Author Topic: Masih Sahabatku (♥ Kekasihku ♥) ~ Chapter 15, Update 08.05.2011 ^^  (Read 26769 times)

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
CHAPTER 5


SONG OF THIS CHAPTER. SILVERCHAIR - Emotion Sickness





Ji Sung sedang merebahkan dirinya di atas sofa di apartemennya. Ingatannya melayang ke kejadian tadi siang. Kali ini dia benar-benar penasaran kenapa Eun Cha berhenti melukis padahal ia sangat tahu bahwa Eun Cha benar-benar menyukai melukis dan ia juga tahu betapa berbakatnya Eun Cha. Ji Sung beranjak dari sofanya kemudian menuju ke kamarnya. Membuka laci meja yang ada di pojok ruangan lalu mengeluarkan sketsa lukisan Eun Cha yang dulu dipungutnya. Dia masih menyimpannya sampai sekarang.


“Kira-kira apa yang akan di katakannya kalau dia tahu aku masih menyimpan sketsa ini” gumam Ji Sung pelan.



*****************************


FLASHBACK


Siang itu saat memungut sketsa yang dibuang oleh Eun Cha, Ji Sung merasakan sesuatu perasaan yang aneh. Alih-alih membuang lukisan itu namun ia malah menyimpannya. Ji Sung juga tidak masuk di kelas selanjutnya, ia memilih untuk membolos toh tidak akan ada yang mencariku atau merindukanku pikirnya. Karena itu Ji Sung memilih untuk kabur lewat tembok belakang sekolahnya.


Ji Sung berjalan menyusuri kota tanpa tujuan cukup lama ia berjalan tanpa arah dan pada saat melewati taman saat ia tidak sengaja melihat seekor anak anjing yang kesepian dan terlihat kelaparan, ia pun mendekati anak anjing tersebut yang kondisinya lemas.


“Hey kau lapar yah” Ji Sung berbicara dengan anak anjing tersebut yang hanya di jawab dengan menyalak pelan. Ji Sung tertawa pelan kemudian mengeluarkan sekotak susu dari dalam tas ranselnya dan memberikan kepada anak anjing itu yang kemudian meminumnya dengan lahap.


“Dimana orang tuamu, apa mereka meninggalkanmu juga” sahutnya kembali. Anak anjing itu kembali menyalak namun kali ini agak keras. “Hahaha, kau sudah semangat kembali rupanya” lanjutnya. Anak anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya senang. “Kau ini mirip sekali dengan dia”


Ji Sung terus bermain dengan anak anjing itu sampai Eun Cha datang dan akhirnya membawa anak anjing itu bersamanya.


Malam itu seperti biasa Ji Sung berada di kumpulan geng balap motor liar untuk berlomba seperti biasanya, dan kali ini lagi-lagi ia menang taruhan. Ji Sung cukup terkenal di kalangan geng motor karena kelihaiannya dalam berlomba. Sebenarnya banyak gadis-gadis yang menyukainya namun karena ia selalu bersikap dingin saat berada di lapangan makanya tidak sedikit juga yang segan untuk mendekatinya.





Malam itu sebenarnya hari sudah beranjak pagi saat Ji Sung melewati depan rumah Eun Cha. Ia berhenti sebentar di depan kediaman Eun Cha dan melihat ke sekeliling, setelah itu ia pun pulang ke rumahnya. Saat itu sudah sangat larut malam saat Ji Sung tiba di rumahnya. Rumahnya cukup besar namun sangat sepi karena Ji Sung hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang sangat jarang pulang. Seperti biasa Ji Sung langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2. Saat ia masuk ia kembali melihat gambar sketsa milik Eun Cha yang dia letakkan begitu saja diatas mejanya. Ji Sung membawa sketsa itu ke tempat tidurnya dan kembali di pandanginya lukisan itu.  


