CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #39697
Poll
ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha
Kubu Rath
Kubu Daze
« previous
next »
Print
Pages:
1
...
213
214
[
215
]
216
217
...
252
Go Down
Author
Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11 (Read 98614 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: from Seoul to ... Perth II, spoiler gelombang ke-2!!!!
«
Reply #3210
on:
June 10, 2011, 08:47:19 am »
Seminggu sudah berlalu, ... dan Oliver menghempaskan dokumen di tangannya ke atas meja. Berikut tubuhnya yang terasa lelah di kursi tinggi yang berhadapan dengan meja. Dilepasnya dasi yang mengikat leher dengan sekali tarikan, dan melemparnya begitu saja ke samping, .. hingga menyangkut kemudian bergoyang-goyang di lengan sofa yang berada dekat pintu.
"Berengsek!!" umpat pria itu.
Tuan Park yang setia menemani, segera menyodorkan secangkir teh yang disuguh dari teko kecil di meja yang berhadapan dengan sofa kepadanya.
"Minum dulu tehnya, pak presiden .. ," anjurnya pada Oliver yang terlihat sangat gusar.
"Hm--"
Oliver menerima teh tersebut, dan menyeruputnya dengan cepat. Teh dalam cangkir habis hanya dalam beberapa tegukan. Kemudian dikembalikannya cangkir tersebut pada Tuan Park yang segera meletakannya kembali di meja yang diambilnya tadi.
"Orang-orang itu sungguh-sungguh menyebalkan!!" Oliver mengebrak meja di mana dokumen tadi dihempaskan. "Mereka kira bisa seenaknya begitu--?"
"Mereka .. punya hak untuk itu, .. pak .. ," ujar Tuan Park pelan-pelan. Dia takut pendapatnya akan mendapat dampratan dari Oliver. "Kita yang mengingkari janji terlebih dahulu ... "
Oliver menghembuskan nafasnya keras-keras, .. lalu mendorong punggungnya ke sandaran kursi. Sampai kursi tersebut terayun-ayun malas. "Tapi tidak perlu selama itu, kan? .. Huh--sebulan? Keterlaluan!!"
Tuan Park tidak mengeluarkan suara. Dibiarkannya majikannya buat menenangkan diri. Sampai di menit kelima, ... Oliver menarik badannya ke depan, dan menumpukan siku lengannya di atas meja. "Kau tahu sendiri, Tuan Park--Masalah Rath tidak bisa ditunda lagi. Dari hari ke hari, .. anak itu makin memberontak. Bahkan dua hari terakhir, .. dia tidak makan dan minum setetespun. Kalau begini terus, .. dia akan jatuh sakit. Kita harus kembali ke Seoul secepatnya!--"
Tuan Park mengangguk sebagai rasa pengertiannya yang tinggi. Namun tetap, tidak ada kata terucap dari bibirnya.
Oliver kembali menghela nafas, .. untuk kemudian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
"Kurasa tidak ada pilihan lain. Kita kembali setelah semua urusan di sini beres .. ," kata Oliver sambil menekan bagian perutnya. Entah mengapa, .. akhir-akhir ini lambungnya sering terasa nyeri. "Satu bulan, .. hh--" Dia menghela nafas panjang.
"Mungkin tidak selama itu--" Tuan Park berusaha memberikan hiburan selama berdiam diri cukup lama.
"Mudah-mudahan saja--" Oliver memejamkan mata dan berusaha menahan rasa nyeri yang dirasakannya.
Tuan Park melihat itu, .. sehingga berujar pelan. "Sakit lagi, pak?"
Oliver mengangguk. "Tolong ambilkan obat maagku yang ada di lemari, Tuan Park ... "
Tuan Park beranjak ke lemari besar yang menyandar di samping jendela. Sebentar kemudian, dia kembali lagi dengan sebuah tabung kecil berisi pil-pil yang dimaksud Oliver.
"Pak .. "
Oliver membuka mata dan menerima dua butir pil yang sudah dituangkan Tuan Park ke tangannya. Setelah memasukan pil-pil tersebut ke mulut, .. dia menelan dengan air yang disodorkan Tuan Park.
Tuan Park menaruh gelas yang sudah kosong di atas meja, .. kemudian memperhatikan wajah Oliver yang bersimbah keringat.
"Gimana, pak?" tanyanya agak cemas.
Oliver mengeleng dengan kepala menghadap ke langit-langit ruangan. "Sudah agak baikan--"
>_______________<
Rathyan menatap nanar kaca jendela yang gordennya terpentang lebar. Saat itu sedang hujan. Langit mendung, .. dan memperlihatkan butir-butir air sebesar biji jagung menampar-nampar kaca yang sudah menjadi kabur. Tidak ada lagi lapisan salju yang mengalasi jagat raya seperti beberapa waktu lalu. Semuanya sudah mencair.
"Apa yang kau lakukan di sana ... ?" gumam Rathyan lirih dalam pembaringannya. Tubuhnya agak bergerak di atas ranjang, .. namun iris gelap tersebut masih saja betah menyambut kedatangan hujan kepagian di pertengahan musim dingin ini. "Apa kau memikirkanku? … Menyesali keputusan yang telah kau ambil .. ?”
Rathyan mengejapkan mata perlahan, .. seperti juga hujan lebat di luar sana, .. lapisan embun tipis mulai mengenangi alat pendeteksi cahayanya.
“Aku merindukanmu .. ,” desis pemuda itu pelan. “Sungguh-sungguh merindukanmu .. “ Kemudian, … sepasang mata redup itu terpejam, .. perlahan tapi pasti, dua butir air bening menuruni sudut matanya. “Belum pernah kurasakan kerinduan menyesakan seperti ini, Dazya .. “
Kemudian, … dia beralih pada ponsel yang tergeletak di atas ranjang. “Haruskah aku menghubungimu … ,” desisnya pedih. “Tapi, .. jika begitu .. ,” tiba-tiba saja, .. nafasnya terasa sesak. “.. aku yakin .. akan semakin merindukanmu, .. semakin berharap kau muncul di hadapanku, .. memeluk dan merengkuhmu erat-erat, tidak kulepas lagi. Tapi bisakah ..? Sementara kau, .. kau mengharapkan aku mencoba belajar menerima orang itu .. “ Rathyan meraih ponsel tersebut dan menatapnya semu. “ … mengapa tidak kau saja yang menghubungiku? .. Menunjukan bahwa dirimu tidak perduli akan hal lain, .. hanya memperdulikanku …. Jika benar itu yang terjadi, .. aku bersumpah, Dazya … Akan kurobohkan gembok pemisah ini, .. aku tidak perduli lagi—“ Rathyan melempar ponselnya ke atas ranjang, .. dan pandangannya sekarang menerawang ke langit-langit kamar.
Tangan Rathyan terkepal meremas seprai, … giginya bergemelatuk. Dia tersentak bangun dan langsung menyambar nampan berisi sarapan yang tersaji di meja dekat ranjangnya.
PRANGGG,,,
Nampan beserta seluruh isinya terhampar mengenaskan di lantai bawah jendela.
>_______________<
Daze menghambur ke kamar mandi sambil membekap mulutnya. Sampai di dalam, dia langsung membungkuk di atas kloset dan …
HUEKK,,, menumpahkan hampir seluruh isi sarapannya ke dalam lubang pembuang hajat tersebut.
Natalie yang kebetulan melintasi kamar Daze, menghentikan langkahnya. Suara-suara dari dalam membuatnya menjulurkan kepala tertarik, .. dan kebetulan pintu kamar tersebut tidak tertutup sehingga Natalie dengan leluasa mengamati keadaan di dalam.
“Onnie .. ?”
Tidak terdengar jawaban dari Daze. Yang ada malah suara orang muntah-muntah dalam kamar mandi, .. yang terdengar makin jelas.
“Onnie, gwencana?” , .. terburu-buru Natalie memasuki kamar Daze.
“Onnie?!!” Natalie berhenti di ambang pintu kamar mandi. Matanya melebar begitu melihat keadaan Daze yang pucat pasi. Dengan segera dia menghampiri Daze. “Ada apa?”
Daze mengeleng sambil membilas mulutnya dengan punggung tangan. Nafasnya terdengar memburu. Setelah mencuci tangan dan mulut, .. dia menempelkan punggung di dinding kamar mandi dan memejamkan mata. “Gwencana .. ,” sahutnya kemudian, .. terdengar lemah dan lelah.
“Onnie salah makan?” tanya Natalie dengan alis berkerut.
Daze mengeleng. “Entahlah … ,” jawabnya, tidak begitu mengerti. “Tapi, .. yang kumakan, sama saja dengan kalian .. “
“Ne? Tapi, kami tidak apa-apa . ,” tukas Natalie heran.
Daze mengangkat bahunya. “Mungkin system pencernaanku yang bermasalah .. “ Saat itu, .. rasa mual tersebut menyerang kembali. Daze segera membungkukan badannya menghadap ke kloset, .. dan sekali lagi, .. isi perutnya dipaksa untuk dikeluarkan.
HUEKKK,,,
“Omong kosong!!” tukas Natalie sambil mengelus-ngelus punggung Daze, buat melegakannya. “Sistem pencernaan onnie selama ini baik-baik saja. Jadi, tidak mungkin itu penyebabnya .. Mungkin—“ Tiba-tiba perkataan Natalie terputus. Matanya membulat. Dia menyadari sesuatu, .. Mungkinkah--? Dengan segera Natalie menjatuhkan pandangan ke Daze yang sedang memunggunginya.
“Onnie .. ,” panggil Natalie pelan.
Daze menyelesaikan penderitaannya. Badannya menegak. Setelah membersihkan tangan dan mulut dari sisa-sisa muntahan, .. dia menoleh pada Natalie. “Ya?”
“Ka .. kapan … haid onnie .. yang terakhir .. ?” tanya Natalie lambat-lambat.
Daze tertegun. Mendapat pertanyaan tak terduga seperti itu, .. badannya kaku mendadak, .. tidak mampu merespon dengan cepat. Tanpa sadar, .. alam bawah sadarnya berusaha mencerna arti pertanyaan Natalie.
“Mungkinkah onnie bukan salah makan, .. melainkan … “ Natalie menatapnya penuh praduga.
Daze diam seribu bahasa. Kemungkinan yang diungkapkan Natalie mulai terpikirkan olehnya.
“Onnie .. sudah sering melakukannya, bukan?” lanjut Natalie tidak enak. Menanyakan pertanyaan seperti itu terdengar tidak sopan dan membuatnya risih.
Wajah Daze merona seketika. Dia berusaha menghindari tatapan Natalie.
“Miane,” ujar Natalie. “Bukannya ingin menghakimi .. ,” lanjut gadis itu sambil tersenyum. “Saya hanya ingin onnie menyadari sesuatu. Mungkin saja onnie sedang mengandung tanpa disadari. Onnie tidak perlu merasa malu padaku, .. aku dan Dave juga seperti itu kok,--“
Daze mengangguk. Hiburan yang diberikan Natalie cukup menenangkannya. “Lalu, .. apa yang harus kulakukan?” tanya Daze lambat-lambat.
“Sebaiknya onnie memeriksakan diri ke dokter kandungan . .,” saran Natalie. “Saya akan menemani onnie jika diperlukan .. “
“Kau?”
“Ne. Kita bawa Cherryl ikut serta—hari ini Dave ada mata pelajaran di kampus. Hn—“ Natalie melihat jam tangannya. “Dia pasti sudah berangkat sekarang, jadi kita tidak bisa menumpang mobilnya. Ayo, onnie—berbereslah, .. bersihkan diri dan ganti baju, .. aku menunggu di luar. Kita naik kendaraan umum saja .. “
Daze mengangguk. Begitu melihat Natalie sudah bermaksud keluar dari kamar mandi, .. dia segera menyentuh lengannya. “Gumawo, Nat .. “
Natalie berbalik dan tersenyum padanya. “Sama-sama, onnie. Saya senang melihat onnie bahagia—Tahu tidak, .. beberapa minggu terakhir ini, selama kebersamaan onnie dan Rath, .. saya baru benar-benar melihat kebahagiaan itu .. “
“Ne. Saya juga sangat merasakannya … “ Daze menundukan wajahnya. Tersipu-sipu.
“Boleh kutanyakan sesuatu, onnie .. ?” Suara Natalie terdengar berubah pelan.
“Ne?”
“Apa onnie .. akan mempertahankan bayi itu?”
Daze terperanjat, .. syok mendengar pertanyaan Natalie. “Tentu saja!!!” sahutnya hampir menjerit. “Kau ini kenapa sih--? Menanyakan pertanyaan seperti itu?—“ tegurnya tajam dan tidak senang.
“Miane .. “ Natalie terlihat menyesal. “Saya hanya ingin memastikan . .” Sesaat kemudian dia tersenyum. “Tapi, … saya senang mendengar jawaban onnie. Kuberitahu—“ Natalie menepuk lengan Daze. “Aku tidak pernah menyesal melahirkan Cherr—“
Daze ikut tersenyum. “Tentu saja. Karna dia sangat lucu .. “
Natalie terkekeh. “Ne—“
>_______________<
”APA?!!! NOONA HAMIL?!!” Dave hampir menjerit mengetahui kenyataan ini dari istrinya malam itu.
“Hush—“ Natalie segera menegurnya. “Kau bisa membangunkan Cherr, tahu? Dia baru tidur setelah rewel hampir setengah jam—“
“Oh—miane .. “ Dave mengungkapkan penyesalan dengan segera merangkul istrinya. “Tapi, .. kenapa bisa begitu?” tanyanya kemudian, .. kembali ke masalah yang mereka bicarakan semula. “Apa bayi itu, milik Rath?”
Natalie mengangguk. “Ne—“
“Lalu .. , bagaimana tanggapan noona?”
“Dia akan mempertahankan bayi itu.”
“Apa dia terlihat bahagia?”
Natalie mengangguk. “Ne. Onnie sangat bahagia. Begitu mengetahui kenyataan ini, sepanjang perjalanan pulang dari klinik, dia tersenyum terus .. “
“Jinja?” tanya Dave untuk memastikan.
“Ne!” sahut Natalie pasti.
“Kalau begitu, .. Rath harus mengetahuinya—“ lanjut Dave tegas. “Saya akan membicarakannya dengan Rath—Kurasa dia belum tahu .. “
“Memang—“ jawab Natalie sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. “Sudah, jangan dipikirkan. Tidurlah dulu—“
Dave mengangguk. Dia kemudian menjatuhkan diri di sebelah istrinya, .. dan kemudian memeluknya erat-erat. “Sarangheyo, Nat .. “ Ini ucapan penghantar tidur yang selalu diucapkannya selama setahun terakhir kebersamaan mereka.
>_______________<
Daze sedang menuruni tangga dengan langkah ringan malam itu. Sesekali tangannya mengelus perutnya yang masih rata, .. dan bibir mungilnya tidak henti-hentinya menyenandungkan irama riang penghibur lara.
Sampai di anak tangga terakhir, Daze berpapasan dengan Dave yang melintasi lorong bawah yang memisahkan ruang tengah dengan ruang makan. Semula, Daze tidak menghiraukan dongsengnya tersebut, .. masih melangkah sambil menyandungkan irama yang lain sekarang. Seakan Dave tidak nyata dan tidak terlihat olehnya.
Namun Dave yang kebetulan melihat Daze, segera berseru memanggil noonanya yang sedang berbelok ke dapur.
“Noona!!”
Daze berhenti. Secara gerak lambat, dia berbalik. “Ya--?”
“Bisa bicara sebentar?” Dave tiba di hadapan Daze.
Gadis itu tersenyum. “Jika yang ingin kau bicarakan, .. ini—“ Daze menunjuk perut yang sejak tadi dielusnya. “Noona rasa Nat sudah menceritakannya padamu. Ya, benar—noona hamil. Dan noona sudah memutuskan untuk melahirkannya .. “
Selama beberapa saat, mereka sama-sama tidak bersuara. Dave memperhatikan noonanya dengan seksama, .. dan merasa yakin bahwa, keputusan Daze tidak mungkin dibantah. Terlihat tekad yang teramat kuat terpancar dari matanya. Mungkin tidak seorangpun yang akan mampu membujuknya untuk membatalkan keputusan tersebut.
Sedangkan Daze, ..merasa diperhatikan seperti itu, .. tersenyum perlahan. “Mungkin kau mengkhawatirkan reaksi omma dan appa bila mengetahui kejadian ini. Jangan khawatir—noona sudah menceritakannya pada mereka begitu dalam perjalanan pulang dari klinik kemarin …. “
“Hah?—“ Dave mengangga. Tindakan yang diberitakan Daze sungguh di luar dugaannya, .. lagipula, Natalie yang menemani Daze ke klinik kandungan kemarin, tidak menceritakan hal ini. Mungkin, .. Natalie juga tidak tahu mengenai laporan Daze tentang kandungannya kepada orangtua mereka.
“Ne—“ jawab Daze sambil tersipu malu-malu.
“Lalu, .. bagaimana reaksi appa dan omma?” tanya Dave yang terlihat penasaran.
Wajah Daze yang merona, mendadak menjadi agak kuyu. Nafasnya terhembus perlahan, .. “Seperti sebelum keberangkatan mereka ke Seoul, .. omma bilang—saya sudah dewasa. Semua berada di tanganku, .. apa yang sudah kulakukan, harus kutanggung sendiri .. “
“Noona .. menyesal .. ?”
Daze mengeleng dengan cepat. “Anhi!! Saya bahagia akan menjadi seorang ibu .. “
“Bagaimana dengan Rath?!!” seru Dave mendadak. “Apa noona sudah menghubunginya?”
Daze kembali mengeleng, .. kali ini terlihat lemah. “Noona tidak mau .. menganggu konsentrasinya. Untuk saat ini—ada beberapa masalah penting yang harus diluluskannya .. “
“Dengan menghiraukan kenyataan penting bahwa noona hamil?” tanya Dave tidak percaya.
“Ini keputusan noona,” Daze meluruskan badannya. “Noona sangat mengerti, .. untuk saat ini, hubungan Rath dengan appanya yang paling penting!”
“Noona yakin?”
Daze mengangguk, .. walau,.. sedikit terlihat ragu juga. “Bayi ini .. bisa menunggu untuk bertemu appanya .. ,” Dia menunduk dan membelai perutnya yang saat itu terasa mual kembali.
Tapi Dave berpendapat lain. Pemuda itu menukas dengan cepat. “Omong kosong!! Apa yang lebih penting daripada mengetahui kita akan menjadi seorang ayah!!” Dave berbalik dan melangkah panjang-panjang menuju tangga. “Saya yang akan menghubunginya jika noona tidak mau melakukannya!” lanjutnya dengan nada dikeraskan.
“DAVE!!!” teriak Daze. “JANGAN KAU LAKUKAN!!”
Namun, Dave sudah tidak menghiraukannya lagi. Pemuda itu terus saja melangkah, .. bahkan sekarang agak berlari, .. hingga dengan cepat bayangannya sudah menghilang di tikungan lantai atas.
“Hey—“
Daze yang mengejarnya tidak melihatnya lagi karna Dave sudah masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
>_______________<
Dave menghempaskan tubuhnya di ranjang, dan memikirkan kembali permintaan Dave padanya. Berulangkali alisnya berkerut. Semakin lama semakin dalam. Natalie yang sedang menidurkan Cherryl, meliriknya heran dari sofa ayun di samping jendela.
“Weegude?” tanya Natalie.
Dave mengeleng. Dan memberi isyarat Natalie untuk tidak bersuara. Natalie kemudian mengangkat pundaknya, .. dan kembali berkonsentrasi me-nina-bobokan Cherryl yang terlihat tidak nyenyak tidur. Sebentar saja, .. nyanyian penghantar tidur yang lembut dan mengalun pelan, terdengar dalam ruangan itu.
Dave mengepal tangannya. Sampai menit yang ke-duapuluh, akhirnya dia mengambil keputusan. Dirogohnya saku celana dan mengeluarkan ponsel dari dalam. Dia mencari-cari sebentar di antara list nama-nama yang terpampang di layar, .. setelah ditemukan, ditekannya nomor tersebut. Dave mendengarkan dengan seksama, .. nomor sambung tidak terdengar, … yang ada malah busy call.
>_______________<
Bersamaan dengan itu, .. Daze mendengar nada tersambung di seberang.
“Daze!!”
Sapaan cukup keras yang sangat dirindukannya terdengar.
Suara sengau yang terdengar semakin serak dan kering, namun tetap menimbulkan desir aneh di hatinya. Betapa dia merindukan suara itu—Satu bulan sudah, .. Ya—walaupun waktu satu bulan tidak bisa dikatakan lama, .. namun bagi Daze, .. itu sudah lebih dari cukup untuk membunuh jiwa dan raganya.
“Daze,, kau masih di situ?!!!”
tegur Rathyan agak panik.
“Rath .. ,” Daze akhirnya berujar lirih. Sangat pelan hingga makin mengkhawatirkan Rathyan.
”Gwencana? Apa kau tidak bisa tidur?”
tanya Rathyan lebih lanjut.
Daze mengeleng lemas di posisi duduknya di sofa ruang tengah. “Tidak, tidak. Aku baik-baik saja .. “
”Insomniamu tidak kambuh?”
“Tidak!” sahut Daze cepat. Walau itu tidak benar. Setelah berhenti cukup lama, .. dia melanjutkan, “Aku menghubungimu hanya untuk mengabari sesuatu .. “
”Ya?”
Rathyan mendengarkan sambil turun dari ranjang. Tubuhnya terasa agak lemah, .. namun itu tidak diindahkannya. Dia merasa membutuhkan sesuatu untuk menyegarkan pikirannya yang sumpek sekarang. Rathyan kemudian berjalan ke jendela dan membuka gordennya lebar-lebar. Sinar redup sang rembulan langsung merembes memasuki kamarnya.
“Tidak penting-penting amat sih, jadi—jangan terlalu dipikirkan. Jangan sampai masalah ini menganggu konsentrasimu … ,” lanjut Daze dengan nada dibuat setenang mungkin. “Hanya saja, .. aku rasa kau perlu mengetahuinya .. “
”Ya?”
Rathyan menurunkan pandangannya—taman di bawah jendela terlihat kelam. Kemudian perhatiannya dialihkan, .. dengan pelan dia bergerak ke samping, sampai menempel ketat di sudut kamar. Dalam posisi begitu, terlihat jelas keadaan di serambil depan. Tampak dua orang pengawal sedang berjaga di sana. Sudut bibir Rathyan tertarik ke atas, membentuk seringai mengejek.
Setelah kesunyian yang cukup lama, .. suara Daze kembali menyapanya. “Semula … aku tidak berniat menganggumu dengan berita ini. Tapi, .. setelah dipikir-pikir .. kau punya hak untuk mengetahuinya, .. karna .. selain sudah menjanjikannya padamu, bahwa aku tidak akan pernah menyembunyikan apa-apa lagi, .. juga karna, dia bagian dari milikmu .. “
Rathyan menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan ke serambi depan ketika melanjutkan,
”Milik ku?”
“Ne!” sahut Daze setelah mengambil nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja pernafasannya jadi lancar. Sambil tersenyum, dia menghela nafas dengan dada lapang. “Saya hamil, Rath-a!”
“MWO?!!”
Tangan Rathyan yang menyibakan tirai tertahan seketika. Matanya terbelalak lebar. Dia merasa telah salah dengar.
Hamil? Benarkah kata itu yang barusan dilontarkan Daze?
“Hamil??!!!”
“Ne .. “ Daze tersenyum di seberang. Tangannya, yang untuk kesekian kalinya sejak kemarin, ... mengelus bagian perutnya dengan penuh kelembutan. “Saya hanya ingin mengabari itu. Sekarang—lakukankah apa yang seharusnya kau lakukan. Agak bersabarlah pada appamu, .. begitu juga pekerjaan-pekerjaan yang diperintahkannya padamu .. Aku akan selalu menunggumu di sini—Sarangheyo, Rathyan Jang!”
Daze tidak tahu kalau Rathyan sudah tidak mendengar lagi perkataan-perkataannya. Ponsel di tangan Rathyan diturunkan perlahan-lahan, sampai menjuntai dan kemudian terjatuh ke lantai. Rathyan mundur dengan agak sempoyongan. Masih tergiang-giang kata-kata Daze dalam pikirannya.
Daze hamil? Daze mengandung anaknya?
Rathyan berbalik membelakangi jendela. Sesaat matanya jelalatan, … mencari-cari sesuatu. Entah apa yang dicarinya, .. dia juga tidak begitu tahu. Pikirannya sedang buntu. Apa yang diinginkannya saat itu, .. hanyalah pergi dari rumah terkutuk itu secepatnya.
Sampai matanya yang sudah bersinar bak elang marah itu, tajam dan liar, .. jatuh ke kursi kayu yang menyandar di dinding. Dia menghampiri kursi tersebut dengan langkah lebar-lebar, .. diangkatnya hanya dengan sekali sambar, .. kemudian dia mengarahkannya ke jendela.
PANGGG,,
Jendela dari kaca bergetar hebat. Namun tidak sampai retak. Rathyan mendengus, … kemudian melakukannya lagi.
PANGGGG,,
Tetap saja kaca-kaca besar yang melapisi kamar tersebut tidak bergeming. Masih berdiri angkuh memperlihatkan kuasanya.
PANGGG!!!
Rathyan menghempaskan kursi di tangannya keras-keras. Dan brakkk,,, Kursi tersebut hancur berantakan. Namun, kaca-kaca anti peluru di depannya masih saja bertahan dalam kondisi semula. Tidak tergores sedikitpun.
Dua pengawal yang menjaga di luar kamar saling berpandangan, .. hanya sesaat, .. karena sedetik kemudian, .. mereka sudah tidak perduli. Memang, keributan-keributan seperti itu sudah sering terdengar dari kamar Rathyan. Kali ini mungkin lebih parah dari sebelumnya, .. namun siapa yang perduli. Asal tidak terdengar jeritan, atau raungan kesakitan .. dan di saat selanjutnya, keributan tersebut terdengar kembali, .. mereka tidak akan mengacuhkannya. Kan itu membuktikan, doronim mereka tidak apa-apa. Hanya melampiaskan kemurkaannya pada barang-barang saja. Itu tidak merugikan.
Beberapa detik kemudian, .. suara barang yang dihempaskan terdengar kembali. Kedua pengawal tersebut saling mengerling, .. yang lebih tinggi dan berbadan kekar mengangkat pundak dan merentangkan tangannya. Rekannya merespon dengan cengiran lebar, .. setelah itu mereka kembali ke posisi semula.
