terima kasih semua untuk doanya... akhirnya udah menyandang gelar S1... tinggal nunggu di wisuda...
![[sweat]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/sweat.gif)
SEMANGAT!!
sekarang waktunya updateeeeee... maaf sebelumnya... baru bisa...
![[hug]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hug.gif)
DAN...
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENJALANKAN... SEMOGA DIPERTEMUKAN DENGAN HARI KEMENANGAN DAN RAMADHAN SELANJUTNYA... AMIIIIIEENNNNChapter 5Additional Cast

Noh Min woo as Luke/ Jang Jae min
Matahari mulai memperlihatkan pancaran dan kehangatannya, mencoba untuk membangunkan beberapa orang yang masih terlelap ditidurnya. Joo ri membuka matanya perlahan, membiasakan penglihatannya dengan sinar mentari yang menyilaukan pagi itu. dan sesuatu yang mengejutkannya, membuatnya segera bangun dari tempatnya, menatap jam meja disisinya.
“ah!! Sial!! Aku terlambat!!” seru Joo ri lirih yang kemudian segera bangkit, mengganti bajunya cepat dengan sebuah kaos dan jaket kulit yang menutupinya. Joo ri membuka pintu dihadapannya dan berlari cepat keluar dari kamarnya, kearah kamar yang berada tak jauh dari kamarnya.
“Yong jun!! bangun!! Kau sudah terlambat!!”seru Joo ri mengetuk pintu di hadapannya cepat, keras. Namun lama ia menunggu sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Joo ri mengetuk pintu dihadapannya lebih keras, dan sama saja seperti sebelumnya, tidak ada jawaban dari dalam ruangan. Jawaban yang sangat ia tunggu.
Joo ri menatap pintu dihadapannya sengit, geram, kedua tangannya terkepal kuat dan bergemelutuk kuat (penulis mau lebay dikit… he he he) “baiklah… jika itu mau mu… maka akan aku lakukan…”gumam Joo ri, menatap pintu dihadapannya dan kemudian menggulung lengan jaket kulitnya dan mengangkat tangannya, bersiap untuk mendobrak pintu dihadapannya, namun belum sempat ia melakukannya, pintu dihadapannya terbuka pelan, dimana setelahnya terlihat seorang laki-laki yang berdiri tanpa pakaian dan hanya mengenakan celana pendeknya, bersikap malas sambil menggaruk rambutnya yang berantakan.
“ada apa…kenapa pagi-pagi begini berteriak tidak jelas…”kata Yong jun pelan, menatap malas Joo ri dihadapannya.
“cih… aku mulai muak denganmu… aku ini bodyguardmu… tapi sekarang aku sudah merangkap menjadi manajermu… carilah manajer!! Kau bahkan tidak membayarku sebagai manajer…”gumam Joo ri marah, dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Yong jun.
“segeralah bersiap… setelah Luke menjemput… kita akan pergi… kau ada syuting film mu hari ini.. dan lakukan dengan cepat…. Karena hanya sekitar 5 menit lagi Luke akan datang… kalau kau tidak bersiap tepat di waktunya, maka aku akan menyeretmu bagaimanapun keadaanmu!”gertak Joo ri, berjalan kearah dapur dan mulai mengambil beberapa roti untuk dia panggang.
Yong jun menatap Joo ri tajam dan mulai melakukan apa yang Joo ri perintahkan agar hal buruk yang sama tidak terulang lagi dihidupnya. Pengalaman yang sangat memalukan untuk dirinya. Tidak pernah sekalipun ia mengalami hal itu, dan ia berjanji hal itu tidak akan pernah terulang lagi.
Yong jun menatap Joo ri, dan ingatan itu kembali.
Flashback
Joo ri membangunkannya pagi-pagi sekali hari itu, kantuk yang masih hinggap di dalam dirinya belum menghilang pagi itu, dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak menggubris ajakan Joo ri untuk bangun. Dan akhirnya, sesuai harapannya, suara melengking Joo ri di pagi yang dingin saat itu tidak terdengar lagi, namun hanya selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba pintu kamar Yong jun menjeblak terbuka, terpuruk tanpa daya, karena berhasil dihantam Joo ri hingga terlepas dari engselnya. Yong jun bangkit dari tempatnya cepat,menatap terkejut Joo ri yang ada dihadapannya.
“ap..apa yang kau lakukan… kau…”
“bangun… sudah waktunya..”
“apa…?!?”
“hari ini jadwalmu untuk syuting film mu!! Sekarang bangun dan segera bersiap…!!”
“…aku masih mengantuk…”keluh Yong jun yang kemudian tertidur kembali.
Joo ri memutar kepalanya menatap Yong jun dan menyipitkan matanya menatap Yong jun.
“aku bilang bangun… 5 menit dari sekarang… lakukan perkataanku… atau… aku akan…”
“apa… lakukan saja tugasmu… kau hanya seorang bodyguard…”
Joo ri menatap jam ditangannya, “dan… hanya tinggal 1 menit lagi…” Joo ri terdiam sesaat, masih menatap jam tangannya namun senyum kemudian terlihat diwajahnya “…. Dan hanya tinggal 10 detik dari sekarang… 8…7…6…5…4…3…2…1” tambah Joo ri yang senyumnya terlihat lebih lebar dari sebelumnya, menatap detak jam ditangannya. Tepat setelah hitungan Joo ri selesai, suara derum mobil dan klakson terdengar. Joo ri mengalihkan pandangannya menatap arah suara itu dan melangkah mendekat.
Yong jun masih diam ditempatnya, malah semakin merapatkan selimut tebal ke tubuhnya, meringkuk di bawah selimut.
“…aku yang bertindak…”gumam Joo ri yang kemudian melangkah mendekat, menyibak selimut dari tubuh Yong jun yang hanya mengenakan celana pendek merah miliknya. Joo ri menarik tangan Yong jun bangun dan membawanya atau mungkin lebih tepatnya menyeretnya keluar dari kamarnya.
“auusshhh!! Yya!! Apa yang kau lakukan!! Kau…aku belum memakai pakaianku… YYA!! Hentikan tingkahmu!!”
“aku sudah bilang bukan… aku yang bertindak!!”seru Joo ri tidak kalah keras dari suara Yong jun. Joo ri masih menarik Yong jun masuk kedalam mobil. Luke menatap terkejut Yong jun tanpa pakaiannya.
Luke tersenyum lebar menatap itu dan bersiul senang.
“sepertinya ada yang bersenang-senang pagi ini…”cetus Luke senang
“...” Yong jun menatap Luke menyipitkan matanya, kesal.
“pakai ini…”kata Joo ri sambil memberikan sebuah mantel kulit panjang pada Yong jun.
“auusshhh!!”keluh Yong jun, menerima mantel yang diberikan Joo ri dan mengenakan mantel yang diberikan Joo ri padanya.
“ada yang terlihat sangat seksi pagi ini…” gumam Joo ri, melirik sekilas Yong jun yang duduk mendekap dirinya karena dingin yang menusuk dirinya pagi itu.
End Flashback
Yong jun bergidik mengingat semua yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Pengalaman yang memalukan bagi dirinya. Dengan cepat Yong jun masuk kembali kekamarnya dan mulai bersiap. Ia selesai tepat saat bunyi klakson mobil Luke terdengar.
“kau sudah siap…”tanya Joo ri, menatap Yong jun yang sudah mengenakan pakaian lengkapnya dan jaket kulit dengan warna yang sama dengan Joo ri. Hitam.

“sepertinya tidak ada yang terlihat seksi lagi pagi ini…”ujar Luke menatap Yong jun yang masuk bersamaan dengan Joo ri. Joo ri tersenyum senang mendengar perkataan Luke. Joo ri masuk kedalam mobil dan tak lama Luke menyusulnya dan duduk disisi Joo ri. Luke yang berperan sebagai pengemudi pagi itu, sedangkan Yong jun duduk di tempat duduk belakang. Yong jun menatap sinis pada Luke dan Joo ri.
“makanlah… ini masih hangat…”ujar Joo ri kemudian, memberikan roti panggang dengan selai coklat buatannya.
*******
Yong jun menghela napas lega, menatap wanita yang dikhawatirkannya menghilang hampir 2 hari sebelumnya, tanpa menyadari tatapan Luke dihadapannya. Tatapan sinis yang juga terlihat dendam mendalam disana.
Luke diam dan bangkit dari tempatnya, kemudian duduk disisi Yong jun, mengikuti arah tatapan Yong jun.
“apa yang kau lihat…”potong Luke tiba-tiba menatap Yong jun
“tidak ada…”jawab Yong jun yang terlihat memperbaiki cara duduknya, menjadi terlihat lebih tegap untuk menjaga imagenya.
Luke tersenyum menatap Yong jun. Senyum yang berhasil membuat Yong jun merasa kesal padanya “…apa maksud senyum mu itu…”tanya Yong jun
“…tak ada… hanya…sebuah pertanyaan yang mengganggu…”kata Luke
Yong jun diam, kemudian mengambil gelas kopi dihadapannya dan meneguknya habis dalam satu tegukan. Luke masih terdiam menatapnya, menatap Yong jun
“apa ada sesuatu antara kau dan Kolonel…?”Tanya Luke tiba-tiba, meneguk kopi dari gelasnya tenang. Dan tidak ada jawaban dari Yong jun. Luke mengalihkan pandangannya, menatap Yong jun, dan sebuah pertanyaan terdengar kembali. Luke lebih mempersempit pertanyaannya sekarang “…apa kau menyukai Joo ri…”tanya Luke tiba-tiba, membuat Yong jun tersedak kopinya, terbatuk ditempatnya, menatap Luke terkejut, tidak percaya dan segera mengalihkan pandangannya ketika ia bertemu pandang dengan Luke
“ap…apa maksudmu…?”tanya Yong jun gugup mendengar perkataan Luke
“…tak ada… hanya sebuah pertanyaan yang menginginkan sebuah kejujuran…”jawab Luke, meneguk kopi hangat miliknya.
Yong jun diam ditempatnya menatap Luke yang duduk disisinya, mencoba mencari sesuatu yang tersembunyi dari orang disisinya itu.
“…memang kenapa… apa yang kau inginkan…”tanya Yong jun kemudian, menatap tajam Luke.
Luke menarik napas panjang dan mendesah kuat. “bukankah sudah aku bilang…”
“mw..mwo…?”
“aiissshhh…”seru Joo ri tiba-tiba “aku benar-benar muak denganmu…” keluh Joo ri lagi, menatap Yong jun dan melemparkan sebuah berkas tebal di meja tepat dihadapan Yong jun. Joo ri mendesah kuat, kesal. “bisakah kau mencari manajer atau asisten untukmu…”keluh Joo ri, menatap marah Yong jun “ini!- bukan!- tugas!-ku!”seru Joo ri yang kemudian duduk dikursi tepat dihadapan keduanya. Joo ri melipat tangannya didada.
Luke tersenyum menatap Yong jun dan mengalihkan pandangannya pada Joo ri masih dengan senyum yang sama.
“minumlah dulu…”kata Luke kemudian, menggeser gelas kopi Joo ri yang sebelumnya sudah ia pesankan tadi.
Joo ri menegak cepat kopi dihadapannya. Yong jun diam ditempatnya, menatap Joo ri dan segera mengalihkan pandangannya begitu Joo ri memandangnya. “sebenarnya kenapa manajer-manajermu tidak dapat bertahan lama disisimu…?”Tanya Joo ri.
Yong jun masih diam ditempatnya, tidak mampu menjawab dan ia merasa benar-benar kalah karena tatapan Joo ri yang meminta sebuah jawaban dari rasa penasarannya. Ia tidak mampu melawan tatapan Joo ri.
