Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98647 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Song of the day :



Lyrics : "So Goodbye "

those emotionally day's i will
treat it as a gift and give you
So goodbye , to the lonely me who once hide in the dark
i need you
i need your love again

just like waiting for every other day to arrive
leaving the aching wound and sad recollection of me
the impression of seeing your for the first time
as if the time has stopped, my eyes has got only you
although there is setback
i won't regret
closing my eyes i could feel you breathing
so i could smile


So goodbye don't cry and smile
those Emotionally day's i will
treat it as a gift and give you

So goodbye , to the lonely me who once hide in the dark
i need you
i need your love again
although there is setback
i won't regret
closing my eyes i could feel you breathing
so i could smile
So goodbye don't cry and smile
those Emotionally day's i will
treat it as a gift and give you

So goodbye , to the lonely me who once hide in the dark
i need you
i need your love again
So goodbye don't cry and smile
those exhausted years
for the sake of you i will forget
So goodbye , to the lonely me who once hide in the dark
i need you
i need your love again
i need you
i need you for my love





”Mwo?!! Omma dan appa pulang hari ini?” Daze terlonjak dari kursinya. Ditatapnya kedua orangtuanya tersebut dengan pandangan tidak percaya. “Kenapa se-mendadak ini? .. Seharusnya omma dan appa membicarakannya dulu dengan ku, kan?” Gadis itu melanjutkan dengan nada sedikit mengomel.

Omma tersenyum dan meraih tangannya. “Sudah cukup lama omma dan appa berada di sini, sayang. Sudah saatnya untuk kembali. Lagipula, .. nak Carls harus segera pulang buat menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda .. Dia mungkin membiarkan semuanya terbengkalai begitu saja .. “

Daze melirik Carlson. “Kau ikut pulang dengan appa dan omma .. ?” gumamnya pelan.

Carlson yang menatapnya, tersenyum. “Ne. Saya rasa, .. tidak ada lagi yang kuharapkan di sini .. ,” katanya dengan maksud mengoda.

Namun, .. mendengar perkataannya itu, … membuat Daze semakin merasa bersalah. Segera saja, .. gadis itu menundukan kepalanya. “Miane .. ,” desah Daze penuh sesal.

“Hey—“ Carlson tersentak. “Saya tidak bermaksud begitu, ok?!” ujarnya cepat. “Jangan salah paham, Dazya .. “

“Ne, saya tahu .. “ Daze memotong dengan tidak kalah cepatnya. “Saya tahu kau tidak bermaksud begitu … Hanya saja, .. saya .. saya menyesal buat apa yang telah terjadi .. ,” lanjut Daze pelan dan lirih.

“Gwencanayo .. “ Carlson berusaha menenangkannya. “Saya tidak apa-apa. Gwencana, Dazya .. “

Yang justru reaksi tersebut, .. membuat Daze semakin merasa berdosa.

“Miane .. ,” desah Daze kembali. Dengan iramanya yang makin lemah dan menyentuh.

Dave yang berada di sudut lain ruangan tersebut, bersama istri dan putri kecilnya, .. hanya mampu memperhatikan dalam diam. Sementara, .. sepasang mata elang yang lain, .. menatap tajam dari posisinya yang agak menyandar di sisi jendela. Rathyan mengamati setiap inci adegan dalam ruang tengah tersebut sambil menahan nafas dan mencengkram lengan mantelnya yang terbuat dari kulit warna hitam.

“Omma rasa, .. kau tidak ikut pulang dengan kami, iya kan?” Pertanyaan omma membuyarkan kebisuan yang sempat tercipta dalam ruangan yang tidak begitu besar itu.

Daze mendongak dan melihat kearah omma. “Omma … saya … “ Kata-katanya tidak berlanjut.

Daze terbungkam dalam diam. Dia ingin melanjutkan dengan, Ne. Saya tidak mungkin pulang karna pria yang kucintai memutuskan untuk tinggal di sini! Namun, .. tentu saja dia tidak boleh melakukannya. Selain tidak pantas, .. dia juga tidak ingin dianggap kurang ajar. Demi seorang pria, .. membangkang terhadap orangtuanya. Walau mengingat setahun yang lalu, .. dia pernah melakukannya. Dia bahkan hampir kehilangan nyawanya gara-gara tersesat dalam hutan pada saat badai salju. Mengingat ini, .. Daze jadi merinding.

Daze kemudian menundukan wajah kembali. “Miane omma, .. appa .. “

Omma menghembuskan nafasnya. Sentuhan lembut dari appa tidak mampu memberi ketenangan padanya. Sesaat, .. dia melirik Rathyan yang tengah mengarahkan pandangan keluar jendela, .. sebelum akhirnya dia mendesah dengan nafas yang terdengar berat.

“Kami tidak akan memaksamu lagi, karna percuma .. Kau sudah dewasa, Dazya .. Omma dan appa percaya, kau tahu apa yang kau lakukan .. “

Daze mengangkat kepala perlahan. Ditatapnya omma dan appa dengan pandangan berterimakasih. “Gumawo, omma .. appa .. “ Lalu dia beralih pada Carlson yang saat itu sedang menatapnya. “Kau juga, Carls-a .. Gumawo buat semuanya .. “

Carlson membalas dengan anggukan halus. “Semoga kau bahagia selalu, Dazya .. “

Daze tersenyum. “Ne. Aku akan bahagia .. “ Dia mengangguk dengan pasti. “I believe it .. “ Setelah itu, .. perhatiannya dialihkan kembali pada appa dan omma. “Pesawatnya kapan berangkat? .. Biar kuantar ke bandara .. “

“Tidak usah!!” Carlson melarang dengan segera. “Kau perlu istirahat yang banyak. Lihatlah—kau terlihat lelah sekali. Kami sudah mempersiapkan dan mengatur segala sesuatunya. Mobil yang dipesan, akan tiba sepuluh menit lagi, .. setelah itu, kami akan berangkat ke bandara. .. Pesawat yang kami tumpangi lepas landas sekitar jam dua  kemudian—“

“Tidak perlu kuantar?” Daze terlihat ragu-ragu.

“Iya, tidak perlu.” Appa yang menjawab kini. “Benar kata nak Carls, .. kau perlu istirahat, Dazya .. “

“Tapi, appa .. “ Daze masih berusaha membantah, .. namun segera diputus Dave yang menghampiri mereka.

“Sudah, noona! Biarkan saja appa dan omma berangkat sendiri. Ada Carls hyung yang menemani mereka, .. jadi semua pasti baik-baik saja. Noona tidak perlu khawatir .. “

“Dongseng-a .. ,” Daze mengeluarkan suaranya kembali. Namun sekali lagi, .. Dave mendahuluinya.

“Saya akan membantu omma dan appa mengeluarkan bagasi dari kamar .. “ Kemudian dia berpaling pada Carlson. “Kau juga kan, hyung? .. Bawaan diturunkan sekarang juga?!”

“Eh—ne .. “ Carlson berujar dan bergerak dari posisinya. “Saya rasa sudah saatnya sekarang .. “ Lalu pria tersebut berpamitan pada orang-orang dalam ruangan, kemudian berlalu ke pintu ..

Yang segera diikuti Dave. “Kubantu, hyung!!”

Carlson menoleh sedikit. “Thanks .. ,” katanya sambil mengangguk kecil.

Dua sosok jangkung tersebut menghilang dari pandangan beberapa saat kemudian. Natalie juga berpamitan bersama putrinya, berjarak dua menit setelah itu. Sekarang, .. tinggalah Daze, Rathyan beserta omma dan appa dalam ruangan tersebut.

Sejenak .. tercipta kekakuan di antara mereka. Rathyan masih saja setia bersandar di kusen jendela, .. tanpa berniat beranjak atau mendekat sedikitpun. Daze beberapa kali melirik Rathyan, .. yang untuk sesaat kemudian, dikembalikan pada omma dan appa. Dia sungguh tidak tahu harus berucap apa. Sampai keputusan yang diambil omma dan appa selanjutnya berhasil melegakan perasaannya. Seperti mampu menangkap ketidak leluasaan sikap Daze, .. omma dan appa memutuskan menunggu Dave dan Carlson di serambi depan.


>_______________<



Sepeninggal omma dan appa, .. keadaan menjadi hening. Daze menghampiri Rathyan dengan langkah yang sangat pelan, .. dan tidak menimbulkan suara yang berarti, … yang mampu membuat pemuda itu mengetahui keberadaannya kini. Semua terlihat dari sikap pemuda tersebut yang tidak bergerak dari posisinya. Rathyan masih berada di dekat jendela, .. tidak bergerak, dengan posisi menghadap keluar jendela.

“Rath .. “

Tidak terdengar sahutan dari Rathyan. Perhatiannya masih dipusatkan ke pemandangan di luar, .. yang sudah pasti tidak menarik karna hanya diselimuti lapisan salju yang cukup tebal.

“Apa yang kau lihat .. ?” Daze mencoba untuk memulai pembicaraan di antara mereka. Sekarang, dia sudah berada di samping Rathyan.

Tapi, .. lagi-lagi dia tidak mendapat reaksi dari pemuda di sebelahnya. Rathyan masih menatap nanar keadaan di luar.

“Apakah kau .. “ Suara Daze tercekat. Tiba-tiba saja Rathyan sudah merengkuhnya dari belakang, .. melingkarkan lengan kekarnya dari bagian punggung sampai mencapai tengkuknya yang terbuka. Mulut Daze terbuka perlahan, .. bisa dirasakannya telapak tangan Rathyan yang dingin mendarat di tengkuknya.

Rathyan mundur selangkah, dan merapatkan tubuhnya di punggung Daze. Matanya terpejam, .. lalu menghirup dalam-dalam aroma yang menyerbak dari tubuh dan rambut Daze.

“Perasaanku sangat galau … “ Rathyan mengeluarkan suara setelah kediaman yang berkepanjangan. “Aku takut … “ Perkataannya terhenti. Ditumpukannya dagunya di pundak Daze, … lalu mengecupnya pelan.

“Kau takut .. aku akan meninggalkanmu .. ?” Daze bertanya beberapa saat kemudian. Kepalanya agak diputar, .. menyamping ke sebelah kanan, .. sampai bersitatap dengan Rathyan. “Benar .. ?”

Rathyan tidak menjawab. Dia hanya membalas tatapan Daze dengan matanya yang gelap dan dalam. Daze kemudian mengangkat tangan, .. dan mengelus pelan wajah tegas yang terpahat sempurna itu.

“Jangan khawatir … Saya akan berada di sisimu. Bukankah sudah kujanjikan itu .. ,” ujar Daze pelan, .. sangat dekat di telinga Rathyan, dengan maksud menenangkannya.

Rathyan memejamkan matanya kembali. Mengendus sebentar rambut pendek Daze yang mulai memanjang. Kemudian tangannya yang sebelah kanan menekan pelan wajah Daze hingga makin mendekat dan menempel di wajahnya.

Agak menunduk, Rathyan meraih bibir Daze dengan bibirnya. Mengulum dan melumat bibir mungil tersebut dengan sangat dalam. Terdengar desahan dari mulut Daze. Sebuah perasaan yang sangat aneh dan ajaib kembali dirasakannya setiap kali bibir Rathyan menyentuh seinci tubuhnya. Apalagi begitu aroma cemara yang sangat kental samar-samar mengelitik hidungnya. Sumpah, .. aroma tersebut selalu sukses membuat jiwa dan raganya melayang. Serasa berenang di langit ke sembilan, .. ataupun mendarat di taman surgawi yang teramat indah dan menjanjikan kebahagian kekal.

Ciuman tersebut memanas hanya dalam hitungan detik. Rathyan menurunkan bibirnya ke leher jenjang Daze, .. menyusuri setiap jengkal dengan lidahnya yang panas, .. dan menciptakan stempel-stempel merah di sana. Daze mendesah, .. dia memekik kecil ketika merasakan perih-perih nikmat di sekitar lehernya. Kepalanya agak terangkat, .. sehingga permainan-permainan mereka semakin bebas dan liar.


>_______________<



Rathyan membuka matanya. Dia bernafas lega begitu mendapatkan Daze tertidur nyenyak dalam rangkulan sepasang tangan kekarnya, .. sama seperti kemarin-kemarin.

Dia tidak pergi. Dia tetap di sini, .. di sisiku seperti janjinya .. Begitu kata hatinya berulangkali.

Dia menatap Daze lekat-lekat. Menyentuh wajah mungil tersebut dengan sangat pelan, .. seakan takut akan membangunkan bidadarinya dari tidur manisnya. Dia dapat melihat bagaimana Daze tidur dengan raut yang seperti menyunggingkan senyum. Melihat itu, .. Rathyan tidak tahan untuk tidak ikut tersenyum. Tanpa sadar, … dia tersenyum sangat lebar. Hal yang mungkin hanya bisa dilakukannya di saat bersama Daze.

Rathyan menyangga tubuh dengan lengannya, .. sehingga postur jangkungnya berada di atas Daze. Diamatinya kembali, .. untuk kesekiankalinya dan tanpa merasa bosan, … paras ayu yang menawan tepat di bawah tubuh polosnya. Kemudian lambat-lambat dia menunduk, … menghadiahkan kecupan lekat di jidat Daze yang masih tertidur nyenyak.

“Aku akan membuatmu tidur pulas setiap malam, .. seperti ini … ,” gumam Rathyan pelan dan dalam. “ Aku berjanji, Dazya .. Tidak akan kubiarkan kau menderita lagi, … apalagi, .. mengalami insomnia seperti yang kau alami sejak setahun yang lalu .. “

Rathyan kembali mendaratkan ciumannya, .. kali ini bibir Daze yang menjadi sasarannya. Dilumat dan disesapnya pelan dan lembut bibir ranum Daze. Sampai ciuman tersebut makin menuntut, .. dan Daze memicingkan mata perlahan. Gadis itu tersenyum, .. semula agak terkejut juga, bangun-bangun sudah mendapatkan Rathyan sedang mencumbunya.

Namun, kekagetannya tidak lama. Karna dalam sekejap, Daze sudah membalas cumbuan Rathyan dengan permainan yang tidak kalah bergairah dan liarnya. Tangannya bergayut di leher kekar Rathyan, .. dan menariknya sampai dada bidang tersebut menempel ketat di dadanya sendiri yang tidak tertutup kain.

Sebentar saja desahan-desahan nikmat dan pekikan-pekikan kecil terpantul dari ruangan tersebut. Kamar yang semula dingin dan beku, .. walau sudah dilengkapi penghangat listrik, .. berubah jadi panas dan bergelora.


>_______________<



Rathyan menghentikan langkahnya ketika teriakan nyaring dan cempreng terdengar dari belakang.

“Oppa!!”

Alis Rathyan berkerut. Dengan sangat lambat, .. dia menoleh kearah asal suara tersebut. Dan, .. raut tidak senangnya menjadi makin dongkol saja begitu mendapatkan Jennifer White sudah berdiri di samping mobilnya, berdampingan dengan Tuan Park.

“Weeyo?” Rathyan berbalik dan mendekati mereka. “Kenapa memarkir mobilnya di sini?” tegur Rathyan pada Tuan Park, .. mengindahkan Jennifer.. dan seolah tidak melihat keberadaannya di situ.

“Oppa . .,” rengek Jennifer merasa dicuekin.

Rathyan tidak menjadi acuh. Dia masih menatap Tuan Park dengan sorot mata tajam. Sebenarnya, .. bukan masalah parkir mobil yang membuat Rathyan sejengkel itu, .. tapi terutama, kelancangan asisten pribadi ayahnya ini, yang membawa Jennifer kepadanya yang membuatnya tidak senang.

“Oppa .. “ Jennifer meraih lengan jas Rathyan yang tersetrika licin. “Oppa kok begitu .. ,” rengeknya kembali sambil meruncingkan bibirnya. “Tidak senang apa melihatku .. ?”

Rathyan mengibaskan lengan jasnya dengan ekspresi muak. “Aku tidak ada waktu meladenimu!” katanya dengan nada yang teramat dingin. “Jika ingin bermain, .. ajak yang lain. Aku sangat sibuk . .”

Rathyan membuka pintu mobil dan agak mendorong sampai Jennifer undur selangkah.

“Oppa!!” protes Jennifer.

Rathyan tidak mengindahkannya. Dia sudah masuk ke dalam, dan melempar dirinya di bangku dekat jendela. Kemudian ditunjuknya Jennifer dengan pandangan mengancam begitu gadis itu berniat ikut masuk.

“Kau—pulang sendiri!!” perintah Rathyan menyengat.

Jennifer menerima perlakuan tersebut dengan ekspresi mengangga. Dia tidak menyangka Rathyan akan setegas ini padanya. Walau selama mereka tinggal di New York, .. Rathyan memang tidak begitu mengindahkannya sih, .. namun membentaknya? .. hanya akhir-akhir ini dilakukannya. Begitu Rathyan pindah ke Seoul, .. segalanya seperti berubah. Pasti gara-gara wanita itu!! rutuk Jennifer dengan hati membara.

Rathyan berpaling pada Tuan Park yang masih berdiri kaku di posisinya. “Berangkat sekarang, Tuan Park. Sudah terlambat!”

Tuan Park membungkuk hormat. “Ne, doronim .. “ Dia sadar sudah melakukan kesalahan. Tapi, .. pria malang itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika Jennifer memaksanya untuk diantar menemui Rathyan pagi itu. Selain gadis itu merengek terus, .. hingga menganggu dan membuyarkan konsentrasinya, .. juga karena dia mengancam akan melaporkan kelancangannya pada Oliver jika Tuan Park masih saja bersikeras dengan pengangannya.

Tuan Park menjadi ragu begitu menyadari kedatangan Rathyan hanya seorang diri. Dan seperti mengetahui jalan pikiran asisten berpostur ceking itu, .. Rathyan mengiyakan dengan menganggukan kepalanya.

"Nona Han tidak ikut kita hari ini. Dia kuliburkan. Tidak perlu menunggunya, .. kita berangkat sekarang .. "

Mendengar penjelasan Rathyan, Tuan Park segera membungkukan badan. "Ne, doronim .. " Setelah itu,  pria tersebut beralih pada Jennifer. Dia mengangguk dengan hormat. “Sosoengheyo, agashi … “

Kemudian Tuan Park masuk ke mobil dan duduk di sebelah supir. Jennifer melihat semua itu dengan tangan terkepal. Dia sangat marah. Sampai mobil mewah tersebut meluncur dari tempatnya, .. dia masih berdiri dalam posisi semula. Sebentar kemudian, .. dia melonjak-lonjak menghentak lantai yang beralas rumput.

“Keterlaluan!! Keterlaluan!!!”


>_______________<



Beberapa hari kemudian, .. Oliver Jang mendaratkan kakinya di Perth. Dia dijemput oleh Tuan Park yang telah terlebih dahulu dikabari tentang kedatangannya. Yang tidak disangka, .. Jennifer White ikut dalam acara penyambutan tersebut.

Gadis manis berdagu lancip itu langsung bergelayut di lengan Oliver begitu pria tersebut keluar dari gate bandara.

"Uncle Oli ... ," sapa Jennifer manja.

"O--" Oliver menanggapi dengan senyum elegannya. "Apa kabarmu, Jenny-a .. ?"

"Tidak baik!" Jennifer langsung membalas dengan agak ketus. Tapi itu hanya sesaat, .. sebentar kemudian sikap manjanya keluar lagi. "Rath oppa--dia tidak memperdulikanku ... ," adunya pada Oliver sambil meruncingkan bibirnya yang tipis dan terpoles lip gloss merah muda.

"Mungkin dia terlalu sibuk, sayang ... ," ucap Oliver ringan.

Terus terang saja, .. dia tidak bernafsu meladeni kemanjaan-kemanjaan Jennifer. Setelah Tuan Park mengambil-alih koper dari tangan seorang kuli, .. Oliver mulai mengerakan kakinya kearah gerbang keluar bandara.

"Tapi Uncle Oli ... "

Perkataan Jennifer segera diputus Oliver dengan mengangkat tangannya.

"Kita bicarakan di apartemen saja, nak ... Di sini terlalu ramai dan tidak nyaman ... "

Jennifer terlihat ingin membantah, namun Oliver sudah tidak memperhatikannya. Pemilik Max-Global itu terus saja melangkah, ... tanpa berpaling sedikitpun. Sampai postur jangkungnya tiba di pintu keluar dari kaca, .. dia berjalan keluar dan terbebas dari pandangan Jennifer.

"Uncle Oli ... " Jennifer mendengus.

Dengan tergesa-gesa gadis itu berlari, .. menyusul Oliver dan Tuan Park yang sudah menghilang dari daya tangkapnya.


>_______________<



" ..., kira-kira begitu. Uncle Oli harus melakukan sesuatu .. ," rengek Jennifer setelah menghabiskan ceritanya yang teramat panjang dan terasa menganggu.

Tuan Park melirik dari posisinya di sudut ruangan dekat jendela. Dia tidak mengeluarkan suara.

Oliver yang hanya mendengarkan separuh-separuh cerita tersebut, menaruh koran di tangannya ke atas meja. Dia tidak memperlihatkan reaksi apa-apa ketika Jennifer menatapnya dengan penuh harap. Ataupun ketika gadis itu menyentuh lengannya dan mengerakannya dengan gaya yang dibikin memelas.

"Paman mendengarnya .. ," Oliver berujar ringan. Dia menyeruput sisa kopi terakhir dari cangkirnya, kemudian menatap lawan bicaranya ini. "Ini sudah larut, Jenny-a .. Kau harus kembali ke kamarmu .. ," desak Oliver samar sambil menaruh cangkir kosong dalam genggamannya.

"Tapi Uncle Oli ... "

Rengekan Jennifer terhenti ketika Oliver beranjak bangun dari sofa.

"Kembalilah ke kamarmu ... " Pria itu masih terlihat berusaha bersikap ramah, .. walau kebanyolan dan kekanak-kanakan Jennifer sudah hampir melampaui batas kesabarannya. "Paman tahu bagaimana meluruskan masalah ini, .. jadi serahkan semuanya pada paman. Kau--kembalilah ke kamarmu dan tidurlah .. "

"Uncle yakin bisa menyelesaikannya .. ?" tanya Jennifer, tidak begitu yakin ketika menuju ke pintu. Dia berjalan sambil menoleh ke arah Oliver. " ... sementara oppa .. "

"Uncle tahu apa yang kau pikirkan!" potong Oliver cepat. Dia mengibaskan tangan supaya Jennifer segera keluar dari ruangannya. "Rath memang sulit untuk dibuat mengerti. Tapi percayalah, .. paman punya cara untuk melunak-kannya .. "

"Saya mempercayakan semuanya pada paman ... " Jennifer tersenyum. Dia mengangkat tangan dan melambaikannya pada Oliver, yang dibalas pria tersebut dengan mengangguk pelan. Pintu kemudian ditutup, .. dan ruangan tersebut seketika menjadi sunyi. Oliver menghembuskan nafas. Kelakuan-kelakuan Jennifer memang selalu membuatnya sesak.

"Tuan Park ... " Oliver beralih pada Tuan Park.

Pria yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara dan berdiri kaku di dekat jendela menghampirinya. "Ne, pak presiden?" Tuan Park membungkuk dengan hormat.

"Siapkan segala sesuatunya!" Oliver berkata dengan nada datar. Pandangannya dialihkan keluar jendela yang memperlihatkan pemandangan kelam kota Perth di malam hari. "Setelah meeting dengan Aussie Land, .. urus pertemuanku dengan Nona Han. Masalah ini harus segera diselesaikan--"

"Ne, pak presiden!"

Raut Tuan Park sedikit berubah. Dan, .. hal itu tidak terlihat Oliver yang masih menatap keluar jendela.


>_______________<



"Tidak mau!!" Daze menyembunyikan tangannya ke belakang pinggang.

"Perlihatkan padaku!" desak Rathyan untuk kedua kalinya.

"Kenapa kau reseh sekali pagi ini?!" omel Daze. "Kau biasanya tidak begini?" lanjutnya kembali seraya menghindari terjangan Rathyan.

"Kau sudah berjanji untuk jujur padaku!" balas Rathyan tidak perduli. "Sekarang tunjukan padaku!!"

"Huh--ini bukan apa-apa!" bantah Daze lagi. Dia segera memutar tubuh begitu Rathyan kembali melancarkan serangannya.

"Daze Han!!" Rathyan memandanginya tajam-tajam.

"Sudah kubilang ... ini bukan apa-apa ... " Daze memanjangkan bibirnya.

Kalau sudah begini, .. rasanya dia yang akan kalah. Setiap kali mendapat tatapan tajam dari Rathyan, .. sudah dipastikan, .. lututnya terasa lemah. Dia tidak mungkin dapat membantah. Perlahan, .. tangan yang menyembunyikan sesuatu, terulur kepada Rathyan.

Rathyan memandanginya sejenak, .. sebelum menerima 'benda' yang ternyata secarik kertas tersebut. Rathyan mengamatinya sesaat, .. kemudian .. alisnya bertaut perlahan. "Ini ... laporan kesehatanmu ... ?" tanyanya lambat-lambat.

"Ne ... ," jawab Daze pelan. "Sudah kubilang bukan apa-apa. Di situ tertulis, .. insomniaku sudah sembuh ... "

Rathyan tidak berucap apa-apa. Iris gelap dan tajam bak elang itu menatap nanar huruf-huruf kecil yang tertera dalam kertas di tangannya.

"Tidak apa-apa ... ," ujar Daze kembali. Tangannya bergerak, .. bermaksud mengambil kertas dalam tangan Rathyan. " .. berikan padaku ... "

Namun Rathyan tidak melepaskan genggamannya. Tangan yang memegang kertas tersebut perlahan terkepal, .. membuat kertas di tangannya menjadi lecek. Mereka berdiri dengan posisi seperti itu cukup lama.

"Rath .. " Daze mengerakan tangannya yang memegang ujung kertas. Menegur Rathyan.

Pemuda tersebut tetap tidak merespon. Pandangannya masih setia menempel di kertas laporan dari dokter tersebut.

"Rath ...

Drekk,,,

"Noona!"

Panggilan Daze terputus oleh pintu dapur yang dibuka dari luar. Dave menonggolkan kepalanya dari balik pintu.

"Ada yang nyariin .. "

Daze mengeser posisi yang terhalangi postur gede Rathyan. "Dhuga?" tanya Daze pada dongsengnya itu.

Dave mengangkat pundak. "Tidak tahu. Seorang pria perlente bersama pria lain, yang mungkin bawahannya .. ," jelasnya susah payah sambil mengingat-ingat.

Daze terlihat menyipitkan matanya. Lalu dia beralih pada Rathyan. "Dhuguji? Kira-kira siapa ya--sepagi ini?"

Rathyan tidak menjawab. Seperti juga Daze, ....  alisnya berkerut heran.

"Dav, .. kau mengenal mereka?" Daze mengembalikan perhatian pada Dave.

Pemuda itu mengeleng pelan. "Ahniyo! Baru pertamakalinya saya bertemu dengan mereka .. "

"O--" Daze membuka mulut, kemudian mengangguk. "Katakan, saya segera turun. Akan menemui mereka lima menit lagi--"

"Ne .. "

Dave menarik diri dan menutup pintu dapur di depannya. Keadaan menjadi hening kembali. Memanfaatkan kesempatan itu, Daze merebut kertas di tangan Rathyan sebelum sempat diprotes. Lalu mundur ke arah pintu.

"Saya akan menemui para tamu tak diundang itu dulu--"

"Chakaman!"

Tangan Daze yang sudah bersiap menekan gerendel, terhenti. Gadis itu menoleh dari posisinya yang memunggungi Rathyan.

"Dhe?"

"Saya ikut denganmu!" sahut Rathyan tegas.

Tubuh jangkung itu bergerak kearah Daze. Dan membuka pintu dapur sebelum gadis itu menyadari apa yang telah terjadi.

"Eh--Rath!!"

Rathyan sudah berada jauh di depannya. Daze menghembuskan nafas kuat-kuat. Agak tergesa-gesa, dia menutup pintu dan berlari mengejar Rathyan yang menelusuri lorong tengah menuju ruang tamu.


>_______________<



Rathyan yang berjalan di depan Daze, menghentikan langkahnya di depan pintu. Mulut lembab itu perlahan-lahan .. mengangga, .. lalu mengatup dalam tatapan menyengat. Apa yang dilihatnya dalam ruangan tersebut membuat emosinya langsung meningkat sampai ke ubun-ubun. Siapa lagi kalau bukan ayahnya, Oliver Jang .. dan asisten pribadi yang paling setia, Tuan Park?

"Doronim .. " Tuan Park menyapa dengan anggukan pendek, .. kemudian pada Daze yang kebingungan dibalik postur Rathyan. "Nona Han--"

Daze mengeser posisinya sampai bisa melihat jelas kedua tamu tersebut. "Tuan Park?" tanyanya agak terkejut. "Kenapa kemari?" Dia tampak keheranan, "Dan, ... " Lalu Daze menoleh kearah pria satunya, .. yang berpakaian perlente dengan sikap yang sangat elegan. Pria tersebut duduk di sofa lengan dengan kaki terlipat di depan. "Tuan ... ?" Entah apa yang membuat Daze tiba-tiba berpaling pada Rathyan,

Tanggapan yang sungguh tidak diperkirakannya, .. Rathyan mengangguk pelan.

"Ne. Dia ayahku." sahut Rathyan dingin. Dengan tatapan menusuk yang tertuju pada pria yang duduk di sofa. "Dialah orangnya--si pengendali Max-Global--"

"OH--" Daze menutup mulut dengan sepasang tangan. Mata bulatnya terbelalak lebar. "An .. anyong .. heseyo .. , pak .. pak presiden .. ," sapa Daze dengan kegugupan yang teramat sangat.

Rathyan berdecak. Segera dia menarik Daze sampai tertutup tubuhnya.

"Apa maumu?" tanyanya dingin pada Oliver.

"Rath .. " Sesuatu menepuk lengannya. Rathyan menoleh ke belakang.

"Mwo?"

Namun, sahutan berasal dari depan mereka, .. dan bukan dari Daze.

"Aku mencarinya, dan bukan mencarimu!" ... baik Rathyan maupun Daze menoleh pada Oliver. "Tidak appa kira kau juga berada di sini .. " Oliver tersenyum sinis.

Rathyan kembali menutupi postur Daze dengan tubuhnya. Seperti menghalanginya dari sesuatu yang bakal menyakiti.

"Apa maksudmu dengan semua ini?!"

Oliver tidak mengindahkan Rathyan. Pandangannya lalu berpindah ke Daze.

"Nona Han .. " Mulainya sambil menurunkan kaki yang terlipat ke lantai. "Bisa bicara sebentar?!"

"Eh--" Daze tersentak. "Ten .. tentu saja, .. pak presiden .. ," jawabnya dengan gugup.

Oliver mengangguk. "Bagus. Kalau ada tempat yang lebih bagus ... "

"O--di ruang duduk saja--" usul Daze. "Tidak ada yang akan menganggu di sana .. dan ..

Belum lagi kata-katanya selesai, .. cengkraman keras sudah bersarang di lengannya.

"Apa kau sudah gila, Daze Han?!!" Rathyan menarik Daze kearahnya. "Sudah kubilang berapa kali, .. jauhi orang ini!!" lanjutnya dengan nada bergemuruh. "Dia akan menyakitimu!!"

"Tenanglah .. " Daze tiba-tiba melebarkan senyumnya. Dia menyentuh Rathyan buat menenangkannya, .. lalu melanjutkan dengan pelan, .. yang hanya terdengar mereka berdua. "Saya sudah menjanjikannya padamu, kan? .. Walau apa yang terjadi, .. saya tidak akan meninggalkanmu. This is my promise, Rath-a .. percayalah. Biarkan saya membicarakannya sendiri dengan appamu, .. karna ini keinginannya. Jika tidak begitu, .. dia tidak akan berhenti. Kau tahu itu--"

Rathyan masih menatap Daze dengan tidak rela, .. sekalipun Daze sudah menyelesaikan kalimatnya. Sampai sentuhan hangat dari Daze mendarat di lengannya.

"Rath ... "

Perlahan, .. Rathyan melepaskan cengkramannya. "Asal, .. kau pegang janjimu, Dazya ... "

"Ne .. " Daze mengamini.

Lalu gadis itu beralih pada tamunya, Tuan Oliver Jang. "Sebelah sini, pak presiden ... "

Rathyan mengikuti kepergian Daze dan Oliver dengan hati galau. Berkali-kali dia mengingatkan diri bahwa, .. Daze sudah berjanji, dan .. dia harus percaya. Gadisnya tidak akan melanggar janji, .. Ngomong sih begitu--tapi, .. .. perasaannya tetap tidak tenang.

Rathyan menjatuhkan diri di sofa yang tadi diduduki Oliver. Nafasnya terhembus jelas ketika sepasang matanya terpejam. Perlahan, .. punggung dan kepalanya disandarkan ke belakang kursi. Perasaannya tetap tidak karuan.

Tuan Park memperhatikan semua itu sambil menghela nafas, .. dia seperti bisa memahami apa yang dirasakan Rathyan saat ini. Perasaan bingung dan bimbang terhadap sesuatu yang tidak yakin mampu dikendalikannya. Perasaan takut kehilangan yang dilihatnya dalam diri Rathyan ketika majikan mudanya ini kehilangan omma, .. dan juga noonanya berselang beberapa tahun kemudian.


>_______________<



"Bapak mau minum apa? Anggur, .. atau .. minuman tak beralkohol lainnya?" Daze menawarkan, begitu dia dan Oliver memasuki ruang duduk di lantai atas.

"Tidak perlu!" sahut pria di belakangnya.

Daze meliriknya sekilas, .. untuk kemudian mengangguk sedikit. Dia masih saja merasa sengan dan takut-takut menghadapi pria berkharisma ini. Seperti juga di kala menghadapi Rathyan, .. pria ini mampu membuat hati dan jantungnya lemah.

Mereka sampai di depan sebuah meja pendek yang dikelilingi beberapa sofa lengan. Daze menyilahkan tamunya duduk di sofa yang menghadap jendela terlebih dahulu, .. sebelum mengambil tempat di depannya. Sesaat suasana menjadi hening. Daze enggan mengeluarkan suara, jadi dibiarkannya tamu tersebut asyik dengan kesibukannya mengamati keadaan di ruangan itu.

"Ruang duduk ini cukup nyaman .. ," mulai Oliver sambil menjatuhkan perhatiannya pada Daze.

"Eh--ne .. " Daze tersentak. Dia tenggelam terlalu dalam dalam lamunan hingga tak menyangka Oliver akan memulai secepat itu. "Tempat ini ... dipakai halmonie .. buat .. buat merajut ... sewaktu masih hidup ... "

"Halmoniemu?"

"Ne." Daze menundukan kepala lambat-lambat. Mengingat halmonie, membuat matanya mulai berair.

"Sudah meninggal?"

Daze mengangguk.

Terdengar Oliver menghembuskan nafas. "Sorry. Saya tidak bermaksud mengungkit kenangan yang tidak menyenangkan .. "

Daze tersenyum kecut. "Tidak apa. Masalah itu sudah lewat kok .. "

Oliver mengangguk. "Baiklah. Sekarang, .. langsung ke pokok masalah .. "

Mendengar itu, Daze langsung menegakan badannya. Akhirnya, .. pria ini akan memulai pembicaraannya, setelah berputar-putar cukup lama.

"Begini, .. saya berharap ...

"Anda ingin saya meninggalkan Rath?" Daze memotong dengan cepat.

Setelah itu dia tergangga sendiri, .. tidak menyangka dirinya akan menyerobot dengan pertanyaan itu.

Oliver terlihat tersenyum puas. "Kau bukan gadis bodoh, nona. Saya yakin anda tahu, 'ITU' memang maksud kedatanganku .. "

Daze mengigit bibirnya. "Jika itu maksud kedatangan tuan, .. " Daze terlihat mengambil tekad. Lalu, .. dia membalas dengan senyuman. "Mianeyo, .. tapi saya tidak bisa melakukannya .. "

"Mwo?!!" Oliver tersentak kaget. Posisinya yang menyandar santai di punggung sofa, .. menjadi tegang. "Maksud nona?!!" tanyanya dengan nada berubah dingin.

