Author Topic: The Wildest Affair of Ours (Chapter 4 Update - 7/9/2011)  (Read 5513 times)

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 01, 2011, 10:08:42 am »
Chapter 2

Sebastian menggeram kesal.

"Orang itu?"

"Ya, aku yakin sekali panggilan barusan dari Mr. Wright."

"Brengsek."

Sekali ini Seb sangat ingin merutuki kepiawaian Libby dalam bekerja dan menangani tiga sambungan telefon yang senang meraung-raung disaat bersamaan. 

"Maaf, kukira  Mr. Wright... yang itu, selalu membawa keuntungan besar." Libby mengeriyit bingung, wanita dihadapan Seb tersebut ketakutan seperti anak kucing yang akan disiram air es. Buku jari Libby memutih saat cengkramannya pada map dokumen mengencang.

"Duduklah Miss Reyes." Tubuh mungil Libby yang tenggelam dalam kursi putar memancing pertanyaan tak diundang melewati pikiran Seb, apakah tubuh Libby serapuh ukurannya? Rahang Seb berdenyut tak nyaman ketika ia menangkap sekelebat imajinasi ngawur mulai bermunculan mengisi benaknya tanpa kendali. Libby memang menarik, tapi apa peduliku, batin Seb kesal.

Helaan nafas Libby mengetuk kesadaran Seb yang sempat terinterupsi. Seb memaksa otaknya berderu menyusun rencana. Si bapak tua itu pasti tidak akan berhasil dikibuli lagi. "Jaimes Wright," Seb memutar bolpoin Mont Blanc diatas meja, tiba-tiba berlaku seakan Libby adalah rekan bisnis. "Aku takkan bisa lari darinya kali ini."

"Jangan berkata Anda terlibat kasus penipuan?!" Pekikan Libby dibalas dengan tatapan menusuk Seb.

"Tentu saja otakku masih mampu menghasilkan uang tanpa harus menipu, Miss Reyes!" Seb menjawab ketus, Libby mengigit bibir bawahnya dengan keras karena berani menyuarakan kesimpulan tolol.

"Lalu apa? Kenapa Anda menyuruh saya duduk?" Libby bertanya kaku untuk melenyapkan rasa malunya. Rona yang perlahan menjalari pipi Libby sangat manis, Seb tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia bertemu wanita yang tak perlu menyumbang keuntungan pada pabrik blush-on.

"Aku berpikir mungkin kau bisa menelefon Jaimes dan berpura-pura kalau aku tak bisa menemuinya dalam waktu dekat." Seb telah mengantisipasi pelototan tidak setuju itu.

"Anda mungkin atasan saya, tapi saya tidak akan melakukan hal semacam itu apalagi terhadap Jaimes Wright!" Libby berteriak setengah histeris, sementara Seb mengutuk hari dimana gelar 'orang-terkaya-Australia' dilayangkan kepada Jaimes.

"Lalu apa solusimu, Miss Elizabeth Reyes? Agar aku mendapatkan lima menit perjanjian bisnis tapi membuang satu setengah jam ceramah pernikahan dari Jaimes..., yang konon mau memotong kepala anjing agar aku menikah!" Amukan Seb mencabik nyali Libby yang sempat mencuat untuk melawannya.

Pundak Libby menegang ketika keduanya membisu, berada dalam sebuah ruangan yang terletak di lantai 45 hanya menambah beratnya ketegangan, tidak ada suara apapun bahkan samar-samar deru kendaraan.

"Mungkin mencari dan menyewa kekasih rekayasa bisa mempersingkat jam temu Anda dengan Mr. Wright, mengingat Anda tak bisa membatalkan salah satu pertemuan terpenting dalam bisnis perusahaan ini," jawab Libby dingin, menjaga nadanya tetap sedatar papan walaupun ketidakaturan irama nafas Libby mengungkapkan emosi ia yang sesungguhnya.

Seb menyeringai atas ide cerdik Libby. Selama ini ia selalu mengarang cerita tentang kekasih fiksi pada Jaimes dan memperburuk durasi waktu ceramahnya. Mengatakan bahwa kekasihnya sibuk, kekasihnya sakit, kekasihnya sedang mengunjungi Roma..., Seb mengira bisa membodohi Jaimes yang ternyata membaca majalah gosip istrinya dan suatu hari menemukan artikel Sebastian Marcus masih setia melajang sejak entah kapan! Sekarang Seb bisa menutup mulut Jaimes dengan membawa wanita nyata tanpa perlu menyusun karangan imajinatif apapun.

Dan..., melihat bagaimana karakter istri Jaimes yang polos sangat mirip dengan wanita didepannya, keberuntungan tiba-tiba mengerumuni Seb.

"Miss Reyes, kurasa masalah ini baru saja selesai."


****


Kantin kantor yang sepi pada jam 12 siang adalah kemustahilan, namun menolak permintaan Seb tanpa menghadapi resikonya tampak lebih mustahil bagi Libby.

"Barb, tapi ini keterlaluan, dia ingin aku jadi kekasihnya!" Beberapa minggu bekerja di perusahaan itu, mustahil bagi Libby untuk melewatkan kebiasaan bergosip Barbara saat jam makan siang. Topik favorit wanita 50 tahun itu tidak lain adalah Sebastian Marcus, lajang tampan incaran para gadis sekaligus atasannya sendiri. Kebetulan sasaran obrolan mereka kali ini juga menyangkut diri Libby.

"Uh-hu, kukoreksi, kekasih bohongan Libby! Makan malam gratis bersama Wright dan Marcus, idiot kalau kau merasa begitu rugi. " Barb mengomel sambil menancapkan garpunya pada steik ikan untuk yang kesekian kali.

"Aku akan kehilangan waktu berhaga bersama Dad, itu merugikan. Oh Barb, stop menyiksa ikan malang dengan Mr. Garpu, makan sajalah please!" Libby menggerutu kesal.

"Demi Tuhan Miss Vegetarian Sejati, ikan ini mati dan aku akan makan seperti orang kelaparan jika memiliki badanmu." Barb mendecak iri, tubuh Libby bagaimanapun akan terlihat fantastis jika ia berhenti mengenakan blus dan jins yang kelonggaran. "Aku ingin mencakar pakaianmu sampai robek Elizabeth."

Libby terbahak, untung ia belum meneguk jus, Barb pasti keberatan kalau setelan mahalnya menjadi target semburan.

"Aku serius Lib! Kurasa Seb tidak salah memilihmu, matanya akan keluar tatkala melihat kau berdandan nanti."

"Barb, terima kasih, tapi pujianmu tidak mengubah apapun. Kau tahu aku tidak akan berdandan ala model Victoria Secret jika ini maksudmu." Tidak ada seorangpun yang pernah bilang Libby jelek, karena kenyataannya jauh daripada itu. Dengan rambut hitam sebahu yang dipotong modis, mata cokelat yang cerdas, dan tubuh mungil yang ramping, setidaknya beberapa agensi pasti bersedia merekrut Libby menjadi model mereka. Hanya saja, Libby mewarisi sifat ayahnya yang tidak rela menghabiskan jam-jam berharga untuk merombak penampilan, menjadi diri sendiri adalah kualitas berharga dalam hidup, Libby tidak mau melebih-lebihkan kecantikan yang sudah alam berikan jika memang tak diperlukan.

"Kau akan bersantap satu meja dengan para  miliuner Australia, berdandanlah yang layak Libby atau aku akan meneror rumahmu." Barb mengancam setiap saat, jadi kenapa Libby harus mulai merasa takut terhadap satu dari ribuan ancaman Barb yang tidak pernah terbukti benar?!

"Kau sedang bercanda Barbara!" Dengus Libby, Barb orang yang baik tapi tidak ada sepasang rekan kerja yang dapat bertingkah sepeduli teman lama ketika mereka bahkan tidak akan mengenal satu sama lain jika bertemu di Woolworths bulan lalu.

"Sayang, tatap mataku dan apakah kau menemukan candaan disana?" Kelembutan disela nada Barb memanggil selusin kupu-kupu terbang dalam perut Libby.

Mungkin...., Libby salah.

Dan mungkin
...., apapun yang akan ia lakukan nanti, Barbara memang benar-benar akan peduli.
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...