Chap 16
Sinar matahari sore tengah memasuki jendela-jendela besar di ruangan kantor Hyun Soo ketika dirinya sedang sibuk memeriksa dan menandatangani beberapa berkas yang dibawa masuk oleh sang sekretaris, Miss Son.
Hyun Soo melaksanakan tugasnya itu dalam sikap yang tenang dan serius, Miss Son tidak berani menyelanya…sekretaris cekatan itu hanya berdiri dengan setia di samping meja sang atasan, menunggu Hyun Soo menyerahkan semua berkas itu kembali kepadanya.
Setelah sekitar 10 menit, Hyun Soo selesai memeriksa dan menandatangani semua berkas. Tangan kanannya yang dipakai untuk membubuhkan tanda tangan tampak agak memerah akibat bersentuhan lama dengan ballpoint yang keras, tapi Hyun Soo tidak tampak kelelahan sama sekali…wajah tampannya terlihat tetap segar dan menawan.
“Apakah ada berkas-berkas lain yang harus kuperiksa dan kutandatangani, Miss Son?” tanya Hyun Soo sambil menaruh ballpoint yang tadi dipakainya kembali ke tempatnya semula.
Miss Son yang juga sudah selesai membereskan semua berkas dengan gerakan cekatannya, menjawab dengan nada hormat,
“Tidak ada lagi, sajangnim”
Hyun Soo menatap sekretarisnya itu dengan senyuman senang. Tubuh jangkungnya yang atletis disandarkan dengan gaya santai di bangku kerjanya yang nyaman.
“Bagus. Lalu tentang pesananku…apakah kau sudah melaksanakannya?”
“Ne, sajangnim. Saya sudah memesan tempat di Schoenbrunn Restaurant atas nama anda, seperti yang anda perintahkan”
Senyuman Hyun Soo makin mengembang sempurna di bibirnya…tubuhnya kembali ke posisi tegap, tapi tetap terlihat santai.
“Bagus sekali, Miss Son. Anda memang selalu bisa diandalkan…terima kasih banyak. Nah, kalau begitu anda boleh pulang sekarang”
Walaupun biasanya cekatan dan selalu menuruti perintah atasannya, kali ini Miss Son tidak langsung mengikuti instruksi dari Hyun Soo barusan. Sambil tetap mendekap berkas-berkas di dadanya, Miss Son malah melayangkan pandangan tidak percaya pada Hyun Soo…seolah-olah atasannya itu telah berbicara padanya dengan bahasa asing yang belum pernah didengarnya.
Hyun Soo tidak kalah terkejut. Tidak biasanya Miss Son hanya berdiri bengong setelah mendengar perintahnya. Hyun Soo balas menatap sekretarisnya itu dengan pandangan bertanya-tanya,
“Ada apa, Miss Son? Apakah kata-kataku kurang jelas?”
Miss Son bergerak dengan grogi, senyuman kikuk berkembang di bibirnya,
“Anhimida, sajangnim. Hanya saja sekarang bukan waktunya saya untuk pulang. Biasanya saya pulang kerja pukul 6.30 petang…sedangkan sekarang masih pukul 5 sore, jadi masih satu setengah jam lagi saya baru bisa pulang”
Mendengar jawaban itu, Hyun Soo tergelak geli. Miss Son masih setia dengan kegrogiannya, terlebih setelah melihat sang bos malah tertawa geli di hadapannya.
“Miss Son, ucapan saya sudah cukup jelas, anda boleh pulang sekarang…itu berarti anda saya izinkan untuk pulang lebih cepat daripada biasanya. Lagipula tidak ada tugas kantor yang harus anda selesaikan lagi kan?” ujar Hyun Soo setelah tawanya reda.
Miss Son masih tersenyum kikuk, “Tidak ada lagi, sajangnim. Tapi saya sudah terbiasa pulang kerja sesuai dengan jadwal”
Hyun Soo mengibaskan tangan kanannya dengan asal, “Untuk hari ini kau kuizinkan untuk pulang lebih cepat. Gunakan malam ini dengan sebaik mungkin…pergilah berkencan dengan calon suamimu. Dia pasti bahagia mendapat undangan kencan darimu”
“Ne, sajangnim?” tanya Miss Son tidak percaya.
Ekspresi wajah Hyun Soo bertambah geli, “Ya, aku tahu kau pasti terkaget-kaget mendengar kata-kataku tadi. Tapi aku perintahkan kau agar pulang lebih cepat agar bisa mempersiapkan diri untuk berkencan dengan sekretaris Im yang tampan itu malam ini. Percayalah, pria itu pun butuh waktu untuk berduaan saja denganmu…dia terlalu telaten mengurusi segala keperluan bisnis ayahku, pastilah hal itu bisa membuat otot-ototnya tegang dan lelah. Dan undangan kencan darimu pasti akan membuat dirinya menjadi segar kembali”
Kedua pipi Miss Son merona merah menahan rasa malu dan juga rasa tidak percaya dengan kata-kata Hyun Soo barusan. Melihat pipi yang merona itu, Hyun Soo teringat seseorang yang selalu mudah dibuat merona hanya dengan godaan-godaan kecil darinya…seseorang itu tentu saja Goo Hee Young, istrinya. Rasa rindu Hyun Soo pada Hee Young makin terasa membara di hatinya.
“Sudahlah, Miss Son…ikuti saja perintahku. Anggap saja ini adalah hadiah bagi ketelatenanmu selama ini…bonus, dariku” ujar Hyun Soo ramah.
Miss Son tersenyum malu. Baru kali ini Hyun Soo memberinya saran untuk kehidupan pribadinya. Miss Son merasa status baru Hyun Soo-lah yang menyebabkan bosnya yang memang pada dasarnya ramah tapi tidak pernah mau terlibat urusan pribadi bawahannya itu, berubah. Miss Son merasa makin penasaran ingin melihat seperti apa wanita istimewa yang sudah berhasil membuat atasannya itu menjadi lebih terlihat santai dan semakin ramah.
“Terima kasih, sajangnim” ucap Miss Son sambil menundukkan kepalanya dengan hormat. Dan sebelum beranjak dari ruangan itu, Miss Son kembali berkata, “Mmm…saya…saya juga ingin mengucapkan selamat, sajangnim”
“Selamat?”
“Ne. Atas pernikahan anda, sajangnim”
Hyun Soo tersenyum senang, “Terima kasih atas ucapan selamatnya, Miss Son. Oh ya, walaupun kau dan sekretaris Im tidak diundang ke pernikahanku…tapi, aku dan istriku harus menerima undangan saat pernikahan kalian nanti. Dan itu adalah perintah, Miss Son”
Miss Son tahu kalau Hyun Soo hanya bercanda, namun dia tetap mengiyakan kata-kata atasannya itu,
“Ne, sajangnim. Anda dan nyonya muda Lee pasti akan menerima undangan dari kami”
Hyun Soo mengangguk, “Kami akan menunggunya, Miss Son”
“Ne, sajangnim”
Miss Son sekali lagi menunduk hormat dan kali ini dirinya segera bergegas keluar dari ruang kerja Hyun Soo…kesempatan emas untuk pulang lebih cepat dan kemungkinan untuk mengadakan kencan dengan calon suaminya membuat hatinya berbunga-bunga. Hyun Soo tersenyum senang melihat kegembiraan sekretarisnya itu…dia bahagia bisa membuat orang lain menikmati hal-hal yang menyenangkan, dan semua keinginan itu pastilah berasal dari hatinya yang sedang dilanda cinta pada Hee Young.
Hyun Soo ingat dirinya meninggalkan Hee Young yang tertidur akibat rasa sedih dan lelah yang melandanya karena telah menolak permohonan Ny. Bae untuk menemui putra tunggal wanita itu, Bae Nam Wook. Sebuah keputusan cerdas dan membuat hati Hyun Soo bahagia…walaupun hatinya juga ikut teriris melihat airmata yang mengalir di pipi Hee Young.
Hee Young terlihat begitu cantik dan sekaligus begitu damai dalam tidurnya. Hyun Soo bahkan sangat enggan untuk beranjak meninggalkan sisi tempat tidur, dia hanya ingin terus bersama dengan Hee Young…tapi apa boleh buat pekerjaan menunggunya, Hyun Soo harus kembali ke kantor. Setelah memuaskan diri dengan memandang wajah tidur istrinya, dan menghadiahkan kecupan sayang lembut di kening Hee Young…Hyun Soo akhirnya beranjak juga dari kamar tidurnya. Namun semua itu belum sepenuhnya bisa membuat Hyun Soo pergi keluar dari penthousenya dengan tenang…Hyun Soo ‘meneror’ bibi Kim untuk mengawasi dan menjaga Hee Young. Wanita paruh baya itu bahkan mengomel dan menggerutu saat Hyun Soo berkali-kali mengingatkannya untuk segera menghubungi Hyun Soo bila Hee Young terbangun dari tidurnya nanti.
“Kau menjadi cerewet setelah menikah…apakah kau sadar akan hal itu?!”
Ingatan akan ucapan bibi Kim itu membawa senyuman geli di bibir Hyun Soo. Walaupun sebelumnya mengomel, bibi Kim menepati janjinya, dia menelpon tepat satu setengah jam Hyun Soo berada di kantornya kembali…mengabarkan kalau Hee Young sudah terbangun dari tidurnya. Hyun Soo berbicara sebentar dengan Hee Young, dan mendengarkan suara istrinya itu membuat keinginan Hyun Soo untuk segera menyelesaikan pekerjaannya sehingga dapat kembali pulang ke rumah, semakin tidak tertahankan…untunglah Miss Son yang cekatan membantunya untuk mewujudkan hal itu.
Malam ini Hyun Soo berencana untuk mengajak Hee Young makan malam di luar. Hyun Soo ingin membuat rasa sedih Hee Young menepi, dan semoga saja bisa hilang untuk selamanya. Selain makan malam, Hyun Soo tentu saja merencanakan malam romantis bagi dirinya dan Hee Young…hitung-hitung sebagai ‘balasan’ atas kesabarannya menahan gairah pada istrinya itu saat di kamar mandi tadi siang.
Dengan pemikiran indah tentang istrinya, Hyun Soo melangkah keluar dari ruangan kantornya.
_________
Hee Young duduk sendirian menikmati keindahan langit kota Seoul di sore hari dari beranda penthousenya, kedua tangannya menangkup secangkir susu coklat panas yang dibuatnya sendiri beberapa menit yang lalu.
Tubuh yang nyaman selepas beristirahat dan pemandangan indah yang tersaji di depan matanya, membuat hatinya merasa damai dan tenang. Tapi Hee Young tahu benar bahwa ketenangan dan kedamaian yang dirasakannya sekarang sudah dimulai sejak dirinya dimanjakan oleh pelayanan dan perhatian Hyun Soo…semua hal yang dilakukan oleh Hyun Soo-lah yang membuat suasana hatinya merasa ringan sehingga sekarang dia bisa melupakan sedikit demi sedikit kejadian dengan Ny. Bae tadi siang, walaupun rasa bersalahnya pada wanita itu masih tetap membayangi.
Hee Young sangat terbuai oleh lamunannya sehingga tidak menyadari kalau Hyun Soo sudah berdiri sangat dekat dengan dirinya. Hee Young belum merasakan kehadiran suaminya itu sampai akhirnya Hyun Soo menyentuh puncak kepalanya dengan lembut.
Hee Young jelas terkejut dengan perlakuan tersebut. Cangkir di tangannya hampir saja terlepas dan jatuh ke lantai saking kagetnya, untung saja kedua tangannya dengan sigap menahan benda itu agar tidak jatuh. Tapi sayang, percikan susu coklat yang masih panas mengenai telapak tangan kanannya sehingga wajah Hee Young terlihat mengernyit.
“Jagi-ya…kwenchana?” tanya Hyun Soo, wajahnya terlihat cemas menatap ekspresi di wajah Hee Young.
Hee Young mengangguk pelan, “Kwenchana. Hanya percikan saja…tidak terlalu panas”
Hyun Soo seakan tidak percaya dengan kata-kata Hee Young itu, dengan segera dia berlutut di depan sang istri…memeriksa tangan kanan Hee Young yang terkena percikan susu coklat panas tadi,
“Ada tanda merah disana…kau yakin tidak apa-apa?”
Hee Young tersenyum sambil menatap wajah Hyun Soo yang masih terlihat cemas, “Ne, suamiku. Aku tidak apa-apa, hanya percikan saja yang mengenai tanganku. Lagipula aku sudah memegang cangkir panas ini selama beberapa menit, jelas saja ada tanda merah disitu”
Ekspresi cemas di wajah Hyun Soo seketika berubah menjadi ekspresi tertarik, sebuah senyuman jahil tiba-tiba menghiasi wajah tampan itu. Cangkir yang dipegang oleh Hee Young langsung beralih ke tangannya, dan tanpa melepaskan pandangan dari wajah Hee Young, Hyun Soo menaruh cangkir itu di lantai. Kedua tangannya yang kokoh lalu menggenggam erat kedua tangan Hee Young sehingga membuat Hee Young terpana,
“Hyun Soo-ssi…ada apa?” tanyanya bingung.
Hyun Soo makin mempertajam senyuman jahilnya, “Coba ulangi kata yang kau ucapkan tadi, jagi-ya”
Hee Young semakin bingung, “Kata yang mana?”
“Yang kau ucapkan tadi”
“Ada tanda merah di tanganku karena aku sudah beberapa menit memegang cangkir panas itu?”
“Itu kalimat, jagi…bukan kata”
Hee Young menggeleng bingung, “Aku tidak tahu kata yang mana”
“Coba ingat lagi”
Hee Young mencoba berpikir…setelah beberapa detik, “Percikan?”
Senyuman jahil Hyun Soo tidak mau lepas dari wajahnya, “Semakin dekat”
Hee Young mengerutkan keningnya dengan bingung. Namun ekspresi itu hanya bertahan beberapa detik, karena tidak lama kemudian semburat merah merona mewarnai kedua pipi mulusnya ketika dia sadar kata apa yang dimaksudkan oleh Hyun Soo,
“S…su…suamiku?” ucapnya tergagap malu…jantungnya berdebar dengan keras.
Kedua mata Hyun Soo yang berkilat senang dan senyuman jahil yang sedari tadi menghiasi bibirnya membuat rasa malu Hee Young terasa makin naik ke ubun-ubun. Lidahnya mencoba membasahi bibirnya dengan gerakan gugup. Sayangnya, gerakan itu malah memicu Hyun Soo untuk mendekatkan wajahnya ke wajah mungil Hee Young.
Tanpa aba-aba sebelumnya, bibir Hyun Soo langsung mengunci bibir Hee Young dalam sebuah ciuman panas yang membuat kedua mata Hee Young terbelalak terpana karena ‘kesigapan’ suaminya itu. Tapi keterkejutan Hee Young hanya bertahan sementara saja…karena tak berapa lama, walaupun mulanya malu-malu, bibirnya menyambut ciuman Hyun Soo dengan penuh gairah. Kedua matanya menutup untuk menikmati permainan bibir dan lidah Hyun Soo…desahan-desahan lirih Hee Young keluar disela-sela ciuman itu.
Setelah puas ‘menumpahkan’ rasa, keduanya memisahkan bibir mereka. Hyun Soo menempelkan keningnya pada kening Hee Young, kedua mata mereka masih menutup sementara nafas keduanya memburu…masing-masing mencoba mengatur ritme jantung mereka kembali setelah ciuman panas itu selesai.
Hyun Soo membuka kedua matanya lagi setelah denyut jantungnya terasa normal kembali. Perlahan-lahan keningnya menjauh dari kening Hee Young yang juga langsung membuka matanya setelah nafasnya kembali teratur. Kedua tangan Hyun Soo yang semula menangkup kedua tangan Hee Young sekarang sudah beralih untuk memegang dan mengelus kedua pipi mulus milik istrinya itu.
“Sudah siap?” tanyanya lembut.
Hee Young mengerjabkan kedua matanya, tanda tidak mengerti, “Siap untuk apa?”
Hyun Soo tersenyum…tubuhnya dicondongkan ke depan, kedua tangannya menekan kedua tangan kursi tempat Hee Young duduk. Sesaat Hee Young mengira kalau dirinya akan menerima ciuman lagi, tapi ternyata Hyun Soo malah mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Hee Young. Disana dia berbisik dengan nada suara yang terdengar nakal,
“Siap untuk pergi denganku…kita kencan malam ini”
Hee Young kembali mengerjabkan kedua bola matanya yang besar dan indah saat menatap Hyun Soo yang sudah kembali ke posisi semula,
“Kencan? Malam ini?”
Hyun Soo mengangguk, “Ya, kau suka dengan ide itu?”
Hee Young balas mengangguk senang, namun tidak lama kemudian ekspresi wajahnya mengeruh, “Tapi bagaimana dengan cucianku? Aku belum mencucinya…bibi Kim tidak berani menyentuh cucian itu karena aku melarangnya”
Hyun Soo tergelak geli, “Jagi, cucian itu bisa menunggu, aku kan sudah bilang kalau aku akan membantumu mencucinya. Lagipula kita tidak akan kehabisan sprei kalau kita belum mencuci yang satu itu…kita masih punya banyak. Nah, bagaimana? Apa yang akan kita lakukan malam ini? Pergi berkencan atau mencuci sprei?”
Hee Young tersenyum malu, “Pergi berkencan”
Hyun Soo mencubit pipi kanan Hee Young dengan gemas, “Keputusan yang bijaksana, istriku sayang”
“Kalau begitu, cepat pergi mandi. Kita kan mau berkencan” usul Hee Young sambil membelai tangan kemeja yang dipakai oleh Hyun Soo, gerakannya yang malu-malu membuat Hyun Soo semakin merasa gemas padanya.
“Nanti saja. Aku ingin menikmati suasana sore menjelang senja ini bersamamu disini” ujar Hyun Soo sambil berdiri dari posisi berlututnya dan kemudian dengan santai duduk di atas kursi yang berada disebelah kursi Hee Young.
“Sekarang kemarilah. Duduk di pangkuanku” ajaknya nakal pada Hee Young.
Kedua pipi Hee Young kembali bersemu merah, tapi tanpa membantah, dirinya menuruti keinginan Hyun Soo tadi. Dengan gaya malu-malunya Hee Young berpindah ke pangkuan Hyun Soo…tangan kanannya melingkar di belakang pundak suaminya, sementara itu Hyun Soo membelai paha kiri Hee Young yang terbungkus celana panjang piyama sutra berwarna ungu…piyama yang dipilihkan oleh Hyun Soo saat Hee Young berada di kamar mandi tadi siang.
“Piyama ini terlihat cantik bila kau yang memakainya, jagi” bisik Hyun Soo di telinga Hee Young.
“Kau yang memilihkannya untukku”
“Kau suka?”
“Tentu saja”
Bibir Hyun Soo membentuk senyuman senang mendengar kata-kata Hee Young itu. Tangan kanannya yang membelai paha kiri Hee Young kini mulai dinaikkan penjelajahannya, tangan kanan Hyun Soo menyelinap masuk ke piyama atas yang dipakai oleh Hee Young. Bibirnya juga mulai mengadakan invasi ke leher jenjang istrinya. Hee Young menggeliat geli saat menerima serangan mendadak itu.
“Hyun Soo-ssi…boleh aku tanya kemana kita akan pergi berkencan?” tanya Hee Young, mencoba mencegah Hyun Soo mencumbunya di tempat terbuka.
Usaha Hee Young tidak berhasil, suaminya tidak menjawab pertanyaannya. Hyun Soo malah dengan rajin meneruskan penjelajahan tangan dan bibirnya. Hee Young jadi ikut terbawa suasana, tubuhnya menggeliat ketika tangan kanan Hyun Soo membelai lembut pinggang serta perut ratanya, dan bibirnya mengeluarkan desahan tertahan merasakan sentuhan bibir Hyun Soo di lehernya…tapi hanya sementara karena akal Hee Young masih berfungsi dengan baik.
Dengan lembut di dorongnya tubuh Hyun Soo sedikit menjauh, agar suaminya itu dapat melihat dan mendengarkannya dengan seksama.
“Ada apa, jagi-ya?” tanya Hyun Soo sedikit kesal mengetahui usahanya untuk mencumbu coba digagalkan oleh Hee Young. Tangan kanannya yang sempat akan dinaikkan ke salah satu bukit kembar Hee Young sekarang terhenti di tengah jalan.
“Kau…kau belum menjawab pertanyaanku” sahut Hee Young agak sedikit takut…jelas saja dia takut, tampang Hyun Soo sekarang kelihatan kesal akibat ulahnya tadi.
“Pertanyaan apa?” tanya Hyun Soo lagi. Kali ini nada suaranya dibuat sesabar mungkin, walaupun hati sudah mulai bergejolak jengkel…tapi ketika melihat ekspresi Hee Young yang agak ketakutan, Hyun Soo mencoba menenangkan emosinya.
“Kita…kita akan pergi kemana?”
Hyun Soo mencoba memasang senyum di bibirnya, “Ke sebuah restaurant untuk makan malam, jagi”
Setelah menjawab pertanyaan Hee Young, Hyun Soo mulai beraksi lagi. Tapi usahanya gagal ketika Hee Young kembali mendorong lembut tubuhnya. Hyun Soo mencoba menahan emosinya lagi,
“Ada apa lagi, jagi-ya?”
“Aku senang akan pergi makan malam di restaurant denganmu” ucap Hee Young sambil memasang senyuman manisnya pada Hyun Soo, walaupun masih dengan gaya yang sedikit takut-takut, “Tapi aku tidak punya gaun yang sesuai untuk dipakai kesana. Aku hanya punya baju-baju kasual yang biasanya kupakai pergi kuliah”
“Jangan khawatir, aku sudah membelikanmu gaun yang bisa kau pakai malam ini…aku membelinya dalam perjalanan pulang tadi. Kau pasti akan menyukainya. Aku menaruhnya di lemari pakaianmu”
“Gumawo, Hyun Soo-ssi” ujar Hee Young agak manja, “Nah, bukankah lebih baik kita mempersiapkan diri mulai sekarang supaya tidak terlambat?”
Hyun Soo menatap istrinya itu dengan pandangan tidak percaya. Hee Young mencoba menolak kesenangan yang akan diberikannya hanya karena takut akan terlambat pergi makan malam?
“Jagi-ya…kita tidak akan terlambat” sahut Hyun Soo dengan nada disabar-sabarkan, “Sekarang biarkan aku menyalurkan apa yang tertunda. Aku sudah tidak tahan lagi”
“Apa yang tertunda?” tanya Hee Young dengan gaya lugunya.
Sekarang Hyun Soo tergelak. Nada suaranya terdengar seperti orang frustasi ketika dia menyahuti Hee Young,
“Gairahku padamu, jagi. Tidak baik bila aku menahannya terus menerus, aku harus menyalurkannya”
Kedua pipi Hee Young bersemu merah, “Tidak bisakah ditunda lagi? Lebih baik kau mandi dulu…kau akan merasakan tubuhmu lebih segar…dan…dan kurasa kita bisa melakukannya nanti malam, sepulang kencan. Akan lebih baik bila seperti itu”
Hyun Soo kembali memperlihatkan ekspresi tidak percayanya saat mendengar jawaban malu-malu tapi tegas itu,
“Jadi aku ditolak sekarang?”
Hee Young tersenyum kikuk, “Anhi…bukan seperti itu. Kau adalah suamiku…dan kewajibanku untuk melayanimu. Tapi aku rasa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk melakukannya. Kau baru pulang dari kantor…tenagamu pasti sedikit terkuras selama melakukan pekerjaanmu disana. Lalu…lalu waktu yang kita miliki hanya sebentar…kita tidak akan merasakan kenikmatan bila melakukannya dengan terburu-buru. Aku…aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman dan senang”
Hyun Soo menatap wajah Hee Young dengan seksama…wanita muda di atas pangkuannya ini bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu di saat usia pernikahan mereka yang masih berjalan satu hari, jelas membuat Hyun Soo terperangah,
“Jagi-ya…kau bersungguh-sungguh dengan perkataanmu tadi?”
Hee Young mengangguk pelan, “Ne. Mianhae, Hyun Soo-ssi”
Hyun Soo mengeluarkan tangan kanannya dari balik piyama Hee Young, dan mengelus lembut pipi kiri istrinya yang terlihat sangat menyesal tapi juga kelihatan sangat serius dengan ucapannya, sehingga Hyun Soo merasa sangat mustahil meminta Hee Young untuk merubah keputusannya.
“Istriku sudah memutuskan…aku tinggal menuruti saja, walaupun itu akan terasa sulit. Tapi sebelum aku mandi, berikan aku ciuman satu kali lagi”
Hee Young tersenyum malu…dia tidak mungkin menolak keinginan Hyun Soo yang satu ini. Dengan hati-hati Hee Young mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya dan memejamkan matanya ketika kedua bibir mereka bertemu. Ciuman yang dimaksudkan Hee Young pada awalnya adalah sebuah ciuman lembut, namun ketika Hyun Soo menyambut ciumannya, suaminya itu malah membuat ciuman itu kembali menjadi ciuman panas yang membuat Hee Young harus merasakan debar jantungnya berdetak dengan cepat sekali lagi.
“Kau masih berhutang padaku, jagi-ya…dan aku akan menagihnya nanti malam, jadi bersiaplah” ucap Hyun Soo nakal disela-sela nafasnya yang memburu setelah ciuman mereka berakhir.
Hee Young yang juga masih ngos-ngosan, hanya bisa mengangguk…tidak bisa berkata apa-apa.
“Nah, sekarang waktunya untuk melaksanakan perintahmu…aku harus segera mandi dan menyegarkan tubuhku lagi. Walaupun aku lebih menyukai berada disini bersamamu dibandingkan sendirian di kamar mandi” ucap Hyun Soo lagi sambil mengelus-elus lembut bibir bawah Hee Young yang sedikit membengkak akibat ‘serangannya’.
Hee Young kembali hanya bisa mengangguk…kedua matanya terkunci pada tatapan Hyun Soo yang setajam elang, seolah-olah Hee Young terhipnotis oleh pandangan itu. Dan ketika Hyun Soo bangkit sambil membawanya dan meletakkan dirinya untuk berdiri di lantai, Hee Young merasa kedua kakinya seperti baru pertama kali belajar berdiri…kedua kakinya itu masih terasa lemas akibat ciuman Hyun Soo tadi.
“Kau mau ikut mandi bersamaku, cantik?” goda Hyun Soo sebelum melangkah pergi.
Hee Young seperti tersadar akibat kata-kata itu sehingga rasa malunya spontanitas keluar, “Hyun Soo-ssi…”
Hyun Soo tergelak, “Aku menyerah sekarang, jagi-ya…tapi jangan harap aku akan menyerah nanti malam…sekali lagi kuingatkan, bersiap-siaplah”
Sehabis berkata seperti itu, Hyun Soo mengecup puncak kepala Hee Young dengan gemas, dan melangkah masuk ke dalam...meninggalkan Hee Young termangu sendirian menatap punggungnya.
Hee Young menghela nafas panjang, dengan gontai dirinya kembali menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Sebenarnya dirinya pun merasakan berat untuk menolak keinginan Hyun Soo…tapi dia belum siap sekarang, paling tidak hatinya masih memerlukan waktu untuk menyiapkan diri. Hee Young tidak ingin membuat Hyun Soo kecewa bila dirinya tidak bisa melayani suaminya itu dengan sepenuh hati. Tapi nanti malam dia berjanji pada dirinya sendiri untuk melayani Hyun Soo dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya karena Hyun Soo berhak mendapatkannya…dan pemikiran itu membuat kedua pipinya terasa panas kembali.
_________
Hyun Soo menggandeng tangan Hee Young dengan erat ketika mereka melangkah masuk ke dalam Schoenbrunn Restaurant yang terletak di lantai 35 hotel Lotte. Hee Young memperhatikan penataan interior restaurant itu dengan pandangan tertarik.
“Kau suka, jagi-ya?”
Hee Young mengangguk, “Sangat suka”
Hyun Soo tersenyum senang mendengar jawaban itu. Hyun Soo merasa bangga mengajak Hee Young bersamanya, gaun yang dibelikannya untuk Hee Young membuat istrinya itu terlihat semakin cantik.
Namun selain rasa bangga, Hyun Soo juga harus menahan rasa cemburu ketika beberapa pria yang ada di lobby utama hotel memperhatikan penampilan Hee Young dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan tertarik…sementara itu sang pusat perhatian berjalan dengan tenang disisinya tanpa terpengaruh sama sekali dengan perhatian yang didapatkannya, dan Hyun Soo merasa bersyukur Hee Young hanya memusatkan perhatian padanya seorang.
“Selamat datang, tuan Lee” sapa sang resepsionis restaurant dengan ramah dan penuh rasa hormat ketika mereka berdua sudah sampai di depan meja sang resepsionis.
Hyun Soo mengangguk dan tersenyum ramah pada wanita itu. Hee Young yang berada di sisinya hanya memperhatikan interaksi mereka dalam diam.
“Meja anda sudah siap, tuan” ujar wanita itu lagi dan sejurus kemudian tangannya melambai untuk memanggil salah seorang pelayan pria berseragam rapi yang langsung menghampiri mereka dengan senyuman ramahnya.
“Tuan Lee dan nona” sang pelayan berujar dengan nada hormat, “Saya akan mengantarkan anda berdua ke meja anda”
Hyun Soo dan Hee Young berjalan di belakang pelayan pria itu sambil tetap bergandengan tangan. Hee Young punya pertanyaan di kepalanya, tapi dia memutuskan untuk menanyakannya nanti saja setelah mereka duduk dengan tenang di kursi mereka.
Sebuah meja di dekat jendela adalah tempat yang disediakan oleh pihak restaurant itu untuk mereka. Dari situ terlihat jelas keindahan kota Seoul di waktu malam. Hee Young menatap pemandangan di bawah dengan pandangan takjub, tapi semuanya itu tidak membuatnya melupakan pertanyaan yang harus diungkapkannya pada Hyun Soo nanti.
Hyun Soo menarikkan kursi untuk Hee Young yang langsung mendudukkan dirinya dengan nyaman di kursi itu. Setelah sang pelayan mencatat menu pilihan mereka, yang semuanya dipilih oleh Hyun Soo, dan meninggalkan meja mereka...Hee Young langsung membuka suaranya,
“Hyun Soo-ssi…apakah kau sering datang kemari?”
Alis Hyun Soo berkerut mendengar pertanyaan itu, tapi senyuman geli langsung muncul di bibirnya, “Sering”
“Seberapa sering?”
“Seringkali”
“Seringkali?”
“Ya…seringkali. Ada apa, jagi-ya? Mengapa kelihatannya kau penasaran sekali?” tanya Hyun Soo dengan nada menggoda.
Hee Young tertegun sesaat, namun kemudian pundaknya bergerak asal, “Aku tidak penasaran…hanya ingin tahu saja”
Hyun Soo tergelak mendengar jawabannya, “Ingin tahu saja?”
“Ya…ingin tahu saja. Sebab sejak saat kita tiba hingga akhirnya masuk restaurant ini, kau selalu disapa dengan ramah menggunakan nama keluargamu. Kalau kau tidak sering kemari, maka mereka tidak akan menyapamu seperti itu”
Hyun Soo mengangguk tanda mengerti, senyuman gelinya masih dengan setia terpajang di wajah tampannya.
“Aku memang sering kemari…lebih tepatnya lagi aku lebih sering ke restaurant ini, untuk menjamu makan malam ataupun makan siang para rekan bisnis perusahaan kita. Jadi kau jangan khawatir, aku tidak pernah ke tempat ini untuk berkencan...ini adalah pengalaman pertamaku”
Semburat merah langsung menghiasi kedua pipi mulus Hee Young, dia bergerak sedikit di atas tempat duduknya,
“Anh…anhi…bukan seperti itu. Maksudku…maksudku adalah…aku tidak…tidak cemburu. Aku hanya ingin tahu saja mengapa kau dikenal di tempat ini…itu saja” sahut Hee Young tergagap malu.
Hyun Soo kembali tergelak, “Kau tahu, jagi-ya…aku sangat senang bila mengetahui rasa ingin tahumu itu didasarkan oleh rasa cemburu. Aku merasa dimiliki olehmu, aku merasa benar-benar telah menjadi suamimu”
Hee Young tersenyum kikuk, rasa malunya belum hilang, “Kau memang suamiku”
“Ya, aku tahu…dan aku sangat bangga dengan statusku itu. Gumawo, jagi-ya…karena telah sudi menjadikan aku suamimu” ujar Hyun Soo dengan lembut…rasa gelinya tiba-tiba hilang, digantikan oleh keseriusan dalam setiap perkataannya.
Hee Young hanya bisa membalas kata-kata itu dengan senyuman kikuk. Rasa bahagia dan terharu menyelimuti hatinya…sehingga Hee Young tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk menyahuti Hyun Soo. Untung saja kekikukannya berhasil diselamatkan oleh kedatangan si pelayan pria yang kali ini membawa makanan untuk mereka.
Makanan yang dipesan Hyun Soo menarik perhatian Hee Young, kedua matanya tidak lepas memperhatikan makanan yang tersaji di hadapannya. Makanan itu terasa asing dimatanya tapi sekaligus menggugah selera makannya. Ketika sang pelayan sudah pergi, Hyun Soo mencondongkan tubuhnya ke depan untuk berbicara pada Hee Young,
“Cobalah, jagi-ya…kau pasti suka”
Hee Young mengambil sedikit makanan yang tersaji di depannya dengan garpu dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya,
“Bagaimana?” tanya Hyun Soo sambil terus memperhatikan raut wajah istrinya.
“Enak” sahut Hee Young setelah selesai mengunyah. Hyun Soo tersenyum senang, dan mulai memakan makanannya.
<<<>>>
“Setelah ini kita akan kemana?” tanya Hee Young santai pada Hyun Soo saat keduanya sudah berada kembali di dalam mobil selepas kencan makan malam mereka yang menyenangkan.
“Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke satu tempat lagi, jagi-ya…tapi setelah kupikir-pikir kita bisa mengunjungi tempat itu lain kali saja. Sekarang kita pulang karena kau harus membayar hutang kepadaku. Masih ingat dengan hutangmu kan?” sahut Hyun Soo dengan nada menggoda sambil terus memfokuskan perhatiannya dalam menyetir.
Hee Young yang tidak bisa menyembunyikan rasa malunya akibat godaan Hyun Soo langsung berusaha mengalihkan pembicaraan,
“Aku baru pertama kali menikmati makanan Perancis”
Hyun Soo tersenyum geli, “Oh ya? Kau menikmatinya?”
“Ya, aku menikmatinya. Walaupun porsinya sedikit tapi ternyata cukup membuat perut terisi juga”
“Makanan apa yang kau suka?”
“Aku suka makanan Korea, Jepang, Cina, India, Thailand…dan…”
Hyun Soo tergelak geli, “Jagi-ya, kau benar-benar punya selera yang baik”
Hee Young kembali tersipu malu, “Aku suka makanan Asia”
“Kalau begitu tempat kencan kita selanjutnya adalah restaurant yang menyajikan masakan Asia?”
Hee Young mengangguk antusias, “Di sekitar rumahku ada kedai yang menyuguhkan mie ramen yang enak. Aku dan Eun Kyung biasa makan disana…pemilik kedai itu sangat baik pada kami”
Hyun Soo menatap wajah ceria Hee Young untuk beberapa saat sebelum memfokuskan konsentrasinya dalam menyetir kembali,
“Kau rindu makan di kedai itu, jagi-ya?”
Hee Young mengangguk lagi, “Aku sudah lama tidak makan disana”
“Kalau begitu tempat itu akan menjadi tempat kencan kita yang berikutnya”
Kata-kata Hyun Soo itu membawa keceriaan yang lebih banyak lagi pada hati Hee Young, “Kau janji?”
Hyun Soo tersenyum meyakinkan, “Aku janji”
Hee Young balas tersenyum senang, tapi ekspresi senang di wajahnya itu berubah menjadi terharu ketika Hyun Soo berkata lagi,
“Kita juga harus meluangkan waktu untuk mengunjungi makam omma dan appa kan, jagi?”
“Mengunjungi makam omma dan appa? Kau akan membawaku kesana?”
“Kita sudah menikah, kita harus meminta restu dari mereka agar pernikahan kita bahagia kan?” tanya Hyun Soo lembut.
Hee Young mengangguk, kedua matanya kini sudah digenangi oleh airmata, “Gumawo, Hyun Soo-ssi”
“Mereka sudah menjadi kedua orangtuaku juga, jagi-ya”
Airmata Hee Young kini sudah mulai menetes, “Aku sangat berharap mereka bisa mengenalmu”
Hyun Soo menghentikan mobilnya di pinggir jalan ketika mengetahui Hee Young mengeluarkan airmatanya.
Digenggamnya tangan kiri Hee Young dan dengan penuh kelembutan dia berkata,
“Aku juga mengharapkan hal yang sama, jagi. Sst…jangan menangis lagi, kau harus ceria karena istri yang kunikahi adalah seorang wanita muda yang ceria dan bersemangat…lagipula istriku itu masih memliki hutang yang harus dilunasinya malam ini. Jadi aku ingin dia melunasinya dalam keadaan bahagia dan gembira”
Hee Young tersenyum sambil menghapus airmatanya, “Hyun Soo-ssi…”
Suara manja yang dikeluarkannya membuat Hyun Soo tersenyum menggoda,
“Bersiaplah jagi, kita akan tiba di rumah tak berapa lama lagi”
Hee Young mengerjabkan kedua matanya pura-pura tidak mengerti padahal kedua pipinya bersemu merah, tanda dia paham sekali apa yang dimaksudkan oleh Hyun Soo, “Apa…apa maksudnya, Hyun Soo-ssi?”
“Kau tahu benar apa yang kumaksudkan, jagi” sahut Hyun Soo nakal sambil menjalankan mobilnya kembali. Disisi kanannya, Hee Young hanya bisa terdiam dan merasa kalau sekarang wajahnya pasti terlihat seperti kepiting rebus.
_________
Hee Young dan Hyun Soo sudah berada di dalam kamar mereka kembali. Perjalanan pulang tadi dirasakan oleh Hee Young lebih cepat daripada yang bisa diduganya…Hyun Soo benar-benar melaksanakan kata-katanya.
Dan disinilah dirinya, berada dalam dekapan hangat Hyun Soo…merasakan sentuhan-sentuhan hangat tangan suaminya itu di sekujur tubuhnya yang masih mengenakan gaun…menatap kedua mata yang sekarang memandangnya dengan penuh kelembutan sekaligus gairah yang membara…Hee Young sedikit bergidik ketika pandangan kedua mata Hyun Soo tajam menembus pupil matanya.
Di momen yang seperti ini, Hee Young benar-benar merasa yakin kalau dirinya telah benar-benar jatuh cinta pada pria tampan ini. Hee Young selalu merasakan kerinduan yang sangat bila berjauhan darinya…rindu ingin merasakan sentuhannya…rindu ingin mendengar suaranya dan melihat senyumannya…rindu ingin tertidur dalam dekapan hangatnya…dan sebenarnya saat-saat seperti inilah yang paling dirindukannya. Hee Young merasa bahagia karena sekarang dirinya benar-benar sudah siap untuk melayani Hyun Soo dengan segenap hatinya…dan dia berharap Hyun Soo dapat merasakan hal yang sama dengan yang dirasakannya saat ini.
“Saatnya untuk membayar hutang, nyonya muda Lee” goda Hyun Soo lembut di telinga kanan Hee Young yang mengangguk pasrah.
Hyun Soo membaringkan tubuh mungil Hee Young dengan penuh kelembutan di atas tempat tidur mereka. Bibirnya dan bibir Hee Young bersatu dalam pagutan-pagutan penuh kerinduan dalam ciuman mereka…tangan kanan Hyun Soo bergerak menyentuh bagian-bagian tubuh Hee Young yang bisa membuat istrinya itu menggeliat nikmat dalam dekapannya.
Tiba-tiba saja tanpa bisa dicegah, ponsel Hee Young berbunyi…membuat ‘pekerjaan’ Hyun Soo di leher Hee Young sedikit terganggu karena perhatian istrinya itu agak beralih ke ponsel kecilnya yang berada di atas meja.
“Jagi-ya kumohon…abaikan saja” pinta Hyun Soo sambil terus melancarkan serangannya ke leher jenjang Hee Young, ketika Hee Young bermaksud keluar dari kungkungan tubuhnya.
“Tapi…Hyun Soo-ssi…aku takut kalau itu berasal dari rumah. Aku harus mengetahui siapa yang menghubungiku…nanti kita sambung lagi”
Suara memelas Hee Young membuat Hyun Soo terpaksa harus mengalah,
“Aku akan segera kembali” ujar Hee Young lembut sambil membelai pipi kanan Hyun Soo…sang suami hanya bisa mengangguk.
Hee Young segera mengambil ponsel mungilnya dan membaca nama penelponnya,
“Mr. Shane”
Alis Hyun Soo agak berkerut, “Siapa?” tanyanya penasaran.
“Dari Mr. Shane, dia guru les bahasa Inggrisku. Apakah harus kuterima?”
“Siapa dia?” tanya Hyun Soo lagi…dia tidak mengindahkan pertanyaan Hee Young barusan.
“Mr. Shane…dia guruku. Sekarang dia berada di Australia untuk menjenguk keluarganya. Hyun Soo-ssi…apakah aku harus menerima telepon ini?”
“Jagi…aku sudah tidak tahan lagi. Apakah kau merasa gurumu itu lebih penting dari suamimu ini?”
Nada suara Hyun Soo yang sedikit merajuk membuat Hee Young tersenyum geli…diletakkannya ponsel itu kembali ke atas meja. Tidak berapa lama ponsel itupun berhenti bordering dengan sendirinya.
“Mr. Shane akan menghubungiku lagi bila dia merasa harus mengatakan sesuatu yang penting padaku” ujar Hee Young sambil menghampiri Hyun Soo yang langsung tersenyum cerah menyambut kedatangannya kembali.
“Menurutmu seberapa penting yang harus dikatakannya itu, jagi?” tanya Hyun Soo ketika Hee Young sudah berada di sisinya lagi…terselip nada menyelidiki di suaranya.
Hee Young menggerakkan pundaknya dengan asal, “Masalah pelajaran mungkin…aku dan Mr. Shane sudah lama tidak saling menghubungi”
“Jadi dia sekarang berada di Australia?” tanya Hyun Soo sambil mengelus lembut tangan kanan Hee Young.
Hee Young mengangguk, “Untuk menemui keluarganya”
‘Tidak perlu cemas, Hyun Soo-ya…Mr. Shane adalah pria yang sudah berkeluarga. Kau tidak perlu khawatir’ bisik hati Hyun Soo pelan…senyuman senang terkembang di bibirnya.
“Kenapa tersenyum?” tanya Hee Young heran saat melihat senyuman di bibir Hyun Soo tadi.
Hyun Soo kembali mengalihkan perhatiannya pada Hee Young, “Tidak ada apa-apa, nyonya muda Lee. Sekarang bisa kita lanjutkan apa yang tadi tertunda?”
Kata-kata nakal Hyun Soo itu membuat Hee Young tersenyum malu…tapi tanpa banyak bantahan, dirinya mengabulkan permintaan Hyun Soo tadi…meninggalkan persoalan Mr. Shane di belakang.mian...buat keterlambatannya ya,reader2 yg baik hati
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
nah,komentnya untuk chap 16 ini dtunggu lho...mian lg klo chap ini membosankn
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
HWAITING!!!
![[AddEmoticons04262]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/AddEmoticons04262.gif)
ps : karena bentar lg msk bulan puasa,jd update-an mngkn akan lbh lama (tp tetep d usahakn spy agak cepat
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
)
oh ya...Selamat Berpuasa buat chingu2 smua yg melaksanaknnya,smoga puasanya lancar
![[AddEmoticons04237]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/AddEmoticons04237.gif)