Author Topic: SECRET RAINBOW, colab by me, voldi and itaraya--> Green : Part 4, 6 August 2011  (Read 16253 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
SECRET RAINBOW
A 2011 MinSun Fanfiction Colaboration by Lovelyn, Voldy, Itaraya

Yellow : Part 5



Tok … tok … tok …

“Agashi!!”

Ketukan dan panggilan pelan dari lorong luar membuat Eryn menengadahkan wajahnya yang tertelungkup di atas bantal. Dia menoleh kearah pintu. Dengan malas-malasan dia bangun ke posisi duduk di atas ranjang.

“Masuk!” perintah Eryn datar.

Pintu terbuka, dan sosok jangkung Gavin memasuki ruangan dengan sepasang tangan tertancap di saku jasnya.

“Tuan Kim meminta agashi sarapan bersama di ruang makan . ,” lapor Gavin hormat. Tubuh jangkungnya membungkuk sedikit sehingga pandangannya tidak bertemu langsung dengan tatapan Eryn.

Eryn menghela nafas. Sekujur tubuhnya masih terasa lelah setelah nangis semalaman. Agak goyah, dia turun dari ranjang.

“Ya—araso, Gav .. ,” jawabnya pada Gavin.

Gavin perlahan-lahan mengangkat kepalanya, dan melihat Eryn menuju ke kamar mandi yang berada dalam ruangan itu.

“Saya cuci muka dulu, Gav. Kau tunggulah di situ! Jangan ke mana-mana .. ,” perintah Eryn tanpa memalingkan wajahnya.

“Ne, agashi .. ,” sahut Gavin pelan. Diikutinya sosok Eryn sampai menghilang dalam kamar mandi, setelah itu pandangannya dilemparkan keluar jendela.

Masih sangat pagi kala itu, sekitar pukul 6 lewat 45 .. dan mentari pagi terlihat malu-malu menunjukan kuasanya lewat bayang-bayang pohon dan gorden jendela yang terbuka separuh.

Sepuluh menit kemudian Eryn keluar kamar mandi dengan paras yang mulai segar. Tidak terlihat lagi lingkaran hitam yang sejak semalam senantiasa mengantung di kantung matanya, .. dan juga, mata sembab serta merah akibat terlalu banyak menangis.

Eryn mengenakan pakaian sekedarnya, .. kaos putih yang dipadu dengan celana pendek sedikit di atas lutut. Dia berjalan mendahului Gavin menuju ke pintu, begitu dilihatnya ‘pemuda cool itu’ menundukan kepalanya kembali seperti posisinya sebelum memasuki kamar mandi.

“Saya sudah siap .. ,” ucap Eryn sambil melanjutkan langkahnya. “Kita turun sekarang .. “

“Ne, agashi .. ,” sahut Gavin nurut.

Dia mengikuti Eryn dengan raut datar seperti biasanya.

“O ya, Gav .. “ Mendadak Eryn memperlambat lajunya, .. sehingga ... Gavin terpaksa menengadah dan mencoba menangkap apa yang akan diucapkan Eryn selanjutnya.

“Gumawo .. buat hiburan semalam .. “ Eryn berkata lambat-lambat.

“Hm—“ Cuma itu reaksi Gavin mendengar pengutaraan Eryn. Langkahnya dihentikan guna menghindari bersitubruk dengan gadis itu.

“Saya tahu, seharusnya tidak marah padamu . .,” sesal Eryn.

Gavin menghela nafasnya, lalu .. “Miane .. ,” ujarnya pelan.

Eryn mengeleng dengan cepat, dan keras. “Tidak. Itu bukan salahmu .. ," tukasnya, .. dengan posisi yang masih membelakangi Gavin. "Tugasmu tidak mengijinkan membongkar rahasia itu, benar bukan? .. Seharusnya saya memaklumi .. Tapi malam itu saya benar-benar kehilangan akal sehat .. “ Dengan mengambil tekad, Eryn berbalik menghadapi Gavin. “Sorry, Gav .. “

Gavin mengangkat kepala, .. berikut pundaknya. “Tidak apa-apa .. “

“Saya sudah memikirkannya masak-masak .. ,” lanjut Eryn. Kali ini sikapnya jadi serius.

