Author Topic: Strawberry, Lovers or Haters?--#CHP 15 PART II# 6 Nov' 11  (Read 26641 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Strawberry, Lovers or Haters?--sop iler DOANG
« Reply #765 on: July 16, 2011, 10:00:59 am »
CHAPTER FOURTEEN
PART I : Music melancarkan aksinya—Kembali??!!



“Maksudmu?!!” Aku menarik kerah baju Wine—sedikit menekannya dan mengulangi pertanyaanku. Kutatap dia dengan mimik serius dan memelas. “Aku mohon, .. jelaskan maksudmu? Mengapa keadaanmu selalu jadi begini setiap dekat denganku .. ? Wine—“

Wine tampak meringis kembali. Dia benar-benar terlihat menderita. Tangannya semakin kuat menekan bagian dadanya, .. seakan bagian tersebut membuatnya sesak dan susah bernafas. Wine meremas tanganku. “Aku .. aku tidak .. punya waktu untuk .. menjelaskan ini padamu .. ,” katanya dengan nada terbatah-batah. Kemudian, .. dengan susah payah dia berdiri dari duduknya, sambil mencengkram erat batang pohon yang disandarinya sejak tadi. “A .. aku harus pergi, Strawberry-a .. “ Dia menatapku dengan sepasang mata yang sudah sangat redup. “ .. tapi ingat apa yang akan kukatakan ini—Semua bukan kesalahanmu. Apa yang ter .. jadi padaku .. bukanlah .. ke .. salahanmu, .. araso … ?”

Desah nafas Wine semakin berat. Suaranya menjadi pelan dan kecil. Dia menepuk pundak ku beberapa kali. Saking lemahnya hingga tak terasa di kulitku. Lalu .. Wine mulai mengerakan kakinya, .. dengan sepasang tangan yang tidak henti-hentinya mengelus-ngelus dan menekan-nekan dadanya. Langkah Wine agak limbung hingga harus menabrak benda-benda yang ada di sekitarnya sebanyak beberapa kali. Sebentar di pohon dan sebentar lagi di pagar pendek yang memagari kebun dari tetumbuhan liar.

Aku segera bangun dari posisiku yang berjongkok di lantai tanah. “WINE!!” teriak ku keras-keras.

Wine menghentikan langkahnya yang sudah sampai di luar areal perkebunan. Aku melihat, dengan susah payah dia menumpukan tangannya di sebatang pohon mangga yang kebetulan tumbuh di sebelahnya buat menjaga keseimbangan tubuhnya yang sudah hampir hilang. Dia menoleh dengan posisi memunggungiku.

“Aku tidak apa-apa .. ,” sahutnya dengan nada dikeraskan, .. yang terdengar serak dan berat. “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Kembalilah ke rumah .. “

“Ta—tapi … “ Aku bermaksud bergerak menghampiri Wine.

Namun Wine sudah segera mengangkat tangan satunya lagi—yang tidak digunakan buat menumpu tubuhnya. “Tidak. Jangan mendekat! A .. aku .. harus pergi!”

Dan Wine sungguh melakukan perkataannya. Dia mulai melangkah meninggalkanku.

“WINE .. ”

Aku hanya bisa mengikuti kepergian Wine dari tempatku dengan ekpresi termangu. Tubuhku membujur kaku, .. tanpa mampu digerakan. Ingin sekali rasanya aku mengejar sosok jangkungnya yang sekarang sudah semakin samar dari pandanganku itu, .. namun entah mengapa, sepasang kakiku tidak bisa diajak kompromi. Sepasang kaki ini seakan sudah menempel erat di lantai tanah. Permintaannya tadi—seolah memiliki gaya magis yang ‘harus’ kuturuti. Tidak boleh tidak! Aku menghela nafas, … benar-benar tidak mengerti dengan perasaan ini.


******



Aku sampai ke rumah sekitar pukul 2 siang dan mendapati kedua orangtuaku sudah menunggu kepulanganku di ruang duduk.

“Stro-a ..,” panggil omma lirih.

Aku menghampiri mereka, .. menjatuhkan diri berdampingan di sisi sofa. “Omma dan appa menungguku?” tanyaku sambil memandang mereka, dari omma ke appa lalu kembali lagi dari appa ke omma. “Ada apa? “

“Tentang rencana kepergian kita dari sini … ,” sahut appa. “Sudah dua hari jadi appa rasa ..

“Tidak perlu khawatir, appa!” Aku menukas beliau cepat. “Kita akan tetap tinggal di sini. Tidak ada yang akan mengusir kita .. “

“Kau kelihatannya yakin sekali, Stro-a … “ Omma mengeluarkan suaranya. “Alasan yang mendukung dibalik semua ini?”

Aku membalas tatapan omma lekat-lekat. Selama beberapa menit ke depan, tidak ada yang mengeluarkan suara. Aku menghela nafas kemudian mengalihkan perhatianku pada daun meja. “Seseorang menjanjikannya padaku ..”

“Jinja?” Appa terlihat mengerutkan alisnya. “Dhuga? Apa orang itu bisa dipercaya?” tanyanya curiga.

Aku berdiri dari sofa—memutar tubuh kearah pintu dan berjalan perlahan meninggalkan mereka. “Aku rasa—aku percaya padanya .. “ sahutku begitu melewati kedua orangtuaku yang termangu di tempatnya.


*******



”Dokter Kwon …!!” Wine berdiri di depan klinik dokter Kwon dengan wajah pucat pasi. Tangan kanannya memegang pinggir pintu dengan sisa-sisa tenaga ‘yang dirasa’ terakhir baginya. Tubuhnya sudah hampir ambruk dan mencium lantai—kalau saja dokter Kwon beserta dua pasien yang waktu itu sedang berobat di situ—tidak segera menopang tubuhnya.

“Omo—Wine!!” seru dokter Kwon dengan mata terbelalak lebar. “Apa yang terjadi padamu?”

Wine tidak mampu menjawab. Dengan susah payah dia menjilat membasahi bibirnya yang terasa kering dan pucat.

Melihat kondisi Wine seperti itu, dokter Kwon tidak bertanya lebih lanjut. Dokter tua itu menoleh kepada dua pasien yang menyangga tubuh Wine silih berganti. “Duduk-kan dia di bangku!” katanya dengan nada memerintah.

Dua pasien yang sedang menunggu giliran berobat pada dokter Kwon tersebut saling berpandangan. Mereka mengangguk lalu mendudukan Wine di bangku panjang yang dimaksud. Posisi Wine kemudian dibetulkan ke posisi yang lebih nyaman, .. agak menyandar di sandaran bangku yang sudah ditambahi bantal kasur oleh dokter Kwon. #kilat banget si dokter Kwon hahaha

“Bagaimana?? .. Lebih baik??!” tanya dokter Kwon pada Wine dengan kekhawatiran yang tidak dapat disembunyikan dari wajahnya.

Wine tampak menarik nafas panjang-panjang.

“Gwencana?” ulang dokter Kwon sambil menepuk halus pundak Wine.

Wine membuka mata perlahan, .. lalu mengangguk dengan senyum samar yang berusaha ditunjukan lewat bibirnya yang putih pucat.

“Apa yang kau lakukan—sebenarnya?” tanya dokter Kwon dengan kelopak mata keriput yang mengerut dalam. “Kau makan buah stroberry lagi?” tuduhnya langsung.

Dua pasien yang memandangi mereka saling berpandangan kembali.

“Apa Wine alergi terhadap stroberry?” tanya pasien pertama tertuju pada dokter Kwon.

“Kelihatannya--alerginya parah!” sambung pasien kedua yang tidak menyadari tatapan mendelik yang teramat lemah dari Wine.

“Sebaiknya urus dia dulu, dokter Kwon … ,” kata pasien pertama dengan raut prihatin. “Kelihatan benar dia sangat menderita. Kami bisa menunggu giliran kok—“ Lalu pria itu menepuk lengan pasien satunya, .. mengajaknya keluar dari ruangan itu. “Kacha!”

Pasien kedua mengangguk gugup lalu mengikuti pasien pertama keluar dari ruang praktek dokter Kwon.

Dokter Kwon bergerak dari tempatnya menuju ke lemari-lemari besar yang berbaris rapi di situ. Dia mengeluarkan sesuatu dan kembali lagi pada Wine. Membungkukan badan tuanya dan menyodorkan setangkai tanaman segar dengan beberapa helai daun yang masih menempel di tangkainya pada Wine. “Hirup ini. Daun mentol—baik buat melegakan pernafasanmu .. ,” anjur dokter Kwon.

Wine mengangguk lemah. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya—dihirupnya dalam-dalam aroma yang terhembus keluar dari tanaman mint di tangan dokter Kwon. Beberapa saat kemudian dia menarik nafas lega. Lorong pernafasannya agak plong sekarang.

“Bagaimana? Baikan?” tanya dokter Kwon dengan mata dipicingkan.

Wine mengangguk kembali.

“O—syukurlah .. “ Dokter Kwon terlihat ikut berhembus lega. “Kau ini—selalu menakutiku saja .. “

Wine tersenyum hambar. “Miane, dokter Kwon .. “

Dokter Kwon mengeleng kemudian menunduk—mulai mengeledah tas kerjanya yang teronggok di samping Wine. “Saya akan memberikan obat penawar padamu .. “

“Dokter Kwon!” Tiba-tiba Wine menarik pergelangan tangan dokter Kwon. Dia menelan dengan susah payah dan memejamkan mata dengan memprihatinkan. Terlihat sekali dia masih sangat menderita. Wine mengeleng perlahan. “Sa … saya .. tidak ingin obat penawar. Sa .. ya ingin .. sembuh .., dokter Kwon .. Berikan .. obat .. yang anda janjikan .. “

Dokter Kwon mengibas tangan Wine hingga terlepas dari pergelangan tangannya. Ditatapnya cowok yang sedang menderita itu dengan tatapan tajam dan menegur. “Tidak bisa! Apa kau tidak melihat keadaanmu sekarang?! Jika kau nekat mencobanya, aku jamin kau akan mati, Wine So!! Jangan keras kepala!”

“Ta .. tapi . .” Wine mengigit bibirnya yang pucat dan kering.

“Kita akan mencobanya setelah kau sembuh .. ,” sambung dokter Kwon dengan nada yang sedikit melemah. “ .. paling tidak—lebih baik dari sekarang. Kita tidak boleh mengambil resiko yang terlalu besar .. “ Dokter Kwon menekan kedua sisi lengan Wine dan mengeser tubuh jangkung itu kearahnya. “Dengarkan dokter Kwon, Wine!” Ditatapnya mata redup Wine dengan sungguh-sungguh. “Jaga kesehatanmu baik-baik. Setelah itu, kita akan mencobanya. Saya sudah meracik ramuan obat-obatan buatmu, jadi tidak khawatir . .”

“Jeongmal?” tanya Wine lirih. Terlihat sedikit sinar dari sepasang matanya yang gelap, mati.

“Ne!” janji dokter Kwon.

Wine tersenyum. Perlahan-lahan matanya dikatupkan .. Dia merasa capek dan lelah—ingin istirahat.


******



Wine sampai di depan rumahnya dengan nafas tersengal-sengal dan langkah tertatih-tatih yang agak diseret pada saat waktu hampir menunjukan jam makan malam. Sesekali, cowok berpostur bongsor dan jangkung itu menjaga keseimbangan tubuhnya dengan berpegangan erat pada tiang, atau apa saja di sekitar yang dapat dijadikan sebagai penyangga.

Wajah Wine bersemu merah akibat menahan nafas yang masih terasa sesak dan juga bintik-bintik darah yang masih segar membekas di hampir seluruh permukaan kulitnya. Cowok itu menarik nafas dalam-dalam, dan setelah memastikan semuanya lebih baik, dia memutuskan untuk membuka pintu tersebut.

Keadaan di dalam rumah sangat hening. Wine melangkah masuk dan melemparkan anak kunci dan ponsel di tangannya ke atas sofa ruang depan.

“Omma .. appa .. ,” panggil Wine tidak begitu keras.

Seorang ahjuma yang menjadi pembantu sekaligus pengasuhnya sejak kecil tergopoh-gopoh menghampirinya.

“Doronim sudah pulang .. ,” sapa si ahjuma paruh baya dengan nafas agak tersengal.

Wine mengenyitkan alis dan sekali lagi memperhatikan keadaan dalam ruangan tersebut. Berikut lorong panjang di luar yang menghubungkan dengan ruangan-ruangan lainnya.

“Mana omma dan appa?” Wine mengembalikan perhatian pada pelayan tersebut. “Makan malam sudah siapkah? Sedini ini?”

Si ahjuma mengelengkan kepalanya. “Belum, doronim. Hampir siap sih—hanya tinggal makanan-makanan penutupnya saja. Sedangkan Tuan dan Nyonya sedang menerima tamu di ruang tengah sekarang .. “

“Tamu?” Wine berhenti dari kegiatan membuka kaos berkeringat yang dipakainya—yang sudah tersibak setengah. “Selarut ini?” Dia berbalik menghadapi si ahjuma dan membiarkan kaos tersebut jatuh dan kembali lagi ke posisi semula. “Siapa tamu tersebut? Ahjuma mengenalnya?”

Ahjuma mengeleng tanpa melepaskan perhatian dari tubuh Wine. “Omo—apa lagi yang terjadi pada tubuh doronim? Kenapa bentol-bentol begitu? Alergi?”

Si ahjuma bergerak mendekati Wine dan bernaksud mengamati keadaan kulit di tubuh itu dari dekat. Wine menghindar dengan agak gusar.

“Yaish—berhenti, ahjuma!! Saya bukan anak kecil lagi. Jangan mempelototiku seperti itu!!” tukas Wine keras dan tajam.

“Ya ile—doronim!!” si pengasuh pribadi bukannya berhenti malah menarik tubuh Wine makin mendekat kearahnya. “Memangnya apa yang belum pernah ahjuma lihat dari tubuhmu? .. Ahjuma yang memandikanmu waktu kecil, tahu?“

Wajah Wine yang sudah merah langsung berubah pitam—bak kepiting rebus yang sudah hangus. Bintik-bintik merah darah yang semula begitu kentara sekarang lenyap bercampur semu merah pekat dari kulit wajah dan lehernya. Wine teramat jengah mendengar sergahan ceplas-ceplos dari si ahjuma.

“Yaish—“ Wine menghindar dengan cepat. Tanpa memberi kesempatan ahjuma tersebut untuk menyentuhnya kembali, dia melesat ke lorong luar, .. menuju ruang tengah di mana orangtuanya berada.

“DORONIM, .. BIAR AHJUMA MEMERIKSAMU .. “

“HUH!!” Wine membuang muka dari ruang depan ke ruang tengah.


******



Langkah Wine terhenti di depan pintu yang dibiarkan terbuka. Omma dan appanya terlihat sedang menerima tamu di dalam sana. Tuan dan Nyonya So duduk menghadap ke luar ruangan, sedangkan tamu yang diajak bicara oleh mereka duduk membelakanginya. Hanya postur punggungnya yang kurus dan model rambutnya yang rada-rada ketinggalan jaman itu yang tertangkap penglihatan Wine.

“Pikirkanlah baik-baik, Tuan dan Nyonya So .. “ Suara tamu tersebut memasuki telinga Wine. “Tawaran kami ini tidak merugikan anda. Bahkan harga yang kami beri lebih tinggi dari pasaran .. “

Wine melihat tampang kedua orangtuanya mengeras.

“Ghamsamida, Tuan Moon .. Tapi saya rasa, .. kami tidak tertarik terhadap tawaran anda!” sahut Tuan So sengit. Ayah Wine itu berdiri dari sofa dan mengibaskan tangannya dengan gusar. Mengusir tamu yang ada di depannya. “Sekarang—pergilah!!”

Tamu tersebut—yang dipanggil Tuan Moon oleh Tuan So—berdiri dari duduknya. “Tuan So .. “

“PERGI!!” teriak Tuan So tiba-tiba.

Tuan Moon terlihat agak kaget. Dia tersentak dan undur selangkah, untuk kemudian memutar tubuhnya kearah pintu.

Mata Wine melebar. Dia mengenali pria ini. Pria yang sama—yang dilihatnya bersama Music—sewaktu membicarakan rencana-rencana rahasia mereka buat mengambil Dream High di pinggir kali dulu—


*******

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun