Author Topic: A Face Over The Windows--CHAPTER 4--update 15 Mar'12  (Read 10390 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--icip icip lol
« Reply #90 on: August 13, 2011, 02:10:20 am »
CHAPTER 2



ADDITIONAL CAST :
Son Ye Jin as Gladys Shapland



Dari jendela kamarnya, Em dapat melihat samar rumah besar itu di balik pepohonan. Jendela-jendela di lantai atasnya tertutup rapat. Masih kelihatan kosong seperti biasa. Dan dengan cahaya yang sangat buram dari lampu-lampu jalanan desa, rumah itu terlihat lebih suram dan menakutkan.

“O—rumah besar itu .. “ Gladys Shapland; wanita berumur 25 tahun yang tinggal di pondok kecil dekat taman belakang Winston village, dan yang sudah melayani Em sejak sepuluh tahun yang lalu; tiba-tiba menongolkan diri sambil mengelus-ngelus dagunya. “Memang berpenghuni .. “ Seakan bisa membaca pikiran Em, Gladys mengangguk-anggukan kepala bijak. Rambut merahnya yang keriting-keriting kecil dan terpangkas pendek bergerak-gerak di kedua sudut pelipisnya. “Bukan dalam arti berhantu loh—“ Dia segera meralat begitu Em menatapnya ngeri. “Tapi sungguh-sungguh dihuni seorang manusia, .. seperti kita .. “

“Benar?” Em melebarkan matanya setelah bernafas lega. “Kau tahu dari mana?”

“Segelintir orang pernah melihatnya .. ,” sahut Gladys sambil beranjak dari jendela. Dia memasukan pakaian-pakaian Em yang sudah terlipat rapi ke dalam lemari. “Bukan melihat orangnya sih—Hanya mobilnya saja yang beberapa kali tampak melintas dari halaman rumah itu ke jalan besar .. “ Gladys kembali berbalik menghadapi Em. “Kata mereka—mobilnya sangat mewah dan bermerk terkenal. Sepertinya orang kota .. “

“O ya?” Em kelihatan tertarik. “Emangnya sejak kapan orang itu tinggal di situ?” tanyanya sambil menopang dagu—mengamati Gladys.

Gladys tampak berpikir. “Kalau menurut tebakan orang-orang sih—sekitar sebulan yang lalu .. Apa kau tidak lihat cat dindingnya yang masih baru? Yang lama kan warna krem pucat dan sudah terkelupas di sana sini. Nah—hanya halaman depannya aja yang masih dibiarkan begitu—tidak terpelihara .. Sepertinya—penghuninya tidak terlalu memusingkan hal itu .. “

“Glay banyak tahu.. ” nyengir Em.

Yang dipuji hanya menyeringai lebar. “Bilang saja saya tukang gosip, jika emang itu maksudmu .. “

“Ah—tidak .. “ Em tertawa lebar. Dia menarik diri—berdiri tegak lalu menyingkir dari bibir jendela. Setelah sampai di sebelah Glay, dirangkul dan dipeluknya wanita yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri itu, erat-erat. “Saya tidak pernah menganggap kau seperti itu .. “

“Ya. Ya, saya tahu .. “ Glay menyentuh dan menepuk punggung tangan Em.

“Menurut Glay—penghuni rumah itu orangnya seperti apa ya .. ?” Em menegakan tubuh dan menjatuhkan diri di bibir ranjang. Ditatapnya Glay ingin tahu.

Glay mengangkat pundaknya. “Tidak tahu.” Wanita itu berdecak sambil memasukan potongan pakaian terakhir ke dalam lemari. “Orang aneh—pasti.” Glay menutup pintu lalu berbalik pada Em. “Tapi itu tidak mengherankan, kan? Mengingat penghuni sebelumnya juga menghilang begitu saja .. “

“Penghuni sebelumnya?” Alis Em berkenyit. Walau dia lahir dan tinggal seumur hidupnya di desa Lambeth ini, tidak pernah sekalipun dia mengetahui cerita tentang ini. “Emang benar menghilang begitu saja?” tanyanya tak percaya.