“Maksud agashi?” tanya Gavin.

Alisnya berkenyit perlahan. Dan, .. ini sebenarnya agak mengherankan. Mengingat biasanya Gavin tidak pernah menunjukan rasa ingin tahunya, .. tapi kali ini entah mengapa, .. pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari mulutnya.

Eryn mengigit bibir bawahnya sebelum menjawab. “Saya bukannya tidak suka pada Ashley .. ,” mulai Eryn sambil mengerakan langkahnya kembali.

Melihat itu, Gavin menyusulnya dengan menyejajari langkahnya di sebelah Eryn, .. hanya berjarak satu dua langkah di belakang majikan mudanya itu.

“Saya tahu dia pria yang baik, dan .. saya juga cukup menyukainya . .,” curhat Eryn ke Gavin. "Dia sangat sopan, .. dan juga humoris .. "

“ .. “ Pengawal pribadi itu menyimak dalam diam.

“Tapi .. bagaimanapun .. saya sangat kaget mendengar rencana perjodohan itu. Tidak! Maksudku, shok berat—itu yang kualami kala itu .. Aku tidak menyangka perkembangannya akan secepat ini .. Aku rasa belum bisa menerimanya .. “

“ .. “ Gavin menjatuhkan pandangannya ke lantai. Bayang-bayang mereka terlihat memanjang, .. begitu dekat .. dan terlihat sangat bertolak belakang ketinggiannya. Bayangannya sendiri sangat jangkung, sedangkan bayangan Eryn terlihat sangat mungil dan kecil dibandingkan dengannya.

“Aku tidak pernah menyangka masih ada perjodohan di jaman ini .. “ Eryn tersenyum hambar. “Walau aku cukup menyukainya, maksudku si Ashley .. tapi, untuk menerima perjodohan tersebut … apalagi pertunangan sebulan setelah itu, sungguh-sungguh membuatku stress … Makanya aku sangat terpukul semalam .. Aku tidak bisa tidur, .. hanya ingin menangis dan menangis .. “

“ .. “ Pandangan Gavin nanar tertuju ke bayangan-bayangan mereka.

“Menurutmu, apa yang harus kulakukan Gav?” Eryn tiba-tiba berbalik pada Gavin.

“Eh--?” Gavin mengangkat wajahnya.

“Bagaimana pendapatmu tentang perjodohan ini?” selidik Eryn.

Gavin membalas pandangan Eryn. Selama beberapa detik dia tidak bersuara. Sampai akhirnya dia menghela nafas. “Seperti yang sudah kuutarakan sebelumnya pada agashi .. “

“Dia bukan pria baik-baik?” Eryn tersenyum.

Gavin membalas tatapannya, .. lalu mengangguk pendek.

“Dia merencakan sesuatu yang buruk?” lanjut Eryn.

Kembali Gavin menganggukan kepalanya.

“Kau takut dia menyakitiku, iya kan?” ujar Eryn.

“ .. “ Gavin tidak menjawab.

“Karna tugasmu menjagaku, maka kau selalu waspada terhadap segala sesuatu, benar begitu?” selidik Eryn lebih dalam. Dia menginginkan kepastian, apakah Gavin melindunginya murni hanya sebagai pengawal pribadi, ataukah menganggapnya seorang sahabat.

Gavin masih tidak mengeluarkan suaranya selama beberapa lama. Ditatap Eryn dengan pandangan seperti itu, membuat sekujur tubuhnya jadi tegang. Dia bergerak sedikit, .. setelah agak nyaman, dia membalas tatapan Eryn kembali.

“Saya akan melindungi agashi, apapun yang terjadi .. “

“Jeongmal?”

“Ne!”

Eryn tersenyum. “Gumawo .. ,” ucap Eryn seraya mengerakan kakinya kembali. “Kurasa sekarang semuanya sudah jelas .. "

" ... "

Gavin menatap punggung Eryn yang makin menjauh dalam pandangannya. Sepasang iris gelapnya meredup .. meredup .. dan meredup .. Secara perlahan kakinya digerakan kembali, .. mengikuti sosok Eryn yang sudah menuruni tangga.


