Author Topic: You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012)  (Read 17415 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
sebelumnya maaf kalau kurang menarik... atau mungkin sangat tidak menarik...  [heh] [heh] [heh] [biggrin] [biggrin] [biggrin]

Chapter 2 part 2

Pagi kembali menjelma. Bulan telah tergantikan oleh sang mentari. Kegelapan dan dinginnya malam mulai tergeser oleh hadirnya pancaran sinar mentari dan kehangatannya. Hye na menghela napas panjang, menatap langit pagi itu. Dialihkan pandangannya, ditatapnya ruangan dojo yang sudah dipenuhi beberapa anak yang terlihat tengah berlatih menarik busur di tangan mereka untuk melatih keseimbangan mereka. Hye na tersenyum lebar, dan senyumnya semakin lebar saat tiba-tiba seorang anak berjalan mendekatinya.

“seonsaengnim… kapan kita akan benar-benar berlatih memanah…”Tanya seorang anak laki-laki tiba-tiba. Hye na mengalihkan pandangannya menatap anak itu, tersenyum singkat
 “…memangnya kau tidak berlatih memanah…?kau memegang busur bukan…”jawab Hye na, mengambil busur panah dari tangan anak itu.

“itu berbeda seonsaengnim… aku ingin benar-benar menarik anak panah di busur ku…”jawab anak itu

“…siapa namamu…?”Tanya Hye na lagi menatap tajam anak laki-laki dihadapannya, yang kemudian dibalas dengan sebuah tatapan menantan dari anak laki-laki itu. Dengan tingkah sok dan dengan kedua tangan ia letakkan di pinggangnya, benar-benar menantang Hye na.

“Jung min…!! Hwang Jung min…!!”seru anak itu.

Hye na mengerucutkan bibirnya, benar-benar terkejut dengan sikap anak laki-laki dihadapannya, kemudian ia mulai bangkit berdiri, seakan ingin membalas tantangan anak laki-laki itu.

“baiklah… jika kau ingin mulai untuk menarik anak panahmu… lakukan… tembakkan anak panahmu ke target disana…” kata Hye na menunjuk sebuah target gelondongan yang terbuat dari jerami yang berada agak jauh dari tempatnya. “…jika tidak meleset… maka aku akan mengijinkanmu untuk langsung mulai dengan anak panahmu… bagaimana…”tambah Hye na, menatap anak laki-laki dihadapannya itu.

Anak laki-laki itu diam ditempatnya, menatap target gelondongan yang jauh dihadapannya. “…baik…seonsaengnim akan lihat kehebatanku… dan guru harus mengakuinya…”kata anak laki-laki itu, yakin.

“…baik… lakukan seperti yang guru ajarkan…”kata Hye na, yang kemudian meletakkan anak panahnya pada busurnya dan mulai menarik busurnya kuat. Hye na mengincar target ditengah dan melepaskannya. Anak panahnya melesat cepat dan tepat mengenai target yang ia tuju. “…lakukan seperti itu… dan hati-hati dengan anak panahmu…”kata Hye na, menatap anak laki-laki dihadapannya senang.

Hye na berdiri diam, menatap anak laki-laki itu yang mulai mengambil anak panah dan meletakkannya di busurnya. Mulai melihat dan mulai menilai, tak lama, banyak anak yang berlatih menarik busur dating untuk melihat.

“…apa yang Jung min lakukan seonsaengnim…?”Tanya seorang anak perempuan, menatap Jung min yang menarik anak panah pada busurnya.

Hye na menatap anak perempuan itu tersenyum. “…apa dia dihukum seonsaengnim…”tambah seorang anak laki-laki

“…wah kalau begitu aku juga mau jika dihukum untuk menarik anak panah di busurku…”tambah anak laki-laki yang lain.

Hye na masih diam ditempatnya dan tersenyum menatap semua anak yang berdiri disekelilingnya. Hye na kembali mengalihkan pandangannya menatap Jung min dan tersenyum, dan tepat seperti perkiraannya, Hye na menatap tangan dan punggung Jung min tidak kuat untuk menarik anak panah di busurnya, dan hasilnya… anak panahnya jatuh tidak jauh di hadapan anak itu, bahkan sama sekali tidak mendekati. Hye na tersenyum.

“bagaimana…?”Tanya Hye na berjalan mendekat kearah anak laki-laki itu yang terdiam menundukkan kepalanya, mengambil busur dari tangan anak laki-laki itu “apa masih ada yang mau mencoba…?”Tanya Hye na, mengalihkan pandangannya menatap anak-anak yang lain. Kini semua anak terlihat menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Hye na.

Hye na menatap Jung min lagi, tersenyum lembut kemudian meletakkan tangannya dipunggung Jung min dan menepuknya lembut.

“maaf…”kata Jung min kemudian, semakin menundukkan kepalanya. Hye na menatap Jung min dan menepuk lembut punggung Jung min lagi.

“kita harus banyak belajar dan berlatih bukan…?”jawab Hye na yang kemudian menatap semua anak yang berdiri dihadapannya.

Hye na diam ditempatnya, menatap semua anak yang berdiri di hadapannya. “latihan kita selesai sampai disini…”kata Hye na kemudian

Semua anak dihadapannya Hye na diam, menatap Hye na terkejut, tidak percaya dengan ucapan Hye na, tidak seperti biasanya “tapi waktunya…”

Hye na tersenyum “…kita ganti waktu untuk berjalan-jalan diluar… kita jalan-jalan dipeternakan Jung ahjussi…”kata Hye na, menatap anak-anak dihadapannya, menunggu.

Tak lama sesuai dengan perkiraan Hye na, semua anak mulai bersemangat, menyiapkan segalanya dan akan mulai mengganti pakaiannya.

“tidak… kalian tidak perlu mengganti pakaian kalian… pakai hakama kalian…dan kita akan pergi…”

“tapi…”

Hye na tersenyum, menatap anak-anak yang masih diam ditempatnya. “ayo… seonsaengnim tidak akan menunggu kalian…”kata Hye na lagi yang kemudian terdiam, teringat sesuatu. Hye na mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor disana.

“siapkan sebuah mobil untuk membawa anak-anak…”kata Hye na yang kemudian memutus hubungannya dan menutup ponselnya, dan ia teringat sesuatu kembali. “…ah iya… kalian tunggu disini sebentar…”

“ne seonsaengnim…”

Hye na melangkah pergi meninggalkan semua anak diruang itu, mencari seseorang yang menjaga dojonya untuk menitipkan sebuah pesan padanya. Hye na memalingkan wajahnya mencari seseorang sebelum akhirnya ia tersenyum menatap seseorang.

“ahhh… pak Choi…”panggil Hye na yang kemudian berjalan mendekat ketika pak Choi terlihat tengah mengecek dan meneliti beberapa target. “memeriksa target ahjussi…?”Tanya Hye na kemudian, mengambil sebuah target dan kemudian menyisihkannya di tempatnya.

“ahh…ne… ada apa agashi…”

“aiisshhh… panggil Hye na saja…”kata Hye na kemudian, menatap pak Choi marah.

“ahh…de Hye na-ssi.. ada apa…?”

“aku ingin menitipkan sebuah pesan padamu…”

Pak Choi diam ditempatnya, menatap Hye na menunggu.

********

“bagaimana dengan dokter itu… apa dia sudah datang…?”Tanya Jung min, menatap beberapa berkas di tangannya pada Pak jang yang berdiri dan sesekali mengambil berkas yang telah ditanda tangani oleh Jung min.

“ne… dia akan datang 2 jam dari sekarang dorenim… “

Jung min mengangkat kepalanya, menatap pak Jang, diam “2 jam… saat itu… apa ada jadwal…?”Tanya Jung min, menunggu. Pak Jang membuka catatan ditangannya. “tidak ada tuan…lagipula sebenarnya hari ini masih hari libur tuan…”

Jung min diam, dan menganggukkan kepalanya mengerti. “ahhh… ya… aku baru ingat…”kata Jung min, yang kemudian menutup berkas yang telah ia tanda tangani “baiklah kalau begitu… lalu bagaimana dokter itu sampai…?” tanyanya lagi

“orang kita akan menjemputnya…”jawab pak Jang.

Jung min kembali menganggukkan kepalanya mengerti “bagus kalau begitu… ok…”Jung min menutup berkas terakhir yang harus ia tanda tangani, dan beranjak bangkit dari tempatnya. “…kalau begitu aku ingin kepeternakan…sudah lama tidak berkunjung…”kata Jung min kemudian, yang mengambil jasnya dan menyampirkannya di pundaknya kemudian melangkah pergi yang diikuti pak Jang setelah ia membereskan semua berkas di meja Jung min dan membawanya bersama dirinya.

*******

Hye na menghentikan langkahnya dan tersenyum menatap bukit hijau di peternakannya dimana banyak kuda yang terlihat merumput disana.

“…ah ada kuda yang masih kecil…dan dia sedang mencoba untuk berdiri…”kata seorang anak perempuan, menarik ujung baju Hye na, menarik perhatian semua anak. Hye na tersenyum “…lucu bukan Jae in…”kata Hye na berjongkok disisi Jae in. Sesaat kemudian Hye na bangkit dan menatap semua anak, seakan menunggu sesuatu.

“…ahh…seonsaengnim…”panggil anak didik Hye na tiba-tiba.

“ada apa Gi dong…?”Tanya Hye na menatap anak laki-laki yang berdiri lebih jauh dari tempat Hye na, menatap kuda kecil bersama ibunya dan kemudian mengalihkannya pada kuda-kuda dewasa di bukit padang rumput yang lain yang masing-masing dibatasi oleh pagar tinggi.

“…kenapa kuda-kuda itu dipisahkan dari kuda kecil itu…dan apakah ia bersama induknya…”Tanya Gi dong

Hye na tersenyum “…kemarilah…semuanya mendekat…”kata Hye na kemudian, menatap semua anak yang mengelilinginya.

“kuda kecil itu dan induknya memang sengaja dipisahkan dari kuda dewasa yang lain… kuda kecil masih harus bersama induknya untuk lebih banyak berlatih agar semua otot-otot tubuhnya kuat. Ia tidak bisa bersama dengan kuda-kuda dewasa lainnya, karena belum waktunya untuk ia bergabung…”

“…apa kuda-kuda dewasa itu akan mencoba membunuh kuda kecil itu…?” tambah Jung min
Hye na tersenyum lebar, “ahniya… bukan seperti itu… kuda dewasa itu tidak akan membunuh kuda kecil itu… hanya belum saatnya ia bergabung dengan kuda-kuda dewasa itu…”.

Semua anak terlihat terdiam, memikirkan kata-kata Hye na “…seperti memanah… anggap saja kalian seperti kuda kecil itu… kalian harus lebih banyak berlatih… terutama otot-otot kalian agar kalian lebih kuat untuk melangkah lebih jauh… untuk mendapatkan yang terbaik, bukan dengan cara waktu singkat… terkadang kegagalan yang etrjadi dapat memberikan sebuah dorongan yang berbeda yang membuat kita terus berusaha… jadi… teknik dasar bukanlah hal yang memalukan.. teknik dasar yang akan menentukan teknik-teknik kita selanjutnya…”kata Hye na yang kemudian terdiam, menatap semua anak, yang diam, mencoba menyermati setiap perkataan Hye na.

“apa kalian mengerti…?”

“ne seonsaengnim…”jawab semua anak itu. Hye an tersenyum menatap mereka.

“nah… sekarang sudah waktunya kalian untuk pulang… kembali ke mobil karena pak Nam akan mengantar kalian semua untuk pulang…”

“ne seonsaengnim…”

“bagus… sampai jumpa minggu depan anak-anak…dan dipertemuan berikutnya, aku ingin semangat anak kuda itu muncul pad diri kalian…”

“ne…”

Semua anak pergi meninggalkan Hye na, kini tinggal tugas terakhirnya, seharusnya pesan yang disampaikannya tadi sudah datang untuk Hye na. Hye na beranjak pergi, namun tiba-tiba langkahnya terhenti, seseorang menarik ujung bajunya.

“seonsaengnim…”kata anak itu. Hye na mengalihkan pandangannya, menatap anak itu

“…mianheyo seonsaengnim… hanya saja… bolehkah aku juga belajar untuk memanah...”anak itu terdiam sesaat “…dengan anak panah tentunya…”

Hye na terdiam sesaat, kemudian senyum terlihat diwajahnya “…ne… tentu saja Jung min-aa.. tapi sebelumnya, kamu harus menguasai teknik dasar yang guru ajarkan sebelumnya… dan tanpa itu… guru tidak akan mengijinkannya… dan lakukan setelah semua teman-temanmu pulang… guru akan memberikan waktu tambahan untukmu…”kata Hye na

Anak itu tersenyum senang menatap Hye na  dan menganggukan kepalanya bersemangat, menyetujui perkataan Hye na. “bagus… sekarang bergabung dengan yang lain…”kata Hye na yang kemudian menggandeng tangan anak itu dan membawa dimana semua anak tengah masuk kedalam mobil yang mana akan membawa mereka pulang.

Hye na membawa Jung min naik ke mobil dan menutup pintunya. “hati-hati anak-anak…”kata Hye na sebelum akhirnya mobil itu pergi.

Hye na menatap mobil itu sampai akhirnya mobil itu menghilang berbelok di ujung belokan. Hye na menarik napas lega, rasa lelah yang sebelumnya hilang kini hadir kembali. Hye na menyentuh tengkuknya, memijitnya sesaat sebelum tiba-tiba seseorang mendekati Hye na “…agashi… yang anda minta sudah kami siapkan…”kata seorang pelayan tiba-tiba, menghentikan lamunan Hye na.

“ahh… ne… terima kasih banyak…”kata Hye na kemudian yang beranjak pergi paviliunnya, untuk menyiapkan segalanya

********

 Hye na mengeluarkan mobilnya dan beberapa peralatan yang harus dibawanya. Pemeriksaannya kali ini dilakukan di sebuah peternakan besar di pinggiran kota Seoul. Hye na menarik napas panjang, menatap sebuah kertas ditangannya, membaca beberapa kalimat yang tertulis disana. Hye na terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya cepat.
Hye na menghentikan laju mobilnya tepat di sebuah peternakan luas dengan bukit hijau yang luas, sama seperti apa yang biasa ia lihat. Hye na tahu yang akan di periksanya kali ini adalah seekor kuda jantan yang entah kenapa tidak terlihat sehat. Hye na menarik napas sesaat kemudian turun dengan semua peralatan yang dibutuhkannya.

“…maaf… saya asisten dokter Lee…”kata Hye na pada seorang petugas, yang terlihat berjaga didepan pintu.

“oh…silahkan agashi…. Anda sudah ditunggu…”

“ne… terima kasih banyak…”

Hye na masuk, mengikuti langkah pekerja dihadapannya. Ia menatap pakaian yang dikenakan oleh pekerja itu. Sebuah kaos dengan tulisan dibelakangnya, sama seperti dipeternakannya. Hye na tersenyum.

“disini agashi..”kata pekerja itu, menunjukkan istal besar dihadapannya dimana dibagi menjadi beberapa ruangan tempat kuda-kuda itu tinggal. “ini kudanya agashi… sudah hampir 3 hari ia tidak melakukan apapun bahkan untuk ditunggangi…”

“apa dia dilepas untuk merumput seperti biasanya…?” Tanya Hye na, mulai memeriksa keadaan kuda dihadapannya.

“benarkah… apa makanannya sesuai dengan biasanya…?”

Pekerja itu terlihat diam sesaat. Hye na menatapnya sesaat kemudian mengalihkan pandangannya menatap kuda dihadapannya. Hye na menghela napas panjang sesaat “…ah Shin… jadi namamu Shin…”ujar Hye na, tersenyum menatap sebuah papan nama yang tergantung di dinding, mengusap lembut kuda dihadapannya yang terlihat lesu.

“apa asisten itu sudah datang…”

“ne doronim… beberapa saat yang lalu dan dia sekarang berada di istal kuda untuk memeriksa…”jawab Pak Jang.

“aku penasaran… apa dia sehebat gurunya…”

Pak Jang tersenyum sesaat “kabarnya… dia sering memeriksa kuda-kuda miliknya juga dorenim… dan sangat jarang kuda-kudanya mengalami sakit atau tanda-tanda seprti yang dialami oleh Shin…”

“benarkah…?” ujar Jung min tidak percaya.

“ne dorenim… dan…”

“aku ingin melihat… aku ingin tahu apa diagnosanya…dokter itu… setepat apa diagnosa dokter laki-laki itu…apa sehebat gurunya…”

“tapi…” Pak Jang menghentikan perkataanya, Jung min sudah melangkah pergi kearah istal dimana kuda-kuda kesayangannya berada.

Saat Jung min sampai, seorang pekerja datang menghampirinya. “apa asisten dokter itu sudah datang…dimana pria itu…?”Tanya Jung min, menatap istal kudanya.



Jung min melangkah masuk kedalam istal, meninggalkan tatapan bingung pekerja yang bertemu dengannya. Pekerja itu diam ditempatnya, menatap bingung Jung min kemudian mengalihkan pandangannya menatap pak Jang yang juga terdiam ditempatnya.

“tapi tuan… pria…?”ujar pekerja itu yang dijawab oleh gelengan kepala oleh pak Jang, tidak bisa berbuat apapun.

*********

“ada apa denganmu…”Tanya Hye na pada kuda yang berjalan disisinya. Hye na menatapnya sesaat, mengusapnya lembut “…. Bolehkah aku menunggangimu…”Tanya Hye na, menghentikan langkah kuda disisinya. Kuda itu terlihat diam ditempatnya, menatap Hye na, membuat Hye na tersenyum. Hye na mengambil dudukan kuda dan memasangnya di punggung kuda kemudian perlahan ia mulai naik diatasnya.

“bagus…”kata Hye na kemudian, tersenyum mengusap pelan leher kudanya. Hye na membawanya berjalan-jalan disekeliling.

Hye na mengalihkan pandangannya ke sekeliling peternakan itu. Terlihat lebih besar dibandingkan peternakannya, begitupula dengan semua ternak dan kuda-kudanya. Semuanya sangat berbeda. Peternakan miliknya tidak seluas peternakan ini, tapi… Hye na menghela napas panjang. Tempat ini bagai surg untuk semua ternaknya. Ini menyenangkan… tapi… Hye na menyesali sesuatu…

Hye na mengalihkan pandangannya menatap Shin, dan mengusapnya lembut. “ahh… Shin… bagaimana kalau kita jalan-jalan lebih jauh… kau bosan bukan hanya berdiam diri di istalmu…”ujar Hye na, menundukkan kepalanya, berbicara lebih dekat lagi dengan Shin. Seakan mengerti, Shin mulai meringkik keras dan berlari cepat. Hye na tersenyum. Ia benar-benar mulai mengerti sekarang…
 
Jung min menatap terkejut istal kosong dihadapannya, kemudian mengalihkan pandangannya, menatap marah pekerja yang terlihat bingung ditempatnya.

“dimana Shin…?”Tanya Jung min, menatap marah pekerja dihadapannya. Pekerja yang seharusnya bertanggung jawab menjaga pemeriksaan Shin.

“…maafkan saya tuan muda… sebelumnya asisten itu dan Shin ada disini…”jawab pekerja itu.

“cari dia… aku tidak ingin gterjadi sesuatu pada Shin...!!”seru Jung min, marah yang kemudian segera di jawab oleh pekerja itu dan pergi meninggalkan Jung min.

“… benar-benar… bagaimana bias hal ini terjadi…”gumam Jung min marah.
Pak Jang diam ditempatnya, Jung min mulai berjalan mondar-mandir menunggu informasi dari pekerjanya. Tak lama…

“dorenim…”panggil pekerja itu kemudian, berlari kearah Jung min

“sudah kau temukan…?” Tanya Jung min

“diluar…”kata petugas itu, menatap Jung min, melemparkan pandangan agar Jung min cepat keluar dan melihat apa yang baru saja dilihat pleh pekerja itu. Jung min mengikuti langkah petugas itu dan mengikuti arah kemana telunjuknya menunjukkan sesuatu.

Jung min, pak Jang dan beberapa pekerja peternakan itu terlihat terkesima menatap Shin dan seseorang yang menungganginya. Mereka tidak pernah melihat kuda jantan itu secemerlang itu, tak terkecuali Jung min yang diam menatap laju kuda jantannya.

“Shin…”gumam Jung min terkesima dengan apa yang dilihatnya.

Hye na tersenyum, kemudian perlahan mulai menghentikan laju Shin, dan terkejut ketika mendapati beberapa orang yang tengah menatapnya.

Jung min terdiam, kini bukan lagi kuda jantannya yang menarik perhatian dirinya, tapi orang yang menungganginya, dan tidak biasanya Shin dapat begitu saja menerima seseorang untuk berada di punggungnya. Hanya pada beberapa orang Shin mengijinkan untuk berada di punggungnya, tapi…

“apa dia…”

Pak Jang tersenyum lebar, mengerti arah perkataan Jung min “ne dorenim…”jawab Pak Jang.

“tapi…dia…”

“wanita…”jawab pak Jang. Mendengar jawaban pak Jang, Jung min segera mengalihkan pandangannya menatap pak Jang yang berdiri di sisinya terkejut. “tapi… kau…”

“itu tadi yang ingin saya katakan pada dorenim… tapi…”
Jung min terdiam ditempatnya tidak percaya dengan apa yang terlihat dihadapannya, namun hanya sesaat, kemudian keterkejutannya semakin bertambah ketika ia mengetahui siapa yang ada dihadapannya sekarang, yang perlahan turun dari punggung Shin.



***********

Hye na menatap Shin dihadapannya yang tengah disibukkan oleh makanannya dan seseorang yang diam mengusap lembut kepalanya, terlihat penuh kerinduan. Hye na berusaha tidak mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang berada disamping Shin yang tengah tersenyum menatap Shin.

“terima kasih…”kata orang itu tersenyum, tanpa mengalihkan pandangannya pada Hye na

Hye na diam ditempatnya, tidak menjawab ketika kedua pandangannya bertemu, Hye na segera mengalihkan pandangannya, menatap Shin yang terlihat mulai berjalan mendekati Hye na. Hye na tersenyum dan mengusap lembut kepala Shin.

Jung min tersenyum menatap Hye na, namun Hye na segera mengalihkan pandangannya, membuang wajahnya. “…satu hal tuan…”kata Hye na kemudian. Jung min terdiam di tempatnya, menatap Hye na yang dibalas Hye na dengan tatapan tajam.

“kuda seperti teman… jika kau ingin terus bertahan dengan temanmu itu… maka temani ia kapanpun… tentu saja seorang teman tahu tentang temannya dan Shin tahu tentang kesibukan anda… namun… usahakan untuk mengajaknya berkuda dan berinteraksi… karena kuda tahu siapa yang menyayanginya… jadi saranku… anggap ia seperti teman anda… jangan lupakan dia… tidak hanya sekedar makanan yang harus dijaga… tapi juga hati…”kata Hye na, menatap Jung min tajam. Jung min menundukkan kepalanya. Keduanya terdiam.

Jung min tersenyum, menundukkan kepalanya “baiklah… terima kasih banyak..”kata Jung min kemudian. Hye na diam ditempatnya, tidak menggubris apapun ekspresi dari Jung min.

Hye na menarik napas panjang dan melangkah pergi, mengambil peralatannya untuk pergi dari tempat itu.

“kalau begitu… saya pergi…”kata Hye na lagi setelah ia kembali mengambil peralatannya, melangkah melewati Jung min, yang diam ditempatnya, tetapi hanya sepersekian detik kemudian, tiba-tiba tubuh Hye na oleng, ia terjatuh dan tepat dalam pelukan Jung min. Jung min menatapnya terkejut, tidak menyangka dan bingung. Ditatapnya Hye na sesaat. “Hye na-ssi…!! Hye na-ssi..!!”panggil Jung min, mengguncang tubuh Hye na dalam pelukannya menatap Hye na sedikit khawatir dan bingung. “gwenchana…?”Tanya Jung min yang lebih tepatnya berseru pada Hye na.

Hye na membuka matanya perlahan, napasnya terdengar cepat dan pendek, wajahnya memerah. Jung min menatapnya khawatir. “Hye na-ssi…!! Hye na-ssi!! Gwenchana…?”Tanya Jung min lagi, menatap Hye na

“ah… ne… gwenchana… hanya terasa agak pusing…”jawab Hye na yang mencoba bangkit, berdiri dari pelukan Jung min “ahniya… hanya…” Hye na benar-benar tidak mampu lagi, kepalanya benar-benar terasa sakit. Hye na terjatuh dan Jung min menangkapnya, tepat di pelukannya.

“Hye na-ssi… Hye na-ssi…”panggil Jung min yang membuat beberapa orang pekerja di sekitar mereka datang, menghampiri keduanya. “panggil dokter…”

“dokter yang mana tuan…”tanya orang itu, menatap bingung Hye na dan tuannya, belum mengerti

“ausshhh… dokter Kang tentu saja…” jawab Jung min yang membawa Hye na kepelukannya, dan segera beranjak pergi, namun tiba-tiba langkahnya terhenti “…ahniya… jangan dokter Kang… dokter Seo saja…?”tambah Jung min tiba-tiba, menghentikan langkah pekerjanya. Jung min kembali melangkah, membawa Hye na masuk ke paviliunnya, membuat pak Jang terdiam ditempatnya sesaat, terkejut menatap Jung min. “bawa dokter Seo segera setelah ia datang…”

“ne doronim… tapi…”

Jung min segera membawa Hye na masuk dan meletakkan Hye na perlahan di ranjangnya. Jung min menatapnya khawatir, dan kekhawatirannya semakin bertambah ketika ia teringat sesuatu. Ada yang lebih lemah di perut wanita dihadapannya. Jung min melangkah mondar-mandir menunggu kedatangan dokter Seo, hingga akhirnya terdengar ketukan dan disusul sebuah suara.

“…doronim… dokter Seo sudah datang…”kata pak Jang.

Jung min segera membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan dokter Seo untuk masuk. Seorang dokter wanita keluarga Jung min. Pak Jang menatap Jung min bingung. Tidak biasanya ia memanggil dokter Seo, terakhir kali ia memanggilnya ialah saat mendiang ibu Jung min masih ada disisi mereka, tapi kenapa…?

“bagaimana keadaannya dokter Seo…”Tanya Jung min, menatap dokter Seo menunggu, khawatir. Dokter Seo terdiam, menatap Jung min dan menghela napas pelan, Jung min diam dan menyadari sesuatu ketika…

“…tidak menyangka…”kata dokter Seo tersenyum, mengalihkan pandangannya menatap pak Jang. Jung min diam, menatap pak Jang sesaat, mengikuti arah pandangan dokter Seo. “katakan saja…”kata Jung min kemudian.



“…dia mengandung anakmu…?”Tanya dokter Seo tidak menyangka. Jung min diam ditempatnya. “…kau tidak mengatakan kapan kau menikah…”kata dokter Seo lagi, sambil kemudian memasukkan peralatannya kedalam tasnya.

“bagaimana keadaannya…?”Tanya Jung min lagi, tidak mengacuhkan dokter Seo ataupun pak Jang yang terdiam, terkejut ditempatnya, menatap dirinya.

“tidak apa… hanya lelah… dan aku sarankan, kau harus benar-benar menjaga kekasih dan anakmu itu… keduanya sangat lemah… apalagi ini kehamilan pertamanya… pasti perlu banyak beradaptasi… dan sepertinya anakmu ini sangat lemah… karena gizi sang ibu sangat kurang… bahkan tidak cukup untuk dirinya sendiri apalagi janin diperutnya… sepertinya tidak makan semalam atau pagi ini…sang ibu juga butuh semangat dan dorongan… jangan tinggalkan ia sendirian terus… kurangi pekerjaanmu dan perhatikan dia…”kata dokter Seo. Jung min diam ditempatnya, ia menyadari sesuatu, tentu saja sang ibu tidak merawat anak diperutnya dengan baik. Sang ibu sama sekali tidak tahu keberadaan anak itu.

“…kalau begitu… aku pergi dulu…”

“ne… terima kasih banyak dokter Seo…”kata pak Jung min kemudian, yang melangkah duduk disisi ranjang Hye na, menatapnya sedih.

“…saya antar dokter Seo…”kata pak Jang kemudian, membukakan pintu untuk dokter Seo. Jung min diam, masih menatap Hye na yang tertidur diranjangnya. Perlahan Jung min mengangkat tangannya, menyentuh dahi Hye na dengan handuk kering disisinya, mengusap keringat yang masih mengucur didahinya.

“kau benar-benar membuatku khawatir…”gumam Jung min lirih. Tak lama pak Jang kembali, menatap Jung min yang masih menatap lembut Hye na dan mengusap lembut dahinya. Pak Jang benar-benar bingung dengan apa yang terjadi, menatap Jung min dengan banyak pertanyaan dikepalanya.

“…doronim…”panggil pak Jang akhirnya

Jung min diam, tidak menanggapi, namun berhasil memotong dan menahan pertanyaan yang akan dilontarkan oleh pak Jang “…pak Jang jangan katakan pada siapapun tentang ini… pada wanita ini atau pada pria itu…”kata Jung min yang kemudian mengalihkan pandangannya menatap pak Jang, kemarahan terlihat jelas di matanya ketika ia mengatakan tentang laki-laki itu.

Jung min menatap pak Jang datar, namun kemarahan terlihat jelas dikedua matanya, menyiratkan kesungguhannya “…jika sampai laki-laki itu tahu… kau yang pertama kali aku bunuh…”kata Jung min



Pak Jang diam ditempatnya, terkejut dengan yang ia dengar, ia sudah terbiasa mendengar ancaman dari tuan mudanya itu namun tidak terdengar semarah yang ia dengar saat ini.

“n…ne doronim…”jawab pak Jang. Jung min terdiam sesaat “…pastikan dokter Seo juga tidak mengatakannya pada laki-laki itu… aku tidak ingin sesuatu terjadi pada dia…”kata Jung min kemudian, mengalihkan pandangannya pada Hye na yang masih menutup mata dihadapannya. Keduanya terdiam, pak Jang menatap Jung min, ia tidak percaya, kelembutan tatapan mata tuan mudanya terlihat sekarang. Ia tidak pernah melihatnya, sejak ibunya meninggal. Dan kini… Pak Jang mengalihkan pandangannya menatap Hye na sesaat, kemudian senyum terlihat diwajahnya.

********

 Hye na membuka matanya, membiasakan pandangannya, menatap sekelilingnya. Dia benar-benar terkejut.  Tempat yang dipandanginya tidak sama dengan kamarnya, dan ia terasa asing dengannya.

“dimana aku…”gumam Hye na, bertanya, menatap sekelilingnya. Tak ada siapapun di ruangan itu, hanya Hye na. Hye na menatap sekelilingnya dan mencoba bangun dan bangkit, tetapi terhenti karena seseorang tiba-tiba membuka pintu dihadapannya dan tepat saat itu, tiba-tiba ia mencium bau harum yang biasa ia cium saat pamannya ada bersamanya.

“…kau sudah bangun…?”Tanya laki-laki itu, tersenyum menatap Hye na dengan sebuah celemek yang menempel ditubuhnya dan sebuah sendok masak ditanganya. Hye na menatapnya terkejut, kemudian menatap tubuhnya dibalik selimut yang menutupinya. Ketakutannya muncul, namun ketakutan itu salah. Hye na menghela napas lega, laki-laki itu menyadarinya dan tersenyum “makan malam sudah siap…”kata laki-laki itu yang kemudian beranjak pergi mendahului Hye na.

Hye na mencoba  bangkit dari tempatnya perlahan. Hye na keluar dari kamar itu dan melangkah mengikuti laki-laki dihadapannya, yang kemudian terlihat berbelok di ujung lorong, kemudian dua berhenti. Hye na menatapnya dan mengalihkan pandangannya menatap meja makan yang tak jauh dihadapannya.

 “duduklah…”tambahnya. Hye na masih diam ditempatnya, menatap laki-laki itu.

“anda… tuan… anda…? Apa yang anda lakukan…?”

“duduklah… kita makan malam bersama… dan jangan panggil aku tuan… panggil saja Jung min…”kata Jung min, membawa 2 piring makanan yang lain di tangan kanan dan kirinya, membawa Hye na duduk.

“tapi…”

“sudahlah… duduk di sana… temani aku makan… aku hanya sendirian malam ini…”

“tapi aku harus pulang…”

“besok saja… ini sudah malam…”

Hye na menatap Jung min terkejut, kemudian mengalihkan pandangannya menatap jendela yang masih terbuka. “… tapi…”ucapan Hye na terhenti sesaat, menatap laki-laki dihadapannya. Pandangannya meminta sebuah penjelasan

“kau pingsan tadi… kau belum makan seharian… tubuhmu tidak kuat…”terang Jung min, mengambilkan makanan untuk Hye na. Hye na diam. Jung min tersenyum.

“makan dulu… kemudian istirahat lagi… kau harus banyak istirahat… jangan terlalu memaksa dirimu…”kata Jung min lagi.

Keduanya terdiam dan mulai menikmati makanannya. Hye na benar-benar tidak menyangka masakan Jung min begitu enak. Dia saja tidak akan bisa membuat makanan seenak ini. Hye na tersenyum “masita…”kata Hye na, menatap Jung min.

“kalau begitu makan yang banyak…”kata Jung min kemudian, mengambil beberapa sendok makanan dan meletakkannya di piring Hye na. Hye na diam, tidak mengerti dengan perhatian yang diberikan Jung min padanya, namun ia tetap makan makananannya. “kau harus makan yang banyak…apalagi untuk 2 orang…”kata Jung min kemudian. Hye na terdiam, menatap Jung min yang tengah mengambil sesendok makanan untuk ia makan. “…maaf…”kata Hye na kemudian, begitu tersadar. Jung min diam, tersadar akan sesuatu “…ah… maksudku… ermmm… kau harus banyak makan untuk 2 orang… karena kau belum makan pagi dan siang tadi…”jelas Jung min, mencari alas an.

Malam sudah semakin larut. Hye na menatap Jung min yang tengah duduk di sofa dimana tak jauh dihadapan perapian yang menyala hangat. Jung min tersenyum menatap Hye na “…duduklah… disini lebih hangat…”kata Jung min

Hye na menatap Jung min dna duduk tak jauh disisinya. Keduanya terdiam. Jung min melanjutkan bacaannya.

“…errr… maaf merepotkanmu…”kata Hye na kemudian. Jung min tersenyum “…dan maaf sudah membuatmu celaka di waktu yang lalu…”kata Hye na lagi, yang berhasil membuat Jung min mengalihkan pandangannya menatap Hye na disisinya. Keduanya saling menatap kini. Dan hanya sepersekian detik kemudian, keduanya mengalihkan pandangannya terdiam, canggung.  Keterdiaman itu segera terpecah oleh deringan ponsel Hye na. “maaf…”kata Hye na kemudian, menatap Jung min dan beranjak bangun, agak menjauh “…oppa…”sapa Hye na kemudian. Jung min diam, ia masih dapat mendengar panggilan Hye na di ponselnya.

“…mianhe… aku belum bisa pulang sekarang… aku…ahniya… bukan seperti itu… aku masih dipeternakan Goo… aku belum bisa pulang sekarang… ne… besok pagi…setelah segalanya selesai disini aku akan pulang…?” ujar Hye na

“Ahniya… tidak terjadi sesuatu… ini benar-benar karena pemeriksaanya memakan waktu lama…” tambah Hye na “ ne oppa… tenang saja… ahjussi belum pulang bukan…?”

“ne…” kata Hye na kemudian dan menutup ponselnya dan kemudian berjalan kembali kearah Jung min

“… tak apa kau berbohong seperti itu…?”Tanya Jung min kemudian, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku ditangannya.

Hye na menatap Jung min terkejut “…ah ne… gwenchana…”kata Hye na tersenyum. Keduanya kembali terdiam sesaat, hingga akhirnya Jung min berdeham, dan menutup bukunya “…siapa oppa itu…?”Tanya Jung min kemudian, akhirnya. Hye na mengalihkan pandangannya, menatap Jung min.

“…seseorang…”jawab Hye na

“siapa…?”

“…” Hye na diam, menatap Jung min, menyelidik “apa urusan anda…”ujar Hye na, menatap Jung min kesal.

Jung min diam, menarik napas panjang dan kembali membaca buku ditangannya “…mianhe…”tambah Jung min. Hye na diam, menatap Jung min marah. Jung min menghela napas panjang kemudian bangkit dari tempatnya. “tidurlah…”kata Jung min kemudian, yang perlahan beranjak pergi meninggalkan Hye na. Hye na menatap kepergiaannya aneh sekaligus marah.

**********
End of part