The Day I Fall in LOVE
Chap 12
“OPPA…APA YANG KAU LAKUKAN?!”
Teriakan histeris itu serta merta menyadarkan Hyun Soo dan Hee Young kalau mereka tidak hanya berdua saja di kebun mawar itu. Hee Young langsung melepaskan diri dari pelukan Hyun Soo yang sedikit melonggar dan mendorong pelan tubuh pria itu agar menjauh dari tubuhnya.
Di ambang pintu Park Chung Ae menatap pasangan itu dengan perasaan marah dan terluka…dan ketika Hyun Soo berbalik untuk melihatnya, Chung Ae pun balas memandangnya dengan tajam, seolah-olah dia tidak merasa bersalah telah mengganggu saat-saat pribadi Hyun Soo dan Hee Young di tempat itu.
“Park Chung Ae…apa yang kau lakukan disini?!”
Nada suara Hyun Soo yang begitu dingin padanya membuat Chung Ae merasa semakin terluka,
“Oppa! Mengapa kau begitu kasar padaku?! Kau harusnya berterima kasih karena aku telah menyelematkanmu…kalau tidak, akan ada orang lain yang akan memergoki perbuatan tidak senonohmu bersama gadis itu!” jawab Chung Ae histeris.
Hee Young yang sedari tadi berlindung di belakang tubuh Hyun Soo, kini semakin mengkerut setelah mendengar kata-kata Chung Ae tadi…tubuhnya sedikit gemetar karena rasa takut dan malu akibat telah kepergok oleh Chung Ae yang tidak lain adalah seniornya di kampus. Kepalanya menunduk ketika mata tajam Chung Ae memandangnya dengan tatapan marah dan benci.
Bila perasaan Hee Young dilingkupi oleh rasa takut dan malu, maka tidak demikian dengan Hyun Soo. Dengan tetap tenang dan tidak peduli dia menyikapi kehisterisan Chung Ae pada mereka berdua. Nada suaranya tetap dingin ketika dia berkata,
“Lalu apa urusannya denganmu? Bila kami dipergoki oleh orang lain, maka hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu! Lagipula kami tidak peduli bila ada orang lain yang melihat perbuatan kami tadi...kami tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan oleh orang lain tentang kami, karena kami akan segera menikah!”
Kata-kata Hyun Soo bagaikan pisau tajam yang langsung menusuk perasaan Chung Ae. Wajah cantiknya seketika itu memucat, dia memandang Hyun Soo dengan tatapan tidak percaya…dia merasa dikhianati dan disakiti oleh kata-kata itu.
“Apa maksudmu, oppa? Apa maksudmu, kau akan segera menikah dengan gadis itu?! Jangan bercanda, oppa…aku tidak akan percaya padamu!” sahut Chung Ae, suaranya bergetar menahan tangis yang akan segera meledak.
Hyun Soo tersenyum sinis melihat reaksi Chung Ae terhadap kata-katanya, “Aku tidak sedang bercanda…aku dan nona Goo memang akan segera menikah! Dan kami tidak peduli apakah kau mau percaya atau tidak!”
“Oppa!”
Hyun Soo berbalik untuk memandang wajah Hee Young yang berada di belakang tubuhnya. Wajah gadis itu terlihat tak kalah pucat dari wajah Chung Ae…dia terlihat sangat ketakutan, Hyun Soo tersenyum lembut untuk menenangkannya,
“Kita keluar sekarang?” tawar Hyun Soo.
Hee Young langsung mengangguk setuju. Diterimanya uluran tangan Hyun Soo dengan sedikit gemetar…dan ketika berada di dalam genggaman hangat tangannya, Hee Young merasa kekuatannya sedikit demi sedikit pulih kembali, dia merasa bertenaga lagi dan juga merasa terlindungi.
Dari tempatnya berdiri, Chung Ae menatap pasangan itu dengan rasa benci, airmatanya sudah hampir tidak terbendung lagi ketika Hyun Soo dan Hee Young berjalan semakin mendekat ke arahnya. Dan ketika mereka berdua sudah tinggal selangkah lagi di depannya, Chung Ae kembali bertanya histeris,
“Apa yang kau lihat dari dirinya, oppa?! Dia tidak secantik aku…dan aku yakin dia tidak mencintaimu sebesar aku mencintaimu! Katakan padaku, apa kau mencintainya, oppa?!”
Hyun Soo sama sekali tidak bernafsu untuk meladeni kehisterisan Chung Ae…tapi dia tahu kalau Hee Young sedikit terpengaruh dengan kata-kata Chung Ae tadi. Dengan tetap berjalan tenang seolah tidak peduli, Hyun Soo mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Hee Young…memberikanya kekuatan untuk tetap berjalan bersamanya, melewati si histeris Chung Ae yang sedang beraksi.
“Katakan padaku, oppa…apa yang kau lihat dari dirinya?! Apa kau mencintainya?!” ulang Chung Ae. Dan ketika Hyun Soo tetap berjalan melewatinya tanpa peduli sedikitpun dengan dirinya, Chung Ae kembali berteriak histeris,
“OPPA!” airmata Chung Ae sudah tidak bisa dibendung lagi.
Hyun Soo dan Hee Young sudah berada sedikit di luar dari kebun mawar ketika Hee Young menghentikan langkahnya akibat teriakan itu.
“Ada apa, Hee Young-ssi?” tanya Hyun Soo khawatir.
Hee Young mendongak untuk menatap wajah Hyun Soo,
“Apakah kita akan meninggalkan dia begitu saja? Hyun Soo-ssi, setidaknya kau bisa mengatakan sesuatu yang baik untuk menenangkannya, kan? Kasihan dia” jawab Hee Young. Dia tidak ingin pergi dari tempat itu dengan mengetahui kalau Chung Ae bisa membahayakan dirinya sendiri setelah mendengar penolakan Hyun Soo.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan untuknya, Hee Young-ssi”
“Tapi, Hyun Soo-ssi…”
Hyun Soo menatap kedua mata Hee Young yang memohon padanya…Hyun Soo menghela nafasnya sebentar sebelum berbalik untuk memandang Chung Ae yang sedang menangis di lantai kebun mawar,
“Chung Ae, kembalilah ke pesta…aku yakin kedua orangtuamu pasti sedang mencarimu sekarang” ucap Hyun Soo, berusaha untuk bersikap lembut pada Chung Ae.
Chung Ae mengangkat wajahnya dan menatap Hyun Soo dari balik airmatanya yang deras,
“Aku tidak ingin belas kasihanmu, oppa! Aku hanya ingin kau kembali padaku! Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu!”
“Kau tahu aku tidak bisa, Chung Ae-ya…kita sudah pernah membahasnya kan? Dan aku rasa kali ini pun tidak akan ada bedanya. Kembalilah ke pesta, temui kedua orangtuamu…bersenang-senanglah”
“Aku tidak ingin apapun juga selain dirimu, oppa!”
“Kalau begitu tidak ada lagi yang bisa kulakukan untukmu. Kau tahu jawabanku untuk permintaanmu. Baiklah, kami pergi dulu, Chung Ae-ya”
Hyun Soo berusaha untuk tersenyum lembut pada Chung Ae sebelum mengalihkan perhatiannya pada Hee Young kembali,
“Kita pergi sekarang, Hee Young-ssi?”
Hee Young mengangguk…namun sebelum pergi, Hee Young kembali memandang Chung Ae yang masih menangis tersedu-sedu, Hee Young merasa sangat bersalah padanya.
“OPPA!”
Teriakan histeris itu kembali terdengar dari mulut Chung Ae.
“Hyun Soo-ssi…” Hee Young berusaha membujuk Hyun Soo untuk bicara pada Chung Ae lagi.
“Dia akan baik-baik saja, Hee Young-ssi…jangan khawatir akan dirinya”
Dan agar Hee Young semakin tenang, Hyun Soo menghubungi ayah Chung Ae untuk memberitahu kalau sekarang putrinya sedang berada di kebun mawar, sendirian dan menangis histeris. Hyun Soo juga menjelaskan tentang penyebab tangisan histerisnya itu, walaupun tidak secara detail.
“Ayahnya akan segera menjemputnya di tempat itu, Hee Young-ssi…kau bisa tenang, Chung Ae akan baik-baik saja.
Sekarang apakah kita bisa pergi?” tanya Hyun Soo setelah pembicaraan teleponnya dengan ayah Chung Ae selesai.
Hee Young tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya, Hyun Soo membalas senyumannya dengan perasaan lega…dan bersama-sama mereka meninggalkan rumah Hyun Soo menuju tempat yang lebih tenang untuk mereka berdua.
$$$
Hyun Soo menghentikan mobilnya di atas bukit yang menampilkan pemandangan kota Seoul dan sungai Han yang tampak gemerlap di malam hari. Tempat itu begitu tenang, hanya beberapa orang di sana…yang rupanya juga adalah pasangan-pasangan kekasih, dan tampaknya mereka juga sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, sehingga Hyun Soo tidak takut dirinya dan Hee Young akan terganggu lagi.
“Cantik sekali” pujian itu langsung terlontar dari bibir Hee Young setelah dia dan Hyun Soo duduk di salah satu bangku yang tersedia di tempat itu.
Hyun Soo tersenyum, “Apakah kau pernah ke tempat ini?”
Hee Young menggeleng, kedua matanya masih menatap keindahan pemandangan yang terbentang di hadapannya, “Aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya”
“Ini yang pertama?” tanya Hyun Soo lagi…dia merasa senang melihat betapa Hee Young sangat menikmati tempat itu.
Hee Young mengangguk, “Ini yang pertama” ulangnya.
“Dan aku sangat bahagia…bahwa akulah yang menjadi orang pertama yang membawamu melihat keindahan ini” ucap Hyun Soo lembut…seketika itu wajah Hee Young kembali merona malu,
“Ne. Kau yang pertama” ulangnya malu-malu. Hyun Soo semakin tersenyum senang melihatnya.
“Hee Young-ssi…maafkan aku” ucap Hyun Soo lagi setelah beberapa detik mereka terdiam, Hee Young masih menikmati pemandangan indah di hadapan mereka.
Mendengar keseriusan nada suara Hyun Soo, Hee Young langsung mengalihakn perhatiannya dan menatap Hyun Soo dengan bingung, “Atas apa?”
“Atas ulah Park Chung Ae malam ini. Dia telah mengganggu saat-saat istimewa yang ingin kupersembahkan padamu”
Hee Young seketika itu teringat kembali akan ciuman yang diberikan Hyun Soo padanya, sesaat dia lupa akan hal itu…dan setelah Hyun Soo menyebutkan hal itu kembali, Hee Young tak mampu menahan rona merah menjalari kedua pipinya.
“Aku…aku…aku tidak menyalahkannya” sahut Hee Young sambil menunduk malu.
Hyun Soo tersenyum lega, “Syukurlah” namun dia mencoba untuk kembali bersikap serius ketika melanjutkan ucapannya,
“Aku punya masa lalu dengan dirinya”
Hee Young kembali terkejut mendengar pengakuan itu, ditatapnya Hyun Soo dan pria itu balas menatapnya dengan lembut,
“Kami bertemu setelah aku menyelesaikan wajib militerku tiga tahun yang lalu, abojiku dan ayahnya yang memperkenalkan kami ketika itu. Kami sempat dekat selama beberapa bulan…namun karena sesuatu hal, hubungan itu tidak bisa kami pertahankan. Aku dan dia putus, atau lebih tepatnya lagi, aku yang memutuskan hubungan kami”
Hee Young masih bersikap layaknya seorang pendengar sejati ketika Hyun Soo melanjutkan kata-katanya,
“Dan dia adalah wanita yang dijodohkan oleh abojiku”
Sekarang Hee Young tidak tampak kaget sama sekali, “Aku tahu…aku sudah menduganya” ucapnya lirih.
Hyun Soo tersenyum tipis, “Dan setelah kejadian tadi, aku semakin yakin dengan keputusanku untuk segera menikahimu”
Hee Young menatapnya, mencoba mencari kesungguhan di wajah Hyun Soo, dan Hyun Soo balas menatapnya,
“Aku serius, Hee Young-ssi…aku tidak main-main. Sekarang, di tempat ini, aku ingin bertanya...” Hyun Soo turun dari tempat duduknya, dan berlutut di hadapan Hee Young yang menatapnya dengan kaget, “Nona Goo Hee Young…sudikah kau menikah denganku?”
“Hyun Soo-ssi…apa yang sedang kau lakukan? Duduk kembali di sampingku…palli” ujar Hee Young panik sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari tahu apakah ada orang yang memperhatikan mereka saat itu.
Hyun Soo tersenyum melihat kepanikan Hee Young itu, “Apa yang sedang aku lakukan? Aku sedang memintamu untuk menikahiku…dan aku tidak akan merubah posisiku ini sampai kau menjawab pertanyaanku”
“Aku kan sudah menjawabnya sewaktu kita di kebun mawar…aku…aku sudah menerima lamaranmu. Sekarang kembali duduk di sampingku…palli, Hyun Soo-ssi” sahut Hee Young masih dengan nada paniknya.
“Tapi kau belum bilang kalau kau akan menikah denganku kan?” Hyun Soo masih keras kepala.
“Kalau aku sudah menerima lamaranmu berarti aku setuju untuk menikah denganmu kan?” balas Hee Young.
Hyun Soo tersenyum, “Katakan sekali lagi, Hee Young-ssi”
Hee Young memutar bola matanya dengaan tidak sabar...dia harus menghela nafasnya sebentar sebelum memenuhi permintaan Hyun Soo.
“Aku akan menikah denganmu! Sekarang maukah kau kembali duduk di sampingku sebelum kita jadi perhatian orang lain?” Hee Young memohon…sekarang giliran Hyun Soo yang menuruti keinginannya dengan senang hati dan Hee Young sangat lega akan hal itu.
“Sekarang tinggal menunggu restu dari keluargamu” ucap Hyun Soo setelah dia duduk kembali disisi Hee Young.
“Apakah kau akan menemui mereka?” tanya Hee Young tidak percaya.
Hyun Soo mengangguk, “Tentu saja. Mereka adalah keluargamu…aku wajib melamar dirimu secara resmi kepada mereka”
“Gumawo, Hyun Soo-ssi…”
“Atas apa?”
“Atas keseriusanmu…atas kesungguhanmu. Aku tahu kalau pernikahan kita nenti hanya berdasarkan kompromi dan bukan atas dasar cinta…tapi aku sangat menghargai keseriusanmu untuk melamarku kepada keluargaku”
Sikap tubuh Hyun Soo yang semula santai berubah menjadi sedikit tegang ketika mendengar kata-kata itu, nada suaranya berubah serius lagi ketika dia berkata,
“Aku menikahimu bukan untuk main-main, Hee Young-ssi…aku benar-benar ingin membangun rumah tangga denganmu. Memang alasan utamaku adalah untuk memenuhi kewajibanku sebagai putra tunggal aboji dan omma yang harus memberikan keturunan untuk melanjutkan semua yang telah dirintis oleh mendiang harabojiku…tapi selain itu aku juga mencari kebahagiaan, dan aku yakin akan bisa kutemukan bila aku bersamamu. Jadi jangan pernah sekali lagi berkata kalau pernikahan kita nanti hanya berdasarkan kompromi, Hee Young-ssi”
Hee Young merasa terharu ketika melihat kesungguhan itu juga di mata Hyun Soo, tapi ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya…satu hal yang bila tidak dibicarakan saat ini, maka akan menjadi ganjalan di pernikahan mereka nanti. Hee Young sadar akan hal itu, dan ketika dia merasa kedua matanya sudah digenangi oleh airmata...Hee Young berusaha menahannya agar tidak jatuh. Dia tidak boleh menangis sebelum dia mendengar kepastian tentang satu hal itu dari bibir Hyun Soo sendiri.
“Hyun Soo-ssi…tentang…tentang kehidupan masa lalumu…apakah mereka masih berpengaruh padamu saat ini?”
Hee Young tidak tahu apa yang harus ditanyakannya pada Hyun Soo…hanya kata-kata itu yang sanggup diucapkannya. Dan Hyun Soo terlihat semakin serius akibat pertanyaan itu.
“Maksudmu tentang julukanku sebagai playboy?” tanya Hyun Soo. Hee Young mengangguk membenarkan.
Hyun Soo meraih kedua tangan Hee Young dan menggenggamnya erat-erat sebelum dia menjawab,
“Aku bukan playboy, Hee Young-ssi…yakinlah akan hal itu. Aku akui, aku memang menjalin hubungan dengan wanita-wanita lain sebelum denganmu…tapi aku tidak pernah berhubungan dengan mereka secara bersamaan. Aku menjalin hubungan dengan semua wanita itu dalam waktu yang berbeda. Aku menjalin hubungan dengan satu wanita, dan ketika hubungan itu putus…aku kembali menjalin hubungan dengan wanita yang lain, dan itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk memulainya lagi. Aku tidak pernah menduakan semua wanita yang pernah menjalin hubungan denganku. Aku menghargai mereka dan aku tidak ingin menyakiti mereka. Tapi saat ini semua hubungan itu sudah berlalu…dan kini hanya ada dirimu, hanya kamu”
Hee Young terdiam. Hyun Soo kembali melanjutkan, “Yakinlah…mulai saat ini, aku tidak akan mengkhianatimu…itu janjiku. Pernikahan kita nanti akan menjadi pernikahan yang pertama dan terakhir untukku…dan kuharap itu juga akan menjadi pernikahan pertama dan terakhir bagimu”
Hyun Soo membawa kedua tangan Hee Young ke bibirnya…dikecupnya satu persatu kedua tangan itu. Hee Young hanya memperhatikan dengan airmata yang akhirnya sudah mulai menetes turun ke pipinya.
“Kau percaya padaku?” tanya Hyun Soo. Hee Young mengangguk,,,disekanya airmata yang mulai mengalir,
“Aku percaya padamu, Hyun Soo-ssi” ucapnya lirih.
Hyun Soo tersenyum…dan Hee Young membalas senyumannya. Dan ketika airmata Hee Young kembali menetes, Hyun Soo mendekat dan membantu menyeka airmata gadis itu,
“Sst…jangan menangis lagi, Hee Young-ssi” bisik Hyun Soo di telinga Hee Young, “Ini saat yang seharusnya istimewa bagi kita...tersenyumlah terus, jangan menangis”
Kemudian Hyun Soo mencium kening Hee Young…begitu lembut sehingga Hee Young agak merinding ketika menerimanya. Hyun Soo meletakkan tangan kirinya di pundak Hee Young untuk menenangkan tubuh mungil itu, tangan kanan Hyun Soo menyelip di pinggang Hee Young…membawa tubuh gadis itu begitu dekat kepadanya saat bibirnya meluncur turun untuk mencium bibir Hee Young yang manis.
Hee Young tahu dengan pasti apa yang akan dilakukan Hyun Soo kepadanya. Jantungnya berdegup kencang namun dia sudah siap untuk menerima ciuman itu lagi. Hee Young ingin membuktikan pada Hyun Soo kalau dia mempercayainya…tidak ada lagi keragu-raguan di hatinya.
Bibir mereka bertemu dalam ciuman lembut pada awalnya. Namun begitu Hyun Soo melumat bibir mungil itu dan desahan lembut keluar dari bibir Hee Young, sebuah hasrat kuat memasuki hatinya…dia menginginkan gadis itu…menginginkannya dalam bentuk yang tidak pernah dia rasakan untuk wanita manapun di masa lalunya. Dia ingin merasakannya lebih jauh. Hee Young begitu lembut dan terasa tepat di bawah sentuhannya, tubuh gadis itu merespon setiap belaian tangannya dengan gerakan yang mampu membuat Hyun Soo melupakan akal sehatnya.
Hee Young merasakan hasrat itu juga, tapi akal sehatnya masih bekerja ketika bibir Hyun Soo menjelajah leher jenjangnya dan tangan pria itu sudah akan naik ke dadanya,
“Hyun Soo-ssi…” ucap Hee Young lirih sambil mendorong pelan tubuh Hyun Soo agar sedikit menjauh dari tubuhnya.
Hyun Soo yang masih dikuasai hasratnya tampak begitu kecewa akan prilaku Hee Young padanya, “Ada apa, Hee Young-ssi?”
Hee Young membalas tatapan kecewa Hyun Soo dengan rasa bersalah di matanya, tapi hal itu harus dilakukannya demi dirinya dan masa depannya nanti,
“Mianhae, Hyun Soo-ssi…tapi kita tidak boleh melakukannya”
“Mengapa? Kita kan akan segera menikah” balas Hyun Soo…rasa kecewa masih menyelimuti hatinya.
“Mianhae…chongmal mianhae, Hyun Soo-ssi. Aku rasa sekarang bukanlah tempat dan saat yang tepat untuk melakukannya”
“Mengapa?”
“Sekarang kita masih berada di tempat umum, Hyun Soo-ssi” jawab Hee Young mengingatkan.
Hyun Soo seketika sadar dengan apa yang dimaksudkan oleh Hee Young itu, “Aku yang harusnya meminta maaf, Hee Young-ssi. Apakah kau mau memaafkanku?”
Hee Young mengangguk, wajahnya merona malu tapi kata-katanya mantap ketika menjawab, “Dan saat ini juga bukan saat yang tepat, Hyun Soo-ssi”
Kata-kata itu membuat kesadaran Hyun Soo bangkit, wajah malu Hee Young menyadarkannya bahwa apa yang dikatakan gadis itu benar adanya.
“Kau benar, Hee Young-ssi” digenggamnya kedua tangan Hee Young sekali lagi, “Aku berjanji tidak akan ada kejadian seperti ini lagi sebelum kita resmi menikah”
Hee Young tersenyum lega, “Gumawo, Hyun Soo-ssi”
“Tapi kalau hanya sebuah ciuman…aku masih boleh menerimanya kan?” tanya Hyun Soo sedikit menggoda.
Wajah Hee Young kembali merona malu, “Masih…” bisiknya hampir tak terdengar oleh Hyun Soo.
“Gumawo, Hee Young-ssi” ucap Hyun Soo sambil mengecup pipi kanan Hee Young dengan lembut, “Aku pikir sudah waktunya kita pulang” lanjutnya lagi.
Hee Young mengangguk setuju…diterimanya uluran tangan Hyun Soo yang membantunya berdiri. Tawa gelinya keluar ketika Hyun Soo membantunya merapikan gaunnya yang sedikit berantakan akibat perbuatan mereka tadi…Hyun Soo melakukannya dengan hati-hati, takut menyentuh bagian-bagian tubuh Hee Young yang belum boleh disentuhnya. Dan ketika gaun Hee Young rapi, Hyun Soo kembali menggodanya,
“Seperti ini kan yang kau inginkan?”
Hee Young kembali mengangguk, “Ya, seperti ini”
Dan sebelum Hee Young masuk ke dalam mobil, Hyun Soo kembali menghadiahkan sebuah ciuman lembut di bibir gadis manis itu.
_________
Hee Young mengamati penampilannya di depan kaca…gaun biru tua sederhana yang cantik yang dipakainya saat ini tampak sesuai di tubuh mungilnya, dandanannya juga sangat ringan…Hee Young terlihat sangat cantik, bahkan dimatanya sendiri. Tapi walaupun begitu, Hee Young tetap merasa sedikit grogi.
Malam ini Hyun Soo akan membawanya untuk makan malam di kediaman kedua orangtua pria itu…dan itu berarti, ini adalah kesempatan pertama Hee Young untuk berjumpa dengan calon ayah mertuanya.
Hee Young merasa semakin gugup seiring detik waktu mendekat ke jam yang dijanjikan oleh Hyun Soo untuk menjemputnya…Hee Young bahkan yakin kalau kegugupan itu akan semakin parah bila nanti dia sudah berada di kediaman keluarga Lee.
Hee Young merasa iri pada Hyun Soo yang kelihatan begitu santai dan tenang ketika bertemu dengan keluarganya beberapa hari yang lalu, dan sambutan mereka pun sangat ramah pada Hyun Soo…terutama sambutan yang diberikan oleh Mun Hee-imo.
Ketakutan Hee Young yang tidak beralasan pada penerimaan Mun Hee dan Jung Hwan terhadap Hyun Soo pun terbukti tidak benar. Mereka menyambutnya dengan baik. Pada awalnya mereka memang sempat tidak percaya saat Hee Young berkata kalau Hyun Soo ingin bertemu mereka untuk melamar dirinya secara resmi, tapi saat mereka bertemu dan melihat kesungguhan serta keseriusan Hyun Soo pada Hee Young…restu pun mereka berikan.
Kini tiba giliran Hee Young untuk mendapatkan restu dari ayah Hyun Soo. Walaupun belum pernah bertemu secara langsung, Hee Young tahu kalau calon ayah mertuanya itu bukanlah orang yang akan mudah dibujuk…apalagi ketika calon istri yang dipersiapkannya untuk putranya, ditolak mentah-mentah oleh sang anak.
Hyun Soo memang sudah sering menenangkannya untuk menghadapi masalah yang satu ini, tapi tetap saja Hee Young merasa keberaniannya datang dan pergi. Dan keberanian itu sepertinya kerap menghilang saat hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Suara pintu kamarnya diketuk dari luar membuat Hee Young semakin gugup…dan suara yang terdengar setelah itu, tidak juga membantu mengatasi kegugupannya itu,
“Hee Young-a…Hyun Soo-ssi sudah datang untuk menjemputmu…segeralah keluar, sayang” suara Mun Hee terdengar.
Hee Young mengamati penampilannya sekali lagi…setelah merasa mantap dengan dirinya sendiri, Hee Young beranjak keluar kamar tidurnya.
Di depan kamar, Mun Hee sudah menunggunya, “Kau agak lama, sayang…Hyun Soo-ssi sudah menunggumu dari tadi”
Hee Young hanya bisa menjawab kata-kata imo-nya itu dengan senyuman tipis…dia tidak tahu apa yang harus diucapkannya di saat hatinya sedang jungkir balik seperti sekarang ini.
Di ruang keluarga, Hyun Soo sudah menunggunya ditemani oleh Kang Dae, Jae Hwa dan bibi Ma. Mereka terlihat mengobrol dengan akrab…dan langsung berhenti ketika Hee Young dan Mun Hee menghampiri mereka.
“Sudah siap?” tanya Hyun Soo.
Hee Young mengangguk.
“Tenanglah…semua pasti akan baik-baik saja” ucap Hyun Soo menenangkannya.
Hee Young mengangguk lagi. Dan dalam genggaman erat tangan Hyun Soo, Hee Young pun merasa semuanya pasti akan baik-baik saja.
$$$
Kehadiran Hyun Soo dan Hee Young di kediaman Lee disambut sendiri oleh tuan dan nyonya Lee, dengan ekspresi yang berbeda. Nyonya Lee yang sudah lebih dahulu kenal siapa Hee Young, menyambut mereka dengan bahagia…sedangkan tuan Lee lebih banyak diam dan memperhatikan Hee Young dengan seksama…sehingga Hee Young merasa sangat risih, tapi tidak akan pernah ditampakkannya pada pria tua yang akan menjadi calon ayah mertuanya itu.
Lee Hyun Shik merasa dirinya bukanlah seorang laki-laki yang berhati dingin ataupun tidak peduli dengan kebahagiaan putra tunggalnya…dia sangat menginginkan kebahgiaan bagi putranya itu. Dan ketika Hyun Soo mengajukan syarat sebagai dasar dari kesepakatan mereka, Hyun Shik menerimanya…walaupun dia lebih suka melihat putranya bersanding dengan putri sahabatnya.
Hyun Shik menerima semua keinginan Hyun Soo dengan mengajukan syarat bagi putranya itu…dia yakin Hyun Soo tidak akan secepat itu menemukan seorang wanita yang sesuai dengan kriteria yang diajukannya…mengingat selama ini putranya itu hanya bergaul dengan wanita-wanita glamour yang pastinya jauh sekali dengan syarat yang diajukannya untuk calon menantunya…dan Hyun Shik yakin putranya itu akan gagal, dan mau tidak mau Hyun Soo akan menerima kenyataan bahwa Park Chung Ae adalah wanita yang tepat untuk dinikahinya.
Tapi malam ini semua prediksinya berhasil dipatahkan oleh Hyun Soo. Putranya itu membawa seorang wanita yang dikatakannya sebagai calon istri yang memenuhi semua syarat yang diajukan oleh Hyun Shik.
Dan betapa terkejutnya Hyun Shik ketika melihat wanita seperti apa yang dibawa oleh Hyun Soo ke rumahnya. Dia membayangkan seorang wanita dewasa dengan dandanan glamour dan seksi…tapi yang datang ke pintu rumahnya dalam genggaman tangan putranya adalah seorang wanita muda yang cantik dengan dandanan sederhana yang sanggup membuat semua orang menaruh hati padanya…tapi justru berkat penampilan itulah, Hyun Shik merasa ragu kalau putranya akan bisa mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangganya nanti.
“Annyong hasaeyo…Goo Hee Young-imnida” sapa Hee Young ramah pada kedua calon mertuanya…walaupun Soo Yun sudah mengenalnya, namun Hee Young merasa kalau akan lebih sopan bila dirinya juga mengenalkan diri pada wanita paruh baya itu.
“Selamat datang, Hee Young-a…bolehkan aku memanggilmu seperti itu, karena kau sebentar lagi akan menjadi putriku”
Kata-kata ny. Lee itu membuat Hee Young malu dan agak salah tingkah, “Ne, ny. Lee…anda boleh memanggil saya seperti itu”
“Jangan panggil aku ny. Lee lagi, Hee Young-a…aku calon ibu mertuamu, maka mulai sekarang kau harus memanggilku dengan sebutan omma…arasso?”
“Ne...omma” jawab Hee Young masih dengan gaya malu-malunya.
Hyun Soo dan Soo Yun tertawa senang melihatnya, hanya Hyun Shik yang tidak bersuara...dalam diam diperhatikannya ketiga orang itu berinteraksi satu sama lain, perhatiannya terutama tertuju pada Hee Young yang berdiri di sisi putranya.
“Yeobo” teguran Soo Yun itu mau tak mau membuat suaminya bersuara,
“Selamat datang ke kediaman kami, nona Goo”
Suara berat dengan pilihan kata yang resmi itu membuat Hee Young hanya bisa tersenyum kikuk pada Hyun Shik…dan pria tua itu membalas senyuman kikuk itu dengan pandangan tajam yang menilai Hee Young dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.
“Baiklah, untuk apa kita berlama-lama di tempat ini. Kau pasti sudah lapar, Hee Young-a” ujar Soo Yun ramah, dia berusaha memecah kekakuan suasana yang tercipta akibat ulah suaminya,
“Ayo semua, apalagi yang kita tunggu?” ajaknya sambil menggandeng lengan suaminya untuk lebih dulu menuju ke ruang makan.
Setelah kedua orangtuanya berjalan mendahului mereka, Hyun Soo berbisik di telinga Hee Young, “Tidak usah takut padanya…dia tidak akan menyakitimu, aku tidak akan membiarkan itu terjadi”
Hee Young menatap Hyun Soo dengan senyuman kecilnya, “Gumawo, Hyun Soo-ssi”
Dan sebagai jawaban atas ucapan terima kasih itu, Hyun Soo memberikan kecupan lembut di puncak kepala Hee Young.
$$$
Makan malam berjalan lancar walaupun pembicaraan di meja makan hanya didominasi oleh tiga orang, tanpa partisipasi Hyun Shik di dalamnya.
Seusai makan malam, Hyun Shik mengajak istrinya, Hyun Soo dan Hee Young untuk masuk ke ruang bacanya untuk berbincang lebih banyak mengenai rencana kedua calon mempelai.
“Nona Goo, terima kasih sudah sudi datang untuk memenuhi undangan makan malam di kediaman kami” ucap Hyun Shik setelah mereka berempat duduk dengan nyaman di tempat duduk masing-masing.
“Saya juga berterima kasih atas undangan makan malam ini, tuan Lee” jawab Hee Young sopan. Di sisi kanannya, Hyun Soo seolah-olah menguatkan dengan menggenggam tangan kiri Hee Young dengan erat.
Hyun Shik tersenyum tipis dan mengangguk sebagai jawaban atas rasa terima kasih Hee Young, “Jadi…kau bersedia untuk menikah dengan putraku?”
Hyun Soo dan Soo Yun sedikit terkejut dengan pilihan kata-kata Hyun Shik itu, tapi tidak bagi Hee Young…keberaniannya seolah-olah tiba-tiba keluar saat dia mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh calon ayah mertuanya tersebut,
“Ne, tuan Lee” jawabnya sambil tersenyum manis. Hyun Soo menatapnya dengan senang, demikian pula Soo Yun.
“Bagaimana dengan keluargamu?”
“Mereka merestui hubungan kami, tuan Lee”
Hyun Shik yang sudah mengetahui cerita tentang kedua orangtua Hee Young yang sudah tiada dari istrinya sesaat sebelum Hyun Soo dan Hee Young datang, ingin sekali menanyakan masalah itu pada calon istri putranya tersebut, tapi Soo Yun sudah melarangnya untuk membicarakan masalah itu…jadilah Hyun Shik hanya dapat menanyakan soal pendapat keluarga gadis itu saja.
“Hee Young-ssi…apakah kau siap untuk menjadi seorang istri bagi putraku?”
Hee Young tampak tidak goyah ketika pertanyaan itu diajukan pada dirinya, dengan mantap dia kembali menjawab,
“Saya sudah siap, tuan Lee”
“Aboji, bukankah hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi? Hee Young-ssi hadir disini bukan untuk diinterogasi layaknya orang yang bersalah. Dia hadir disini untuk berkenalan denganmu…dan juga untuk memberitahukanmu tentang rencana pernikahan kami” ujar Hyun Soo, memotong ucapan ayahnya yang sudah siap dilontarkan kepada Hee Young lagi.
Hyun Shik mengalihkan pandangan kepada putranya, senyuman tipis terkembang dari bibirnya, “Dan kapankah waktu yang menggembirakan itu akan tiba, Hyun Soo-ya?”
“Sebulan lagi!”
Jawaban Hyun Soo itu benar-benar mengejutkan Hee Young dan Soo Yun…terlebih-lebih Hee Young, karena Hyun Soo tiba-tiba saja memutuskan hari pernikahan mereka tanpa berunding dulu dengan dirinya.
Hyun Shik juga tak kalah terkejutnya. Dengan nada serius dia berbicara lagi pada putranya, “Sebulan lagi? Aku tidak pernah mendengar tentang hal ini…apakah kau sudah, yeobo?”
Soo Yun menggeleng, “Apakah kau serius, Hyun Soo-ya? Sebulan lagi…itu waktu yang sangat singkat, sayang”
“Kalian tidak perlu sesibuk itu, Hee Young-ssi dan aku menginginkan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga dan teman-teman dekat kami saja…selebihnya kami yang akan mengurusnya sendiri. Kami kesini bukan sekedar untuk menghadiri undangan kalian saja, tapi juga memberitahukan tentang hal ini”
“Benarkah itu, Hee Young-a?” tanya Soo Yun pada Hee Young.
Hee Young tidak bisa melakukan apapun selain mengiyakan semua ucapan Hyun Soo…tapi tidak semua kata-kata Hyun Soo itu mengejutkannya. Setidaknya Hyun Soo dan dirinya memang pernah merundingkan tentang gaya pernikahan yang mereka inginkan…dan mereka berdua memutuskan untuk mengadakan pesta sederhana, seperti yang diucapkan Hyun Soo tadi.
“Nona Goo, apakah tidak ada kejadian yang memalukan dibalik pernikahan kalian yang terasa begitu cepat itu?” Hyun Shik mencoba menyelidiki Hee Young.
“Yeobo!” Soo Yun berusaha memperingatkan suaminya.
Anehnya Hee Young sama sekali tidak merasa terganggu dengan pertanyaan itu, “Tidak, tuan Lee. Tidak ada kejadian yang memalukan di balik rencana itu”
Hyun Shik tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu, “Kalau begitu kalian bisa menunggu selama beberapa bulan lagi kan?”
“Dan membiarkanmu untuk leluasa menggagalkan rencana kami? Aku rasa tidak, aboji…kami akan menikah bulan depan. Kekasihku sudah berbaik hati menyetujui semua keputusanku, karena semuanya itu adalah ide dariku dan dia tidak menolaknya. Aku rasa itu yang terbaik bagi kami berdua” bantah Hyun Soo.
“Aku hanya ingin kalian memikirkannya dengan seksama lagi, Hyun Soo-ya!”
“Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, aboji. Aku sangat paham dengan kemampuanmu untuk menggagalkan rencana pernikahan kami. Jadi aku rasa tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mengundurkan rencana yang sudah kami sepakati!” ucap Hyun Soo mantap…matanya menatap mata ayahnya, dan mereka berdua tidak berkedip sama sekali, Hee Young melihat adegan itu dengan rasa gugup yang kembali menyerangnya.
Soo Yun yang sedari tadi diam melihat ketegangan yang tercipta antara suami dan anaknya akhirnya ikut angkat bicara, “Aku rasa keputusan Hyun Soo dan Hee Young sudah tepat, yeobo. Akan lebih baik bila pernikahan itu dilaksanakan secepatnya…tidak usah menunggu terlalu lama”
“Yeobo, kau ingin mendengar orang-orang berbicara miring tentang mereka?!” Hyun Shik sungguh tidak percaya istrinya dapat mengucapkan hal-hal seperti yang diucapkannya.
“Aku tidak peduli orang akan berkata apa tentang mereka, yeobo. Yang aku pedulikan adalah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku tidak ingin melarang atau menyuruh mereka melakukan sesuatu, yeobo. Ini hidup mereka, maka merekalah yang harus memutuskan apa yang terbaik bagi mereka…kita sebagai orangtua hanya boleh tinggal memberikan restu kita saja” sahut Soo Yun.
Perkataan itu menghentikan Hyun Shik untuk membantah istrinya lagi. Akhirnya dia hanya bisa mengucapkan kata “Terserah kalian saja” pada istri dan putranya sebelum beranjak meninggalkan ruang baca itu.
“Jangan khawatirkan abojimu, Hyun Soo-ya…Hee Young-a…dia akan baik-baik saja. Omma akan bicara padanya” kemudian dengan riang dia beranjak untuk memeluk Hee Young yang segera berdiri menyambutnya, “Oh, aku sangat bahagia karena kau yang akan menjadi putriku, Hee Young-a…aku benar-benar sangat bahagia. Gumawo, Hee Young-a...atas kesediaanmu menikah dengan putraku dan atas kebahagiaan yang kurasakan saat ini”
Hee Young hanya bisa tersenyum untuk membalas ucapan Soo Yun itu, bibirnya seperti tidak sanggup mengeluarkan suara lagi...sehingga hanya senyuman itu yang bisa diberikannya.
Setelah Soo Yun keluar untuk menyusul suaminya. Hyun Soo dan Hee Young yang ditinggalkan berdua saja, terdiam selama beberapa saat. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Akhirnya Hyun Soo yang memecahkan kebisuan itu,
“Mianhae, Hee Young-ssi…karena aku memutuskan hari pernikahan kita begitu cepat. Aku hanya takut aboji akan berusaha mengintimidasimu bila tanggal pernikahan kita diputuskan pada waktu yang cukup lama. Kau tidak tahu apa yang bisa dilakukannya” ucapnya lembut.
Hee Young memberikan Hyun Soo senyuman manis, “Semua sudah kau putuskan, Hyun Soo-ssi…dan aku tidak keberatan dengan hal itu”
Hyun Soo membalas senyuman itu dengan perasaan lega dan bahagia. Dengan lembut bibirnya mencium bibir Hee Young sebelum akhirnya mereka berdua meninggalkan kediaman keluarga Lee.
_________
Persiapan pernikahan yang cukup singkat berhasil dilakukan dengan seksama oleh wedding organizer yang dipilih oleh Hyun Soo dan Hee Young. Seperti perkataannya pada sang ayah, Hyun Soo tidak merepotkan kedua pihak keluarga. Hee Young bahkan memutuskan untuk mengenakan gaun pengantin milik mendiang ibunya untuk mengatasi masalah yang akan terjadi dalam pemilihan gaun pengantin. Dan karena Hyun Soo dan Hee Young hanya akan menyelenggarakan pesta pernikahan yang sederhana, maka persiapan itupun berlangsung tepat waktu.
Di malam sebelum hari pernikahannya, Hee Young berada di kamar tidurnya bersama tantenya, Myung Hee. Mereka berbincang tentang apa yang akan dihadapi oleh Hee Young di malam pertamanya sebagai seorang istri.
Myung Hee banyak memberikan masukan, dan tidak satu katapun yang berhasil masuk ke dalam otak Hee Young kecuali ‘kepuasan’ dan ‘kenikmatan’…pikirannya melanglang buana ke saat-saat dimana Hyun Soo menciumnya…saat Hyun Soo melumat bibirnya dan menjelajahi rongga mulutnya, sehingga tidak ada kata-kata tantenya yang bisa disimaknya tanpa membayangkan Hyun Soo.
Dan saat Myung Hee keluar kamarnya dan Hee Young sudah bersiap untuk tidur…hanya wajah Hyun Soo saja yang bisa dipikirkannya. Hee Young tidak menyesali keputusannya untuk menikah dengan Hyun Soo, dan dia tidak ingin membuat Hyun Soo menyesal telah memilihnya sebagai istri.
$$$
Pemberkatan pernikahan Hyun Soo dan Hee Young diselenggarakan pagi harinya di taman belakang kediaman Lee. Hanya sebuah upacara kecil yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan teman-teman akrab mereka berdua saja, seperti yang telah mereka rencanakan.
Lee Hyun Shik juga ikut hadir di acara itu. Walaupun dia tidak merasa cocok dengan wanita yang akan dijadikan istri oleh Hyun Soo, namun Hyun Shik tidak ingin melewatkan hari dimana putranya melepaskan status lajangnya…biar bagaimanapun juga, Hyun Shik berharap lewat pernikahan inilah putranya dapat memberikannya penerus untuk nama keluarga dan perusahaan yang begitu diidam-idamkannya.
Upacara pernikahan dimulai dengan iring-iringan pembawa cincin dan penabur bunga yang dilaksanakan dengan sukses oleh Hyun Ki dan Hwa Young, dua anak dari panti asuhan ibu Hyun Soo. Di belakang mereka, Eun Kyung yang bertugas sebagai pengiring pengantin, melangkah dengan anggun diiringi tatapan mesra dan bangga dari kekasihnya, Dae Kwan.
Tak lama kemudian keluarlah Hee Young dari ‘tempat persembunyiannya’ dengan didampingi oleh pamannya, Kang Dae. Hyun Soo menatapnya tanpa berkedip. Dalam balutan busana pengantin ibunya, Hee Young tampak semakin cantik dan bersinar…dan Hyun Soo menatapnya dengan tatapan yang sama dengan yang diberikannya pada Hee Young saat pertemuan pertama mereka, pertemuan yang sama sekali tidak disadari oleh Hee Young.
Dae Kwan menepuk pundak sahabatnya itu pelan agar Hyun Soo kembali mendapatkan kesadarannya, dan Hyun Soo sangat berterima kasih pada Dae Kwan karena telah melakukan hal itu…karena kalau tidak dia akan terus menerus menatap Hee Young dan melupakan apa yang harus dilakukannya di tempat itu.
Ketika Hee Young tiba padanya, Hyun Soo tidak dapat menyembunyikan senyuman kebahagiaannya…Hee Young membalas senyuman itu di balik kerudung tipis yang menutupi wajahnya yang cantik.
“Kau siap?” bisik Hyun Soo, Hee Young mengangguk menyatakan kesiapannya.
Saat Hyun Soo dan Hee Young mengikuti ikrar suci pernikahan yang dituntunkan oleh pendeta kepada mereka berdua, suasana khidmat melingkupi taman belakang kediaman keluarga Lee. Soo Yun, Myung Hee dan bibi Ma bahkan menitikkan airmata bahagia mereka. Hyun Soo dan Hee Young berikrar dengan setulus hati mereka, karena ini adalah jalan yang mereka pilih untuk masa depan mereka berdua.
Dan ketika pendeta mengumumkan keabsahan mereka sebagai suami dan istri, serta saat bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman pertama sebagai sepasang suami-istri…saat itulah untuk pertama kalinya Goo Hee Young merasa yakin kalau dia telah benar-benar jatuh cinta pada suaminya sendiri, Lee Hyun Soo.
dah d update,sista2...silahkn dibaca (mian klo mem-boringkn
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
)
i really hope you will like it...spt biasa komentnya,dtunggu lho
![[lovestruck]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/lovestruck.gif)
...HWAITING!!!
![[AddEmoticons04262]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/AddEmoticons04262.gif)