Ho bisa mendengarnya dengan jelas.


“Mwo? apa kau bilang. Aush” tukas Jin Ho gusar, ia menatap tajam kearah Satine yang balas menatapnya tak kalah tajam. ^^

Jin Ho memandang Satine, ia mengamati gadis itu, tiba-tiba ia teringat sesuatu, ya gadis itu. Gadis yang sama saat mereka bertemu dirumah sakit dulu. “Kau!!! Aish ternyata kau pantas saja aku merasa kita pernah bertemu” ujarnya sambil menudingkan telunjuknya kearah Satine. Satine menjadi semakin bingung. Alisnya saling bertaut. Ia memandang Jin Ho dengan pandangan bertanya.   


“Iya, kau gadis bengal yang sudah salah tidak mau minta maaf, aku ingat sekali walaupun wajahmu terpoles make up tebal tapi aku pasti tidak salah”


Satine membulatkan matanya “Ternyata kau si pria manja itu yah, Cih.. sial sekali nasibku.” Satine memandang kearah Jin Ho dengan kesal. “Apa kau sudah selesai, kalau begitu cepat pergi. Palli… Ka…” ujar Satine dengan nada mengusir Jin Ho “Ah dan sebelumnya tolong anda bayar minuman yang sudah anda habiskan kemarin malam” lanjutnya. Jin Ho memandang Satine tajam, ia menarik sudut bibirnya keatas seolah-olah mengejek Satine. “Dasar gadis sombong” omelnya Jin Ho mengambil dompetnya dan membukanya “Berapa semuanya?” tanyanya ketus.


“Total semuanya 70.000 Won” Sahut gadis itu enteng. Jin Ho kembali menatap dompetnya ia menghitung lembaran uangnya. Jin Ho berhenti sejenak, ia kembali menatap kearah Satine.


“Waeyo, jangan bilang kalau kau juga tidak punya uang” tukas Satine ketus. 


“Bb…Bbooo? Yya.. nona aku punya uang ta..tapi…” ujar Jin Ho tergagap.


“Tapi apa? Sudah jangan banyak alasan cepat bayar atau”


“Atau apa?” potong Jin Ho tiba-tiba, ia terlihat gusar sekarang, wajahnya mengeras.


“Jadi benar kau tidak punya uang hah!!!”


“A..Aku punya. Tapi aku tidak membawa banyak sekarang, kalau begitu antar aku ke atm nanti aku bayar semuanya” Jin Ho berusaha mengelak meskipun saat ini sebenarnya ia sangat malu.


“MWO? sudah tidak bisa membayar kau masih menyuruhku mengantarmu? Yaishh, sungguh terlalu” Satine merasa sangat dongkol. Ia merasa amat sangat kesal sekarang.


“Aku akan membayarmu lebih, aku bayar semua termasuk ongkos antar, tidak perlu marah-marah seperti itu, sombong sekali kau untuk ukuran seorang wanita penghibur” seru Jin Ho keceplosan, mendadak ia merasa tidak enak, tenggorokannya seolah tercekat, ia merasa menyesal dengan apa yang dikatakannya barusan. Satine menoleh tajam kearah Jin Ho. Pandangannya berubah menjadi sinis.


“APA KAU BEGITU PUNYA BANYAK UANG HAH? KAU KIRA UANGMU BISA MEMBELI SEGALANYA? BENAR… AKU HANYA WANITA PENGHIBUR ATAU KAU MAU BILANG PELACUR SEKALIAN LANTAS KENAPA?WAE… APA SALAHNYA DENGAN MENJADI SEORANG WANITA PENGHIBUR!!!” tukas Satine kesal, ia begitu emosi dadanya naik turun menahan emosinya yang memuncak. Matanya tajam menusuk Jin Ho.


Jin Ho terdiam, ia menjadi serba salah. “Ma..maksudku… bukan begitu miane, cheongmal miane” ujarnya pelan dengan nada penuh penyesalan.


“Sudahlah ini salahku” tukas Satine pada akhirnya “Sekarang cepat pergi dari sini jangan membuatku semakin marah” lanjutnya pelan. Ia kemudian berjalan menuju kearah pintu dan membukanya kemudian memandang Jin Ho.


“Ta..tapi…” tukas Jin Ho, ia memandang Satine yang hanya menatap nanar kedepan tanpa suara. Akhirnya dengan berat hati Jin Ho pun meninggalkan bar kecil tersebut dengan perasaan kacau.


**************************************

Huffff, Jin Ho menghela nafasnya berat beberapa kali, ia terlihat melamun, bahkan ia tidak menyadari kehadiran Woo Bin di kantornya sedari tadi. Woo Bin yang melihatnya menjadi heran, apa sebegitu besarnya pengaruh Na Ra terhadap Jin Ho pikirnya. Perlahan iapun berjalan mendekati Jin Ho dan mengetuk meja yang ada dihadapan Jin Ho.


“Yo, Bro.. what’s up” sapanya. Jin Ho sontak menoleh kearah Woo Bin ia tersenyum. Jin Ho menjulurkan tangannya yang terkepal kearah Woo Bin yang segera disambut oleh Woo Bin. “Melamun?” Tanya Woo Bin yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Jin Ho. “Kapan kau datang dan ada apa. Tumben mampir?” jawab Jin Ho.


“Mau mengajakmu makan siang, kau sibuk?”


Jin Ho melirik jam tangannya, sudah masuk jam istirahat, ia tidak menyadari hal tersebut karena terlalu sibuk melamunkan kejadian kemarin. “Tidak” jawabnya pendek. Jin Ho bangkit dari kursinya dan mengajak Woo Bin pergi. Keduanya berjalan menuju ke restoran yang ada dilantai paling atas gedung perkantoran Lee Corp tersebut. Seperti biasa mereka berdua memilih untuk duduk di VIP lounge karena tidak suka dengan suasana yang terlalu berisik dan ramai.


“Wegude? Apa yang terjadi? Kudengar kemarin kau tidak pulang?” Tanya Woo Bin saat mereka sudah berada didalam lounge. Jin Ho tidak menjawab, ia sibuk membolak balik menu yang ada didepannya. Akhirnya Jin Ho memesan satu set makanan berat untuk makan siangnya hari itu. Woo Bin memandangnya keheranan, karena setahunya selama ini ia tidak pernah melihat Jin Ho makan begitu banyak.


“Yo men, what’s up? Kau kelihatan sangat aneh hari ini” Tanya Woo Bin lagi.


“Nothing, I’m fine” jawab Jin Ho pendek. Woo Bin hanya bisa menghela nafasnya dan mengangkat bahunya tanda ia menyerah. Kalau sudah kumat begini susah baginya untuk mengorek lebih jauh tentang Jin Ho kalau tidak dia sendiri yang berbicara padanya.


“Bagaimana bisnis barumu? Lancar? Kenapa kau tidak kembali kemari dan bekerja bersamaku lagi” Tanya Jin Ho disela-sela makan siangnya.


Woo Bin terdiam, ia meletakkan sumpitnya. “Apa kau masih butuh asisten?” candanya seraya menyeruput minumannya.


Jin Ho terkekeh pelan “Tentu saja, pintu Lee Corp selalu terbuka lebar untukmu kapanpun kau mau kembali”


“Hmmm, aku pikir-pikir lagi deh, meskipun bisa dibilang bisnis yang aku geluti tidak seberapa lancar karena membutuhkan banyak pengorbanan tapi setidaknya ini sebagai pembuktian diriku untuk lepas dari bayang-bayang orang itu” Woo Bin mengambil kembali sumpitnya “Lagipula tidak asyik kalau selamanya menjadi asistenmu bisa-bisa aku telat nikah karena harus mengurusimu” lanjutnya tertawa.


Jin Ho tertawa “Sialan kau hahhaa!!! Masih berkutat dengan orang itu? well good luck bro apapun yang kau lakukan aku akan selalu mendukungmu” tukasnya.


Woo Bin mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian “Lalu kau sendiri bagaimana? Apa rencanamu selanjutnya. Bro, life must go on lupakan Na Ra dan carilah wanita lain. Diluar sana banyak yang antri untuk menjadi pacarmu atau bahkan istrimu kalau kau mau membuka mata dan hatimu” ujarnya setengah menasehati.


Jin Ho hanya tersenyum kecil dengan perkataan Woo Bin barusan. Dalam hati ia bergumam “Aku selalu berharap semoga aku bisa mengganti Na Ra dengan seseorang yang lebih baik, tapi yang aku tahu kenyataan tidak selalu sama seperti harapan. Betapa aku kini sadar kalau aku teramat sangat mencintai Na Ra”


**************************************

Jin Ho dan Woo Bin berjalan kembali menuju ke kantor Jin Ho, sesekali mereka bercanda akrab layaknya sebelum Jin Ho koma. Saat Jin Ho masuk keruangannya, ia tiba-tiba berhenti.


“Na Ra-ssi” gumamnya pelan. Woo Bin yang berada dibelakangnya melongok ke dalam ruangan itu dan mendapati sesosok wanita sedang berdiri di depan jendela ruangan kantor Jin Ho. Na Ra spontan menoleh kearah mereka berdua dan tersenyum lembut. Ia kemudian berjalan menghampiri mereka berdua.


“Woo Bin-ssi, apa kabar? Lama tak jumpa” sapanya pada Woo Bin. Mereka bersalaman dan berpelukan akrab.


“Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu?” Tanya Woo Bin balik. Na Ra hanya menjawab dengan senyuman “Baik juga” jawabnya pendek. Jin Ho masih terdiam. Ia membisu ditempatnya. “Jin Ho-ssi bisa kita bicara sebentar” ujar Na Ra lembut, Jin Ho tidak menjawab, ia  berjalan menuju ke mejanya dan menghempaskan dirinya dikursi kerjanya.


“Oh, kalau begitu aku pamit dulu” tukas Woo Bin tiba-tiba, ia melambaikan tangannya kepada Jin Ho dan tersenyum kepada Na Ra sebelum pergi yang diamini oleh Na Ra dengan pandangan terima kasih atas pengertian Woo Bin.


Saat ini hanya tinggal mereka berdua diruangan itu sepeninggal Woo Bin. Jin Ho masih duduk dikursinya, pandangannya mengarah ke layar laptopnya meskipun pandangannya terbilang nanar.


“Ehem, Jin Ho-ssi” panggil Na Ra pelan, ia agak ragu-ragu memulai pembicaraan saat melihat Jin Ho seolah mengabaikannya.


“Hmm” jawab Jin Ho tanpa melepaskan pandangannya dari laptopnya.


“Bisakah kita mulai pembicaraan ini?”


“Bukankah dari tadi kau sudah bicara kakak ipar” tukas Jin Ho ketus, Na Ra tertunduk lesu ditempatnya. “Apa suamimu tahu kau pergi menemuiku karena setahuku Hyung orang yang pencemburu” lanjutnya. Na Ra semakin merasa terpojok, ia terdiam, hatinya mencelos matanya berkaca-kaca.


“Cukup Jin Ho-yya, cukup… katakan padaku aku harus bagaimana supaya kau bisa memaafkanku” ujar Na Ra pada akhirnya, ia sudah sangat pasrah sekarang. Bibirnya bergetar namun ia coba untuk tidak menangis. Jin Ho mencelos “Bodoh, lagi-lagi kau menyakiti hati seorang wanita, kenapa denganmu Jin Ho” batin Jin Ho.


Jin Ho beranjak dari kursinya, ia menatap keluar jendela, memandang barisan gedung-gedung di depannya. Ia kembali menghela nafasnya berat. Na Ra hanya bisa menatap siluet punggung Jin Ho dengan pandangan nanar, ingin rasanya ia memeluk punggung itu. Dulu hal itulah yang selalu dilakukannya, saat ini sejujurnya ia begitu merindukan hal itu, namun ia sadar hal itu tidak mungkin dia lakukan lagi “ah seandainya ini hanya mimpi betapa ingin aku kembali ke masa lalu” batinnya perih. 10 menit berlalu dalam keheningan hingga akhirnya Jin Ho berujar.


“Na Ra-ssi, sejujurnya sampai saat ini aku masih tidak bisa mempercayai semua ini, aku selalu berharap ini semua hanya mimpi” ujarnya pelan, ia membalikkan badannya perlahan, menatap lurus kearah Na Ra yang tertunduk. “Namun, aku sadar seberapa kerasnya hatiku menolak untuk menerima, tapi ini semua kenyataan yang harus aku hadapi. Jujur sampai sekarangpun aku masih tidak bisa mempercayai bahwa dirimu sekarang telah menjadi milik Hyung bahkan sebelum sampai aku melepaskan hidupku.” Jin Ho berhenti sejenak, ia menghela nafasnya pelan.


“Apa kau tahu betapa sakitnya hatiku sekarang, bahkan jika aku menangis sekarang, Itu pun tak bisa kembalikan dirimu lagi” lanjut Jin Ho, ia bergetar mencoba mengontrol emosinya. Ia kembali menatap Na Ra yang ada dihadapannya.


Gadis itu terisak pelan, air matanya mulai menetes satu persatu membasahi pipi mulusnya.  “Miane….” ia menangis. Jin Ho tersenyum hambar, perlahan, ia menjulurkan tangannya, menghapus air mata gadis itu dengan jari-jarinya.


“Kau tahu apa yang aneh Na Ra-ssi” ujarnya kembali, Na Ra yang sedari tadi merunduk, perlahan mendongakkan kepalanya.


“Bagaimanapun sakitnya hatiku, tapi aku sama sekali tidak bisa membencimu. Aku maafkan semua ini, meskipun setengah hatiku menjerit tidak ingin melihatmu lagi. Namun setengah hatiku berkata lain. Sungguh aku bisa memaklumi ketidaksabaranmu untuk menanti bejana cinta yang aku tinggalkan untuk sesaat”


Na Ra mendesah perlahan “Jin Ho-ssi….” Ia menatap Jin Ho dalam. 


“Sudahlah…..lupakanlah Na Ra-ssi. Kau tak mungkin lagi untuk kumiliki. Aku hanya berharap ini jalan yang terbaik untuk kita. Meskipun harus menanggung sakit yang terasa menikam jiwa untuk berpisah denganmu dan menghilangkan semua rasa yang pernah ada diantara kita, aku akan mencoba berdamai dengan perasaanku ini. Aku akan berdoa demi kebahagiaanmu dan Hyung” tukas Jin Ho lirih ia mencoba untuk tersenyum ikhas meskipun jauh didalam hatinya ia merasa sangat hancur saat ini. Kini ia merasa menjadi orang yang paling tolol sedunia, menjadi seorang pembohong yang dulu sangat dibencinya karena semua yang ia katakan sesungguhnya sangat bertentangan dengan hatinya.   


Na Ra tersenyum “gomawo-yyo Jin Ho-ssi, terima kasih atas pengertianmu sekali lagi maafkan aku” sesalnya. Ia tersenyum kearah Jin Ho


“Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?” pinta Na Ra membuat Jin Ho agak gelagapan menanggapinya, namun perlahan ia merengkuh tubuh mungil Na Ra dan membawanya kedalam pelukannya. “Tentu” jawabnya kemudian. Merekapun berpelukan, sangat erat seolah tidak ingin dipisahkan.


“Saranghaeyo cinta pertamaku, maafkan aku yang telah menyakitimu dan selamat tinggal” batin Na Ra. Cukup lama mereka berpelukan sampai tidak menyadari bahwa beberapa meter dari tempat mereka berdiri, seseorang tengah memandang mereka dengan perasaan campur aduk.


**************************************

Satine memutuskan untuk menghabiskan liburannya dengan berjalan-jalan disepanjang daerah Insa-dong. Puas menikmati karya-karya seni tradisional yang banyak bertebaran disepanjang jalan, Satine berhenti di sebuah café mungil yang letaknya agak terpinggir dari keramaian jalan. Perlahan ia melangkah memasuki café tersebut. Suasana hangat dan nyaman langsung menyambutnya ketika ia masuk kedalam café. Mengingat dinginnya cuaca diluar.


Satine menikmati setiap sudut interior café tersebut. Ruangan dengan nuansa yang lembut dan menenangkan, beberapa lukisan terpajang apik dibeberapa sudut dinding ruangan. Alunan music klasik contemporer menambah nyaman suasana café tersebut.


Satine memilih duduk didekat jendela yang langsung menghadap keluar ruangan. Ia memesan segelas coffee latte panas saat pelayan datang menawarkan menu. Ia mengambil sebuah travel handbook yang diletakkan di sebuah rak buku tak jauh dari tempatnya duduk. Kali ini ia mengambil buku tentang benua Eropa. Satine membolak-balik halaman buku tersebut penuh rasa kagum, sesekali ia tersenyum kecil ketika ia melihat suatu hal yang menarik hatinya. Tanpa ia sadari seseorang memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi.


Meskipun Satine memakai topi untuk menutupi sebagian wajahnya namun masih terlihat guratan senyuman yang menarik Jin Ho. Senyuman yang begitu tulus diwajah polosnya terlihat begitu cantik dengan kedua lesung pipi yang dalam saat gadis itu tersenyum. Sangat kontras ketika mereka bertemu terakhir kali. Namun Jin Ho merasa ada sesuatu yang kurang digadis itu. Ia berfikir sejenak. Ya pandangan mata gadis itu, meskipun ia selalu memandang Jin Ho tajam namun Jin Ho merasa melihat begitu banyak kesedihan dan kebencian disana. 


Perlahan Jin Ho bangkit dan berjalan mendekati Satine. “ehem” dehemnya pelan saat ia sudah berada didepan gadis tersebut. Satine spontan mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya kearah Jin Ho. Wajah Satine mendadak berubah menjadi kecut ketika melihat sosok Jin Ho yang berdiri dihadapannya. Senyuman yang tadinya menghiasi bibirnya mendadak hilang berganti dengan bibir cemberutnya. Ekspresinya kembali datar dan dingin. Alisnya bertaut keatas seakan-akan berkata ‘Kau lagi’. Jin Ho menjadi salah tingkah dibuatnya. Seingatnya baru kali ini ia bisa tiba-tiba kehilangan rasa percaya dirinya ketika berhadapan dengan seorang wanita terlebih-lebih hanya seorang wanita penghibur.


“Apa aku boleh duduk disini? Kebetulan sekali kita bertemu lagi nona” sapanya ramah. Jin Ho mencoba bersikap wajar, sedangkan Satine ia hanya terdiam memandang Jin Ho tajam. 


“Apa café ini milikmu?” tebak gadis itu.


Jin Ho tersenyum seraya menjawab “Emm bukan juga sih, tapi ini punya ibuku. Aku hanya sesekali membantu mengelola café ini” jawabnya.


Satine sedikit kaget karena well tebakannya tidak meleset, iapun bergumam pelan “Sial sekali nasibku hari ini” gumamnya, Jin Ho mengernyitkan alisnya bingung.


“Yya, chakaman. Kau mau kemana” cegah Jin Ho saat ia melihat Satine mulai  membereskan barangnya dan bersiap beranjak pergi.   


“Menurutmu?” hardiknya. Iapun bersiap melangkah pergi namun langkahnya terhenti saat ia merasa ada tangan yang menahannya.


“YYa, nona kenapa kau ini pemarah sekali sih? Memang apa salahku padamu? Oke kemarin mungkin aku pernah menyinggungmu dan aku minta maaf soal itu jadi bisakah kita berdamai?” ujar Jin Ho memelas, Satine pun terdiam, ia tiba-tiba tersadar. Ya memang benar apa yang dikatakan oleh pemuda dihadapannya ini, sesungguhnya ia tidak berhak menyalahkan Jin Ho dan melampiaskan kekesalan dirinya pada pemuda itu. Satine melirik ke tangan Jin Ho yang masih meremas tangannya. Jin Ho mengikuti arah pandangan Satine dan refleks melepaskan genggamannya.


“Miane…” sekali lagi Jin Ho meminta maaf. Untuk orang yang mengenalnya hal ini merupakan hal yang luar biasa karena tidak biasanya ia meminta maaf berkali-kali apalagi kepada orang asing, namun entah kenapa Jin Ho seolah-olah tidak bisa berkutik dihadapan Satine.


“Sudahlah lupakan” jawab Satine. Ia kembali merebahkan tubuhnya di kursi sofa.


“Oh ya, kita belum berkenalan, kenalkan aku Lee Jin Ho dan agashi? Siapa nama anda?” Tanya Jin Ho basa-basi.


“Apa  pentingnya anda tau nama saya!! Lagipula bukan sesuatu yang istimewa untuk diingat” jawab Satine datar. Jin Ho terdiam mencerna kata-kata Satine barusan, ia hanya bisa tercengang dengan jawaban gadis dihadapannya tersebut.


“Setidaknya, dengan mengetahui nama anda adalah langkah pertama proses pertemanan kita”


“Anda tidak sedang mabuk kan? Teman? Jangan konyol. Orang terhormat seperti anda tidak mungkin memasukkan seorang wanita penghibur dalam friend listnya” ujar Satine dengan nada getir. Ia tersenyum simpul kearah Jin Ho.


“Sudahlah kalau memang anda tidak ingin menyebutkan nama, it’s ok. Saya tidak akan memaksa” ujar Jin Ho pada akhirnya. Ia terlalu capek untuk berdebat dengan Satine. Mereka berdua kembali terdiam. Satine mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ia terlihat asyik memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dikejauhan sana. Jin Ho hanya bisa ikut memandang kearah pandangan yang sama dengan Satine. Satine mengalihkan pandangannya pada langit kelabu yang menjatuhkan kristal es putih. Diluar sana salju mulai turun berterbangan dari langit laksana butiran-butiran kapas halus, sangat indah. Dan Jin Ho secara tidak sengaja menangkap sebuah senyuman dibibir mungil Satine. Meskipun sebentar namun sangat indah dengan mata yang memancar indah.


“Salju turun lagi…!” gumam Satine pelan.


“Kau suka salju ya..?” Tanya Jin Ho memecah kesunyian. Namun yang ditanya tak jua menjawab. Gadis itu hanya diam memandang butiran-butiran Kristal yang mulai berjatuhan ke bumi.


"Menurutmu, kalau salju mencair ia akan jadi apa?" akhirnya Satine bersuara, sebuah gumaman kecil lebih kepada berbicara kepada dirinya sendiri.


'Anak ini mempermainkanku, ya?' batin Jin Ho. "Sudah pasti jadi air, kan?" jawabnya. Satine hanya tersenyum tipis namun penuh arti mendengar jawaban Jin Ho. Ia menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin. Sejenak kemudian, iapun bersiap berkemas.


“Kau mau pergi? YYa kau bahkan belum menjawab pertanyaanku tadi” Tanya Jin Ho


“Pertanyaan yang mana..” jawab gadis itu alisnya mengernyit bingung.


“Tadi…, jawaban dari pertanyaanmu…!”


“Oh, yang itu?” 


“Dhe!!” tukas Jin Ho antusias


“Lupakan saja” jawab Satine cuek. Gubrak!!! Membuat Jin Ho terbengong oleh sosok gadis yang penuh misteri ini.


“Chakaman!!!” cegah Jin Ho saat Satine akan bersiap pergi.


“Apa lagi sih..?” ujar Satine sedikit kesal.


“Hutangku kemarin” ujar Jin Ho mengeluarkan dompet dari saku celananya. Diambilnya uang sebesar 100 ribu won dan disodorkannya kearah Satine yang melihatnya sekilas. Satinepun mengeluarkan dompetnya dan akan menarik beberapa lembar uang kembalian namun ditolak oleh Jin Ho dengan berkata


“Ambil kembaliannya!” ujarnya.


“Maaf, saya tidak terbiasa berhutang kepada pelanggan” tolak Satine juga dengan tetap menyodorkan uang sebesar 30ribu won kearah Jin Ho membuat pemuda itu semakin kikuk dibuatnya.


Tiba-tiba suara ponsel Satine berdering. Gadis itupun sontak meraih ponselnya dan menekan tombol jawab.


“Yeoboseyo, oppa. Dhe…dhe… iya sebentar lagi aku berangkat, dhe… bye”


Setelah pembicaraan singkat tersebut, Satinepun beranjak kearah kasir diikuti oleh Jin Ho dibelakangnya. Saat gadis itu akan membayar Jin Ho kembali mencegahnya.


“Sudahlah, aku traktir!!!” tukas Jin Ho membuat Satine sedikit terganggu olehnya. “Anggap saja, permintaan maafku atas kejadian kemarin nona, plis” lanjutnya cepat dengan nada memohon sebelum gadis itu kembali mengeluarkan amarahnya, senyuman tersungging di bibir Jin Ho.


“Hhhh….” dengus gadis itu. Namun ia urung marah ketika melihat senyuman maut Jin Ho. Segera dibiaskannya senyuman itu dengan melangkah keluar meninggalkan Jin Ho begitu saja. 


“Terima kasih” ujar Satine pelan. Jin Ho kembali tersenyum. Ia masih memperhatikan gerik gadis yang kini memunggunginya saat ia melangkah kepintu keluar. Satine merapatkan mantelnya sebelum ia melangkah keluar. Jin Ho masih memperhatikan bayangan diri Satine yang berjalan diantara reruntuhan salju dan memperhatikan sampai bayangan punggung itu menjauh dan menghilang.


“Kau pasti sudah gila Jin Ho” gumam Jin Ho pada dirinya sendiri.



**************************************


Satine berjalan menyusuri taman kota. Ia berhenti di sebuah halte bus dan ikut berdiri mengantri bersama beberapa calon penumpang yang lain. Ia mendongakkan kepalanya keatas, memandang kembali kearah butiran-butiran salju yang masih berjatuhan dan enggan untuk berhenti. Ia menghembuskan nafasnya yang membentuk uap udara mengingat dinginnya cuaca saat itu.


Dalam hati ia berpikir. ‘Kenapa aku menanyakan tentang itu padanya yah? Apa jawaban yang kau harapkan Satine-aa, tentu saja karena mereka orang yang berbeda’ batin gadis itu pelan. Tidak lama kemudian bus yang ia tunggupun datang. Satine bergegas melangkah masuk dan memilih duduk dibarisan paling belakang disebelah jendela yang agak sepi. Sepanjang perjalanan ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari luar jendela.


“Menurutmu kalau salju mencair selanjutnya akan jadi apa?”


“Tentu saja air, pabo!!! Masa begitu saja tidak tahu…”


“Kau salah….!!!”


“Eh…?”


“Kalau salju sudah mencair tentunya ia akan menjadi ………”



Penggalan dialog-dialog dari masa lalunya, kini bergantian bernyanyi di pikiran Satine. Gadis itu kembali menghembuskan nafasnya. ‘Aku memang sudah gila…!!!’ gumamnya pelan.



**************************************

To Be Continued……




And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^