“Katanya sih—“ Glay kembali mengangkat pundaknya. “Tapi tidak ada yang tahu kepastiannya. Memang jarang ada yang lihat penghuni rumah tersebut sebelumnya. Kayaknya mereka senang menutup diri dari dunia luar. Kemudian sekitar sebulan yang lalu, orang-orang desa mulai melihat mobil mewah asing itu berkeliaran di sekitar sini--Yang paling sering sih antara pukul delapan sampai setengah Sembilan pagi, .. kalau sore—mungkin sekitar pukul limaan .. .. jadi dapat dipastikan, penghuni lamanya sudah pindah. “

Setelah cerita Glay berhenti, Em menolehkan wajah kearah jendela. Perlahan dia berdiri dari duduknya dan mendekati deretan jendela yang belum ditutup tersebut. Diamatinya keadaan rumah besar itu kembali. Kali ini—sangat samar dia melihat kilatan cahaya buram berasal dari jendela di lantai atas.

“Memang berpenghuni .. ,” gumam Em pelan. Dan .. puas?

Glay yang berjalan ke pintu, berbalik dan menunjuk Em. “Makan malamnya sudah siap, Em. Tuan dan Nyonya pasti akan turun sebentar lagi. Jangan berdiri terlalu lama di situ. Udara sudah sangat dingin, .. nanti kau masuk angin .. “

Em menoleh dari posisinya. “Ya, saya tahu. Thanks, Glay .. “

Glay tersenyum. “You’re welcome.”

Glay keluar dari kamar Em. Menutup pintu dan meninggalkan Em yang masih betah bertumpu pada bingkai jendela. Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam, dan angin yang bertiup di luar sana semakin kencang.

Tamparan-tamparan halus dan dingin terasa di kulit wajah Em. Tangan mungil milik gadis itu menarik rapat mantel wol yang dipakainya dan melebarkan mata. Benar kata Glay. Udara sudah semakin dingin. Terburu-buru, gadis belia itu menutup jendela. Menarik gordennya sampai tertutup rapat. Setelah itu dia berlari ke pintu, membuka dan menghambur keluar. Sebentar saja dia sudah berlari-lari kecil menuruni tangga spiral menuju lantai bawah.


___________




Em menjatuhkan tubuhnya di atas kursi ruang makan bertepatan dengan masuknya Mr dan Mrs. Winston ke dalam ruangan.

“Em .. ,” sapa Mr. dan Mrs. Winston hangat. Keduanya segera memberi pelukan erat dan tepukan lembut kepada putri tunggal mereka tersebut.

Em membalas dengan tidak kalah hangat dan rindunya. “Mom and dad, saya sangat merindukan kalian. Bagaimana istirahatnya?”

“Baik .. “ Mrs. Winston mengelus kepala putrinya. “Lalu bagaimana denganmu, dear? Kelihatannya agak kurusan? .. Apa Glay tidak menjagamu dengan baik …?” goda wanita berparas ayu itu.

“Oh—tidak!” tepis Em cepat. “Glay menjagaku dengan sangat baik. Hanya saja, .. selera makanku sedang tidak baik akhir-akhir ini .. “

“O ya?” Mrs. Winston mengangkat alisnya yang melengkung indah. “Karna apa?” lanjut Mrs. Winston seraya menjatuhkan diri—duduk di sebelah Em.

Mr. Winston ikut mengambil kursi dan duduk di depan istrinya hingga dia bisa bertatapan langsung dengan dua wanita yang terpenting dalam hidupnya.

“Tidak apa-apa .. “ Em menyahut sambil membuang muka.

“Kurasa putriku mulai dewasa .. ,” goda Mrs. Winston kembali. “Apa karna seorang pria?”

“What?!!” Em hampir terjengkang dari kursinya. “Dugaan apaan ini?!! Tentu saja bukan!! Saya tidak tertarik pada pria manapun!!”

“O ya?” Mrs. Winston tertawa. Sebentar kemudian wanita itu mengangguk-angguk bijak begitu melihat tampang Em semakin kusut. “Ok—mom tidak akan mengodamu lagi, .. “ Kepala Mrs. Winston agak menunduk. “ … dengan hal-hal yang mungkin membuat putriku ini jengah .. “

“Saya tidak jengah!” tukas Em cepat. “Tapi memang benar--dugaan mom salah .. ,” balas Em tidak mau menyerah begitu saja terhadap godaan ibunya.

“Sudah, sudah .. “ Mr. Winston melerai begitu melihat wajah putrinya sudah merona merah saking jengahnya. Perhatiannya berpusat pada Em dengan kenyitan mendalam begitu teringat sesuatu. “Di mana Stan? Bukannya katamu dia akan bergabung dengan kita dalam acara dinner malam ini?”

Em mengangkat kepala, .. lalu mengangkat pundak, lemas. “Katanya sudah ada acara sendiri. Dia baru akan datang setelah acara tersebut berakhir .. “

“Oh—disayangkan sekali .. “ Mr. Winston menghela nafasnya. “Padahal dad dan mom ingin sekali bertemu dengannya.” Mrs. Winston berpaling pada istrinya. “Sudah lama sekali pertemuan terakhir kita dengannya ya, mom?”

Mrs. Winston mengangguk. “Iya. Kalau tidak salah sudah hampir 3 bulan.”

“Iya—tiga bulan .. “ Mr. Winston beralih pada Em. “Tidak bisa memintanya membatalkan acara tersebut?”

“Tidak bisa katanya .. ,” jawab Em dengan gaya dibuat secuek mungkin.

“Hn—padahal dad dan mom tidak punya waktu berlama-lama di sini. Kami mesti kembali lagi ke Paris besok pagi .. “

“What?!” Em terlonjak dari kursi yang didudukinya. “Besok pagi?!”

“Iya .. “

“Kenapa secepat itu?” seru Em tidak terima.

“Usaha kita di sana tidak bisa dibiarkan terbengkalai, Em. Proses kerja pabrik mesti diawasi dengan cermat, jika tidak, akan terjadi kesalahan seperti beberapa bulan lalu. Kau ingat itu kan? Mom and dad bela-belain pulang ke London sebulan sekali—juga karna kamu. Dan kami yakin—kau juga tahu itu .. “

Em terbungkam. Selalu alasan ini yang dijadikan orangtuanya buat menjelaskan ketidakberadaan mereka di sisinya. Selalu begitu. Dan Em sudah kebal. Dia tahu—mau tidak mau, dia harus menerima alasan ini. Karna dia tidak punya pilihan lain.

“Karna itu—kami mengharapkan makan malam bersama Stan. Dengar-dengar selain Glay, Stan yang paling dekat denganmu .. Ya, itu tidak heran sih mengingat kalian tumbuh bersama sejak kecil .. “

“Stan tidak bisa datang .. “ Em memutus perbincangan dengan orangtuanya dengan pernyataan tegas yang telah dikeluarkannya tadi.

Setelah itu, dia menyambar sendok yang tergeletak di samping mangkuknya dan mulai menyendok kuah dari dalam mangkuk dan menelannya sekali teguk. Mr dan Mrs. Winston saling berpandangan.

“Em .. “ Mrs. Winston segera menyengol lengan suaminya.

Mr. Winston menatap istrinya. Mrs. Winston mengeleng pelan sebagai tanda agar Mr. Winston membiarkan putri mereka menyendiri dalam kepedihannya. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Tidak mungkin kan menunda keberangkatan ke Paris hanya gara-gara ketidakrelaan Em?


__________


  

Em masih terjaga saat jarum jam menunjukan pukul setengah duabelas. Dua setengah jam sudah--lewat dari waktu yang dijanjikan Stan buat menemuinya di Winston Village malam itu. Angin bertiup semilir, dingin dan membawa uap-uap halus memasuki jendela yang sengaja dibuka Em. Wajah mungil yang bertopang dagu di depan daun jendela hampir tenggelam dalam balutan wol tebal di telapak tangannya yang agak kepanjangan.

“Huhh!! Selalu begitu!!” gerutu Em sambil menghembuskan nafasnya kuat-kuat.

Punggung yang agak meringkuk tersebut diluruskannya, dan tangan yang masih menempel di bingkai jendela—ditarik kembali. Em sudah bermaksud menutup daun jendela di depannya ketika seraut wajah tiba-tiba menongolkan diri dari balik jendela.

“Hy .. “ Stan memperlihatkan senyum termanis yang mungkin—dirasa, pernah ditunjukannya pada Em selama ini.

Em hampir menghempaskan daun jendela di tangannya, .. dan sepasang kaki yang belum berdiri tegak tersebut—hampir saja terpelanting ke belakang. Matanya membulat, terbelalak lebar.

“Oh My Godddd!!” Em berteriak kaget. “What are you doing there, Stan?!!” pekiknya lebih lanjut, seraya menunjuk Stan yang duduk tenang di cabang sebatang pohon peach yang tumbuh di dekat jendela.

Stan mengangkat kantung kertas di tangannya.

Em melirik heran. “What?!”

Stan tersenyum dan mengoyang-goyangkan kantung dalam genggamannya. “Wild berries. Fresh dan baru dipetik langsung dari lereng bukit oleh uncle Bob. Mau coba?”

“Cih!” Em membuang mukanya. “Jangan dikira bisa merayuku dengan berry di tanganmu! Kau sangat terlambat, STAN!!”

Stan terlihat mencondongkan badannya. Tangan sebelah kirinya diangkat dan menarik cabang di atas kepala hingga posisinya agak mengantung di cabang pohon yang sedang didudukinya sekarang.

“Kau tidak suka?”

Em tidak bergeming.

“Benar tidak suka?” Stan mengenyitkan alisnya.

Em tidak berpaling, .. atau bergerak sedikitpun.

“Baiklah .. “ Stan menyerah. Tangannya yang memegang kantung kertas berisi berry, yang semula disodorkan kearah Em, ditarik kembali dan membuat gerakan seakan ingin membuang kantung tersebut.

“Tunggu!!”

Sebelum kantung kertas tersebut melayang dari tangan Stan, Em sudah merebutnya dengan cepat.

“Kau tidak punya rasa humor ya?!!” omel Em kesal. “Saya kan hanya bercanda! Kau tahu sendiri saya sangat suka berry, … apalagi berry yang dipetik langsung dari lereng bukit .. “

Stan terkekeh mendengar gerutuan Em. “Tentu saja saya tahu, nona besar.”

“Sudah tahu--kenapa lakukan juga?” oceh Em sambil melempar beberapa butir blueberry liar ke dalam mulut dan mengunyahnya. “Hmm—sedap .. “

“Itu karna kau jutek—“ sahut Stan sambil mendongak ke langit.

“Yaa—siapa yang jutek?!” Em mengalihkan keasyikannya mengemil berry, dan mendelik kearah Stan.

Stan tidak memberi tanggapan. Perhatiannya masih tertuju pada langit. Setelah puas, bukannya menjawab pertanyaan Em barusan, dia malah mengerakan tangan—melambai pada Em.

“What?” Em beranjak mendekatinya—sampai berhenti di bibir jendela. “Ada apa?”

“Keluarlah!” Stan kembali melambaikan tangannya. “Suasana malam ini cukup cerah buat dinikmati dari atap gudang. Lihat itu—bintang kecil yang menghiasi langit nampak sungguh cemerlang .. “ Stan menunjuk ke langit di atas kepalanya.

“Benarkah?!” Em menyelonjorkan kepalanya dan menengadah. “Benar!!” Dia terpekik ketika melihat berpuluh bahkan beratus bintang berkelap-kelip cemerlang di atas langit. “Padahal semula diberitakan akan hujan .. “

“Ramalan cuaca selalu salah akhir-akhir ini .. “ Stan berdiri dari posisinya, dan sambil mempertahankan diri pada cabang pohon, dia menjulurkan tangan pada Em. “Udara malam ini cukup dingin, jadi pakai dulu mantelmu. Setelah itu, keluarlah denganku .. “

Em mengangguk. Terburu-buru dia beranjak kearah ranjang. Menyambar sebuah mantel tebal yang teronggok di situ untuk kemudian segera dibungkuskan pada tubuhnya. Lalu dia berlari kearah jendela. Menerima uluran tangan Stan dan memanjat keluar. Stan menyergap tubuhnya ketika hampir tergelincir pada cabang pohon yang cukup licin karna basah oleh hujan beberapa waktu lalu.

“Thanks .. ,” desis Em sambil menghapus keringat dingin dari jidatnya.

“Kau—masih saja ceroboh walau sudah sering manjat-manjat dan loncat-loncat kayak monyet .. ,” omel Stan sambil menjitak pelan kepala Em.

“Yaa—“ Em berniat protes tapi segera disergah oleh Stan.

“Perhatikan jalanmu. Cabang berikutnya juga sangat licin .. “

Em manyun. Setelah itu, dia tidak bersuara lagi. Perhatiannya sekarang tertumpah penuh pada jalan yang mesti dilalui berikutnya. Tangan Em mencengkram erat pergelangan tangan Stan. Sedangkan perhatian Stan terarah ke depan, .. sambil sesekali memberi peringatan kecil pada Em agar tidak salah melangkah. Pemandangan tersebut terlihat aneh jika dilihat dari balik jendela, ataupun dari jalan setapak dalam taman.


_________




Em merebahkan tubuhnya di atas jerami pengatap gudang belakang di sayap kiri villa Winston. Pandangannya tercurah ke atas. Perhatiannya sekarang bergerak bebas menyusuri deretan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip menghiasi langit kelam. Begitu juga Stan—ikut menjatuhkan dirinya, duduk di sebelah Em. Pandangannya terarah ke langit.

“Indah ya?”

Em mengangguk. “Iya”

Lalu tidak ada lagi kata-kata yang terucap. Mereka hanyut dalam keheningan dan keindahan pemandangan di malam yang sangat tenang itu.

Em merubah posisinya. Sepasang tangannya yang semula menempel di bagian perut—diangkat dan digunakan untuk mengalasi bagian belakang kepalanya. Serentetan pertanyaan tiba-tiba bergelayut dalam benak Em.

“Hmm—itu .. ,” mulai Em dengan raut berubah tegas. “Kenapa datangnya lama sekali? Kau berjanji menemuiku pukul sembilan, kan? Kenapa terlambat hampir dua setengah jam? .. Apa .. dinner dengan keluarga .. Rich itu saking menariknya hingga membuatmu lupa akan .. akan waktu .. ?” tuduh Em bertubi-tubi.

Stan memutar kepala perlahan-lahan hingga bertatapan langsung dengan Em. “Ada sesuatu .. ,” jawab pemuda itu pelan. Sangat pelan dan seperti melayang.

Em mengenyitkan alis tidak mengerti. “Maksudmu?!” Kemudian dia membuang muka, kesal bercampur menyayat. “ .. sesuatu itu .. lebih penting dari janjimu padaku?”

“Ehm—“

Stan mengalihkan pandangannya ke atas langit. Pembicaraan dengan ayahnya setelah acara dinner bersama keluarga Rich, kembali membayangi pikiran Stan.


Flashback ..

“Apa maksud dari sikapmu, Stan?!” tanya Mr. Mervil, ayah Stan, dengan nada dingin dan menusuk. “Sadarkah kau kalau sikap yang kau tunjukan pada keluarga Rich tadi sangat tidak sopan dan tidak terhormat? Ini yang dad ajarkan padamu? Tidak hormat pada orang yang lebih tua darimu--hahh? Kau harus minta maaf pada mereka!!”

Stan membuang muka tidak acuh.”Jika dad tidak berusaha menjodohkanku dengan putri mereka, maka saya tidak akan bersikap seperti itu .. ,” tandasnya keras kepala.

“Apa kekurangan Jennifer Rich hingga kau menolaknya?”

“Tidak ada!” sahut Stan singkat.

“Dia cantik dan menarik. Selain datang dari keluarga terhormat, dia juga berpendidikan dan ramah pada orangtua .. “ Mr. Mervil menarik lengan Stan hingga berhenti melangkah. “Bisa dengarkan dad dulu?!”

Stan mendengus sembari membuang muka kearah lain. Ayah dan anak itu berdiri dengan posisi saling berhadapan. Mr. Mervil mengamati Stan dengan raut berkerut. Sedangkan Mrs. Mervil yang sedari tadi mengekori suami dan putranya, ikut menghentikan langkahnya di samping kedua pria tersebut. Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela nafas berat melihat pertengkaran sengit yang terjadi di depannya.

“Apa kekurangan Jennifer?” tuntut Mr. Mervil.

“Sudah kukatakan, kan?” balas Stan sengit. “Tidak ada. Dia sempurna. Teramat sempurna malah! Tapi, itu tidak menjadikanku harus menyukainya, kan?”

“Kau tidak suka Jenny?” Kerutan di jidat Mr. Mervil menjadi dalam. “Kenapa? Ada wanita lain?” tebak Mr. Mervil tanpa berpikir.

“YA!!”

Jawaban tegas dari Stan membuat mulut Mr. Mervil mengangga. Begitu juga Mrs. Mervil yang terlonjak dari tempatnya.

“WHATT?!!”

“Sejak kapan kau menyukai wanita lain?” tanya Mr. Mervil penuh selidik.

“Siapa itu, nak?” Mrs. Mervil yang biasanya tidak ikut campur dalam pembicaraan ayah dan anak itu—ikut bertanya heran. “Kenapa mom dan dad tidak mengetahuinya? Apa kami kenal?”

Stan mengangguk dengan gerak lambat. Dia merasa, .. tidak ada gunanya lagi menyembunyikan perasaannya selama ini. Ayah dan ibunya harus tahu, .. karna inilah jalan satu-satunya untuk membatalkan perjodohan yang sudah direncanakan kedua orangtuanya ini.

“Siapa dia?” tanya Mr. Mervil sambil menatap Stan lekat-lekat.

“Em—“ jawab Stan tak berkedip.

“E .. EM .. “ Mata Mrs. Mervil melebar. Dia yang menyahut perkataan Stan selanjutnya. “Emma Winston?” tanya wanita paruh baya itu buat memastikan.

“Yes!”

“Sejak kapan?” tanya Mr. Mervil setelah sadar dari keterkejutan sesaat. “Sejak kapan kau menyukai Em?”

“Sejak dulu—“ Stan menarik nafas dalam-dalam. Pikirannya melayang ketika memikirkan Em. “Dulu sekali—“ katanya dengan nada memelan. “Mungkin .. sejak duabelas tahun yang lalu .. “

“Selama itu .. ?” Mrs. Mervil kelihatan mengerutkan jidatnya.

“Iya, mom .. “ Stan tersenyum tipis.

“Dan kau tidak memberitahu mom .. ?” Mrs. Mervil menegur halus.

“Sorry, tapi .. saya tidak merasa perlu .. “

“Lalu kenapa sekarang kau utarakan?” Mr. Mervil menyela cepat.

“Karna perjodohan yang mom dan dad buat .. Saya tidak boleh berdiam diri lagi .. “

Mr. dan Mrs. Mervil mengangguk-anggukan kepala.

“Apa Em mengetahuinya?” tanya Mr. Mervil. “Perasaanmu itu?”

Stan berpikir sebentar sebelum menjawab .. ragu-ragu. “Mungkin .. Semua orang yang mengenal kami—menganggap kami pacaran. Jadi saya rasa—Em menyadarinya .. Tapi kalau tidak, saya akan segera mengutarakannya .. Mom and Dad tidak perlu khawatir .. “

Mr. dan Mrs. Mervil kembali mengangguk-anggukan kepala mereka.

“Tapi … dad tidak keberatan dengan keputusanku .. ?“ Stan menatap penuh selidik.

“Tidak!” Mr. Mervil menyahut cepat. “Kalau wanita itu si Em, dad dan mom setuju. Kami sudah mengenal anak itu sejak kecil. Dia gadis yang baik. Kami sangat menyukainya, .. kau juga tahu itu, bukan?”

End of flashback ..




“STAN!!”

Teguran keras dari Em menyadarkan Stan dari lamunannya. Stan berbalik hingga berhadapan dengan Em.

“What?”

“Apa sesuatu yang lebih penting dari janjimu itu?” kesal Em.

Stan menyengir tipis, untuk kemudian menerawangkan pandangannya kembali ke atas langit. Dia mengangkat pundak dan bernafas dengan ringan.

“Tidak perlu kau ketahui—semuanya sudah berlalu .. “

“What? Yaa—Stan … “

“Ssssttt!!” Stan menaruh telunjuknya di bibir sebagai isyarat buat Em untuk tidak bersuara. “Lihat itu!” katanya sambil mengarahkan telunjuk yang tadi menekan bibir ke atas. “Bukankah pemandangan ini sangat sayang untuk dibiarkan begitu saja?”

Em meruncingkan bibirnya. Lalu perhatian cewek mungil itu tertumpah kearah yang ditunjuk Stan. Sebentar kemudian rautnya berubah cerah. Benar kata Stan, pemandangan indah di malam bertabur bintang ini—memang sangat sayang untuk dibiarkan begitu saja.

Em menaruh tangannya kembali ke belakang kepala. Dia menghirup udara dalam-dalam. Tanpa sadar, kepalanya berputar ke samping. Samar-samar (sangat samar), dia melihat di kejauhan sana—seberkas sinar dari jendela sebuah rumah besar .. dipadamkan.


___________
« Last Edit: August 13, 2011, 02:12:05 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun