The Maestro
Chapter 16
“Send in the Clowns”
By. Barbara Streisand
Isn't it rich?
Are we a pair?
Me here at last on the ground,
You in mid-air.
Send in the clowns.
Isn't it bliss?
Don't you approve?
One who keeps tearing around,
One who can't move.
Where are the clowns?
Send in the clowns.
Just when I'd stopped opening doors,
Finally knowing the one that I wanted was yours,
Making my entrance again with my usual flair,
Sure of my lines,
No one is there.
Don't you love farce?
My fault I fear.
I thought that you'd want what I want.
Sorry, my dear.
But where are the clowns?
Quick, send in the clowns.
Don't bother, they're here.
Isn't it rich?
Isn't it queer,
Losing my timing this late
In my career?
And where are the clowns?
There ought to be clowns.
Well, maybe next year.
Malam masih larut. Kamar pasangan itu kini menampakkan keremangan dari lampu knop yang terletak di kanan ranjang. Aldian yang terbaring di atas ranjang memandangi roman wajah Joana yang tertidur di pelukannya. Penantian itu telah terbayarkan, senyuman indah terukir di wajah Aldian yang tampan. Sedang wajah ayu Joana begitu tenang dalam tidurnya hingga Aldian mencium keningnya, membuat mata lebarnya perlahan terbuka.
Saat mata Joana bertumpu dengan pandangan mata Aldian. Semburat merah tampak di pipinya, cepat-cepat dia menyembunyikan wajah di pelukan dada Aldian. Membuat pria itu tertawa sebentar, lalu berdehem menghilangkan rasa canggung. “Kau malu, Yeobo?” tanya Aldian.
Di dada bidang itu Joana mengangguk. Aldian mengelus rambutnya lembut. “Kita akan sering melakukannya nanti.”
“Ne, Oppa,” respon Joana masih di posisi yang sama. Aldian mendorong Joana untuk melonggarkan pelukan. Joana berbalik membelakanginya seketika, membuat Aldian tidak terima. “Ya… kenapa berbalik, Yeobo?” protes Aldian sambil memeluk. Joana semakin malu, Aldian mencium tengkuknya dalam dan agak lama. Tangan kekar Aldian menjalari dada Joana, memberikan sensasi yang membuat tubuh mungil itu agak menggeliat.
“Oppa… jangan…,”
Desahan itu tidak diperdulikan Aldian. Saat ini dia ingin mengulangi percintaan itu. Di ciuminya leher Joana, membuat istrinya itu bergerak serba salah. “Aku ingin lagi, Yeobo… Kau benar-benar membuatku bahagia.” Suara berat dan dalam Aldian membuat pertahanan Joana runtuh, perlahan wanita itu menghadap Aldian dan sekali sorga itu berulang.
Malam ulang tahun Aldian merupakan awal baru dalam hubungan mereka. Joana membuka jendela kamar dengan kebahagiaan yang meletup-letup. Aura kecantikan terpancar dari wanita yang terkena panah asmara ini. ketakutan konyol itu sudah berakhir. Dihirupnya dalam-dalam kesegeran udara pagi itu.
Saat angin sepoi berhembus ke wajahnya nan ayu, dia memejamkan mata. Sesaat angannya melayang ke malam sorga itu. Membayangkan ciuman Aldian, sentuhan lembutnya dan caranya membuai lalu tertawa lirih diantara lamunan itu. Tak disadari Aldian agak meringkuk di tempat tidur karena hembusan angin. Saat pria itu membuka mata, yang pertama tertangkap oleh indera penglihatannya adalah sisinya yang kosong, lalu menyusur pandang ke sekeliling ruangan dan melihat sang istri berdiri tegak menatap luar jendela.
“Yeobo…” panggilan lirih Aldian membuyarkan lamunan Joana. Dengan menyunggingkan senyum manis, Joana mendekat. Aldian menyambutnya dengan tangan yang terulur, menarik sampai tubuh mungil itu terbenam dalam pelukan hangat yang indah.
“Aku bahagia sekali, Yeobo…. Terima kasih atas ulang tahun yang berkesan.” Joana mengangguk di antara pelukan itu, saat Aldian mendesah, menikmati aroma tubuhnya yang segar.
“Sayang sekali kau sudah mandi. Kalau belum, aku pasti mengajakmu satu ronde lagi,” goda Aldian yang sukses membuat Joana tertunduk malu. Aldian jadi geli mengetahuinya. “Oke, mungkin lain kali lagi, Yeobo.”
Joana mengangguk sekali lalu teringat kado stelan jasnya. “Oppa ada pertemuan penting hari ini?” tanyanya. Pertanyaan yang membuat Aldian heran. “Ne, waeyo?”
“Aniyo?” jawab Joana masih sambil tersenyum. “Oppa mandi saja. Biar Joan siapkan pakaian Oppa.”
“Apa ada yang istimewa lagi?” selidik Aldian. Joana sudah hampir mendekati pintu keluar saat Aldian menanyakan itu. “Ada deh…,” jawabnya.
“Aish,” Aldian jadi jengkel saat Joana meninggalkan kamar. Mau tak mau Aldian bangkit dari ranjang. Matanya mencari-cari pakaian yang tercecer semalam. Ternyata Joana sudah membereskan semuanya sehingga dia terpaksa menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Saat selimut terbuka, terlihat bercak-bercak tanda keperawanan Joana yang terenggut di sprei, pria ini menatap haru. Sekarang dan selamanya, hatinya semakin tergantung pada cinta Joana. Sungguh besar pengorbanan gadis polos yang sudah menjadi istrinya itu. Hati Joana sangat tulus, dan bersyukurlah dia karena hati itu hanya tertuju untuknya.
Joana berniat mengambil kado ketika Mina Im membersihkan meja makan yang mereka telantarkan semalaman. Ibu pengasuh itu ngomel-ngomel tak jelas, Joana hanya tersenyum simpul mendengarnya.
“Cake meleleh sampai melumber di lantai. Kau juga lupa mematikan lampu spiritus semalam, lihat! Sup jadi asat begini, untung saja tidak terjadi kebakaran,” decak Mina Im. Joana jadi menepuk jidat. Sungguh perbuatan ceroboh. Lampu spiritus itu pasti mati karena kehabisan bahan bakar. Sungguh beruntung bagi mereka karena Joana malas menambah spiritus semalam.
“Miane, Nany,” ringis Joana sambil mencomot kado di atas piano. Mina menoleh galak ke arahnya tapi saat melihat rambut Joana yang masih basah itu, Mina terlihat geli. “Sepertinya semalam ada yang dimabuk cinta,” godanya.
“Nany…,” rengek Joana, malu karena digoda. Tawa Mina memenuhi ruang tengah setelah itu. Joana jadi mendengus sebal, lalu meninggalkannya begitu saja untuk kembali ke kamar.
Aldian keluar dari kamar mandi bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mereka. Hanya selembar handuk terlilit di pinggangnya. Joana memasuki kamar dengan kotak kado ditangan yang segera disodorkan pada Aldian.
“Hadiah untukku lagi?” tanya Aldian sambil menarik kado itu.
“Ne, Oppa.”
“Kenapa hari ini banyak sekali hadiah?”
Joana tertawa lirih. Aldian membuka kotak itu dan terkesima pada stelan jas yang terlipat rapi di dalamnya. Joana mengambil kemeja di kotak itu, lalu memakaikannya di tubuh Aldian. “Hari ini Oppa pakai baju ini saja.”
Aldian merentangkan tangan untuk memudahkan Joana memakaikan kemeja. “Kau pasti menghabiskan uang tabunganmu untuk pakaian ini,” selidik Aldian.
“Anhi,” Joana menggeleng, tangan mungilnya begitu terampil mengancingkan kemeja itu satu per satu . “Stelan jasnya buatanku sendiri,” ujarnya sambil memungut celana. Aldian manggut-manggut. Saat Joana akan memakaikan celana, tangan Aldian menampik.”Celananya biar aku pakai sendiri, Cantik. Aku takut jika terjadi satu ronde lagi.”
