Author Topic: SECRET RAINBOW, colab by me, voldi and itaraya--> Green : Part 4, 6 August 2011  (Read 16619 times)

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
SECRET RAINBOW
   A 2011 MinSun Fanfiction Colaboration by Lovelyn, Voldy, Itaraya

Green : Part 1



Sementara tubuh jangkung Gavin masih terkulai lemah di hadapan Eryn, dengan lembut Eryn mengusap pipi pemuda itu, saat setetes air matanya jatuh mengenai pipi pucatnya.

“Ada kah orang di sana...” seru Eryn parau, dengan mata yang berkaca-kaca Eryn dapat melihat tiga orang bertubuh besar berlari kearahnya.

"Agashi, apa yang terjadi?" tanya salah satu di antara mereka, "To..tolong kalian bawa Gavin ke kamarnya" pinta Eryn terbata-bata. Dengan sigap ke tiga orang tersebut membopong tubuh jangkung Gavin, dengan langkah lunglainya Eryn mengikuti ketiga orang tersebut menuju kamar Gavin.
____@@____


Eryn tercengang saat memasuki ruang pribadi Gavin, inilah untuk pertama kalinya bagi Eryn sejak kedatangannya di Kim mainson, menginjakan kakinya di kamar Gavin.Entah mengapa setiap detail dari ruangan itu menjadi daya tarik untuk Eryn, ruang tidur yang sangat-sangat sederhana yang hanya memiliki sebuah almari, sepasang kursi yang terbuat dari rotan berwarna coklat muda mengapit kuat meja bundar di tengahnya dan pembaringan itu. Entah apa yang membuat Eryn bisa merasakan sisi lain dari ‘Secret Rainbownya’ di ruangan ini.

“Agashi” sapaan dari seorang bodyguard Eros Kim, menyadarkan Eryn dari lamunannya. Tatapan mata Eryn mengikuti arah tangan sang bodyguard, Eryn mengerjabkan matanya saat di lihatnya sosok Gavinsudah ada di pembaringan.

“Gav...” seru Erynmenghampiri tubuh lungli Gavin. Eryn meraih lembut tangan Gavin membawa tangan pemuda itu ke dalam pangkuannya, Pelan Eryn meremas telapak tangan Gavin, berharap mendapatkan reaksi dari pemuda itu.

“Gav.., bangunlah please” pinta Eryn, tanpa beralas apapun tangan mungil Eryn mengelap setiap peluh yang membasahi dahi Gavin. Sesaat Eryn menghentikan aktifitasnya, dari sudut matanya dia dapat melihat tatapan penuh pertanyan dari ke tiga orang bodyguard Eros Kim, dan Eryn tahu konsekuensi apa yang akan dia dapatkan jika ke tiga pria itu berkoar di depan Eros Kim.

Eryn bangkit dari duduknya, sedikit memiringkan posisi tubuhnya menghadap ke arah tiga bodyguard Eros Kim, yang sontak membuat ke tiga bodyguard itu ikut membungkukkan badan. “Tuan-tuan, ghamsahamnida untuk bantuannya” ucap Eryn tersenyum manis.

“Gwanchanayo agashi” ucap salah satu dari mereka

“Apa ada yang agashi butuhkan lagi?” tanya pria berkepala plontos cepat

“Anhi, ini sudah cukup” sahut Eryn di sertai gelengan kepala lemah. Untuk terakhir kalinya ketiga orang itu memberi hormat ke Eryn dan satu per satu mereka keluar dari kamar Gavin.

Setelah kepergian ke tiga bodyguard itu dengan sangat pelan Eryn menutup daun pintu itu, dengan mata yang sembab serta hembusan nafas yang berat Eryn menempelkan tubuh mungilnya di balik pintu. Indra penglihatannya tertuju ke tubuh jangkung yang masih berbaring di tempat tidur, sedikit memicingkan matanya menatap wajah pucat Gavin dan peluh yang mulai membasahi sekujur tubuh pemuda itu.
Tanpa berpikir lama Eryn meraih gagang pintu dan menghambur keluar dari kamar, dengan berlari kecil Eryn menghampiri ke tiga bodyguard itu.

“Tunggu sebentar” pintanya pada ke tiga orang tersebut, dengan cepet mereka membalikan badan menghadap Eryn. “Ne agashi”.

“Tolong panggilkan butler Lee” pinta Hyesun tersenyum kecut

 “Ne agashi, apa ada yang lainnya?”

“Anhi, itu saja” ucap Eryn pelan, denga cepat berbalik badan menuju kamar Gavin.

Eryn menghempaskan pelan tubuh mungilnya di samping pembaringan Gavin, seulas senyum mewarnai wajah Eryn saat matanya lekat menatap paras wajah Gavin, mengagumi setiap lekuk wajah pemuda dingin ini yang begitu sempurna di mata Eryn.
Ketukan halus dari balik pintuh mengalihkan pandangan Eryn, “Masuk” jawabnya cepat.

“Sosoengheyo agashi, apa anda mencari saya?” tanya butler Lee memberi hormat.

“Ne.., bisakah kau membuatkanku semangkuk bubur?” pinta Eryn menghampiri butler Lee di bibir pintu.

“Bubur?” tanya butler Lee, pandangan matanya mengamati sosok yang terbaring di tempat tidur. Eryn tahu benar apa yang ada di benak pria separuh baya ini, ‘bahwa seorang gadis berada di kamar seorang pria yang nyatanya adalah bawahan dari sang gadis’. Bukankah itu suatu hal yang tidak masuk akal ?!!.

“Gavin pingsan saat kami sedang berbincang di taman, para pengawal itu yang membawanya ke mari” jelas Eryn singkat, yang di jawab dengan anggukan pelan dari butler Lee.

“Tolong langsung di antar kemaribuburnya!” pinta Eryn memegang kuat lengan butler Lee, “Satu hal lagi, Jika ada yang menanyakanmu mengenai hal ini. Katakan bahwa aku yang memerintahkan” seru Eryn, mengharapkan pria di depannya ini paham dengan apa yang di pintanya.

“Ne agashi, saya mengerti” jawab butler Lee mengangguk pelan. “Apa ada yang agashi butuhkan lagi?”.

“Oh... ne, bisa kau minta pelayan menghantarkan semangkuk air hangat dan washlap?” ucap Eryn cepat, perhatiannya teralih ke sosok Gavin saat di lihatnya kepala Gavin bergerak pelan.

“Ne agashi, saya mohon diri” ujar butler Lee, perlahan keluar dari ruangan itu.

“Gav.., apa kau sudah sadar?” tanyanya mengguncang pelan bahu Gavin, namun pemuda itu tidak memberikan reaksi apapun.

Hanya helaan nafas berat mewarnai kekecewaan Eryn, saat di sadarinya hampir 30 menit pemuda jangkung ini tidak sadarkan diri.
Dengan lembut Eryn mengusap peluh yang mulai membasahi wajah Gavin, dan Eryn sadar sekujur tubuh Gavin juga sudah basah oleh peluh. Dengan bersusah payah Eryn memiringkan tubuh Gavin kekiri dan kekanan berusaha melepaskan jas hitam yang membalut tubuhnya, dengan sangat hati-hati akhirnya Eryn dapat melepaskan jas tersebut Dari kedua lengan kekar Gavin.

Eryn sedikit tersentak saat di lihatnya satu unit pistol menyemat di pinggang Gavin, Tapi apa mau di kata, akan tidak nyaman bagi Eryn jika melihat benda mematikan itu dekat dengannya.Dengan teramat hati-hati Eryn mengeluarkan pistol jenis revolver dari sarungnya, tanpa berpikir lama Eryn menyimpan pistol berwarna hitam legam itu kedalam laci meja di samping tempat tidur Gavin.

Tok...Tokk..

“Ne.., masuklah” sahut Eryn seketika. Eryn bangkit dari posisinya saat di lihatnya pelayan tersebut membawakan air hangat untuknya.

Dengan sangat telaten  Eryn mengusap setiap peluh di wajah hingga ke leher jenjang Gavin. Entah perasaan apa yang datang secara tiba-tiba menyeruak ke sanubari Eryn, saat telapak tangannya bersentuhan dengan dada bidang Gavin.
“Oh Tuhan, perasaan apa ini?” gumamnya pelan, sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
____@@____


“Butle Lee, apa itu?” tanya Joe, saat mereka berpapasan di ruang makan.

“Oh ini, untuk agashi, Tuan muda !” jawab butler Lee sambil memohon diri.

Alis Joe mengkerut saat pandangan matanya mengamati sosok butler Lee berjalan ke arah yang berlawanan dengan kamar Eryn, alhasil membuat Joe curiga, dengan mengendap-endap Joe mengikuti butler Lee dari belakang.
Joe memicingkan matanya, saat pandangannya terhalang pencahayaan yang sangat minim di lorong itu dan Joe tahu betul kamar siapa yang di tuju butler Lee.

“Apa yang di lakukannya di kamar pemuda itu? Bukankah dia bilang, haish...” Joe merapatkan tubuhnya di dinding saat bayangan butlet Lee, tertangkap matanya.
____@@____


“Nuna...?” pekik Joe terbelalak, saat menyerobot masuk ke dalam kamar Gavin, Eryn mengalihkan pandangannya dan sontak berdiri saat melihat Joe berdiri di bibir pintu.

“Apa yang nuna lakuakan di kamar pemuda itu?” tanya Joe tanpa mengurai intonasi suaranya.

“Gavin pingsan, jadi aku merawatnya ” jawab Eryn cuek, Joe yang mendengar jawaban singkat Eryn hanya mampu menggeleng lemah.

“Bagaimana kalau appa tahu?” tanya Joe ketus, “Dia tidak akan tahu jika kau tidak memberi tahunya” timpal Eryn sengit.

Wajahnya Joe Kim mulai mengeras, saat di lihatnya Eryn kembali duduk di tepi ranjang Gavin. Secara tiba-tiba Joe menarik tangan Eryn dan menyeret gadis itu keluar dari kamar, dengan cepat Eryn mengkibaskan tangannya dari cengkraman Joe.

“Apa yang kau lakukan?” bentak Eryn kesal, sambil mendorong bahu Joe hingga membuat pemuda itu mundur beberapa langkah.

“Kenapa kau begitu memperhatikan pemuda itu, nuna?” ucap Joe mencibir.

“Dia... “ Eryn menghela nafas sesaat, pupil matanya membesar menatap Joe. Saat di lihatnya Joe berdiri dengan angkuhnya di pojok ruangan.

“And what?” seru Joe mengakhiri kebisuan di antara ke dua saudara tiri itu.

“Kau mau tahu yang sebenarnya, ‘ Dia ’ pemuda yang terbaring di tempat tidur itu” ucap Eryn, matanya silih berganti menatap Gavin dan Joe.

“Dia adalah orang yang selama ini selalu ada menjaga dan melindungiku di saat aku merasa terancam. ‘Dia’ yang selalu menemaniku di saat aku merasa kesepian, dan ‘Dia’ adalah orang yang paling mengerti aku. Walaupun aku tidak tahu keberadaannya, tapi aku dapat merasakan kehadirannya di sisiku” Ucap Eryn parau.
Sesaat Eryn memejamkan matanya, helaan dan hembusan nafas yang berat keluar dari tubuh gadis itu, mencoba menetralisirkan adrinalinnya yang mulai memuncak.


“Karna dia di suruh appa, bukan atas kemauannya sendiri” aku Joe sambil merapatkan
dirinya di daun pintu.


“Ya, aku tahu itu ! setidaknya dia melakukan tugasnya dengan baik. Tidak seperti kalian (baca Joe dan Tuan Kim) yang melepaskan tugas dan tanggung jawabnya begitu saja” ujar Eryn dengan rasa kecewa.


“Tapi itu karna..”

“Sudahlah Joe, tidak perlu di bahas lagi” sergah Eryn sengit, “Lebih baik kau kelur dari kamar ini, Joe”. Pinta Eryn pelan, namun pemuda itu masih diam di posisinya, matanya tajam menatap Gavin.


“Andwe, aku tidak akan membiarkan nuna bersama pemuda ini” bantah Joe dengan cueknya menatap Eryn.

Eryn mulai merasa muak akan sikap childish dan ke-egoisan Joe yang tanpa sebab begitu membenci Gavin, “Get out now...Joe” pekik Eryn dengan kencang di dorongnya daun pintu itu, alhasil membuat Joe Kim terpental keluar, dengan cepat Eryn mengkunci pintu kamar itu. Tanpa sedikitpun menggubris pekikan dan gedoran Joe Kim dari balik pintu.

Eryn berlari ke sisi ranjang saat di lihatnya Gavin mulai sadar. “Gav.., bagaimana keadaanmu?” tanya Eryn perlahan duduk di tepi ranjang.

“Ag.., agashi” ucap Gavin terbata-bata, sesekali di kerjapkan penglihatannya.


Apa benar adanya bahwa Eryn yang ada di depannya saat ini, Gavin berusaha mengangkat tubuhnya yang lemah, namun niat itu terpatahkan kala Eryn menahan ke dua bahunya.
“Tidak Gav.., kau harus banyak istirahat. Kau tahu wajahmu begitu pucat?”


“Tapi agashi”

“Tidak ada tapi-tapian, kau harus istirahat, aresso !” pekik Eryn pelan.

Mendengar perintah itu Gavin hanya bisa pasrah, dia pun tahu tubuhnya saat ini sangat lemah, jika di paksakan juga tidak ada artinya.

“Lebih baik kau minum ini” pinta Eryn menyodorkan segelas air hangat, Eryn sadar posisi Gavin saat ini sedang terbaring.


“Bisakah kau bangun ?” Tanya Eryn memastikan, Gavin mengaguk pelan,dengan sekuat tenaga Gavin berusaha mengangkat tubuhnya.Namun sial sisatenaganya tidakcukupkuat untuk mengangkat tubuhnya sendiri.

“Biar aku bantu” ucap Eryn saat di lihatnya Gavin kesulitan untuk bangun. Dengan sigap Eryn menopang tubuh Gavin, ke dua tangannya di apitkan di antara pangkal lengan dan badan Gavin, hingga pemuda bertubuh jangkung itu merapat di sandaran tempat tidur. Suatu hal yang langka bagi Gavin saat di rasakannya Eryn begitu dekat dengan dirinya.

“Seperti ini lebih nyamankan” tanya Eryn memastikan, sesaat pandangan wajah mereka bertemu, sangat dekat. Hinga membuat ke dua insan itu terkesima dengan situasi yang ada, hanya mampu saling mengedipkan mata dan menghelaan nafas pelan, dan Bisa di katakan mereka dapat merasakan hembusan nafas di pori-pori wajah mereka.
Namun hal itu hanya sesaat, kala dehem pelan Gavin mengakhiri keterpanaan meraka.


“Ini minumlah” ujar Eryn kaku, dengan cepat mengalihkan wajahnya dari tatapan Gavin.

“Agashi hari sudah larut, lebih baik agashi beristirahat” pinta Gavin pelan.

“Andwe.. setelah kau tidur, baru aku tidur” sahut Eryn memasang wajah cemberut

“Baiklah aku akan tidur sekarang” jawab Gavin perlahan merebahkan tubuhnya kembali sambil menutup matanya rapa-rapat.

Hampir 15 menit setalah Gavin tertidur dan Tidak sedetikpun Eryn mengalihkan pandangannya dari Gavin, seulas senyum puas terpasang di wajah putihnya saat di lihatnya Gavin sudah tertidur pulas.
____@@____


Pagi menjelang kala sang surya mulai menampakan dirinya dari ufuk timur, kicauan burung silih berganti bersautan menyambut datangnya sang surya.

Eryn menggeliat pelan saat ketukan halus dari seberang pintu mulai menyadarkannya dari tidur pulasnya, perlahan Eryn turun dari pembaringan dengan langkah terseret berjalan ke arah pintu.


“Ne..” jawab Eryn dengan wajah tertunduk dalam.

“Apa agashi tidak sarapan” sapa Gavin halus, sontak Eryn memiringkan wajahnya saat mengenali pemilik suara itu.

“Gav.., apa yang kau lakukan di sini?. Bukankah kau masih sakit?”

“Anhi, saya sudah merasa baikan, gumawo untuk semuanya agashi” ucap Gavin membungkukan badannya.

“Apa secepat itukah?” tanya Eryn penasaran.

“Ne.., agashi tidak perlu kuatir ! Tuan besar sudah menunggu agashi di ruang makan. agashi cepatlah turun” ucap Gavin dengan senyum tipisnya.

“Baiklah, aku akan segera turun” sahut Eryn meruncingkan bibirnya, perlahan beringsut masuk ke kamar mandi.
Gavin yang melihat mimik wajah Eryn hanya mampu tersenyum dalam hati.

“Gavin Joen, anda di tunggu Tuan Kim di ruang kerjanya, sekarang juga” ujar pria bertampang angker, sorot matanya tajam menatap Gavin.
____@@____


Tok...Tokk...

“Masuklah” sahut pria dari dalam ruangan itu
Perlahan Gavin menghampiri meja kerja Eros, namun Eros masih berkutat dengan dokumen di depannya, sesekali melirik Gavin dari sudut matanya.


“Kau tahu kenapa aku memanggilmu Gav?” tanya Eros Kim, merapatkan tubuhnya kesandaran kursi.

“Anhiyo, Tuan Kim” sahut Gavin tanpa ekspresi apapun.

“Aku memiliki pekerjaan baru untuk mu” ujar Eros Kim dingin, “Mwo, pekerjan baru?” tanyanya memastikan.

“Ne.., mulai hari ini kau bekerja untukku. Tugasmu hanya mengawasi keluar masuknya barang dari kapal” ujar Eros dengan wibawanya.

“Bagaimana dengan agashi?”

“Aku sudah menyediakan Bodyguard yang terbaik untuknya, dan bagaimanapun sebentar lagi Eryn akan bertunangan dengan Ashley Jung, jadi tidak perlu ada yang di kuatirkan, bukan” jawab Tuan Kim beringsut dari kursi kerjanya menghampiri Gavin.

“Saya tidak bisa menerima pekerjaan ini” sahutnya pelan,  karna Gavin tahu pasti apa jenis pakerjaan apa yang di tawarkan Eros Kim untuknya.

“Apa katamu, tidak ada seorangpun yang bisa membantah perkataanku” ujar Tuan Kim keras.

“Sosoengheyo, saya tidak bisa bergabung dalam serikat kerja anda Tuan Kim” ucap Gavin datar.

Penolakan mentah-mentah dari jawaban Gavin, membut wajah Tuan Kim mengeras alisnya saling bertautan. Mata Eros Kim tajam menatap Gavin, namun orang yang di tatap sedikitpun tidak memberikan eskpresi apapun.

“Apa alasanmu menolak penawaran itu” gertak Eros Kim

“Kerna Kim Tua tidak pernah mengijinkan saya terlibat dalam serikat kerja itu, dan beliau berpesan kepada saya, apapun dan siapapun tidak bisa memaksa saya untuk bergabung di serikat pekerja Kim” jelas Gavin, dari ujung matanya dia dapat melihat kegeraman wajah Eros Kim.


“Pria tua itu,, !!” gumam Eros saat terlintas di benaknya wajah ayah kandungnya.

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, aku beri kau waktu satu hari untuk memikirkan jawabannya…” ujar Eros Kim dengan senyum liciknya.
“Kau keluarlah” ucap Eros Kim mengkibaskan tangannya, yang di jawab anggukan dan bungkukan badan hormat dari Gavin. Perlahan pemuda bertubuh jangkung itu beringsut dari ruang kerja Eros Kim.

“Gav…” panggil Eros Kim, Gavin menghentikan langkahnya sesaat, yang masih memunggui Eros Kim.

“Tanpa penolakan Gav, ingat itu”  ucap Tuan Eros Kim, sekali lagi Gavin hanya bisa mengagung pelan, dengan langkah lebarnya keluar dari ruang kerja Eros Kim.
 
                                            TBC



Author's Note


Mian untuk keterlambatan pengupdate-an part ini jangan salahkan sy, salahkan krjan sy yg lg menggunung-->tetep ngeles [hmpfh] oh iya satu lg mian juga klo part ini membosankan dan berbelit-belit jalan ceritanya ciri khas gw banget ya [hmpfh]
Mami love gumawo tuk idenya  [hug]

[/font][/size]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love