"Tuan tentu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan .. " Daze masih berusaha memberikan penjelasannya. Dia ingin Oliver tahu, .. Dia tidak mungkin menyerah terhadap Rathyan. "Saya pernah merasakannya..." lanjut Daze dengan suara memelan. Kepalanya tertunduk, .. dan jemari-jemarinya dimainkan dengan pikiran melayang. ".. setahun yang lalu .. dan, .. itu sangat menyakitkan. Melebihi kematian. .. Saya tidak bisa tidur. .. setiap memejamkan mata, yang terbayang--hanya orang yang kurindukan. Berharap dia akan berada di situ, .. muncul setiap saat di hadapanku, mengatakan satu patah kata saja. Bahkan karena itu, .. saya harus bergantung pada obat-obatan agar bisa terlelap, .. "

Oliver menatap Daze dengan ekspresi kaku, .. sepasang mata tak berkedip.

"Aku tidak ingin mengulanginya lagi .. ," desis Daze sambil mengelengkan kepalanya. "Tidak ingin. Perasaan itu--terlalu menakutkan .. "

"Oleh karena itu--?" tanya Oliver dingin.

Daze tersenyum lembut. "Saya tidak akan meninggalkannya," kata Daze penuh tekad. "Tidak akan lagi!"

"Kau menantangku, nona?"

"Anhiyo .. ," jawab Daze. "Saya bukannya menantang, pak presiden. Saya tahu jika melakukannya, .. juga tidak akan menang. Hanya saja, .. saya sudah menjanjikan itu pada Rathyan. Saya tidak akan meninggalkannya, .. apapun yang terjadi. Jadi, .. saya akan memegang teguh janji itu. Saya tidak ingin melihatnya menyesali pelanggaranku ... Saya sudah pernah melihatnya, .. dan dampak dari semua itu membuat hatiku sangat perih, ‘sakit’. Oleh karena itu, saya tidak ingin terulang kembali ... "

"Saya tidak perduli bagaimana hubungan kalian .. " Oliver berdeham membersihkan tenggorokannya, .. lalu dia berdiri dari sofa. "Tapi kupastikan pada anda, nona. Saya tidak akan membiarkan hubungan kalian berlanjut. Rathyan sudah ditakdirkan meneruskan usaha keluarga, .. dia satu-satunya yang kumiliki, ... karenanya, aku tidak akan membiarkannya menghancurkan masa depannya sendiri. Dia masih muda, dan sangat labil. Dia belum bisa membedakan, mana yang terbaik dan mana yang mungkin akan menghancurkannya. Karna itu, aku harus memilih untuknya .. "

Oliver mengibas ujung jasnya yang agak kusut, .. kemudian berjalan ke pintu.

"Untuk meninggalkan Rathyan tak mungkin kulakukan!" seru Daze, .. yang berhasil menghentikan langkah Oliver di depan pintu. "Tapi, .. jika tuan ingin menjemputnya kembali, dan mencoba memperbaiki hubungan yang selama ini tidak terjalin baik, .. saya akan berusaha membantu. Saya akan menasehatinya untuk pulang bersama anda!"

"Kau?!" Oliver menoleh. "Kenapa?"

"Karna .. aku mulai memahaminya--" jawab Daze dengan mata tak berkejap. Lewat ekspresi itu, .. dia ingin Oliver tahu, ... dia benar-benar sudah berusaha hanya demi seorang Rathyan. "Aku tahu hanya di luarnya saja dia kelihatan tidak perduli--Sesungguhnya, Rathyan sangat rapuh. Dia membutuhkan kasih sayang .. ," kata Daze dengan pandangan meredup. "Saya tahu sesungguhnya Rathyan sangat membutuhkan anda. Tapi dia tidak mampu mengungkapkannya. Karna begitulah dia .. "

"Kau sepertinya sangat yakin akan hal itu, nona?" Oliver tersenyum meremehkan. "Berapa lama kau mengenalnya?--Satu tahun? Dua tahun?!! .. Seperti apa dia, dan pernah melakukan apa, .. saya rasa, kau tak pernah mampu membayangkannya!"

Oliver kemudian meraih gerendel pintu dan menariknya dengan cukup keras. Sebelum dia melangkah keluar, .. suara Daze terdengar kembali.

"Saya akan membujuknya!!"

"Tidak perlu!!" sahut Oliver datar, tanpa berpaling sedikitpun.

"Saya tetap akan melakukannya!" balas Daze tegas. "Saya yakin dia akan mendengarnya, .. daripada paksaan dari anda!"

Oliver terhenti sejenak. Perkataan Daze ternyata berpengaruh terhadapnya. "Terserah nona .. "


>_______________<



"Apa yang dikatakannya?!" tanya Rathyan menyelidik, .. begitu Daze menjatuhkan diri di sebelahnya.

Daze berusaha tersenyum. "Tidak ada yang berarti .. ," katanya, .. segera menghindari tatapan Rathyan.

"Jangan membohongiku, Daze Han!!" tegur Rathyan tidak senang.

"Eh--" Daze terdiam.

"Ada sesuatu, kan?" lanjut Rathyan sambil menatapnya tajam-tajam. "Tidak mungkin dia mengajakmu bicara dua mata jika tidak ada yang ingin dikatakannya."

"Dia ... " Daze mengatur nafas, .. sebelum menghembuskannya. " .. memintaku untuk meninggalkanmu .. ," lanjutnya kemudian, .. melirik Rathyan sambil berusaha tersenyum, kembali?!

Brakk, Tinju Rathyan tiba-tiba sudah mendarat saja di meja teh di depan mereka.

Dan--prangg, .. sebuah gelas yang berada paling dekat jatuh mengenai meja dan pecah dalam kepingan-kepingan besar.

"RATH!!" pekik Daze kaget. Dia terlonjak bangun, dan segera meraih tangan Rathyan, ... untuk kemudian mengamati dan memeriksanya dengan teliti. Terlihat darah segar merembes keluar dari luka yang tergores cukup panjang di punggung tangan Rathyan. "Kau sudah gila ya?!" tegur Daze dengan nada tercekik.

"Kau yang sudah gila!!" Rathyan menarik tangannya kembali dari genggaman Daze. Dan membiarkan tangan tersebut terjuntai lemah di engsel lengannya, .. darah segar terus mengalir dengan cukup deras dan menitik di lantai. Namun, .. Rathyan kelihatan tidak perduli. Dia tidak memperlihatkan reaksi dan ekspresi apa-apa. Rasa sakit yang tentu saja dirasakannya, .. seakan tidak melebihi kekhawatiran yang sekarang dirasakannya. "Kau ... meluruskannya ... ?" tanya Rathyan dengan rahang dikatupkan, Rapat.

"Mwo?" tanya Daze bingung. Dia tidak menangkap arti pertanyaan Rathyan, .. karna sejak tadi, perhatiannya berpusat pada punggung tangan Rathyan. "Kau harus segera diobati .. "

"Apa kau meluruskannya?" ulang Rathyan, ... tanpa memperdulikan kekhawatiran Daze.