Namun, kebisingan-kebisingan semakin terasa dan tidak berhenti. Kali ini, .. seperti ada orang yang mengores-gores kaca dengan pisau. Kedua pengawal tadi saling berpandangan kembali.
“Bagaimana?” tanya pria yang lebih tinggi.
Sebelum rekannya menjawab, .. Oliver dan Tuan Park keluar dari ruangan di depan mereka.
“Ada apa?” tanya Oliver Jang. “Ribut sekali!”
Pengawal yang bertanya tadi menoleh. Segera saja dia membungkuk hormat, .. begitu juga rekannya.
“Pak presiden .. “
“Ada apa?” ulang Oliver tajam.
Bersamaan dengan itu, .. dentuman keras kembali terdengar dari kamar Rathyan.
“Ada apa lagi?!!” dengus Oliver sambil berpaling ke kamar Rathyan. “Kenapa dengannya?”
“Doronim .. doronim .. ngamuk lagi, pak .. ,” jawab pengawal yang lebih pendek dan berkepala botak terbatah-batah.
Oliver menghembuskan nafasnya. “Selalu bikin onar. Apa dia tidak tahu dia sudah dewasa?” gerutunya bertubi-tubi. Kemudian dia mendekati pintu kamar, .. dengan setia diikuti Tuan Park. “Buka pintunya!” perintah Oliver pada kedua pengawal itu.
“Ne!”
Yang berkepala botak mengeluarkan kunci, kemudian membuka pintu. Daun pintu dipentangkannya lebar-lebar .. , apa yang dilihat di dalam, membuat mulut keempatnya tergangga lebar. Isi kamar seperti kapal pecah. Hampir semua barang, .. kecuali ranjang dan lemari besar, .. bergelimpangan di lantai. Makan malam yang belum disentuh sama sekali oleh Rathyan, ikut meramaikan dan memberi nuansa yang tidak mengenakan dari kamar tersebut. Aroma bawang yang sangat kental mendominasi udara. Sedangkan Rathyan, … si pemilik kamar dan pembuat onar, .. berjongkok di depan jendela, dan terlihat sedang mencongkel-congkel sesuatu.
“Apa yang kau lakukan?!” tanya Oliver dengan nada dingin.
Yang diajak bicara, tidak mengindahkan. Tangannya yang mengenggam sebilah pisau lipat kecil, masih terus saja mengores-gores celah di antara penghubung bingkai dan kaca jendela.
“Appa bertanya padamu—Apa yang kau lakukan?!!” Suara Oliver terdengar menghantam seisi kamar.
Rathyan menghentikan kesibukannya. Dia berdiri, .. kemudian berbalik menghadapi ayahnya dengan gerak lambat. Matanya menatap sangar, .. terlihat seperti bukan dirinya.
“Aku ingin pergi dari sini—“ ujar Rathyan dengan nada ditekan yang seolah terhembus dari hidung. Terdengar sangat sengau dan tertahan satu-satu. Perkataannya sangat jelas, .. Dia ingin pergi dari rumah itu.
“Mwo?” Oliver melebarkan matanya. Sesaat kemudian, diliriknya kembali hasil dari ulah Rathyan. “Karna itu, kau melakukan ini?” Tunjuk pria tersebut dengan emosi meninggi.
“Aku akan keluar dari sini!!” Rathyan membalas tatapan sengit dari Oliver, .. tidak gentar sedikitpun. Genggaman pada pisau di tangannya semakin dipererat.
“Tidak bisa!!” tukas Oliver ketus. “Kau tidak appa ijinkan keluar dari sini, … sebelum semua masalah di sini selesai, dan kita bisa kembali ke Korea … “
“Aku bilang—Pergi dari sini!!” Rathyan tidak mengubris, .. masih saja berkeras pada keputusannya.
“Apa kau tidak dengar?!!” Oliver mulai kehilangan kesabarannya. Masih dengan posisi berhadap-hadapan dengan Rathyan, .. dia menoleh pada salah seorang pengawalnya. “Bereskan semua barang di sini, .. setelah itu, ganti makan malamnya …. “
“Ne, pak ..
Belum habis perkataan pengawal tersebut, ketika seseorang sudah membelenggu leher dan menekannya dengan pisau. Pengawal tersebut terbelalak lebar. Tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak dari Rathyan.
Rathyan menekan pisau di tangannya ke leher pengawal yang mulai kelihatan tegang tersebut.
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Oliver tajam. “Lepaskan dia!!”
“Aku bilang—AKU INGIN KELUAR DARI SINI!!”
“Omong kosong!!” Oliver mengibaskan tangan dengan tidak sabar. “Appa bilang, lepaskan dia!”
Tangan Rathyan mulai bergerak, .. mengoreskan pisau di tangannya. Darah segar yang teramat tipis mengalir keluar dari luka yang tercipta di leher pria yang dibekuknya.
“Biarkan aku pergi dari sini atau, .. kubunuh dia!” ujar Rathyan tenang dan dingin. Emosinya terlihat mulai terkendali, .. apakah itu baik? Tidak juga. Karna dia kelihatan lebih beringas dan tidak terkendali dalam keadaan seperti itu. Bisa saja, .. dia langsung melakukan ancamannya. Memutuskan nadi leher pria dalam kuasanya hanya dalam satu goresan panjang.
“Kau tidak akan berani!” tantang Oliver. Ayah yang keras kepala itu mendekati putranya. “Jika kau membunuhnya, .. kau akan dipenjara!”
Rathyan menyeringai. Dia merasa capek, … sangat capek karna selama beberapa hari ini dia tidak begitu menyentuh makanan yang diantar para pelayan. Dan untuk detik yang sangat pendek, .. dia cukup menyesali tindakan ini. Seharusnya dia menjaga stamina dan tenaga buat menghadapi ayahnya ini.
Beberapa saat, tercipta kebisuan di antara mereka. Dua pasang mata saling menatap, … beradu pandang dalam perang yang sangat dingin. Boleh dikatakan, .. hampir seluruh urat nadi mereka dipertaruhkan.
Rathyan berdesis pelan. Sepasang matanya tidak berkedip selama perang dingin tersebut. “Anda--coba saja!” ujarnya dingin.
“Mwo?” Oliver menatapnya tidak mengerti.
“Kita lihat—siapa yang tidak perduli!” sahut Rathyan dengan nada yang masih sama dingin dan datarnya. “Jangan lupa—saya pribadi yang sudah mati, Tuan Besar Jang!! Tidak ada yang mampu menghentikanku!! Tidak juga, kata ‘penjara’ darimu itu!!”
Rathyan menghentak pergelangan tangannya, .. kemudian menurunkan pisau ke bagian dada pria yang dijadikan perisai olehnya. Tangan Rathyan bergerak sedikit, .. mengores dengan cukup keras, sehingga menorehkan luka yang bisa dikatakan tidak ringan di bagian dada yang sedikit berbulu tersebut.
“AKHHH—“ jerit pengawal malang dalam tahanan Rathyan. Darah segar mengucur deras dari lukanya yang mengangga lebar.
“Kuhitung sampai tiga, .. lihat kau yang menyesal, atau aku!” ujar Rathyan tak berkedip. Matanya masih tertuju pada Oliver. Dan sejak tadi juga, .. kelopak yang menghiasi sepasang mata gelap itu, tidak pernah berkedip.
“Satu, .. dua, .. ti ..
“Tunggu!!” Oliver memutus dengan cepat, .. tangannya terangkat tinggi-tinggi. Reaksi yang sungguh, … tidak diperkirakan sama sekali, olehnya sekalipun. Kenapa dia melakukannya? Dia juga tidak tahu.
Tuan Park yang berdiri sekitar dua langkah di belakangnya, melirik dengan pandangan bertanya. Seperti juga Oliver sendiri, .. Tuan Park juga agak terkejut dengan respon dari tuan besarnya ini. Tidak biasanya Oliver mengubris ancaman seseorang, .. terutama, .. putra yang sama keras kepala dengannya ini.
Rathyan menaikan alisnya. “Jadi?”
“Pergilah .. “ Oliver menghela nafas. “Pergilah sebelum appa berubah pikiran .. ,” lanjut pria tersebut dengan nada tertekan.
Rathyan menyeringai lebar. Dia mendorong pria yang sejak tadi dikuncinya hingga terkapar di lantai, .. kemudian, .. membersihkan bercak darah dari pisau dan mantel yang kenakannya. Dengan langkah lebar, dan tanpa berpaling sedikitpun, .. Rathyan melewati Oliver Jang dan Tuan park, .. keluar dari kamar yang keadaaannya teramat parah tersebut.
>_______________<
Sepeninggal Rathyan, .. Oliver hampir ambruk dari posisi berdirinya yang menghadap jendela. Tubuhnya oleng ke samping. Untung saja Tuan Park yang melihat gelagat tidak wajar itu, bergerak dengan cepat. Tuan Park segera menopang tubuh Oliver dengan sepasang tangannya yang tidak bisa dikatakan berisi. Sepasang tangan itu bahkan lebih kurus dari lengan anak kecil usia tujuh tahun.
Tuan Park menuntun Oliver ke sofa, .. dan mendudukannya di situ. Tangan Oliver terlihat menekan perutnya berulangkali.
“Pak presiden, gwencana?” tanya Tuan Park khawatir.
Oliver mengeleng lemah. “Apa kau tidak lihat itu, Tuan Park .. ?” tanyanya lirih.
“Dhe?”
Oliver kembali mengeleng. Sebelum melanjutkan, .. dia memberi isyarat pada pengawal yang sedang menopang rekannya untuk menuntun pria yang terluka tersebut keluar.
“Sinar mata itu .. ,” desis Oliver dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar. “Apa kau melihatnya? Terulang kembali, Tuan Park .. “
Tuan Park yang mulai menangkap perkataan Oliver mengangguk perlahan. Dia ikut mendesah, “Ne, pak presiden .. “
“Dia kembali ke masa lalu .. ketika melihat noonanya meninggal dalam dekapannya .. Rath—dia seakan bukan sebuah pribadi, melainkan mayat hidup .. “ Oliver kembali menekan dadanya yang terasa makin perih.
“Pak presiden .. “ Tuan Park segera berjongkok di depan Oliver. “Jangan terlalu dipikirkan .. Tidak baik buat kesehatan bapak … ,“ nasehatnya bijak. Kemudian dia menyentuh tangan Oliver yang menekan bagian dada. “Pak Presiden merasa sakit?”
Oliver mengeleng.
“Pak presiden harus ke rumah sakit .. ,” lanjut Tuan Park tegas. Dia bermaksud menarik lengan Oliver buat membantunya berdiri. Namun, .. kembali, Oliver mengeleng.
“Apa aku harus menyerah, Tuan Park?”
“Pak presiden jangan terlalu memikirkannya. Masalah doronim masih bisa diatur, … yang terpenting sekarang, adalah kesehatan Pak presiden. Saya akan membawa bapak ke rumah sakit .. “
Oliver mendesah berat. “Nanti saja, Tuan Park .. " kemudian, punggungya yang terasa lemah perlahan disandarkan ke sandaran kursi. "Aku menyerah, Tuan Park ... Mungkin sudah saatnya aku mencoba berpikir dari sudut pandangnya ... Aku harus membiarkannya pergi--jika tidak ingin dia mati dalam tanganku .. seperti burung yang terkurung dalam sangkarnya .. " Oliver mencoba menarik nafas dalam-dalam, .. nyeri di bagian perutnya semakin terasa. Dia meringis sambil menekan perutnya keras-keras. "Akh--"
"Pak .. " Tuan Park menegur dengan gelisah. "Gwencana?"
"A ... aku harus ke rumah sakit .. Tuan Park .. ," ujar Oliver terbatah-batah. Keringat dingin mulai mengucur deras dari sekujur wajah dan lehernya.
"Masalah dengan keluarga White .. ?" tanya Tuan Park ragu-ragu. Dia tahu bukan saatnya menanyakan itu, .. namun tugasnya sebagai asisten pribadi, harus mengutarakan tugas yang belum diselesaikannya apabila majikannya lupa. "Jika perjodohan antara doronim dan nona White dibatalkan maka, .. Proyek ZigZag .. "
"Aku akan menyelesaikannya sendiri setelah itu, Tuan Park ... ," Oliver menukas dengan nafas tersengal. "Aku akan menjelaskan segala sesuatunya, secara terperinci pada Tuan White. Hanya ini yang bisa kulakukan ... "
"Tapi, .. " Tuan Park perlahan berdiri dari posisinya yang berjongkok di lantai. " .. jika hal itu terjadi, .. posisi Max-Global akan berbahaya ... Kita akan rugi besar .. Apakah ..
"Aku akan berusaha mendapatkan pengertian dari mereka .. Mudah-mudahan saja, mereka bisa menerima penjelasan kita ... " Suara Oliver Jang melemah. Kepalanya sudah hampir tidak mampu diangkat lagi ketika dia membeliakan mata berujar pelan, " .. ke rumah sakit, Tuan Park ... "
>_______________<
"DAZE HANNN!!!!"
Pintu kamar Daze yang tidak dikunci didobrak dari luar. Seseorang menghambur memasuki ruangan. Daze yang baru saja merebahkan diri di atas kasur dibuat terkejut, .. tersentak bangun sampai ke posisi duduk di atas ranjang. Mata bulatnya membesar, .. terbelalak menatap 'seseorang' yang kini, sudah berdiri di hadapannya dengan nafas tersengal-sengal.
Daze tidak mampu percaya, .. matanya berkejap sekali, .. dua kali, .. namun sosok tersebut tidak menghilang dari daya tangkapnya. Seolah sosok tersebut sungguh-sungguh nyata dan utuh .. , bukannya wujud dari kerinduan yang selama ini membelenggu hatinya.
Postur jangkung itu tetap berdiri kokoh di situ, .. menatapnya dengan pandangan yang sangat lekat.
"Rath ... "
Tanpa sadar, .. Daze menurunkan kakinya ke lantai. "Ini benar .. kau?"
Daze mendekati pemuda yang masih berdiri dengan nafas memburu itu. Tangannya diulurkan, .. bermaksud menyentuh lengannya, buat memastikan bahwa pemuda ini benar Rathyan adanya. Namun, .. respon yang diterimanya .. sungguh tak terduga.
Pemuda tersebut tiba-tiba merengkuhnya dalam dekapan, ... memeluknya erat-erat, .. sangat erat untuk membuatnya hampir tidak bisa bernafas.
"Menikahlah denganku ... " Nada yang berat,.. permintaan yang tidak terbayangkan, .. tidak bisa dibilang manis karna tanpa cincin dan bunga, .. namun, .. meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Sampai-sampai, .. Daze tidak yakin telah mendengarnya, ... dia mengira telah salah dengar.
"Mwo .. mworagu .. ?"
"Menikah denganku .. " ulang Rathyan sembari melepaskan pelukannya, .. menatap Daze dalam-dalam.
Daze terkesima. "Rath ... "
"Demi Tuhan, Dazya .. " Rathyan menyentuh wajah Daze, .. kemudian mengelusnya dengan penuh perasaan. "Menikahlah denganku .. " Suaranya mendesah berat.
Kali ini Daze yakin sudah. Dia tidak salah dengar. Dan hanya dalam hitungan detik, ... berbagai pikiran dan nostalgia masa lalu berkelebat dalam pikirannya, .. seolah memaksanya untuk mempertimbangkan, dan mengambil keputusan saat ini juga. Apakah dia harus mengorbankan perasaan dalam kesabaran, dan berharap suatu saat nanti akan terbuka harapan bagi mereka berdua, .. ataukah .. berjuang dengan resiko, .. akan benar-benar terbuang dari keluarga mereka masing-masing.
Daze membalas pelukan Rathyan erat-erat, .. dia tersenyum. Senyuman yang sangat lebar. Dia sudah mengambil keputusan. "Ne. Aku akan menikah denganmu ... "
>_______________<
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
...
213
214
[
215
]
216
217
...
252
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #39697