Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 36869 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 18----26 Juni 2011)
« Reply #1020 on: July 02, 2011, 11:41:13 am »
THE MAESTRO
Chapter 19


Song Of The Day
Title: Wooden Heart
lyrics  : Elvis Presley

Can't you see
I love you
Please don't break my heart in two
That's not hard to do
'Cause I don't have a wooden heart

And if you say goodbye
Then I know that I would cry
Maybe I would die
'Cause I don't have a wooden heart
There's no strings upon this love of mine
It was always you from the start

Treat me nice
Treat me good
Treat me like you really should
'Cause I'm not made of wood
And I don't have a wooden heart

Muss i denn, muss i denn
Zum Stadtele hinaus
Stadtele hinaus
Und du, mein schat, bleibst hier?

There's no strings upon this love of mine
It was always you from the start
Sei mir gut
Sei mir gut
Sei mir wie du wirklich sollst
Wie du wirklich sollst
'Cause I don't have a wooden hear



Ciuman di kening membangunkan Aldian dari tidurnya. Hari sudah pagi. Bahkan jendela kamar mereka sudah terbuka kembali, dan hal pertama yang dilihat Aldian saat membuka mata adalah senyum manis Joana yang sudah sangat rapi. “Bath up-nya sudah Joan siapkan, Oppa,” kata Joana.

Aldian menyunggingkan senyuman. Joana menyodorkan jubah mandi padanya sambil menunduk. Hal itu membuat Aldian ingin menggoda. “Tak ingin bermain di bath up lagi?” Wajah Joana langsung memerah. Dan Aldian tertawa saat Joana menggelengkan kepalanya.

“Hari ini kau pulang jam berapa?” tanya Aldian sambil mengenakan jubah mandinya. Joana jadi mengkerutkan dahi, tak biasanya suaminya bertanya demikian.”Sepertinya jam lima sore, waeyo, Oppa?”

Aldian menggeliat sebelum bangkit dari duduknya. “Aku akan menjemputmu nanti.”

“Anhi, Oppa. Joan bisa naik bis sendiri,” tolak Joana. “Lagipula kalau Oppa jemput juga kita naik bis. Sama saja, kan?”

Aldian berjalan  ke arah pintu kamar mandi. “Kau malu kalau aku menjemputmu di kampus?” Pertanyaan itu membuat Joana jadi gelagapan. “A… aniyo, Oppa. Joan… Joan… .”

Aldian jadi geli juga. Dia mengurungkan niat memasuki kamar mandi dan lebih memilih berjongkok di depan Joana yang duduk di pinggir ranjang. “Benar begitu? Kau malu dijemput pria tua ini?”

“Oppa…,” Joana jadi merengek. Aldian tertawa seketika. Perlahan mata Joana jadi sembab dan Aldian berhenti tertawa karena Joana menangis sekarang.

“Yeobo... .”

Joana memeluk suaminya. Aldian jadi serba salah. “Miane…”
“Ja… ja..ngan bercanda seperti itu,” isak Joana.
“Tapi ini benar, kan? Aku memang sudah tua.” Aldian menekan tubuh Joana untuk meregangkan pelukan. Saat pandangan mata mereka bertemu, Joana menggeleng cepat, “Anhi, Oppa tetap muda dan tampan.”

 Sesaat Aldian meremas ke sepuluh jari Joana lalu mengecup lembut. “Terima kasih atas cinta yang begitu besar ini, Yeobo.” Joana memeluknya lagi. Aldian merasa bahwa cinta Joana begitu tulus. Cinta suci yang Aldian merasa tidak pantas menerimanya mengingat dusta yang telah diperbuat.

“Sekarang… Oppa mandi dulu,” kata Aldian sambil mencolek hidung mungil Joana. Wanita itu mengangguk mantap lalu memandang suaminya yang berjalan menuju kamar mandi.

“Kau benar-benar tidak ingin bermain di bath-up?” goda Aldian saat sampai di ambang pintu kamar mandi.

“Oppa…,” rengekan  Joana membuat Aldian tertawa lagi sebelum memasuki kamar mandi. Joana mulai membereskan tempat tidur. Setelah tempat tidur rapi, dia menuju lemari untuk memilihkan baju yang akan dipakai Aldian pagi ini.

Joana terlalu memanjakan suaminya. Dia selalu berusaha bangun lebih dulu dari Aldian. Memastikan tampil cantik ketika Aldian membuka mata bahkan berusaha keras agar rumah mungil itu selalu rapi dan bersih. Seperti pagi ini misalnya, Dia memaksa Mina istirahat karena bersikeras menyiapkan sarapan Aldian sendiri.

“Awas gosong!” peringatan Nany yang hanya duduk-duduk di depan bar table karena Joana tak mengijinkan membantu.

“Jangan kawatir, Nany,”

Mina mengamati gerak-gerik Joana yang menggerak-gerakkan penggorengan dengan kikuk. Dia jadi sangsi masakan itu akan membuahkan hasil yang baik. “Kau yakin bisa?” tanya Mina.

“Ne,” teriak Joana sambil mengangguk. Dari pada duduk-duduk tidak jelas, Mina memutuskan mempersiapkan teh di meja makan.  Joana tersenyum puas, akhirnya Mina tidak merecokinya. Dapur itu jadi wilayah kekuasaannya sekarang. Apalagi saat tiga porsi nasi goreng kimchi siap kemudian. Dengan memuji diri sendiri, Joana menghirup aroma sedap yang mengepul,”Sepertinya kemampuan memasakku semakin terasah.”
Aldian sudah rapi saat memasuki ruang makan. Bersamaan dengannya Joana keluar dari dapur sambil menyangga baki yang berisi tiga piring nasi goreng. Pandangan mereka bertemu dan Joana tersenyum manis.

“Tumben ke dapur?” tanya Aldian. Joana menata tiga piring nasi goreng itu di meja makan. “Spesial buat hari ini,” ujarnya.

Aldian menghirup nasi goreng yang ada di depannya, “Sepertinya enak.”

“Oppa meragukan kemampuan memasakku?” Joana jadi cemberut. Senyum simpul segera tampak di wajah Aldian. “Anhi. Hanya saja kau hampir tidak pernah memasak,” sanggah Aldian sambil menduduki kursi.

Mina Im memasuki ruang makan sambil membawa sepoci teh dan tiga cangkir. “Bagaimana masakanmu, Joan?”

“Lihat saja,” tunjuk Joan sambil menuding sepiring nasi goreng. “Mulai sekarang aku yang akan mempersiapkan sarapan.”

Mina dan Aldian tertawa bersama. Joana tambah cemberut saat menduduki kursinya. Aldian merangkulnya dan mengelus-elus bahunya. “Sabar, Yeobo…. Ayo kita makan nasi goreng buatanmu.”

“Coba saja, Aldian-ssi. Tapi diincip sedikit dulu. Awas keasinan,” goda Mina Im.

“Nany…,” Joana jadi merengek.

“Memang benar, kan? Masih ingat waktu kau mencoba masak Bulgogi? Gosong semua!”

“Nany… .”

Aldian terbahak lagi. Joana bertupang dagu sambil mayun. Karena gemas, Aldian mengucek puncak kepala Joana. “Jangan kawatir, semua perlu proses, yeobo. Oke, Aku coba masakanmu.”

Aldian mulai menyendok nasi goreng itu. Joana masih bertopang dagu sambil melirik. Perlahan Aldian membuka mulutnya. Joana mengamati sambil berdoa, semoga rasanya enak. Dan saat suaminya mengunyah makanan itu, Joana menahan nafas.

“Enak juga,” puji Aldian akhirnya. Joana melonjak senang lalu memeluk suaminya erat-erat. Mina Im ikut berbahagia melihat mereka, apalagi saat Joana mencium kedua belah pipi Aldian sampai bersuara.

“Ayo dimakan, Nany,” ajakan Joana itu membuyarkan lamunan Mina Im.


ooo0O0ooo



“Busan?” Aldian mengulang perkataan Nicky. Pria di depannya itu mengangguk mantap. Begitu pula Yong Hwa yang ikut serta dalam pertemuan kali ini.

“Waeyo? Kau keberatan?” tanya Nicky. Aldian menggeleng. “Anhi, hanya saja hal ini terlalu tiba-tiba. Kau yakin prospek di sana cerah?”

“Ne, Tuan Lee,” jawab Yong Hwa. “Bahkan konsumen kita kebanyakan di sana. Akan lebih baik jika kita jemput bola.”

“Tapi aku baru saja bernegosiasi dengan pemilik ruko sebelah kemarin. Kau ingat, kan? Kalau kita berencana memperluas ruko?” Aldian mengajukan pertanyaan pada Nicky. Yang ditanya menyandar ke sofa lalu menyilangkan kaki. “Yang di sini tetap beroperasi,” katanya.

“Jadi… maksudmu  kita buka cabang di Busan, begitu?” sepertinya Aldian mulai mengerti arah pembicaraan ini. kedua pria di depannya mengangguk. “Aku yang pegang kendali di sini,” Nicky sepertinya sudah memikirkan semua itu sebelumnya. “Dan kau yang di Busan.”

Perkataan Nicky yang terakhir membuat Aldian melonjak.”Kau bahkan tidak pernah aktif selain sebagai humas di sini lalu bagaimana bisa kau memegang yang di sini?”

“Mungkin ini karena saya,” tanggapan Yong Hwa. Aldian dan Nicky menoleh ke arahnya. “Saya yang mengusulkan adanya cabang di Busan dan saya lebih suka bekerja sama dengan Tuan Lee dari pada dengan Tuan Jang.”

“Mwo? Kau….,” Aldian jadi gelagapan. Nicky tertawa ngakak. “Kau lihat itu,” sahut Nicky sambil menunjuk-nunjuk Yong Hwa. “Bahkan anak buahmu yang bicara.”

“Apa tidak bisa ditunda tahun depan?”

“Tidak bisa!” jawab Nicky dan Yong Hwa serentak.
“Tidak baik menunda-nunda rencana,” nasihat Yong Hwa.

“Lagi pula,” sambung Nicky,”Jika aku yang ke Busan, lalu bagaimana dengan tugasku di kantor pencatatan sipil.”

Aldian memejamkan mata, saat ini yang dia pikirkan adalah keadaan rumah tangganya. Bagaimana bisa mereka pindah ke Busan padahal kuliah Joana belum kelar. Apakah harus mereka terpisah sementara, dia di Busan dan Joana bersama Mina di Seoul sampai Joana lulus kuliah? Aldian jadi mendesah. Semua begitu berat.

“Kau memikirkan Joana?” tebak Nicky sambil menyorongkan tubuhnya ke arah Aldian.

“Maaf, saya permisi dulu,” Yong Hwa merasa sudah tidak diperlukan lagi di ruangan itu, apalagi saat Nicky mulai menyebut-nyebut istri majikannya. Selama ini hubungan mereka professional. Aldian tidak pernah mempercayakan masalah pribadi dengannya, jadi jika Nicky sudah menyebut Joana, itu adalah pembicaraan antara sahabat. Bukan antara rekan kerja.

“Saya harap Tuan Lee memikirkan semua ini baik-baik,” pesan Yong Hwa sebelum menutup pintu ruangan Aldian.

“Kau memikirkan Joana?” Nicky mengulangi pertanyaan. Aldian menyandar di kursi kerjanya lalu memijit-mijit kening. “Menurutmu?”

“Menurutku begitu.”

“Lalu bagaimana bisa kau mengusulkan semua itu. Apa kami harus tinggal terpisah? Joan di sini dan aku di Busan, begitu?”

Aldian sudah jengkel tapi Nicky malah berkata  santai, “Sepertinya begitu.”

“Kau…” tunjuk Aldian di hidung Nicky.
“Ingat, Bro. semua ini usul Yong Hwa, bicarakan saja baik-baik dengan Joan. Lagipula ada kereta api antar Busan-Seoul, jadi dia tidak perlu berhenti kuliah.”

“Aku tidak tega jika harus melepasnya seperti itu.”

“Hei, bukankah selama ini dia kemana-mana sendirian juga naik bis?”

“Ah…,” Aldian berteriak frustasi. “Aku bahkan akan mengakhiri kebiasaan naik bis dengan menjemputnya pakai mobil baru di kampus sore ini.”

Nicky manggut-manggut. “Kau jadi beli mobil?”

“Ne.”

“Ferari?”

“Impresser, uangku tidak cukup untuk beli Ferari.”

“Fuh…,” Nicky meniupkan angin. “Aldian yang baru.”

Nicky melirik arlojinya. Istirahat makan siangnya sudah selesai dan ini waktu untuk kembali ke kantor pencatatan sipil. “Bersenang-senanglah dengan mobil barumu,” katanya sambil berdiri. Pria flamboyant itu  lalu memberi ucapan terakhir,”Bicarakan juga masalah ini dengan istrimu. Aku yakin pilihannya adalah ikut kamu ke Busan.”

“Dasar licik,” umpat Aldian saat Nicky keluar dari ruangan itu.


ooo0O0ooo

Kuliah Mr. Liu sudah berlalu. Suasana Seoul Art Cholege semakin sepi seiring menggelincirnya mentari menuju ke peraduannya. Joana masih menunggu Aldian di lobi kampus. Seperti yang dikatakan tadi pagi, Aldian berjanji menjemputnya sepulang kuliah. Angin dingin bertiup, Joana merapatkan mantelnya. Agak begidik saat teringat cerita-cerita seram yang diceritakan para seniornya di masa orientasi, bahwa kampus ini bekas pemakaman masal waktu penjajahan jepang.

Dan saat melihat sekeliling, Joana merasa benar-benar sendirian. Dua jam berlalu dan Aldian tak nampak batang hidungnya. Joana melirik arlojinya. Lima menit adalah tambahan waktu untuk menunggu, selebihnya, dia memutuskan pulang sendiri.

Lima menit sudah. Joana akhirnya berjalan lambat menuju halte bis. Dalam hatinya menenangkan diri kalau Aldian sibuk dan tidak bisa menjemput. Saat setengah jalan menuju halte, tiba-tiba klakson berbunyi nyaring, Joana menoleh ke sumber suara. Mobil impresser silver sudah mengekor di belakangnya dengan Aldian yang melongokkan kepala di jendela. “Perlu tumpangan, Agashi,” goda pria itu.

Joana menghentak-hentakkan kaki. Aldian jadi geli melihat tingkah istrinya yang sedang kesal itu. “Miane, Yeobo,” ujarnya saat turun dari mobil.

Mulut mayun segera tampak di Joana waktu Aldian mendekatinya. “Marah, ya?” goda Aldian, ditatapnya wajah mayun itu. Joana membuang muka.

“Beneran marah?” Aldian memiringkan wajah agar berhadapan dengan Joana lalu mencolek dagunya. Kesal, Joana memukul-mukul dada Aldian. Membuat sang suami semakin ngakak.

“Oppa jahat! Terlambat gak tanggung-tanggung, Joan takut, nih.”

“Takut? Waeyo?”

“Oppa tidak tahu, ya… kalau kampus ini bekas…,” Joana tak mampu meneruskan kalimatnya. Sekarang yang ada malah kulitnya merinding. Aldian semakin keras saja tertawa. Sementara Joana sudah mengamati Impresser di sampingnya. “Mobil siapa, Oppa?”

Aldian menghentikan tawanya untuk menjawab,”Mobil kita, Yeobo. Kacha!” Ditariknya lengan Joana untuk memasuki mobil. Setelah yakin Joana duduk manis mengenakan sabuk pengaman, Aldian menuju ke kursi kemudi.

“Kita jalan-jalan dulu, Yeobo,” kata Aldian sambil menyalakan mesin.
“Mwo? Kemana?” Joana agak heran, tak biasanya Aldian mengajaknya keluar selain di hari libur.

“Namsan,” jawab Aldian saat mobil itu mulai meninggalkan areal kampus.

Di perjalanan itu, Joana mengamati desain interior mobil sementara Aldian mengemudi sambil bersiul, mengikuti irama yang diputar dari MP3. “Memang tak semewah ferarri yang di Lee Manshion,” kata Aldian tiba-tiba. Joana jadi menaikkan alis mendengarnya. “Tapi cukup bisa mengangkut kita ke mana pun,” lanjut Aldian. Joana mengangguk sambil tersenyum manis.

“Oppa, kenapa mengajakku ke Namsan?” tanya Joana kemudian. Aldian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda. Saat menyodorkan pada Joana, istrinya itu jadi keheranan,”Gembok?”

Masih dengan mengawasi jalan di depannya, Aldian mengangguk.”Kau tidak pernah mendengar jembatan cinta di Namsan?”

Joana manggut-manggut karena mulai mengerti maksud perkataan Aldian.”Banyak pasangan yang ingin mengabadikan hubungan mereka dengan menguncikan gembok di sana, Oppa.”

“Aku juga ingin begitu,” sahut Aldian. Joana jadi terkekeh,”Oppa seperti remaja saja.”

“Ye… kau sendiri umurmu baru dua puluh tahun. Aku berusaha memahami jalan pikiranmu, Yeobo. Memangnya kau tidak mau mengabadikan cinta kita seperti yang lain?” Aldian merasa kesal juga. Joana mengelus-elus lengan kekar itu untuk menenangkan, “Aniyo, Oppa. Joan mau, kok.”

Aldian tersenyum menang. Perjalanan ke Namsan kini sangat menyenangkan. Joana menimang-nimang gembok di tangannya, kemudian mengeluarkan spidol marker dari dalam tas. Saat menuliskan nama diri di salah satu gembok itu, wajah Joana semakin sumringah. Apalagi giliran Aldian yang menuliskan namanya di gembok yang lain. Kini mereka tengah berdiri di jembatan cinta. Di sini juga sudah berderet gembok-gembok yang dipasang berpuluh-puluh pasangan sebelumnya.

Aldian mengambil gembok yang berada di tangan Joana. Sambil mengaitkan gembok bertuliskan namanya di gembok Joana, Aldian berkata,”Cintaku akan selalu melingkari hatimu, Yeobo.”

Joana tersenyum bahagia mendengar ucapan itu. Kemudian terlihat Aldian mengaitkan kedua gembok itu di pilar jembatan,”Tak kan terlepas selamanya,” ucap lirih Aldian. Lalu membuang kedua anak kunci itu ke bawah jembatan, berharap anak kunci itu hilang dan ikatan cinta itu tak pernah terbuka lagi.

Aldian akhirnya merangkul istri mungilnya dan menaiki kereta gantung. Pemandangan indah terhampar luas di bawah mereka. Karena hari ini bukan hari libur, maka keadaan obyek wisata ini agak legang hingga pasangan ini bisa memonopoli kereta gantung untuk mereka berdua saja.

“Habis ini kita makan di luar, ya?” tawar Aldian. Joana menggelangkan kepalanya. “Nany hari ini masak sup sirip ikan Hiu, Oppa. Kasihan Nany kalau tidak dimakan.”

Aldian menghela nafas perlahan. “Baiklah, kita makan di rumah saja,” tanggapan Aldian yang dibalas dengan senyum manis sang istri.

“Sebenarnya ada hal lain yang ingin kubicarakan, Yeobo,” kata Aldian kemudian. Joana memandangnya tanpa berkedip. Dia agak enggan mengabarkan keadaan DIGIPRO yang sekarang. “Karena itu aku ingin mengajakmu makan diluar. Tapi karena kau menolak mungkin ku katakan di sini saja.”

“Waeyo, Oppa,” desah Joana dengan dahi berkerut.
“Usaha kita mengalami perkembangan pesat, Yeobo,” jawab Aldian sambil memandang hamparan indah di bawahnya.

“Itu bagus, Oppa. Lalu apa masalahnya.”

Sekali lagi Aldian membuang nafas. “Dan kita akan membuka cabang di Busan.”

“Jinja?” Joana memandang dengan mata berbinar.

“Ne,” Aldian mengangguk pelan. “Dan aku yang akan mengurus cabang yang di sana.”

Kini Joana mulai tahu duduk persoalannya. Seketika dia menyandar ke dinding kaca kereta gantung. “Lalu kuliah Joan?” pertanyaan itu mencekat di kerongkongan.

“Kau tetap di sini, Yeobo,” pasti Aldian.
“Mwo!”
“Kau di sini sampai kuliahmu kelar.”

“Antwe!” tolak Joana. Matanya mulai memerah. Aldian mendesah, pria itu yakin akan seperti ini keadaannya.

“Oppa mau menyingkirkanku? Oppa sudah bosan sama aku?” jerit Joana histeris. Aldian menarik tubuh Joana di pelukannya. Dia bisa merasakan gerakan bahu Joana yang sesenggukan. Dengan lembut dikecupnya bahu yang bergerak itu.

“Untuk sementara aku yang ke sana duluan,” bisik Aldian.

“Aku persiapkan semuanya untuk kehidupan kita selama kau kuliah. Rumah yang lebih layak. Mungkin di sekitar pantai Huendae,” janjinya kemudian menekan bahu Joana agar bisa menatap wajah ayu yang berlinangan air mata itu. “Aku akan pulang tiap hari Minggu.”

(Sepertinya Aldian pengen jadi Bang Toyib nih…)

“Ini demi kebaikan kita, Yeobo. Kau juga harus tetap menyelesaikan kuliahmu.”

“Ada kereta api Bussan- Seoul tiap jam, Oppa,” seru Joana tiba-tiba. “Aku bisa naik itu tiap ke kampus dan bisa tinggal di Bussan sama Oppa.” Pandangan mata Joana jadi berbinar karenanya tapi Aldian tetap menggeleng.

“Kau akan sangat capek nanti.”

“Anhi,” Joana menggeleng. “Joan kuat, kok. Perjalanan Bussan-Seoul dengan kereta itu Cuma satu jam, dari stasiun, Joan bisa minta jemput Albert dan Dara terus kita ke kampus sama-sama.”

Aldian tetap menggeleng. “Boleh, ya, Oppa?” Joana memohon padanya.

“Jangan merepotkan orang lain, Yeobo.”

“Oppa…,” rengek Joana.

“Dengar, Mungil.” Aldian memegang bahu Joana kiri dan kanan. Dan dengan tatapan mata serius, dia berucap, “Aku tidak mau kau terlalu capek. Kau lupa target kita untuk segera punya anak? Bagaimana bisa kalau kau terlalu capek?”

Joana tersenyum, tiba-tiba dia menghayalkan anak mereka yang akan hadir nanti. “Apa benar akan susah hamil kalau terlalu capek, Oppa?”

“Tentu,” Aldian mengangguk mantap.

“Kalau begitu, Joan di sini saja. Oppa janji, kan mau pulang tiap Minggu?” Aldian akhirnya tertawa lega mendengar kalimat itu.

“Tentu, Yeobo,” desahnya di rambut Joana, lalu memeluknya erat-erat. “Kau tunggulah selalu kepulanganku di rumah. Dandan yang cantik tiap aku datang, Ya?”

Joana mengangguk di dada Aldian. “Joan pasti akan sangat merindukan Oppa.”
“Me too,” bisik Aldian.

“Lalu..,”Joana melepaskan pelukan lalu memandang Aldian lekat-lekat. “Kapan Oppa mulai ke Bussan?”

“Minggu depan tapi besok sudah harus melakukan survey lokasi.”

Joana mengangkat tangannya untuk  memberi semangat dengan teriakan nyaring,”Hwaiting, Oppa!”

Sekali lagi Aldian tertawa. Kereta gantung berhenti saat percakapan itu berakhir. Mereka berjalan menuju parkiran mobil. Sesaat mobil bermesin turbo buatan Jepang itu menuju Seoul.  Dan Joana bergelanyut manja di lengan Aldian. Perasaan sangsi tiba-tiba muncul, bisakah Aldian hidup tanpa Joana kini ? Joana mengkawatirkan suaminya. Siapa yang merapikan tempat tidur Aldian selama di Bussan? Siapa yang akan mencucikan baju Aldian? Siapa yang akan memasakkan makanan sehat bagi Aldian atau bahkan memastikan pria yang dicintainya itu tidak terlambat makan? Dan terlebih lagi kalau….

“Oppa….”

“Hmm,” Aldian menjawab tanpa menoleh. Jalanan semakin licin. Perlu konsentrasi lebih untuk mengendarai mobil.

“Kalau Joan ketakutan waktu ada petir, bagaimana?”

Aldian ngakak seketika. Dia tidak tahu kalau Joana lebih mengkawatirkannya saat di Bussan dan pertanyaan itu hanya pancingan saja. “Selama aku di Bussan kau tidur sama Nany saja, Cantik.”

Bibir Joana jadi maju satu centi. “Tidak asyik,” sahut Joana yang membuat Aldian semakin gemas untuk mencubit pipinya.

“Oppa…,” panggil Joana lagi. Aldian hanya bergumam untuk menjawab.

“Selama di Bussan jangan lirik-lirik Yoja lain, ya?”

Aldian menahan senyum mendengar kalimat itu, tapi dia menjawab juga,”Iya, Sayang… .”

“Terus… jangan terima pegawai perempuan. Oppa janji, ya?”

Aldian jadi terkekeh pelan. “Ne, istri mungilku yang cantik.” Sekali lagi Aldian mencubit pipi Joana semakin gemas dibanding yang pertama. Joana malah melingkarkan lengan di leher Aldian lalu mencium pipinya. “Janji juga tiap Minggu bawa oleh-oleh buatku.”

“Oleh-oleh?” Aldian jadi menoleh sebentar. Wajah Joana sekarang begitu dekat di pipi kanannya. “Oleh-oleh apa?”

“Hati Oppa yang sangat-sangat rindu pada Joan.”

Sekali lagi ciuman mendarat di pipi Aldian. Perjalanan menuju rumah itu memang begitu menyenangkan walau perut mereka sudah mulai keroncongan. Memang kalau sudah berduaan, rasa lapar jadi kenyang. Walau makan angin tak perduli. Sakit, dong? Hehehehe…. PLak! Abaikan…
.


BERSAMBUNG
« Last Edit: July 02, 2011, 11:45:40 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]