Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 25578 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 11 (8 May 2011)
« Reply #345 on: May 17, 2011, 12:11:09 pm »
THE HOSPITAL
Chapter 12

Additional Cast:

Lee Min Jung as Lee Min Jung



Udara sangat panas. Mobil Hye Sun sudah terparkir di depan sekolah Sae Hyun sejak dua jam yang lalu, tapi anak kecil itu tidak nongol-nongol juga. Hye Sun yang kegerahan mengkipas-kipaskan tabloid di tangannya. Sopir Yoon sepertinya cukup tanggap dengan keadaan Hye Sun hingga merendahkan suhu AC, tapi tetap saja sia-sia, udara dari luar lebih mendominasi

“Apa tidak sebaiknya kita kembali ke rumah sakit, Agashi? Biar nanti saya sendiri yang menjemput Sae Hyun agashi,” tawar Sopir Yoon.

“Anhi, tadi di telephone Sae Hyun bilang tidak akan lama. Lagian aku mau langsung mengajaknya makan siang.”

Sopir Yoon tampak manggut-manggut. Hye Sun memperhatikan jalan di sekitar sekolah. Seorang pria terlihat berjalan menyusuri trotoar sambil menelpon. Aneh, di hari kerja pria itu malah kelihatan santai dengan jeans belelnya. Hye Sun jadi kepikiran Min Ho, sedang apa pria itu di kantornya. Hye Sun bahkan belum pernah melihat gedung perkantoran Lee Corporation. Mereka benar-benar terisolir satu sama  lain jika menyangkut pekerjaan. Tidak mengganggu satu sama lain. Dan Hye Sun tidak pernah mau ikut campur masalah pekerjaan Min Ho karena Min Ho tidak pernah membahas pekerjaan jika bersamanya. Rasa ingin tahu Hye Sun semakin membuncah.

“Sopir Yoon,” panggil Hye Sun.
“Ne, Agashi.”
“Kira-kira menu apa yang enak di Cafetaria Lee Corporation?” tanya Hye Sun. sebenarnya itu hanya alasan saja. Hye Sun pernah mendengar kalau Lee Corporation sungguh memanjakan para pegawainya dengan menu enak-enak di cafeteria. Bahkan saking enaknya, Cafetaria itu melayani pelanggan di luar pegawai Lee Corporation, tentu saja dengan pembagian waktu yang tertib. Dan tentu saja Min Ho juga selalu makan siang di sana. Dia ingin menyelidiki keseharian Min Ho.

“Semua makanan di sana enak, Agashi.”

Hye Sun tersenyum simpul mendengarnya. Pukul dua belas siang, Cafetaria hanya melayani para pegawai Lee Corporation, sekarang sudah jam dua siang, itu berarti Cafetaria sudah melayani pelanggan umum.

“Agashi ingin makan siang di sana?”

Hye Sun baru akan menjawab tapi Sae Hyun sudah mengetuk kaca mobil. Hye Sun segera membukakan pintu untuk anak kecil itu. “Kenapa lama sekali.”

Sae Hyun membebaskan diri dari tas ranselnya lalu menjawab setelah duduk manis,”Ada pelajaran tambahan.” Hye Sun hanya bisa meruncingkan bibir. Kalau tahu ada pelajaran tambahan, kenapa anak ini tidak mengatakan sebelumnya? Bikin capek orang nunggu saja!

“Jalan, Sopir Yoon!” perintah Hye Sun.
“Kemana, Agashi?”

Hye Sun menghela napas. “Ke tempat yang kita bicarakan tadi.”
“Araso!”

Sopir Yoon melajukan mobil ke tempat yang dimaksud. Akhirnya Hye Sun tersenyum lega saat semilir angin berhembus di wajahnya.

Sementara namja yang dipikirkan Hye Sun rupanya tengah terlibat percakapan serius dengan Mr. Han di kantornya. Sesuatu telah menarik perhatian Min Ho dan dia sudah menyuruh Han melakukan penyelidikan selama seminggu ini. terlihat kening Min Ho berkerut melihat berkas di tangannya.

“Kau yakin ini nomer mobil Ah In?” tanya Min Ho. Han tampak menatap serius. Anggukan kecil dia berikan pada atasannya itu. “Memang itu mobil Ah In-ssi. Kecuali anda salah lihat pada waktu itu.”

Otak Min Ho semakin menerka-nerka. “Untuk apa dia berada di depan rumah Hye Sun malam-malam?”
“Alasan sebenarnya saya kurang tahu, Tuan Lee.”

Min Ho meletakkan berkas itu di meja. Tubuh jangkung itu menyandar kemudian. “Jadi ada alasan yang tidak sebenarnya?” Han hanya mengangkat bahu merespon pertanyaan itu.

“Penyelidikan mengatakan dr. Yoo sudah lama bersahabat dengan Goo Hye Sun-ssi,” berita itu membuat mata Min Ho terbelalak. Selama ini dia mengira sudah tahu segalanya tentang Hye Sun, tapi ternyata masih ada hal yang terlewat. “Hanya sahabat biasa?” Min Ho jadi meragukan Hye Sun.

“Apa anda akan berubah pikiran jika saya jawab tidak?” Han sepertinya bisa menebak kegundahan hati Min Ho. Apalagi Hye Sun bekerja di tempat yang sama dengan Ah In. dan han tahu betul karakter Min Ho yang pencemburu.

“Itu bukan urusan anda, Tuan Han,” jawab Min Ho. “Laporkan saja apa yang kau tahu.”

“Mereka putus  sebulan sebelum dr. Yoo memperoleh gelar dokternya.”
Sekali lagi mata Min Ho terbelalak. Dia ingat benar saat Ah In menjalani sumpah dokter karena juga datang ke Seoul National University. Dan dia juga ingat benar, dua bulan sesudah itu, Min Ho bertemu Hye Sun pertama kali saat mendaftar sebagai mahasiswa Magister Manajemen di Korean University.
“Mereka sudah putus,” ulang Min Ho dengan tatapan kosong. Han mengangguk. “Yakin sudah putus?” tanya Min Ho lagi.

“Ne, ada masalah, Tuan Lee?”

Min Ho jadi tergagap. Dengan gugup dia memerintahkan Han keluar dari ruangan. “Sepertinya kerjamu cukup hari ini, Han-ssi. Kembalilah ke tempatmu.”

Asisten itu membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruangan. Min Ho menghela nafas. “Kenapa Hye Sun tidak pernah cerita tentang Ah In?” pikirnya. Saat pikirannya mulai curiga seseorang tanpa mengetuk pintu memasuki ruangannya. Seenaknya orang itu menggebark meja dan membuat Min Ho kaget.

“Aish…, Kamu Min Jung-a,” Min Ho jadi jengkel dengan ulah orang itu. Tapi yang dijengkeli sepertinya menikmati wajah kaget Min Ho bahkan tertawa ngakak. “melamun kan Hye Sun?” goda Min Jung.

Min Ho jadi memonyongkan bibir. Sudah lama tingkah sepupunya itu membuatnya sebal. “Ne, tentu saja! Tidak mungkin-lah melamunkan kamu.”

“Ih… najis…,” cibir Min Jung. “Rugi bandar kalau aku sampai dilamunkan kamu. Ngomong-omong, Hye Sun tuh merem kali, ya? Kok bisa suka sama kamu, udah orangnya tinggi banget kaya tiang listrik, hidungnya besar lagi.”
 Min Ho tambah sewot, tapi akhirnya dia bisa mengatasi keadaan dengan bicara, “Ah, kau sirik aja!” Min Jung jadi tambah ngakak. Sampai-sampai ruangan itu cukup bising dengan suara tawanya. Dia harus berdehem untuk menghentikan tertawa lalu mengibaskan tangan. “Aniyo, aku Cuma mau mengajakmu makan siang.  Ke kantin, yuk!! Tapi bayari, ya?”

“Ye, siapa yang ajak, siapa yang musti bayar.”
“Masa bawahan mbayari bos?” tanya Min Jung balik. Gadis ini memang Min HO angkat sebagai salah satu orang kepercayaannya di Lee Corporation.  Biasa, perusahaan keluarga memang seperti itu. Kalau bukan saudara sendiri yang dimasukkan, kurang bisa dipercaya.
“OKe, rupanya kau ke sini Cuma cari makan gratis saja,” desah Min Ho. Min Jung Cuma nyengir kuda. Mereka berdua segera menuju Cafetaria dan menduduki salah satu kursi di sana.

Cafetaria sudah agak lenggang. Rupanya Min Ho agak terlambat makan. Min Jung membaca buku menu dengan sumringah. Min Ho mencibir lagi karenanya.

“Dua bulgogi untukku dan Pak Presdir,” pesan Min Jung pada sang pelayan. Min Ho melotot karenanya. Min Jung dengan spontanitas memutuskan makanan untuk berdua. “Waeyo? Jangan bilang kau tidak suka Bulgogi,”selidik Min Jung sambil menyipitkan mata, bertatapan dengan mata mendelik Min Ho. Pelayan yang mencatat pesanan mereka jadi bingung.

“Aku tidak mau makan Bulgogi sendirian,” ujar Min Jung melas. Min Ho jadi menghela nafas.”Oke, Bul gogi, dan Minumnya dua jus sirsak!” pesan Min Ho. Kali ini Min Jung mendelik. “Kau tahu, kan aku tidak suka Jus Sirsak?” Min Jung jadi mengkernyit jijik membayangkan Sirsak.

“Itu, sih deritamu,” jawab Min Ho cuek. “Dua jus Sirsak,” perintahnya lagi pada pelayan. Min Jung jadi ngambek setelah pelayan itu pergi. Min Ho tertawa-tawa menang. Mereka tidak menyadari kalau ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka. bahkan salah satu dari yang memperhatiakn itu jadi cemberut melihat keakraban keduanya.

“Wah, Anty Min Jung masih manja sama Uncle,” komentar Sae Hyun. Hati Hye Sun jadi tambah panas. “Siapa dia?” tanyanya pada Sae Hyun.

“Anty Min Jung,” jawab Sae Hyun polos. Hye Sun mendengus kesal. “Rupa-rupanya ini yang membuat kau betah kerja Min Ho-a.” Tatapan Hye Sun semakin melebar sementara yang jadi obyek intaian masih saja tidak sadar. Sesekali terdengar gelak tawa. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan ? batin Hye Sun.

“Sebenarnya apa yang kau lamunkan?” tanya Min Jung. Min Ho ragu-ragu buat menjawab.
“Ayolah…, cerita saja. Tidak ada rahasia antara kita sejak kecil bukan?” bujuk Min Jung. Min Ho menyerah juga. “Apa yang kau lakukan jika tunanganmu ternyata pernah berhubungan dengan sepupumu?”
“Bo?” Min Jung terkejut. “Siapa yang kau maksud? Dong hae atau Hong Ki?”

Min Ho menggeleng. “Ah In,” jawabnya.

“Tapi mereka sudah putus, kan?” tanya Min Jung. Min Ho mengangkat bahu. “Entahlah.”
“Apa maksudmu dengan entahlah?”

Min Ho tambah enggan bercerita. Apa mungkin dia bilang kalau dia mencurigai adanya perselingkuhan hanya dengan melihat mobil Ah In terparkir di depan rumah Hye Sun malam-malam. Bisa saja Ah In mengunjungi seseorang yang juga tinggal di area komplek rumah Hye Sun.

“Jangan ada rahasia antar pasangan,” nasihat bijak Min Jung sambil menggerak-gerakkan telunjukknya di muka Min Ho.

“Maksudmu?”

“Kau mencurigainya. Jangan biarkan kecurigaan itu berlarut. Tanyakan padanya dan dengarkan jawabannya. Selanjutnya terserah kau, tapi saranku…. Tetaplah percaya pada Hye Sun.”

“Kau yakin?”
“Seratus persen yakin.”

Min Ho menatap Min Jung sangsi. Gadis di depannya tertawa ngakak. “Baru kali ini aku melihatmu begitu cemburu, Min Ho-a.”

“Aish,” Min Ho jadi keki jadi bahan olokkan.

“Telpon dia,” perintah Min Jung.
“Mwo?”
“Telpon Hye Sun sekarang.”
“Aku yakin dia sedang bekerja. Aku tidak mau mengganggu.”

Min Jung jadi geleng-geleng kepala. “Kau terlalu sopan. Telephon sekarang. Percaya deh padaku.”

“OKe,” Min Ho akhirnya menghubungi nomer Hye Sun. Sontak suara HP Hye Sun terdengar olehnya karena Hye Sun duduk tak jauh darinya. Dan yang lebih tragis lagi, Hye Sun begitu gugup mendapati kalau yang menelpon itu Min Ho, malah tidak segera mengangkat.

“Auty…, HP aunty bunyi, tuh…,” suara Sae Hyun yang cempreng semakin membuat Min Ho yakin kalau Hye Sun ada di dekatnya. Refleks, pria itu mencari sumber suara dan ketika pandangan keduanya beradu, Min Ho menahan nafas, begitu juga Hye Sun yang sangat takut ketahuan kalau sedang memata-matai Min Ho.


Bersambung,ah…. Capek….

« Last Edit: May 17, 2011, 12:20:05 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]