« on: August 17, 2011, 06:51:35 am »
park ji yoon as tante kunti

hantu gentayangan yang membutuhkan pertolongan.
Chapter 1 part 3:
“happy birthday!” aku membuka selimut tebal yang menutupi tubuh jack.
“terlalu pagi.” Jack menutup selimutnya kembali.
Cklek...(pintu terbuka lebar. Tak kusangka, abangku jae datang kekamar? Kejadian langka yang hanya terjadi pada saat
aku ataupun jack ulang tahun)
Jae membawa sebuah ember berisikan air, tepung terigu, dan telur.
“hyung??? Buat apa itu semua?” aku menjauh dari ranjang. Aku merasakan gelagat aneh yang pasti akan tak
terbayangkan, atau lebih tepatnya aku tak ingin membayangkannya.
“jangan melakukan hal aneh. Ku bakar kertas-kertas sampah yang ada dimejamu.” Jack membuka suara di balik selimut
tebalnya.
“ah... miane..” jae bersuara datar. Membawa kembali peralatannya.
(Wow.. hebat bukan, jack selalu bisa mengendalikan semua yang bisa mengancamnya.)
“Hyung... jadi tidak mengajariku balapan?” tanyaku halus.
“oh..” dia membuka selimutnya dengan cepat. “ kita makan asinan pedas.ok” jack mengedipkan sebelah matanya.
Langsung berlari ke kamar mandi.
Aku memutar bola mataku, berfikir sebentar, kemudian aku mengambil sekotak obat, mencari-cari obat penangkal yang
memperkecil kemungkinan agar tidak terjadi gangguan pencernaan lagi.
“ayo berangkat.” Jack melemparkan kunci kepadaku.
Aku hanya menurut. Mengikuti jack dari belakang.
Baru jack mau membuka pintu. “ricky!” jack memanggilku.
“Kenapa hyung?” tanyaku seperti orang bodoh.
“buka pintunya.” Jack berbicara datar. Aku menurutinya.
BYUUUUUURRR***( aku mengap-mengap mendapatkan guyuran air.)
“ricky bodoh! Aku heran dengan teman-temanmu yang membanggakan kepintaranmu.”jack menepuk pundakku dan keluar
dengan santai.
Aku membuka bajuku dengan kasar. “ akh... selalu saja. Pabo!pabo!” aku memukul kepalaku pelan.
##
“Perhatikan! Setiap ditikungan, kamu jangan mengerem mendadak! Tinggal belokkan saja, tapi kurangkan kecepatan!
Cepat lakukan!” jack memerintahkan dari kursi penumpang.
Aku melakukannya dengan pasti. Mobil yang ku kendarai menikung dengan mulus.
“hm... tidak buruk” jack memainkan hp-nya.
“kalau mau membalap lawanmu,jangan pernah ambil bagian kanan.” Jack memberi saran.
“ne hyung.”aku mengiyakan saja. “ini buatmu.” Jack memberiku sebuah coklat.
“oh.. gomawo.” Aku mengambil dari tangannya.
“ki, mau gak dapet sesuatu yang bisa ngebuat kamu jadi orang hebat?” jack memakan coklat yang sama denganku.
“maksud hyung apa? “ aku menoleh padanya.
“coklat yang kamu makan ada racunnya. Sebentar lagi kamu akan mendapat sakit perut yang sangat menyiksa. Dan
kemudian kau akan menginap lagi.” Hyung bercerita dengan wajah seperti menakuti anak bocah.
“eits....” aku menggerakkan jari telunjukku kekiri dan kekanan.
“Aku sudah terbiasa dengan tipu muslihatmu. Aku tak memakan coklatmu tadi.” Aku mengeluarkan coklat yang tadi
diberikan jack padaku.
“benar-benar anak pintar.” Dia mengacak-acak rambutku.
“kamu lulus.” Dia menepuk kepalaku dengan sangat kencang.
“akh....” aku mengerem mendadak mobilku.” kenapa ada orang menyebrang ditempat ini??” aku berbicara dengan nafas
memburu.
“wah.. kau bisa melihatnya?”tanya jack dengan tampang bahagia.
“maksudmu? Tentu saja aku bisa melihatnya. Aku kan punya mata.” Aku menunjuk kedua mataku dengan sinis.
“kenapa wanita itu bisa menyebrang ditempat balap seperti ini? Apa kau tak berfikir?” hyung melihatku , menaikan sebelah
alisnya seakan mengejekku.
“kau lihat kakinya! Dia tak menapak. Kakinya mengambang. Jangan kau lihat dia. Dia pasti tak menyukai itu. Kalau Kau
melihatnya, mungkin dia akan mengikutimu.” Hyung terus menatap mataku.
“oh.. aku mengerti.”aku terkekeh hambar.
Tetap saja mataku mengarahkan kepada wanita tadi. Wanita itu menolehkan wajahnya lambat-lambat.
“bodoh!!!! Apa yang kau lakukan!” jack berteriak keras.
Tapi telah terlambat. Aku membuktikan perkataan jack, dan sekarang aku hanya terpana, wajah wanita itu cantik, tapi, matanya berwarna putih, seperti pemain film horor di tivi-tivi.
Aku ingin sekali mengalihkan perhatianku, tapi sekuat apapun aku mencobanya, aku tak bisa. Tatapan wanita itu seperti
menghipnotisku. Kemudian tak lama, sosok itu menghilang.
“hyung... kau benar.”jawab ku ketakutan.
“ah.. sudah kukatakan. Dia ada dibelakangmu. Kau mau mendengar suaranya?” jack langsung memegang telingaku.
“tolong aku... kau bisa melihatkukan.... tolong bantu aku.” Bulu romaku sudah beterbangan, seakan menjerit dan hendak
berlari dari tempatnya.
“akh... hyung.... kau benar-benar selalu membawaku kedalam gerbang kesesatan.” Aku mencoba tertawa, menenangkan
fikiranku.
“akh.. tidak perlu memuji seperti itu.. anggap saja ini hadiah untukmu dihari ulang tahunku.” Jack mengibaskan tangannya.
Keringat dingin terus mengucur di dahiku, ku perbesar suhu AC.
“dengarkan! Jangan kau gugup. Anggap saja kau tak melihatnya. Jangan lihat-lihat lagi. Ok.” Jack masih sibuk memainkan
hp-nya.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan diriku.
Lama-kelamaan aku mulai terbiasa. Tapi aku merasa seperti mengacuhkan orang lain. Tak tega memang, tapi, kalau aku
menganggapnya, bisa-bisa aku yang stres sendiri.
“ingin merasakan perasaan dan membaca fikiran juga?” jack menoleh padaku, seakan meminta persetujuan. Aku
meliriknya dengan tatapan seperti ingin membunuhnya jika berani melakukan itu.
“aku tahu kau ingin.” Dia tersenyum dan menatap ke depan. Aku menghentikan mobil dengan mendadak.
“hyung!.” Aku mau meprotesnya
“kau pasti tak akan menyesal. “hyung tersenyum kepadaku. Aku bosan dengan perkataannya. Aku keluar dari mobil.tak
lama hyung juga keluar.
Dia merangkulkan tangannya hingga menyentuh dadaku.
“kau menyukai wanita cantik seperti itu? Wah.. senyumnya manis, aku juga suka dengan senyumnya.” Perkataan jack
membuatku menoleh padanya.
“ah,, tapi sayang, kau sepertinya tak ada didalam fikirannya.” Hyung merubah mimik wajahnya menjadi sedih.
“bodoh!!” jack menggeplak kepalaku.
“ya!!! wae??” aku memegang kepalaku.
“jangan sekali-kali kau memikirkan ingin mencumbunya seperti itu! “ hyung merubah mimik wajahnya sangar.
“wah.. hyung bisa mengetahuinya?” aku menatapnya kagum.
“Tentu saja. Dia putri kan.” Jack tersenyum kepadaku.
“wah.. hebat.. seperti membaca fikiranku.” Aku memberikan tepuk tangan yang meriah.
“bagaimana, mau sepertiku?” jack seperti menantangku.
“tentu saja aku mau.” Tanpa aba-aba, jack menepuk pundakku. Memberikan perkataan-perkataan.
“dengarkan aku. Kamu harus relex, anggap kau seperti anak bayi yang tak tahu apa-apa, keluarkan fikiran burukmu.
Bersihkan hatimu. Coba kau rasakan perasaan orang yang ada disekelilingmu. Anggap kau dan dunia mereka tanpa batas.
Kau rasakan seperti menjadi dirinya. Ok.” Dia menepuk pundakku lagi. Aku terbangun.
“kau rasakan perasaanku, baca fikiranku. Tatap mataku.”aku mencoba yang diperintahkan jack.
aku seperti menerobos lorong-lorong, seperti memutar video yang lampau.
Pada satu gambaran aku berhenti dan melihatnya, seperti masuk kedunia itu.
“kau jahat!! Kau sudah melukai hatiku! Jangan kau datang kepadaku! Lupakan aku! Jangan kau sebut cinta padaku.”
“aku bersama adikmu untuk membalas keburukanmu yang telah berselingkuh pada kakakku. Jangan kau racuni dia. Aku
sudah mencintainya. Pergilah”
“aku benci kau. Kau yang sudah membuat aku putus darinya. “ Plakkk..*
Aku tersadar.
“kau lihat bagian mana?” hyung melihatku dengan tatapan menyelidik.
“tidak.. aku tak melihat apapun” aku shock.
“Kau lupa aku bisa membaca fikiran juga.” Jack tersenyum paksa.
“Ayo pulang.” Jack masuk kedalam mobil, kemudian aku menyusulnya.
##
“Jadi kau akan menolongku?” tanya sang wanita.
“tante kunti jangan bawel ah.. iya besok saya bantu.”aku sibuk membaca buku matematika.
“bagaimana kau membaca buku itu! Kerjakan soalnya!” dia berubah memarahiku.
“kau tahu ini apa?” tanyaku takjub.
“tentu saja. Aku kan juga pernah sekolah.” Tante kunti itu membuang wajahnya, pertanda kesal.
“ah.. tante, kau seram sekali dengan mata putihmu itu. Tak bisakah kau merubah warnanya?”tanyaku pelan.
“oh.. kau terganggu? Aku kira kau terbiasa.” Tante kunti itu memejamkan matanya, kemudian matanya berybah menjadi
biru terang.
“bagaimana yang ini?” tanyanya meminta pendapat.
“ya.. lebih baik.” Aku tersenyum hambar.
Jae membuka pintu kamarku pelan.
“ki, tolong bantu aku untuk menghentikan jack memakan makanan pedas itu. Jack memakan makanan pedasnya terlalu
banyak. Mungkin dia terlalu bahagia dengan hari ulang tahunnya.” Jae keluar lagi dari kamarku.
“wah.. kakakmu tampan juga ya. kenapa kamu bisa imut?” tanya tante kunti seperti wanita yang sedang menggoda.
“jangan berisik! Atau kau kreekkk**” aku menggariskan leherku dengan telunjukku.
“hihihihii.. kau lupa kalau aku mati dengan menggantungkan diriku?” tante kunti terkekeh.
“hentikan tawamu.” Aku meliriknya dengan tajam.
Aku keluar dari kamarku. Menuju ruang makan.
“aku tak akan tinggal disini lagi. Aku bosan denganmu.” Jae meneriaki jack.
“ya sudah. Pergi! Urusi semua usaha dad. Makan semua pelajaran gila tentang bisnis. Aku juga bosan denganmu
hyung.pria yang menjadi pendiam gara-gara seorang wanita. Gila!!” jack bangkit dari kursinya.
“kakakmu yang satu lagi kok jadi berubah??” tanya tante kunti.
“minggir kau.” Jack mendorongku yang menghalangi jalannya menuju kamar.
Aku menyusul jack dari belakang. Aku membuka pintu dengan perlahan.
“hyung.. gwenchana?” tanyaku pelan.
“miane ricky. Aku tak memberi tahumu. Aku menyukai asley. Miane. Aku tahu kau menyukainya juga. Bisakah kau kembali
pada asley?” tanya jack dengan tatapan menerawang.
“ya.. hyung!!! Kenapa kau jadi aneh sih?” aku bingung.
“aku tak ingin kau menyakitinya!! Kembalilah padanya. Lupakan putri! Dia tak akan menyukaimu.” Jack menundukkan kepalanya.
Perkataan jack seperti petir yang membakar seluruh tubuhku.
Apa benar cinta yang aku pendam untuk putri tak akan pernah bisa sampai padanya? Haruskah kulupakannya?
Senyumnya... apa tak bisa ku dapatkan? Apa yang harus kulakukan? Aku kacau. Asley? Hyung? Cinta apa itu? Perasaan
hyung yang sangat sakit, kenapa aku merasakan juga.
Apa alasan hyung memberiku untuk membaca fikirannya? Abaikan!!!!!!!!!!!!!
Aku mengambil jaket dan kunci motorku. Pergi meninggalkan rumah tuk menenangkan diriku.

Logged
Hidup sukses, bahagia dunia khirat, membahagiakan orang banyak, bermanfaat untuk agamaku amin ya allah..