
Minho sedang berada di kantornya—Lee’s Capital cabang Macau. Berulangkali tangannya yang memegang pen mengetuk-ngetuk gelisah kaca besar yang mendominasi hampir seluruh ruang kantornya yang sangat luas itu. Alisnya berkenyit. Dia sedang menunggu seseorang.
Beberapa saat kemudian pintu kantornya diketuk dari luar.
“Masuk .. ,” perintah Minho sambil memutar badannya.
Pintu dibuka dan seorang wanita muda memasuki ruangan kemudian menghampirinya. “Pak direktur …” Wanita yang merupakan sekretaris Minho tersebut membungkuk hormat. “Orang yang bapak tunggu telah tiba.. ,” lapor wanita itu.
Minho mengangguk, kemudian memberi isyarat kepadanya untuk mempersilahkan orang yang dimaksud masuk ke ruangannya.
“Ne .. “
Sekretaris muda itu kembali membungkukan badannya dan mengundurkan diri. Tidak sampai dua menit kemudian, pintu kantor Minho diketuk kembali.
“Masuk saja .. ,” perintah Minho sambil kembali ke kursi kerjanya.
Sekretaris Kwon—sekretaris Minho itu, dengan diikuti seorang pria usia limapuluhan, masuk ke ruangan Minho.
“Pak direktur, .. ini Tuan Son .. “
Minho menghentikan perkataan sekretaris Kwon dengan mengangkat tangannya. “Ne, .. keluarlah .. “
“Agashimida .. “ Sekretaris Kwon mengangguk kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Sekarang tinggal pria tengah baya tadi yang berdiri berhadapan dengan Minho.
“Bagaimana?” Minho menatapnya penuh tanya.
Pria itu tidak segera menjawab. Irisnya yang kecil bertabrakan dengan iris Minho, .. sepertinya ada yang agak segan dikatakannya.
“Tuan Son!” tegur Minho halus. “Bagaimana? Benar barang itu masih ada di Korea?”
Setelah menghembuskan nafasnya, Tuan Son mengangguk.
“Tapi, .. kenapa selama saya mencarinya tidak ditemukan?” tanya Minho lebih lanjut.
“Tidak begitu jelas, doronim .. ,” akhirnya Tuan Son mengeluarkan suaranya yang terdengar agak serak.
“Anda sakit?” tukas Minho segera. Memutus perkataan Tuan Son yang belum selesai.
“Hanya flu sedikit .. ,” sahut Tuan Son halus.
Dia merasa sedikit tersentuh akan perhatian Minho. Walau pemuda ini majikannya, namun Minho tidak pernah memperlihatkan kesenjangan social di antara mereka. Majikan mudanya ini selalu memperhatikan hidupnya. Baik itu kesehatan maupun keadaan ekonominya. Minho selalu perduli.
Minho mengangguk lega. “Jika memang sakit sebaiknya jangan dipaksakan, Tuan Son. Saya sudah mencari ‘NYA’ hampir setengah tahun ini di Seoul, jadi kurasa .. tidak masalah menundanya sebentar .. “
“Saya tidak apa-apa, doronim .. ,” Tuan Son berdeham pelan memastikan.
“Ok. Jadi apa yang kau dapat?” tanya Minho sambil mempersilahkan Tuan Son duduk di kursi di hadapannya.
“Salah satu Griffin peninggalan Nyonya Tua yang dicuri itu kabarnya masih ada di Korea, atau tepatnya Seoul. Market gelap yang saya datangi beberapa waktu lalu, juga sedang heboh membicarakan masalah ini. Para pedagang di sana sedang menerka-nerka kira-kira di mana benda keramat yang sangat ajaib itu. Tapi walau begitu, mereka yakin kalau Griffin tersebut belum keluar dari Korea. Kabar terakhir, Griffin itu dibeli seorang pengusaha Korea dari Mesir dan dibawa pulang ke Korea Sembilan bulan yang lalu .. “
“Huh—“ Minho menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kemudian memejamkan matanya rapat-rapat. Tangannya memijit-mijit kepalanya yang terasa berat. “Berarti sama saja dengan kabar yang kita dapat setengah tahun yang lalu. Tidak ada perkembangan sama sekali .. “ Minho membuka matanya kembali kemudian memajukan kursi yang didudukinya sampai merapat ke meja kerja, lalu kedua sikunya ditumpukan di kedua sisi meja tersebut dan menatap Tuan Son lekat-lekat. “Tapi, kenapa selama saya berada di Korea dan menyelidiki keberadaan Griffin ini ‘secara seksama’, tidak kudapatkan kabar beritanya? .. Sebenarnya, siapa pengusaha Korea yang membawa Griffin ini dari Mesir?”
Tuan Son mengangkat bahunya. “Tidak ada yang tahu, doronim. Sepertinya si pengusaha ini sengaja menyembunyikan identitasnya. Data-data yang diberikannya di sidang pelelangan waktu itu palsu semua .. “
Minho melipat tangan di depan dada, untuk kemudian menjatuhkan perhatian pada meja kerjanya yang tertata rapi. “Terus selidiki buatku, Tuan Son. Sekali ada kabar, segera menghubungiku!”
Tuan Son membungkuk. “Ne, doronim .. “
Sesaat kemudian, … kesunyian pun tercipta di antara mereka. Tuan Son mengamati Minho yang mengais-ngaiskan kuku-kuku tangannya berulangkali di daun meja. Terlihat sekali majikan mudanya itu sedang gelisah. Dan keadaan ini, baru pertama kali disaksikan Tuan Son. Biasanya, Minho terlalu sulit untuk dibaca pikirannya.
“Doronim, .. apa tidak sebaiknya kita memberitahukan tentang surat Nyonya tua pada Tuan dan Nyonya besar? .. Dengan begitu, .. paling tidak .. pencarian kita dapat diperluas .. ,” kata Tuan Son pelan.
“Tidak!” tukas Minho cepat hingga agak mengejutkan Tuan Son. “Mendiang halmonie menyembunyikan keberadaan sepasang Griffin itu karna beliau tidak ingin masalah tersebut diketahui orang, terutama anggota keluarga kami. Jika saja saya tidak menemukan surat yang ditulis beliau tanpa disengaja, saya juga tidak akan pernah mengetahui tentang Griffin tersebut. Perjuanganku dengan memindahkan kuliah yang hampir selesai ke Seoul setelah itu, dengan menutupi alasan yang sebenarnya dari omma dan appa, .. tidak boleh sia-sia, Tuan Son. Kau mengerti?”
Tuan Son menghela nafasnya. “Ne, doronim .. “
“Griffin itu harus disatukan, Tuan Son .. ,” desis Minho sambil meraba dadanya. Ada sesuatu yang menonjol dan terasa menekan di tangannya. “Jika benar seperti yang dikatakan halmonie dalam suratnya, maka sepasang Griffin tersebut harus disatukan .. Tidak boleh ada korban lagi .. “
“Tapi doronim .. ,” Tuan Son menukas dengan ragu-ragu.
“Ne?” Minho mengangkat wajah padanya.
“Me .. menurut .. apa yang kudengar dari mendiang ayahku … mengenai sepasang Griffin tersebut. Sekalipun mereka disatukan, belum tentu .. berdampak positif jika jatuh ke tangan orang yang tidak cocok. Sepasang Griffin tersebut akan meminta korban. Mereka cuma akan saling menghisap dan bahu-membahu jika bertemu orang yang berjodoh. Diluar itu, .. mereka akan memancarkan kekuatan jahatnya .. “
“Saya juga pernah mendengar tentang dongeng itu .. ,” ujar Minho lemah sembari memutar kursi kerjanya menghadap ke jendela. “ .. surat mendiang halmonie juga ada menyinggung tentang itu .. “
“Sangat berbahaya, doronim … Sebaiknya hentikan saja petualangan ini .. ,” nasehat Tuan Son.
“Tidak bisa, Tuan Son .. ,” balas Minho pelan. “Benda ini peninggalan moyang kami, .. saya harus menemukan dan menghentikan aksi-aksi bejatnya. Cukup hanya haraboji saja yang menerima kutukan dari semua itu. Tidak boleh ada orang lain lagi. Dan juga .. saya tidak mau .. mendiang halmonie menyesali ini dalam kuburnya. Bagaimanapun, .. semua bermula dari kami. Orang-orang di luar mengira Griffin akan membawa berkat bagi mereka, tapi mereka tidak tahu .. dibalik semua itu, ada kutukan menakutkan … “
“Baiklah .. “ Tuan Son tidak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar penjelasan Minho. “Saya akan berusaha membantu, doronim .. “
“Gumawo, Tuan Son .. “ Minho berusaha tersenyum.
“Tenang saja, doronim .. Semua pasti akan baik-baik saja .. “
Minho mengangguk pelan. “Ne. Semoga saja .. “
“Kalau begitu saya pamit dulu .. “ Tuan Son memundurkan kursinya kemudian beranjak bangun. “Kalau ada kabar, saya akan segera menghubungi doronim .. “
“Gumawo .. “
Tuan Son membungkuk hormat kemudian berjalan ke pintu. Dibukanya pintu tersebut kemudian melangkah keluar.
Sekarang, tinggal lah Minho seorang diri dalam ruang kantornya. Perhatian pemuda jangkung itu masih tertuju ke luar jendela ketika membuka kancing kemejanya. Dua yang paling atas. Setelah itu dikeluarkannya seuntai rantai perak yang mengalungi lehernya. Bukan rantai itu yang menjadi pusat perhatiannya kini, .. melainkan … sebuah liontin sebesar tiga perempat dari kepalan tangannya, berwujud hewan aneh berkepala dan memiliki sayap seekor elang tapi bertubuh seekor singa.
Liontin itu teramat aneh untuk dijabarkan dengan kata-kata. Tapi menurut yang tahu legenda dari hewan bersayap elang dan bertubuh singa ini, tentu tahu bahwa Griffin—hewan keramat ini, merupakan hewan yang sangat sakral buat dewa Apollo. Dia juga dipercaya sebagai hewan penjaga matahari. Griffin dijuluki ‘Raja hewan buas dan penguasa udara’, jadi dapat dipastikan—kekuatan apa yang terkandung dalam benda sekecil itu. Sudah berulangkali Griffin menunjukan kekuatannya di masa kehidupan nenek moyang Minho dulu. ‘Mereka’—sepasang Griffin tersebut, akan memberikan kesuksesan-kesuksesan tak terhingga buat para majikan mereka, ataupun .. melindungi majikan mereka dari bahaya. Jadi jangan heran kalau sepasang benda tersebut menjadi buruan dari orang-orang munafik waktu itu.
Namun, satu yang tidak diketahui orang-orang tersebut. Griffin tidak hanya memberkati, tapi mereka juga akan mencelakai jika orang yang memegangnya tidak berjodoh dengan mereka. Seperti yang terjadi pada haraboji Minho, .. yang meninggal secara mengenaskan akibat peluru nyasar. Griffin yang dipakainya tidak melindunginya, .. bahkan entah mengapa Griffin tersebut bersinar redup dan seakan ingin memisahkan diri dengan jatuh ke lantai di saat peluru nyasar tersebut melaju ke jantung Tuan Lee Tua.
Minho mengenggam liontin di tangannya erat-erat, “Di manakah saudaramu .. ?” Seakan berbicara pada ‘benda hidup’, Minho menatap Griffin tersebut lekat-lekat. “Jika ‘dia’ berada di sekitarmu, .. kira-kira .. bagaimana reaksimu .. ,” desahnya halus. “Aku benar-benar ingin tahu .. “
Minho mengendurkan pegangannya, kemudian memasukan liontin tersebut ke balik kemeja dan mengancingnya satu-persatu.
______oOo________
”MWOOO?!!!” Soeun membulatkan matanya lebar-lebar. “Kau … dengan Minho sunbae?!!” tanyanya tak percaya. “Kau .. dijodohkan, .. dan .. pria itu, .. Minho sunbae .. ?” lanjutnya tergagap-gagap, .. masih dengan ketidakpercayaan yang tersirat jelas di wajahnya.
Aku yang dikejutkan oleh kehisterisan Soeun hanya bisa mengangguk pelan. Agak menyesal juga rasanya menceritakan masalah ini kepada si centil yang satu ini. Seharusnya kusimpan saja berita ini sampai pernikahan kita, .. paling tidak pertunangan kita, diumumkan secara besar-besaran. But well, .. aku tidak tahan juga untuk tidak memamerkan kebanggaan ini padanya hehe, .. biar si centil ini nelan ludah setelah mendengar kemenanganku atas dirimu yuhuuu ...
Aku memandang Soeun dengan sinar mata menegur, .. namun tak dapat berucap apa-apa. Soeun terlihat makin kaget ketika menarik kerah kemeja seragamku. Sementara itu, .. beberapa siswa yang sedang menanti upacara pembukaan tahun ajaran baru mulai melirik kearah kami.
“Jinja?!!” Soeun mengulangi pertanyaannya.
Aku mengangguk malas. “Ne. Kau tidak percaya?”
“Tentu saja tidak!” tukas Soeun agak ketus. “Bagaimana mungkin?”
“Mana saya tahu .. ,” sahutku capek. “Tapi begitu kenyataannya .. ,” lanjutku sambil mengibaskan tangannya dan membusungkan dada, sedikit sih.
Sedikit karna maksud semula ingin membanggakan berita ini lenyap sudah karna reaksi berlebihan darinya. Soeun tiba-tiba mencubit lenganku.
“Kau pakai guna-guna ya?”
Mataku terbelalak. “MWO?!! Enak aja!” tukas ku kasar. “Emangnya kau anggap aku apaan? Dukun?!”
Soeun mengangkat bahunya. “Siapa tahu?!”
Lho?!! Apa tidak salah? Soeun mencurigaiku sebagai seorang dukun?!!
“Kalaupun bukan dukun, .. kau pasti dapat guna-gunanya dari seorang dukun .. “ Soeun masih saja tidak mau menyerah.
Aku memberenggut kesal. “Terserah apa katamu, .. yang jelas, Minho dijodohkan denganku. Dan orangtua kami sangat bahagia atas perjodohan ini .. “ Aku beranjak bangun dari bangku taman yang kududuki dan menyambar kasar ransel yang kuletakan di sebelah.
Sekarang, aku benar-benar menyesal telah membeberkan perjodohan kita pada Soeun. Melihat sikapnya, .. aku jadi takut dia akan membocorkan rahasia ini pada Dongsae. Sampai di sini, .. aku menekan bibir dengan tangan—berpikir.
Nama Dongsae membuatku teringat padamu. Hampir seminggu sudah perpisahan kita semenjak kebersamaan hampir tiga minggu di pulau Jeju. Dan selama hampir seminggu ini, kau tidak pernah menghubungiku. Entah apa yang kau lakukan hingga tidak menghubungiku, … sampai sebaris SMS saja tidak kau kirim.
Sebegitu sibuknya kah pekerjaan yang baru kau tangani di Macau sehingga tidak bisa meluangkan waktu sedikit saja buat meneleponku?
“Minho?” Soeun yang tiba-tiba saja sudah mengiringi langkahku membuatku terperanjat kaget. “Sejak kapan kau memanggil Minho sunbae dengan sebutan Minho doang?” Alis cewek bawel itu berkenyit. “Setahuku, .. kau memanggilnya sonsaengnim .. “
Aku terpaku. Seketika langkahku terhenti begitu saja. Pikiranku sudah melayang jauh .. jauh ke kejadian di pinggiran villa Jeju yang menghadap ke laut, .. di bawah siraman bulan dan bintang, sekitar dua minggu yang lalu.
_________oOo__________
Flash back …
“Jangan memanggilku sonsaengnim .. “ Permintaamu yang tiba-tiba waktu itu.
Aku yang sedang menyeruput secangkir coklat panas yang kau belikan langsung tersedak. Sebagian lagi menyembur ke mana-mana.
“Son .. sonsaengnim … ,” ucapku tersendat-sendat. Benarkah kau baru saja mengutarakan permintaan seperti itu?
Kau membalas tatapanku, .. lalu tersenyum. “Weeyo?”
“Ah .. ahni .. ,” elak ku cepat. Kupalingkan wajah kearah lain. Aku yakin pipiku sudah bersemburat merah.
“Aku tidak mau kau masih menganggapku sebagai gurumu sementara kita sudah akan bertunangan .. ,” ucapmu pelan.
Aku berpaling lambat-lambat dan mendapati perhatianmu sudah terarah ke tengah laut. Aku mengamatimu dengan seksama, .. tanpa ragu-ragu lagi. Meskipun parasmu sudah kulihat berkali-kali, tapi entah mengapa .. pesona yang menghipnotis tersebut masih tetap ada, .. tidak pernah hilang dan bahkan semakin kuat.
Mendadak kau berpaling padaku. Hingga dengan gugup aku membuang muka kearah lain. Kau tersenyum. “Bagaimana perasaanmu?” terdengar kau bertanya dengan nada selembut tadi.
“Ba .. baik .. ,” jawabku tercekat.
“Baik?!” Kau mengulangi jawaban itu, .. hingga mau tak mau aku berpaling kembali padamu.
“Ne … Me .. memangnya .. bagaimana perasaanku .. ?” Aku balas bertanya, masih dalam keadaan gugup.
“Mungkin .. ,” kau terlihat mengelus-ngelus dagu. “ .. sangat bahagia .. ,” tebakmu sambil mengarahkan telunjuk padaku dengan senyum mengoda yang tersungging di bibir.
“Yaa—Sonsaeng ..
“Minho!” tukasmu segera, .. meralat panggilan yang hampir terlontar dari mulutku. “Lee Min Ho!!”
Bola mataku melirik ke segala arah. “Min .. ho-a .. ,” ucapku lirih dan tersendat-sendat. Seketika wajahku merona merah. Kepalaku tertunduk, .. malu terhadap tatapan mengoda darimu.
End of flash back …
________oOo___________
”Goo Hye Sun!!!”
Dorongan keras di lengan bagian atas menyadarkanku dari lamunan. Aku mendongak dan mendapati Soeun masih menatapku dengan pandangan menegur.
“Kenapa menyebut Minho Sunbae dengan panggilan Minho?!”
Aku berdecak dan memutar tubuh membelakanginya. “Minho yang memintanya,” jawabku pendek sembari melangkah meninggalkannya.
“Yaa!!” teriak Soeun.
Tapi aku sudah tidak memperdulikannya. Rasanya percuma saja melayani ketidaklabilan-ketidaklabilannya. Hoho—berpikir sampai di sini, aku merasa diriku mulai dewasa. (maunya Hyesun sih—wkkkk)
____________oOo____________
Dongsae mengenggam sebuah kotak dalam tangannya. Saat itu waktunya pulang sekolah dan dia sedang menunggu kemunculan Hyesun di antara kerumunan murid-murid lain sambil menyandar di depan pintu gerbang sekolah. Genggamannya dipererat pada kotak kecil yang terlihat mewah tersebut, .. sementara para murid terlihat berlomba-lomba meninggalkan gedung sekolah menuju halte bis, ataupun tempat parkir mobil-mobil pribadi mereka. Matahari bersinar terik, .. membasahi sekujur tubuh Dongsae yang terbalut rapi oleh kemeja dan celana kain dengan keringat.
Sekitar lima menit kemudian, .. orang yang ditunggu tampak keluar dari gedung sekolah, .. menuju kearah dia berada. Dongsae segera menegakan badannya.
___________oOo___________
”Hyesun-a!!”
Panggilan itu menghentikan langkahku. Wajahku yang tertunduk guna menghindari sinar matahari yang menyengat, kuangkat. Dan aku tercekat seketika. Dongsae, cowok yang berusaha kuhindari selama ini, .. sudah menungguku di situ, di gerbang sekolah yang terpentang lebar. Beberapa murid melirik kami, .. namun sebentar saja perasaan tertarik mereka buyar begitu sinar matahari semakin menyengat kulit. Tergesa-gesa mereka berlalu ke tempat-tempat yang bisa dijadikan tempat berteduh.
“Dongsae … ,” desisku halus.
Aku memutar tubuh dan bermaksud kembali ke ruang kelas. Mataku terpejam seiring langkahku yang terburu-buru. Semoga saja dia tidak menyadari kalau aku telah melihat dan mendengarnya . ., doaku dalam hati.
Namun tentu saja doaku itu hanya untuk membohongi diri semata. Bagaimana mungkin Dongsae tidak melihatku sementara jelas-jelas tadi dia telah bersitatap denganku, walau tidak lama?
“Goo Hye Sun!!”
Aku mendengar panggilan itu makin mendekat. Tergesa-gesa kupercepat langkahku, .. hingga hampir berlari. Namun aku kalah cepat kalau dibandingkan Dongsae yang memiliki sepasang kaki panjang yang teramat atletis.
“Mau kemana?” Mendadak sebuah telapak tangan sudah mendarat di pundak ku.
Aku menghela nafas putus asa. Perlahan aku berbalik. Walau enggan aku tersenyum jua begitu melihat Dongsae memicingkan matanya padaku.
“Dongsae-a, .. ternyata kau yang memanggilku … “ Tanganku lalu bergerak dengan gugup. Sebentar-bentar terayun ke kiri dan kanan, .. kemudian berhenti mengacak-ngacak rambut. “Tadi .. aku mendengar ada orang yang memanggilku .. tapi .. kucari-cari .. tidak dapat .. ,” alasanku sambil menghindari tatapan matanya.
Dongsae melepaskan tekanannya dari pundak ku, lalu mengamatiku dengan seksama. Aku tahu dia tidak percaya, .. tapi mau apa lagi. Hanya ini yang bisa kukatakan padanya tentang kenapa aku berbalik haluan tadi.
“Kau .. bukannya menghindariku .. ?” selidik Dongsae.
“Mwo? Aku?” Telunjuk ku menunjuk diri sendiri. “Omo—omongan apa ini? Tentu saja bukan!” sahutku sambil mengigit bibir.
Aku tidak tahu Dongsae bisa menebak kebohonganku atau tidak, .. yang jelas, sekarang dia sedang tersenyum.
“Kirain kau sengaja menghindariku. Soalnya selama liburan ini aku cari kemana-mana tapi tidak ketemu. Tanya ke Soeun, dia malah bilang kau hanya menitipkan Peanut padanya … Selebihnya, dia tidak tahu apa-apa .. “
“Memang . .,” jawabku pelan.
“Mwo?”
“Eh—“ Aku tersentak. “Maksudku, .. Soeun memang tidak tahu apa-apa mengenai kepergianku,” sahutku cepat. “Aku hanya menitipkan Peanut seperti katanya .. “
“Lalu kau selama ini ke mana?” Dongsae memberondong dengan pertanyaan-pertanyaannya.
“Aku pulang ke Jeju .. ,” jawabku agak malas. “Orangtuaku memintaku pulang dan menghabiskan liburan bersama mereka di sana .. “
“Ada masalah serius?” tanya Dongsae kembali.
Aku mengeleng. “Anhi. Cuma liburan biasa kok .. “
“O—“ Dongsae mengangguk mengerti.
Aku menghela nafas. Lagi-lagi aku menghindari pembicaraan mengenai perjodohan kita yang seharusnya kujelaskan padanya.
Aku menekan dada yang terasa sedikit sesak. Tapi tidak untuk saat ini … aku tidak sanggup melakukannya … kuharap kau mengerti … aku belum siap …
“O ya—“ Seruan Dongsae menyadarkanku dari lamunan. “Aku punya sesuatu untukmu .. “
“Ne?”
Dongsae tersenyum, .. dan dia sudah bermaksud menyodorkan kotak yang sejak tadi digenggamnya padaku, .. kalau saja seseorang tidak segera hadir di antara kami.
Pria berpakaian serba hitam itu membungkuk dengan hormat, .. namun matanya yang terhalang kacamata memandang dengan tajam.
“Doronim, .. Tuan besar meminta kembali kotak itu—“ tegur si pria berkacamata dengan nada datar.
Alis Dongsae berkerut ketika menarik kembali tangannya. “Ada apa, Tuan Shin?” tanyanya tak kalah tajamnya.
“Doronim mengambil kotak itu tanpa seijin Tuan Besar—“ kata Tuan Shin sambil menunjuk kotak dalam genggaman Dongsae.
“Ini milik ayahku! Apa urusannya denganmu?!!” bentak Dongsae.
“Tuan besar menginginkannya kembali!” sahut Tuan Shin tegas.
“Kalau memang aboji menginginkannya kembali, kenapa tidak memintanya langsung padaku?!” dengus Dongsae.
“Kembalikan, doronim!”
“Antwee!!”
“Jika begitu, .. jangan salahkan saya, doronim!”
Mendadak Tuan Shin mengunci tangan kanan Dongsae yang memegang kotak ke belakang. Setelah berhasil, dirampasnya kotak dalam genggamannya, .. kemudian didorongnya pelan punggung Dongsae hingga maju beberapa langkah. Tuan Shin membungkuk kemudian melangkah lebar-lebar kembali ke mobilnya. Dongsae agak terhuyung dan hampir kehilangan keseimbangannya. Dengan susah payah dia menahan agar tetap berdiri tegak.
Aku melihat adegan-adegan tersebut dengan melongo.
“Si .. siapa itu .. ?” tanyaku terbatah-batah.
“Cuhh!!” Dongsae meludah dengan kasar. Untung saja aku menghindar cepat sehingga liurnya yang tidak banyak itu tidak sampai mengenai sepatuku.
“Kau jorok!” umpatku padanya.
“Huh—mian!” Dongsae mendengus kesal.
Aku mempelototinya. Tindakannya tadi benar-benar membuatku mual padanya.
“Dia bawahan ayahku .. ,” lanjut Dongsae, berusaha menenangkan diri dengan menghembuskan nafasnya kuat-kuat.
“Emangnya kenapa dia melakukan semua itu padamu?” tanyaku tanpa memperhatikan jawabannya barusan. “Kau mencuri dari ayahmu ya?” celetuk ku seenaknya.
“Mwo?! Yaa—kata-katamu kasar sekali, Hyesun-a!” protes Dongsae dengan wajah memerah.
Aku mengangkat pundak dan mulai mengerakan kakiku. “Habis, .. itu tadi yang dikatakan bawahan ayahmu .. “
“Hey—Tuan Shin tidak mengatakan aku mencuri .. ,” tukas Dongsae sambil menyejajari langkahku.
“Tapi dia bilang kau mengambil tanpa sepengetahuan ayahmu .. ,” kataku kembali. “Itu sama saja dengan mencuri namanya .. “
“Kukira kau menyukai barang itu—“ Dongsae memanjangkan bibirnya.
Aku menoleh dengan alis dikerutkan. “Emangnya barang itu apa?”
Tiba-tiba Dongsae mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Kau ingin tahu?” tanyanya mengoda.
Kegugupanku kambuh kembali. Hembusan nafas Dongsae yang begitu dekat dan menerpa-nerpa wajahku, .. membuat tubuhku kaku seketika. Aku melirik-lirik gelisah, .. tanpa menyadari--pemilik sepasang iris gelap sedang memperhatikan lewat Ferrari hitamnya yang sedang memasuki gerbang sekolah dan sekarang melintas dengan pelan di depan halaman, di depan kami.
_________oOo___________
Minho menurunkan kaca jendela mobilnya sambil mematikan mesin di tempat parkir yang terletak di halaman sekolah sedikit di sayap kanan. Tatapannya tertuju ke depan, .. ke kedua anak manusia yang tidak bergerak di posisi semula, .. semenjak dia melihat mereka pertama kalinya begitu memasuki area sekolah.
Posisi Hyesun begitu dekat dengan Dongsae. Mereka saling menatap dan terlihat Hyesun bergerak-gerak dengan gelisah kemudian. Minho masih betah dalam mobilnya dan memperhatikan adegan-adegan tersebut dengan pandangan tak berkedip. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu, .. bisa dipastikan, tidak ada seorangpun yang mampu menebaknya. Wajah datar itu seperti arca, .. sama sekali tidak mengambarkan perasaannya.
________oOo_________
”Ti .. tidak … “ Aku mendorong tubuh Dongsae hingga menjauh. Setelah itu, kubenarkan letak seragamku yang sedikit melenceng dari posisi semula. Bagian bawah rok ku agak terlipat ke atas.
“Tidak?” seringai Dongsae tak percaya. “Kau ingin aku percaya bahwa kau tidak tertarik terhadap barang yang akan kuhadiahkan padamu?”
“Terserah kau percaya atau tidak,” tergesa-gesa aku bergerak meninggalkannya. “Jangan mengikutiku karna aku tidak ingin diganggu .. ,” lanjutku tanpa berpaling padanya.
“Yaa—Hyesun a!” Masih kudengar teriakannya memanggilku. Namun aku berlagak tidak mendengar.
Dengan langkah panjang-panjang aku menuruni tangga pendek yang menghubungkan dengan halaman depan. Lalu sebuah teguran menghentikan langkahku. KEMBALI?!
“Little Coward!!”
Mataku melebar. Suara itu, … panggilan khas itu, .. dan … BENARKAH? .. Perlahan-lahan aku menoleh …
“Sonsaeng …
“Minho!!” tukasmu tegas sambil menghampiriku. “Sudah berapa kali kubilang, panggil aku Minho?!”
“Eh—“
Tepat saat itu, Dongsae yang mengejarku sudah sampai di Sebelahku.
“Minho sunbae?” Matanya melebar ketika melihatmu. “Kenapa sunbae bisa berada di sini?” tanyanya terheran-heran. “Bukankah sunbae sudah lulus?”
Kau mengangguk pendek mengomentari pertanyaan-pertanyaan Dongsae. Kemudian kau melirik ku, yang hanya mampu membenamkan pandangan dalam-dalam ke lantai, .. tanpa berani membalas tatapanmu.
“Kau .. belum menjelaskannya?” tanyamu dengan nada menuntut.
Aku mengeleng lemah. Seraya memejamkan mata rapat-rapat.
“Menjelaskan tentang apa?”
Kudengar Dongsae bertanya. Pelan-pelan kuangkat kepala dan meliriknya, .. lalu kembali padamu. Aku berharap kau akan menjawab pertanyaan Dongsae, .. dengan begitu aku bisa terlepas dari tanggungjawab ini. Namun, aku salah jika mengira kau akan menyerah begitu saja terhadap keputusan-keputusanmu. Dengan sigap kau meraih tanganku, dan menarik ku untuk mengikutimu kembali ke mobil yang terparkir di bawah sebatang pohon.
“Hey—mau ke mana?” teriak Dongsae.
“Ada keperluan yang harus kuselesaikan dengan Hyesun .. ,” sahutmu sambil ‘mendorong’ ku masuk ke mobil. “Sampai ketemu, Dongsae-a .. Kapan-kapan kita keluar bersama lagi seperti dulu … “
Yang tidak kusangka terjadi, .. kau melambai kepada Dongsae o.O
Kenapa bisa begini? … Apa tidak tersirat ‘sedikit’ saja rasa cemburu dalam hatimu terhadap hubungan kami?!! ….
__________oOo___________
« Last Edit: June 25, 2011, 02:24:34 pm by mrs. Lee Min Ho »

Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ... keeps it strong!!!
Our MinSun