Joana memandang cengoh setelah itu. Aldian jadi geli melihat wajahnya. “Aniyo,” kata Aldian sambil mengibaskan tangan,”Siapkan saja sarapan, oke?”
Joana mengangguk mantap. Sebentar saja, ruangan itu hening kembali dan Aldian mengenakan pakaian sambil senyum-senyum tak jelas. Saat pakaian itu melekat pas di tubuhnya, dalam hatinya yang paling dalam, dia bersyukur akan talenta yang dimiliki istrinya itu. Kali ini senyuman bangga tersungging di bibir padat itu.
Mina Im bahkan harus meringkuk dalam kamar karena tidak ingin wajah gelinya terlihat pasangan itu. Apalagi jika melihat rambut keduanya yang masih sama-sama basah. Alhasil, sarapan pagi di ruang makan hanya di hadiri oleh Aldian dan Joana, tanpa Mina yang masih tidak bisa berhenti menertawakan kecerobohan pasangan ini semalam.
Sepertinya Mina Im mulai terbiasa dengan tingkah keduanya yang semakin mesra setelah malam ulang tahun Aldian. Wanita paruh baya itu jadi menyimpulkan alasan Aldian yang dari awal memilih kamar di lantai dua dan menyuruhnya menempati kamar di lantai dasar. Ruang gerak mereka jadi lebih leluasa, setidaknya itulah yang dipikirkan Mina.
Pasangan yang sedang dimabuk cinta itu memang semakin romantis saja. Minggu sore yang biasanya masih dihabiskan Aldian untuk kesibukan desain grafis, kini lebih dikhususkan untuk kebersamaan dengan istri mungilnya. Permainan piano selalu berakhir dengan ciuman panas dan berlanjut dengan langkah keduanya ke dalam kamar.
Mereka baru keluar kamar jika jam makan tiba. Penyakit maag Aldian membuat mereka berdua tak bisa terlambat makan. Biasanya, di dinner Minggu malam, keduanya jadi pendiam. Membisu dan hanya menjawab pertanyaan Mina pendek-pendek. Wanita paruh baya ini memang punya kecenderungan menggoda dan mereka tahu hal ini. Jadi lebih baik menghindari obrolan dengan Mina Im dari pada jadi bahan olokan. Tapi Mina Im cukup tahu diri juga. Mina lebih memilih menginap di rumah Dong Wook tiap malam minggu. Sengaja memberi ruang gerak yang lebih bebas buat mereka berdua.
“Yeobo, kemarilah,” panggil Aldian saat Joana melewatinya di ruang tengah di Minggu sore itu. Joana menoleh dengan pandangan menyipit. “Joan mau menyiapkan makan malam, Oppa,” katanya.
“Bukankah tadi sudah disiapkan Nany?” tanya Aldian.
“Ne, tinggal memanaskannya saja.”
“Ah, nanti juga bisa,” protes Aldian sambil mengibaskan tangan.”Ayo, duduk di pangkuanku,” sambungnya sambil menepuk-nepuk paha.
Joana menggeleng lemah. “Tidak mau,” tolaknya.
“Ayolah, Yeobo. Kau dulu juga sering kupangku waktu kecil,” Aldian masih saja bersikeras. Joana jadi mendekat, berdiri di depannya dengan bibir mayun.”Tapi kan Joan sudah besar, Oppa.”
Aldian melingkarkan tangannya ke pinggang Joana. Dengan satu tarikan, tubuh mungil itu sudah terjatuh di pangkuannya,”Memangnya kenapa kalau sudah besar?”
“ya beda lah , Oppa…” Joana masih ngeyel. Aldian tambah geli saja. “Memang apa bedanya?”
“Bedanya…
“Ayo, yeobo… tunjukkan padaku apa yang kita lakukan waktu aku memangkumu dulu?”
Sesaat Joana berpikir. Dia jadi mengetuk-ngetuk dagu lemah. “Kalau dulu…, Oppa selalu membacakan cerita untukku dan aku…
“Kau kenapa, Yeobo?”
“Aku tidur di dada Oppa, seperti ini…,” jawab Joana sambil merebahkan kepala di dada Aldian.
“Dan sekarang?” tanya Aldian dengan kerling menggoda.
“Sekarang…
Aldian tersenyum licik. Perlahan tangannya mengunci wajah Joana. Ditatapnya wajah ayu istrinya lekat-lekat. “Sekarang, inilah yang kita lakukan, Yeobo….” Perlahan diciumnya bibir wanita kesenangannya itu. Joana memejamkan mata dengan kedua lengan bergelanyut manja di leher Aldian, menggapai gairah suaminya yang menjalar diantara ciuman itu. Senja yang elok merambatkan cahaya jingga ke ruang tengah. Menerpa kecantikan Joana yang memerah, berusaha menggapai udara di antara pasokan yang semakin tipis karena Aldian semakin terlena. Inilah bedanya, Yeobo… Kau membuatku benar-benar mabuk. Bagaimana kau bisa melakukan ini? membuat cintaku terus bertambah setiap hari. Bahkan kau lebih hebat dari narkoba dan akulah pecandu cintamu.
“Hatchih!” Suara bersin Mina Im menghentikan aktifitas pasangan itu. Joana menoleh ke arahnya dan mendengus sebal,”Nany… , mengganggu saja!”
Wajah Aldian langsung memerah mendengar rengekan istrinya. Mina Im malah berlagak bodoh. “Apa salahku, Sayang… Aku bersin karena di sini banyak debu.” Joana jadi tambah mayun.
“Nany panaskan makanan dulu,” kata Mina sambil ngeloyor ke dapur. Sayup-sayup terdengar suara Joana, “Ayo ke kamar, Oppa. Di sini banyak debu.”
GUBRAK! Jadi, yang debu siapa di sini? Mina Im jadi tak habis pikir.
Kemudian terdengar suara langkah kaki mereka menaiki tangga. Pintu kamar tertutup rapat setelah mereka berdua masuk. Joana menarik lengan Aldian dan saat menduduki bibir ranjang, dengan polos dia berkata,”Kita lanjutkan yang tadi, Oppa.”
Aldian tersenyum geli. “Kau yakin?” tanyanya sambil berkerling.
“Ne,” Joana mengangguk mantap.
Aldian semakin mendekat,”Tidak keberatan dengan sambungannya?” Pria ini semakin geli saat Joana menggeleng dengan wajah malu. Joana menaiki tempat tidur. Merebahkan diri, menggeliat sambil menggigit bibir.
“Kau menggodaku, Yeobo?” tantang Aldian, tubuhnya berada di atas Joana dengan kedua tangan yang digunakan sebagai penyangga.
Aldian terkesiap saat tiba-tiba Joana menarik kerah lehernya lalu mencium tanpa ragu-ragu. Lebih-lebih saat telapak tangan Joana menelusup di bawah kemeja, menari-nari di dadanya. Gairah pria ini muncul lagi saat tangan Joana membelai lembut di balik celana. “Kau yang memulai, kau yang harus mengakhiri, Oppa,” bisik Joana kemudian. Aldian tersenyum dan melanjutkan kembali kisah indah di Minggu sore itu.
------ <***> ------
Saat dies natalis kampus tiba, seni music klasik mempersiapkan pertunjukan pentas. Joana semakin sibuk. Kebersamaannya dengan teman-teman kampus membuatnya selalu bersemangat. Mereka bahkan heran dengan keriangan dan kecantikannya yang semakin terpancar. Bahkan gadis yang belum menikah pun kalah, begitu pikir mereka. Para namja tentu akan mendekati Joana jika saja statusnya sekarang bukan Nyonya Lee. Karena kecantikannya itu, Mr. Liu selalu mengikutkannya kemana pun grup orchestra kampus berkompetisi.
Joana dan Albert. Chemistry mereka terjalin apik di panggung orchestra. Namun begitu, penonton cukup tahu siapa Joana. Pernikahan mendadak Joana Goo dan Aldian Lee yang begitu heboh beberapa waktu yang lalu masih belum mereka lupakan. Itu semakin membuat penonton berdecak kagum pada profesionalitas Albert dan Joana. Karena profesionalitas itu, Dara tidak cemburu. Kekasih Albert itu tahu benar kalau Joana sangat mencintai suaminya.
“Sudah siap untuk dua minggu lagi?” tanya Dara setelah berlatih take vocal. Joana mengangguk setelah meneguk air mineral yang dibawanya, “Begitulah, kau sendiri?”
“Aku hanya penyanyi cadangan di sini,” jawab Dara cuek.
“Ya.., kau mendoakan aku sakit?” protes Joana. Dara tertawa ngakak. Apalagi melihat bibir Joana yang maju beberapa centi itu.
“Suamimu tidak protes kau sibuk begini?” selidik Dara.
“Anhi,” Joana menggeleng lemah.”Oppa sendiri juga sibuk. Aku bahkan harus selalu mengantarkan makan siang biar dia tidak telat makan.”
“Jinja?”
“Ne.”
Saat Joana melihat arloji di lengannya, tiba-tiba dia berubah gugup. Dara jadi heran melihatnya, “Waeyo?”
“Sudah setengah satu, Dara-ssi. Aku harus segera mengantarkan makan siang Oppa,” Joana menjawab dengan gugup. Dia takut penyakit maag Aldian kambuh karena keterlambatannya menghantarkan makan siang. Dara merasa kasihan lalu menawarkan bantuan.”Aku antarkan saja kau dengan mobilku, Joan. Agar cepat sampai, Otoke?”
Joana mengangguk senang. Keduanya segera keluar dari studio satu. Malang bagi keduanya karena sedang terjadi pemadaman lampu. Alhasil lift tidak berfungsi sementara. Joana semakin gugup. “Kita lewat tangga darurat saja, Dara-ssi,” ajak Joana sambil mempercepat langkah.
Agak kewalahan Dara mensejajari langkah Joana. “Pelan-pelan, Joan!” teriaknya. Namun semuanya itu hanya angin lalu, Joana bahkan berlari menuruni tangga. Lantai tangga yang agak licin tidak diperdulikan hingga saat seharusnya kakinya menapak anak tangga, dia tergelincir. Dara menjerit keras saat Joana terguling bebas dan berakhir di tikungan karena daratan lebih luas di situ. Wanita itu dengan panic mendekati Joana yang terkapar. “Joana, gwencana?”
Joana masih sadar. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir dan saat terlihat darah segar keluar dari selangkangannya, dia menjerit keras-keras, “Apho!!!” Dara semakin panic. Joana mengerang, menahan sakit di sekitar rahimnya. Dengan gugup, Dara menelphon Albert, mengabarkan keberadaan mereka dan keadaan Joana.
Saat Albert sampai di tempat itu, Joana sudah jatuh pingsan. Pria ini segera membopong Joana ke mobilnya. Di belakang, Dara mengikuti dengan raut wajah cemas. Mereka mengangkut Joana ke rumah sakit terdekat.
“Hubungi Tuan Lee, Albert-ssi!” perintah Dara saat mereka duduk di ruang tunggu. Sementara tim medis memberikan pertolongan pada Joana.
“Aku hanya punya nomor Nany,” jawab Albert.
“Hubungi siapa saja keluarganya!” bentak Dara. Air mata terus saja membayangi pelupuk mata Dara. Terus terang, dia sangat ketakutan saat ini.
Mina Im panic saat menerima telephon dari Albert, bahkan dia tidak mempu mengabarkan berita ini pada Aldian karena selalu saja isak tangis yang keluar. Dengan sebal, Dong Wook mengambil alih telephon. “Istrimu mengalami kecelakaan. Dia sedang di Seoul Hospital, ruang UGD!”
Saat Aldian sampai di Seoul Hospital. Mina, Mei dan Dong Wook sudah ada di sana. Albert dan Dara menatapnya prihatin.
“Apa yang terjadi?” tanya Aldian pada orang-orang yang ada di situ. Tak ada yang menjawab. Semuanya juga belum tahu apa yang terjadi, kecuali Dara tentu saja. Tapi gadis itu masih terlalu shock untuk bercerita. Tangisnya semakin keras di dada Albert.
“Adakah kalian di sini yang memberitahuku?” tanya Aldian jengkel. Pandangannya berkilat, menatap mereka satu per satu. Saat ini dia sedang mengkawatirkan istri mungilnya, dan melihat kebisuan orang-orang itu, ingin rasanya mendobrak pintu UGD yang tertutup.
“Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu,” cerita Dara mengakhiri keheningan di antara mereka. Sesekali segukan kecil menyelingi kalimatnya. Semua orang menoleh ke arahnya. ”Dia begitu takut penyakit maag anda kambuh, karena itu dia tergesa-gesa agar tidak terlambat menghantarkan makan siang.”
Hati Aldian mencelos mendengar semua itu. Penyakit maag sialan. Dalam hati dia selalu menyesali kerentananan pencernaannya.
“Lift tidak bisa dipakai karena ada pemadaman listrik. Kami harus menggunakan tangga darurat…,” kalimat Dara terpotong saat merasa tenggorokannya begitu pahit, susah payah dia menghentikan tangis. “Dia terguling, Albert. Aku takut sekali. Takut sekali!” lanjut Dara tersedu di dada Albert.
Aldian oleng. Dong Wook yang sigap menyangga tubuh jangkungnya agar tetap berdiri tegak. Perlahan, dia melepaskan cengkeraman Dong Wook di lengannya dan berakhir dengan menyandar di dinginnya dinding rumah sakit. Kini kekawatiran itu berubah menjadi kesedihan. Tak pernah disangka, Joana sangat mengkawatirkannya hingga mengacuhkan keselamatan diri sendiri.
Pintu ruang UGD terbuka, semua mata menoleh pada dokter yang keluar dari ruangan. Pria berkaca mata tebal itu menelusur pandang dengan raut wajah penuh empati, lalu bersuara lambat,”Apakah di sini ada suami pasien?”
Aldian terkesiap mendengarnya. Sembari menyeka air mata dia menjawab,”Saya, Dokter.”
“Tolong ke ruangan saya,” perintah dokter itu.
Mau tak mau Aldian mengikuti pria itu dengan langkahnya yang lemah. Di ruang praktek dokter yang muram itu, Aldian harus menerima kabar menyedihkan,”Istri anda mengalami pendarahan hebat. Mianhamnida, kami tidak bisa menyelamatkan anak anda.”
Aldian mendongak, menatap dokter itu dengan mata sangsi. Mereka bahkan tidak mengetahui kehamilan itu dan kini harus mendengar berita keguguran bayi mereka.
“Sepertinya kalian belum tahu kehamilan ini?” tanya dokter itu. Aldian hanya mampu tergugu. Sang dokter menghela nafas,”Jika kalian tahu, tidak mungkin istrimu menuruni tangga secara ceroboh.”
“Dokter…,” desis Aldian. “Be… be…
“Tiga minggu.” Aldian menatap dokter itu sunggu-sungguh.”Jika yang ingin anda ketahui adalah usia kandungannya…. usianya tiga minggu.”
Aldian terisak. Hari ini, tepat empat minggu setelah malam ulang tahunnya. Hati Aldian semakin perih. Seharusnya dia lebih memperhatikan istrinya. Dia begitu ingin mengulang waktu. Jika saja dia tahu kehamilan Joana, sudah pasti dia melarang Joana bekerja terlalu keras. Sudah pasti dia yang akan memperhatikan kesehatan istrinya. Bukan sebaliknya seperti sekarang, Joana begitu mengkawatirkan penyakit maag kambuhannya. Penyakit brengsek! Aldian tetap saja mengumpat, meninggalkan ruangan dokter untuk melihat keadaan Joana.
“Aldian-ssi, gwencana?” tanya Mina.
Perawat sudah memindahkan Joana ke ruang perawatan. Albert dan Dara sudah pergi setelah Dong Wook meyakinkan keadaan Joana sudah terkendali. Mei-mei menjaga Joana yang masih belum tersadar di kamarnya.
Aldian masih saja berjalan lemah. Pandangan matanya menerawang. Mina tambah kawatir melihatnya. “Aldian-ssi?”
Aldian menoleh ke arahnya. “Bayi kami meninggal, Nany,” bisik Aldian. Keterkejutan kini terlihat di wajah Mina. Pria di depannya menangis tanpa suara dan Mina hanya mampu terpaku saat Aldian melewatinya begitu saja untuk menemui Joana.
Joana masih terlelap. Kesan itulah yang Aldian dapat saat menatap wajahnya di kamar itu. Perlahan dibelainya wajah ayu itu. Bahkan di saat kesakitan pun, Joana mampu menampilkan rona malaikatnya. Begitu perih Aldian mendapati hal ini. Joana begitu mencintainya. Gadis yang bahkan umurnya terpaut sangat jauh darinya itu sangat mencintainya. Dia merasa tak pantas menerima semua itu. Akankah dia mampu membalas cinta Joana? itulah yang dia pikirkan saat ini. Lalu terbayang saat Joana mengetahui kabar ini nanti, tentu sangat sedih.
Dan ternyata benar. Saat Joana tersadar dan mengetahui semuanya satu jam kemudian, dia menjerit keras. Meratapi kenyataan itu. Aldian memeluknya erat-erat. Beribu kata menenangkan dari Aldian sepertinya tidak mempan.
“Joan bodoh, Oppa. Joan Bodoh!” teriaknya, masih terisak di pelukan Aldian.
“Tenanglah, Yeobo…,”hanya itu yang bisa Aldian ucapkan.
“Joan bahkan tidak tahu kalau sedang hamil. Joan bukan ibu yang baik,” teriak Joana lagi.
SEketika Aldian membekap mulut Joana. “Jangan katakan itu, Yeobo. Aku mohon jangan.”
“Miane, oppa. Joan bukan istri yang baik.”
Aldian menggeleng lemah.”Kau istri terbaik dalam hidupku. Jangan pernah katakan itu lagi. Aku mohon.”
Tangis Joana melemah. Hingga akhirnya hanya terdengar isakan lirih dari mulutnya dan Aldian masih memeluknya. Semakin lama, perut Aldian terasa perih. Maag sialan itu kambuh lagi. Sambil menahan rasa sakit, Aldian merebahkan Joana kembali. Istrinya berbalik membelakanginya, masih berduka dengan kamatian bayi mereka. Aldian membetulkan selimut di atas tubuh istrinya lalu mencium ubun-ubunnya sambil berbisik,”Tidurlah, Yeobo. Oppa harus bicara dengan Nany sebentar.”
Aldian segera keluar kamar. Dia tidak ingin maagnya yang kambuh diketahui Joana. Dia membungkuk sambil menekan perutnya, meringis menahan sakit.
“Maagmu kambuh lagi?” tanya Mina saat akan memasuki kamar Joana. Aldian mengangguk. Mina menghela nafas.”Makanlah sesuatu di kantin lalu pergilah cari obat. Kau pasti tak ingin Joana melihat penyakit maagmu kambuh, bukan?”
Aldian meringis lagi. Mina Im memasuki kamar setelah dia mengangguk. Pria itu berjalan terbungkuk-bungkuk menuju ke kantin rumah sakit. Maag Sialan!
BERSAMBUNG
« Last Edit: June 04, 2011, 01:11:35 pm by sisicia »

Logged