"Mwo?!!" Daze berteriak. "Saya tidak mengerti maksudmu--Oh, demi Tuhan, .. kau harus segera diobati. Darahnya semakin banyak .. "

Namun, .. Rathyan tetap tak mengindahkan semua itu. "Permintaan tersebut--Apa kau meluruskannya?!!"

"Hah?!!"

"Meninggalkanku!!!" pekik Rathyan.

Daze tergangga. Pekikan yang melengking tinggi itu menyadarkannya akan sesuatu. Ada lapisan embun di mata Rathyan. Memang tidak sampai jatuh membasahi paras sempurnanya, .. tapi, .. lapisan embun itu sangat kentara. Rathyan sedang menahan diri untuk tidak menangis.

"Apa kau meluruskan permintaan itu, Dazya .. ?" Pertanyaan Rathyan berubah pelan.

"Anhi!!" Daze mengeleng keras-keras. "Tentu saja tidak!! Kau kira aku apa?--Aku sudah menjanjikannya padamu, kan?"

Rathyan agak terhuyung. Matanya terpejam ketika menengadah ke atas. Apa dia bersyukur? Ya. Karna apa yang ingin didengarnya, .. didapatkan sudah.

"Demi Tuhan, Rathyan .. " Suara Daze terdengar sangat samar memasuki pendengaran Rathyan. " .. tanganmu .. "

Rathyan membuka matanya, .. hal pertama yang berhasil dilihatnya adalah raut ngeri dan gelisah Daze.

"Ini .. tidak apa-apa .. ," sahut Rathyan menenangkan. Dia merobek kemeja tipis dibalik mantel tebal yang dikenakannya, kemudian membalut dan mengikatkan di bagian lengan yang  terluka. "Lihat!!" Lalu dia memamerkannya pada Daze. "Sudah berhenti mengalir .. "

Daze berhembus lega. "Lain kali, .. jangan lakukan lagi .. ," ucap Daze pelan. "Kau membuatku takut. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu, .. Apa yang akan kulakukan? .. siapa yang menjagaku?"

Rathyan mendesah pelan, .. lalu membenamkan kepala Daze di dadanya. "Tidak akan lagi--"

Daze memejamkan mata, dan menghirup dalam-dalam aroma cemara yang menyerbak dari badan Rathyan. Sebentar kemudian, .. dia mengendorkan lingkaran tangannya di pinggang kekar dan ramping pemuda itu.

"Saya memang tidak mengabulkan permintaannya, .. tapi .. ," sampai di sini, .. Daze memutus perkataannya.

"Ya?" Rathyan menatap Daze lekat, .. dan menunggu perkataan selanjutnya dengan kesabaran yang sempat membuat Daze tergangga.

"Kau .. tidak akan marah, kan?" tanya Daze lambat-lambat.

"Marah?" Alis Rathyan terlihat mengkerut. "Maksudmu?"

Daze mengeleng lemah. "Saya takut kau akan murka setelah mendengarnya, .. karna itu berjanjilah dulu .. , jangan marah .. "

"Katakan sekarang juga, Daze Han!!" perintah Rathyan tegas. Kesabarannya ternyata hanya berkisar segitu saja.

"Saya .. saya .. berjanji padanya .. untuk .. membujukmu ... kembali ke rumah ... "

"MWO?!!" Rathyan terbelalak lebar. Dia tidak pernah menyangka, .. hal ini yang akan diutarakan Daze. "Apa bedanya dengan melanggar janji yang telah kau ucapkan, Daze Han!!" Mata Rathyan mengobarkan amarah. Dia sangat murka. Perasaannya yang agak tenang akibat pernyataan Daze tadi, .. hilang seketika. "Kau benar-benar seorang pembohong besar!!!"

"Bukan begitu!!" Daze menukas cepat. Segera disentuhnya lengan Rathyan, .. namun langsung ditepis pemuda itu. "Karna saya mengerti kau ... ," dia berusaha melanjutkan, .. walau terlihat jelas, Rathyan tidak ingin mendengarnya.

Pemuda itu memutar tubuh menghadap jendela. Sepasang tangannya terkepal erat, .. sedangkan rahangnya terkatup rapat.

"Saya tahu kau akan marah ... ," Daze berkata pelan. " .. karna itu, saya tidak bermaksud mengungkitnya. Tapi, .. " Daze kembali menyentuh lengan Rathyan. Kali ini, .. pemuda itu tidak mengibaskannya. Rathyan berdiri dalam diam. " ... saya sadar kau tidak boleh begini, Rath-a .. Menghindar dari masalah, bukan sesuatu yang baik. Masalah tersebut tidak akan selesai, bahkan akan semakin runyam jika tidak segera diselesaikan. Hadapi dengan lapang dada, … itu jalan terbaik .. “

“Dengan memintaku kembali padanya, .. itu jalan terbaik yang kau maksud?” tanya Rathyan tanpa memandang Daze.

Suaranya terdengar sangat kering. Dia tidak berteriak lagi, .. atau mungkin—dia sudah sangat capek untuk meneriakan sesuatu yang tidak dipahaminya. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran gadis ini. Sekuat apapun dia berusaha, .. Daze tetap sulit untuk dipahami.

Kenapa gadis ini harus menjanjikan sesuatu yang dia tahu, ‘sangat tidak’ disukainya, pada pria yang jelas-jelas enggan dihadapinya jika tidak sangat terpaksa, sementara, .. dia—Daze, sudah menjanjikan sesuatu yang teramat indah? Tidak meninggalkannya?!! Bukahkah kedua hal itu tidak berbeda? Memintanya pulang, .. sama saja dengan memaksa dia untuk meninggalkannya, bukan? Rathyan sungguh-sungguh tidak mengerti jalan pikiran yang satu ini.

“Aku tahu ini menyakitkan .. ,” desah Daze lirih. “Tapi, .. yakinlah, ini yang paling kau butuhkan sekarang .. “

Rathyan memutar tubuh, .. dan menatapnya lekat-lekat. “Kau tidak akan menyesal?”

Daze berusaha tersenyum, walau dia yakin senyumnya terlihat pahit. “Aku akan menunggumu, .. apapun yang terjadi. .. aku akan tetap di sini, .. tidak akan kemana-mana, .. tidak seperti setahun yang lalu. Kau akan menemukanku setiap saat, jika semua masalah telah selesai .. “

Rathyan mengangguk. “Kau tahu, aku melakukannya hanya untukmu?”

“Ne. Aku tahu .. “ Daze memastikan. “Aku merasakannya di sini.. “ Gadis itu meletakan tangan di dadanya. “Aku akan merindukanmu, Rath-a .. “

Tidak bisa ditahan lagi, .. titik-titik air berlomba menuruni pipi Daze. Gadis itu merentangkan tangan dan merangkul Rathyan erat-erat, .. menumpahkan segenap luapan perasaan yang dirasakannya. Ini bukan sentuhan yang terakhir—dia tahu, .. Rathyan akan kembali padanya, dan .. dia akan setia menunggu moment itu. Tapi mengingat, .. Rathyan akan meninggalkannya untuk waktu, .. yang dia sendiri tidak tahu berapa lama, .. nafasnya jadi sesak.

Tangan Rathyan terangkat pelan, .. lalu ditekannya kepala gadis itu sampai terbenam di dadanya. Dapat dirasakannya, kemeja di bagian tersebut menjadi basah. Juga dadanya sendiri yang tidak tertutup kain, .. akibat sudah dirobek buat membalut lukanya tadi, .. sudah terasa sangat dingin akibat airmata yang mengalir tiada henti.

“Jangan begini!” desis Rathyan halus. “Aku tidak akan rela meninggalkanmu jika kau menangis terus .. “

“Rath .. hu .. hu .. “

Rangkulan di pinggang Rathyan semakin erat. Waktu beberapa menit mereka habiskan seperti itu, .. tanpa menyadari, pemilik sepasang mata gelap mengamati gerak-gerik mereka dari celah pintu. Oliver dan Tuan Park—yang agak memisahkan diri dari majikannya, .. memang sedang menunggu Rathyan di depan kamar buat pergi bersama mereka.

Rathyan mengendurkan rangkulannya. Kemudian, dihapusnya sisa-sisa airmata Daze dengan telapak tangannya. “Jangan menangis lagi. Saya tidak ingin melihatnya, araso .. ,” ujar Rathyan dengan nada datar namun menyayat.

Daze mengangguk. Pandangan mereka bertaut dalam diam, .. sinar mata yang menyiratkan arti yang sangat dalam. Saling menatap dalam janji yang hanya mereka mengerti dan yakini masing-masing. Rathyan kemudian menundukan kepalanya, .. bersamaan dengan berjinjitnya sepasang kaki Daze. Bibir mereka bertemu dalam lumatan yang sangat dalam. Desahan terdengar.

Oliver yang melihat adegan tersebut, menahan nafasnya. Kakinya bermaksud digerakan ke dalam, .. namun sesuatu segera menahannya.

Ini yang terakhir kali, .. biarkan saja!, begitu peringatan yang membuatnya akhirnya membatalkan maksud itu.       


>_______________<



"Kuperingatkan,--aku pulang karna Daze. Dia yang memintaku mencobanya bersama anda, .. dai berharap aku bisa mengerti kau, .. meski--" Rathyan tersenyum sinis. Diliriknya Oliver dari ujung rambut sampai ujung kaki, .. lalu berbalik kembali, .. sambil mendengus. ".. aku tidak melihat keperluan dari semua itu--"

Oliver membalasnya dengan melipat sepasang tangan di depan dada. Ditatapnya Rathyan lekat-lekat. "Terserah apa yang kau katakan! Appa akan menyelesaikan tugas yang belum kau selesaikan selama beberapa hari ke depan, .. jadi, .. kita mesti tinggal di sini, sebelum kembali ke Seoul--"

Rathyan mengangkat bahunya. Oliver berpaling pada dua pengawal yang mengikut dengan setia di belakang mereka, .. lalu memberi isyarat melalui lirikan matanya. Salah seorang dari mereka mengangguk, .. kemudian membukakan pintu kamar di depan mereka. Setelah itu, .. pengawal bertubuh tegap tersebut mengerakan tangannya.

"Silahkan, doronim .. "

Rathyan berdecak, lalu melangkah ke dalam.

"Untuk sementara ini kamarmu .. "

Dia mendengar ayahnya berkata dengan nada datar. Rathyan kembali mengangkat pundaknya, cuek--kemudian menjatuhkan tubuh di atas ranjang.

"Setelah semuanya beres, kita akan segera kembali ke Seoul .."

"Bagaimana dengan Daze?!" Rathyan bangun dari posisi berbaringnya, dan menatap Oliver yang berada di luar kamar.

"Appa berjanji tidak akan melakukan apa-apa terhadapnya--" ucap Oliver beberapa saat kemudian.

Rathyan mengangguk. Matanya tidak berkedip ketika membalas tatapan Oliver lewat pintu yang dibiarkan terbuka.

"Kupastikan kau, untuk memegang janji itu--" katanya dengan nada tajam.

Oliver mengangguk. "Tenang saja, .. appa bukan orang yang suka melanggar janji--"

Setelah itu, pria itu undur ke belakang, .. membiarkan salah seorang pengawalnya untuk menutup pintu. Keadaan di dalam kamar hening seketika. Rathyan kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, .. kemudian, berusaha menyenyakan diri meski masih pagi.

Sementara di luar kamar, .. Oliver memberi isyarat kepada pengawal yang mengapit di dua sisi pintu untuk mengerendel gagang pintu dengan rantai yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

"Jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia keluar kamar, setapakpun tanpa seijinku--" perintah Oliver pada pengawalnya.

Kedua pengawal tersebut mengangguk. "Ne, pak presiden .. "

Oliver melirik ke daun pintu, .. lalu berujar pelan. Suaranya terdengar dingin, .. namun lebih seperti desahan. "Kau yang memaksa appa, Rath-a. Jangan menyalahkanku!" Kemudian dia memutar tubuh, .. mulai melangkah menuju ke ruangan yang berseberangan dengan kamar yang ditempati Rathyan.

Oliver melewati Tuan Park yang sejak tadi memperhatikan adegan-adegan antar ayah dan anak tersebut dalam kebisuan.

"Ikut denganku, Tuan Park! Ada yang ingin kubicarakan sehubungan dengan proyek kerjasama dengan Aussie Land ... "

Tuan Park menjawab dengan pandangan yang terarah ke kamar Rathyan. "Ne, pak presiden .. "


>_______________<



Rathyan menekan gagang pintu dan bermaksud membukanya. Namun tidak bisa. Dia mengulanginya kembali. Sama saja. Pintu tersebut tidak bisa dibuka. Alis Rathyan bertaut perlahan-lahan.

"Hoy--"

Bukk!! Bukkk!! Bukkk!!!

Kepalan Rathyan mendarat di daun pintu.

"Buka pintu!!" teriak Rathyan, .. sambil diiringi gebukan-gebukan yang semakin keras.

Bukk!!! Bukkk!!!

"Hey--Dengar?!! Aku bilang--buka pintu!!!!"

Dua pengawal yang menjaga di pintu saling berpandangan.

"Buka pintu!!!"

Bukk!! Bukk!! Bukk!!

Gedoran-gedoran tersebut makin mengila, ... terdengar berisik dan mengusik di hari yang masih sangat pagi itu.

"Gimana?" bisik pengawal yang menjaga di sebelah kiri pada rekannya.

Pria yang diajak bicara mengangkat pundak. "Biarkan saja!"

"Ne." Rekannya kemudian mengiyakan. "Jika kita membuka pintu buatnya, ... pasti dimarahi pak presiden .. "

"Iya. Nanti juga berhenti sendiri .. "

Lalu kedua pengawal tersebut memutar badan membelakangi pintu, .. dan berlaku tidak mendengar apa-apa. Meski gebukan-gebukan dan gedoran-gedoran di pintu semakin memekakan telinga.

Hampir duapuluh menit lamanya Rathyan betah berkelut dengan daun pintu, .. punggung tangannya sudah melepuh saat dia menghentikan tindakan gila tersebut. Sepasang lengannya gemetar. Dia kemudian menyandar di pintu, .. membiarkan tubuhnya merosot sampai terduduk di lantai yang beralas karpet kelabu.

"Kau benar melakukan ini?!!!" umpat Rathyan sambil memukul daun pintu. Kali ini, sisa tenaganya sudah sedikit. Suara yang dihasilkan dari kepalan tangannya hanya bunyi pelan dan tak bertenaga. "Ingin mengurungku?!!" Rathyan bergumam dingin, "Kau salah jika mengira ini akan berhasil!!"


>_______________<

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun