Chapter III
Malam ini adalah malam terakhir aku disini…
Dirumah ini, di dekat junpyo…
Aku ingin mengakhiri tragedy ini, ingin membuat cintaku bahagia, ya aku akan melepaskannya malam ini, melepaskan jun pyo, dan melepaskan kenangan kami…
***
Awan kelam tak juga beranjak dari hidupku, dan aku membuat orang yang kucintai menderita, itu tak adil bagi jun pyo dan ji eun.
Maka malam ini aku akan mengakhiri kesakitan kami, setidaknya jun pyo akan bahagia setelah semua ini.
Malam ini adalah malam ke 9 jun pyo tak pulang kerumah, rindu…sekali padanya.
Aku mengemasi pakaian-pakaian dan barang-barang pribadiku, aku tak ingin meninggalkan sedikitpun kenanganku, karena itu akan membuat jun pyo terluka.
Dan tepat pukul 8 malam aku pergi kerumah sakit, bukan untuk dinas melainkan untuk mengajukan surat pengunduran diri dan untuk terakhir kali melihatnya.
***
“ jandi-a apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya gaeul mengagetkanku
Aku agak kaget mendengar sapaan gaeul, aku benar-benar tak menyadari kedatangannya…
“hm…gaeul bisa tolong bantu berikan ini pada jun pyo?” ucapku ragu
Aku memberikan surat pengunduran diriku pada gaeul
“kau yakin akan semuanya, kenapa tidak mencoba mendapatkan hakmu?” Tanya gaeul,
Aku biasa merasakan gaeul kecewa akan keputusanku ini…ya tapi mau apa lagi…ini adalah yang terbaik bagi kami…
Aku hanya tersenyum pahit.
“semua ini bukan kesalahan siapapun, aku yakin junpyo pun tak menginginkan semua ini, jadi kumohon jangan pernah menyalahkan dia atau siapapun, karena semua ini tak akan pernah adil buat siapapun,” ucapku menguatkan pendirianku dihadapan sahabatku ini
“tapi…” gaeul berusaha menolak semua pejelasanku
“aku hanya berusaha memberikan sedikit keadilan untuk cintaku, setelah sekian lama dia berkorban untuk orang tuanya dan keluarganya” akhirnya pertahananku roboh,aku menangis pedih di depan gaeul
Gaeul memelukku dia ikut menangis, aku benar-benar tak bisa menahan air mata ini…’terima kasih sahabat kau selalu ada saat masa sulitku’
Akhirnya kuputuskan untuk menyimpan surat pengunduran diriku di ruangkerja jun pyo, sendiri…
Kubuka ruang itu, ruangan yang sangat nyaman, ruangan yang benar-benar menggambarkan jun pyo, kuletakkan suratku dimeja kerjanya dan aku mengembalikan cincin pernikahan kami, dan semua hal yang pernah diberikan jun pyo untukku, karena aku merasa tak berhak untuk mendapatkan itu semua.
‘aku pergi cintaku, aku pamit dari hidupmu,tersenyum dan bahagialah untuk selamanya’ ucapku dalam hati, sungguh ini adalah keinginan tulus dariku.
Saat aku akan pergi, Jun pyo masuk secara tiba-tiba
“hm…sedang apa kamu disini?” Tanya jun pyo padaku,kami sama-sama canggung saat ini…
“akh…miane, tadi ada yang harus aku serahkan padamu, aku kira kamu ada disini” aku bicara tanpa mampu menatapnya, aku takut aku akan menangis dihadapnnya
“apa yang ingin kau serahkan?” Tanya jun pyo lagi
“ini…” aku mengembalikan kunci cadangan kantornya yang dulu pernah dia berikan padaku
“oh…iya…”jun pyo mengambilnya ragu
“aku pamit…” aku segera ingin pergi dari sini
Saat keluar pintu, ternyata diluar ada jie eun, cantik sekali
Aku tersenyum kecil padanya
***
“siapa tadi?” Tanya jie eun pada jun pyo
“oh…itu bukan siapa-siapa, cepat siap-siap, kita akan segera ke rumahmu…” ucap jun pyo
“ok…” jie eun meninggalkan ruangan jun pyo
Saat hendak mengambil kunci mobil di atas meja kerjanya,jun pyo melihat ada surat dan cincin, ya benar itu adalah surat pengunduran diri jandi dan cincin pernikahan mereka, jun pyo tersentak,tapi dia tak bisa melakukan apapun
***
“kenapa diam saja?” Tanya jie eun saat menyadari ada yang aneh pada jun pyo
“hm tak apa…ayo pulang…” jun pyo berjalan seperti tak bertenaga
***
Setelah mengantarkan jie eun dengan selamat, jun pyo segera pulang kerumah, entah apa yang dia cari, dan entah apa yang ia harapkan
Ternyata benar saja ketakutannya, jandi pergi, jandi meninggalkannya, tanpa satu kata/barang yang dia tinggalkan…
“bukankah ini yang sebaiknya terjadi jun pyo, tapi kenapa kau merasa sakit, kenapa kau merasa sendiri” ucap jun pyo beberapa kali pada dirinya sendiri
‘ceklek’ pintu depan dibuka oleh seseorang
Dan ternyata halmoni datang
“nenek kira kau belum pulang?” ucap nenek seraya duduk dikursi
“hm…”jawab jun pyo singkat
Hening
Hening
Hening
“dia sudah pergi?” Tanya nenek pada jun pyo
“iya…”jawab junpyo
“jun pyo-a maafkan nenek, nenek banyak salah padamu, dan semua ini karena nenek, bahkan nenek tak pernah bisa menegarkan anak itu saat ibunya meninggal…” ucap nenek menahan perasaannya
“apa maksud nenek, ibu siapa yang meninggal?” ucap jun pyo takut
“apa kau tak tahu?, apa kau tak disisinya saat itu? Jandi…” ucap nenek pedih, nenek merasa terlalu banyak pengorbanan yang dilakukan jandi untuk keluarganya…
Jun pyo hanya termangu, dia sangat merasa menyesal akan semuanya…
“apa nenek tahu dimana dia sekarang?” Tanya jun pyo tak sabar
“nenek tak tahu…” ucap nenek pahit
***
Aku melangkahkan kaki ditengah guyuran hujan yang cukup deras
Lelah rasanya jiwa dan raga ini, ingin sekali aku berhenti hanya untuk sekedar menangis, dan bernafas.
Aku sampai di pemberhentian bis menuju sebuah kota, yang entah kemana…
Langit masih saja mengeluarkan butir-butir air bening, ku tengadahkan tangan dan mukaku memandang butiran-butiran itu, mungkin kisahkupun seperti butiran hujan ini, yang hanya menjadi selingan diantara musim…
***
Jun pyo menelusuri setiap jalan dikota itu, dia tak bisa membiarkan gadis itu pergi dengan segala kepedihan yang sedalam itu…
Hingga akhirnya dia menemukan jandi di sebuah halte sedang menunggu bis
“jandi…kau mau kemana?” Tanya jun pyo
Jandi yang baru menyadari kedatangan jun pyo hanya tersenyum…
“kenapa kamu disini?” Tanya jandi heran
“kenapa tak pernah marah padaku, kenapa tak mencaciku, kenapa menahan semuanya dihatimu, memangnya sekuat apa kau?” pertanyaan-pertanyaan itu terlontar dari bibir jun pyo
“jun pyo-a apa maksudmu, aku tak mengerti…” ucap jandi berusaha menahan tangisnya
“kenapa tak pernah menahanku…” ucap jun pyo pedih
Hening
Hening
“aku pernah melakukan itu, aku pernah marah, benci, dan menangis untukmu, tapi aku tak bisa menahanmu karena itu tak akan adil untukmu, kau terlalu banyak berkorban, dan terlalu banyak kepedihan dihatimu, aku tak mau jadi satu dari kesakitanmu…jadi pergilah, tersenyumlah, bahagialah…karena akupun akan tegar…”ucap jandi akhirnya
“tak bisakah tetap disampingku? Jangan pernah melihat sikapku pada wanita lain, jangan pernah melihat GOO JUN PYO yang plin-plan ini, cukup diam disisiku itu cukup” ucap jun pyo
Jandi kaget mendengar itu, dia hanya bisa menangis meratapi semuanya…
“apa aku begitu tak berarti bagimu? Hingga kau…hiks…ingin menjadikanku pelarianmu saja, apa aku benar-benar tidak berharga jun pyo-a?” jandi menangis pedih, mendengar apa yang terucap dari jun pyo
“miane jandi-a, a…aku sungguh belum sanggup melepaskan tanganmu…mungkin kau tak pernah tahu betapa berat semua ini untukku, aku mencintainya dan juga mencintaimu…”
“ya ini adalah keegoisanku, ingin memiliki kalian dalam hidupku, tapi sungguh aku mencintaimu…sarangheo…” ucap jun pyo pedih
“gumawo…gumawo…gumawo jun pyo-a banyak sekali rasa terimaksihku untukmu, banyak sekali cintaku untukmu…tapi ingat sayang…”
Jandi mendekat kearah jun pyo, mengenggam tangan laki-laki yang benar-benar dia cintai itu…
“hidup akan berubah setiap saat,setiap kejadian di bumi ini adalah takdir,isilah hidupmu cinta, karena setiap helaan nafas kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku…aku tak ingin menyesal dengan membiarkanmu terus merasa bersalah padaku…karena mungkin hari esok tidak ada untukku…” ucapku meyakinkanya
Aku memeluknya erat, memeluk jun pyo seakan tak ada hari esok lagi…
“jangan pernah mengatakan hari esok tak ada jandi-a karena akan selalu banyak hari-hari berikutnya untukmu, untukku dan untuk kita…”
“jie eun adalah orang yang tepat untukmu, yakinlah…bahagialah…” ucapku agak gemetar…
Jandi pergi dengan semua cinta yang ia punya, dan benar dia tak pernah tahu
INILAH AKHIR KISAH CINTAKU
PADA AKHIRNYA CINTA ADALAH PENGORBANAN
Selamanya, akan tetap seperti itu…
THE END
Ups salah…masih lanjut kok, End chap maksudnya…