******
Joo ri menatap diam Yong jun yang tengah melakukan perannya, sekaligus melakukan penjagaan padanya. Menatap sekelilingnya, mencari jika ada sesuatu yang dapat mengganggu kliennya itu, sedangkan Luke berada disisinya terdiam, dan terkadang menegak air mineral dalam botol yang ia pegang.
“…apa perannya…”Tanya Luke tiba-tiba menatap Yong jun, dan meminum air mineral di botolnya
“…seorang agen rahasia…”
“cih… yang benar…”kata Luke lagi, tidak percaya “bagaimana bisa…”tambah Luke lagi.
Joo ri mendengus meledek, sama tidak habis pikirnya dengan Luke “… aku saja tidak percaya…”jawab Joo ri, menambahi. Luke terdiam, namun tak lama kemudian, senyum terlihat terkembang diwajahnya. Hanya sesaat berselang kemudian, Joo ri dan Luke terdiam. Yong jun datang dan segera menjatuhkan dirinya di kursi diantara keduanya, mengambil air mineral yang sudah disediakan Joo ri sebelumnya, di hadapannya.
Yong jun menarik napas panjang, dan menatap keduanya bingung “ada apa?”Tanya Yong jun, mengusap mulutnya dengan punggung tangan, menatap Joo ri dan Luke, bingung sekaligus curiga “ada apa…?”Tanya lagi yang sama sekali tidak mendapat jawaban setelahnya.
Joo ri dan Luke hanya terdiam ditempatnya, kemudian bersamaan keduanya mengangkat kedua bahunya, tidak mengerti, menjawab pertanyaan Yong jun.
“yya!!” seru Yong jun tiba-tiba, masih menatap keduanya bergantian, tidak puas dengan jawaban yang diterimanya.
“apa?!?”seru Joo ri lagi, menatap Yong jun galak, membuat Yong jun menggeser tubuhnya mundur, menempel ketat pada punggung kursinya, takut-takut menatap Joo ri.
Yong jun mengedip-kedipkan kedua matanya, tidak mampu melawan wanita dihadapannya. Joo ri masih menatap Yong jun galak, Yong jun mengalihkan pandangannya pada Luke, yang terlihat tenang meminum air mineral dari botol ditangannya. Yong jun menyerah sekaligus kesal, bangkit dari kursinya
“auussshhh!!!”, kemudian pergi tanpa menatap Joo ri dan Luke yang terlihat tersenyum.
Yong jun menatap keduanya kesal dan pergi, meninggalkan keduanya. Joo ri tersenyum lebar. Luke menatap dalam diam.
********
Joo ri diam ditempatnya, menatap tempat pengambilan gambar yang saat itu berada di salah satu tempat di Seoul, dimana banyak sekali orang berlalu lalang. Banyak toko-toko makanan dan pakaian dan juga beberap pedagang kaki lima yang sedang menjajakan dagangannya. Beberapa terlihat menjual balon, permen lollipop dan beberapa terlihat tengah menjajakan makanan kecil.
Joo ri diam, menatap penuh perhatian pada beberapa orang yang melewati dirinya. Tak lama desahan napas terdengar, syuting Yong jun belum selesai, tapi dia sudah sangat lelah, ia sangat benci menunggu, dan tidak ada yang bisa ia lakukan saat ia menunggu. Ditambah lagi, sangat sulit melakukan penjagaan ditempat yang ramai seperti tempat ini. Joo ri lagi-lagi menghela napas panjang.
Namun tiba-tiba seseorang menyerangnya dari belakang, pandangannya menjadi gelap, seseorang menutupi kedua matanya dengan tangannya, membuat Joo ri terdiam sesaat, dan sepertinya tanpa terduga oleh orang itu, Joo ri mengambil tangan yang menutupi kedua matanya dan memelintirnya, membanting orang itu jatuh terkapar dihadapannya.
“ahhh!! Ini aku…”kata orang itu, setelah Joo ri membantingnya jatuh.
“ahhh!! Oppa!! Mianhe…”ujar Joo ri, membantu seseorang yang ternyata laki-laki untuk bangkit berdiri. Joo ri tersenyum menatap orang itu.
“mianhe oppa…”kata Joo ri lagi, membungkukkan separuh tubuhnya, menatap laki-laki dihadapannya. Laki-laki itu tersenyum, menatap Joo ri lalu duduk dimana Joo ri sebelumnya duduk, dan mengambil botol air mineral milik Joo ri yang ia letakkan di meja dihadapan laki-laki itu.
“ahh… oppa.. aku bar-“
Terlambat, laki-laki itu sudah mengambil air mineral Joo ri, membuka tutupnya dan meminum beberapa teguk air mineral Joo ri, kemudian ia terlihat mengalihkan pandangannya tersenyum menatap Joo ri.
“Ji Hoon oppa…”keluh Joo ri, menatap Ji hoon sedikit kesal karena telah mengambil air mineralnya
Ji hoon tersenyum menatap Joo ri.

“mworagu…”ujarnya
“auusshhh… ahniya…”jawab Joo ri akhirnya, mengalihkan tatapannya.
Keduanya terdiam sesaat, menatap beberapa orang yang berlalu lalang dihadapannya, sekarang beberapa kru film sudah mulai berkumpul, menyiapkan tempat untuk pengambilan gambar dan beberapa peralatan yang dibutuhkan.
Beberapa orang mendatangi Joo ri dan Ji hoon. Orang-orang itu bertugas merias wajah Ji hoon seperti yang dibutuhkan untuk syuting hari itu. Joo ri, menggeser tubuhnya sedikit saat itu, menatap Ji hoon yang tengah dirias. Entah mengerti atau tidak, Ji hoon tersenyum sambil memejamkan matanya.
Tak lama proses merias Ji hoon selesai, Ji hoon kembali hanya berdua bersama Joo ri di tempat itu.
Joo ri berdeham keras, tanpa menatap Ji hoon, sedangkan Ji hoon terlihat mengalihkan wajahnya menatap Joo rid an tersenyum.
“ada apa?”tanua Ji hoon kemudian
Joo ri berdeham lagi “…antwe… hanya saja kenapa Ji hoon oppa baru datang, apa-“
“ne… sebelum ini aku ada syuting video klip terbaruku… dan lihatlah, aku masih menggunakan beberapa aksesorisnya…”
“apa ini…?”Tanya Joo ri, menatap pergelangan tangan Ji hoon dan sedikit tato yang terlukis di lengannya
“…ini… untuk laguku…” Ji hoon tersenyum menatap Joo ri. Sebuah senyum lebar yang terlihat sangat manis. Joo ri terdiam menatap terpesona Ji hoon dihadapannya, semakin tertarik “jadi kau juga penyanyi?”Tanya Joo ri.
Ji hoon tersenyum, “seperti yang kau tahu…”jawab Ji hoon tersenyum manis menatap Joo ri “…tapi… Yong jun juga seorang penyanyi… bahkan… ia sudah membuat beberapa film yang semuanya masuk dalam nominasi dan mendapat penghargaan… dia salah seorang artis multitalenta…”tambah Ji hoon, menatap kosong beberapa orang kru yang kini mulai berlari menyiapkan segalanya.
Joo ri diam ditempatnya.
“…baik…sepertinya persiapan sudah selesai, aku harus menemui sutradara dulu…”kata Ji hoon kemudian, meninggalkan Joo ri yang terdiam sendiri ditempatnya, menatap Ji hoon.
*******
“apa yang kau lihat”sapa seseorang tiba-tiba. Joo ri memejamkan matanya, kesal, tanpa ia lihat siapa orang yang duduk disisinya yang (sudah pasti) mengusik pikirannya, Joo ri sudah hafal dengan gaya bicara yang dingin dan penuh ejekan dari orang yang duduk disisinya.
“apa yang kau amati?”tanyanya lagi, menatap kearah Joo ri memandang. Tak lama senyum terlihat diwajah orang itu, senyum penuh kemenangan yang aneh, membuat Joo ri memejamkan matanya kesal, sangat kesal “kau mengamati Kang Ji hoon? Ada apa? Apa kau menyukainya..?” katanya lagi, berusaha menggoda Joo ri, membuatnya semakin panas mendengarnya. Joo ri semakin memejamkan matanya kesal, dan tanpa bisa menahan kesabarannya lagi, Joo ri mengeluarkan pistol di sarung pinggulnya, kemudian membidik Yong jun tepat dikepalanya, yang kemudian terdiam disisinya, menatap Joo ri, takut, mengangkat kedua tangannya keatas.
“yy..yya!! kau bercanda bukan..?”
Joo ri diam, dan masih mengarahkan pistolnya pada Yong jun. Yong jun bangkit dari tempatnya, menatap Joo ri takut. “yy..yya!! kau tidak akan…”
Dan tidak seperti dugaannya, Joo ri ternyata benar-benar menarik pelatuknya, menatap Yong jun tajam. “kau ti..tidak mungkin..” Yong Jun memejamkan matanya, menutupi wajahnya dengan kedua lengan dan tangannya sebagai bentuk perlindungan diri sedangkan Joo ri masih diam ditempatnya, alih-alih ia menatap Yong jun. Ia membidik sesuatu. Joo ri menatapnya tajam, sedangkan Yong jun masih menutup kedua matanya.
Joo ri masih diam ditempatnya, membidik dan secara tiba-tiba dan tepat pada waktunya, Joo ri menarik lengan Yong jun, membawa Yong jun menunduk dibalik sebuah tong sampah. Yong jun diam terkejut ditempatnya, dan semakin terkejut dan ketakutan saat ia melihat sesuatu menghantam kursi yang terbuat dari batubata hingga pecah. Yong jun menatap diam, masih terkejut pada bongkahan kursi tersebut
“ap…apa yang terjadi?!?”Tanya Yong jun, menatap Joo ri bingung. Joo ri hanya diam, memunggungi kursi dari batubata tersebut, bersandar padanya. “apa yang terjadi…”Tanya Yong jun lagi
“diam…”seru Joo ri
***********
Joo ri bangkit dari tempatnya, menatap semua kru yang berdiri diam dibelakang keduanya, bingung menatap Joo ri dan Yong jun.
“KALIAN SEMUA!! PERGI DARI SINI! SELAMATKAN DIRI KALIAN!!”seru Joo ri pada semua orang yang berada disekelilingnya. Beberapa orang terlihat mulai mengerti saat sebuah peluru kembali berdesing mengenai kaca sebuah toko dan membuat kaca itu retak sebelum akhirnya hancur berkeping-keping, menambah kehebohan. Semua orang terlihat mulai berlari berhamburan mencoba menyelamatkan diri.
Usaha Joo ri berhasil. Joo ri kembali menundukkan kepalanya, menyembunyikan tubuhnya, menatap Yong jun yang masih diam, terkejut ditempatnya
“ada apa sebenarnya…?”Tanya seseorang tiba-tiba, menyusul Joo ri dan Yong jun, berlindung dibalik bak sampah dan sesekali menatap sekelilignya yang penuh dengan orang yang berlarian.
“OPPA!!”seru Joo ri terkejut ketika menyadari kedatangan Ji hoon.
“apa yang terjadi sebenarnya… apa seperti yang kemarin?”Tanya Ji hoon lagi, menatap Joo ri. “kenapa oppa disini… bukankah aku sudah bilang untuk pergi”seru Joo ri, menatap Ji hoon dan mengacuhkan pertanyaan Ji hoon
“aku tidak bisa membiarkan kau sendiri”jawab Ji hoon
“tapi….”
“apa yang terjadi?!?!”seru Yong jun tiba-tiba, menunjukkan keberadaannya, membuat Joo ri dan Ji hoon terdiam, menatap Yong jun.
Joo ri diam, menatap sesuatu dari balik tong kemudian mengalihkan pandangannya pada Yong jun, menatapnya serius “apa yang terjadi?!?!”seru Yong jun lagi, benar-benar tidak mengerti.
“aushhhh!!”seru Yong jun tidak sabar, bangkit dari tempatnya, menatap kearah dibalik tong sampah. Tak lama, hanya beberapa detik saat Yong jun berbalik dan mencoba mencari tahu, tiba-tiba sebuah peluru berdesing mengenai tong sampah, membuat Yong jun duduk merunduk kembali.Yong jun diam, menatap Joo ri terkejut “ap..apa yang…”
Tidak hanya keterkejutan Yong jun yang membuat Joo ri semakin kesal, namun beberapa orang yang berlari cepat dan berteriak meninggalkan lokasi tempat Joo ri dan Yong jun berada “ck!! Aussshhh!!”seru Joo ri kesal, menatap masih banyaknya orang yang berlari berusaha menyelamatkan diri mereka.Joo ri mengambil ponselnya cepat, menekan sebuah nomer, yang hanya beberapa detik, Joo ri dapat berbicara pada seseorang dibalik ponselnya.
“LUKE!! POSISI!?!”seru Joo ri melalui ponselnya, sambil menarik kerah kemeja Yong jun dan menggerakkan kepalanya, memberikan isyarat pada Ji hoon untuk mengikutinya untuk pergi dari tempat dimana ketiganya berada, untuk mencari tempat berlindung yang lebih baik. “BAIK… ketemu disana!! Aku sedang membawa mereka ketempat itu!!” kata Joo ri melalui ponselnya.
Joo ri menatap sekelilingnya, hanya tinggal beberapa orang yang terlihat berlari meninggalkan tempat kejadian. Joo ri mengalihkan pandangannya menatap berkeliling, mencari. Dengan kemampuannya, Joo ri berhasil mengetahui keberadaan penembak-penembak itu.
“ada 3 orang disana…”
“bagaimana…?” Tanya Yong jun, menatap Joo ri bingung.
Ji hoon terlihat diam seakan ia sudah mengerti.
“kalian harus pergi kebalik toko itu… Luke menunggu kalian…”
Yong jun kini terlihat diam ditempatnya, menatap Joo ri, sedangkan Ji hoon terlihat terperangah mendengar ucapan Joo ri “apa yang akan kau lakukan?”Tanya Ji hoon, menatap Joo ri khawatir. “kau tidak akan…?” Ji hoon tidak dapat melanjutkan ucapannya, menatap Joo ri tajam. “tapi…”tambah Ji hoon lagi.
Joo ri melongokkan kepalanya dari balik dinding yang tak lama kemudian terdengar sebuah peluru mengenai dinding, membuat Joo ri menjatuhkan dirinya berlindung dibalik dinding. Joo ri membuka pistolnya, mengecek isi pelurunya, kemudian mengalihkan pandangannya menatap Yong jun yang terdiam, masih dengan keterkejutannya dengan peluru yang baru saja terlempar menembus dinding dibelakang mereka.
“kalian pergi dari sini!!”kata Joo ri kemudian, menatap Yong jun dan Ji hoon dihadapannya, setelah ia melihat sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka.
“apa maksudmu…”Tanya Yong jun
“tidak…!!”jawab Ji hoon
“ausshhh…!! Pergi sekarang!!”seru Joo ri, menatap marah pada Ji hoon. “Luke ada disana” kata Joo ri menunjukkan posisi Luke dan mobilnya yang ada di bagian lain toko tempat ia berlindung.
“apa yang akan kau lakukan…?”Tanya Ji hoon
”…aku ingin kalian segera pergi bersama Luke..”terang Joo ri lagi
“tapi…”
Luke terlihat diam, berlindung dibalik mobilnya, menatap sekelilingnya sebelum akhirnya ia beranjak berlari kearah Joo ri, Ji hoon dan Yong jun berada.
“bagaimana…?”Tanya Luke tiba-tiba, mengangkat senjatanya
“tiga orang… disana…” kata Joo ri menunjukkan tempat di balik pohon yang jauh dari tempat ke empatnya. Luke menatap orang itu yang tengah mengamati keempatnya dengan pistol terangkat. “disana…”tambah Joo ri lagi yang menunjukkan sebuah tempat dibalik sebuah kursi besi panjang. Luke mengalihkan pandangannya kembali, menatapnya. Ia dapat melihat orang itu tengah mengganti pelurunya, dengan posisi membelakangi ke empatnya.
“dan terakhir… disana…”kata Joo ri, menunjukkan lokasi penembak ketiga dengan dagunya pada sebuah toko, berjarak 2 blok dari tempatnya. Luke menghela napas pelan, dan menatap Joo ri tajam. Luke terlihat tersenyum, terpesona dengan kemampuan Joo ri. “… aku melihatnya dari arah mereka menembak pada tong sampah tempatku bersembunyi…”
“apa rencanamu…”potong Luke, menatap Joo ri, tidak memperdulikan tatapan Yong jun maupun Ji hoon di antara mereka.
Joo ri menatap Luke tajam dan penuh keyakinan, kemudian mendekatkan kepalanya pada kepala Luke, membuat Ji hoon membelalakkan matanya tak terkecuali Yong jun. Joo ri terlihat mendekatkan mulutnya pada telinga Luke dan membisikkan sesuatu di sana.
Luke diam mendengarkan, menatap Joo ri kemudian menganggukkan kepalanya mantap “kalian… ikut aku…”kata Luke, menatap Ji hoon dan Yong jun.
“tapi…” Ji hoon, menatap Joo ri, khawatir
“cepat!! SEKARANG!!” seru Joo ri kemudian, menarik kerah baju Yong jun untuk bangkit dan mendorongnya untuk segera berlari bersama Luke “tapi Joo ri-aa” kata Ji Hoon menatap Joo ri
“pergi oppa!! SEKARANG!!”
“tapi…”
“disini terlalu berbahaya…!!”tambah Joo ri lagi, menatap Ji hoon dan sesaat kemudian, ia sudah beranjak pergi, mendekati seseorang yang terlihat menyelinap diantara beberapa kursi, tong sampah dan dinding toko. Joo ri menatap mereka, mencari tempat perlindungan yang lebih dapat menjangkau penyerang itu, dan mulai membidik, sebelum mengeluarkan timah panasnya.
Yong jun duduk diam, tenang ditempatnya, tidak seperti sebelumnya saat ia ada dihadapan Joo ri. Ji hoon mengalihkan pandangannya, gelisah sekaligus khawatir akan keselamatan Joo ri “…kau!!... kenapa kau tidak menolong Joo ri”seru Ji hoon pada Luke yang saat itu tengah berperan sebagai supir untuk keduanya.
Luke diam, tidak menggubris ucapan Ji hoon “hei!!”seru Ji hoon lagi. Luke berdecak kesal dan semakin mempercepat laju mobilnya, menembus angin.Hingga hanya berselang beberapa menit kemudian, laju mobil mulai melambat dan mulai masuk ke sebuah rumah. Rumah Yong jun tepatnya. Rumah yang tentu saja sudah dilengkapi dengan system pengamanan yang canggih dan ketat, atas permintaan Joo ri.
“aku menolongnya… aku membawa kalian ketempat yang aman…”kata Luke lagi, menatap Ji hoon kesal. Ji hoon diam ditempatnya, menatap Luke. Luke masih diam ditempatnya menatap tajam Ji hoon.
“kalian berdua tetap disini… aku harus melakukan apa yang Joo ri perintahkan”kata Luke menatap Ji hoon dan Yong jun. Yong jun terlihat diam ditempatnya, menundukkan kepalanya, terlihat memikirkan sesuatu sedangkan Ji hoon menatap Luke khawatir.

Ji hoon duduk diam ditempatnya, setelah ia mengantar kepergian Luke dengan sebuah pesan darinya, sedangkan Luke terlihat menghentikan laju mobilnya sesaat dan menekan sebuah alat ditangannya, memunculkan titik merah disana, menandakan alat itu berfungsi dengan baik.
“bagus…”gumam Luke yang kemudian melajukan mobilnya kembali, cepat menembus angin.
************
Sudah hampir setengah jam berlalu sejak kejadian itu. Joo ri menarik napas panjang. Keheningan merajai sekelilingnya. Sudah hampir 1 jam tempat itu dikosongkan. Tidak ada tanda-tanda apapun disana, hanya suara hembusan angin dan gemerisik daun yang tertiup angin di puncak pohon. Joo ri memeriksa isi pistolnya kembali. Ia memegang 2 senjata ditangannya. Revolver dan baretta kesayangannya.
Joo ri melongokkan kepalanya, melihat kearah dimana para penyerang berada, dan kejutan untuknya, saat itu tiba-tiba sebuah timah panas mengarah padanya dan mengenai tepat di dinding di sisinya.
Joo ri mendesah kuat “hampir saja…”gumamnya
Joo ri masih terlihat diam beberapa saat, menatap jam ditangannya dan sesaat kemudian, akhirnya ia mulai menetapkan sesuatu dihatinya, ia harus segera menyelesaikannya.
Joo ri keluar dari tempat persembunyiannya, berlari cepat, kearah sebuah pohon besar yang tak jauh berada di depannya. Salah satu diantara mereka mengetahuinya dan menembakkan peluru berkali-kali padanya. Beberapa kali meleset, namun… Joo ri terlihat meringis ditempatnya, memegang erat lengannya. Joo ri merasakan lengannya robek. Timah panas itu menyerempet lengannya. Joo ri menyobek kain dikemejanya dan mengikat kuat pada lengannya. Darah terlihat mulai merembes dikain itu.
Joo ri diam ditempatnya, mencoba mengamati para penyerang itu. Joo ri menarik napas panjang sesaat dan menghembuskannya panjang. Joo ri mengalihkan pandangannya berkeliling mencari sesuatu, dan… ia menemukannya. Cermin persimpangan jalan, ia dapat melihatnya, berdiri kokoh membelakanginya. Joo ri menatap cermin itu, dan senyum terlihat merekah di wajahnya
“baik…sekarang…”kata Joo ri berkata pada dirinya sendiri.
Joo ri mulai keluar dari persembunyiannya, dan berlari sambil membidik dan mengeluarkan timah panas dari senjatanya sebelum Joo ri menjatuhkan dirinya, bersembunyi dibalik kursi dari batubata.
Terdengar teriakan dari salah satu penyerangnya tepat saat Joo ri menjatuhkan dirinya tengkurap dibalik kursi batubata. Joo ri menarik napas panjang disana, dan mulai membidik lagi. Ia melihat orang salah satu penyerangnya yang berdiri dibalik kursi besi panjang berlutut jatuh, menekan kuat bahunya.
Joo ri menghembuskan napasnya panjang memeriksa sisa pelurunya. Bersandar dibawah kursi batubata tersebut,ia dapat mengamati 2 orang yang lain yang terlihat khawatir melihat salah satu kawannya yang terluka.
Keadaan sunyi senyap, yang terdengar hanya erangan sakit dari penyerang yang terluka oleh Joo ri. Tidak terlihat gerakan atau suara apapun dari keempatnya, namun itu hanya sesaat tak lama kemudian terdengar erangan yang lain yang lebih keras dari sebelumnya dari arah yang berbeda. Joo ri mengangkat kepalanya melihat kearah cermin tikungan jalan. Sesuatu sedang bergerak diantara mereka.
Joo ri terdiam, menatap lebih tajam dan lebih serius ke cermin, kemudian sesuatu membuatnya tersadar, Joo ri bangkit dari tempatnya, masih menatap cermin diatasnya. Dan saat itu ia melihat sesuatu yang bergerak cepat, berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, bahkan sesuatu itu tidak hanya menarik perhatian Joo ri melainkan juga para penyerang itu. Salah satu diantaranya jatuh pingsan. Dan 2 yang lain menembak sesuatu yang bersembunyi di balik dinding atap toko. Joo ri diam ditempatnya, mengamati tempat itu.
Bingung antara menyerangnya juga atau membantu orang yang entah siapa itu yang bersembunyi. Joo ri diam ditempatnya dan taklama kemudian ke 2 orang yang lain terjatuh pingsan ditempat mereka. Orang yang entah siapa itu terlihat turun dari atap dan berdiri menatap ketiga penyerang dan juga Joo ri yang masih diam ditempatnya. Orang itu mengambil tali dan mengikat ketiga penyerang itu. Joo ri masih diam ditempatnya, menatap orang itu, hingga orang itu beranjak pergi setelah mengalihkan pandangannya menatap Joo ri yang diam masih terdiam ditempatnya. Orang itu pergi dan kesadaran Joo ri kembali, Joo ri berlari kearah para penyerang yang terikat di hadapannya.
Joo ri menatap orang misterius itu lagi, namun orang itu sudah tidak terlihat lagi, Joo ri diam, menghembuskan napas dan menatap para penyerang yang terikat dan pingsan dibawahnya.
Joo ri menyadari sesuatu, secarik kertas terselip di tali para penyerangnya. Joo ri mengambilnya tepat ketika seseorang memanggilnya.
“kolonel…”panggil orang itu
Joo ri mengalihkan pandangannya menatap pemanggilnya, dan keterkejutan terlihat diwajahnya.
“ya…”jawab Joo ri, menatap Luke yang berdiri dibelakangnya.
“apa itu kolonel..” Tanya Luke, menatap Joo ri dan kertas ditangannya bergantian, bingung. Joo ri diam ditempatnya, terlihat menyadari sesuatu kemudian segera disembunyikannya secarik kertas ditangannya itu, menatap Luke yang terlihat diam dibelakangnya, menatap Joo ri curiga.
*********
Joo ri diam, tidak mendengarkan LetJen Kang yang berbicara di depan ruangan saat ia kembali ke kantor pusat. Rasa penasaran dan bingung masih menyertainya.

“kolonel…”
Joo ri terlihat masih diam ditempatnya. pikirannya melayang jauh. Bukan Luke… lalu siapa…? Apa letJen Kang tahu.. siapa…, batin Joo ri, terdiam berpikir ditempatnya, hingga tiba-tiba seseorang menarik lengannya, membuatnya tersadar dari keterdiamannya.
Joo ri menatap Luke yang duduk disisinya. “hah?!?”ujar Joo ri, menatap Luke. Luke menatap Joo ri dan memberikan isyarat dengan mata, menunjuk pada LetJen Kang yang berbicara di depan ruangan.
“kau tak apa kolonel?” Tanya LetJen Kang
“ahh.. ne.. soseongheyo…”
“lukamu tak apa bukan…?”Tanya Letjen Kang lagi.
“ne… tidak masalah…lanjutkan saja…”jawab Joo ri, yang kemudian terdiam kembali ditempatnya.
LetJen Kang menatap Joo ri, diam ditempatnya, berbagai hal berputar dibenaknya. Dan terdengar helaan napas panjang darinya. LetJen Kang menundukkan kepalanya sesaat sebelum akhirnya ia memutuskan untuk…

“sampai disini dulu… terima kasih untuk kerja keras kalian…”kata LetJen Kang. Semua orang diruangan itu terlihat mulai meninggalkan tempat mereka hingga akhirnya tersisa Joo ri, Luke dan LetJen Kang sendiri. Letjen Kang duduk disisi Joo ri, menatap Joo ri.
“bagaimana keadaanmu…”Tanya LetJen Kang tiba-tiba, memecah keterdiaman Joo ri.
“ahhh…”seru Joo ri terkejut, bangkit dari tempatnya, menatap sekelilingnya, bingung. “kemana semua orang…?”Tanya Joo ri, mengalihkan pandangannya.
“sudah selesai…”kata letJen Kan kemudian tersenyum menatap Joo ri
“ahh… mianhe Sunbae…”kata Joo ri kemudian, menjatuhkan dirinya dikursi lagi, menatap LetJen Kang dan kemudian menundukkan wajahnya, menyesal.
“tak apa… dan sekarang… saat ini kita berbicara sebagai paman dan keponakan…”kata Letjen Kang lagi, menatap Joo ri.
“de..?”
“…bagaimana dengan lukamu…? Tidak apa bukan…?”Tanya LetJen Kang
“ahh… ne ahjussi… baik… sudah terbiasa aku mendapatkan banyak luka di tubuh…”kata Joo ri, tersenyum menatap Kang ahjussi dihadapannya. Letjen Kang terlihat tersenyum menatap Joo ri.
“senyummu manis… seperti ibumu…”kata LetJen Kang lagi, menatap Joo ri
Joo ri diam, menatap LetJen Kang, kemudian senyum terlihat merekah kembali diwajahnya, Joo ri menundukkan kepalanya, teringat kembali “…ahh ne.. haraboji juga bilang seperti itu…”kata Joo ri
“ya… tapi sayangnya senyum itu sudah jarang terlihat lagi… gara-gara pekerjaanmu…”kata LetJen Kang
“mwo…?”
“ya… jabatanmu sebagai kolonel… dan apa yang harus kau lakukan di basecamp membuat kau harus menyembunyikan senyum itu…”kata LetJen Kang
“ahniya… tak apa ahjussi… bukankah ini keinginanku juga… lagipula haraboji tidak pernah memaksaku untuk mengambil jalannya…”hibur Joo ri.
Kang ahjussi tersenyum, kemudian mengangkat tangannya dan mengusap kepala Joo ri lembut. “kau sudah dewasa sekarang…”gumam Kang ahjussi pelan, namun masih dapat terdengar Joo ri. Joo ri tersenyum, kemudian keheningan meresapi keduanya. Joo ri diam, menundukkan kepalanya, teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya banyak berpikir, dan saat ia akan mengutarakannya, tidak menyangkan Kang ahjussi menanyakan hal yang mengganggunya itu.
“sebenarnya apa yang kau pikirkan…”Tanya Kang ahjussi
Joo ri menatap Kang ahjussi, ia terdiam sesaat “…errmmm… anda menanyakan ini sebagai seorang paman atau sebagai seorang atasan…?”Tanya Joo ri, menatap Kang ahjussi penuh selidik.
“…ermmm… tergantung apa yang membuatmu banyak berpikir hingga tidak berkonsentrasi pada penjelasanku…”kata Kang ahjussi
“…ermmm… kalau begitu sebagai seorang atasan saja…”kata Joo ri lagi. Joo ri tersenyum sesaat dan mengambil secarik kertas yang disimpannya.
“ini…”kata Joo ri sambil menyerahkan secarik kertas tersebut pada LetJen Kang
“apa ini…”
“ini yang membuatku banyak berpikir…”kata Joo ri, menunjukkan pada secarik kertas yang dibawa LetJen Kang yang membuat LetJen Kang akhirnya mulai menatap secarik kertas itu.
Terdapat tulisan disana… sebuah kalimat dan sebuah inisial nama.
“JJ…”gumam LetJen Kang, menatap kertas ditangannya sesaat dan menerawang, mencoba mencari arti inisial nama itu di kepalanya.
“anda tahu…?”
“entahlah… tapi apa hubungannya denganmu…?”
“dia… entahlah… menolongku atau memang memiliki urusan dengan para penjahat itu… tapi… bisa dibilang secara tidak langsung dia menolongku… dia juga memberikan pesan dikertas itu…”
“jaga keselamatan…” gumam LetJen Kang, membaca pesan yang tertulis disecarik kertas itu.
“ne… tapi aku bingung…apa maksudnya?”Tanya Joo ri
“… ini pesan yang bagus…”jawab LetJen Kang, menatap Joo ri tersenyum
“aiissshh… ayolah Sunbae… jangan bercanda…”kata Joo ri, menatap kesal LetJen Kang dan menarik kembali secarik kertas dari tangan LetJen Kang, kemudian melangkah pergi meninggalkan LetJen Kang sendiri
“YYA!!”seru LetJen Kang, menatap Joo ri “apa begitu sikapmu pada atasanmu…!!”seru LetJen Kang tepat sebelum Joo ri menutup pintu dihadapannya. LetJen Kang tersenyum menatap pintu yang tertutup dihadapannya, namun senyum itu hanya sesaat, keseriusan terlihat diwajahnya.
“JJ…”gumamnya pelan, menundukkan kepalanya “apa dia…”tambahnya lagi, kemudian menghela napas panjang, meyakinkan dirinya.
*********
Joo ri terlihat diam, duduk kursi penumpang, disisi Luke. Keduanya kini berada dalam mobil dan melaju cepat kearah rumah Yong jun. segala urusan sudah selesai, dan waktunya untuk bekerja kembali disisi Yong jun.
Joo ri diam, membuat Luke mengalihkan pandangannya dari jalanan, melirik sekilas pada Joo ri.
“apa yang kau pikirkan…”Tanya Luke tiba-tiba ketika ia memutas setirnya berbelok ditikungan.
“ahh… ahniya… tak ada…”
Luke diam sesaat, menatap Joo ri “artinya ada yang kau pikirkan kalau begitu…”
Joo ri mengalihkan pandangannya, menatap Luke, mencoba menebak sama halnya dengan Luke, berkutat dengan pikirannya, menebak sesuatu yang berputas di pikiran wanita disisinya.
“apa… berhubungan dengan Yong jun…?”tebak Luke lagi, menghentikan laju nobilnya, menatap rumah dihadapannya sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya menatap Joo ri yang tengah menatapnya.
“tentu saja bukan… untuk apa aku memikirkan laki-laki itu… aku… yahhh… mungkin juga… tapi ini berkaitan dengan keselamatannya… aku…sedikit bingung…”jawab Joo ri
Luke diam, menatap Joo ri “apa yang kau bingungkan… apa tentang tugasmu…”
“ne… tugasku…”jawab Joo ri. Joo ri mendesah keras “haraboji…ah maksudku Jenderal memerintahkanku untuk melakukan penjagaan pada Yong jun… anehnya ini hal yang terlalu sepele untuk seorang anggota angkatan darat…kenapa harus aku… kenapa bukan dari lembaga resmi sendiri… dan Yong jun… apa yang terjadi padanya sehingga ia membutuhkan seorang bodyguard untuknya… ini…”
“tidak masuk akal…”sambung Luke, tersenyum
“ne… tidak masuk akal…”tambah Joo ri
Luke menatap Joo ri yang menundukkan kepalanya, kemudian ia mendesah kuat, dan mengambil sebuah remote kontrol dimana terdapat lampu kecil merah disana. Lampu itu membuat Joo ri bertanya-tanya “apa itu…?”Tanya Joo ri
“aku menambahkan pengaman…”
“mwo…?”
“dirumuah itu… sehingga tidak ada satu orangpun yang bisa masuk kedalam dan keluar dari rumah itu…”terang Luke
Joo ri diam, menatap Luke kesal “… ini perintah dari LetJen… maaf tidak memberitahu dirimu sebelumnya… kolonel…”kata Luke
Joo ri masih diam “tak apa…”jawab Joo ri yang kemudian membuka pintu mobil disisinya dan keluar. Luke menekan tombol pada remote kontrol ditangannya, membuat alarmnya non aktif.
“seharusnya tidak ada yang keluar dan masuk dari tempat ini…”gumam Luke pelan dan mengikuti langkah Joo ri masuk kedalam rumah itu.
*************
End Of Chaptermaaf ada kesalahan...
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)