Chapter 6.
Jun yong duduk sendiri dikamarnya. Tatapannya nanar menembus dinding kamar tidur didepannya. Perasaannya kacau untuk saat ini, ingin sekali rasanya Jun yong datang menemui eommanya untuk meminta penjelasan atas prilakuan tadi, tapi rasa takut berhasil menghalangi niatnya itu.
Jun yong bingung kenapa eommanya bersikap seperti itu, apakah ia yang menyebabkan kemarahan eommanya itu, tapi mengapa ??. pertanyaan yang ia coba jawab dari tadi dan sampai sekarang hasilnya nihil.
“Pakk Kim!!!!!!!!!!!!!!..” teriak Jun yong keras dan nyaring, tapi sayangnya teriakan itu tidak cukup kuat untuk didengar seisi rumah sebesar itu.
Seorang pelayan wanita yang mendengar teriakan Jun yong datang terbirit-birit menghampiri tuan mudanya tersebut. “Ada apa tuan??..”
“Mana pak Kim??..” tanya Jun yong kasar. “Aku mencarinya ! bukan Kau!!..”
“Oh miane tuan, tunggu sebentar, saya akan panggilkan pak Kim..” pelayan itu membungkuk dan tergesa-gesa keluar dari kamar Jun yong, sedangkan anak kecil yang berada didalam kamar itu masih cemberut menatap kepergiana pelayan tadi.
“ada apa tuan mencari saya.?” Tanya pak Kim setelah berada di kamar Jun yong.
“Mana Appa??”
“Eh-Tuan besar berada diruang kejanya sekarang, dan beliau tidak mau diganggu..!!”
Jun yong turun dari kasurnya keluar dari ruangan itu tanpa membalas perkataan pak Kim yang melihatnya penasaran. Dengan santai Jun yong berjalan menuju ruang kerja Jun pyo yang berada tak jauh dari kamarnya.
Took..Tokk..Tokk.
Jun pyo berpaling melihat pintu yang terbuat dari kayu itu, ia merasa kesal karena perintahnya tidak patuhi. Keinginannya agar tidak diganggu sekarang malah terusik karena ketukan pintu oleh orang yang tidak ia ketahui. Dengan malas Jun pyo kembali lagi dengan kesibukannya tanpa menghiraukan ketukan pintu yang didengarnya.
Karena merasa tidak di hiraukan Jun yong masuk kedalam ruang pribadi Appa nya itu. Sosok yang pertama kali ia lihat adalah keadaan Appanya yang terlihat hancur. Appanya yang menunduk memegang kepalanya dengan pundak yang turun naik. Sekarang Jun yong yakin benar-benar yakin kalau appanya sedang menangis, yaa menangis sebuah hal yang tidak pernah ia lihat dari seorang Goo Jun pyo, ayah kandungnya sendiri.
Perlahan Jun yong mendekati Jun pyo sedikit ragu ia memegang tangan appanya. Jun pyo yang merasakan sentuhan pada tangannya langsung berpaling. Dilihatnya Jun yong yang berdiri di samping meja kerjanya sambil menatapnya heran.
Secepat kilat Jun pyo menhapus air mata yang sudah benar-benar membasahi pipi dan seluruh wajahnya, kemudian Jun pyo tersenyum menatap Jun yong.
“Appa gwancahana??Kenapa Appa menangis??”
Jun pyo terhenyak pertanyaan yang sama sekali ia tidak tahu jawabannya kini ditanyakan oleh Jun yong anaknya sendiri. “Aniyo..apa tidak menangis kok!. Jun yong salah liat..”
“Appa jangan bohong! Bukannya Appa sediri yang mengajari Jun yong agar tidak bohong! Lalu kenapa sekarang Appa yang bohong sama Junyong..” anak itu menatap Jun pyo pilu, matanya yang bundar menatap Jun pyo tanpa berkedip meminta jawaban dan kepasian.
“Mianhe..” Jawab Jun pyo lirih, kemudian dengan hati-hati Jun pyo mengangkat tubuh mungil Jun yong kepangkuannhya.
“Mianhe untuk apa?..” Tanya Jun yong tidak mengerti maksud pembicaraan Jun pyo.
“”Karena appa sudah bohong.”
“Jadi appa menangis??.” Tanya anak itu.
“Ne..” jawab Jun pyo sedikit ragu.
“Weo..”
“tidak tahu..”
“ah- tidak tahu..bagaimana bisa?..” Jun yong bertanya untuk kesekian kalinya pada Jun pyo.
Jun pyo tersenyum “Ne..appa Juga tidak tahu kenapa menangis...”
“Appa aneh!!!..” Sahut Jun yong kembali “Apa karena eomma??..”
“Aniyo.. bukan karena eomma kok..”
“Lalu siapa? Bibi Jandi.?” Selidik Jun yong.
Jun pyo terhenyak untuk kesekian kalinya, yaa Jun yong benar ia menangis karena Jandi, karena gadis yang amat sangat ia cintai.
“kenapa appa diam? Apa benar kata omma kalau appa dan bibi Jandi saling mencintai..”
Jun pyo berpaling menatap Jun yong, apa yang harus ia jawab sekarang?
“Appa bisa cerita dengan Jun yong kok! Tenang saja Jun yong tidak akan kasih tau eomma, ini kan rahasia antara laki-laki..” Jun yong menyodorkan jari kelingking nya pada Jun pyo, membuat lelaki tampan itu tertawa.
“Jun yong tidak akan mengerti kalau Appa cerita..”
Jun yong mengerut kan alisnya. “Appa Jun yong ini sudah 5 tahun, bahkan 1 bulan lagi umur Jun yong 6 tahun, Jun yong sudah besar Appa. Lagi pula kalau masalah percintaan Jun yong ini jagonya..”
Jun pyo tertawa saat mendengar perkataan Jun yong barusan “Oh-jadi anak appa sudah bisa pacaran ya??..”
“Aniyo, Jun yong belum pacaran kok. Hanya saja banyak sekali gadis-gadis disekolah yang suka sama Jun yong hal itu sangat membuat Jun yong pusing..tapi Cuma satu cinta Jun yong yaitu Kim Hye sun..” Jun yong tersenyum sendiri saat menyebutkan nama gadis yang ia sukai.
“Kim Hye sun ??..”
“Nee.. Kim Hye sun, dia itu cinta pertama Jun yong”
“Idih Sih Jun yong sudah main cinta-cintaan...” Jun pyo mencolek pipi Jun yong berulang kali..
“Appa Jun yong belum selesai bicara..” ucap Jun yong sambil menyingkirkan tangan Jun pyo dari pipinya.
“baik-baik miane, sekang silahkan lanjutkan..”
Jun yong tersenyum. “hehe.. appa tahu tidak kenapa Jun yong bisa suka ama Kim Hye sun??..”
Jun pyo menggeleng sambil terus memperhatikan cerita Jun yong yang terlihat sangat serius, hal ini Cukup membuat Jun pyo terhibur dan melupakan masalah pribadinya.
“Karena hanya Hye sun yang tidak menyukai Jun yong... Appa tahu, disaat semua siswi di Tk shinwa mengejar-ngejar Jun yong. Hye sun malah sangat membenci Jun yong, dia bilang Jun yong ini sok belagu, sok ganteng, dan appa tahu apa yang paling parah, Hye sun bilang Jun yong sangat memuakan dengan rambut keong ini, padahalkan ini kebanggaan yang appa turunkan pada Jun yong..” jelas anak itu sambil memegangi rambut kriting miliknya sambil memonyongkan bibir panjang.
Jun pyo diam di tempatnya, dikepalanya kembali teringat masa-masa saat ia bersama Jandi, di saat semua siswi Shinwa sangat menggilainya tapi di sana Jandi malah sangat menentangnya.
“Appa kenapa??..” tanya Jun yong saat menyadari perubahan raut wajah Jun pyo.
“Aniyo..gwancaha!..” jawab Jun pyo pelan dan kembali tersenyum menatap Jun yong.
“sekarang giliran appa yang bercerita..” pinta Jun yong pada Jun pyo dengan tersenyum memelas.
“appa..” Tunjuk Jun pyo pada dirinya sendir..
“Ne.. sangat tidak adil jika appa tidak cerita sedangkan Jun yong sudah cerita..”
Jun pyo diam dan kemudian mengambil keputusan untuk bercerita “Ne.. baiklah..”
“Horee.. ayo cepat..”
“begini, kamu tahu kenapa Appa bisa kenal dengan bibi Jandi.?..”
Jun yong mengeleng.
“dulu appa paman Ji hoo, paman wu bin dan paman Yi zung itu berteman baik. Kami berempat membuat sebuah kelompok yang bernama F4.. Appa sebagai pemimpinya..”
“Pemimpinya??..” potong Jun yong.
“Ne!! Dulu bbi Jandi adalah orang miskin, dia masuk ke shinwa karena beasiswa atas kebaikannya, sama seperti kamu pada hye sun, dari sekian banyak wanita di sekolah yang memuju appa, bibi jandi malah menentang appa, dan dia bilang sangat membenci appa.. tapi pada akhirnya appa jatuh cinta pada bibi jandi, dan lama kelamaan bibi Jandi juga jatuh cinta dengan appa..” Jun yo tersenyum saat mengigat kenangan yang terasa baru ia lewati kemarin.
“Lalu kenapa appa menikah dengan Eomma??..” pertanyaan Jun yong yang satu ini sangat sulit untuk Jun pyo jawab, tapi dengan tekat bulat Jun pyo mau dan berhasil untuk menjawabnya.
“Hubungan Appa dan bibi Jandi tidak di restui halmoni, karena status ekonomi kami yang berbeda, jadi appa di jodohkan dengan eomma..”
Jun yong memandangi Jun pyo dalam. “Jadi appa tidak mencintai eomma..”
Jun pyo diam, lama kelamaan Jun pyo merasa semakin sulit untuk menjawab pertanyaan Jun yong.
Jun yong yang mengerti ati kebisuan Jun pyo langsung tersenyum “appa, boleh Jun yong bertanya.?’’
“Ne.. silahkan sayang..” Jawab Jun pyo.
“Apakah Appa juga tidak akan merestui hubungan Jun yong dan Hye sun. Kalau ia Junyong akan marah, Jun yong tidak akan seperti appa yang mau di jodohi, Jun yong akan memilih Hye sun, karena Jun yong mencintai Hye sun..” ucap Jun yong tegas dan terdengar sangat dewasa, perataan dari anak yang baru berumur 5 tahun sangat berarti di hati Jun pyo.
“Aniyo.. Appa tidak akan menghalangi hubungan kau dan Hye sun, appa akan merestui mu 100%..”
“OKK.. janji ya??..”
“Ne Appa janji kok...”
Kemudian mereka berdua tertawa bersamaan dengan bahagianya. Mungkin ini hal yang konyol, seorang ayah menceritakan masalah percintaannya dengan gadis lain pada putranya yang baru berumur 5 tahun, tapi tanpa disadari hal ini lah yang membuat kedekatan dan kehangatan yang mendalam dari hubungan mereka berdua.
Hati Jekyong kembali teriris saat mendengar cerita dari anak dan suaminya, untuk kesekian kali Jekyong tahu ini semuanya salahnya, rasa sakit ini dia yang memulainya. Jun pyo atau Jandi tidak pantas untuk di salahkan, ini semua salahnya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.. karena telah memutuskan hubungan dua orang yang saling mencintai..
****OoOoO*****
Jandi tersenyum dan tertawa bahagia bersama kedua orang tuanya yang telah sampai di Korea. Canda dan tawa mengisi ruang apartement pribadi miliknya. Ji hoo yang ada di sampingnya juga ikut kedalam kehangatan keluarga yang ia rasaka.
“Amma,Appa enak yaa kalau setiap hari begini..” Ucap Jandi menatap kedua orang tuanya penuh harap.
Mr. dan Mrs. Geum hanya tersenyum simpul, “Ne sayang..tapi Appa juga tidak bisa meninggalkan perkerjaan apa di sana, Jadi Miane,,”
Jandi menghela nafas berat dan kecewa. Ia sangat mengharapkan suasana kehangatan keluarga ini terus terjalin, tapi disisi lain ia tahu masih ada kewajiban yang harus orang tuanya kerjakan.
“Sudalah..kau jangan sedih. Disinikan ada Ji hoo yang menemani mu.” Mr. Geum menepuk pundak Ji hoo pelan dan menatap pemuda itu bangga.
“Ne. Kau benar sayang, Ji hoo kan selalu menemani mu disini..” giliran Mrs. Geum yang membujuk Jandi.
“Ne.ne aku hanya bercanda kok! Tidak usah dipikirkan..” Tukas Jandi sambil mengibas-ngibaskan tangannya dan tersenyum semeringah. “dan aku tahu selalu ada Ji hoo oppa yang menemaniku..” Jandi merangkul tangan Ji hoo erat memperlihatkan kedekatannya dengan Ji hoo pada kedua orang tuanya.
“hahahahh.. kalian cocok sekali, tidak salah kalau kami dan harabojimu ingin pernikahan ini segera dijanakan..” ucapan itu sontak membuat Jandi langsung melepaskan genggamannya dari tangan Ji hoo.
Mata mereka bedua sama-sama membelak membuat bundaran besar. Mulut mereka menganga tak bisa membalas perkataan barusan.
“Me..menikah?..” Ji hoo berkata dengan terbata-bata.
Jandi yang masih membelak langung mangelihkan pandangannya menatap Ji hoo dan kedua orang tuanya bergantian. “Ne...apa maksud kalian?.”
Kedua orang tua Jandi mengerutkan alisnya , “Ne menikah! Kalian sudah lama pacaran jadi kami rasa kalian sudah siap untuk menikah?!!!..”
**********
« Last Edit: May 29, 2011, 07:08:11 pm by mutiara_minsun »

Logged