Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 36375 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO (chapter 19----3 Juli 2011)
« Reply #1050 on: July 09, 2011, 11:08:58 am »
THE MAESTRO
Chapter 20





 
Song Of The Day

 Your Song
By. Elton John

It's a little bit funny, this feeling inside
I'm not one of those who can easily hide
I don't have much money, but boy if I did
I'd buy a big house where we both could live

If I was a sculptor, but then again, no
Or a man who makes potions in a traveling show
I know it's not much, but it's the best I can do
My gift is my song, and this one's for you

And you can tell everybody this is your song
It may be quite simple, but now that it's done
I hope you don't mind, I hope you don't mind that I put down in words
How wonderful life is while you're in the world

I sat on the roof and kicked off the moss
Well, a few of the verses, well, they've got me quite cross
But the sun's been quite kind while I wrote this song
It's for people like you that keep it turned on

So excuse me forgetting, but these things I do
You see I've forgotten if they're green or they're blue
Anyway the thing is what I really mean
Yours are the sweetest eyes I've ever seen

And you can tell everybody this is your song
It may be quite simple, but now that it's done
I hope you don't mind, I hope you don't mind that I put down in words
How wonderful life is while you're in the world

I hope you don't mind, I hope you don't mind that I put down in words
How wonderful life is while you're in the world



Joana merapatkan jaketnya di pagi yang dingin itu. Sementara Aldian memasukkan kotak-kotak di bagasi mobil. Hari ini adalah kepergian Aldian ke Busan. Mina Im mendekati Joana, mengulurkan rantang makanan agar diberikan pada Aldian. Saat menatap mata Joana, Mina tahu Joana menahan tangis, dia jadi tidak tega lalu mengalihkan pandangan pada Aldian.

“Sudah semuanya, Aldian-ssi?” tanya Mina memecah suasana.
“Sepertinya sudah.” Aldian menepuk-nepuk tangannya yang memerah karena mengangkat kotak-kotak  itu. Joana mendekatinya dan menyodorkan rantang makanan. “Nanti siang jangan sampai telat makan, Oppa.”

“Tentu, Mungil,” Aldian menerima rantang itu dan menempatkannya di jok  belakang. “Sekarang tinggal menunggu Yong Hwa.”

Joana memandang mobil impresser yang masih terparkir di garasi rumah mereka. “Oppa yakin tidak membawa mobil itu?” tanya Joana sambil menunjuk Impresser. Aldian menggeleng,”Selama di sana masih ada mobil ini,” tunjuk Aldian pada mobil yang sudah penuh dengan barang bawaan. Mobil itu milik Yong Hwa. Aldian sengaja meninggalkan impresser-nya untuk dipakai Joana ke kampus sehari-hari.

“Nah, itu dia datang,” seru Aldian. Yong Hwa berjalan gontai menghampiri mereka. Aldian Cuma bisa keheranan melihat tingkahnya.

“Hei, anak muda. Kenapa wajahmu? Pagi-pagi sudah muram,” hardik Mina Im pada pemuda yang baru datang itu.

“Ah, jangan ikut campur, Nany,” sahut Yong Hwa cuek.

“Kenapa? Pacarmu marah kau pindah ke Bussan?” tebakkan Mina yang tentu saja sangat tepat. Yong Hwa bertambah runyam.”Sudah ku bilang bukan urusanmu!” Mina Im ngakak seketika. Joana memandangi wajah Aldian yang tentu saja ikut tertawa. Kalau pacar saja tidak rela ditinggalkan, apalagi aku yang sudah berstatus istri?

Aldian masih saja tertawa. Yong Hwa menduduki kursi kemudi dengan wajah bersungut. Saat menoleh ke arah Joana, Aldian berhenti tertawa. Mata Joana semakin merah menahan tangis. Lengan Aldian terulur, menarik Joana untuk memeluknya.

“Joan ikut Oppa, ya?” isak Joan di pelukan itu. Aldian mencium puncak kepala istrinya lalu berbisik,”Kau harus menyelesaikan kuliahmu, Yeobo… Aku janji akan pulang setiap hari Minggu.”

Joana semakin terisak, dia bahkan tidak mau melepaskan pelukan suaminya. Aldian menghela nafas berat. “Nany…,” panggil Aldian. Mina Im langsung tanggap pada arti panggilan itu. Dengan lembut, wanita paruh baya itu menarik Joana agar melepaskan Aldian.

“Dia bilang akan pulang hari Minggu, sayang,” hibur Mina ketika Joana sudah berada di pelukannya.

“Jaga istriku baik-baik, Nany. Aku pergi dulu,” pamit Aldian kemudian memasukki mobil.

Yong Hwa menstarter mobil, sesaat suara halus mesin mobil mendominasi. Joana masih terisak di pelukan Mina Im. Aldian melihat hal itu dari kaca spion. Mobil bergerak lambat kemudian, di pandangan Aldian, Joana dan Mina Im yang berdiri di depan rumah mereka semakin mengecil. Aldian memejamkan mata. Yong Hwa mendesah. “Sangat sulit hidup berjauhan dengan wanita yang kita cintai, Tuan Lee.”

Aldian membuka matanya. Segala pikiran tentang Joana berusaha ditepisnya kini. Berusaha meyakinkan diri sendiri kalau hal ini dia lakukan untuk masa depan mereka. Yong Hwa masih serius mengemudi. Pagi itu udara begitu dingin, salju semakin menebal. Jalan-jalan semakin licin. “Kau sudah menemukan apartemen?” tanya Aldian.

“Saya memilih tinggal di ruko saja. Itu jika anda tidak keberatan.”
“Tentu saja tidak.”

Di Bussan, Aldian menyewa ruko lagi. Seperti perjanjian yang lalu, Nicky-lah yang mengurus di Seoul, sedangkan dia dan Yong Hwa di Bussan. Aldian juga menyewa apartemen untuk ditinggali. Semalam dia sudah memberikan alamat ruko dan apartemennya di Bussan pada Joana. dia juga tidak tahu kenapa melakukan itu, ada suatu dorongan kecil di hati yang menyuruh melakukan itu.

“Anda yakin dengan apartemen itu, Tuan Lee?” tanya Yong Hwa membuyarkan lamunan Aldian.

“Tentu saja, memangnya kenapa?”
“Kalau menurut saya terlalu kecil untuk anda. Bagaimana kalau nanti Nyonya datang?”
“Nanti aku akan mencari-cari rumah yang lebih layak kalau waktu itu tiba.”

Aldian memang harus berhemat untuk kehidupannya selama di Bussan. Sebenarnya hal ini lebih dikarenakan ketidakmampuannya mengelola uang. Selama ini, Joana lah yang mengatur keuangan dan rumah, tanpa Joana di sampingnya selama di Bussan, dia yakin semuanya akan kacau, bahkan jika dia menyewa apartemen yang luas, dia takut kewalahan merapikan apartemen itu.

Mobil mereka masih terus membelah jalan raya. Udara semakin dingin menusuk. Aldian berusaha memejamkan mata, dia ingin tidur sebelum giliran mengemudinya tiba. Yong hwa tahu hal ini sehingga tidak memulai percakapan lagi. Kini keheningan yang menyelimuti keduanya. Menyongsong jarak yang semakin mendekatkan mereka ke kota Bussan.

Sementara Joana menikmati hari-harinya di kampus tanpa tenaga. Mukanya selalu ditekuk. Kejadian tadi pagi masih membayang. Sesaat setelah kepergian Aldian, Joana langsung menuju kampus. Dia ingin menghibur diri dengan mendatangi kampus pagi-pagi, tapi yang ada malah semakin kecewa. Dara yang ditunggu dari tadi tidak datang-datang. Seperti yang sudah-sudah, dia ingin mencurahkan uneg-unegnya pada Dara. Alhasil, kini dia hanya bisa membaca-baca buku di perpustakaan sambil manyun. Bahkan bahan bacaan di tangannya sama sekali tidak dipahami.


Akhirnya Joana mengalah juga. Kepalanya menelungkup di meja lalu mulai menangis sesenggukan.   Orang-orang yang ada di situ sesaat berpaling, tapi kemudian meneruskan aktifitas mereka kembali setelah menaikkan bahu cuek.

Oppa, bagaimana bisa kita hidup berjauhan seperti ini? Joan tidak bisa. Joan takut kehilangan, batin Joana meratapi nasibnya.

“Ehm,” suara deheman itu membuat Joana mengangkat kepalanya. Albert sudah berdiri di depannya. Dia sendirian, tanpa Dara di situ.

“Dara mana?” tanya Joan dengan suara serak akibat tangisan.

Albert menduduki kursi di depannya,  meja perpustakaan memisahkan jarak mereka. “Dia mual-mual lagi pagi ini. Jadi menyuruhku menemuimu.”

“Mual?” Joana mengkernyitkan  dahi. “Bukannya kandungan Dara sudah lima bulan? Kenapa dia masih mual?”

“Dokter bilang dia kekurangan asam folat.”
“Apa itu bahaya?”

“Anhi, dokter sudah memberikan tablet asam folat dosis tinggi padanya. Mungkin besok mualnya hilang,” jawab Albert. Joana masih memandang, dia mengkawatirkan Dara. Albert mengibaskan tangannya. “Ah, sudahlah, tadi Dara bilang ada yang penting yang akan kau bicarakan, makanya dia menyuruhku kemari. Apa ini berhubungan dengan pertunjukkan?”

Joana jadi gelagapan. Tidak mungkin dia mengatakan semuanya pada Albert. “Aku… Aku… Ah, tidak… lebih baik aku menunggu Dara saja.”

“HAi, aku sudah ada di sini pagi-pagi, kau malah bilang menunggu istriku? Memangnya apa yang mau kalian bicarakan? Rahasia wanita?”

“Bu… bukan urusanmu,” Joana jadi kesal pada Albert. Tiba-tiba Albert memegang wajah Joana mengamati mata lebar wanita itu yang memerah. “Kau menangis?”
Joana berusaha melepaskan tangan Albert. “A.. anhi.”
“Apa ini ada hubungannya dengan yang akan kau bicarakan pada Dara?”

“Sudah kubilang bukan urusanmu!”

Albert menghela napas karenanya. “Lalu itu urusan Dara? Kau selalu membicarakan urusanmu pada Dara, padahal urusan Dara juga urusanku, jadi apa salahnya kau juga membicarakan urusanmu padaku?”

Joana mencibir kemudian. Pria tampan di depannya ini memang sangat pandai memutar-mutar pernyataan. Pantas saja Mr. Liu bilang kalau Albert sebenarnya lebih pantas jadi pengacara daripada musisi.

“Ayo, bicarakan saja padaku. Aku juga sahabatmu, kan? Daripada aku dengar dari Dara yang tentu saja sudah diberi bumbu agar lebih dramatis,” desak Albert yang terkekeh kemudian.

“Aku tidak mau!”

“Apa ini ada hubungannya dengan Tuan Lee? Oh, iya… bagaimana kabarnya Tuan Lee. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya sejak kalian datang ke pesta pernikahanku.”

“Baik.”

“Bagaimana usahanya sekarang?”

“Dia… dia…,” Joana mendadak linglung. “Dia membuka cabang di Bussan,” jawab Joana akhirnya.

“Wah, hebat!” Albert mengacungkan ibu jarinya sebentar,”Lalu siapa yang mengurusi Bussan?”

“Tentu saja, Oppa.”

Di sini kening Albert mulai berkerut.”Lalu yang di sini?”

Joana menghela napas. Mendadak dia menangis lagi. Albert jadi kalang kabut. Apalagi orang-orang di situ menoleh ke arah mereka, ada juga yang berbisik-bisik sambil melirik Albert. Mereka mengira Albert berbuat kesalahan pada Joana. Tentu saja hal itu membuat Albert kikuk. Wajahnya berkerut dengan roman geli sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, mengangguk-anggukkan kepala pada orang-orang yang memperhatikan mereka.

“Sssttt… Joana…. jangan menangis seperti itu, lihat! Orang-orang jadi berpikir kita ada apa-apa…, tapi sebenarnya ada apa, sih?”

Joana mulai bicara walau masih sesenggukkan. Perlahan dia menceritakan semuanya pada Albert, tentang Aldian yang membuka cabang baru di Bussan, tentang kenyataan kalau mereka harus terpisah jarak Seoul-Bussan, dan yang lebih lagi tentang rasa takut kehilangan. Di sini Albert menghentikan cerita Joana,”Tunggu! Kau curiga Tuan Lee akan selingkuh begitu?”

Joana mengangguk pelan. Albert jadi menjitaknya, “Phabo!”

“Aku… aku… selalu merasa ada hal yang mengganjal di sini,” Joana menekan dadanya. “Aku takut Oppa nanti meninggalkanku karena tertarik Yoja lain di sana.”

“Phabo! Phabo! PHabo!” hardik Albert lagi. “Dan yang lebih bodoh lagi, kau akan menceritakan semua ini pada Dara. Tentu saja dia akan lebih mengomporimu nantinya. Dara sedang hamil, kau tahu? Hormonnya sedang tidak stabil, kadang dia bicara tanpa dipikir dulu. Saat ini kau butuh seseorang yang berpikiran jernih untuk kau jadikan tempat curhat.”

“Aku…Aku.., tidak tahu itu, Abert-ssi.”

Albert bersungut-sungut. “Jadi ini yang kalian bicarakan selama ini? Membicarakan pasangan masing-masing?”

“Bu… bu… kan begitu maksudnya.”

“Oke, tapi aku tidak setuju pendapatmu. Bukan maksudku membela suamimu. Dengar ya, Nyonya Lee… suamimu di Bussan itu untuk bekerja, bukan untuk piknik atau tamasya. Itu semua juga untukmu nantinya. Kau pikir dia bekerja untuk siapa?”

Joana masih saja sesenggukkan. Albert menghela napas panjang. “Kau pikir Tuan Lee akan sebodoh itu? Melupakan begitu saja pengorbananmu selama ini? Dia bahkan menduda selama tiga belas tahun setelah kematian Unimu. Apa itu bukan bukti kalau dia pria setia? Dengan istri yang sudah mati saja, dia begitu. Apalagi dengan kau yang masih segar bugar!”

“Aku… Aku…,”

“Sudahlah…,”Albert mengelus bahu Joana untuk lebih menenangkan.”Bahkan ada pasangan yang terpisah lebih jauh darimu. Mr. Liu dan istrinya… dia di sini, istrinya di Hongkong, tapi Mr. Liu tetap setia juga, kan? Tiap bulan dia pulang untuk menjenguk istri dan anaknya.”

“Oppa bilang akan pulang setiap hari Minggu,” desah Joana. Albert masih mendengar perkataan itu. “Nah, apa lagi kamu yang bisa ketemuan tiap Minggu. Dasar phabo! Sukanya mendramatisir masalah. Terlalu melankolis!” sekali lagi Albert menjitak Joana.

“Sekarang tersenyum!” pinta Albert. Mau tak mau Joana menurutinya. Albert ikut tersenyum juga, lebih lebar dari Joana. Tangannya mengacak-acak puncak kepala Joana karena wanita itu tidak menangis lagi.



Kepergian Aldian ke Bussan, diketahui pula oleh pasangan Chang. Bahkan kesedihan Joana, membuat Mei iba. Mei memaklumi keadaan itu. Semenjak menikah, belum sehari pun Joana dan Aldian terpisah. Mei bekerja sama dengan Mina Im. Ada suatu acara yang mampu memberikan pengertian pada Joana. Acara itu adalah pertemuan bulanan istri veteran. Mei berencana mengajak Joana ke acara itu. Pada mulanya Joana menolak.

“Joan bukan istri veteran, Halmoni,” elak Joana. Mei hanya bisa menggelengkan kepala. Mina malahan yang mendelik galak. “Sudah…, ikuti saja halmonimu. Dari pada kau di rumah, bengong menunggu telepon Aldian.”

Mendengar sindirian Mina Im, Joana jadi tambah mayun. “Lagian Oppa bilang kalau mau telpone tiap hari, ditunggu-tunggu  tidak telphon.”

“Kenapa bukan kau yang telpon duluan?” agak sewot Mina Im jadinya.

“Joan takut nangis kalau telphon Oppa,” ni anak masih saja banyak alasannya. Mei tambah mendesah.

“Sudahlah,” akhirnya Mei buka suara juga.

”Cepat ganti bajumu, acara akan dimulai setengah jam lagi,” perintahnya sambil mendorong tubuh Joana menuju kamar. Dengan malas Joana memasuki kamar. Tentu saja Joana berjalan masih dengan menatap layar handphone, berharap benda itu pecah jika Aldian belum juga menelpone sampai malam.

Bruk! Pintu kamar ditutup dengan kasar. Dua wanita yang ada di depan kamar sama-sama menggelengkan kepala. “Anak itu kapan jadi dewasa,” keluh Mina Im.

“Semuanya butuh proses, Mina,” desah Mei.

Mina Im menduduki sofa. Joana belum selesai juga mengganti baju.  “Tingkahnya semakin manja saja sekarang. Apalagi sejak usaha suaminya semakin maju. Salah suaminya juga sebenarnya yang semakin memanjakannya.” Mei jadi tertawa mendengar uraian Mina Im. Sambil duduk di samping Mina, dia mengatakan rencana yang telah disusunnya dari pagi itu. “Joana akan mendapatkan pelajaran yang berharga di acara nanti. Aku janji.”

“Bisakah acara itu menghilangkan kecurigaannya yang semakin menjadi-jadi pada Aldian?” tanyanya. Mei mengkerutkan dahi mendengarnya. “Kau yakin dia tidak sedang hamil? Mengingat emosinya yang labil itu?”

“Yah… kalau dibilang labil, dia tidak hamil pun, dari dulu memang dia labil.”

Mei jadi menepuk jidat. Benar juga, dari dulu Joana memang labil. Kejadian sebelum pernikahan mereka adalah bukti kelabilan jiwa Joana.

“Joan sudah siap!”teriak Joana saat keluar kamar. Kali ini dress putih selutut dengan lengan tiga perempat membalut apik tubuh mungilnya. Mei mengacungkan ibu jari sambil memuji,”Yeppo! Sekarang… kita berangkat. Kacha!”

Mei menarik tangan Joana. Mina melambaikan tangan saat mengantar keduanya di ambang pintu. “Hati-hati mengasuh bayi besar ini, Mey!” seru Mina yang membuat Joana bersungut-sungut kesal.

“Memangnya apa istimewanya acara itu, Halmoni?” Tanya Joana saat keduanya dalam perjalanan. Joana menyopiri mobil Aldian dengan lambat, mengingat baru beberapa hari dia mendapatkan lisensi mengemudi.

“Kau juga nanti tahu sendiri, Joan,” jawab Mei yang membuatnya semakin jengkel.

Acara pertemuan istri veteran memang terjadi setiap bulan. Bisa dibilang acara ini merupakan ajang berkumpul dan reuni bagi para istri pensiunan tentara itu. Di situ, biasanya mereka berbagi cerita tentang anak- cucu, bernostalgia, atau bahkan berbisnis. Acara sudah berlangsung seru saat Joana dan Mei sampai. Para nenek itu memandang Joana dengan kagum. Mereka sangat mengagumi kecantikan Joana.

“Ini cucumu, Mei?” Tanya salah seorang dari mereka. Mei menatap Joana lembut, lalu dengan mengelus pipinya, Mei menjawab,”Dia adalah cucu Kolonel Goo, tapi sudah kuanggap seperti cucu sendiri.”

“Cucu colonel Goo?” Tanya rekan Mei yang lain. Mei hanya mengangguk.
“Jadi ini benar Joana Goo yang mengancam bu…

Perkataan itu terpotong saat mulut usil itu dibekap oleh nenek-nenek yang lain. Joana hanya bisa cengar-cengir melihat tingkah mereka. Sejujurnya, jika ada orang yang mengingatkannya pada masa ketika dia mengancam bunuh diri dulu, Joana jadi malu. Hal ini juga selalu tampak di pipinya yang selalu memerah.

“Sssst, ayo… kita mulai acaranya!” peringatan salah seorang sesepuh di situ.

Acara di awali dengan menyanyikan lagu kebangsaan dan mengheningkan cipta, lalu diikuti wejangan dari ketua panitia mau pun ketua persatuan istri veteran. Pada acara break, mereka biasanya bergosip, atau memamerkan kekayaan dan cucu masing-masing.

“Bagaimana keadaanmu sekarang, Joan?” Tanya Kwan Halmoni, sahabat Mei di persatuan istri veteran. Mei mengibaskan tangannya. “Hatinya sedang buruk. Suaminya harus mengurus bisnis di Bussan.”

“Oh…, Bussan tidaklah jauh, Sayang. Naik aja MRT, pasti satu jam sampai,” nasihat Nyonya Kim. Joana jadi tambah manyun. Dalam sekejap, para nenek itu sudah mengelilinginya. Menjadikannya obyek dakwah.

“Dia kawatir kalau suaminya berselingkuh,” ujar Mei akhirnya.
“Halmoni…,” Joana merengek, tak terima jika kondisi hatinya jadi publisitas umum. Nenek-nenek itu tertawa serempak, membuat Joana tambah keki.

Kwang Halmoni mendesah,”Waktu suamiku dulu berperang sangat jauh, aku juga kawatir kalau dia tertarik pada gadis local lalu meninggalkanku. Apalagi waktu itu kami baru seminggu menikah.”

Mata Joana mengerjap saat mendengar kisah Kwang Halomoni. Dia mulai tertarik. “Lalu apa yang terjadi Halmoni?”

“Aku memang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di sana, tapi sebelum dia pergi berperang, kami berjanji untuk selalu berkirim surat. Dalam surat itu, kami selalu memberikan nomor, itu adalah tanda, surat keberapa yang kami kirim, sehingga bisa ketahuan mana surat yang sampai di tangan masing-masing dan mana yang tidak.”

“Oh, kau memang biangnya romantis, Chingu,” puji Mei pada sahabatnya itu.

Kwang Halmoni hanya tersenyum menerima pujian itu. Lalu Nyonya Kim menimpali pembicaraan,” Kwang memang beruntung punya pasangan yang saling setia. Ngomong-ngomong masalah perselingkuhan, siapa yang tidak tahu kisahku, apa perlu ku ceritakan lagi di sini?”

“Kalau itu berguna bagi Joana, ceritakan saja!” teriak salah seorang di situ. Dahi Joana berkerut, sampai segitunya mereka jujur satu terhadap yang lain. Nyonya Kim mulai bercerita,” Suamiku dulu berselingkuh dengan wanita yang berumur lima tahun di bawahku.”

“Halmoni…, halmoni yakin mau menceritakan semua ini padaku?” Joana jadi sangsi. Menceritakan masalah perkawinan di pertemuan semacam ini? Hanya orang bodoh saja yang melakukannya.

“Dengarkan dulu, Joan…. Ini adalah pembelajaran bagimu. Teruskan !” perintah Mei pada Nyonya Kim.

“Sebenarnya sudah lama orang-orang di sekitarku memberitahu akan perselingkuhan ini. Tapi aku tidak pernah percaya sebelum benar-benar mengetahuinya dari mata kepalaku sendiri.”

“Lalu halmoni mengetahuinya?” Tanya Joana antusias.

Nyonya Kim mengangguk,”Aku melihat pertemuan mereka dari jauh. Waktu itu di tempat umum, dengan dada yang sesak aku pulang ke rumah.”

“Halmoni pulang ke rumah? Kenapa tidak mendamprat pasangan itu?” Joana mulai menaikkan emosinya. Mei menghela nafas, dalam hati membatin, akan seperti itu jika Joana mendapati Aldian bersama wanita lain, tak perduli dalam rangka alasan apa.

“Tentu saja aku mendamprat… aku mendamprat barang-barang yang ada di rumah.”
“Mwo?”

Nyonya Kim tertawa renyah.”Waktu itu anak-anak sedang di kampus. Aku sendirian di rumah sehingga leluasa menyalurkan emosiku pada gelas, piring, sendok.” Semua orang tertawa mendengar kalimat Nyonya Kim. Tapi saat pandangan mata wanita ini berubah serius, semua menghentikan tawa. “Kemudian telepon berdering, salah satu anakku mengatakan kalau akan pulang terlambat karena dia dan adiknya sama-sama menjadi panitia orientasi di kampus.”

“Pada saat itu aku berkata pada mereka untuk berhati-hati dan selalu menjaga kehormatan keluarga di mana pun mereka berada. Tentu saja dengan menyembunyikan tangis. Kemudian aku tersadar. Kehidupan ini milik kami. Suamiku tidak mungkin bisa menukar semua itu demi wanita lain. Apalagi di situ sudah ada anak-anak.”

“Lalu halmoni membiarkan saja perselingkuhan itu? Tanpa menegur?” Joana jadi tak habis pikir.

“Aku membereskan barang-barang yang ku rusak, lalu memasakkan makanan  kesukaannya, bahkan menyambut kedatangannya dengan dandanan yang menarik.”

“Lalu perselingkuhan itu?”

“Saat dia menikmati makan malamnya, dia bertanya di mana anak-anak. Aku jawab kalau anak-anak ada kegiatan di kampus, dia hanya mengangguk. Lalu dia mulai bersantai di depan televisi, menunggu acara kesukaannya, aku menyodorkan album foto keluarga kami. Kami saling berkomentar cerita dibalik foto-foto itu. Dan akhirnya, aku berkata, akankah kebahagiaan itu berakhir oleh kesenangan sesaat?”

“Aku rasa dia sudah paham maksud perkataanmu, Kim,” Mei menanggapi. Nyonya Kim mengangguk. “Tentu, dia mulai paham kalau aku sudah mengetahui perselingkuhan itu.”

“Lalu apa yang terjadi? Bagaimana respon suami Halmoni?”

“Dia bersujud di kakiku, menangis dan meminta maaf,” lanjut Nyonya Kim. Joana melongo mendengar akhir kisah Nyonya Kim.

“Aku menyuruhnya menyelesaikan sendiri masalahnya dengan wanita itu, tapi dia malah memintaku menemani saat menemui wanita itu. Suamiku memutuskan hubungan gelapnya  tepat di hadapanku.”

Mei menoleh pada Joana. Dengan menekankan tiap kata-katanya, Mei memberikan wejangan pada Joana, “Kau dengar itu, Joan? Seperti itulah seharusnya wanita Korea bersikap.”

“Tentu,” respon dari Kwang Halmoni.”Kita adalah putri prajurit, kita  wanita terhormat, semua hal harus diselesaikan secara terhormat. Kita harus berbeda dari para wanita simpanan itu.”

“Joan… joan tidak tahu apakah bisa melakukan hal semacam itu, menghadapi perselingkuhan suami dengan begitu tenang,” Joana jadi ragu dengan dirinya sendiri.

“Tentu saja…, suami serius cari uang malah kau curigai,” canda Mei-mei. Para nenek itu memberikan koor tawa serempak. Sekali lagi Joana merengek karena merasa dijadikan bahan olokan.

“Dengar, Joana sayang.” Kali ini Kwang Halmoni menepuk bahu Joana dan memberi nasihat dengan lembut. “Ini adalah nasihat yang biasa diberikan oleh wanita kuno, karena kau wanita modern… kau boleh tidak menggunakan nasihat ini jika kau tidak mau.” Lalu setelah menarik nafas, dia menatap Joana lekat-lekat, wanita muda di depannya itu mengkerutkan kening, menanti perkataannya lebih lanjut. “Saat berada di luar rumah, suamimu bukanlah suamimu. Dia akan menjadi pribadi yang lain. Seorang pria yang mempunyai visi, punya target dalam pekerjaannya. Jangan kau harapkan dia menjadi suami yang kau mau saat dia di kantornya, tapi…. Saat dia akhirnya berada di rumah, kembali padamu dengan senyuman dan rengekannya, meminta kasih sayangmu setelah capek dengan visinya di luar…. Saat itulah dia benar-benar suamimu… milikmu… dan kau berhak menjadi posesif padanya.”

“Tapi kau jangan lupa, Kwang. Wanita dulu lebih menerima dibanding wanita sekarang,” Nyonya Kim berusaha mengingatkan fakta itu. Tentu saja Kwang Halmoni menyetujuinya. “Ne, tapi hal itu juga dikarenakan nasihat tersebut.  Dan karenanya, angka perceraian di masa-masa kita relative rendah.”

Obrolan itu masih bisa Joana ingat di malam harinya. Saat dia menuliskan setiap nasihat yang diberikan para nenek itu di buku hariannya. Dalam hati, Joana berjanji akan memahami nasihat itu dan akan mengaplikasikan  kehidupannya. Dia bahkan mulai memahami alasan Aldian meninggalkannya ke Bussan. Aldian adalah pria dengan visinya sendiri, dan jika visi dan misi itu berhasil, semuanya demi diri Joana. Hingga handphone berbunyi nyaring, meskipun malam sudah sangat larut. Joana mengangkatnya dengan antusias. “Yoboseyo, Oppa?”

Mula-mula terdengar suara mesin sebagai latar belakang, dan Joana tahu betul itu suara mesin pencetak, lalu suara bass milik Aldian terdengar di kupingnya, “Belum tidur, Yebo?”

Joana tersenyum saat menutup buku hariannya. “Ne, Oppa,” jawabnya riang.”Oppa masih bekerja?”

“Begitulah.” Suasana mendadak hening di belakang Aldian. Rupanya Aldian menjauh dari mesin agar bisa lebih jelas mendengar suara istrinya. “Jangan terlalu dipaksakan, Oppa… tadi sudah makan?”

“Tentu sudah.”
“Kenapa jadi sunyi sekali? Oppa dimana?”
“Aku sedang di balkon di lantai dua. Bintang di sini begitu jelas, Yeobo… bahkan di sini ada yang paling terang. Apa di situ juga terlihat?”

Joana berjalan menuju jendela lalu menengadah, mencari bintang yang paling terang di langit, “Ne, Oppa…, di sini juga sangat jelas.”

Samar-samar, Joana mampu mendengar tawa Aldian. “Anak kita mengikutiku sampai ke Bussan, Yeobo.” Joana ikut-ikutan tertawa mendengarnya.

“Aku sangat merindukanmu, Istri mungilku… .”
“Joan juga… sangat!”

Aldian mendesah. “Aku bahkan tidak yakin bisa tidur malam ini.”
“Gombal!”
“Mwo?”

Joana jadi tertawa sekarang. “Aniyo, Oppa… tapi oppa harus tidur… ya?”

“Apa yang kau lakukan sesiang tadi?” Tanya Aldian tiba-tiba.
“Kuliah dan pergi ke pertemuan istri veteran bersama Mei Halmoni.”
“Kau tidak bosan ke acara semacam itu?”

“ANhi… Joana suka… malahan Joan ingin ke acara itu lagi bulan depan.”

“Mwo? Memangnya ada apa di sana sampai kau ketagihan begitu? Apa ada cucu veteran ganteng di sana?”

“Huu… ngaco!” seru Joana yang membuat Aldian terkekeh, “Jangan memberi harapan pada pria lain di sana,” peringatan Aldian.

“Oppa cemburu?” goda Joana.
“Anhi!” elak Aldian.
“Jinja?”
“Bukan cemburu tapi curiga.”
Sekali lagi Joana tertawa.

“Disaat seperti ini, aku berharap kita sudah punya anak, setidaknya anak kita akan memberi tanda padamu kalau kau sudah ada yang punya,” Aldian mulai ngelantur.

“Oppa… bukankah Oppa yang bilang kalau kita hanya bisa berusaha dan berdoa.”

Aldian mendesah, keterpisahan mereka memang begitu berat baginya. “Bogossipo, Yeobo… Nomu nomu bogosipo,” Aldian memberikan kecupan di balik telephon. Joana tersenyum, kakinya melangkah menuju ranjang mereka yang kini tanpa Aldian yang selalu memeluknya lalu berbaring di sana.

“Oppa…, bisakah menyanyikan lagu untukku sampai aku tertidur?” pinta Joana.
“Tentu, Yeobo… kau sudah siap tidur rupanya?”
“Ne…,”

Aldian berdehem untuk melancarkan tenggorokannya yang agak serak.  Joana terkekeh mendengarnya. Dia tahu suaminya sangat gugup sekarang. Selama ini dialah yang selalu menyanyi untuk suaminya itu, dan mendengar kegugupan Aldian, itu  adalah sanjungan baginya, hingga akhirnya suara serak dan seksi itu mengalun merdu di telinganya.

“It's a little bit funny, this feeling inside…I'm not one of those who can easily hide…I don't have much money, but boy if I did….I'd buy a big house where we both could live.”

“If  I was a sculptor, but then again, no… Or a man who makes potions in a traveling show…I know it's not much, but it's the best I can do… My gift is my song, and this one's for you.”

“And you can tell everybody this is your song… It may be quite simple, but now that it's done… I hope you don't mind, I hope you don't mind that I put down in words… How wonderful life is while you're in the world…..”

“Sure, I don’t mind, Oppa. No matter who you are, I’ll be yours…,” janji Joana di sisa-sisa kesadarannya hingga akhirnya mata mengantuk itu terlelap.

 Aldian tersenyum, mendengar dengkuran lirih Joana di ujung telephon, sambil menatap bintang yang paling terang itu di langit. Terima kasih, Tuhan… terima kasih telah kau berikan cinta Joana yang tulus hanya padaku… aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan anugrah cinta yang kau berikan ini. Setulus hati, aku akan mencintainya. Selamanya…

“I sat on the roof and kicked off the moss… Well, a few of the verses, well, they've got me quite cross… But the sun's been quite kind while I wrote this song… It's for people like you that keep it turned on.”

“So excuse me forgetting, but these things I do…You see I've forgotten if they're green or they're blue… Anyway the thing is what I really mean… Yours are the sweetest eyes I've ever seen.”

“And you can tell everybody this is your song… It may be quite simple, but now that it's done… I hope you don't mind, I hope you don't mind that I put down in words… How wonderful life is while you're in the world.”

“I hope you don't mind, I hope you don't mind that I put down in words… How wonderful life is while you're in the world….“


BERSAMBUNG
« Last Edit: July 09, 2011, 11:13:52 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]