CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #41804
Poll
ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha
Kubu Rath
Kubu Daze
« previous
next »
Print
Pages:
1
...
234
235
[
236
]
237
238
...
252
Go Down
Author
Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11 (Read 99685 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: from Seoul to ... Perth II, chapter 22 special minho's birthday update, 22 Jun
«
Reply #3525
on:
July 09, 2011, 12:42:55 pm »
Song of the day :
http://www.youtube.com/watch?v=4rI0x1Q1PRE&feature=player_embedded#at=207
Lyrics :
Every time our eyes meet
This feeling inside me
Is almost more than I can take
Baby when you touch me
I can feel how much you love me
And it just blows me away
I've never been this close to anyone or anything
I can hear your thoughts
I can see your dreams
I don't know how you do what you do
I'm so in love with you
It just keeps getting better
I want to spend the rest of my life
With you by my side
Forever and ever
Every little thing that you do
Baby, I'm amazed by you
The smell of your skin
The taste of your kiss
The way you whisper in the dark
Your hair all around me
Baby you surround me
You touch every place in my heart
Oh, it feels like the first time, every time
I want to spend the whole night in your eyes
Chorus
Solo
Every little thing that you do
I'm so in love with you
It just keeps getting better
I want to spend the rest of my life
With you by my side
Forever and ever
Every little thing that you do
Baby, I'm amazed by you
Empat bulan berlalu sudah ....
Musim semi mulai menunjukan kuasanya, .. meniupkan angin sepoi-sepoi mengantikan aroma lembab di waktu hujan dengan sinar mentarinya yang bisa dibilang hangat dan nyaman. Bunga-bunga bermekaran, .. meramaikan kebun-kebun .. ataupun hanya pinggiran jalan yang kebanyakan dihuni bunga-bunga liar kecil yang bertaburan laksana bintang dengan warna kuning dan jingga.
Di sebuah rumah kayu bercorak minimalis ...
Daze mengeliat pelan dalam tidurnya. Dia menguap, kemudian memiringkan tubuhnya sedikit. Sebentar-bentar tangannya yang terbalut daster lengan panjang tipis meraba-raba, sebentar ke kiri dan sebentar ke kanan, .. seakan mencoba mencari-cari sesuatu, .. atau seseorang? .. Daze kemudian mengembang-kempiskan hidungnya, mengendus-ngendus dengan mata yang masih terpejam, .. seolah mempertajam penciumannya, .. berusaha meraup aroma akrab yang begitu sering dihirup dan ingin dinikmatinya setiap saat, .. yang begitu dicintai dan dirindukannya selama beberapa bulan terakhir ini.
Daze membuka mata perlahan begitu apa yang dicarinya tidak didapat. Daze kemudian mengerutkan alis dan berusaha memicingkan matanya, .... Seberkas sinar tipis langsung menyapa dan memasuki retina matanya. Daze mengejap-ngejapkan kelopak matanya--berulangkali begitu sinar menyilaukan tersebut seolah menusuk-nusuk bola matanya. Dia berusaha membiasakan diri dengan pandangan terhadap cahaya tersebut. Daze lalu berpaling ke samping, .. dan mendapatkan ternyata gorden jendela yang tergantung di sebelah kirinya sudah terbuka separuhnya .. menyebabkan sinar matahari pagi yang mulai terik merambat masuk lewat celah yang cukup lebar tersebut.
Daze kemudian mengedarkan pandangannya perlahan, ... kamarnya kosong. Orang yang dicarinya tidak berada dalam ruangan tersebut.
"Rath .. ," panggil Daze lirih.
Tentu saja tidak terdengar sahutan, karna kamar itu benar-benar kosong. Daze mendesah, lalu menyibak selimut yang masih melekat di tubuhnya. Perlahan dia turun dari ranjang dan menambah balutan di tubuhnya dengan sebuah kimono tipis yang tersampir di kepala ranjang. Perutnya yang sudah membuncit jadi agak tersembunyi dalam balutan kimono tersebut.
"Rath .. ," panggil Daze kembali.
Setelah diyakininya kamar tersebut kosong, .. Daze beranjak ke jendela dan memperhatikan keadaan di luar. Burung-burung gereja mulai bercicit-cicit dan meloncat-loncat--keluar dari sarang-sarang kecil pada sebatang pohon cemara yang tumbuh di belakang rumah. Beberapa di antaranya terbang mencari makan buat anak-anak mereka yang menunggu dengan setia sambil melongokan kepala dari dalam sarang. Melihat pemandangan tersebut, Daze tersenyum, .. tanpa sadar, tangannya mengelus perutnya yang tersembunyi di balik kimono.
Lalu deritan pelan dari pintu kamar yang dibuka perlahan samar-samar memasuki telinga Daze. Daze menoleh dan melihat seorang pria muda berpostur jangkung tengah memasuki kamar dengan beberapa batang mawar yang terpangkas rapi tergenggam di tangannya, .. Rathyan Jang.
"Kau kemana saja?" tegur Daze segera sambil memanjangkan bibirnya.
Rathyan menjawab dengan mengangkat batangan mawar di tangannya.
"Buat apa mawar-mawar itu?" tanya Daze sambil kembali ke ranjangnya--menjatuhkan diri dan menenggelamkan tubuhnya dalam selimut. "Kukira kau sudah keluar seperti kemarin-kemarin huh--"
"Aku tidak keluar sepagi ini--" jawab Rathyan kalem sembari menyelipkan mawar-mawar di tangannya ke dalam pot kaca yang terletak di atas lemari dekat jendela. Setelah menjejarkannya dengan rapi, dia berbalik menghadap Daze.
"Kau sering keluar akhir-akhir ini--" gerutu Daze agak kesal padanya. "Sebenarnya apa yang kau lakukan?"
Rathyan menyilangkan sepasang tangan di depan dada dan membalas tatapan Daze. Sesaat dia tidak mengeluarkan suara.
"Hey--saya bicara denganmu!" tegur Daze agak keras.
"Ada yang saya urus--" jawab Rathyan pendek.
"Apa?!" tanya Daze dengan nada menuntut.
Rathyan mengangkat bahu sambil beranjak ke pintu. "Nanti kau juga tahu sendiri .. ," katanya sambil berpaling ke arah Daze. "Sekarang kita sarapan dulu, .. saya sudah menyiapkannya di ruang makan, .. setelah itu ada yang ingin kutunjukan padamu. Ayo berdirilah dari situ!"
Daze menatap Rathyan kebingungan. "Apa?!!"
"Keluarlah!" seru Rathyan tanpa berbalik, dan tanpa menjawab.
"Yaa--" Tergesa-gesa Daze menyibakan selimut dan melemparnya asal-asalan ke pojok ranjang. "RATH!!" Dia meloncat dari pembaringan dan bergegas-gegas mengejar Rathyan yang sudah sampai di ruang makan.
_________oOo__________
"Ini kau siapkan sendiri?" tanya Daze sambil memutari meja bundar yang sudah dipenuhi makanan, dan menjatuhkan diri di depan Rathyan.
"Hn--" Rathyan menjawab dengan deheman pelan sambil menyodorkan piring berisi sarapan ke depan Daze. "Kau cobalah dulu. Saya sudah mengikuti daftar menu yang diberi dokter Allen, .. katanya ... wanita hamil membutuhkan vitamin dan mineral yang cukup dari makanan-makanan bergizi dan berserat tinggi seperti ini. Saya tidak tahu enak atau tidak, tapi .. hn--kau cobalah dulu .. "
Daze termangu menatap piring yang terisi penuh di hadapannya. Lambat-lambat perhatiannya beralih pada Rathyan, .. lalu kembali lagi ke piring di depannya, .. selanjutnya berbalik kembali pada Rathyan, .. begitu seterusnya. Daze tidak mampu berkata-kata. Perlahan tapi pasti, .. dua bulir air bening jatuh membasahi pipinya yang putih mulus.
"Kau .. melakukan ini ... untuk ku ... ?"
Rathyan tidak menjawab, .. dia terlihat berusaha menghindari tatapan Daze. Setelah berdeham kaku, dia menarik piring yang terletak di tengah meja dan mulai menyendok makanan yang menjadi sarapannya pagi ini, ... yang tentu saja berbeda dari punya Daze.
"Jangan lupa diminum susunya .. ," ujar Rathyan kemudian, .. sangat halus begitu selesai menelan suapan pertama.
Daze yang masih terpekur kaku di posisi semula bergerak perlahan. Sangat pelan, .. dihapusnya dua baris airmata yang mengenangi pipinya, kemudian .. dia tersenyum, .. Senyuman yang mengambarkan perasaannya yang sedang bahagia, .. juga terharu. Apa yang dilakukan Rathyan sungguh membuatnya kehilangan kata-kata. Lalu .. dengan suara yang dibuat seriang mungkin, dia meraih koran yang tergeletak di atas meja.
"Apa ini koran hari ini?"
Rathyan meliriknya sekilas, .. "Ne .. "
"O--" Daze memainkan bibirnya sambil membuka dan mulai menyimak berita yang menjadi headline pagi ini. Dia terpekur--kaku, ... perlahan-lahan perhatiannya beralih pada Rathyan yang masih saja menekuri sarapannya dengan tenang. "Keadaan Max-Global .. makin ... buruk ... "
Rathyan mengangkat wajahnya. "DAZE HAN!" tegurnya keras, .. memutus perkataan Daze yang tersendat dan terdengar agak ragu. Mata pria itu bersinar tajam, .. seolah berkata 'Aku tidak ingin mendengar apapun yang berhubungan dengan nama itu!'
Daze membalas tatapan Rathyan dalam kebisuan. Dia sedang berpikir, .. berusaha mengambil jalan bijak, .. menimbang-nimbang bagaimana baiknya bersikap supaya Rathyan tidak merasa tertekan dan dipaksa buat sesuatu yang tidak disukainya. Paling tidak, .. yang belum siap buatnya saat ini.
Daze meletakan koran di tangannya kemudian memalingkan pandangan pada piring Rathyan.
"Punyamu kelihatan enak .. ," katanya dengan suara dibuat semanja mungkin. Tangannya menunjuk piring Rathyan, .. bibirnya dimanyunkan, .. seolah memprotes makanan yang disiapkan Rathyan buatnya. "Tidak adil kalau kau membedakan makananku dari makananmu, sedangkan punyamu sendiri terlihat lebih enak dan lezat dari punyaku .. "
"Mwo?!" Rathyan membulatkan matanya tak percaya. "Yaa--Daze Han, Sudah kubilang kau membutuhkan makanan bergizi tinggi .. "
"Tapi tidak harus yang begini, kan?!" tukas Daze cepat seraya mengangkat piring di depannya. Bibirnya diruncingkan hingga hampir menyentuh cuping hidung, .. ekspresinya terlihat lucu dan mengemaskan.
"Apa salahnya dengan makanan itu?!" balas Rathyan tidak terima.
Daze menghempaskan piring di tangannya walau tidak rela. Dia tidak bisa berbuat lain. Dia melakukannya karna ingin mengalihkan perhatian Rathyan dari masalah abojinya, .. dan juga Max-Global.
"Kau coba saja sendiri!" Daze merengut. "Saya tidak mau makan makanan seperti ini, .. membuatku mual .. " Daze mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri .. berjalan menuju ke arah Rathyan. "Saya lebih tertarik sama yang lain .. ," lanjutnya sambil menyengir lebar.
"Apa yang kau inginkan?" Rathyan mengerutkan alisnya begitu Daze sudah sampai di sampingnya.
Daze membungkuk lalu meniup daun telinga Rathyan sebelah kanan. "Menurutmu apa?" tanya wanita itu lirih, .. dan mendesah.
"Hah?!" Rathyan membelalakan matanya. "DAZE HAN--Ehm .. " Dia berniat menegur, .. namun tiba-tiba mulutnya sudah tersumpal bibir Daze. "Ehm, ... ehmmm ... " Sepasang mata elang Rathyan terbelalak semakin lebar. Daze melumat bibirnya, .. makin lama makin panas dan bergelora. Dirasanya lidah Daze memasuki rongga mulutnya, .. mengorek-ngorek dan hampir menghisap seluruh persediaan liur dalam mulutnya. "Daz ... "
"A .. aku .. menginginkannya ... ," desis Daze di sela-sela lumatannya. Sepasang tangannya mulai bergerak liar. Tangan kanan Daze menyusup masuk lewat celah di antara kancing kemeja Rathyan, mengelus-ngelus dan menekan-nekan dada bidang tersebut, sambil sesekali memelintir sepasang biji kecil yang mulai mengeras, ... dengan agak paksa ditariknya kancing-kancing kemeja Rathyan sampai terlepas satu persatu, .. sedangkan tangannya yang satu lagi turun ke daerah sensitif Rathyan, .. menekan dan meremasnya dengan agresif.
Rathyan melenguh dalam protes, ... namun Daze tidak menghiraukannya.
"Hey-hh ... " Rathyan berusaha melepas genggaman Daze dari 'barang' miliknya dengan cara memiringkan badan. "Ta .. tahan ... "
"Ti .. dak mau .. hmm--" tolak Daze di sela-sela nafasnya yang memburu. Saat itu, bibirnya masih menyumpal bibir Rathyan dalam gairah.
"Ber .. berbahaya ... ," tukas Rathyan agak khawatir.
Perkataan itu membuat Daze menarik badannya. Masih dalam posisi yang sangat dekat, Daze menghujam tajam bola mata Rathyan dengan sorot menusuk. "Apanya yang berbahaya?" balasnya tak terima.
"Ber .. berbahaya bagi kandunganmu .. ," jawab Rathyan ragu-ragu. Terlihat jelas dia takut menyinggung perasaan Daze.
"Omong kosong!" tukas Daze keras. "dr. Allen berkata kandunganku sangat sehat, ... putra kita tidak akan apa-apa meski kita melakukannya setiap hari. Apa kau tidak mendengar waktu itu?!!"
"Iya, memang .. ," sahut Rathyan serba salah. "Tapi tetap saja ... " Dia tidak jadi melanjutkannya begitu Daze membelalakan mata lebar-lebar.
"Tetap apa?!" jerit Daze dengan sepasang mata yang mulai berair. Dia tidak mengerti mengapa menangis, .. mengapa merasa sedih, .. Yang jelas perasaannya memberontak tak karuan, .. emosinya jadi labil. Dia ingin lebih diperhatikan. Akhir-akhir ini Rathyan terlalu sibuk dengan masalah yang .. tidak diketahuinya apa itu, ... Dan dia mencoba mengerti. Tentang masalah yang menyangkut Rathyan, baik itu masalah keluarga maupun pekerjaannya, dia mencoba mengerti, .. jadi dia juga ingin Rathyan mengerti posisinya. Dia ingin disayang, .. setiap hari, .. oleh suaminya sendiri. Apakah itu salah?
Pandangan Rathyan berubah redup. Perlahan tangannya terjulur ke tenguk Daze dan menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. "Tidak ada apa-apa .. ," Rathyan mendesah halus di sela-sela telinga Daze. Dihirupnya perlahan aroma semerbak yang terhembus dari rambut wanita dalam dekapannya. Mereka terdiam dalam posisi seperti itu selama beberapa menit. Rathyan kemudian mendaratkan ciuman yang teramat dalam, .. penuh kasih sayang di jidat Daze. "Miane ... ," ujar pria itu halus, .. seraya mengangkat wajah Daze sehingga menghadap kearahnya.
Daze menatap lurus bola mata Rathyan. "Saya mau ... "
Rathyan tersenyum, .. sambil menekan bibir Daze dengan telunjuknya, .. seakan tidak memberi kesempatan padanya untuk memohon.
"Kita ke kamar .. ," kata Rathyan seraya berdiri dari posisinya, .. sambil mengendong Daze dalam kukungan sepasang tangan kekarnya. "Tapi kau harus berjanji untuk menghabiskan makanan yang kusiapkan buatmu .. Kau membutuhkan itu--," lanjut Rathyan bersungguh-sungguh.
Daze berteriak, .. sepasang tangannya segera melingkari leher Rathyan, .. agak keras menarik kepala pemuda itu kearahnya kemudian mencium pipinya sampai menimbulkan bunyi keras--CUPPPP ....
"Agashimida, boss!!!"
Rathyan tertawa, ... yang mungkin untuk keberapa-puluh kalinya sejak pernikahannya dengan Daze.
"Kurasa kau harus mengurangi kuantitas bercumbumu, Daze Han!" ujar pria itu agak keras, ... walau sebenarnya hanya dengan maksud bercanda.
Rathyan bercanda? Benarkah? .. HOHO--
"Shido!!" teriak Daze. Sekali lagi ciuman yang sangat dalam, .. yang bisa dikatakan lebih mengarah ke gigitan, .. mendarat di dekat telinga Rathyan.
"Yaishh--Daze Han! Jangan main-main!" Rathyan berteriak, .. seraya menghindari gigitan Daze selanjutnya, .. yang hampir mengenai lehernya begitu pintu kamar dihempasnya dengan kaki, .. karna sepasang tangannya sudah dipakai buat mengendong Daze.
_________oOo__________
"Kita mau kemana sih?" tanya Daze sambil melongokan kepalanya lewat jendela mobil yang tidak ditutup.
"Yaish--" Rathyan segera menariknya kembali. Dengan pandangan menegur dan alis dinaikan, Rathyan berkata dingin. "Kau bisa membedakan, mana yang seharusnya serius dan mana yang bercanda, tidak?"
Daze mengangkat pundak sambil memanyunkan bibirnya. "Kan ada kau!" sahutnya tak jelas.
"??" Rathyan meliriknya dengan alis berkerut, tidak mengerti.
Daze tidak bereaksi selama beberapa detik, ... pandangannya terarah lurus ke bola mata Rathyan, .. seakan mengodanya, .. menginginkan dia mengetahui sesuatu. Tiba-tiba Daze tersenyum. Tangannya PUN segera dilingkarkan ke tangan Rathyan yang memegang kemudi. "Selama ada kau, tidak ada yang perlu ditakutkan .. ," ujarnya sambil menyandarkan kepala di pundak Rathyan. "Kau selalu menunjukan jalan yang benar padaku, .. apapun yang terjadi, aku tidak akan takut ... " Kemudian Daze memejamkan matanya, .. merasakan aliran hangat dari kulit pundak Rathyan yang tersembunyi dibalik kemeja menerpa wajahnya.
Rathyan tertegun, ... dia tidak mampu berkata-kata, .. atau menyahut perkataan Daze. Pengakuan tersebut membuat sekujur tubuhnya kaku. Dia terharu--sungguh-sungguh terharu, ... namun dia sulit menunjukannya lewat sikap, ataupun kata-kata. Karna begitulah dia. Setelah berdeham pelan, ... Rathyan mengelus puncak kepala Daze, ... hanya itu yang mampu dilakukannya.
_________oOo__________
"Tempat apa ini?" Daze memperhatikan sekelilingnya.
Sebuah rumah, .. atau lebih tepatnya bangunan bercorak sederhana dengan pendopo luas dan kebun mawar segar berlantai dua berdiri di depannya. Di atas pintu masuk yang terbuat dari kaca besar, .. tergantung papan nama besar-besar 'Creef Arts & Dance Studio'.
"Studio seni dan tari?" tanya Daze sambil berpaling pada Rathyan.
Rathyan mengangguk tanpa menoleh padanya. Sepasang matanya berkedip-kedip cerah tertuju pada papan nama yang terpampang di bangunan di depan mereka.
"Kau .. pemiliknya ... ?" lanjut Daze ragu-ragu.
Sekali lagi Rathyan mengangguk. Kali ini beralih kepada Daze. "Kau suka?" Dia balik bertanya sambil menatap Daze lekat-lekat.
Iris Daze melebar. "Jeongmal?"
"Ne!" Rathyan memastikan. "Apa kau suka?" ulangnya sekali lagi.
Daze kelihatan semakin tidak mengerti. Dengan kepala agak dimiringkan, dia mengajukan keheranannya. "Tapi .. kenapa? ... Bukankah kau sudah memiliki studio sendiri?"
Rathyan mengigit bibir bawahnya, ... setelah itu melempar pandangan kearah lain, .. seakan risih mendapat tatapan lekat dari Daze, dia menghela nafas yang dibuat seringan mungkin. "Saya ingin memiliki dunia bersamamu ... Studio yang dulu--tidak memiliki nuansa itu. Gracielo terlalu mendominasi R&G, dan saya tidak ingin dunia kita terisi oleh kehadiran orang lain ... "
Daze mengenyitkan alisnya, .. makin lama makin dalam. Setelah berpikir agak lama, .. akhirnya dia berkata pelan, " ... maksudmu, .. studio ini milik kita berdua .. ?"
Rathyan mengembalikan perhatian padanya. "Ne .. ," ujarnya tegas. Tatapan yang teramat lembut menyapa iris Daze.
"Milik kita .. " Daze mengulang kata-kata itu tanpa sadar. Kepalanya tertunduk perlahan.
"Benar .. Creef akan menjadi milik kita .. "
"Creef?" Daze mengangkat kepalanya dan bertemu tatapan Rathyan. "Mengapa Creef? .. Maksudku, .. kenapa memilih nama itu?"
"Karna . ." Rathyan mendekati Daze, .. kemudian menaruh tangannya di perut Daze yang membuncit. "Dia akan menjadi nama bayi kita .. "
"Bayi kita?" Daze tersentak kaget. "Creef .. Jang?!!"
"Ne .. " Rathyan menyunggingkan senyum tipis. "Weeyo? .. Kau tidak suka?"
"Bu ... bukan .. " Daze mengeleng keras-keras. Terlihat kaget terhadap pertanyaan Rathyan. "Creef jang .. " Perlahan tangannya menurun ke perutnya, .. menyentuh tangan Rathyan yang masih menempel di perutnya. "Creef .. Saya suka nama itu ... Terdengar sangat lain dan ... simple, mudah diingat .. "
Rathyan tersenyum. Dia menunduk kemudian mengecup pelan bibir Daze. Selanjutnya, tangannya ditarik--lepas dari tekanan Daze ... lalu diraihnya tangan mulus yang menekan punggung tangannya itu. "Sekarang ikut denganku .. "
"Ke .. kemana?" tanya Daze agak tersentak ... linglung.
"Tentu saja ke studio!" jawab Rathyan agak heran. "Weeyo?"
"O--" Daze membuka mulut lebar-lebar. Kemudian dia mengeleng pelan-pelan, " .. aniyo .. ," perlahan, ... dengan teramat pasrah, .. dia mengikuti Rathyan menuju studio di depan mereka.
Ketika melewati kebun kecil di depan studio, Daze mengedarkan pandangannya. "Banyak mawar di sini .. ," desisnya halus.
Rathyan melirik sedikit, .. tanpa menghentikan langkahnya, dia menjawab ringan. "Kau suka mawar .. "
"O--" Untuk kedua kalinya Daze melebarkan mulutnya. Namun kali ini dia tidak bersuara seperti tadi. Ditatapnya punggung lebar yang bergerak-gerak begitu dekat di depannya dengan pandangan yang pelan-pelan menjadi redup.
_________oOo__________
Daze memutar tubuh berulangkali, ... mengamati ruang depan dari studio yang mereka masuki. Banyak lukisan tergantung di dinding bercat putih dengan garis-garis merah muda itu, .. sebagian dari mereka dikenal Daze sebagai lukisan yang pernah dilihatnya di R&G Studio, .. beberapa lagi asing baginya.
Perhatian Daze kemudian berhenti di sebuah lukisan yang tergantung di tengah ruangan. Dia termangu seketika. Lukisan itu--lukisan yang teramat jelas, ... seorang wanita dengan paras serupa dengannya, berperut buncit dan didekap seorang pria jangkung dari belakang. Pria dengan rambut acak-acakan, .. bermata elang yang saat itu bersinar lembut tertuju pada wanita di depannya. Sedangkan perut buncit tersebut transparan, ... memperlihatkan kehidupan, .. seonggok bayi mungil dengan pusar yang masih terikat tali pusar dari ibunya.
Daze melangkah perlahan-lahan, .. mendekati lukisan tersebut. "I ... ni ... " Kata-katanya tidak berlanjut. Daze mengangkat tangannya, kemudian menyentuh si bayi mungil dalam lukisan tersebut.
"Kubuat beberapa hari yang lalu .. " Sahutan terdengar dari belakang Daze. Wanita itu melirik lewat ekor matanya. Rathyan terlihat mendekatinya, .. kemudian berhenti tepat di belakangnya. Dapat dirasakan dengan jelas olehnya, hembusan nafas pria itu di dekat telinganya. "Belum selesai .. , masih perlu penambahan di sana sini .. ," lanjut Rathyan sambil menatap lekat lukisan tersebut. "Aku dan kau--juga Creef--"
"Jadi benar ... ini .... ," pertanyaan Daze tersendat. Tiba-tiba saja tenggorokannya menjadi kering hingga tidak dapat melanjutkan.
"Keluarga kita!" sahut Rathyan tanpa ragu.
Daze menoleh, hingga bertatapan langsung dengan Rathyan. "Rath ... "
"Ini akan menjadi dunia kita--" ujar Rathyan sambil memeluk dan menumpukan wajah di pundaknya. "Kau suka?"
Daze mengangguk dengan isak pelan yang mulai terdengar dari bibirnya. "Gumawo ... Ini sudah terlalu banyak .. ," desisnya halus, .. mengeleng perlahan. " .. sudah terlalu banyak yang kau lakukan padaku .. "
Daze merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh tenguknya. Tanpa berbalik sekalipun dia tahu kalau Rathyan menciumnya di belakang leher.
"Hanya ini yang bisa kulakukan .. ," ujar Rathyan di sela-sela telinga Daze. "Semua tabunganku habis buat mempersiapkan ini ... "
Pernyataan jujur dari Rathyan justru menghentak perasaan Daze.
"Rath ... "
"Saya tidak bisa memberikan apa-apa lagi .. ," potong Rathyan. " ... miane .. "
Daze mengeleng cepat. "Tidak! Semua ini sudah lebih dari cukup!"
"Namun saya berjanji padamu--" tanpa mengubris bantahan Daze yang cukup keras, Rathyan menukas tidak kalah cepatnya. "Dunia kita ini akan berhasil--jeongmalyo .. "
Daze tertegun. Rathyan terlihat begitu yakin dengan janji yang diucapkannya, ... membuat Daze menjadi percaya juga. Dia yakin, .. selama Rathyan yang mengatakannya, .. semua pasti membuahkan hasil.
Daze memutar tubuh sampai berhadapan dengan Rathyan, .. kemudian dipeluknya suaminya itu erat-erat, .. menghirup aroma cemara yang begitu kental dari tubuh jangkung dan kekar dalam dekapannya.
"Saya percaya padamu .... "
Desisan yang teramat halus, .. pernyataan yang penuh keyakinan, ... berikut kepercayaan yang menenangkan, ... Rathyan membalas pelukan Daze, .. menekan kepala mungil tersebut .. dalam-dalam di dadanya.
_________oOo__________
"Ayo, .. kupertemukan kau dengan seseorang .. ," ajak Rathyan duapuluh menit kemudian, ... setelah mereka tersadar dari lamunan yang berkepanjangan.
Rathyan mengendurkan pelukannya, .. kemudian menatap Daze dengan mata bersinar.
"Dhe?" Daze tersentak, .. membalas tatapan Rathyan heran. "Si .. siapa .. ?" tanyanya gugup.
"Di atas .. ," Rathyan menjawab dengan mengangkat kepalanya, .. mengarah ke tangga lebar yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas.
"Dhe?" Sekali lagi Daze mengajukan pertanyaannya. Perhatiannnya sekarang dialihkan ke arah yang ditunjuk Rathyan. "Siapa sih?!" ulangnya agak keras.
Bukannya menjawab, Rathyan malah menarik tangannya. "Kau akan tahu setelah melihatnya sendiri--" tukas Rathyan dengan senyum samar.
"RATH!" tegur Daze mulai kesal. Dia tidak senang mendapat kejutan-kejutan yang tidak dikira dari Rathyan, ... sudah terlalu banyak kejutan yang sungguh-sungguh mengagetkan dan tidak kuat diterima iman .. yang diperolehnya selama ini, .. dan dia takut, suatu kali nanti dia akan tidak kuat menahannya. Daze berusaha menepis tangan Rathyan dan menegurnya, namun pria itu bereaksi lebih gesit.
"Kacha!" Rathyan agak menariknya, walau dengan sangat hati-hati, .. membawanya menaiki tangga menuju lantai atas.
_________oOo__________
”Nona Ting!” panggil Rathyan begitu menginjakan kakinya di lantai atas.
Daze yang berada di sampingnya mengerutkan alis. “Nona Ting?” tanyanya curiga.
Rathyan seperti tidak mendengarnya, .. melepas genggaman dari tangan Daze kemudian melangkah semakin ke dalam—ruangan yang hanya berupa lantai kosong yang teramat luas dan berkilat. “Nona Ting!” panggilnya sekali lagi. “Anda berada di mana? Keluarlah!”
Daze melangkah pelan mendekati Rathyan. Tanpa sadar tangannya terkepal, … menahan gejolak perasaan yang tidak dimengertinya. “Siapa itu Nona Ting?” tanya Daze dengan suara agak bergetar, .. tanpa menyadari keadaan ruangan yang tidak biasa. Begitu kosong melompong, .. tidak dilengkapi perkakas sedikitpun, .. dan hanya dikelilingi kaca-kaca besar yang mendominasi hampir seluruh ruangan, .. kecuali jendela dan pintu.
Rathyan memutar tubuh dan baru saja hendak menjawab ketika seraut wajah muncul dari balik pintu yang berada di ujung ruangan.
“Hy—“ sapa orang itu sambil tersenyum lebar. Tangannya melambai kearah mereka.
Daze mengalihkan pandangannya lambat-lambat dan …. Matanya terbelalak begitu mendapatkan raut yang amat dikenalnya tersebut. “Isabelle?” desisnya dengan nada hampir tak percaya. Dia kemudian bergerak dengan gerakan lambat kearah Rathyan. “Kenapa .. “
“Seharusnya saya yang bertanya padamu—“ Isabelle Ting keluar dari ruang ganti dan menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada Rathyan. “Kau sungguh keterlaluan, Daze Han! Menikah tidak bilang-bilang!” tegur Isabelle sambil melangkah lebar-lebar mendekati Daze dan Rathyan.
Daze sangat terkejut mendengar perkataan Isabelle, .. perhatiannya kemudian dialihkan kembali kepada sahabat lamanya itu. “Kau tahu pernikahanku?”
“Semula tidak .. ,” ujar Isabelle seraya melirik Rathyan. Dia tersenyum mengoda. “Tapi berkat suamimu, .. aku mengetahuinya .. HOHO—kau tidak bisa menghindar lagi, Daze Han!”
Daze menatap Rathyan. “Kau yang memberitahunya?”
“Suamimu yang mencariku!” Isabelle menyerobot cepat. Sebelum Rathyan sempat menjawab, .. dia sudah memutar tubuh Daze menghadap kearahnya. “Coba kulihat kau!” Isabelle memperhatikan Daze dengan seksama. “Ya, lihatlah! Perutmu sudah membuncit begini .. “
“Eh—“ Pipi Daze bersemu merah. Kepalanya tertunduk, .. tidak berani membalas tatapan Isabelle. “Ba .. bagaimana Rath mengetahui .. tentang kau .. , Belle-a .. ?” tanya Daze kemudian, .. tersendat-sendat dan berusaha mengalihkan godaan Isabelle terhadap pernikahan sekaligus kehamilannya.
“Saya?” Isabelle menunjuk dirinya.
Daze mengangguk. “Ne, .. Kau kan berada di Seoul, … dan setahuku, .. “ Daze melirik Rathyan. “ .. Rath tidak pernah meninggalkan Perth setelah menginjakan kakinya di sini .. “
Isabelle mengangkat bahunya. “Kalau soal itu, sebaiknya kau tanyakan sendiri pada suamimu .. “
“O—“ Daze menoleh pada Rathyan dengan ekspresi menuntut.
Namun sebelum ada jawaban yang terucap, Isabelle sudah menarik diri Daze. “Tidak kusangka kau seberani ini, Dazya .. ,” goda wanita itu dengan senyum tipis yang terukir di bibir.
Daze melebarkan mata tidak mengerti. “Dhe?”
“Tidak paham?” Isabelle menyenggol lengan Daze. Dengan ekor matanya, .. diliriknya Rathyan yang sekarang agak memisahkan diri dari sepasang sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu. “Dengar-dengar .. dia lebih muda darimu, .. sahabat dari dongsengmu, benar kan?”
“Eh?!” Daze tersentak. Ditatapnya Isabelle dengan ekspresi horror. “Ba .. bagaimana kau .. mengetahuinya .. ?” tanyanya gugup, .. bercampur keingin-tahuan yang besar.
“Ada saja—“ Isabelle menyahut enteng. “Semula kukira pria yang sering kelihatan bersamamu itu yang .. tapi ternyata .. ,” Isabelle mengantung perkataannya dengan senyum tipis melengkung di bibir tipisnya yang terpoles lipgloss oranye terang.
Daze mengenyitkan alis perlahan. “Maksudmu, .. Carls?” Tanpa sadar, dia berpaling pada Rathyan yang seketika itu menoleh padanya, .. dalam waktu yang hampir bersamaan. Daze tersentak, .. dia mengeleng dengan cepat. “Aniyo!! Carls hanya sahabatku!”
“Oh—“ Isabelle menahan nafas. “Yeah—ternyata saya salah sangka selama ini. Mianeyo .. “
“Tidak apa!” sahut Daze yang berubah datar.
Sesaat keadaan menjadi sunyi. Daze mengelus perutnya dan mengalihkan pandangan kearah jendela. Sedangkan Isabelle, .. mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan berlantai luas yang baru dikunjunginya saat itu.
“Lantai dansa ini sangat luas dan nyaman ya? Sangat cocok dipakai buat ngajar balet .. ,” ujar Isabelle beberapa saat kemudian.
Daze menolehkan kepalanya. “Lantai dansa?” Matanya memicing tajam. “Balet?” sambungnya sambil menjatuhkan pandangan pada lantai di bawah kaki mereka. “Maksudmu .. “
“Rupanya suamimu belum menceritakannya .. “ Isabelle mengangguk-anggukan kepalanya. “Arasoyo .. “ Wanita berambut panjang dan berpipi agak tembem itu menoleh pada Rathyan yang menyandar pada dinding dekat anak tangga. “Tuan Jang, kurasa anda perlu menjelaskannya terlebih dahulu pada Daze. Setelah mendapatkan persetujuannya, barulah saya akan menerima tawaran anda!”
Rathyan mengalihkan perhatian dari lantai beku yang sedari tadi ditatapnya semu. Dia mengangkat sebelah tangan dan memberi isyarat supaya Isabelle meninggalkannya berdua dengan Daze.
Isabelle mengangguk mengerti. Setelah menepuk pelan lengan Daze, dia berkata. “Saya turun dulu, .. jika dibutuhkan—panggil saya .. “
Daze mengangguk pelan. Sepeninggal Isabelle, Rathyan menghampirinya. Mereka berhadapan, .. namun Rathyan tidak berucap apa-apa.
“Ini .. ruang dansa .. ?” mulai Daze lirih.
Rathyan menghela nafas pelan. “Ne .. “
“Buat balet?” lanjut Daze.
“Ne .. ,” jawaban yang sama terlontar dari mulut Rathyan.
“Dengan maksud itu, .. kau membawa Belle kemari?” Ditatapnya Rathyan lekat-lekat.
“Ne!” sahut Rathyan tak berkedip.
“Ba .. bagaimana .. “ Daze mulai mengerak-gerakan badannya tak menentu. “ .. kau tahu tentang dia?”
“Kau lupa ketika aku menjemputmu di bawah gedung sanggar tarinya?”
Jawaban cepat dan lugas yang sebenarnya berupa pertanyaan yang tidak perlu dijawab dari Rathyan membuat Daze terpekur seketika. “Kau .. tahu .. “
“Apa?” tukas Rathyan. “Tentang cita-citamu? Kesukaanmu pada balet? Impianmu?”
“Kau .. tahu .. sejak .. saat itu .. ?” desah Daze. Dia mendadak merasa tak bertenaga. Kejutan yang kesekiankalinya dari Rathyan, … sungguh membuatnya tidak mampu bernafas dengan leluasa. Kejutan teramat besar yang tidak pernah dibayangkannya. “Karna itu .. kau meminta Belle kemari? Karna kau tahu … hanya dia yang mampu membantu mewujudkan impianku .. ?”
Rathyan tidak menjawab. Dialihkannya pandangan kearah lain, .. seakan enggan menjawab pertanyaan tersebut. “Saya hanya tidak ingin kau terlalu capek .. ,” ujar pemuda itu dengan nada mengambang.
Daze tersenyum. Jawaban tersebut membuatnya agak geli, dan .. juga bahagia. Teramat bahagia malah. Ternyata Rathyan selalu memperhitungkan kepentingannya sebelum melakukan sesuatu. “Tapi .. “ Daze memicingkan mata perlahan, .. begitu sesuatu yang dirasa ganjil menganjal di hatinya. “Bagaimana caranya kau membuat Belle menyetujui kerjasama ini? Bagaimana dengan Thinker Belle?”
Rathyan menoleh perlahan. “Kebetulan gedung di mana Thinker Belle berada diambil-alih dan dijual kepemilikannya pada sebuah perusahaan besar .. Ketika saya menghubungi dan mengajukan penawaran ini, Nona Ting sedang mencari tempat yang cocok buat sanggar tarinya .. Dan begitu mendengar dan mengetahui kalau rekan kerjanya adalah kau, dia segera menerimanya .. Nona Ting akan menjadi pengajar selama kau tidak bisa melakukannya .. “ Rathyan melirik perut Daze. “Kau tidak boleh melakukan gerak berlebihan selama hamil .. karna itu, selama beberapa bulan ke depan kau hanya bertugas mengawasi, araso? Tidak boleh lebih!”
Daze tertawa geli melihat keseriusan Rathyan.
“Apa yang lucu?” Alis Rathyan berkenyit.
Daze mengeleng sambil menekan perutnya. “Aniyo .. “
“Saya tidak main-main .. ,” kerutan di jidat Rathyan semakin dalam. “Jaga sikapmu. Kau dengar itu, Daze Han!”
“Ne .. ne .. “ Daze melingkarkan lengannya di leher Rathyan. Sementara tawanya belum juga berhenti. “Saya mengerti, suamiku tersayang .. “ Daze berjinjit kemudian melumat bibir Rathyan tanpa bilang-bilang lagi.
“Hemm—“ Protes dari Rathyan tenggelam dalam bibir Daze. Hanya sesaat dia berusaha membantah kelakukan istrinya, .. detik berikutnya, dia sudah ikut hanyut … terbakar dalam bara .. yang semakin lama semakin menghanguskan sekujur tubuhnya.
Lidah Rathyan menyusuri leher jenjang Daze, .. berkali-kali dihisap dan digigitnya kulit halus yang teramat putih itu hingga menciptakan bercak-bercak merah. Desahan dan rintihan kecil terdengar, .. memberi nuansa yang mendirikan bulu roma sekaligus nafsu bagi siapa saja yang mendengarnya. Ciuman Rathyan turun sampai ke bagian dada, … penutup di bagian itu sudah terbuka sampai memperlihatkan sepasang bukit mulus Daze ketika pintu dibuka secara mendadak.
Sontak saja sepasang suami istri yang sedang dibuai nafsu birahi itu berpaling kearah pintu. Sepasang mata mereka yang masih menatap nanar melebar perlahan. Terlebih Daze, … dia terlonjak kaget. Tangannya segera menarik kemejanya hingga menutupi bagian dadanya yang terbuka.
“Mi .. mianeyo .. “ ujar Isabelle yang masuk tanpa pamit dari ambang pintu, .. tergagap-gagap. “ .. sa .. saya .. “ Dia melirik keadaan orang-orang dalam ruangan, .. Rathyan yang kancing kemejanya sudah lepas semua, .. berikut Daze yang sudah sangat berantakan. “ .. sepertinya .. saya masuk tidak pada waktunya .. “ Agak kikuk wanita itu mengerak-gerakan tangannya. “Ka .. kalian lanjutkan saja .. “
BUK!
Pintu dihempaskan Isabelle. Tinggalah Rathyan dan Daze berdua dalam ruangan kosong tersebut. Mereka saling berpandangan. Wajah Daze sudah seperti kepiting rebus saja. Dengan agak kesal dan menyalahkan (loh, siapa yang mulai duluan?
), didorongnya lengan Rathyan keras-keras.
“Lihat!! Mau ditaruh di mana mukaku?!!”
Daze berbalik dengan cepat dan bermaksud meninggalkan Rathyan, .. namun,tarikan pada lengannya—yang cukup kuat, membawanya kembali ke dalam rengkuhan suaminya.
Daze berusaha meronta. “Yaaa—apa yang kau lakukan?!! Lepas!!”
Rathyan tersenyum tipis. Tubuhnya dicondongkan ke depan, .. sampai hampir menyentuh wajah Daze. “Kau yang memulainya, .. maka kau yang harus menyelesaikannya!”
“MWO?!”
Daze tidak punya kesempatan untuk terkejut lagi, .. bibir penuh dan lembab itu kembali melahap bibirnya seperti tadi, .. sangat buas dan hampir membuatnya sesak nafas. Hanya sesaat Daze membujur kaku, .. sebentar kemudian lengkuhan panjang sudah terlontar dari bibirnya.
Kain penutup tubuh beterbangan ke mana-mana, .. dua tubuh terbaring di lantai, .. sampai desahan panjang terdengar, … klimaks yang dicapai dalam waktu bersamaan …
_________oOo__________
p.s :
Jangan protes jika chp ini kependekan
.. Gw bikinnya terburu-buru jadi dimaklumi ya
, .. o ya, sangeil chukae buat tret Rath and Daze
, .. selamat membaca and ditunggu komentnya ..
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
...
234
235
[
236
]
237
238
...
252
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #41804