Chap 17
“Nah, selesai sudah”
Hee Young menatap meja makan yang baru saja selesai ditatanya dengan pandangan puas…dua buah mangkuk berisi mie ramen instan panas yang baru saja selesai dimasaknya diletakkan di atas meja makan itu dengan ‘ditemani’ sumpit dan sendok yang berada di sisi kiri dan kanan mangkuk-mangkuk tersebut, pekerjaan yang sederhana tapi Hee Young sangat menikmatinya. Untuk merayakan ‘keberhasilannya’ itu Hee Young bertepuk tangan dengan riang sambil memuji dirinya sendiri,
“Pekerjaan yang sangat baik, Goo Hee Young-a! Chukae!”
“Chukae, nyonya muda Lee”
Sebuah suara yang khas disertai dengan tepuk tangan membuat Hee Young terlonjak, wajah sumringahnya berganti dengan ekspresi kaget. Seketika Hee Young membalikkan tubuhnya dan mendapati Hyun Soo bersandar dengan santai di dinding sambil menatapnya dengan pandangan geli.
“Hyun Soo-ssi…sedang apa kau disitu?”
“Sedang memperhatikan istriku tentu saja”
“Apakah…apakah kau sudah lama berdiri disitu?”
Bibir Hyun Soo membentuk senyuman geli mendengar pertanyaan itu, “Cukup lama untuk menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri kalau perhatian istriku sempat tercurah pada hal lain sehingga tidak menyadari kehadiran suaminya sendiri”
Kedua pipi Hee Young merona malu, Hyun Soo tergelak senang melihatnya. Dengan santai Hyun Soo bergerak menuju tempat istrinya berdiri, sementara Hee Young mencoba menyahuti perkataan Hyun Soo dengan sikap grogi…dia tidak menyangka gerak-geriknya terpantau oleh Hyun Soo padahal Hee Young mengira kalau sang suami masih sibuk berpakaian di kamar atas.
“Aku…aku hanya coba berkonsentrasi membawa mangkuk-mangkuk ini…” tunjuknya pada kedua mangkuk yang tertata di atas meja, “Kalau tidak hati-hati, nanti tumpah...mianhae, aku tidak menyadari kalau kau sudah lama berdiri disitu”
“Apa yang kau masak, jagi-ya?” tanya Hyun Soo saat dia tiba di hadapan Hee Young.
“Hanya mie ramen instan…tidak ada yang istimewa”
Hyun Soo memperhatikan meja makan yang ditata oleh Hee Young, senyuman gelinya berganti dengan ekspresi serius. Hee Young memperhatikan perubahan wajah itu dengan hati cemas,
“Waeyo? Tidak suka sarapan mie ramen instan ya? Mianhae, hanya itu yang tersedia…kita belum belanja apa-apa, ingatkan?”
Perhatian Hyun Soo berpindah pada wajah cemas Hee Young. Tiba-tiba saja dia mencondongkan tubuh ke arah Hee Young dan berbisik di telinga kiri istrinya itu,
“Mengapa mangkuknya ada dua? Aku lebih suka kalau kita berdua makan dalam satu mangkuk…seperti malam pertama kita”
Bisikan Hyun Soo itu spontan membawa kembali rona merah di pipi Hee Young. Kedua matanya mengerjab saat menatap Hyun Soo yang balas menatapnya dengan memasang senyuman nakal di bibirnya.
“Hyun Soo-ssi…” hanya itu yang bisa terucap dari bibir Hee Young.
“Wae? Bukankah lebih romantis bila seperti itu? Kita makan berdua dalam satu mangkuk…dengan kau duduk di pangkuanku. Bagaimana, jagi? Kau setuju dengan usulku?”
Pipi Hee Young benar-benar terasa panas sekarang…dia merasa malu digoda oleh Hyun Soo seperti itu,
“Tapi…tapi…kita tidak mungkin makan seperti itu, Hyun Soo-ssi. Aku tidak mau kalau pakaianmu sampai kusut gara-gara aku”
Hyun Soo tersenyum nakal melihat kegrogian Hee Young,
“Aku tidak keberatan kalau harus membuat pakaian ini kusut”
“Hyun Soo-ssi…”
Kedua mata Hyun Soo berkilat nakal mendengar protes dari bibir mungil Hee Young. Kedua tangannya kini menangkap kedua tangan Hee Young dan membawa tubuh istrinya itu semakin dekat kepadanya.
“Apakah kau lebih perhatian pada pakaianku dibanding pada diriku?”
Hee Young menggeleng cepat, “Anhi…bukan itu maksudku. Aku…kau sudah siap untuk pergi bekerja kan? Kalau pakaianmu kusut akan tidak bagus bila dilihat karyawan-karyawanmu…mereka akan berpikir apa tentangmu?”
“Nah, sekarang kau malah lebih perhatian pada karyawan-karyawanku”
“Hyun Soo-ssi…jangan menggodaku terus” ujar Hee Young agak merajuk.
Hyun Soo tergelak mendengar kata-kata istrinya itu, tapi gelak itu hanya berlangsung sebentar karena bibir Hee Young yang maju beberapa senti membuatnya langsung menelan ludah, ingin melumat bibir mungil itu.
“Jagi-ya…”
“Ada apa?” tanya Hee Young, langsung mengantisipasi saat dilihatnya wajah Hyun Soo yang tampak serius.
“Cium aku”
“Ne?”
“Cium aku, jagi”
“Hyun Soo-ssi...jangan main-main lagi. Ayo, kita makan saja” ajak Hee Young sambil agak menarik tangan Hyun Soo agar beranjak menuju meja makan…wajah Hee Young tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
Hyun Soo tidak bergeming, tangannya malah balas menarik Hee Young untuk kembali dekat dengan dirinya. Hee Young tidak bisa berkata apa-apa lagi…kedua matanya balas memandang kedua mata Hyun Soo yang kelihatan serius dengan permintaannya. Jantung Hee Young berdegup kencang saat wajah tampan Hyun Soo semakin dekat dengan wajahnya.
“Cium aku, jagi-ya” pinta Hyun Soo sekali lagi.
“Sebentar lagi bibi Kim akan datang…dia akan melihat” ucap Hee Young pelan...tapi pandangannya tidak bisa berpindah dari kedua mata Hyun Soo.
“Biarkan dia melihatnya. Kau dan aku tidak melakukan dosa. Cium aku, jagi…kumohon”
Akhirnya Hee Young menyerah saat mendengar nada suara Hyun Soo yang semakin memelas. Sambil terus menatap Hyun Soo yang balas menatapnya, kedua kaki Hee Young berjinjit untuk bisa mencapai bibir Hyun Soo. Sang suami tentu saja tidak tinggal diam, Hyun Soo merendahkan tubuhnya agar Hee Young tidak mengalami banyak kesulitan. Kedua tangan Hee Young melingkar di belakang leher Hyun Soo, sedangkan kedua tangan Hyun Soo memegang erat pinggang ramping sang istri.
