Author Topic: The Wildest Affair of Ours (Chapter 4 Update - 7/9/2011)  (Read 5553 times)

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: The Wildest Affair of Ours
« Reply #45 on: August 07, 2011, 09:58:43 am »
Chapter 4


Dada bidang Seb dibalik setelan abu-abu..., mengintimidasi dan membentengi meja kerjanya dari pantulan sinar matahari pagi.

"Aku yang bertanggung jawab." Seb bersikeras.

Seb berencana akan menyewa perawat untuk Dad selama mereka berada di mansion Jaimes nanti. Itu bukan apa-apa. Namun amplop yang tersegel rapi ini..., ketebalannya menyingkapkan dengan jujur apa yang tersembunyi dibalik amplop.

Uang..., banyak uang.

Genggaman Libby mengerat pada ujung amplop, seakan kemarahan itu mengalir dan bermuara pada jari-jari panjangnya.

Aroma parfum berkelas yang menyelimuti tubuh Seb meneriakkan keangkuhan. Tidak salah. Karir adalah pasangan hidup Seb dan arogansi merupakan sahabat karibnya. Memutuskan segala pilihan sendiri..., memerintah seenaknya..., dan memperlakukan semua orang seolah ia pernah duduk disamping Tuhan. Terdengar sangat Sebastian.

"Saya tidak memerlukan uang Anda." Libby menaruh amplop itu, mati-matian mengendalikan tangannya agar tidak membanting atau melempar.

"Ambil..., Libby!" Kilatan mata Seb menahan wajah Libby..., menantangnya. Kalau saja bibir Seb tidak seseksi itu sampai membuat Libby berpikir seribu kali untuk melayangkan tinju.

"Ketika saya memberitahu Anda...,"

"Sialan Libby, jangan berbicara seperti para klien yang sedang mengemis kontrak." potong Seb jengkel, tapi tidak sebanding dengan kejengkelan Libby. Libby merutuk tanpa suara, menyadari ketampanan Seb tampak tidak berkurang sedikitpun padahal kebrengsekan pria itu mengguncang ambang kesabarannya.

Libby menahan nafas, menelan amukan yang hampir tumpah. "Begini, Sebastian, minggu lalu di rumah sakit, aku tak bercerita tentang penyakit Dad semata-mata supaya kau memberikanku uang. Dan, tidak, aku bukan pengemis, entah itu demi kontrak atau uang," ujar Libby perlahan, menyuntikkan harga dirinya pada setiap kata. Seb memang atasannya, dan Libby menghargai fakta itu, namun Seb kelewat bodoh jika mengharapkan toleransi untuk hal yang satu ini.

Sewaktu Libby bercerita, ia mengira Seb akan mengerti, bahwa ayahnya sakit dan Libby enggan meninggalkannya hanya untuk rencana menginap konyol Jaimes Wright. Lalu sepanjang waktu Libby membiarkan harapannya menggantung di udara, berpikir mungkin Seb bisa melepaskan 'tugas' ini darinya dan mencari wanita lain yang bersedia pergi 3 hari bersama diktator itu.

Tetapi alih-alih Seb hendak menyewa perawat pribadi, menawarkan uang, dan kembali pada rencana semulanya tanpa mempertimbangkan 'pembebasan' Libby.

Egois.

"Anggap ini bayarannya..., menjadi kekasih palsuku."

Oh, lagi-lagi uang yang berbicara.

"Tidak, Seb. Sebenarnya aku tak pernah menjawab 'ya' untuk tawaranmu itu, kau yang berasumsi begitu. Tapi kau benar, tadinya aku terlalu memikirkan Dad, aku tak mau kehilangan pekerjaan jadi aku menurut seperti bocah tolol. Namun aku bukan mantan asistenmu yang mungkin menganggukan kepala atas seluruh perintahmu..., termasuk menginjak harga dirinya sendiri." Melihat Seb bergeming tanpa ekspresi memanggil kepuasan mengisi benak Libby.

Libby berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan mantap, membiarkan Seb membisu dibelakangnya. Mungkin Libby akan menjadi pengunjung terlarang dalam kantor setelah ini. Namun ia tidak rugi. Dipecat adalah harga sepadan yang harus ia bayar untuk memusnahkan pria tak beradab macam Seb dalam hidupnya.

Terlebih, Mrs. Walker tetangga Libby sekaligus pemilik Cherubs Daycare, menawarkan lowongan paruh waktu kemarin pagi. Tetapi sekarang, Libby tidak perlu bekerja paruh waktu karena ia akan segera dikeluarkan oleh Seb dan memiliki seluruh waktu yang dibutuhkan Mrs. Walker untuk menjaga balita-balita lucu di Cherubs.


***

Libby menghilang dibalik pintu, langsung meninggalkan Seb tanpa tedeng aling. Entah kumpulan dari perasaan apa yang membuat Seb merasa kacau..., sekaligus takjub.

Libby baru saja melawannya.

Si mungil itu.

Seb bertopang dagu pada meja dengan pandangan menerawang. Ia sungguh lupa kapan terakhir kalinya ada seorang wanita yang berani menampik pesona Sebastian Marcus dan mendiktenya seperti yang Libby lakukan.

Seb tertawa sinis, lucu juga, selama ini para wanita mengejarnya karena uang. "Libby..., Libby...," Seb bergumam sedikit geli, tampang lugu Elizabeth pasti membuat semua orang salah menginterpretasikan kepribadiannya. Nyatanya, Libby seperti sekotak kembang api..., hanya berpenampilan polos diluar tetapi ledakan-ledakan besar tersimpan didalamnya.

Seb menarik laci meja lalu meraih majalah gosip yang diselipkan Barb kemarin, sebuah notes Post-It pink bertuliskan 'Hati-hati!' ditempelkan pada sudut kanan majalah.

Seb menatap tajam headline yang dicetak dengan ukuran raksasa..., sekarang Libby boleh pergi, tapi tunggu sampai ia melihat berita utama majalah ini.

Libby tak akan bisa kabur darinya.

Lagipula, tidak setiap hari Seb bertemu dengan wanita seunik Libby. Kalau sudah begini, Seb tak lagi bisa menjanjikan tempurung yang kokoh bagi dinding perasaannya.

Karena kali ini, ia benar-benar tertarik. Dan hanya Tuhan yang tahu kemana ketertarikan itu akan membawa Seb.
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...