Author Topic: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update  (Read 22179 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Chapter 3


Cast



Lee Joong Moon as Lee Jung moon

Hye na membuka matanya perlahan, menatap teriknya mentari yang mulai memancarkan sinarnya dan menyebarkan kehangatannya. Hye na tersenyum, menatap laki-laki yang terlelap disampingnya. Di sentuhnya lembut dahi laki-laki disisinya kemudian dikecupnya pipi laki-laki itu, pelan dan cepat. Hye na tersenyum kembali setelah menatap senyum yang terkembang di wajah laki-laki itu.

“pagi sayang…”sapa Jung min kemudian, menatap Hye na di sela rasa kantuknya.

“sudah ingin bangun…?”Tanya Hye na, yang kemudian bangkit dari tempatnya dan berjalan kearah jendela yang masih tertutup di kamar keduanya. “masih ngantuk…?”Tanya Hye na lagi, mengalihkan pandangannya menatap Jung min yang terlihat mulai bangkit dari tempatnya.

“ahniya… aku harus pergi pagi ini… ada yang harus aku lihat”jawab Jung min melangkah ke arah kamar mandi untuk segera bersiap.

“…mwo…?!! Sekarang… tapi bukankah kau baru saja sampai tadi malam… kenapa harus pergi lagi…”keluh Hye na, melangkah kearah kamar mandi, menatap pintu yang tertutup dihadapannya.

Tidak terdengar jawaban dari dalam, tapi tak lama kemudian pintu terbuka, Jung min keluar dan berjalan kearah meja, mencari sesuatu. Hye na menatapnya, cemberut. Jung min membalikkan tubuhnya, dan duduk di tepi meja, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap Hye na, tersenyum “hanya melihat sayang… aku tidak akan melakukan apapun…” ujar Jung min menenangkan, menatap Hye na lembut.



“setelah itu akan langsung pulang…”Jung min menghentikan ucapannya, menatap Hye na “..dan aku hanya di pulau Jeju… tidak ke manapun…”tambah Jung min. Hye na diam menatap Jung min, memasang wajah cemberutnya. Senyum Jung min semakin lebar, perlahan Jung min menarik tangan Hye na untuk mendekat kearahnya. Kini keduanya berdiri berhadapan, saling menatap dalam diam. Jung min tersenyum menatap Hye na, menaikkan tangannya, mengusap wajah Hye na lembut “kau masih merindukanku?”Tanya Jung min menatap nakal pada Hye na. Hye na membalas tatapan Jung min, namun hanya sesaat, sesaat kemudian Hye na mengalihkan wajahnya dan berjalan meninggalkan Jung min, tanpa menjawab pertanyaan Hye na.

“baiklah… aku akan menyiapkan pakaianmu… dan aku juga harus menyiapkan sarapan… sebelum aku memandikan Hana…” kata Hye na yang kemudian beranjak pergi, Jung min masih tersenyum ditempatnya, lalu kemudian dengan cepat menarik tangan Hye na kembali kesisinya, menariknya masuk kedalam pelukannya. Jung min tersenyum dan membisikkan sesuatu di telinga Hye na “tapi…jika istriku memintaku untuk tidak pergi… maka aku akan tinggal…”kata Jung min kemudian, membuat wajah Hye na bersemu merah.

Hye na terdiam ditempatnya, menundukkan kepalanya, menyembunyikan semu merah diwajahnya sekaligus senyuman manisnya dan kemudian segera menarik dirinya dari pelukan Jung min. “…tidak akan… lakukan apapun yang kau inginkan dan yang harus kau lakukan”kata Hye na yang kemudian beranjak pergi, namun kemudian langkahnya terhenti “…apa yang ingin kau makan pagi ini…”Tanya Hye na, memutar tubuhnya, menatap Jung min yang tersenyum. “apapun yang kau buat…” Jung min menghentikan perkataannya “…akan aku makan…”sambung Jung min lagi.

Hye na diam ditempatnya, kemudian mengangkat tangannya, menekuk ketiga jarinya, membuat sebuah pistol yang ia arahkan pada Jung min “bang…”kata Hye na dengan tatapan tajam, yang kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi, meninggalkan sebuah senyum yang semakin lebar di wajah Jung min.

*******

“omma… Ha na bangun…”seru Jae min tiba-tiba, menatap Hye na yang terlihat tengah menyiapkan semua masakan yang sudah dibuatnya di meja makan. Hye na menatap Jae min dan tersenyum “…membuatmu terbangun ya…?”ujar Hye na yang kemudian berlari naik ke lantai 2 dimana kamar Ha na berada “…maaf Jae min… sarapan saja dulu… omma sudah menyiapkan sarapanmu… dan…” Hye na menghentikan perkataannya dan menatap seseorang yang berdiri dihadapannya terlihat menggaruk kepalanya “…Min jae… makan sarapan mu… mungkin appa sudah turun…”kata Hye na lagi tersenyum menatap Min jae dan ketika ia melewatinya, ia mengacak rambut Min jae seraya tersenyum, menatapnya, namun Min jae hanya diam, dan mengacak rambutnya, membuatnya lebih berantakan.

Hye na tersenyum, berbeda sekali dengan kembarannya yang lain… Hye na melangkahkan kakinya kembali.
Hye na menatap pintu kamar Ha na terbuka, dan tangis tidak lagi terdengar dari dalam, hanya suara tawa kecil dan suara seseorang. Hye na membuka pintu dihadapannya lebih lebar dan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar itu, menatap sebuah interaksi yang terjadi. Hye na tersenyum. Lama Hye na terdiam, menatap itu, hingga…

“…Lee Jung min… pakaianmu sudah siap…dan sarapan sudah menunggumu…”kata Hye na, membuat Jung min membalikkan tubuhnya, menatap Hye na

“ah… lihat… itu omma sayang…”kata Jung min kemudian, berjalan mendekati Hye na sambil menggendong Ha na di pelukannya “omma.. omma… omma…”ujar Jung min sambil kemudian membawa Ha na melangkah mendekat pada Hye na. Hye na menatap Jung min dan Ha na bergantian, kemudian Hye na mengangkat kedua tangannya untuk mengambil dan menggendong Ha na dari pelukan Jung min.

“sana”kata Hye na lagi, menatap Jung min tajam, yang dibalas Jung min dengan sebuah senyuman.

“apa…”

“sana…”

“apanya…”

“kau akan terlambat…”

“ahni…”

“cepat…”

“akukan bosnya…”

Hye na diam, menatap Jung min semakin tajam, kemudian mulai meletakkan Ha na di ranjangnya dan membuka pakaiannya “auussshhh… aku akan memecat diriku sendiri kalau aku bosnya dan aku terlambat…”kata Hye na, sambil meletakkan pakaian kotor Ha na di keranjang pakaian, kemudian berhenti dihadapan Jung min, menatap Jung min “…aku juga akan mengundurkan diri jika bos ku seperti dirimu… tidak bertanggung jawab…”tambah Hye na, menatap sengit Jung min. Jung min hanya terdiam ditempatnya, kemudian senyum terlihat terkembang diwajahnya.

“baiklah… baiklah… tapi setelah Ha na selesai mandi…”kata Jung min lagi, mengalihkan pandangannya pad Ha na yang kemudian segera di bawa Hye na keluar dari ranjangnya dan mulai ia mandikan.

Jung min mengambil Ha na segera setelah Hye na selesai memandikannya. Jung min mulai melap tubuh Ha na dengan handuk dan memakaikan pakaian Ha na. Hye na tersenyum menatapnya. Suaminya itu sudah lebih ahli sekarang…

Hye na diam, menatap Jung min dan segera berdiri disisinya, mengambil Ha na kepelukannya, menggendongnya ke luar dari kamarnya, namun hanya sesaat, Hye na lalu menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya kesal “…lakukan tugasmu… bersiaplah… Seung gi-ssi sudah menunggumu…”protes Hye na, kesal.

Jung min tersenyum kembali “…baiklah…”jawab Jung min. “…sayang…”tambah Jung min lagi, sebelum Hye na berbelok di ujung ruangan, keluar dari kamar Ha na.

*******
Jung min menatap pakaian yang sudah disediakan oleh istri tercintanya, tersenyum. Sebuah pakaian yang sangat biasa. Bukan kemeja dengan dasi dan jas, hanya sebuah baju kain dan rompi. Jung min tersenyum lagi.
Hye na menatap Jung min terpana. Ia datang dengan pakaian yang sudah ia pilihkan untuknya, baju putih dengan rompi hitam. Pas sekali untuknya. Hye na tersenyum sesaat sebelum akhirnya dia menundukkan kepalanya, tidak memperdulikan kedatangan Jung min. Jung min duduk disisi kepala meja, menatap beberapa orang yang menatapnya.



Jung min diam, menatap semua orang yang diam menatapnya. “ada apa…?”ujarnya, menatap semua orang

“…ayo makan…”tambah Jung min kemudian, mengambil beberapa makanan ke mangkuk nasinya dan Hye na tersenyum. Semuanya melanjutkan kegiatan mereka memakan makanan yang ada dihadapan mereka tidak terkecuali Seung gi. Tak lama, Min jae bangkit dari tempatnya kemudian disusul Jae min.

“kemana…? Bukankah kalian libur hari ini…?”cegah Hye na tiba-tiba, menatap kedua anak laki-lakinya itu. Jae min memutar kepalanya, menatap Hye na.



“ne omma… karena hari ini hari libur…”jawab Jae min, tersenyum. Min jae menatap sang ibu sesaat sebelum akhirnya ia melangkah pergi.

“kemana mereka pagi-pagi seperti ini…?”Tanya Seung gi tiba-tiba. Hye na tersenyum. Jung min masih diam ditempatnya, membuat Seung gi menatapnya “…yya… kau… apa kau tidak khawatir dengan mereka…?”tanya Seung gi, menghentikan Jung min mengambil makanan di hadapannya dengan sumpitnya. “aiisshh… mereka sudah cukup dewasa untuk mengerti dan mengambil keputusan...”jawab Jung min, kesal, kmeudian melanjutkan mengunyah makanannya.

Hye na diam ditempatnya, tersenyum “…masitta…?”Tanya Hye na tiba-tiba, menatap Jung min, lembut, tersenyum lebar.

Jung min mengalihkan pandangannya, menatap Hye na, lalu perlahan mendekatkan kepalanya pada Hye na. Seung gi menatap diam ditempatnya, terpana, heran “…auusshh… lebih baik aku pergi… aku akan menunggumu di ruang tengah…”kata Seung gi kemudian

Hye na mengalihkan pandangannya, menatap Seung gi “…yya… kau tidak menghabiskan makananmu…”

“tidak… aku sudah kenyang… dan akan muntah jika melihat kalian seprti itu…aissshh…”jawab Seung gi

Hye na tersenyum, dan tiba-tiba Jung min menarik dagu Hye na, mengalihkan pandangan Hye na padanya, membuat Hye na terkejut ditempatnya “…mwo…?”Tanya Hye na bingung, menatap Jung min yang tersenyum lebar, penuh maksud.

“apa..?!?”Tanya Hye na

Jung min masih tersenyum ditempatnya. “apa…?!?!?”Tanya Hye na lagi

“ahniya…. Hanya…ah…Ha na… kemari…”kata Jung min tiba-tiba, menunjuk seseorang di belakang Hye na. Hye na mengalihkan pandangannya, dan menatap tidak ada seorangpun dibelakangnya, dan tepat setelah ia berbalik, menatap Jung min, tiba-tiba Jung min sudah menciumnya, mengambil ciumannya pagi itu.

Hye na diam menatap Jung min kesal “…curang…”kata Hye na, mengerucutkan bibirnya, dan tepat setelah itu, lagi-lagi Jung min menciumnya. “ahhh…”seru Hye na, melipat tangannya di dada. “…jika kau melakukannya lagi… maka aku pastikan kau tidak akan pergi pagi ini…”kata Hye na. Jung min menatap Hye na, kemudian perlahan mendekatkan wajahnya pada Hye na “…memang apa yang akan kau lakukan…”Tanya Jung min

“…kau tidak tahu…?”tantang Hye na, menatap Jung min.

“ahni…apa…?” menatap Hye na dengan pandangan tidak mengerti, namun juga tersenyum seakan ia mengerti apa maksud perkataan Hye na.

“baiklah…”

“apa…”

“…aku akan melakukannya…”

“apa…”

Tiba-tiba Hye na bangkit dari tempatnya, membuat Jung min menatapnya dalam diam, keterkejutan terlihat disepasang matanya. Hye na melangkah mendekat kearah Jung min, menatapnya tajam, seakan ingin menerkam Jung min. Tak lama, Hye na sudah benar-benar dekat dengan Jung min, dan perlahan Hye na menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya, dan menarik kerah baju Jung min kemudian mencium Jung min dalam, membuat Jung min membelalakkan matanya, benar-benar terkejut. Hye na membuka matanya, menatap Jung min, dan ia semakin memperdalam ciumannya. Jung min mulai membalasnya. Keduanya saling mencium dalam. Hingga tiba-tiba ponsel Jung min berdering. Jung min menatap Hye na yang masih belum melepaskan ciumannya. “…mmmnnn…” Jung min mencoba menghentikan ciuman Hye na, tapi Hye na tidak melepaskannya, hingga…

“ahhh… aku harus menerima telepon ini…”kata Jung min, menarik tubuh Hye na menjauh, melepaskan ciuman Hye na namun masih melingkarkan sebelah tangannya di perut Hye na dan menatap Hye na.
Hye na membalas tatapan Jung min. “…lakukan apa yang seharusnya kau lakukan…”kata Hye na yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Jung min, kesal, membuat Jung min tersenyum ditempatnya, menatap kepergian Hye na.

Jung min menatap ponsel ditangannya sesaat, dan dengan segera ia mulai berbicara dengan seseorang disana “…yobseyo…”sapa Jung min, mulai mendengarkan

“…ne… bagus… kita akan segera menindak lanjutinya… lakukan apa yang sudah aku katakan sebelumnya… dan jangan sampai ada yang tahu… termasuk Seung gi… ne… aku sendiri yang akan mengatakanya nanti… ne… terima kasih banyak…”kata Jung min yang kemudian menutup ponselnya dan terlihat senyum terkembang lebar diwajahnya.

*********

Hye na diam ditempatnya, menggoda Ha na, bermain dengan Ha na saat Jung min benar-benar berpamitan untuk pergi. Jung min menatap Hye na dan Ha na sesaat, kemudian senyum terkembang diwajahnya “…aku pergi sayang…”kata Jung min, mendekati Ha na dan mengecup pipinya kemudian mengecup kening Hye na.
“apa… makan malam nanti kau sudah berada dirumah…”Tanya Hye na lagi sambil merapikan pakaian Jung min dan kemudian menatap Jung min yang menggendong Ha na.

“aku harap begitu… tidak menyenangkan hari libur seperti ini tapi aku masih harus bekerja…”kata Jung min

“…bukankah kamu yang menginginkannya…?” olok Hye na, menatap Jung min kesal

Jung min tersenyum “baiklah… memang aku yang salah… mianhe…”kata Jung min

Hye na tersenyum, menatap Jung min “…baiklah… segera pergi dan segera selesaikan urusanmu…”

Jung min tersenyum, memberikan Ha na pad Hye na kemudian memeluk keduanya bersamaan, hingga Seung gi menghentikan pertunjukkan itu dengan sebuah dehaman keras “…pesawat akan segera berangkat…”cetus Seung gi, tanpa menatap keduanya. Jung min mengalihkan wajahnya, tanpa melepaskan dekapannya “aussshh!!berisik!!” seru Jung min yang kemudian memeluk Hye na dan Ha na bersamaan namun lebih erat dari sebelumnya, membuat Seung gi berdecak tidak percaya dengan yang dilihat kedua matanya “…ausshhh… terserah”gumam Seung gi, yang kemudian meninggalkan keluarga kecil itu tetap berpelukan.

Hye na menatap Seung gi yang perlahan pergi, tersenyum kemudian perlahan, menggeser tubuh Jung min menjauh dari dirinya “sudah… sana berangkat” ucap Hye na lembut. Jung min tersenyum, menatap Hye na “jangan seperti itu…”

“apanya…”

“itu…”

“apa?”

“kalimatmu…ausshhh… aku jadi mulai berpikir untuk tidak berangkat…”

“auusshhh… kau ini…”

Jung min tersenyum, “sudah sana berangkat…”tambah Hye na, mendorong tubuh Jung min kearah pintu “…dan cepat pulang”tambah Hye na lagi, menatap Jung min yang telah membalikkan tubuhnya, menatap Hye na. Jung min mengalihkan pandangannya menatap Ha na dalam pelukan Hye na “…appa pergi dulu sayang… jaga omma ya… jangan biarkan omma menatap laki-laki lain… dan jangan biarkan omma berbicara dengan laki-laki lain… kalau omma melakukan itu… menangis saja… agar omma ingat dengan appa…”ucap Jung min, membuat Hye na tersenyum, menatap tingkah suaminya itu “…sudah pergi sana” kata Hye na lagi, mendorong tubuh Jung min, benar-benar keluar dari kediaman keduanya.

“Ha na… ingat pesan appa ya…”tambah Jung min lagi

“sudah pergi”seru Hye na lagi

“ne – ne… appa pergi sayang…”kata Jung min yang berlari kearah Hye na lagi, dan mengecup Ha na lembut kemudian mengecup kening Hye na pelan.

**********

Jung min menatap berkas-berkas dimejanya dalam diam, pikirannya tidak lagi berada diberkas-berkas ditangannya. Pikirannya sudah melayang jauh meninggalkan berkas-berkas ditangannya, senyum mulai terlihat diwajahnya, teringat sesuatu, hingga seseorang duduk dihadapannya dalam pesawat yang melaju.

Jung min tersadar dari lamunannya dan menutup berkas yang terbuka ditangannya, menatap orang dihadapannya “…apa?”Tanya Jung min

“seharusnya aku yang bertanya”

Jung min diam, mulai mengerti “…yah… aku akan menjelsakannya”

“harus… kau berhutang tentang itu…”kata orang itu, melempar berkas ditangannya hingga jatuh menjeblak terbuka dihadapan Jung min. Jung min menarik napas panjang, menundukkan kepalanya sesaat, menarik napas panjang dan kemudian melipat kedua tangannya didada.

“maaf Seung gi-ssi… aku memang menyelidikinya sembunyi-sembunyi… aku tidak ingin kau tahu sebelum aku mendapatkan apa yang aku butuhkan…” Jung min menghentikan ucapannya sesaat “…bukti…”tambah Jung min

“kau bisa menyuruhku…”

“dan kau akan mengatakannya pada ayahku… tidak akan…kau tahu… dia salah satu orang kepercayaannya. Apa kau bisa menjamin tidak akan terjadi apapun nantinya?”

“tapi…”

“ya… aku tahu… disamping itu kau adalah sahabatku… tapi… kau tetap bawahan ayahku yang selalu mengamati perkembanganku…”kata Jung min. keduanya terdiam saling menatap, namun hanya beberapa detik, kemudian Jung min terdengar menghela napasnya, dan menatap Seung gi “aku harus melakukannya…”

“kapan…?”

“…” Jung min diam, tidak mengerti, menatap Seung gi, keduanya terdiam.

“kapan kau mulai melakukannya”Tanya Seung gi

Jung min diam, menatap Seung gi “jangan katakan saat terjadi masalah itu…” tambah Seung gi, menatap Jung min yang masih diam ditempatnya. Jung min menundukkan kepalanya. “ahhh… ternyata benar… jadi saat itu”kata Seung gi, menhela napas panjang, menundukka kepalanya.

“mianhe…”kata Jung min. Keduanya terdiam “…aku tidak pernah mengatakan kalau aku tidak percaya padamu… tapi… ini…aku tidak ingin gagal… aku tidak ingin orang itu lolos”terang Jung min. “dia sudah membuatku sangat kacau… dan aku hampir menyerah karenana. Aku tidak ingin melepaskannya.”tambah Jung min, yakin

Seung gi diam ditempatnya, dan menghela napas, entah menyiratkan sebuah pengertian atau sebuah keputus asaan “aku mengerti… lalu… apa yang kau dapat…”Tanya Seung gi kemudian, menatap Jung min.

Jung min diam, mengambil salah satu berkas yang berada dipaling bawah tumpukan dna menyerahkannya pada Seung gi. “itu semua yang aku dapat”kata Jung min.

Seung gi terlihat mulai membuka dan membaca setiap kalimat huruf atau barisan angka yang tertulis di dalam berkas itu.

“ternyata dia yang melakukannya… dia yang ada dibalik ini semua… aku tidak percaya…”

Jung min menganggukkan kepalanya, mengiyakan dan meyakinkan setiap ucapan dan perkiraannya benar adanya. Seung gi diam kemudian, masih menatap berkas ditangannya.

“ne…dan kita hampir saja melakukan kesalahan.”jawab Jung min. Seung gi mendesah tenang, merebahkan punggungnya di punggung kursi tempatnya duduk, menutup berkas ditangannya dan menatap langit biru yang terlihat sangat cerah pagi itu.

Keduanya mendesah pelan, bersamaan dan mulai membuka satu persatu berkas di meja diantara keduanya, hingga Jung min teringat sesuatu “…oh ya… hampir lupa… siapkan juga seorang supir untuk menjemput seseorang…”kata Jung min

Seung gi mengerutkan keningnya, bingung, tidak mengerti “siapa?”Tanya Seung gi, menatap Jung min “siapa seseorang itu?”Tanya Seung gi lagi

Jung min menjawab pertanyaan itu dengan tersenyum. Sebuah senyum lebar penuh kemenangan “seseorang yang membantuku…”

“siapa…?”

Jung min diam “…kau akan tahu nanti… kedatangannya mungkin satu jam setelah kedatangan kita…”kata Jung min kemudian, melipat kedua lengannya didada, menyandarkan tubuhnya di punggung kursinya, menatap langir biru, san tersenyum lebar.

*******

Hye na menatap tersenyum Ha na dipelukannya yang sudah mulai memejamkan matanya yang baru saja ia berikan haknya. Ha na baru saja mendapat asi dari Hye na, dan kini gadis kecil itu tertidur dalam pelukan Hye na. Ha na tersenyum dalam tidurnya, tenang. Perlahan Hye na bangkit dan menempatkan Ha na ditengah ranjang, menyelimutinya dan memberikan bantal guling diketiga sisinya. Kanan kiri dan sisi bawah Ha na. Hye na mengecup lembut kedua pipi Ha na dan keningnya.

Hye na melemparkan senyumnya sesaat sebelum akhirnya ia menutup pintu di hadapannya dan melangkah pergi. Ia harus menyiapkan makan siang untuk kedua anaknya, dan ia berharap untuk Jung min juga. Ia berharap kepulangannya segera siang itu sehingga dapat makan siang bersamanya dan kedua anaknya, tapi… Hye na tersenyum sesaat, mendesah pelan dan kemudian mulai menyiapkan segalanya, tanpa menyadari tatapan seseorang dan sebuah senyum sekaligus kerinduan karena apa yang ditatapnya.

********

Laki-laki itu menatap pintu kamar dihadapannya, kemudian senyum terlihat terkembang diwajahnya. Ia menundukkan kepalanya, menatap sebuah kamera di tangan yang terikat pada sebuah tali hitam yang melingkar di lehernya. Perlahan laki-laki itu membuka pintu dihadapannya dan masuk, menatap sekelilingnya dan mulai mengangkat kamera yang talinya tergantung dilehernya. Ia menatap kamar dihadapannya dan mulai membidik lewat kameranya. Sebuah tiruan ruangan di hadapannya tercetak jelas di layar kameranya. Laki-laki itu tersenyum, dan kemudian dengan langkah perlahan laki-laki itu mulai melangkah, menghadapi seorang bayi kecil yang terlihat tengah tertidur pulas diranjangnya. Bayi perempuan, dengan kulit dan kecantikan bagaikan replika kecil ibunya dan tubuh yang gempal, membuat bayi perempuan itu sangat menggemaskan.

Laki-laki itu mengangkat kembali kamera di tangannya dan mulai membidiknya, mengambil sebuah gambar dari objek di hadapannya, kemudian tersenyum. Beberapa saat kemudian, ia mengangkat kembali kameranya dan mengambil beberapa gambar bayi perempuan itu, hingga tiba-tiba tubuhnya berbalik, kembali menghadap pintu ketika seseorang membuka pintu dibelakangnya, berdiri menatapnya dengan napas yang ngos-ngosan.

Laki-laki itu menatap wanita dihadapannya tersenyum dan tidak menyangka akan mendapatkan pelukan selamat datang dari wanita itu disamping sebuah teriakan kecil darinya.

“oppa!!”serunya

Laki-laki itu menatap wanita itu yang tidak menyangka wanita itu berlari menghambur dalam pelukannya.

“oppa!! Bogoshipo!!’seru wanita itu lagi, memeluk laki-laki itu. Laki-laki itu tersenyum, membalas pelukan laki-laki itu, menepuk punggungnya lembut “kapan datang…?”tanyanya lagi, sambil kemudian, melepaskan pelukannya, menatap laki-laki dihadapannya.

“baru saja…”jawab laki-laki itu. Wanita itu tersenyum haru menatap laki-laki dihadapannya dan beranjak memeluknya kembali.

“oppa… bogoshipo…”

“ne… sama…. Dan bagaimana kabar kedua jagoan kembarmu… Hye na…?”Tanya laki-laki itu, melepaskan pelukan wanita dihadapannya, menatapnya.



“Jae min dan Min jae tumbuh dengan baik oppa… mereka sehat… dan… bagaimana kabar Jung moon oppa… apa semuanya baik? Dan apa En Kyu merepotkanmu?”Tanya Hye na, menatap Jung moon penuh selidik.

Jung moon tersenyum menatap Hye na kemudian mengalihkan pandangannya menatap bayi perempuan kecil yang masih tertidur lelap tidak memperdulikan keributan yang tercipa disekitarnya.
Hye na menatap Ha na. “…apa dia Ha na…?”Tanya Jung moon lagi, menatap Ha na dan berjalan semakin dekat kearahnya. Hye na tersenyum kemudian menganggukan kepalanya “…ne… lucu bukan oppa…”

“ne… dia benar-benar replika mu… dia mirip sekali denganmu”kata Jung moon. Hye na tersenyum menundukkan kepalanya. Jung moon menatap Hye na, dan senyum ikut terkembang diwajahnya.

“ahh!! Oppa.. lebih baik kita bicara diluar… aku juga sudah menyiapkan makan siang… disini kau tinggal lama bukan?”Tanya Hye na, menatap Jung moon. Jung moon terdiam, mengerutkan keningnya dan menggaruk dagunya, berpikir “tergantung…”jawab Jung moon

“oppa…” rengek Hye na

Jung moon tersenyum “baiklah… dan mana suamimu itu?”

“…ahhh… jangan sebut namanya…aku sedang kesal dengannya”

“auusshhh… ada apa lgi sekarang”ujar Jung moon berusaha menggoda Hye na

“opppa!!!!”

“arasssoo… mianhe… baiklah kita keluar sekarang… mungkin kedua jagoan itu juga sudah kembali… aku bertemu mereka saat berjalan kemari…”

“mwoo!! Kau bertemu mereka?!?!?”

“dimana…?”

“di sebuah sungai dekat yayasan…”

“mereka sampai disana?!?”

“ne… dan sepertinya akan ada masalah antara aku dan mereka?”

“MWO!?!?!”

Jung moon tersenyum menatap ekspresi Hye na padanya.

*********

Waktu makan siang tiba, Hye na menatap semua makanan yang ia masak dan ia letakkan di meja makan. Hye na tersenyum setelah menatap semuanya sudah selesai ia lakukan, dan tinggal menunggu kedua putra kembarnya. Hye na tersenyum, dan teringat akan seseorang. Hye na melepaskan celemeknya dan melangkah ke ruang tengah, dimana seseorang berada.

“kita makan sekarang oppa…”ajak Hye na

“lalu… dimana kedua anak itu…”Tanya Jung moon kemudian, meletakkan kameranya yang sedang ia bersihkan sebelumnya.

“sebentar lagi mereka datang…”kata Hye na, menatap jam dinding di belakangnya, dan mengalihkan pandangannya menatap Jung moon yakin.

Jung moon diam, menatap Hye na. “kau benar-benar ibu yang baik…”kata Jung moon kemudian, menatap Hye na. Hye na tersenyum. “ahni… hanya berusaha menjadi ibu yang baik oppa…”jawab Hye na “…ayo kita makan…mereka sudah datang…”kata Hye na lagi, menatap kedatangan 2 orang yang sudah mereka tunggu, yang berlari masuk kedalam, menghambur dengan keringat yang deras menetes di tubuh keduanya, berjalan mendekati Hye na.

Hye na menatap keduanya aneh “…apa yang kau lakukan…kenapa kalian berkeringat seperti ini…”

Keduanya diam, menatap tubuh keduanya “…ahni omma.. ini bukan keringat… ini…” Jae min menghentikan perkataannya, ia menatap tajam seseorang yang duduk di belakang Hye na dan sedang sibuk meneliti kamera ditangannya.

“KAU!!!”seru Jae min tiba-tiba, berjalan mendekat kehadapan Jung moon, mengarahkan telunjuknya pada Jung moon. Jung moon tersenyum menatapnya “…kita ketemu lagi…”kata Jung moon.

“auusshhh!! Omma apa yang dilakukan orang ini disini… dia…” seru Jae min

Min jae terlihat diam, menatap tajam Jung moon, rasa kesal terlihat diwajahnya.

“memang ada apa…?”Tanya Hye na tidak mengerti

“…dia…dia…”

“dia orang yang sudah membuat kami seperti ini omma…”sambung Min jae kemudian, datar, namun menatap Jung moon dengan tatapan marah.

Hye na menatap kedua anaknya tajam, sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya menatap Jung moon, bingung. “apa ini yang kau maksud masalah…”kata Hye na kemudian, menatap Jung moon yang tersenyum padanya. Jung moon tersenyum membalas tatapan Hye na kemudian mengalihkan pandangannya pada kedua anak laki-laki kembar yang berdiri tak jauh dihadapannya. Senyuman Jung moon semakin lebar, menatap rasa bingung Hye na dan menatap kedua anak laki-laki kembar dihadapannya.


Jung min menatap Seung gi yang terlihat masih membaca beberapa berkas ditangannya “…bagaimana… kau sudah mengerim seseorang untuk menjemputnya…?”Tanya Jung min tiba-tiba, menatap Seung gi.

Seung gi menganggukkan kepalanya, kemudian mengalihkan pandangannya dari berkas ditangannya “..ne… sudah… mungkin dia udah dibandara sekarang…”kata Seung gi

“bagus kalau begitu…” ujar Jung min, kembali merenungi berkas di mejanya

Seung gi menatap Jung min semakin tajam, menatapnya penuh selidik, yang kemudian segera disadari oleh Jung min “…ada apa…?”Tanya Jung min, bingung mendapat tatapan Seung gi.

“…sebenarnya siapa?”Tanya Seung gi lagi

Jung min menatap Seung gi dan tersenyum “…lihat saja nanti”jawab Jung min kembali merenungi berkas-berkas dihadapannya.

“mwo!?!??”

“sudah…kerjakan apa yang harus kau kerjakan…”kata Jung min kemudian

Seung gi diam ditempatnya. Jung min menatap jam dilengannya, kemudian berdecak sesaat sebelum akhirnya ia bangkit dari tempatnya, mengambil sebuah berkas dimejanya “kita berangkat sekarang…”kata Jung min

Seung gi menatapnya, mengerutkan keningnya “…tapi bukankah kau ingin menunggu orang rahasia itu…”kata Seung gi

“ne… biar dia menyusul… katakan pada yang menjemput untuk segera membawanya ke tempat itu…”kata Jung min, berjalan mendahului Seung gi yang menatapnya sedikit kesal

“tapi…”

“ausshhh… telepon saja…”paksa Jung min, menatap Seung gi tajam, membuat Seung gi diam ditempatnya. “auusshhh..!!! arassso..!! arasso!!”seru Seung gi kemudian, menatap Jung min yang tak lama kemudian menghilang di balik pintu. Seung gi diam ditempatnya, hingga tak lama tiba-tiba Jung min membuka pintu kembali, menatap Seung gi lekat “…ingat…lakukan segera..!! aku ingin malam nanti… tepat tengah malam, aku bisa sampai dimasion ku…”ujar Jung min, membuat Seung gu memandangnya semakin kesal “…tidak ada penawaran…”tambah Jung min, ketika menatap Seung gi yang akan mengeluarkan pendapatnya.

“ne..ne..”

***********



“mianhe…”kata Jung moon tiba-tiba, menatap kedua keponakannya, yang duduk di hadapannya, yang terlihat melipat lengannya didada mereka. Jae min membuang mukanya, benar-benar marah, sedangkan Min jae terlihat tidak peduli dan terus menghabiskan makan siangnya.

“…maafkan ahjussi…”pinta Jung moon lagi.
Jae min dan Min jae diam, menatap Jung moon sesaat dan kemudian meneruskan makannya kembali.

“ayolah anak-anak… maafkan ahjussi…”kata Jung moon lagi, memohon pada kedua anak laki-laki identik dihadapannya.

“…auusshhh… tapi kenapa ahjussi tidak berusaha menolong kami… kau tahu siapa kami… tapi kau sama sekali tidak ingin menolong kami…”

“…tapi kalian tidak apa-apa bukan…. Jadi…”

“Min jae tenggelam… dia tidak bisa berenang…”jelas Jae min, mengarahkan telunjukkan pada Min jae yang duduk disisinya. Min jae tersedak ditempatnya dan segera menurunkan tangan Jae min kuat. “auushhh… tidak perlu sekeras itu…aiiissshhh”ujar Min jae kesal, menatap saudara kembarnya itu.

“yya!! Min jae…”panggil Jung moon tiba-tiba. Min jae mengalihkan pandangannya menatap Jung moon

“…apa ada yang terluka…”Tanya Jung moon lagi.

Pertanyaan Jung moon, membuat Jae min menatap sang paman semakin kesal “auusshhh…ahjussi…”seru Jae min “…ommonie…”kata Jae min kemudian, menatap sang ibu

Hye na tersenyum, menatap kedua anak laki-lakinya itu, “sudahlah… habiskan makanan kalian…”kata Hye na, membuat Jae min semakin kesal ditempatnya.

Hye na menatap Jae min sesaat sebelum akhirnya, bangkit dari tempatnya berjalan mendekati Jae min. “…jangan seperti itu sayang… ahjussi tidak bermaksud seperti itu…”kata Hye na, menatap lekat dan lembut Jae min. Hye na kemudian mengalihkan pandangannya menatap Min jae, keduanya menarik napas panjang. “kami selesai omma…”kata Jae min kemudian.

Hye na menatap keduanya yang bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi, namun terhenti segera sebelum keduanya naik kekamar mereka “…hey…”panggil Jung moon, menghentikan langkah keduanya “kalian memaafkan paman bukan…”Tanya Jung moon.

Min jae diam, tidak menjawab, Jae min melangkah maju, mendekat “..tergantung…”kata Jae min yang kemudian pergi.

Hye na tersenyum semakin lebar “…mereka mirip Jung min jika marah…”

Jung moon tersenyum, menatap kedua keponakannya “….ya… dan akan semakin sulit untukku…”kata Jung moon lagi.

Hye na tersenyum.



“tapi oppa… sebenarnya apa yang terjadi… kenapa…?”

Jung moon tersenyum, menatap Hye na “…mereka benar tentang aku tidak mencoba menolong keduanya… aku tahu saat Min jae terjun kedalam sungai saat ia menatap seekor anak kucing yang hanyut… Jae min kemudian menyusul Min jae untuk menyelamatkan keduanya…”terang Jung moon “…aku ingin menolong… tapi keadaanku tidak mengijinkan…”kata Jung moon kemudian, menundukkan kepalanya, menyadari kekurangannya.

 Hye na tersenyum, “maafkan mereka oppa… mereka tidak tahu… lagipula mereka sudah lama tidak bertemu denganmu…”kata Hye na, menepuk punggung Jung moon dan kemudian menegak teh dalam cangkir ditangannya. “dan akhirnya…saat itu aku hanya tersenyum dan mengambil gambar keduanya…”kata Jung moon, menatap kamera ditangannya kemudian menunjukkan beberapa foto yang ia ambil saat kedua keponakannya itu mengalami tragedi yang membuat Jung moon merasa sangat bersalah.

Hye na menatap foto di kamera Jung moon, kemudian tersenyum “…mereka lucu…”kata Hye na kemudian.
“yahh… dan sangat dekat… saling membantu… aku seperti melihat aku dan Jung min saat kami kecil… tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada salah satu dari kami… apa lagi mereka kembar yang sudah pasti ada ikatan yang sulit dijelaskan diantara mereka…”

Hye na menarik napas panjang “…dan… sepertinya itu yang mereka alami sebelum ini…”

“apa…”

“entahlah apa yang terjadi, tapi aku sudha berjanji tidak ingin menanyakan itu pada salah satu dari mereka…”kata Hye na

“…” Jung moon diam, menatap Hye na

“ahhh… kapan suamimu pulang…?”Tanya Jung moon lagi menatap Hye na.

“…entahlah… ia bilang malam nanti… tapi… aku tidak terlalu berharap…”

Jung moon tersenyum semakin lebar ditempatnya, menatap Hye na yang kekesalan mulai terlihat diwajahnya.

*******

Hye na berlari cepat ke telepon meja diruang tengah yang berdering setelah ia memberikan Ha na pada Jung moon. Saat itu keduanya tengah berada di ruang tengah mansion Lee, bermain bersama Hye na, tak jauh di tempat keduanya dan lebih tepatnya di teras mansion mereka Jae min dan Min jae duduk, keduanya tengah melakukan kesibukannya masing-masing, Min jae mmembaca buku ditangannya sedangkan Jae min terlihat tengah memainkan game portable ditangannya.

Hye na mengangkat teleponnya “yobseyo…”sapanya kemudian “ahhh… oppa… ada apa…?”Tanya Hye na kemudian, terdengar senang karena telepon yang diterimanya.

“ne… dia baru datang tadi siang… sekarang masih ada…”Hye na terdiam, mendengar ucapan seseorang diseberang “…kau akan mampir…? Ne..baiklah… makan malam juga disini… akan aku siapkan… ajak onnie dan Jae joon juga…”kata Hye na lagi, tersenyum

“ne… baik oppa...”kata Hye na lagi,yang akan menutup telepon namun kemudian segera berteriak kecil dan menempelkan ganggang teleponnya ketelinganya kembali saat ia teringat sesuatu “…oppa…!1” panggil Hye na

“appa… bagaimana keadaaan appa…? Kenapa dia tidak pernah datang…?”Tanya Hye na

“appa…?”jawab orang diseberang teleponnya

“…ne… bagaimana keadaan appa oppa… semuanya baik bukan…?”

“ne… semuanya baik… tapi saat ini beliau sedang mengunjungi tuan Lee di New York… minggu depan, ketiganya baru pulang…”

“ahhh… begitu… baiklah…” kata Hye na kemudian, terdengar lemas dan kemudian menutup teleponnya dan beranjak pergi ketempat Ha na dan Jung moon berada.

Jung moon terdiam ditempatnya, menatap Hye na yang melangkah lesu kearah keduanya. “ada apa…”Tanya Jung moon.

Hye na menghela napas panjang “ahniya.. tidak ada apa-apa oppa…”

“benarkah…”

“ne…”

Jung moon diam, menatap Hye na tidak yakin. Hye na menyadari tatapan Jung moon dan menghelan napas panjang lagi “…appa oppa… hanya rindu…”

“....”Jung moon diam “tenanglah…”

“kenapa semua orang sangat mementingkan pekerjaan dari pada keluarga mereka…”

Jung moon menghela napas panjang dan tersenyum “… bukan seperti itu… mereka hanya ingin membahagiakan…”

“apa seperti ini kebahagiaan…”kata Hye na

“ahni… bukan… bukan untuk kalian saja… tapi juga banyak orang diperusahaan mereka… banyak orang yang bergantung pada mereka… sehingga mereka juga harus memperjuangkan usaha mereka…”terang Jung moon.

Hye na diam ditempatnya, ia baru ingat, banyak yang harus Jung min atau appanya perjuangkan, bukan hanya kebahagiaan keluarga mereka tapi juga kebahagiaan banyak orang...

Hye na menghela napas panjang dan kemudian bangkit ditempatnya “kemana…?”Tanya Jung moon tiba-tiba
“aku harus menyiapkan makan malam… ada banyak orang yang akan datang…”kata Hye na tersenyum menatap Jung moon, membuat Jung moon juga tersenyum ditempatnya.

“ne… siapkan banyak makanan yang enak…”kata Jung moon tersenyum lebar, menyimpan sesuatu. Hye na diam menatapnya, membuat Hye na bertanya-tanya “…apa ada yang aku sembunyikan oppa…?”Tanya Hye na

“ahni…”

Hye na memicingkan matanya, menatap curiga pada Jung moon “…ahni… tidak ada… siapkan saja makan malamnya…”kata Jung moon yang kemudian menatap Ha na di kasur goyangnya, kemudian membidik Ha na dengan kameranya, mengambil beberapa gambarnya.

**********



Malam kembali menjelma. Sinar bulan kembali memancar digelapnya malam bersama sinar bintang. Hye na tersenyum menatap keluarganya yang malam itu berkumpul di mansion Lee, menikmati makan malam mereka, namun helaan napas segera terdengar saat ia teringat sesuatu.

“Lee Jung min…”gumam Hye na, menatap sianr bulan malam itu, terdiam, menghela napas panjang.

“ada apa… kangen…”Tanya seseorang tiba-tiba sambil memberikan segelas cappuccino dihadapannya. Hye na mengalihkan pandangannya, menatap orang itu dan tersenyum.

“onnie…”

“kenapa… rindu pada suamimu…”kata Eun jo lagi, meneguk capuccinonya. Hye na diam, menghela napas panjang dan mengambil gelas capuccinonya, menggenggamnya di tangan untuk menghangatkan tangannya. Eun jo tersenyum “tidak apa… aku sudah sering mengalami yang seperti itu… pasti berat bukan…”
Hye na diam, menundukkan kepalanya, menatap cappuccino yang masih utuh dalam gelas ditangannya. “tidak apa… itu ujian untuk istri seorang eksekutif muda… harus membiasakannya…”kata Eun jo lagi

“Joon oppa mu pernah pergi meninggalkan ku hingga 2 bulan kemarin… hanya telepon yang menghubungkan kami” terang Eun jo

“benarkah… oppa melakukan itu…”

Eun jo menganggukkan kepalanya, mengembungkan mulutnya, sedih.



Hye na menarik napas panjang, ia benar-benar tidak menyangka. Keduanya terdiam, seakan meratapi nasib masing-masing, namun tak lama kemudian, senyum terlihat di wajah masing-masing, kemudian gelak tawa mulai terdengar, membuat beberapa orang dalam ruang tengah menatap keduanya.

Jae min dan Min jae menatap ibu dan bibinya itu. Menatap bingung, kemudian segera mengalihkan pandangannya menatap ahjussi mereka.

“Joon ahjussi… Jung moon ahjussi… apa benar yang kami dengar…?”

“apa…?”

“orang itu…”

“ne…”Tanya Jung moon belum mengerti

“…auusshh… orang itu… apa benar akan datang…”Tanya Jae min lagi. Jung moon dan Park joon mengerti, kemudian tersenyum

“ne… tadi dia menghubungiku… katanya besok pagi ia akan sampai… appa kalian sudah tahu… tapi ia ingin member kejutan pada omma kalian… apa kalian juga bisa menjaga rahasia…”Tanya Jung moon

Jae min dan Min jae tersenyum “…ne…”

“tentu saja…”tambah Min jae.

Min jae menatap Jung moon dan beberapa kameranya yang sedang ia bersihkan, tak lama Min jae melangkah mendekat “…ahjussi…”panggilnya, membuat Jung moon tersentak ditempatnya “…ne… ada apa Jae min…”

Min jae terdiam, menarik napas kesal “…aku Min jae ahjussi… dan yang sedang kegirangan disana baru Jae min”jelas Min jae, datar.





Jung moon mengalihkan pandangannya pada Jae min yang duduk tak jauh dibelakang Min jae “…ahh… mianhe Min jae… ahjussi belum terlalu hafal dengan perbedaan kalian… kalian terlalu mirip…”
Min jae diam ditempatnya, dna kemudian duduk di hadapan Jung moon, menatap kegiatan Jung moon.

“…errmmm… ahjussi…”kata Min jae kemudian.

“ada apa…”Tanya Jung moon, masih melakukan kegiatan. Min jae diam ditempatnya. “aku dengar kau tertarik pada fotografi…”kata Jung moon tiba-tiba, mengalihkan perhatiannya menatap Min jae. Min jae diam ditempatnya, menundukkan kepalanya.

“jadi benar ya…”

“ne… bisakah…” Min jae menghentikan perkataannya, menatap penuh arti pada Jung moon

“…kau ingin belajar…?”

“ne… bisakah…?”

Jung moon tersenyum “…tentu saja… fotografi bisa mewakili perasaanmu tanpa kau harus mengatakannya…”kata Jung moon. “Lewat gambar…segala yang tidak terucap, dapat terungkap…”tambah Jung moon, tersenym menatap Min jae

Min jae diam, menatap Jung moon yang tersenyum menatapnya, kemudian Jung moon tersentak ditempatnya, dan mengambil sebuah tas dari tumpukan beberapa tas pada sebuah tas yang besar. “ini… “kata Jung moon memberikan sebuah tas pada Min jae.

Min jae menatap Jung moon sesaat, bingung kemudian mengalihkan pandangannya pada tas yang diberikan Jung moon padanya. “bukalah…”kata Jung moon kemudian, tersenyum dan kembali membersihkan kamera di tangannya.

Min jae membuka tas dalam genggamannya perlahan, dan saat itu ia benar-benar terkejut menatap tas ditangannya “…ahjussi…”kata Min jae kemudian

Jung moon tersenyum “untukmu…”katanya

Min jae diam ditempatnya, menatap kamera di tangannya “tapi…”



“itu kamera kesayanganku… kamera pertama yang aku beli dengan uangku sendiri sebelum aku seperti ini…”terang Jung moon

“tapi…”

“…untukmu…”

“tapi…”

“auusshh… ada apa denganmu… ambilah… besok ahjussi akan mengajarkan banyak padamu…”

“benarkah…?”

“ne… tentu saja…”

Min jae diam ditempatnya menatap kamera ditangannya, dan tersenyum, senyuman manis yang hampir jarang Min jae perlihatkan. Jung moon tersenyum dan mengangkat kameranya, membidik Min jae yang tersenyum dihadapannya.

“senyumanmu seperti senyuman ayahmu…”kata Jung moon lagi, menatap Min jae yang terceak pada layar kamera Jung moon. Membuat Min jae diam ditempatnya, menundukkan kepalanya. Jung moon tersenyum “…kenapa ayahmu belum pulang…”teringat sesuatu.

Min jae diam ditempatnya, “…omma…”kata Min jae kemudian yang mengalihkan pandangannya pada Hye na yang saat itu tengah tertawa bersama Eun jo di teras mansion mereka.

Keduanya terdiam, menghela napas panjang, namun segera mengalihkan pandangannya saat seseorang datang, tergesa-gesa.

“…agashi… Hye na agashi…”seru orang itu.

“ada apa…”Tanya Hye na lagi, menatap orang itu. Seorang pelayan datang menghampiri Hye na. “nona kecil Ha na… dari tadi menangis… saya piker dia sudah bersama anda… tapi… setelah kami datang… dia…”

Hye na segera berlari pergi, sebelum pelayan tersebut menyelesaikan ucapannya. Hye na menghampiri putri kecilnya itu yang masih menangis di ranjangnya. “ada apa sayang… omma disini…”kata Hye na berusaha menenangkan Ha na dalam pelukannya.

“dia lapar mungkin…”kata Eun jo tiba-tiba, menghambur masuk

“…tapi… setelah makan malam tadi ia baru saja aku beri asi… tidak mungkin ia lapar lagi…”

“lalu ada apa…”

Hye na menatap putri kecilnya itu. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan keringat terus mengucur di tubuhnya. “sayang…”panggil Hye na lagi, mengusap keringat dari dahi Ha na dan saat itu ia baru menyadari sesuatu “…ah tidak… dia demam…tubuhnya hangat…apa yang harus aku lakukan…apa yang harus..”

“tenanglah… hanya demam…”kata Eun jo kemudian.

Hye na diam, menatap Ha na yang masih menangis dalam pelukannya. “ohhh… sayang…”

“…tolong ambilkan pakaian kering dan kompres…”kata Eun jo kemudian, menatap beberapa pelayan yang menatap khawatir pada Ha na.

“ne…”

“cepat…”kata Eun jo “kita ganti pakaiannya dulu…”

“ommonie… aku panggil dokter ya…”kata Jae min tiba-tiba

“ne… tolong Jae min…”jawab Eun jo, tersenyum menatap Jae min yang kemudian bergegas pergi.

“ohhh Ha na sayang…”kata Hye na

************



“MWO!! Benarkah..? lalu bagaimana keadaannya.. semua baik bukan…bukan cacar atau penyakit berat lainnya bukan…”Tanya Jung min melalui ponselnya.

“ne… semuanya baik…. Hanya demam… Sekarang Ha na sudah tenang…”

“ohh… baguslah…”kata Jung min lega. “dan bagaimana Hye na…”Tanya Jung min lagi.

“dia masih bersama Ha na… dan kapan kau sampai… kau ini benar-benar… anakmu sakit dna istrimu butuh dukunganmu tapi kau tidak ada…”

“ne… aku dalam perjalanan… saat ini aku sudha sampai Seoul…”

“baguslah.. bergegaslah… kasihan Hye na”

“ne..”

Jung min menutup ponselnya, menatap kosong jalanan. “pak… saya mohon cepat sedikit…”kata Jung min lagi, menatap supir disisi Seung gi yang menatap bingung pada Jung min

“ada apa… apa yang terjadi pada Hye na…”

“…pak..aku mohon… tambah kecepatannya lagi…”kata Jung min lagi, tanpa memperdulikan Seung gi. Kekhawatiran masih bersamanya. Kekhawatiran pada Ha na dan terutama pada Hye na. Ia benar-benar takut sesuatu yang pernah terjadi terulang kembali, dan Hye na sangat shock setelah kejadian itu.

Flashback

Jung min melangkah cepat di lorong putih Han’s hospital dimana anak keduanya dirawat. Ia pulang malam itu juga setelah ia mendengar kabar tentang anak keduanya setelah putra kembarnya. Anak laki-laki keduanya itu didiagnosa mengalami cacar, dan Jung min sangat khawatir mendengarnya, terutama pada Hye na. Hye na terlihat tabah malam itu dan menangani sendiri pemeriksaan pada anaknya, mengambil keputusan pertama untuk menolong putra keduanya.

Jung min menunggu hampir 1 jam. Ia menunggu pemeriksaan putranya itu, hingga akhirnya seseorang membuka pintu kamar pemeriksaan, melangkah gontai, dan saat pintu terbuka, Jung min dapat mendengar isak tangis dari dalam kamar itu. “bagaimana keadaannya..”Tanya Jung min pada dokter Choi yang membantu Hye na malam itu. Dokter Choi diam ditempatnya, menundukkan kepalanya.

“dokter…”panggil Jung min lagi yang kemudian tanpa menunggu jawaban dokter Choi, Jung min masuk, menghambur, dan langkahnya terhenti saat ia menatap Hye na yang terisak ditempatnya, memeluk putranya dalam pelukannya. Jung min melangkah gontai menatap Hye na.

“apa yang terjadi…”tanyanya lirih, menatap putranya “apa yang terjadi pada Dong wo… semua baik bukan sayang…? Apa yang terjadi…”tanya Jung min, menatap Hye na dan Dong wo dipelukan Hye na. Hye na mengalihkan pandangannya menatap Jung min yang kemudian Jung min membawa Hye na sekaligus Dung wo kepelukannya. “maafkan aku…aku bukan ibu yang baik… aku bukan ibu yang baik…”kata Hye na dalam pelukan Jung min

“ahni… bukan salahmu sayang… aku… mianhe… mianhe sayang…”kata Jung min, yang perlahan air mata mulai jatuh menitik. Hye na masih terisak dalam pelukan Jung min.

End of Flashback

Jung min terdiam ditempatnya, dan perlahan air mata terlihat mulai menitik, jatuh mengalir dipipinya “aku mohon… tambah kecepatannya lagi…”kata Jung min yang terdengar lirih namun Seung gi dan supir disisinya masih dapat mendengarnya, dan sesuatu yang mengkhawatirkan Seung gi seakan terjawab. Memang benar telah terjadi sesuatu. Seung gi menatap supir disisinya dan menganggukkan kepalanya perlahan, memberi sebuah isyarat



“Hye na…”seru Jung min begitu ia tiba dalam mansionnya, berlari cepat ke kamar putri kecilnya, dimana kemungkinan besar Hye na berada, dan ia yakin pasti disana, benar saja. Hye na terlihat tertidur diranjang, memeluk Ha na yang tertidur lelap disisinya. Jung min menghembuskan napasnya panjang sesaat setelah menatap kekasih dan putrinya itu. Jung min melangkah perlahan kearah Hye na dan putri kecilnya berada, langkahnya semakin dekat dan akhirnya ia duduk disisi Hye na, mengusap keningnya lembut sebelum akhirnya mengecup keningnya lembut.
“mianhe sayang…”kata Jung min. Jung min tersenyum, dan perlahan naik dan merebahkan tubuhnya di sisi kiri

Hye na, mengapit Hye na diantara dirinya dan Ha na. Jung min menatap keduanya sesaat dan menaikkan selimut ketubuh Hye na dan Ha na. Jung min tidur disisi Hye na, mendekapnya erat, memeluknya dari belakang dan tidak ingin melepaskannya. Ia benar-benar khawatir malam itu dan tersenyum lega setelah menatap keduanya.

**********

Matahari mulai bersinar cerah, Hye na membuka matanya dan membiasakan matanya dengan sinar mentari pagi itu. Malam yang melelahkan telah terlewati, namun tetap rasa khawatir dalam dirinya belum sirna. Ia menatap cepat ke sisinya, namun segera terdiam saat ia menatap disisinya. Ia tersenyum lebar saat menata suaminya berada disisinya, mendekapnya. Hye na mengangkat tangan Jung min perlahan dan kemudian bangkit, menatap sisinya yang lain, memeriksa keadaan Ha na yang masih tertidur disisinya. Dan helaan napas lega terdengar saat Hye na menyadari kondisi tubuh Ha na. “ahh… sudah terlewati…”gumam Hye na, mengecup ringan kening Ha na dan menatapnya hangat. Tidak terduga oleh Hye na, Ha na mulai membuka matanya, menatap Hye na. “hai sayang…”sapa Hye na, menatap  Ha na. Ha na tersenyum menatap Hye na, dan mengangkat kedua tangannya, mencoba meraih Hye na. “kau sudah baik sekarang?”Tanya Hye na tersenyum.

“kau lapar?”Tanya Hye na lagi “kita makan sekarang… bagaimana…?” tambah Hye na lagi, menatap Ha na “…anak pintar… kita makan sekarang…”
Hye na mengangkat tubuh Ha na kedalam pelukannya dan membawa Ha na ke sebuah kursi untuk menyusui Ha na. Hye na mendekap Ha na hangat, mengusap keningnya, dan beberapa kali ia mengecup keningnya lembut. Ia sangat menyayangi anak-anaknya, dan tidak ingin kehilangan lagi. Ia sudah terlalu banyak kehilangan.

Hye na tersenyum menatap Ha na lagi, dan mengecupnya kembali tepat saat Jung min membuka matanya, menatap sekelilingnya. Hye na belum menyadari keberadaan Jung min yang menatapnya hangat dan lembut. Jung min masih diam ditempatnya, tidak beranjak dan terus menatap. Senyum terkembang diwajahnya disertai rasa syukur. Ia tidak ingin kehilangan lagi.

Hye na menatap jam dinding di kamar Ha na, sudah waktunya ia menyiapkan sarapan pagi itu, dan tepat setelah Ha na menutup kedua matanya kembali, merasa kenyang, Hye na bangkit dari tempatnya dan meletakkan Ha na disisi Jung min yang kembali menutup matanya.

“sebentar sayang… omma siapkan sarapan dulu…”kata Hye na mengecup singkat, lembut kening Ha na dan kemudian pandangannya beralih pada Jung min, perlahan ia juga mengecup lembut kening Jung min. Perlahan Hye na bangkit, namun tiba-tiba ia terjatuh kembali tepat dipelukan Jung min. Jung min menarik tubuhnya, mendekap dalam pelukannya. “tetap disini…”bisik Jung min

“tapi aku…”

“biar sarapan itu disiapkan pelayan…”

“tapi…”

“aku mohon…”pinta Jung min, menutup matanya, namun terus mendekap Hye na. Hye na mendongakkan kepalanya, menatap wajah Jung min. “aku harus menyiapkan sarapan anak-anak…”kata Hye na lirih.

Jung min diam ditempatnya, tidak mengacuhkan Hye na. “Jung min…”ujar Hye na

“ahni… aku ingin kau tetap disini…”kata Jung min kemudian, mendekap Hye na dalam pelukannya semakin erat.

“ayolah… aku..aku tidak…aku tidak….”ucapan Hye na mulai terbata-bata.

“kau cukup lelah semalam… dan aku ingin kau istirahat pagi ini… temani aku…”kata Jung min. Hye na diam ditempatnya, menatap Jung min sesaat dan kemudian menundukkan kepalanya, membenamkan kepalanya pada dada Jung min “aku mohon…biarkan aku menyiapkan sarapan untuk anak-anak…”kata Hye na lirih dan kemudian isakan mulai terdengar.

“aku mohon…”kata Hye na lagi lirih, sembari terisak di dada Jung min, menarik kuat kemeja Jung min, semakin membenamkan kepalanya.

“aku tidak ingin kau pergi… aku minta padamu… aku mohon… tetaplah disini…”

“tapi…”

Ucapan Hye na mulai tergantikan oleh isak tangis yang semakin keras dalam pelukan Jung min, dan Hye na makin menarik kemeja Jung min mendekat, membawa dada Jung min semakin dekat padanya dan membenamkan kepalanya semakin dalam. Ia tidak ingin siapapun mendengar tangisannya terutama Ha na yang tertidur disisinya.

“aku takut…”ujar Hye na lirih, ditengah isak tangisnya. Jung min diam, menepuk pelan punggung Hye na “aku benar-benar takut… sangat takut…”tambah Hye na, membenamkan kepalanya semakin dalam.

Jung min masih diam ditempatnya, mendekap Hye na semakin erat “…aku takut… sangat takut… aku kira aku akan…”

“aku akan… aku akan…hikss… aku akan kehilangan lagi… aku tidak ingin itu terjadi… dan saat itu kau tidak ada disisiku… aku pikir aku akan… aku tidak ingin itu terjadi… aku tidak ingin sendiri… aku benar-benar takut…”ujar Hye na terisak

“menangislah jika itu membuat kau lebih tenang… menangislah…”ujar Jung min lirih, mendekap Hye na semakin erat, dan Hye na semakin membenamkan kepalanya makin dalam ke dada Jung min. “semua akan baik setelah ini… tenang saja… semua akan baik… aku berjanji kau tidak akan mengalami seperti ini lagi… aku akan terus berada disisimu sayang…”hibur Jung min.

Hye na terisak dalam pelukan Jung min, dan Jung min terdiam, masih berusaha menenangkan Hye na, mendekapnya erat, dan tidak ingin melepaskannya.

Jung min menarik napas panjang, menghembuskannya, menatap Ha na yang masih tertidur disisi Hye na. Perlahan Jung min mengangkat tubuhnya, menyelimuti tubuh Ha na dan menepuk pelan tubuh Ha na, berusaha memberikan rasa nyaman pada putri kecilnya itu.

Jung min tersenyum, menatap keduanya hangat “mianhe…sayang…”kata Jung min yang kemudian kembali mendekap erat Hye na. Hye na terlihat sudah tertidur disisinya, membuat Jung min tersenyum menatapnya dan perlahan, tidak ingin menganggu Hye na, Jung min bangkit sebelum kemudian ia mengecup kening Ha na kemudian mengecup kedua pipi Hye na dan terakhir pada kening Hye na.

*********

“ommonie..!!”panggil Jae min tiba-tiba tepat saat Jung min membuka pintu kamar Ha na dari dalam. Jae min menghentikan langkahnya saat Jung min menempelkan jarinya di mulutnya “sshhh…”desis Jung min

“appa…?!?!” seru Jae min, terkejut “kapan appa pulang…”

“semalam… ada apa…?”

“ahni… tidak apa…”kata Jae min yang sesaat kemudian Min jae terlihat melangkah mendekat, dan sama terkejutnya dengan Jae min saat menatap Jung min dihadapannya. “appa..?!?!”

“ne… apa kalian sudah sarapan…?”

“sudah… tapi… apa yang terjadi… dimana ommanie appa?”

“dia tertidur… sangat lelah… biarkan ia istirahat”

“lalu Ha na…?”

“dia sudah membaik…”

“syukurlah…”kata keduanya bersamaan. Jung min menatap Jae min dan Min jae bergantian. “ayo temani appa sarapan…”kata Jung min kemudian.

“tapi kami harus berangkat sekarang…”kata Jae min

“ahh… appa lupa… baiklah…kalian berangkat saja kalau begitu… tidak usah khawatir pada omma atau Ha na… mereka baik-baik saja… istirahat sebentar juga akan baik…”kata Jung min, menenagkan.

“ne… kalau begitu kami berangkat…”kata Jae min lagi, yang kemudian beranjak, namun terhenti saat ia menatap Min jae melangkah mendekat “…appa…”panggil Min jae tepat saat Jung min membalikkan tubuhnya akan masuk kedalam kamar Ha na

“ne…”jawab Jung min, memutar tubuhnya kembali, menatap Min jae

“apa dia benar-benar akan datang…”tanya Min jae.

“…ne… sebentar lagi… semalam appa tidak bisa datang bersamanya… tapi pagi ini pesawatnya sudah berangkat dari pulan Jeju… dan sebentar lagi ia akan sampai…”

Min jae diam, menganggukkan kepalanya mengerti “…sudah berangkat sana…atau kalian akan terlambat nanti…”

“ne… kami berangkat appa…”

Jung min menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian kedua jagoan kembarnya. Setelah Jung min menatap kedua anaknya turun dan mulai menghilang ditelan anak tangga, Jung min menyentuh menekan perutnya, rasa lapar yang menyerangnya tidak bisa ia tahan lagi. Ia harus memakan sesuatu. Jung min melangkah perlahan turun ke ruang makan, dan meminta salah satu pelayan untuk menyiapkan makanan bersamaan dengan kedatangan Jung moon dan duduk dihadapannya.

“selamat pagi…”sapa Jung moon. Jung min tersenyum, rasa lelah terlihat diwajahnya saat ia tersenyum.

“kau sudah datang ternyata… bagaimana keadaanmu…?”Tanya Jung min, menatap makanan dihadapannya yang mulai dihidangkan oleh beberapa pelayan.

“sejauh ini baik… ah… bagaimana keadaan Ha na…”

“sudah lebih baik sekarang…”

“… dan Hye na”

Jung min menatap Jung moon sesaat, kecurigaan terlihat diwajahya “…baik…”

“aku lihat Hye na sangat tertekan semalam… apa tentang Dong wo…?”Tanya Jung moon

Jung min menarik napas panjang “ne… Dong wo, Hye na trauma karena itu… dan juga aku… namun Hye na benar-benar ketakutan…”

Jung moon menatap Jung min sesaat kemudian mulai mengambil makanan dihadapannya “….yah tentu saja…ia ibunya… ibu yang secara langsung memiliki ikatan kuat dengannya… jadi ia akan sangat terpukul jika anak yang ia kandung dan ia lahirkan tiba-tiba pergi di umurnya yang baru beberapa bulan..”

Jung min menundukkan kepalanya “ayo makan…”ajak Jung moon kemudian, sambil mengambilkan beberapa makanan dan meletakkannya pada piring Jung min “makanlah…”

*********

Jung min menatap berkas ditangannya, saat tiba-tiba seorang pelayan datang dan mengatakan seseorang yang sudah ditunggunya datang. “benarkah…?”

“ne doronim… sudah tiba…”

“dimana dia sekarang…?”

“di kamar Ha na agashi…”

“ahh… baiklah… biarkan dia disana… Hye na pasti sangat senang…”

Pelayan tersebut kemudian pergi, meninggalkan Jung min yang tersenyum, dan meletakkan berkas ditangannya.


“omma…”panggil orang itu, menatap Hye na lembut, penuh kerinduan, namun kemudian segera beranjak, melangkah berdiri disisi Ha na, menatapnya tersenyum “…halo sayang… ini oppa…En kyu oppa…”ujarnya, memperkenalkan diri, menggenggam tangan Ha na, memainkannya singkat kemudian mengecup pipinya pelan, tidak ingin membangunkannya. Setelah ia puas menatap Ha na, ia kembali kearah Hye na, dan menatapnya dalam, ia benar-benar sangat merindukan ibunya itu. Sangat rindu....

"omma..."panggil orang itu lagi.



******
End of Chapter




maaf terlalu lama baru bisa updet... [heh] [heh] [heh] [heh]  maaf semua   [hug] [hug] [hug] [hug]

 [bye] [bye] [bye]
« Last Edit: June 24, 2011, 03:59:52 am by ai_yuki »