Dengan perlahan Hee Young menempelkan bibirnya pada bibir Hyun Soo…sebuah ciuman lembut dihadiahkannya untuk sang suami. Tapi Hyun Soo tidak puas hanya menerima sebuah ciuman lembut, bibirnya mengunci bibir Hee Young dan melumatnya sehingga Hee Young sedikit terlonjak kaget…namun sebentar kemudian dirinya ikut larut dalam cumbuan bibir Hyun Soo di bibirnya.
“Ehheemm”
Deheman keras itu membuyarkan kesenangan Hyun Soo dan Hee Young. Keduanya terpaksa berhenti ketika menyadari ada orang lain yang menyaksikan kegiatan pribadi mereka di tempat itu. Keduanya langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah suara deheman tadi berasal…bibi Kim berdiri di ambang pintu sambil tersenyum membalas tatapan mereka.
“Bibi Kim” ucap Hee Young malu saat tubuhnya dan Hyun Soo sedikit menjauh…sementara Hyun Soo kelihatan sedikit grogi, tangan kanannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Maafkan bibi kalau mengganggu acara kalian berdua” sahut bibi Kim sambil menutup pintu di belakangnya…setelah itu perhatiannya kembali tertuju pada Hyun Soo dan Hee Young, bibir tua bibi Kim masih setia menyunggingkan senyuman pada pasangan pengantin baru itu.
“Ah…kami…kami baru saja ingin sarapan…iya kan, Hyun Soo-ssi?” sahut Hee Young cepat-cepat…ditatapnya Hyun Soo untuk mendapatkan pembenaran.
“Ya…kami baru saja akan sarapan” timpal Hyun Soo.
“Kalau begitu bibi akan langsung ke atas untuk berbenah” sahut bibi Kim sambil terus tersenyum…kelihatan sekali dia tidak merasa menyesal sudah memergoki tuan dan nyonya mudanya berciuman, ekspresinya lebih menunjukkan kalau dirinya merasa sangat senang sudah menjadi saksi dari ciuman itu.
Hee Young dan Hyun Soo sama-sama mengucapkan kata “Silahkan” kepada bibi Kim yang langsung berjalan menuju ke atas…bibirnya masih mengembangkan senyuman.
Sementara itu sepeninggal bibi Kim, Hee Young mendelik ke arah Hyun Soo…ekspresinya kelihatan kesal, tapi rona pipinya tidak bisa menyembunyikan kalau dia juga merasa malu di saat bersamaan,
“Aku kan sudah bilang kalau bibi Kim pasti akan memergoki kita. Ternyata ucapanku benar kan?”
Hyun Soo tersenyum jahil mendengar keluhan Hee Young,
“Tapi kelihatannya bibi Kim tidak keberatan sudah memergoki kita…dia malah kelihatan senang”
“Hyun Soo-ssi…bercanda terus. Sudah, kita sarapan saja” ujar Hee Young, dia langsung beranjak untuk mengambil tempat duduk.
Hyun Soo makin merasa senang melihat gaya ngambek Hee Young, niat menggodanya semakin menjadi-jadi,
“Mengapa duduk duluan, jagi-ya? Kita kan harus duduk bersama…makan dalam satu mangkuk. Apakah kau sudah lupa dengan usulku?”
Hee Young tidak menjawab, rasa kesal dan malunya belum lagi hilang…Hyun Soo malah semakin kuat menggodanya. Hyun Soo yang paham kalau istrinya semakin kesal akhirnya membuang niat untuk menggoda Hee Young.
Hyun Soo berlutut di sisi tempat duduk Hee Young yang hanya memandang mangkuk di hadapannya dengan kesal seolah-olah mangkuk itu yang berbuat salah terhadapnya.
“Mianhae, jagi-ya…aku tidak mendengarkan kata-katamu. Kau mau memaafkanku?”
Hee Young mengalihkan pandangannya pada Hyun Soo, “Benar-benar minta maaf?”
Hyun Soo mengangguk, “Aku serius meminta maaf. Apakah kau tega membiarkan suamimu yang tampan ini merengek meminta maaf padamu?”
“Kau memang harus merengek padaku”
Kedua mata Hyun Soo mengerjab, meniru gaya Hee Young yang suka mengerjabkan matanya bila sedang terkejut, “Aku harus merengek?”
Melihat kerjaban mata yang tidak pantas dilakukan oleh pria semaskulin Hyun Soo, Hee Young akhirnya luluh juga…kekesalannya mencair, sebuah senyuman geli terpasang di bibirnya.
“Kau tidak cocok mengerjabkan mata seperti itu…sangat tidak cocok”
“Tapi aku masih tetap tampan kan?”
Hee Young mencibirkan bibirnya dengan rasa geli, “Kau benar-benar dianugerahi rasa percaya diri yang tinggi sekali. Sekarang lebih baik kau makan…mie ramen itu akan mengembang dan dingin, jadi tidak enak lagi nanti”
Tapi Hyun Soo masih tidak mau beranjak dari posisi berlututnya, “Aku tidak akan berdiri kalau kau tidak memaafkanku”
Hee Young kembali mencibirkan bibirnya…telapak tangan kirinya menempel ke pipi kanan Hyun Soo, “Aku maafkan, Hyun Soo-ssi. Sekarang berdiri, dan makan makananmu”
Hyun Soo tersenyum senang, telapak tangan kiri Hee Young menjadi obyek kecupan bibirnya,
“Nah, sekarang aku baru mau makan” ucap Hyun Soo sambil berdiri dari posisi berlututnya.
“Duduk di kursi itu…makan sendiri mie ramenmu” ujar Hee Young cepat-cepat, saat dilihatnya Hyun Soo sudah berdiri dengan tegap kembali.
Hyun Soo yang diperintah, menatap Hee Young dengan pandangan tidak percaya, “Aku harus duduk dan makan sendiri?”
“Kau bukan anak kecil lagi” sahut Hee Young sambil menyendok mie ramennya.
“Baiklah…aku akan makan sendiri” ujar Hyun Soo sambil beranjak ke kursi yang ada di hadapan Hee Young dengan gaya pasrah. Hee Young tergelak geli melihatnya.
Melihat istrinya sudah tidak ngambek lagi padanya, Hyun Soo ikut tersenyum senang, “Suara tawamu renyah, jagi…aku suka”
Hee Young yang masih tergelak, langsung berhenti…pipinya merona malu menerima pujian tidak terduga itu.
“Gombal” ujarnya.
Hyun Soo menaikkan kedua alisnya dengan gaya nakal, “Sudah takdirmu menikahi pria gombal…maka terimalah nasibmu untuk menerima kata-kata gombalku setiap hari”
Hee Young tersipu malu, “Makan mie ramenmu, Hyun Soo-ssi…nanti tidak enak lagi”
Hyun Soo patuh, disendoknya mie ramen yang sudah mulai dingin itu dan memakannya dengan lahap.
“Bagaimana? Dinginkan? Apa masih enak?” tanya Hee Young penasaran melihat gaya Hyun Soo yang kelihatan menikmati makanannya.
Hyun Soo mengangguk, “Sudah agak dingin, tapi masih enak untuk dimakan…tenang saja”
“Gara-gara kau minta dicium, mie ramenmu jadi tidak panas lagi” keluh Hee Young.
Hyun Soo tersenyum. Setelah makanannya selesai dikunyah dan ditelan, dia kembali bersuara,
“Apa kegiatanmu hari ini, jagi?”
“ Karena hari ini aku tidak ada kuliah, aku berencana mengajak bibi Kim berbelanja”
Hyun Soo menghentikan niatnya untuk menyendok mie ramennya lagi, “Jangan berbelanja dengan bibi Kim. Berbelanja bersamaku saja”
“Kalau menunggumu, bisa-bisa aku tidak bisa berbelanja banyak…karena pasti kau pulang sore, sedangkan aku ingin ke pasar tradisional. Mumpung masih pagi, aku ingin membeli ikan”
“Aku bisa pulang siang nanti”
“Hyun Soo-ssi…kalau terlalu siang nanti ikan segarnya tidak ada lagi. Ini saja sudah agak kesiangan”
“Kita bisa membelinya di supermarket”
“Hyun Soo-ssi…aku ingin ke pasar tradisional”
Melihat kesungguhan Hee Young, Hyun Soo sadar kalau dirinya tidak akan bisa berdebat lagi,
“Baiklah kalau begitu, kau menang. Ini…pakai ini untuk berbelanja” ujar Hyun Soo sambil mengeluarkan salah satu kartu kreditnya yang diterima Hee Young dengan senyum gembira, “Lalu kalian akan naik apa ke sana?”
“Naik bis tentu saja, bibi Kim pasti tahu bis mana yang harus kami naiki untuk menuju kesana dan balik ke rumah lagi”
“Antwe…kalian tidak boleh naik bis…terlalu jauh. Pak Yin akan mengantar kalian” sambar Hyun Soo tidak setuju.
“Pak Yin kan harus mengantarkan kau pergi ke kantor”
“Jangan banyak membantah, nyonya muda Lee. Aku bisa menyetir mobilku sendiri. Kalian harus diantar oleh pak Yin, kalau tidak…aku tidak akan mengizinkan kau berbelanja ke pasar tradisional. Lebih baik menunggu aku pulang saja, baru kita berbelanja bersama”
Hee Young tahu benar kalau Hyun Soo bersungguh-sungguh dengan kata-katanya tadi, karena itu dia langsung menyahut cepat-cepat,
“Baiklah. Aku setuju…pak Yin akan mengantar kami”
Hyun Soo tersenyum senang mendengar jawaban itu,
“Istri pintar” ujarnya sambil kembali menikmati mie ramennya yang sempat terlupakan.
Hee Young mencibir geli, “Aku jadi heran…mengapa kau menggaji pak Yin bila kau bisa menyetir mobilmu sendiri?”
Hyun Soo hampir tersedak makanannya. Setelah meneguk air putih yang disodorkan oleh Hee Young, dia menjawab dengan nada sabar,
“Pak Yin bertugas membawaku bila mengunjungi proyek-proyek LGG, atau mengantarku ke tempat-tempat yang tidak bisa aku kunjungi sendiri, jagi-ya…kadang-kadang pak Yin juga mengantar dan menjemput aku kalau aku tidak ingin menyetir sendiri. Jadi intinya, pak Yin lebih banyak bekerja untuk perusahaan dibandingkan untuk kepentingan pribadiku. Lagipula pak Yin digaji oleh perusahaan walaupun dirinya bertugas sebagai supir pribadiku”
“Kalau begitu, aku tidak bisa memakai pak Yin sembarangan…aku tidak bekerja untuk perusahaan. Jadi aku dan bibi Kim naik bis saja”
Hyun Soo tersenyum, “Aku tahu kau pasti akan berkata seperti itu, nyonya muda Lee. Pak Yin akan menerima gaji double, dia juga akan menerima gaji dariku sebagai supir pribadimu…jadi jangan banyak membantah lagi”
“Hari ini kau tidak mengunjungi proyek LGG?”
Senyuman Hyun Soo makin dalam, “Jangan pernah berpikir untuk menaiki bis lagi, jagi-ya…pak Yin akan mengantarmu berbelanja. Hari ini supir perusahaan yang lain akan mengantarku mengunjungi proyek LGG…jadi jangan khawatir”
“Jadi aku tidak boleh naik bis lagi untuk selamanya?”
Mendengar Hee Young masih sibuk berkutat dengan keinginannya naik bis, Hyun Soo menjawab istrinya itu dengan nada sabarnya sekali lagi,
“Kau boleh naik bis lagi bila kau pergi bersamaku…dengan begitu kau bisa aman”
“Aman dari apa?”
Hyun Soo terhenti menyendok makanan yang sudah akan kembali dinikmatinya, “Dari para pengganggu yang tidak kau sadari ada di sekitarmu bila kau naik bis sendirian tanpaku. Nah, sekarang aku mau makan kembali, nyonya muda Lee…tidak ada lagi pembahasan tentang naik bis. Kau hanya boleh naik bis bila pergi bersamaku…arasso?”
Hee Young mengangguk malas-malasan, “Arasso”
Hyun Soo tersenyum senang kembali, “Istriku memang pintar”
Keduanya kemudian melanjutkan acara makan mereka dengan tenang. Tapi beberapa menit kemudian, Hyun Soo kembali bersuara,
“Jagi, bagaimana kalau kita mengundang keluarga kita untuk berkunjung ke rumah kita ini? Mereka kan belum pernah kemari”
“Keluarga kita? Maksudmu keluargaku?” tanya Hee Young bingung.
“Mereka sudah jadi keluargaku juga…kau menikah denganku, otomatis mereka langsung menjadi keluargaku”
Hee Young tersipu malu, “Mianhae. Apakah kau serius ingin mengudang mereka ke rumah kita?”
“Tentu saja aku serius. Mereka belum pernah melihat rumah kita, mereka pasti sangat ingin tahu bagaimana keadaanmu, keadaan rumah barumu…terutama Jae Hwa, dia pasti merindukan noona-nya. Bagaimana? Kita undang mereka makan malam bersama besok malam?”
Hee Young mengangguk senang, “Aku setuju”
“Aku juga berencana untuk mengubah salah satu kamar tidur tamu sebagai kamar tidur Jae Hwa, jadi dia bisa menginap disini kapanpun dia inginkan. Dia harus kita ajak berbelanja untuk memilih perabotan yang disukainya untuk kamarnya nanti”
Ekspresi wajah Hee Young lebih menunjukkan rasa terharu daripada rasa senang, kedua matanya menatap Hyun Soo dengan rasa tidak percaya, “Chongmal?”
Hyun Soo mengangguk, “Tentu saja, dia kan sudah jadi adikku. Dia berhak untuk datang dan tinggal disini bersama kita”
Hee Young beranjak dari kursinya dengan tiba-tiba dan langsung menjatuhkan dirinya di atas pangkuan Hyun Soo yang menerimanya dengan rasa kaget bercampur senang. Hee Young sudah lupa dengan niatnya untuk tidak membuat setelan jas Hyun Soo yang mahal dan rapi menjadi kusut.
“Gumawo, Hyun Soo-ssi…suamiku” walaupun rona pipinya memerah malu, tapi Hee Young langsung menghadiahkan ciuman di bibir Hyun Soo…sebuah ciuman penuh gairah yang membuat Hyun Soo melayang bahagia.
“Wow…aku sangat beruntung pagi ini” ujar Hyun Soo saat Hee Young melepaskan ciumannya…nafas keduanya memburu. Hee Young tersenyum malu mendengarnya.
“Kau pantas mendapatkannya…gumawo”
Hyun Soo tersenyum bahagia…dahinya ditempelkan di dahi Hee Young, dan dengan nada nakal dia berbisik,
“Tapi kamar Jae Hwa harus berada jauh dari kamar kita…karena bila tidak, dia dapat mendengar suara-suara yang tidak pantas didengar oleh telinganya. Kau tahu kan apa maksudku, jagi?”
Pipi Hee Young semakin merona merah sekarang, ada gairah yang terasa dari dalam dirinya mendengar perkataan nakal Hyun Soo itu…cepat-cepat dia berdiri dari pangkuan Hyun Soo. Sementara itu Hyun Soo tergelak senang melihat sikap malu-malu istrinya.
“Jagi-ya, kau belum menjawab pertanyaanku tadi”
Hee Young yang sudah kembali duduk dibangkunya, kelihatan sangat malu,
“Cepat habiskan makananmu, Hyun Soo-ssi…kalau tidak kau bisa terlambat pergi ke kantor”
Gelak senang Hyun Soo kembali terdengar, dan Hee Young hanya bisa melanjutkan makannya dalam diam…kedua pipinya sekarang terasa membara.
_________
Hee Young melangkahkan kedua kakinya dengan hati-hati ketika dia masuk ke dalam bangunan besar dan megah yang bernama LGG Tower…ya, ini kali pertama Hee Young menginjakkan kakinya di kantor suaminya.
Dengan didampingi oleh pak Yin, Hee Young tidak mengalami kesulitan untuk masuk ke bangunan itu. Berkat pak Yin juga, makanan yang dibawanya untuk Hyun Soo pun tidak diperiksa, walaupun para petugas keamanan LGG Tower masih sempat menatapnya dengan pandangan penuh selidik.
Bahkan mereka tidak perlu melapor ke resepsionis utama di lobby bawah itu, walaupun dua orang resepsionis disana menatapnya dengan penuh tanya. Hee Young tidak peduli, dia tetap berjalan bersama pak Yin yang menunjukkan arah padanya.
“Kita naik lift pribadi doronim saja, nyonya muda” usul pak Yin. Hee Young hanya mengangguk setuju.
Beberapa orang lainnya yang saat itu ada di lobby bawah juga menatap Hee Young dengan pandangan heran, maklum saat itu Hee Young datang dengan tampilan casualnya, jauh dari kesan eksekutif muda yang mempunyai kepentingan bisnis di bangunan megah tersebut.
“Mengapa anda tidak ingin diperkenalkan sebagai istri doronim, nyonya muda?” tanya pak Yin sambil terus menemani Hee Young berjalan menuju lift.
Hee Young tidak menjawab, dia malah balik bertanya sambil tersenyum tipis, “Apakah mereka tahu kalau Hyun Soo-ssi mereka sudah menikah, pak Yin?”
“Doronim memang belum mengeluarkan statemen resminya, nyonya muda…tapi saya rasa mereka akan segera tahu juga”
Hee Young hanya bisa mengangguk, hati kecilnya sebenarnya terasa sakit ketika tahu Hyun Soo tidak mengumumkan kalau dirinya adalah pria beristri di hadapan para karyawannya sendiri…namun Hee Young mencoba berbaik sangka, Hyun Soo pasti akan mengumumkannya dalam waktu dekat. Lagipula Hee Young merasa tidak bisa menyalahkan Hyun Soo, karena keinginan untuk menikah hanya dengan upacara sederhana yang tidak melibatkan banyak pihak adalah berasal dari dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja Hee Young merasa keinginan untuk memberi kejutan pada Hyun Soo bukanlah hal yang tepat untuk saat ini.
“Nyonya muda, mengapa anda berhenti?” tanya pak Yin saat Hee Young menghentikan langkahnya.
“Pak Yin, kita pulang saja. Saya rasa ini bukan saat yang tepat untuk datang kemari”
Pak Yin menatap nyonya mudanya itu dengan sikap bijaksana, “Nyonya muda, kita sudah sampai ke tempat ini…lebih baik anda lanjutkan saja niat anda untuk membawakan makan siang bagi doronim. Dia pasti akan menyukainya”
Hee Young balas menatap pak Yin, “Anda rasa suami saya akan menyukai kunjungan saya ini, pak Yin?”
Pak Yin tersenyum bijaksana, “Tentu saja, nyonya muda. Doronim selalu saja makan siang yang dibelikan di kantin ataupun makan bersama rekan bisnisnya di luar, saya rasa dia pasti sudah merasa bosan. Lain halnya dengan memakan makanan yang berasal dari rumah, apalagi yang dimasak oleh istri sendiri…pasti doronim akan menyukainya, nyonya muda”
Hee Young ikut tersenyum, keyakinannya tumbuh kembali berkat kata-kata pak Yin, “Baiklah, saya akan naik dan membawakan makanan ini untuknya. Kamsahamnida, pak Yin…atas semangatnya”
Pak Yin terpana mendapatkan senyuman manis dan ucapan terima kasih dari nyonya mudanya itu, sehingga dia hanya bisa membungkukkan kepalanya sebagai rasa hormat pada Hee Young.
“Kita naik ke atas sekarang?” ajak Hee Young yang langsung disetujui oleh pak Yin.
Berdua mereka masuk ke dalam elevator pribadi Hyun Soo guna mengantarkan kejutan bagi CEO muda itu.
<<<>>>
“Miss Son, perkenalkan ini nyonya muda Lee, istri doronim”
Miss Son menatap Hee Young dengan tatapan kagum saat pak Yin memperkenalkan dirinya pada istri atasannya itu, akhirnya dia dapat bertatap muka juga dengan sang penakluk hati seorang Lee Hyun Soo, dan Miss Son agak sedikit kaget ketika menemui kenyataan kalau istri sajangnimnya adalah seorang gadis cantik yang masih sangat muda…sementara itu Hee Young hanya bisa tersenyum kikuk mendapatkan tatapan kagum dari sang sekretaris.
‘ini yang namanya Miss Son? Syukurlah, dia sudah bertunangan…aku bisa lega’ ujar Hee Young di dalam hati.
“Senang berjumpa dengan anda, nyonya muda Lee”
Kata-kata bernada hormat serta bungkukan kepala dari Miss Son membuat Hee Young agak sedikit kaget…masih dengan kikuk dia membalas ucapan Miss Son tadi,
“Senang berjumpa dengan anda juga, Miss Son”
“Nyonya muda, saya akan menunggu anda di bawah saja” ujar pak Yin kepada Hee Young yang langsung mengalihkan perhatiannya pada supir tua itu.
“Baiklah, pak Yin. Begitu saya sudah selesai, saya akan segera turun” sahut Hee Young sambil tersenyum. Pak Yin mengangguk dan sekali lagi membungkuk hormat kepada Hee Young.
“Apakah suamiku ada di ruangannya, Miss Son?” tanya Hee Young pada Miss Son yang masih berdiri di dekatnya.
“Sajangnim sedang ada rapat, nyonya muda. Anda bisa menunggunya di dalam ruangannya…rapat sajangnim pasti sebentar lagi akan selesai”
Hee Young menggeleng, “Tidak usah, saya tunggu disini saja”
“Anda yakin, nyonya muda?”
Hee Young mengangguk untuk meyakinkan Miss Son.
“Kalau begitu anda duduk saja dulu, nyonya muda…saya akan mengambilkan anda minuman. Anda ingin minum apa?”
“Tidak usah, Miss Son…saya tidak haus”
“Tapi saya bisa dimarahi oleh sajangnim bila membiarkan anda tidak disuguhi minuman”
Hee Young tersenyum, “Kalau begitu saya hanya ingin air mineral saja”
“Baiklah, nyonya muda”
Sepeninggal Miss Son, Hee Young duduk di atas sofa di lobby pribadi lantai kerja Hyun Soo yang bergaya minimalis kontemporer…Hee Young menyukai penataan ruangannya. Walaupun sepi, Hee Young tidak merasa ruangan ini menyeramkan…dia malah merasa tenang berada disana.
Di tengah keasyikannya mengagumi ruangan itu, Hee Young dikejutkan oleh sebuah suara yang menegurnya,
“Permisi, apakah Lee Hyun Soo berada di tempat?”
Hee Young menatap sang tamu dengan pandangan terkejut…seorang pria tampan yang kelihatannya beberapa tahun lebih tua dari Hyun Soo berdiri di depannya sambil tersenyum manis…Hee Young mengerjab-ngerjabkan kedua matanya sebelum menjawab,
“Lee Hyun Soo? Dia sedang ada rapat”
Pria itu tampak tidak kesal ketika Hee Young menjawab pertanyaannya, dia malah kelihatan senang menatap Hee Young. Ditatap seperti itu Hee Young jadi agak merinding,
‘kenapa dia tersenyum seperti itu padaku? apa maksud orang ini? mengapa dia tidak kesal ketika tahu Hyun Soo-ssi sedang rapat? harusnya dia kesal karena yang ingin dijumpainya malah tidak berada di tempat’ pikir Hee Young bingung.
“Kalau Miss Son?”
“Miss Son sedang mengambilkan sesuatu untuk saya”
Pria itu masih tersenyum manis pada Hee Young ketika tiba-tiba dia mengambil tempat duduk di sebelah Hee Young.
“Perkenalkan saya Moon Dak Ho” tangan kanannya terulur menanti jabat tangan dari Hee Young.
Hee Young yang terkejut, refleks mengulurkan tangan kanannya juga, “Goo Hee Young”
“Goo Hee Young? Nama yang cantik…secantik pemiliknya”
Kini bukan hanya tangan kanan pria itu yang menjabat tangan kanan Hee Young, tapi juga tangan kirinya yang menumpang di atas tangan Hee Young…membuat Hee Young risih dan segera menarik tangan kanannya dari ‘jepitan’ kedua tangan pria itu. Hee Young juga agak menggeser duduknya…bekal makanan yang dibawanya untuk Hyun Soo dipeluknya erat-erat seolah benda itu bisa melindunginya dari pria tersebut.
“Oh, mianhae…kau pasti takut padaku” ujar pria itu sambil terus tersenyum pada Hee Young, “Jangan takut, adik manis…aku tidak akan berbuat kurang ajar padamu. Katakan padaku, apa yang dilakukan oleh anak SMA sepertimu di tempat ini?”
Kedua mata Hee Young membelalak kaget mendengar kata-kata Moon Dak Ho itu…setelah rasa kagetnya hilang, dengan agak berwibawa dia mencoba menyahut,
“Saya bukan siswi SMA, tuan Moon…saya wanita yang sudah bersuami”
Moon Dak Ho tampak terkejut, tapi sesaat kemudian dia malah tertawa, “Jangan mempermainkanku, adik manis”
Hee Young merasa agak kesal karena tidak dipercayai,
“Saya tidak mempermainkan anda. Saya memang sudah memiliki suami…ini buktinya” sahut Hee Young sambil menunjukkan cincin kawin di jari manis tangan kirinya.
Bukannya percaya, Moon Dak Ho malah semakin keras tertawa, “Lalu apa yang membawa wanita yang sudah bersuami sepertimu ke tempat seperti ini?”
Hee Young tambah kesal diperlakukan seperti itu, “Membawakan makan siang untuk suami saya”
“Oh ya? Lalu siapa nama suamimu, nona manis?”
Saat bibir Hee Young sudah akan membuka untuk menyahut, beberapa orang keluar dari koridor kiri lobby itu…Hyun Soo berjalan di depan mereka sambil memperhatikan berkas di tangannya. Hee Young tersenyum senang melihat kehadirannya.
“Itu suami saya”
Moon Dak Ho mengikuti arah tunjuknya, “Ada beberapa orang pria disana, adik manis…yang mana suamimu?”
“Yang berjalan di depan…yang diikuti oleh orang-orang itu. Lee Hyun Soo, dia suami saya”
Moon Dak Ho kembali tampak terkejut, ditatapnya Hee Young dan Hyun Soo yang berjalan semakin dekat ke arah mereka, secara bergantian…tak berapa lama tawanya kembali terdengar,
“Adik manis…beberapa orang wanita memang memiliki fantasi bisa bersanding dengan temanku itu…tapi gadis remaja sepertimu bisa memiliki fantasi seperti itu, malah membawakan makan siang segala…sangat luar biasa. Lebih baik kau memilihku saja, adik manis…Hyun Soo bukan pria yang tepat untukmu, dia playboy…wanita yang menjadi kekasihnya banyak”
Hee Young sekarang merasa sangat tersinggung. Dengan cepat dia berdiri dari duduknya,
“Maafkan saya…tapi meladeni kata-kata anda bisa membuat saya kehilangan kesabaran!”
Moon Dak Ho bukannya berhenti malah semakin tertarik melihat kemarahan Hee Young…dia ikut berdiri di samping Hee Young, “Kau semakin terlihat cantik bila sedang marah, adik manis”
Hee Young makin tersulut kegusarannya, “Anda tidak berhak bicara seperti itu terhadap saya, tuan Moon!”
Tanpa disadari oleh Moon Dak Ho dan Hee Young, nada suara Hee Young yang tinggi dan keras menarik perhatian sepasang mata tajam. Hyun Soo mengalihkan pandangannya dari berkas yang tengah dipelajarinya, kepada dua orang yang tengah bersitegang itu. Kedua mata tajam milik Hyun Soo menjadi menyipit saat dia melihat Hee Young berada di lobby bersama seorang pria…dan Hee Young kelihatan sekali sedang marah pada pria tersebut. Hyun Soo mempercepat langkahnya agar dapat sampai dengan segera ke tempat pasangan itu. Sekretaris Im dan para pegawai yang mengiringinya ikut mempercepat langkah mereka untuk mengimbangi langkah panjang Hyun Soo.
“Ada apa ini?”
Suara Hyun Soo membuat Moon Dak Ho dan Hee Young mengarahkan pandangan mereka ke dirinya…Hee Young bernafas dengan lega melihat suaminya sudah sampai ke tempatnya dan Moon Dak Ho berdiri. Namun belum lagi dia dapat bersuara untuk mengadukan masalahnya, Moon Dak Ho lebih dulu mendekati Hyun Soo sambil berkata dengan riang,
“Yaa, chingu-ya, pesonamu memang sangat luar biasa! Gadis manis ini datang kesini khusus untuk membawakanmu makan siang…dan apakah kau tahu? Dia mengaku sebagai istrimu! Aku sarankan kau berikan saja dia padaku…gadis-gadis yang kau kencani lebih seksi daripada dirinya...kau kan tahu, aku sangat menyukai gadis manis mungil seperti nona manis ini”
Moon Dak Ho sudah terlalu banyak bicara, dia tidak menyadari kata-katanya menyulut api amarah di hati Hyun Soo…rahang maskulin milik Hyun Soo mengeras dan pandangannya seperti akan membunuh pria yang terlalu percaya diri yang kebetulan adalah rekan bisnisnya sendiri itu…namun Hyun Soo masih berusaha untuk tidak melayangkan bogem mentahnya ke wajah sumringah milik Moon Dak Ho.
“Kau tahu siapa dia?!” tanya Hyun Soo dengan nada tajam…Hee Young memperhatikan ekspresi suaminya dengan penuh kewaspadaan, demikian pula para ‘penonton’ yang lainnya...kecuali Moon Dak Ho, tentu saja.
“Sudah kubilang dia penggemarmu…namanya Goo Hee Young. Cantikkan?”
“Aku ulangi lagi…kau tahu siapa dia?!”
Kali ini Moon Dak Ho terpancing untuk mempelajari emosi yang tergambar di wajah Hyun Soo…seketika dia sadar kalau dirinya sudah melakukan kesalahan.
“Dia…dia benar-benar…adalah…istrimu?” tanya Moon Dak Ho agak mengkerut melihat Hyun Soo yang kontras sekali sedang menahan amarahnya.
“Dia sudah mengatakannya dengan jelas kepadamu kan?!”
“Ya…ya, memang benar. Tapi, Hyun Soo-ya…aku kira dia hanya mengarang cerita saja…sejak kapan kau menikah dengan gadis itu?”
“Sejak dua hari yang lalu. Sekarang, Dak Ho-ya…aku ingin kau meminta maaf pada istriku atas semua perkataanmu kepadanya!”
Moon Dak Ho menatap Hee Young yang masih memandang Hyun Soo dengan tatapan cemas campur waspada…pria itu mencoba mengeluarkan suara yang penuh penyesalan,
“Maafkan, saya nona Goo…”
“Nyonya Lee…dia adalah nyonya Lee!” sela Hyun Soo tajam.
“Maafkan saya, nyonya Lee…atas semua perkataan saya pada anda”
Hee Young tidak tahu apa yang harus diucapkannya untuk membalas ucapan penyesalan dari Moon Dak Ho…oleh karena itu dia hanya mengangguk pelan dan tidak mengeluarkan sepatah katapun pada pria itu.
Setelah mengucapkan permintaan maaf pada Hee Young, Moon Dak Ho kembali menatap Hyun Soo yang masih memandangnya dengan tatapan kejam…dia tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas bisnis dengan Hyun Soo…karena kalau dia sampai berani, entah apa yang akan dilakukan oleh pria yang sedang marah itu kepadanya,
“Kalau begitu lebih baik aku pulang saja, Hyun Soo-ya”
Hyun Soo tidak menyahut, dan Moon Dak Ho sadar kalau dirinya akan semakin beresiko bila terus menerus ada di tempat itu. Setelah menundukkan kepala dengan hormat kepada Hee Young, pria itu pergi meninggalkan tempat yang masih dipenuhi oleh hawa amarah dari Hyun Soo tersebut.
Sepeninggal Moon Dak Ho, sekretaris Im menyadarkan ‘pasukannya’ yang masih terpana melihat adegan yang baru saja tersaji di depan mata mereka…sebagian juga dikarenakan mereka terkejut dengan kenyataan kalau atasan mereka sudah menikah dan istri sang boss sedang berada di hadapan mereka. Seorang gadis muda yang mungil…yang penampilannya akan membuat siapapun tidak mengira kalau dirinya sudah bersuami.
“Kita juga harus pergi” ujar sekretaris Im yang langsung diamini oleh semua temannya. Serempak mereka menundukkan kepala dengan hormat ke arah Hyun Soo dan Hee Young. Hyun Soo tidak melihat karena dia membelakangi mereka, namun Hee Young menerima tanda hormat itu dengan kikuk.
“Mengapa kau meladeni pria itu?” tanya Hyun Soo segera setelah para pegawainya pergi dari tempat itu.
Pertanyaan tajam itu membuat Hee Young terkejut. Hyun Soo tengah memandangnya dengan tatapan penuh selidik.
“Aku tidak meladeninya. Aku saja kaget ketika dia datang…dia mencarimu”
“Apa yang kau lakukan disini?”
“Mengantarkan makan siang untukmu. Tadi sepulang dari pasar, aku dan bibi Kim memasak untukmu…oleh karena itu aku kemari”
“Mengapa kau tidak menelponku?”
“Hyun Soo-ssi…aku ingin memberi kejutan padamu. Aku meminta pak Yin mengantarkanku kesini setelah pak Yin menerima kepastian dari Miss Son tentang keberadaanmu disini. Kalau aku menelponmu terlebih dahulu, ini bukan lagi kejutankan?”
Hyun Soo memejamkan kedua matanya dengan jengkel…Hee Young benar. Tapi dia masih merasa marah pada peristiwa Moon Dak Ho barusan, dan ketika dia bersuara, nada suaranya terdengar berat dan kesal “Mengapa kau sendirian di tempat ini? Kemana Miss Son? Mengapa kau tidak menunggu di dalam ruanganku saja? Kemana akal Miss Son sehingga tidak menyuruhmu masuk ke ruanganku?!”
“Miss Son pergi untuk mengambilkan minuman untukku. Aku sendiri yang ingin menunggumu disini, jadi bukan salah Miss Son…dia memintaku masuk dan menunggu di dalam ruanganmu, tapi aku bersikeras untuk tetap disini. Hyun Soo-ssi…mengapa kau terdengar begitu kesal? Apa salahku?!” Hee Young ikut-ikutan kesal sekarang.
Hyun Soo tersenyum, tapi senyumannya tidak begitu enak dipandang oleh kedua mata Hee Young, “Aku tidak kesal padamu, jagi. Aku hanya tidak suka dengan pandangan orang lain yang meremehkanmu, mempermainkanmu…aku marah karena ada pria lain yang berusaha merayumu di depan mataku sendiri! Itu yang membuat aku terdengar kesal ditelingamu”
“Kau masih terdengar kesal bagiku” sahut Hee Young, airmata sudah menggantung di pelupuk matanya tapi dengan cepat dihapusnya.
Melihat Hee Young sudah hampir menangis, emosi Hyun Soo luluh juga. Dengan cepat dia meraih tubuh mungil istrinya itu dan mendekapnya dalam pelukan yang erat. Airmata Hee Young tidak bisa dibendung lagi, dalam pelukan Hyun Soo dia menangis.
“Ssst…tenanglah, jagi. Aku minta maaf karena telah bersikap tidak baik padamu. Aku akui aku cemburu, jagi…aku tidak tahan bila ada pria lain yang mendekatimu dan coba merayumu…aku benar-benar takut kehilanganmu” ucap Hyun Soo lembut sambil mengelus rambut Hee Young yang masih terisak di pelukannya.
“Aku tidak meladeninya. Aku mencoba untuk memberitahunya tentang statusku, tapi dia tidak mau percaya”
“Aku percaya padamu, jagi…aku sangat percaya”
Tiba-tiba saja Hee Young melepaskan pelukannya, kedua matanya yang masih dihiasi airmata menatap Hyun Soo dengan tajam, “Tadi dia juga mengatakan tentang banyaknya wanita yang menjadi kekasihmu. Apakah itu benar?”
Hyun Soo gelagapan sekarang, dia mencoba untuk memeluk Hee Young lagi, tapi dengan cepat ditangkis oleh istrinya itu,
“Aku tidak mau kau peluk sampai kau jawab pertanyaanku!”
“Jagi-ya, aku sudah pernah mengatakannya kan? Aku tidak memiliki hubungan dengan wanita lain setelah aku mengenalmu…hanya kau satu-satunya wanita di hatiku. Percayalah” bujuk Hyun Soo.
Hee Young balas menatap Hyun Soo dengan penuh selidik walaupun airmata masih menggenangi kedua matanya, “Kau bersungguh-sungguh? Tidak ada yang kau sembunyikan?”
“Tidak ada. Untuk kau ketahui…aku memang menjalin hubungan dengan seorang wanita sebelum bertemu denganmu, namanya Jessica. Tapi hubungan itu tidak serius, aku dan dia tidak pernah berkomitmen apapun dengan hubungan kami” ucap Hyun Soo sambil menghapus airmata Hee Young dengan lembut.
“Jessica? Siapa dia?!”
“Dia hanya masa lalu, jagi…sama seperti Chung Ae”
“Dimana dia sekarang?”
“Di London”
“Dia tahu kau sudah menikah?”
“Belum, tapi dia akan segera mengetahuinya sekembalinya ke Seoul”
“Mengapa tidak kau hubungi saja dia dan katakan kalau kau sudah menikah?!”
“Aku akan memberitahunya bila dia sudah kembali kesini, sekalian untuk membereskan masalah kami”
“Kau yakin tidak akan terpengaruh dengannya lagi?”
Hyun Soo tersenyum lembut, “Aku janji padamu…kau adalah satu-satunya yang bisa mempengaruhi aku. Kami akan bertemu hanya untuk membereskan masalah diantara kami agar semua jelas. Percayalah padaku”
Hee Young masih belum yakin sepenuhnya dengan ucapan Hyun Soo, tapi dirinya berusaha untuk mempercayai Hyun Soo…dan ketika dia mengangguk, Hyun Soo kembali membawa tubuh mungil Hee Young ke dalam pelukannya.
“Kau juga harus memberitahu semua temanmu dan juga seluruh karyawanmu, Hyun Soo-ssi!” perintah Hee Young sambil balas memeluk tubuh atletis suaminya.
“Baiklah, aku berjanji. Tidak akan ada lagi yang akan meragukanmu sebagai istriku, jagi”
“Bagaimana caramu melakukannya?”
Hyun Soo tersenyum. Setelah menghadiahkan kecupan di ubun-ubun Hee Young, dia menjawab “Serahkan semuanya padaku, jagi-ya”
Hee Young tidak lagi bersuara…dia hanya ingin menikmati pelukan hangat Hyun Soo di tubuhnya.
Dan selagi Hyun Soo dan Hee Young berpelukan, Miss Son datang membawa segelas air dan makanan ringan…dia kaget ketika melihat pemandangan itu.
“Maafkan saya, sajangnim…tapi saya membawakan ini untuk nyonya muda Lee” ucapnya pelan.
Hyun Soo dan Hee Young memisahkan pelukan mereka. Hee Young tersenyum pada Miss Son, sementara Hyun Soo kembali memasang tatapan sangarnya…Miss Son terpaku mendapati pandangan menusuk dari atasannya itu.
“Kau masuk duluan ke ruanganku, jagi-ya…aku akan menyusulmu nanti” ujar Hyun Soo tanpa memandang pada Hee Young…tatapannya masih tertuju pada Miss Son yang agak mengkerut melihatnya.
“Hyun Soo-ssi…jangan marah pada Miss Son. Dia tidak bersalah” bisik Hee Young, Hyun Soo terpaksa memandangnya dan mencoba tersenyum menenangkan,
“Aku tidak akan marah. Sekarang masuklah”
Hee Young balas tersenyum, dengan patuh dia menuruti keinginan Hyun Soo. Dan ketika pintu ruangannya sudah menutup, Hyun Soo kembali menatap Miss Son dengan pandangan tajam,
“Miss Son, kemana saja anda?!”
“Saya mengambilkan minuman untuk nyonya muda Lee, saajangnim”
“Mengapa begitu lama?!”
“Saya…saya menunggu office boy membelikan nyonya muda Lee kue dari toko kue di dekat sini, sajangnim” jawab Miss Son agak takut.
“Aku kira kau adalah sekretaris yang cekatan dan handal, Miss Son. Kau bisa saja kan memanggil office boy kemari untuk menyuruhnya mengambilkan minum agar tidak meninggalkan istriku sendirian di tempat ini?!”
“Maafkan saya, sajangnim. Saya hanya ingin melayani nyonya muda Lee dengan baik”
Hyun Soo menghela nafasnya dengan jengkel, dia sudah berjanji pada Hee Young untuk tidak memarahi wanita di depannya ini…dan dia harus melaksanakannya,
“Sudahlah, kuhargai usahamu. Tapi lain kali, bila istriku berkunjung kemari lagi, jangan biarkan dia menunggu disini…antarkan dia masuk ke ruanganku. Dan bila dia memaksa untuk tetap menunggu di tempat ini, kau harus menemaninya…jangan biarkan istriku sendirian. Kau mengerti, Miss Son?”
Miss Son mengangguk pelan, “Saya mengerti, sajangnim”
Hyun Soo mengangguk puas. Dan sebelum masuk ke ruangannya untuk menemui Hee Young, dia kembali berkata tegas pada Miss Son,
“Oh ya, majalah bisnis yang beberapa bulan ini ingin agar aku menjadi cover majalah mereka, apakah masih mengontakmu?”
Miss Son agak terperanjat mendengar pertanyaan Hyun Soo itu, “Ne, sajangnim. Mereka masih menginginkan agar anda menjadi cover majalah mereka”
“Bagus. Terima tawaran mereka itu!”
“Ne, sajangnim? Anda bersedia menjadi cover majalah mereka?”
“Tentu saja aku bersedia, majalah itu adalah majalah bisnis terbesar di Korea Selatan. Katakan pada mereka kalau wawancara dilakukan di kantorku. Katakan juga kalau aku bersedia menerima pertanyaan tentang masalah pribadi”
Kedua mata Miss Son sekarang membelalak tidak percaya, “Anda bersungguh-sungguh, sajangnim?”
“Tentu saja aku bersungguh-sungguh. Kalau bisa wawancara itu harus dijadwalkan secepat mungkin…aku tidak suka menunggu terlalu lama”
Sehabis berkata seperti itu, Hyun Soo melangkah masuk ke ruangannya…meninggalkan Miss Son yang masih belum bisa percaya dengan apa yang sudah didengarnya dari sang atasan.
<<<>>>
Di dalam ruangan Hyun Soo, Hee Young duduk manis di atas sofa sambil mengagumi penataan ruangan suaminya yang lebih sederhana daripada lobby diluar. Walaupun sederhana, namun ruangan ini sangat berkesan nyaman dan santai…Hee Young lebih menyukai berada di dalam ruangan ini dibandingkan dengan di luar.
‘coba aku mau saja disuruh menunggu disini…aku tidak akan bertemu dengan pria menyebalkan tadi’ keluhnya di dalam hati.
Selagi dia menunggu Hyun Soo, Hee Young mengirim pesan untuk adiknya, mengabarkan undangan makan malam darinya dan Hyun Soo. Jae Hwa membalas SMS-nya dengan gaya bahasa riang…Hee Young tertawa membaca SMS dari adiknya yang sudah dua hari tidak ditemuinya semenjak hari pernikahannya itu.
“Mengapa kau tertawa, jagi-ya?”
Tawa Hee Young terhenti saat mendengar suara Hyun Soo. Hee Young tidak menyadari kalau Hyun Soo sudah memasuki ruangan itu, kepalanya mendongak dan menatap Hyun Soo dengan senyuman di bibirnya,
“Aku dan Jae Hwa saling bertukar pesan. Jae Hwa menceritakan cerita lucu di sekolahnya, itu yang membuat aku tertawa”
Hyun Soo ikut tersenyum senang, “Kau sudah memberitahunya tentang undangan makan malam dari kita?”
“Sudah. Jae Hwa sangat antusias sekali…dia akan mengabarkannya pada yang lain”
Hyun Soo ikut duduk di sebelah Hee Young. Tubuhnya agak dicondongkan ke depan ketika dia memeriksa bekal makanan yang ditaruh Hee Young di atas meja kaca di hadapan mereka.
“Apa yang kau masak, jagi?”
“Aku memasak ikan yang kubeli di pasar tadi…bibi Kim membantuku” sahut Hee Young bangga.
“Kau memastikan kalau sudah memasaknya dengan benar?” goda Hyun Soo.
Hee Young mendelik, “Tentu saja…jangan takut untuk memakannya, kau tidak akan sakit perut. Aku jamin”
Hyun Soo memasang tampang seperti tidak percaya dengan ucapan istrinya itu, “Kau yakin?”
“Hyun Soo-ssi! Sudah tidak usah dimakan saja!” jawab Hee Young kesal.
Hyun Soo tergelak, “Mian…mian, aku hanya bercanda. Aku yakin masakan istriku enak dan aman untuk dikonsumsi”
Hee Young mendelik sekali lagi, tapi senyuman terpasang di bibirnya, “Kau ingin memakannya sekarang?”
Hyun Soo mengangguk senang, “Boleh”
Saat Hee Young ingin mengambilkan makanan untuk Hyun Soo, ponsel Hee Young berbunyi lagi, ada SMS yang masuk…Hee Young membacanya dan wajahnya serta merta menjadi lebih ceria,
“Ada apa, jagi?”
“SMS dari Mr. Shane, dia akan pulang dua hari lagi”
Hyun Soo tersenyum, “Kau kelihatan sangat menyukai gurumu itu”
Hee Young mengangguk, “Dia guru yang baik. Mm, Hyun Soo-ssi…aku masih bolehkan meneruskan pelajaranku bersamanya?”
Hyun Soo menatap Hee Young dengan lembut, “Tentu saja kau boleh meneruskan pelajaranmu bersamanya. Sekarang aku ingin sekali makan masakanmu, jagi-ya”
Hee Young tidak serta merta menuruti keinginan Hyun Soo, dia malah mengubah posisi duduknya agar dapat melihat Hyun Soo dengan lebih baik, “Hyun Soo-ssi…tentang Mr.Shane, ada yang perlu kau ketahui”
Hyun Soo tidak tertarik untuk mendengarkan penjelasan Hee Young tentang Mr. Shane, “Nanti saja, jagi-ya. Sekarang aku sudah terlalu lapar…kita bicarakan itu nanti saja ya”
Hee Young tidak bisa bicara apa-apa lagi, dia memang ingin memberitahu Hyun Soo tentang Mr. Shane...tapi ketika melihat wajah suaminya yang kelihatan sangat kelaparan, Hee Young memutuskan untuk tidak membuat Hyun Soo menunggu. Dan sekali lagi masalah Mr. Shane terkesampingkan.
mian,lama updatenya ![[sweat]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/sweat.gif)
enjoy ya...mian lg klo membosankn...komentnya slalu ditunggu ![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
HWAITING!!! ![[AddEmoticons04262]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/AddEmoticons04262.gif)
« Last Edit: August 13, 2011, 05:17:37 am by dalbyeol »

Logged
And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love