*******************


Pagi itu Ji Sung bangun kesiangan seperti biasanya karena tidak ada orang yang membangunkan dia, dengan agak malas ia beranjak dari tempat tidurnya kemudian mandi dan bersiap ke sekolahnya. Entahlah biasanya ia sangat malas untuk ke sekolah namun kali ini seperti ada sesuatu yang menariknya untuk pergi.


Hari ini pelajaran olah raga, semua murid menuju ke lapangan. Hari itu semua murid menuju ke lapangan atletik karena hari itu tema pelajaran atletik. Ji Sung seperti biasa membolos, ia lebih suka menyendiri di atap sekolahnya yang sepi tanpa gangguan. Dari tempatnya berdiri sekarang ia bisa melihat dengan jelas ke lapangan dan memperhatikan teman-temannya satu persatu. Saat ia mengamati ia agak heran karena tidak melihat Eun Cha disana.


“Kenapa dia tidak ikut pelajaran olahraga, apa terjadi sesuatu padanya” gumam Ji Sung pelan kepada dirinya sendiri. “Hey Ji Sung kenapa kau perduli dengan dia” kembali ia berguman sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Namun rasa penasaran sudah menghinggapinya, pikirannya kalau-kalau Eun Cha juga ikut membolos bersamanya. Ji Sung pun berjalan mengitari setiap sudut atap sekolah itu namun tidak menemukan Eun Cha dimanapun. Ji Sung menghembuskan nafasnya pelan. Heran dengan dirinya sendiri yang begitu penasaran dengan gadis itu. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Ji Sung kemudian berjalan ke sebuah tempat disudut ruangan. Tapi sial baginya karena kurang berhati-hati telapak tangan kirinya teriris ujung besi pagar yang tajam. Darah segar mengalir dari telapak tangannya yang terluka. “Aush….” Jeritnya pelan. Dilihatnya telapak tangannya yang terluka dan mengeluarkan darah segar, sambil menahan rasa nyeri yang keluar bersama darah segar, Ji Sung berjalan menuju ke klinik sekolahnya. Tangan kanannya menekan erat tangan kirinya menahan darah supaya tidak keluar lebih banyak lagi.


Saat ia sampai di klinik, dokter jaga yang melihatnya shock dan heran. Ji Sung tidak mengatakan apa-apa hanya diam, Dokter Kim menyuruhnya untuk masuk dan duduk di kursi klinik itu mengambil kapas dan memberikannya kepada Ji Sung untuk menekan pendarahan di tangannya.


“Hey, kau kenapa apa yang terjadi?” Tanya Dokter Kim sambil membersihkan darah di tangan Ji Sung


“Tidak sengaja teriris besi saat aku memegang pagar” jawab Ji Sung datar.


“Kau ini pasti kau bolos pelajaran yah?” Tanya Dokter Kim kembali. Ji Sung hanya diam tidak menjawab.


“Berarti aku benar buktinya kau tidak menyangkal, dimana kau terluka”


“Di atap” jawab Ji Sung pendek dan datar.


“Siapa namamu dan kelas berapa?” Tanya dokter Kim kembali


“Ji Sung kelas XI-D”


“Wow sepertinya lukamu lumayan dalam dan harus dijahit. Berbaringlah dulu disana sementara aku menyiapkan semuanya, jangan berisik karena ada pasien lain yang sakit” Dokter Kim berkata lembut dan mengedipkan sebelah matanya kearah Ji Sung. Ji Sung menurut saja, ia berjalan menuju ke tempat yg di tunjukkan oleh Dokter Kim, saat ia menyibakkan tirai, ia melihat Eun Cha disana sedang tertidur meringkuk, wajahnya pucat. Ji Sung berhenti sejenak memandang Eun Cha dengan pandangan heran. Eun Cha membuka matanya karena ia merasa ada yang datang dan melihatnya. Saat ia membuka matanya Eun Cha merasa shock bukan karena ia melihat Ji Sung namun lebih karena melihat darah di telapak tangan Ji Sung.


Mereka berdua terdiam saling berpandangan kaku, tidak ada yang berbicara sampai dokter Kim mengejutkan mereka berdua.


“Eun Cha, kau sudah bangun apa masih sakit” Dokter Kim memandang Eun Cha yang saat ini terbangun.


“Dan kau Ji Sung bukankah aku menyuruhmu untuk berbaring kenapa kau masih berdiri disini” lanjutnya. Ji Sung menoleh sekilas ke dokter Kim kemudian ia kembali berjalan menuju ke bangsal di samping Eun Cha. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia kini berbaring. Dokter Kim mulai menjahit luka Ji Sung kemudian setelah selesai iapun membalut luka Ji Sung dengan perban.


“Nah, sudah selesai. Tapi kau beristirahatlah dulu disini kau banyak kehilangan darah” tutur Dokter Kim.


“Aku pergi sebentar membereskan ini semua, kalian berdua baik-baiklah istirahat disini dan jangan berisik ok. Ji Sung kali ini aku tidak akan melaporkan kalau kau membolos” Dokter Kim tersenyum kemudian berlalu pergi keluar. Sekarang tinggal Eun Cha berdua dengan Ji Sung diruangan itu. Ji Sung memandang tangannya yang terbalut perban, ia membolak balik tangannya saat mencoba mengepalkan tangannya ia meringis menahan sakit. Eun Cha memperhatikan Ji Sung dengan sudut matanya. Namun ia tidak bicara.


“Kau membolos lagi?” seru Eun Cha tiba-tiba, Ji Sung menoleh kearah Eun Cha.


“Wegude? Kau juga kan?” jawab Ji Sung datar. Eun Cha terdiam sejenak, matanya menerawang ke langit-langit.


“Tidak!!! aku ini sakit tahu, jangan samakan aku denganmu” Eun Cha menyahut datar. “Oh ya!” jawab Ji Sung sinis tertawa dingin.


“YYa, aku ini benar-benar sakit tahu, jangan karena kau pernah memergokiku mencuri aku kau samakan denganmu” Eun Cha berteriak tidak terima. Dia bangkit dari tidurnya, duduk dan memandang tajam kearah Ji Sung, bibirnya cemberut.


“Kalau kau bisa berteriak seperti itu, maka tidak akan ada yang percaya kalau kau sakit” Ji Sung tertawa kecil. Eun Cha terdiam, wajahnya menjadi merah karena malu. Kemudian iapun kembali berbaring dan memunggungi Ji Sung menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.


“Gomawo” sahut Eun Cha pelan. Ia masih pada posisi memunggungi Ji Sung.


“Mwo? kenapa kau berterima kasih kepadaku hey nona sempurna?”


“Karena… kau tidak memberitahukan kejadian itu kepada yang lain dan karena kau sudah memberikan aku seekor teman” Eun Cha tersenyum, namun tentu saja Ji Sung tidak melihatnya.


“Kau kira aku ini laki-laki penggosip apa dan mengenai anjing itu aku tidak memberikannya karena dia sendiri yang mau ikut denganmu” sahut Ji Sung datar.


Eun Cha membalikkan badannya kearah Ji Sung. Ia menatap Ji Sung. “Kenapa kau menganggapku kesepian?” tanyanya. Eun Cha mengangkat alisnya pertanda kalau ia sangat penasaran dengan pernyataan Ji Sung kemarin. Eun Cha masih menunggu jawaban Ji Sung. Ji Sung menoleh memberikan senyuman di sudut bibirnya.



 


*******************


JI SUNG

 
Hari ini aku pulang dengan luka di telapak tanganku, sial rasanya sakit sekali, bu dokter tadi memberitahuku kalau seminggu lagi jahitannya baru bisa di lepas. Dasar sial aku tidak bisa ikut balap motor seminggu ini. Aush…. Tapi pembicaraanku dengan si nona sempurna tadi sedikit banyak menghiburku. Setidaknya ada sedikit hiburan di hari sial ini. Lucu sekali saat aku tahu ternyata ia sedang sakit bulanan dan perutnya terasa nyeri. Wajahnya memerah seperti tomat saat Dokter Kim membuka “aib”nya. Lucu sekali melihat seorang gadis yang sedang sakit namun masih bisa berteriak dan mengumpat orang. Hahaha….


EUN CHA


Ji Sung, sebenarnya dia itu manusia seperti apa. Kadang dingin dan sinis namun terkadang hangat, dan saat ia tersenyum dan tertawa ya Tuhan, ia sungguh sangat tampan sekali. Dokter Kim kenapa sih pake membuka aibku di depannya, Yash… dasar dokter genit. “Hanya dirimu sendiri yang tahu apa kau benar-benar kesepian atau tidak”. Apa maksudnya bicara seperti itu, ia kembali meninggalkan teka-teki yang harus kujawab sendiri. Arghhhh dia benar-benar membuatku gila.



*********************


Eun Cha mengomel sendiri. Separuh hatinya kesal dengan Ji Sung namun disisi lain ia juga senang bercampur malu menjadi satu apalagi saat Ji Sung tertawa keras ketika tahu alasan Eun Cha absen di pelajaran olah raga hari ini namun Eun Cha juga khawatir dan cemas melihat luka Ji Sung. Sore itu Ji Sung duduk sendirian disebuah dermaga kecil dekat pelabuhan, menikmati suasana laut disore hari dan menunggu matahari tenggelam. Suasana cukup sepi hanya ada dia disana.




Cukup lama Ji Sung berdiam diri hanya menikmati pemandangan itu sendiri tanpa ada yang menggganggunya ketika matanya menangkap bayangan seseorang yang sedang berdiri diatas bebatuan yang menjorok ke laut memandang kearah lautan lepas. Ia menajamkan kembali matanya memperhatikan orang tersebut.


“Eun Cha, apa yang dia lakukan disana” gumamnya kepada dirinya sendiri saat ia sadar bahwa yang dilihatnya tidak lain dan tidak bukan adalah sosok Eun Cha. Hati Ji Sung berdebar-debar bayangan pikiran buruk menari-nari di otaknya. Ia kemudian berjalan mendekati Eun Cha yang masih berdiri disana.


“Hey, sedang apa kau disana” Ji Sung bicara saat ia sudah berada di belakang Eun Cha. Eun Cha menoleh ke belakang melihat Ji Sung. Ji Sung melihat Eun Cha yang sedang menangis, wajahnya terlihat sangat sedih, sangat berbeda dengan Eun Cha yang dilihatnya tadi pagi. Eun Cha masih diam tidak menjawab. Ji Sung mendekati Eun Cha perlahan.


“STOP Jangan mendekat!!” seru Eun Cha memperingatkan Ji Sung untuk tidak melangkah lebih dekat kepadanya. Ji Sung berhenti di tempatnya.


“Apapun permasalahanmu sekarang, kumohon jangan melakukan hal yang tidak-tidak, tidak ada masalah yang tidak bisa dibicarakan” Ji Sung berkata pelan namun tajam di saat yang sama. Eun Cha masih tidak bergeming dari tempatnya.


“Apa perdulimu hah, kau tidak mengenalku dan jangan bersikap seolah-olah kau tahu segalanya tentang aku” Eun Cha meluapkan segala emosinya. Ji Sung terdiam hanya memperhatikan Eun Cha yang sedang marah atau lebih tepatnya depresi. Tidak bicara hanya menunggu reaksi Eun Cha selanjutnya.


“ Aku benci dengan orang-orang sepertimu yang sok mengenalku padahal kau tidak tahu sama sekali, cih nona sempurna nona sempurna apa” Eun Cha masih terus mengomel, air matanya jatuh membasahi pipinya, bibirnya bergetar menahan luapan emosi.


“Kalau begitu berarti kita sama, aku juga benci dengan gadis sepertimu yang selalu berpura-pura dan memakai topeng untuk menutupi kedokmu yang sebenarnya. Kau tau kalau kau tidak sempurna tapi kau memaksakan dirimu untuk menjadi sempurna, selalu berpura-pura tegar padahal kau sangat lemah, cih kau bahkan lebih parah” sahut Ji Sung tajam.


“Mwo?” Eun Cha membelalakkan matanya. Kali ini ia sangat marah dan tersinggung dengan ucapan Ji Sung namun ia tidak dapat menyangkal karena sebagian besar apa yang dikatakan oleh Ji Sung semuanya benar.


“Kau tidak bisa menyangkalnya karena aku benar kan, dasar gadis bodoh” Ji Sung menarik bibir atasnya seolah-olah mencibir Eun Cha. “Kalau kau begitu ingin mati, lakukan saja aku tidak perduli tapi jangan di hadapanku arasso karena aku tidak mau dihantui olehmu seumur hidupku”


“Mwo??? YYa…” Eun Cha berteriak tajam kearah Ji Sung.


“APAAA!!!” Sahut Ji Sung tidak kalah kerasnya. Eun Cha terdiam, wajahnya tertunduk lesu. Semua ini terasa berat baginya. “Cepat pulang!!!” sahut Ji Sung kembali. Eun Cha tidak bergeming. Ia masih tertunduk. Ji Sung menghela nafasnya dalam. Ia kemudian berbalik dan berlalu namun baru beberapa langkah ia mendengar suara seseorang yang jatuh ke laut. “****, yang benar saja” Ji Sung membalikkan badannya dan benar saja ia tidak melihat Eun Cha ditempatnya kemudian iapun berlari dan terjun ke laut.


Ji Sung berenang mencari sosok Eun Cha semakin ke dalam saat ia melihat sosok Eun Cha yang mulai tenggelam, ia mempercepat langkahnya dan meraih Eun Cha ke dalam pelukannya kemudian iapun membawa Eun Cha ke atas dan berenang menuju ke daratan. Untung baginya arus laut tidak begitu deras sehingga ia tidak mengalami kesulitan. Saat mereka telah sampai di daratan Ji Sung menggendong tubuh Eun Cha yang tidak sadarkan diri dan meletakkannya di atas pasir.


“YYa… bangun… Hey…. Eun Cha bangun…!!!” Ji Sung menepuk pipi Eun Cha panik namun Eun Cha masih tidak bereaksi, akhirnya Ji Sung memberikan nafas buatan dan menekan dada Eun Cha supaya air yang masuk ke rongga dadanya bisa dikeluarkan.


“Yya…Eun Cha…” Ji Sung masih berusaha dan beberapa kali memberikan bantuan pernafasan saat ia mendengar suara Eun Cha.


“Uhuk…uhuk…” Eun Cha terbatuk dan mengeluarkan air dari dalam mulutnya. Ji Sung memejamkan matanya sesaat dan menarik nafas lega. Eun Cha perlahan membuka matanya dan melihat sosok Ji Sung dihadapannya dengan wajahnya yang sangat cemas.





“Kau… “ sahutnya pelan


“Kau sudah gila yah kenapa kau terjun ke sana hah” umpat Ji Sung


“Bukankah kau bilang tidak perduli padaku lalu kenapa kau masih mau menolongku” Eun Cha berdiri dari posisinya dan terduduk.


Plakkkkk……


Suara tamparan keras terdengar. Ji Sung menampar pipi Eun Cha keras dan membuatnya memerah. Eun Cha memegang pipinya yang terasa sakit. Matanya memandang Ji Sung tajam.


“Sudah kubilang kalau kau ingin mati lakukan di lain waktu dan jangan didepanku, aku benar-benar benci dengan orang yang lemah sepertimu” Ji Sung berkata tajam pandangan matanya dingin menatap Eun Cha ia kemudian berdiri dan membalikkan badannya bersiap untuk pergi.


“apa ada artinya kalau kau bersikap seperti ini hah, dengan berbuat seperti ini apa kau pikir dunia akan berubah sesuai dengan yang kau kehendaki. Yya kau benar-benar membuatku muak, jangan pernah berpikir bahwa sekarang ini kau menangggung segala kemalangan di dunia ini, jangan pernah mengira kaulah satu-satunya orang yang patut dikasihani”


“Miane….” sahut Eun Cha pelan “Cheongmal Miane….” Eun Cha kemudian menangis, suara tangisnya sangat pedih menyayat hati Ji Sung yang mendengarnya.


“Aissshhhhh…. Siallll” teriak Ji Sung. Kakinya menendang pasir pantai itu dengan kesalnya. Eun Cha terus menangis mengeluarkan segala beban dan kepedihan yang disimpannya.       


Saat ini Eun Cha merasa seperti seorang pecundang. Ia tidak  mengerti dengan dirinya sendiri ia merasa tidak menjadi dirinya sendiri sekarang. Ia merasa tertekan untuk beberapa alasan, ia merasa sedih, marah, kesal, emosi bercampur aduk menjadi satu. Ia tidak bisa berkompromi dengan apapun sekarang.


EUN CHA


Kehidupan adalah kehidupan, dan aku membenci hidupku saat ini, bagaikan seorang pelacur. Aku membenci semuanya sekarang, mengapa batinku yang terluka tidak menikam di satu tempat malah membuat hidupku lebih berat dari sekarang dan sekarang aku merasa tangisanku akan meledak.


Aku merasa tertekan lagi, dan rasanya seperti seolah-olah aku sedang menunggu seseorang yang tidak akan kembali padaku lagi. Aku tidak tahu mengapa aku melakukan ini, tetapi aku tahu pada akhirnya aku akan sangat terluka! hanya saja setiap kali aku berpikir tentang orang itu, aku bisa tiba-tiba menangis. Dia memperlakukan aku seperti sampah namun hanya separuh hatiku saja yang membencinya dan tidak ingin berpikir tentang dia. Sekarang aku merasa sangat hampa dan merasa ingin bunuh diri!


JI SUNG



Sebenarnya apa yang terjadi dengannya, kenapa dia menangis seperti itu. Suara tangisnya sangat sedih menyayat hati. Haruskah aku menanyakan kepadanya, tetapi di sisi lain aku tidak ingin terlibat lebih dalam dengan urusannya karena aku sungguh tidak pernah suka ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi kenapa aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja. Ada sesuatu tentang dia yang membuatku bertahan dan rela melepaskan semua prinsip dan egoku. Ya Tuhan apa yang terjadi padaku. Siapa gadis ini sebenarnya kenapa sejak dia hadir hidupku seakan kacau balau namun disaat bersamaan juga terisi olehnya.


Sejak bertemu denganmu, hanya satu keinginanku. Melihatmu bahagia dan tidak menangis kembali. Aku sangat takut melihatmu seperti ini, aku takut jika setelah esok, kau tidak akan pernah tersenyum kembali. Mungkin aku yang sekarang benar-benar sudah gila.



*****************


Ji Sung berjalan mendekati Eun Cha kemudian duduk disamping Eun Cha yang masih menangis tersedu-sedu. Wajahnya tenggelam di lututnya. Ji Sung tidak mengeluarkan suara, ia hanya membiarkan Eun Cha menangis sampai ia lelah, hanya itu.


“Hey, sudah hentikan tangismu itu lihatlah matahari sedang mulai tenggelam apa kau ingin menyia-nyiakan pemandangan ini” Ji Sung berkata lembut. “Maaf aku sudah berkata kasar padamu” lanjutnya. Eun Cha perlahan mendongakkan kepalanya. Mengusap matanya yang basah dengan punggung tangannya, ia masih terisak namun ia merasa agak tenang sekatang. Matahari perlahan mulai menghilang dan sinarnya segera berganti dengan lampu-lampu kota yang menerangi sebagai gantinya.





“Kau lihat kan semua memiliki masanya, matahari meskipun bersinar dengan gagahnya tapi ia juga punya waktu istirahat dan digantikan oleh bulan. Meskipun bulan bersinar tidak seterang matahari namun bulan memiliki kegunaan memberikan cahaya pada malam yang gelap. Bukankah itu berguna. Tetapi bulan juga memiliki masa, meskipun ia menghiasi malam dengan indah namun ia harus mau berbagi tugas dengan matahari, itulah kehidupan. Ada sisi terang namun ada juga sisi gelap. Semua itu dinamakan keseimbangan. Jika kau hanya merasa senang tanpa pernah merasa sakit artinya kau tidak hidup. Meskipun kau jatuh jauh ke dalam, hidupmu tidak akan berakhir, meskipun kau terjatuh berkali-kali hidup akan terus berlanjut. Hidup tidak akan berakhir dengan mudahnya.”


Eun Cha tertegun mendengarkan kata-kata Ji Sung. Hatinya merasa damai. Ia menoleh kearah Ji Sung tersenyum dan kali ini dia juga melihat Ji Sung yang tersenyum balik kepadanya.


“Gomawo…” sahutnya pelan “Dan Miane…” Eun Cha menatap Ji Sung, matanya masih setengah bengkak setelah menangis tadi kemudian padangannya tertuju ke telapak tangan Ji Sung melihat perbannya yang berwarna merah. Sepertinya lukanya terbuka. “A…ii…itu…” sahut Eun Cha sembari menunjuk tangan Ji Sung. “Mi..Mi..Miane.. Oh Tuhan apa yang sudah kulakukan” Eun Cha menjadi panic, diraihnya telapak tangan Ji Sung dan dia kembali menangis.


“Yya… sudahlah tidak apa-apa kau ini cengeng sekali” sahut Ji Sung menepis tangan Eun Cha. Ia kemudian bangkit dari duduknya. Eun Cha masih bergetar, wajahnya pucat. Dengan panik ia merobek sedikit gaunnya kemudian mulai membalut luka Ji Sung.


“Yya…apa yang kau lakukan?” sahut Ji Sung.


“Menghentikan pendarahanmu, ayo kita ke rumah sakit aku akan mengantarmu” sahut Eun Cha panik. Ji Sung tertawa pelan. Meletakkan telapak tangannya yang tidak terluka di atas kepala Eun Cha dan sedikit mendorongnya ke atas.


“Kalau sampai kau ke rumah sakit dengan penampilan seperti ini maka aku bisa berurusan dengan polisi karena mengira aku melakukan sesuatu padamu” sahut Ji Sung tertawa pelan. Eun Cha memperhatikan penampilannya yang kusut dan acak-acakan.


“Sudahlah kau pulang saja aku akan menanganinya sendiri”


“Ta..Tapi….” Ji Sung menatap Eun Cha tajam dia kembali bersikap dingin. “Tidak ada tapi-tapi kita bertemu besok di sekolah arasso” sahut Ji Sung kemudian ia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Eun Cha.






**********************


Sesampainya dirumah, Nyonya Lee shock melihat keadaan Eun Cha.


“Eun Cha kau dari mana saja sayang, ibu sangat khawatir kenapa kau seperti ini apa terjadi sesuatu padamu nak” Nyonya Lee mendekati Eun Cha dan mulai menangis, Nyonya Lee mengelus rambut Eun Cha.


“Ak..Aku…aku baik-baik saja, tidak usah perdulikan aku Bu” Eun Cha menepis tangan ibunya dan berlari menuju ke kamarnya. Nyonya Lee memperhatikan kepergian putrinya itu lemas, ia terduduk di sofa dan menangis. Eun Cha samar-samar mendengarkan suara tangis ibunya namun ia segera menuju ke kamarnya dan mengunci dirinya disana.



TO BE CONTINUED.......

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^