Author Topic: Paint Pastel Princess Chapter 4 (Update Now 03.07.2011) ^^  (Read 6041 times)

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
CHAPTER 4



“Woo Bin-aa…!”

“Waeyo…?” Woo Bin yang sedari tadi asyik menekuri laporan, mendadak menghentikan kegiatannya saat mendengar suara Jin Ho yang memanggilnya yang bagi Woo Bin terdengar seperti rengekan. Ia memandang Jin Ho yang sedang asyik tiduran di sofa dengan matanya yang terpejam.

“YYa, kau ini ngelindur yah?” tukas Woo Bin geli. Saat Jin Ho tak juga bereaksi, Ia kembali akan menekuri laporannya saat tiba-tiba Jin Ho kembali berbicara.

“Woo Bin-aa, menurutmu setelah salju mencair,  ia akan jadi apa?” Tanya Jin Ho sambil tetap memejamkan matanya.  “Mwo…? Sal..salju…?salju mwo?” tukas Woo Bin keheranan karena tidak biasanya Jin Ho bertanya hal-hal ‘tidak lazim’ seperti ini.

“YYa, Hyung. Gwenchana? Kau masih normal kan? Atau jangan-jangan kau memiliki 2 kepribadian sekarang” tukas Woo Bin. Tapi yang ditanya tidak juga menjawab, ia masih diposisi yang sama dengan tadi. Woo Bin tersenyum geli. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan dengan sikap sahabatnya tersebut, namun ketika ia akan kembali konsentrasi ke laporannya lagi-lagi ia dikejutkan oleh Jin Ho yang mendadak terbangun kemudian duduk sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sehingga praktis membuat rambutnya berantakan. “Aku memang sudah benar-benar gila!!!” gumamnya membuat Woo Bin hanya bisa sekali lagi melongo keheranan dengan ulahnya.



*********************************************


Satine sedang mematutkan dirinya di cermin sore itu, ia memoleskan make up ke wajahnya serta bibirnya. Selesai dengan wajahnya iapun beralih ke rambutnya, pertama ia mengikat rambutnya ke belakang, lalu berganti menyanggulnya, namun kemudian ia kembali merubahnya. Kali ini ia biarkan saja rambut ikalnya tergerai sebahu. Saat dirasanya sudah cukup, ia pun kemudian bangkit dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia memilih salah satu gaun. Dress dengan flower print sleeve less dengan panjang diatas lututnya menampilkan kakinya yang jenjang dan indah.

Saat ia sudah sempurna berdandan, iapun bersiap untuk pergi “bekerja”. Satine meraih mantel hangat yang ia sampirkan di pinggir sofa dan memakainya mengingat udara luar yang dingin. Chang Min yang sedari tadi memperhatikan Satine hanya bisa memandang “noonanya” itu dengan pandangan nanar. Saat Satine berjalan melewati Chang Min, mendadak langkahnya terhenti oleh genggaman Chang Min dilengannya.

“Noona, please… aku mohon hentikan!!!” ujarnya memelas.

Satine menghela nafasnya pelan, ia menyingkirkan tangan Chang Min perlahan. Kemudian kembali berjalan meninggalkan Chang Min. Satine kembali merapatkan mantelnya, mencoba mengusir hawa dingin yang tiba-tiba menyusup. Angin dingin menyapu wajah ayunya. Dengan langkah gontai, iapun berjalan membelah angin sore itu. Chang Min memperhatikan bayangan punggung Satine dari jendela kamar apartemennya yang langsung menghadap kearah jalan sampai bayangan itu menghilang dari pandangannya. Ia kemudian membuka laci meja tulisnya dan mengeluarkan sebuah buku dan menarik selembar foto yang ia selipkan dibuku tersebut. Pemuda itu tersenyum memandang foto yang dipegangnya. Foto Satine yang sedang tertawa yang ia ambil secara tidak sengaja beberapa tahun lalu. Sebuah ekspresi yang “tidak akan pernah” ia temukan kembali.

“Noona, saranghae……” batinnya perih.



*********************************************


Saat itu kondisi bar lumayan ramai pengunjung, namun tetap tidak membuat Satine menjadi antusias. Satine memilih duduk disebuah meja panjang, beberapa orang wanita penghibur juga duduk satu meja dengannya. Pandangannya kosong menerawang, beberapa kali ia menghela nafasnya berat dan sesekali ia meneguk minuman di gelas yang tersaji dihadapannya. Tiba-tiba seorang lelaki setengah mabuk yang ada disampingnya menyodorkan selembar kertas padanya sembari berkata “Cantik, ikutlah denganku, aku akan membayarmu mahal, mari kita terbang bersama ke surga hahaha” racau pemabuk itu yang membuat Satine menjadi muak. Ia hanya melirik sekilas kertas yang ternyata adalah selembar cek.

Tanpa melihat cek tersebut, Satine menyodorkan kertas itu kembali kepada lelaki pemabuk itu, saat itu ia tidak sengaja menyenggol segelas minuman sehingga tumpah mengenai pakaian si lelaki mabuk tersebut. “Simpan saja uangmu!!!” tukasnya ketus dan dingin. Merasa harga dirinya dilecehkan oleh Satine, lelaki pemabuk itu menjadi marah, ia berdiri dan mencengkram tangan Satine.





“Apa katamu!!! Berani sekali kau!!! Pelacur sepertimu berani jual mahal, cih!!! Apa kau tidak kenal siapa aku hah!!!” hardik si pemabuk tersebut, namun Satine seperti tidak meladeni kemarahan lelaki tersebut, ia hanya melirik lelaki tersebut dengan pandangan dingin.

“Dasar pelacur!!!” seru si lelaki tersebut jengkel diikuti sebuah tamparan di pipi mulus Satine. Kali ini Satine tidak tinggal diam, ia berdiri menantang lelaki hidung belang tersebut, tangannya meraih sebuah botol minuman yang ada dimeja tersebut. Alih-alih akan memukul botol tersebut kearah lelaki tersebut, namun ia kalah refleks, tamparan kedua dari lelaki tersebut kembali mendarat kali ini mengenai pelipis kepalanya. Hal ini membuat Satine semakin geram, ia mengamuk, sebuah baki minuman yang ada disana tak luput dari sasarannya, berkali-kali ia pukulkan kearah lelaki tersebut.

“Dasar lelaki brengsek!!!! Enyah kau, pergiiii!!!!” umpatnya berkali-kali sambil memukul lelaki tersebut. Sontak kejadian tersebut membuat pengunjung bar menoleh kearah mereka.

Beberapa pengunjung, terpaksa turun tangan untuk menenangkan Satine yang sedang mengamuk. “Dasar wanita gila!!!” umpat lelaki itu kesal, ia bermaksud untuk menghajar Satine namun langkahnya itu tertahan oleh pengunjung yang lain.

“Pergi kau lelaki brengsek!!!!” umpat Satine berkali-kali sambil masih tetap memukul dan melempar apapun yang ada dimeja kearah lelaki tersebut, si lelaki hidung belang tersebut rupanya menyusut, ia pun beranjak meninggalkan Satine yang masih mengamuk. “Arghhhhhhh…..!!!” jerit Satine kesal dan melempar sebuah gelas hingga pecah kelantai.

“Hah…hah…hah…” Satine mencoba mengatur nafasnya yang memburu, ia sangat kacau. Saat tidak sengaja matanya melirik kearah pintu masuk, ia melihat Chang Min berdiri terpaku disana, memandang dingin kearahnya. Pemuda itu begitu terpukul dengan realita yang baru saja dilihatnya. Perlahan ia membalikkan badannya dan berlalu pergi.

“Chang Min-aa” jerit Satine, iapun memutuskan untuk mengejar pemuda itu, tanpa terasa sebulir bening air mata jatuh dipipinya. Satine berusaha sekuat tenaga mengejar Chang Min.

Chang Min berlari keluar dengan perasaan terpukul yang teramat dalam, tidak disangka baginya bahwa semua ini akan melukainya begitu dalam, ia menghembuskan nafasnya berat, segala kekesalan ia tumpahkan disana. Pertama ia menendang plakat bar tersebut namun masih belum bisa meredakan amarahnya. Iapun akhirnya mengarahkan tinjunya pada papan bar tersebut. Darah segar segera mengucur diantara buku-buku jari tangannya yang luka karena pecahan fiber papan nama tersebut. “Argghhhhhh!!!!” teriaknya kesal.

“Chang Min-aa…” pekik Satine. Perlahan ia berjalan mendekati Chang Min, saat Satine berusaha meraih tangan Chang Min yang terluka, pemuda itu mengibaskan tangan Satine dengan kasar. “Jangan sentuh aku!!!” tukasnya dingin. Satine menyusut, ia perlahan menjauhkan tangannya.

“Noona, wae???” tukas Chang Min kembali, suaranya bergetar. “Sampai kapan noona akan seperti ini…. Apa yang sebenarnya noona cari, sebuah pelampiasan dari kekecewaanmu padanya atau untuk membalas dendam?” Satine hanya bisa terdiam, ia meremas telapak tangannya.

“Noonaaaa… selama ini aku selalu diam terhadap alasan yang kau atas namakan kebahagianku, tapi ini sudah keterlaluan. Kenapa kau tidak bisa percaya padaku bahwa aku juga bisa membahagiakan noona” lanjut Chang Min berapi-api. Ia menekan kedua bahu Satine. Wajahnya memerah karena menahan amarahnya.

“Apa kau sudah selesai?” potong Satine tajam, nadanya bergetar.

“Noonaaaa… Lupakan dendam itu. Balas dendam tidak akan pernah membuatmu bahagia camkan itu” tukas Chang Min, sebulir air bening jatuh dipipinya.

“Gomawo, Chang Min-aa” jawab Satine singkat, ia menghela nafasnya dalam. Perlahan ia singkirkan tangan Chang Min dari bahunya dan beranjak pergi dengan menyunggingkan sebuah senyuman tipis diwajah ayunya. Satine berjalan melewati Chang Min yang masih berdiri terpaku.

“Noonaaaa…. “ panggilnya, namun tidak dihiraukan oleh Satine. Ia tetap berjalan meninggalkan pemuda itu ditempatnya.

Tanpa mereka berdua sadari, semua adegan itu terekam seluruhnya oleh Jin Ho yang berada dimobilnya saat hendak memakirkan mobilnya, ia menghentikan niatnya takkala melihat Satine disana.

“Siapa lelaki itu? Kekasihnya kah?” gumamnya kepada dirinya sendiri “Tapi, ia memanggilnya noona?” lanjutnya. “Aush, aku ini kenapa sih, emang apa perduliku” sahutnya gusar. Ia kembali menatap ke depan dan mendadak gusar saat tidak menemukan sosok Satine disana.



*********************************************


Satine menyusuri jalanan di pinggiran kota Seoul dengan perasaan kalut, tidak dihiraukannya hawa dingin yang menusuk karena ia tidak mengenakan mantelnya. Hari ini sangat kacau baginya. Semua perkataan Chang Min kembali bermain di pikirannya. Ia terus melangkah tanpa arah dan akhirnya berhenti saat ia melewati sebuah taman yang sepi. Satine memandang kearah ayunan yang ada ditaman tersebut dan melangkahkan kakinya kesana. Iapun memilih duduk di salah satu ayunan tersebut. Satine menyandarkan kepalanya yang terasa berat di tiang ayunan. Memejamkan matanya yang mulai basah oleh air mata yang perlahan menetes dipipinya.

Ia tersentak ketika merasa sebuah tangan mencengkram pundaknya, dan iapun spontan berdiri.

“Ouw, lihat, siapa yang aku temukan disini, si pelacur sombong rupanya” tukas lelaki yang ternyata lelaki hidung belang di bar tadi.

“KAU!!!!”

“Iya, ini aku, hmmm, rupanya keberuntungan berpihak padaku, jangan cemas nona manis, aku tidak akan menyakitimu, hanya sedikit ingin bermain-main denganmu karena kau tadi sudah berbuat nakal padaku” seru lelaki tersebut dengan pandangan penuh nafsu, ia kembali mencengkram tangan Satine.

“Lepaskan aku bodoh!!!” ronta Satine.

“Melepaskanmu? Hahahaa, menangislah sesukamu sayang, tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu kita berdua” sahut lelaki tersebut, bau bir menyengat keluar dari mulutnya. Lelaki itu kemudian mencoba mencium tubuh Satine. Gadis itu berusaha berontak, namun ternyata tenaga lelaki itu jauh lebih kuat darinya. “Lepaskan brengsek!!!!” masih ronta Satine, namun ternyata nafsu sudah menguasai lelaki kalap tersebut. Setan sudah memperbudaknya, ia begitu bahagia melihat Satine yang ketakutan.

“Tolongggg…” jerit Satine disela-sela perlawanannya.

“Menjeritlah sepuasmu, tidak akan ada yang mendengarmu manis” kali ini lelaki tersebut sudah merebahkan tubuh Satine di rerumputan, ia mengapit kuat lengan dan kaki Satine berusaha mencumbu gadis tersebut. Satine menangis, ia begitu ketakutan. Ia terus berusaha berontak “Omma, tolong aku…” tangisnya memekik.

“Lepaskan dia brengsek!!!!” tukas Jin Ho menarik tubuh lelaki pemabuk tadi dan menghajar si lelaki hidung belang sampai lelaki itu jatuh tersungkur. Ia kemudian berlari kearah Satine yang masih tergeletak ketakutan

“YYa, gwenchana….” Ujarnya khawatir. Satine tidak menjawab, tubuhnya gemetar karena shock. “Kau bisa berdiri?” Tanya Jin Ho kembali. Satine mengangguk lemah, namun nyatanya ia terlalu lemah untuk berdiri. Perlahan Jin Ho membantu Satine untuk berdiri dan melihat penampilan Satine yang kacau ia segera melepaskan jaketnya dan memakaikannya di tubuh gadis itu. Jin Ho juga membantu Satine untuk berjalan menuju ke mobilnya karena gadis itu masih terlalu shock untuk berjalan sendiri. Jin Ho memapah gadis itu menuju ke mobilnya, segera setelah mendudukkan Satine dibangku penumpang, ia pun melesat pergi.  



*********************************************


“Ini minumlah, biar badanmu hangat” seru Jin Ho sembari menyodorkan minuman kaleng yang dibelinya kepada gadis yang masih duduk meringkuk di tepi air mancur taman kota. Satine masih tidak bereaksi, ia hanya memandang Jin Ho sendu. Jin Ho tersenyum lembut, kemudian iapun menyodorkan minuman kaleng tersebut ke dalam genggaman tangan Satine.

“Gwenchana, kau aman sekarang” tukas Jin Ho menenangkan.

Satine tidak menjawab, ia kemudian meneguk minuman yang diberikan oleh Jin Ho sampai habis sampai ia sedikit tersedak. “Uhuk..uhuk…”

“YYa…. Pelan-pelan minumnya” seru Jin Ho, ia terlihat khawatir, perlahan ditepuk-tepuknya bahu Satine untuk melegakan nafasnya. “Gwenchana?? Sudah agak lega sekarang?” ujar Jin Ho penuh kekhawatiran.

“Kau ini memang selalu ceroboh, kenapa kau berjalan sendirian di tempat sepi begitu, jika aku tidak mendengar jeritanmu tadi bagaimana jadinya dirimu sekarang hah” tukas Jin Ho masih dengan nada khawatirnya.

Satine masih terdiam ia hanya melemparkan pandangannya lurus ke depan. Jin Ho menggigit bibir bawahnya mencoba menekan emosi dan kemarahan yang tiba-tiba bergejolak dihatinya.

“Aku masih akan tetap sama, tidak akan ada yang berubah!” ujar Satine getir. Nadanya sangat pelan hingga nampak seperti sebuah bisikan.  

“Mwo?” Jin Ho menatap Satine penuh Tanya.

“Tidak akan ada yang berubah….” Satine berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Tidak akan ada yang berubah” ujarnya menekan, “Aku masih akan tetap sama seperti ini, seperti yang kau bilang aku hanya seorang kupu-kupu malam, selamanya akan seperti itu, tidak akan pernah berubah”. Ujar Satine datar. Wajahnya sendu tanpa ekspresi, pandangannya nanar memancar lurus ke depan.

“YYa!!! Ka.. Kau…..”

Satine menoleh kearah Jin Ho “Jawaban seperti apa yang kau harapkan dariku Jin Ho-ssi, apa kau mengharapkan sebuah ucapan terima kasih karena telah menolongku?” ujarnya dingin. “Kenyataannya aku memang seorang wanita penghibur, seperti katamu”

“Sebenarnya kau ini wanita seperti apa?” Tanya Jin Ho balik. “Baru kali ini aku menemui wanita sepertimu. Tidak cute sama sekali. Kau berpura-pura tegar dengan melemparkan kata-kata sinis untuk menutupi kelemahanmu, padahal dalam dirimu sesungguhnya kau sangat rapuh” lanjutnya.

“Jangan bicara seolah-olah kau tahu segalanya tentang diriku Jin Ho-ssi” desis Satine. Wajahnya berubah tegang. “Dengar, tidak akan ada yang berubah, tidak akan, segalanya masih akan tetap sama. Ada atau tidak adanya dirimu tadi tidak akan pernah mengubah apapun” lanjutnya, Satine terdiam, Ia mencoba mengontrol emosinya yang mulai bergejolak.

“Mwo?? Yya ottoke… kenapa kau memandang dirimu begitu rendah nona?” protes Jin Ho.

“Karena memang itulah kenyataannya, suka atau tidak begitulah aku” ujarnya pelan. “Aku, seperti katamu wanita penghibur, seorang pelacur. Meskipun terdengar kejam, itulah kenyataan. Hidup tidak selalu menyenangkan bagi orang-orang sepertiku dan aku sadar betul akan hal itu. Orang-orang sepertiku ditakuti laksana kami ini binatang buas, dicemooh seperti sampah masyarakat, dikelilingi orang-orang yang selalu menuntut lebih banyak ketimbang yang mereka berikan kepada kami. Dan suatu saat ketika kami mati, orang memandang kami layaknya seperti seekor anjing yang merangkak didalam selokan, setelah membuat miskin orang lain dan diri kami sendiri”

“YYa, nona” ujar Jin Ho. “Tenanglah, mungkin kau masih terlalu shock dengan kejadian tadi”




“Ahni” lanjut Satine, ia menyunggingkan senyuman tipis dibibirnya. “Aku sadar, sesadar-sadarnya.” Ia kembali menatap Jin Ho. “Gomawo-yyo Jin Ho -ssi dan selamat tinggal” Satine beranjak berdiri, ia perlahan mulai melepaskan mantel milik Jin Ho dan menyodorkan mantel tersebut kepada si pemiliknya yang masih menatapnya kaku. Gadis itu tersenyum kemudian berbalik berjalan meninggalkan Jin Ho  yang masih terpaku.

“Tunggu” cegah Jin Ho. Ia berlari menghampiri Satine. Kemudian kembali menyampirkan mantelnya di tubuh gadis itu. “Pakailah, udara sangat dingin. Lagipula…” tutur Jin Ho, ia memandang penampilan Satine yang sedikit berantakan. “Ah sudahlah, miane. Cobalah untuk menghargai dirimu sendiri karena aku tahu kau tidak serendah itu” lanjutnya. “Hati-hati pulangnya” tukas Jin Ho kembali. Ia tersenyum kemudian berjalan meninggalkan Satine yang sekarang ganti terpaku menatap Jin Ho.


*********************************************




Jin Ho membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah penthousenya. Ia menerawang ke langit-langit. Pandangannya nanar. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya sejak pulang tadi. Sejak ia memastikan kalau Satine pulang kerumahnya dengan selamat saat ia diam-diam mengikuti gadis itu. Masih segar diingatannya, saat ia melihat gadis itu menangis dalam diam di dalam bus, saat Jin Ho menatapnya dari samping jendela mobil yang mengikuti bus yang ditumpangi oleh Satine, ia merasa miris. Selanjutnya hanya kesunyian yang menemaninya malam itu, tanpa ia minta, setitik air mata mengalir jatuh dipipinya. Ia yang merasa dunia tidak adil baginya ketika Tuhan mengambil kesempatannya untuk berbahagia, kini perlahan sadar bahwa kepedihannya saat ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan Satine.

*********************************************


Satine mengedarkan pandangannya ke semua ruangan saat ia baru saja tiba di apartemennya. Pandangannya terhenti saat ia mendapati sosok Chang Min tengah duduk di samping jendela. Pemuda itu hanya diam, ia sama sekali tidak menoleh ataupun menyambut kedatangan Satine seperti biasanya. Yang dilakukannya hanyalah mengedarkan pandangannya kearah jalan. Satine perlahan berjalan mendekati Chang Min dan mendapati tangan Chang Min yang terbalut perban.

“Gwenchana?” sapanya pelan. Namun Chang Min tetap tidak memperdulikannya dan tetap bertahan dalam diamnya. Satine perlahan meraih tangan Chang Min yang terbalut perban, namun seketika itu pula ditepis oleh Chang Min. Pemuda itu kemudian beranjak dari tempatnya dan perlahan berjalan keluar melewati Satine tanpa kata-kata. Satine hanya bisa memandang kepergian pemuda tersebut tanpa bisa mencegahnya.





Sepeninggal Chang Min, tiba-tiba ia merasa tubuhnya lemas. Ia terduduk dilantai, bahunya bergetar naik turun. Ia menangis, menumpahkan semua yang sejak tadi coba ditahannya. Tangisnya begitu pedih. Chang Min mendengarkan semua itu dari balik pintu apartemen. Hatinya juga merasa sakit, ingin masuk kembali kedalam, namun ia urungkan niat itu. “Miane, noona…..tapi aku harus melakukan ini, kalau tidak kau pasti akan semakin hancur” ratapnya sedih.


*********************************************


“Jin Ho-yya…. Jin Ho-yya….”

Jin Ho terbangun saat ia merasa seseorang mengguncang tubuhnya. Perlahan ia membuka matanya yang masih terasa berat.

“Om..ommaaa….” tukasnya saat pandangannya mulai jelas. Nyonya Lee duduk berjongkok dihadapan Jin Ho. Ia terlihat sangat khawatir melihat wajah putranya yang sedikit pucat.

“Kenapa kau tidur disini sayang? Kau bisa sakit” ujar Nyonya Lee lembut seraya mengusap pelan kepala putra bungsunya tersebut. Jin Ho hanya bisa tersenyum sembari menatap lembut ibunya tersebut. “Apa kau sakit? Wajahmu terlihat pucat” lanjutnya mengelus wajah Jin Ho.

“Ahni, omma. Gwenchana.” Jawab Jin Ho. Ia perlahan bangkit dan duduk menyandar di sofa. Nyonya Lee kemudian mengikuti Jin Ho dan duduk disamping putranya tersebut. Jin Ho menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Lee. “Ada apa omma kemari?” tanyanya lembut.

“Apa omma tidak boleh mengunjungimu nak?” goda wanita paruh baya tersebut. Jin Ho terkekeh pelan. “Omma hanya mengkhawatirkanmu karena sudah 3 hari ini kau tidak mengunjungi omma di rumah, waeyo? Kau sudah melupakan wanita renta ini?”

Jin Ho tertawa kecil. “Bagaimana mungkin aku bisa melupakan wanita cantik ini” godanya. Nyonya Lee berpura-pura cemberut mendengar rayuan putranya tersebut. “Omma, miane. Aku janji aku akan sering menjenguk omma” lanjutnya.

Nyonya Lee menghela nafasnya berat “Semua putraku satu persatu pergi meninggalkanku” rajuknya.

“Mwo? Chinja-yo?” Tanya Jin Ho “Tae hyung dan juga Na..Ra-ssi apa mereka….”

“Mereka sudah tidak tinggal bersama omma lagi” sahut Nyonya Lee seakan tahu arah pertanyaan Jin Ho. “Miane omma baru memberitahumu, karena akhir-akhir ini kau terlihat sibuk dan lagipula omma pikir kau masih ingin menenangkan diri” lanjutnya. “Jin Ho-yya, kembalilah kerumah, temani omma, yah?” Nyonya Lee kembali merajuk. Jin Ho terdiam. Ia tersenyum samar.

“Ne, omma. Tapi beri aku waktu sedikit lagi” jawab Jin Ho pelan.

“Ne, omma tidak akan memaksamu, miane omma hanya ingin kau bahagia” tukas Nyonya Lee sembari menepuk punggung tangan Jin Ho.

“Hey, apa kau tidak lapar?” tanya Nyonya Lee kemudian. “Omma akan memasak makanan kesukaanmu” tawar Nyonya Lee. Jin Ho menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. “Kalau begitu, aku mandi dulu omma” pamitnya. Sejenak kemudian iapun beranjak untuk membersihkan dirinya.


*********************************************




Jin Ho mengguyur seluruh badannya dengan air dingin pagi itu, ia ingin menghapus semua pikiran yang mendadak membuatnya sumpek pagi ini.




Tentang Na Ra, Tae Yoon dan juga tentang Satine. Ia berharap semua sosok tersebut bisa menghilang bersama tetesan air yang jatuh dari seluruh tubuhnya, namun tetap saja semakin ia mencoba menghilangkan bayangan tersebut, bayangan tersebut semakin melekat dipikirannya.

15 menit berlalu, saat Jin Ho selesai, ia meraih T-shirt dan celana sport untuk dipakainya pagi ini, tiba-tiba ia merasa malas untuk pergi bekerja. Jin Ho keluar dari kamar dengan masih tetap mengusap rambutnya yang basah dengan handuknya, bau sedap masakan perlahan memasuki batang hidung mancungnya saat ia berjalan menuju keruang makan, ia melihat ibunya yang masih sibuk menyiapkan masakan.

Jin Ho perlahan membuka tirai jendela ruang tengah untuk membiarkan sinar mentari menerangi ruangan tersebut. Pandangannya jatuh kearah kursi balkon yang tertimbun salju yang rupanya turun lumayan deras semalam. Salju yang mulai meleleh karena sinar mentari pagi itu, menimbulkan efek yang berkilau bagai kilauan kristal cukup memukau Jin Ho. Ia yang biasanya cuek dan tidak terlalu perhatian dengan fenomena alam tersebut, mendadak tertegun. “Ternyata saat salju mencair indah juga” gumamnya. Ia terus memperhatikan hal tersebut tanpa menyadari kehadiran Nyonya Lee dibelakangnya saat ini.

“Ada apa nak? Ada yang menarik?” ujar Nyonya Lee. Jin Ho sontak menoleh kearah ibunya tersebut.

“Omma? Sejak kapan omma disitu?”

“Kelihatannya ada hal yang begitu menarik perhatianmu sampai-sampai kau tidak menyadari kehadiran omma”

Jin Ho terkekeh pelan “Ahni-yyo, omma” jawabnya terkekeh.

“Lihatlah, dirimu. Sama sekali tidak berubah, kau selalu saja suka membiarkan rambutmu basah seperti ini” Tukas Nyonya Lee menunjuk ke kepala Jin Ho yang masih setengah basah. “Bukankah omma selalu bilang, keringkan dulu rambutmu sebelum keluar kamar mandi karena kau bisa masuk angin” protes Nyonya Lee. Lagi-lagi Jin Ho hanya bisa tersenyum geli.

“Sini, biar omma yang keringkan” sahut Nyonya Lee. Ia menyahut handuk yang ada dibahu Jin Ho dan perlahan mengusap kepala Jin Ho dengan handuk tersebut untuk mengeringkannya. “Jika nanti kau menikah, apa istrimu nanti mau melakukan hal seperti ini hah” omel Nyonya Lee.

“Kalau dia tidak mau melakukannya, maka aku akan menceraikan dia dan kembali kepada omma” goda Jin Ho tergelak. “Atau harusnya aku tidak menikah saja, biar omma bisa selamanya melakukan hal seperti ini” goda Jin Ho kembali.

“Kau ini, dasar anak nakal” tukas Nyonya Lee sembari menjitak pelan kepala Jin Ho. “Suatu saat nanti, kau pasti menemukan wanita yang kau cintai dan mencintaimu tanpa syarat nak, saat kau menemukannya, jangan pernah lepaskan dia apapun yang terjadi arasso. Karena itu omma berharap kau cepat menemukannya dan hidup berbahagia dalam pernikahanmu kelak”  

Jin Ho tersenyum lembut “Ne, gomawo omma, saranghaeyo” ujar Jin Ho lembut pada wanita paruh baya dihadapannya tersebut. Mereka berdua tertawa bahagia. Obrolan hangat ibu dan anak yang menyenangkan dipagi itu.



*********************************************


END OF CHAPTER

Author note's : Saia sudah update super panjang meski gak sepanjang punya Rath  [hmpfh], mian kalo ada kata2 ato spasi yg error coz neh update dalam kondisi pala pening #curcol

ditunggu komentnya  [hmff]
« Last Edit: July 04, 2011, 08:58:26 am by endree_noona »

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^