------O-------




Eryn sampai di ambang pintu ruang makan dengan diekori Gavin dari belakang. Gadis itu menghentikan langkahnya, dan menunjukan raut 'tidak suka' kepada orang-orang yang sudah duduk mengelilingi meja makan, abojinya--Tuan Eros Kim, dan adik tirinya--Joe Kim.

Gavin terlihat melirik Eryn sekilas, .. lalu mengambil keputusan mendahuluinya masuk ke ruang makan begitu dilihatnya Eryn tidak berinisiatif sama sekali buat menghampiri ayah dan dongsengnya tersebut.

Gavin sampai di depan Eros dan Joe, kemudian membungkukan badannya. "Agashi sudah di sini .. "

"Kami bisa melihatnya!" tukas Joe cepat.

Mendengar itu, Gavin hanya bisa tersenyum kecut. Perlahan, dia mundur ke belakang.

Sedangkan Eros segera mengibaskan tangannya pada Gavin. "Kau keluarlah, Gav! Tidak ada perintah dariku, jangan masuk kemari .. Ada yang ingin kubicarakan dengan Ern .. "

Gavin mengangguk pendek. "Ne .. "

Gavin berbalik dan melangkah ke pintu, di mana Eryn masih setia mendengarkan dengan tampang cemberut.

"Masuklah, Ern .. Kita sarapan bersama .. ," perintah Eros sambil mengalihkan perhatiannya pada putri sulungnya itu.

Gavin melewati Eryn, namun tiba-tiba .. terasa tarikan di tangannya.

"Jangan pergi .. ," pinta Eryn dengan suara tercekat. "Temani saya di sini ... "

Gavin melirik tangannya yang dicengkram Eryn, .. lalu berpindah ke wajah gadis itu, .. sebelum akhirnya berpaling pada Eros dan Joe yang membalas tatapannya dengan pandangan menegur.

"Sosoengheyo, agashi ... ," tukas Gavin pelan. Perlahan dilepaskannya genggaman Eryn dari tangannya. "Tuan Kim punya sesuatu untuk dibicarakan pada agashi .. Saya tidak boleh lancang berada di sini .. "

Eryn mendesah. "Tapi, Gav ... Saya .. takut .. "

Pandangan Gavin dan Eryn beradu. Selama beberapa lama tidak ada yang bersuara, .. sampai Gavin menganggukan kepala buat menenangkan Eryn.

"Saya akan berada di luar jika agashi butuhkan ... ," kata pemuda jangkung itu dengan nada berbisik.

"Ern--" terdengar teguran tajam dari Eros. "Masuk sekarang juga!" perintahnya tegas. "Tidak baik mematung di depan ruang makan sementara orang-orang yang berada di dalam menunggumu buat sarapan!"

Eryn menoleh lambat-lambat dan agak segan. "Gav ...," desisnya kembali, .. dengan nada memohon.

Namun Gavin tidak mampu berbuat apa-apa. "Masuklah .. " Hanya itu yang bisa dikatakannya.

Setelah mengangguk kaku pada Eros dan Joe, begitu juga Eryn yang sudah bergeser sedikit ke ruang makan, .. Gavin beranjak keluar kemudian menutup pintu dengan sangat pelan.


-------O-------




"Kau masih marah pada appa?"

Eros memulai pembicaraan setelah Eryn menjatuhkan diri di kursi di depannya.

"Tidak bisa menerima keputusan appa?" lanjut Eros kemudian.

Eryn mengangkat kepalanya yang tertunduk menghadapi piring berisi sarapan di depannya. Dia tidak menjawab.

"Appa tahu kau masih marah .. ," tebak Eros. " .. mungkin, sangat marah malah .. Karna appa tidak membicarakan ini sebelumnya, iya kan?"

"Terlalu .. mendadak ... ," desis Eryn.

"Ya, appa tahu .. ," sesal Eros.

"Sudah tidak ada waktu lagi, noona .. ," Joe mendadak menimpali sambil memasukan sepotong daging panggang ke dalam mulutnya.

Eryn segera berpaling pada Joe dengan kening berkenyit. "Tidak ada waktu?" ulangnya tidak mengerti.

"Maksud Joe .. Kami takut Ashley berubah pikiran .. " Eros menyerobot sambil mempelototi putranya. "Teruskan makanmu, Joe!" katanya dengan nada menegur.

Joe mengerucutkan bibirnya, .. dia mengangkat pundak, lalu kembali menyibukan diri dengan sarapannya yang masih tersisa setengah. Diangkatnya gelas orange yang terletak di meja dan meneguknya sampai habis.

"Nambah, butler Lee!" serunya pada seorang pria berpakaian rapi yang berdiri tegak di sudut ruangan.

Pria itu mengangguk, menghampiri meja dan mengangkat poci transparan yang berada paling pinggir, untuk kemudian menuangkannya pada gelas Joe.

Kejadian kecil tersebut tidak menarik bagi Eryn. Setelah teguran Eros tadi, .. dengan tenang, dia memulai sarapannya.

“Jadi .. bagaimana, Ern-a?” Eros bertanya kembali. “Apa kau setuju dengan rencana pertunangan tersebut?”

Eryn menengadah. “Apa saya punya pilihan lain?” Dia balas bertanya.

Eros mengeleng tegas. “Tidak! Bagaimanapun, kau harus menerimanya!”

Eryn menghela nafas lelah, “.. Karna itu, buat apa minta pendapatku .. ?”

“Karna kau yang akan menjalaninya .. ,” tukas Eros.

Eryn mengangkat bahu. Dia menyesal sekarang, .. kenapa menyetujui sarapan bersama orang-orang yang mengaku keluarganya ini? .. Kalau tahu begini kejadiannya, … dia akan memaksa Gavin untuk tetap tinggal di sini, apapun konsekuensinya.

“Saya bersedia menerimanya . .,” kata Eryn lirih. Eros dan Joe terlihat membelalakan mata. “Tapi dengan satu syarat!” tukas Eryn cepat. Dia tidak ingin perkataannya yang belum habis, .. dipotong begitu saja.

“Okay .. “ Eros Kim menukas cepat. “Apa itu?”

“Saya ingin bekerja . .,” jawab Eryn. "Saya bosan terkurung terus di sini .. "

“Tidak masalah .. “ Eros segera menyetujui dengan mengangkat tangannya. “Apa yang ingin kau lakukan? Katakanlah! Appa akan mengaturmu sebuah jabatan di perusahaan!”

“Bukan pekerjaan seperti itu!” bantah Eryn.

Eros terlihat mengerutkan alisnya. “Jadi .. ?”

“Saya tidak tahu apa yang kalian lakukan di perusahaan … bergerak di bidang apa perusahaan tersebut, … dan saya juga tidak ingin tahu .. ,” sergah Eryn capek. “Saya hanya ingin melakukan dan bekerja sesuai dengan apa yang saya sukai .. “

“Apa itu?” selidik Eros. Kegiatannya sarapan sudah berhenti sama sekali. Apa yang dikatakan Eryn sudah menyita seluruh perhatiannya sekarang. Melihat keseriusan ayahnya, Joe ikut menoleh dan mendengarkan dengan seksama.

Eryn mengigit bibir, .. sambil mengambil tekad, dia melanjutkan. “Saya ingin mengajar musik … “

“Musik?” ulang Eros heran, .. seakan kata itu baru pertama kali didengarnya. “Aneh .. ,” gumamnya tidak jelas.

“Aneh?” Eryn menatapnya bingung. “Maksud anda?”

“Kau mempunyai kegemaran seperti ommamu .. ,” jelas Eros.

“O—“ Eryn menganggukan kepalanya mendengar penjelasan Eros. Dia kemudian tersenyum. “Benar. Saya dan omma memang sama-sama menyukai musik .., terutama piano .. Karena itu saya bermaksud mengajar piano, .. ya, kalau anda tidak keberatan .. “

“Baik.” Eros menyetujui tanpa berpikir lagi. “Mengajar piano juga bukan ide yang buruk .. Appa akan mencarikan tempat buatmu untuk meluruskan cita-cita itu .. Sebuah sanggar musik dan tari, bagaimana?”

“Jeongmal?” Eryn membulatkan mata tak percaya.

“Ne.” Eros mengangguk. “Tapi harus di sekitar sini,  tidak boleh jauh-jauh. Appa akan mengutus beberapa orang membantumu .. “

“Ghamsamida .. ,” ujar Eryn hormat dan sangat resmi, .. tidak layaknya seorang anak yang sangat bahagia karna telah diberi permen ayahnya. Walau dia sangat gembira saat itu, dan ini bisa dilihat dari sepasang matanya yang bersinar riang, .. dia tetap bersikap layaknya orang asing terhadap ayahnya ini.

Eros tersenyum membalas ucapan terimakasih Eryn. “Satu hal lagi, anak ku .. “

“Dhe?”

“Jangan memanggil ku dengan sebutan anda, Tuan, atau sejenis itu .. ,” larang Eros sambil mengerak-gerakan telunjuknya. “Araso?”

“Eh—“ Eryn tercekat. Sendok berisi sup yang dibawa ke mulutnya, digigitnya pelan. “Sa .. saya  .. usahakan .. ,” ujarnya kemudian.

Eros mengangguk dan berusaha menenangkan dengan senyumnya. “Appa menunggu saat-saat itu .. Sekarang habiskanlah sarapanmu .. Akhir-akhir ini, makan mu sedikit sekali .. “

“ .. Ne .. “ Eryn mengigit bibir, lalu melanjutkan makan makanan yang masih memenuhi piringnya.  


------O------



Malam itu, Eryn duduk di halaman belakang Kim’s Mansion sambil menengadah ke langit … dengan ditemani Gavin yang berdiri agak jauh di belakangnya. Malam tak berbintang, hanya diterangi bulan sebatas sabit yang tampak begitu dekat dari bumi. Eryn menghela nafas panjang, .. setelah itu menumpu dagunya pakai tangan kanan.

“Gav .. ,” panggilnya dengan sangat pelan.

Gavin bergerak sedikit dari posisinya yang menyandar di tiang penyangga. Pandangannya yang sedari tadi menerawang ke angkasa kelam dipusatkan ke punggung Eryn.

“Ne, agashi .. ,” sahutnya tidak kalah pelannya.

“Tahu tidak .. apa itu ‘pelangi’?” tanya Eryn setelah terdiam cukup lama.

“Pelangi?” Gavin mengerutkan alisnya. Dengan segera, dia menengadah ke langit. Kerutan di jidatnya semakin dalam. “Maksud agashi?” tanyanya bingung. Yang dilihatnya di atas langit sana adalah bulan sabit yang agak tertutup awan, dan bukan pelangi seperti yang Eryn maksudkan.

“Ne, pelangi . .” Eryn mengangguk tanpa berbalik. Perhatiannya masih terpusat ke bulan sabit yang bersinar redup. “Omma sering bilang, .. pelangi itu belahan jiwa, orang yang akan menemani seumur hidup .. ,” lanjut Eryn dengan pikiran menerawang.

“ .. “ Tidak terdengar sahutan dari Gavin.

“Sejak dulu saya percaya … “ Eryn tersenyum samar, .. senyuman yang tentu saja tidak mampu dilihat Gavin karna posisi mereka yang tidak memungkinkan. “Saya bahkan pernah menganggap .. kau ‘Secret Rainbow’ ku .. “

Gavin tersentak. Iris gelapnya memencar. “Secret Rainbow? Saya?”

Eryn mengangguk. Dengan posisi masih membelakangi Gavin, dia menoleh. “Ne.”

“Tapi, … kenapa .. ?” tanya Gavin bingung. Untuk kesekian kalinya dia heran, .. kenapa begitu banyak pertanyaan terlontar dari mulutnya akhir-akhir ini?

“Karna kau selalu berada di sisiku .. ,” sahut Eryn. Dia menghela nafas, dan membiarkan angin malam membelai wajah dan rambutnya yang tergerai sampai ke punggung. “Kau senantiasa menemani langkahku, kemanapun aku pergi .. dan ini sudah dari kecil .. Mungkin juga karna perkataan omma, aku punya anggapan seperti itu .. “

“Secret Rainbow?” Gavin mengulangi kata itu, .. sangat pelan dan hanya berupa bisikan yang tidak mungkin terdengar Eryn karena duduknya yang cukup jauh dari tempatnya berada.

“Sebulan kemudian, mungkin segalanya akan berubah .. “ Terdengar Eryn berkata lirih. “Kau bukan lagi pengawal pribadiku … Setelah aku menikah nantinya, kau tidak diperlukan lagi buat melindungiku .. “

Gavin terlihat menghela nafasnya. Perlahan, pandangannya tertumpah ke lantai yang terbuat dari marmer gelap.

Eryn meluruskan badan, … bangkit dari duduknya lalu turun ke tanah lapang yang beralas rumput. Dia lalu menjatuhkan diri di rerumputan yang terpangkas pendek. Sekarang, pandangannya utuh tertuju ke angkasa luar, .. tanpa terhalang apapun.

“Saya tidak tahu apa Ashley merupakan pelangi seperti yang omma maksudkan .. “ Suara Eryn terdengar mengaung di telinga Gavin.

Gavin memejamkan mata dan mengelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja, dia merasa pening, .. pandangannya sedikit kabur. Dengan susah payah Gavin memicingkan mata, dan mulai mengutuk diri .. Ini pasti akibat dari seringnya ngalong dan tidak tidur mulu!

“Kalau dipikir-pikir, .. omma pasti berbohong .. ,” sambung Eryn beberapa saat kemudian. “Mana mungkin pelangi, .. orang yang akan menemani seumur hidup .. “ Eryn tertawa hambar. “Pelangi kan tidak muncul setiap saat .. ,” sergahnya kemudian, sambil mengelengkan kepala perlahan. “Omma hanya ingin aku tidak merasa sendiri di dunia ini .. Pasti begitu!”

Gavin berusaha membeliakan mata dari posisinya. Pandangannya makin mengabur saja. Agak terhuyung, dia melepaskan punggungnya dari sandaran di tiang penyangga, dan berusaha berdiri tegak.

“Agashi … ,” panggilnya lemah. “Apa tidak sebaiknya .. kita masuk ke dalam? Udara di sini sudah semakin dingin .. “

Eryn bangun dari posisi baringnya. “Benar. Sebaiknya kita masuk ke dalam saja . .” Dia berdiri, kemudian mengibaskan rumput-rumput kering yang menempel di kaos dan celana pendeknya, .. setelah itu dia beranjak ke dalam. Melewati Gavin, .. tanpa menyadari ada yang tidak beres pada pemuda itu.

dan ..

BRUKK,,

Bunyi bergedebuk keras itu membuat Eryn menghentikan langkahnya. Matanya melebar, .. dengan segera dia berpaling ke belakang. Begitu terkejutnya dia begitu mendapatkan postur jangkung yang tadi masih berdiri tegak di belakangnya, sudah ambruk di lantai.

"GAV!!!" jerit Eryn. Dia menghambur ke Gavin, .. meraih tubuh tidak berdaya itu dan memangku kepalanya di paha. Ditepuknya pipi pucat Gavin berulangkali, .. sambil berteriak keras. "GAV!!! Bangun!! Apa yang terjadi padamu?!! Hey--!!"

Namun, postur yang terkulai lemas itu tidak merespon, .. hanya sepasang mata yang biasanya bersinar tajam laksana elang itu yang bergerak-gerak halus, .. seakan mendengar panggilannya, namun tidak mampu menyahutnya.

"Gav, jangan menakutiku .. , please ... " Eryn mulai menitikan airmatanya. Isakan halus terdengar dari bibirnya yang bergetar. "Tolong! .. tolong ... Adakah yang bisa menolongku ... ," Permintaan tolong yang terlontar dari bibirnya juga terdengar sangat lemah ... Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, ..  Pada akhirnya, dia hanya bisa terduduk lemas sambil mendekap kepala Gavin erat-erat dalam rangkulan tangannya.  


------O------



Author's note : si cool gavin ambruk? sang bodyguard pingsan? si elang putih jatuh? benarkah? tapi kenapa bisa? why? weeyo?!!!

gw manfaatin ide (voldi atau ita ya? au ah lupa wkk ) yang ga tidur waktu ngelindungi Eryn buat menjatuhkan gavin. tidak apa kan sekali-kali gavin dibikin lemah?
well, gw rasa gavin tetap hanyalah manusia biasa,, baik stamina ataupun pertahanannya bakal habis kalau sudah dikuras berlebihan,, kalian boleh menganggap ini ga cocok bagi seorg gavin, atawa .. dia pingsan gara2 mendengar eryn bersedia menerima pertunangan yg diajukan ashley? [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun