Author Topic: Strawberry, Lovers or Haters?--#CHP 15 PART II# 6 Nov' 11  (Read 26956 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER 15

Part I : Terbongkarnya rahasia Wine!




Aku menangis meraung-raung meneriakan nama Wine. Kuguncang-guncang tubuhnya, berulang kali buat menyadarkannya. Tidak kuperdulikan pandangan-pandangan bertanya dari orang-orang di sekitar kami. Wine terkulai lemas dalam dekapanku, dia telah pingsan sejak tadi, .. mebuatku tidak bisa berpikir jernih lagi. Entah sampai berapa lama sampai sebuah tangan mendarat di pundak ku.

“Stro?!!”

Aku menepis tangan itu, .. dan tangisku semakin menjadi-jadi. “Wine!! Wineee!!! Hu .. hu .. sadarlah … , Buka matamu … hu .. hu .. Apa yang harus kulakukan .. “

“Stro!!”

Tepukan yang disertai guncangan terasa kembali di pundak ku. Bahkan orang yang kini sudah sampai di sampingku, berjongkok dan menatapku heran.

“Apa yang terjadi?”

Aku terkesiap—seperti disadarkan dari mimpi panjang. Mataku melebar ketika melihat dua pasang mata, atau—lebih tepatnya, dua raut wajah, sudah berada begitu dekat dariku. Hembusan nafas mereka begitu terasa di kulit wajahku.

“YAAAA!!!” Aku segera mendorong kedua cowok itu. “Do .. Double-C!!! A .. apa yang kalian lakukan?!!” Aku berseru sambil menunjuk Chocolate dan Coffee silih berganti.

“Kami mendengar teriakan, maka kemari .. ,” jawab Coffee. “Dan, .. tunggu sebentar—siapa yang kau maksud Double-C?”

“Tentu saja kalian!” tandasku ketus.

Coffee mengenyitkan alis sambil melirik sahabat di sampingnya. Chocolate hanya bisa merespon dengan memicingkan matanya. Sebentar kemudian, perhatian mereka tertumpah pada Wine.

“Apa yang terjadi padanya?”

Disadarkan akan keberadaan Wine, aku segera bersimpuh kembali ke tanah, .. dan menarik tubuh jangkung itu ke dalam pelukanku. “A .. aku .. ti .. tidak tahu … “

“Penyakitnya kumat?”

Coffee segera menjatuhkan diri berjongkok di sebelahku, yang segera diikuti Chocolate. Mereka terlihat sangat khawatir.

“Pen .. penyakit … ?” Aku menatap Double-C bergantian, … heran, bingung—campuraduk jadi satu. Yang jelas, aku tidak mengerti pertanyaan mereka.

Coffee membalas tatapanku sejenak, .. namun dia tidak berucap apa-apa. Dengan sedikit memaksa, dia mengambilalih Wine dari tanganku, dan—dengan bantuan Chocolate, dia membantu Wine hingga berdiri tegak.

“Sa .. saya harus membawanya ke .. klinik dokter Kwon .. ,” kataku terbatah-batah. Dengan punggung tangan, kuhapus sisa-sisa airmata yang kerap bercucuran dari sepasang mataku.

“Kami tahu .. ,” jawab Chocolate di sela-sela nafasnya yang memburu.

“La … lalu .. kalian mau membawanya .. ke mana?”

“Klinik dokter Kwon tentu saja!” tandas Coffee tegas.

“Kli .. klinik dokter Kwon .. “ Aku melirik ke segala arah dengan linglung.

“Stro!” Coffee menekan pundak ku. “Gwencana?” tanyanya khawatir. “Kau tidak apa-apa, kan? Klinik dokter Kwon kan sudah ada di depan mata.”

#GUBRAKK



_________ ##### __________




Ok, sekarang aku duduk di sini. Di ruang tunggu praktek dokter Kwon yang berkesan kuno. Chocolate dan Coffee duduk di sebelahku, ikut gelisah sambil menunggu pemeriksaan yang dilakukan dokter Kwon terhadap Wine. Aku meremas jari-jemari berulangkali, .. sampai jari-jemariku terasa lucek dan agak perih.

“A .. apa yang terjadi .. se .. sebenarnya .. ,” desahku lirih. Berkali-kali aku mengigit bibir, .. sambil sesekali menghapus airmata yang masih saja tidak mau berhenti mengalir. “Wine .. Wine .. a .. ada apa .. de .. dengannya … ?”

Coffee menatapku. “Tenanglah—dia tidak apa-apa. Dia pasti mampu melewatinya … “

“Penyakit?” Mendadak kata itu melintas dalam pikiranku. Aku menoleh kepada Coffee. Menatapnya dan Chocolate bergantian. “Kau mengatakan—penyakitnya kumat! Apa maksudnya itu? Wine mengidap penyakit? Penyakit apa?”

Coffee melirik Chocolate, seakan meminta persetujuannya. Chocolate mengeleng--sebagai tanda tidak setuju.

“Katakan padaku!” Aku menarik lengan Coffee histeris. “Katakan—penyakit apa yang dideritanya?!!”

“Stro, kami …

Belum selesai perkataan Coffee, pintu rawat di belakang kami dibuka orang. Dokter Kwon melangkah keluar dengan raut keras.

“Sudah berapa kali kuperingati—agar dia lebih berhati-hati!!”

Aku tidak mendengarkan nasehat dokter Kwon lebih lanjut. Dengan tergesa—aku agak mendorong tubuh rentanya, dan menyerbu masuk ke dalam ruang rawat Wine.

“Hey—“

Dokter Kwon yang hampir tersungkur—segera disangga oleh Double-C. Untung saja—kalau tidak, pasti berakibat fatal bagi dokter tua itu.

“Anda baik-baik saja, dokter Kwon?” tanya Chocolate.

“Si Stro—ada apa dengannya?” omel dokter Kwon sambil mengusap-ngusap lengannya yang terasa nyeri oleh kebrutalanku.

Chocolate membalas dengan senyum—yang—agak dipaksakan. “Dia—hmm … “

Dokter Kwon sepertinya tidak memerlukan jawaban, karna dia segera menyusulku masuk ke dalam ruangan. Coffee dan Chocolate saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama mengangkat bahu, sebelum memutuskan masuk ke dalam.



________ ###### __________




Aku terpaku di bibir ranjang. Wine terbaring di sana. Keadaannya masih sama seperti semula. Bentol-bentol merah darah belum menghilang dari sekujur tubuhnya. Sisanya—hanya kepucatan. Bibirnya terlihat pecah-pecah dan kering.

“Wine … “ Tanpa terasa, airmataku mengalir kembali. “Ke ... kenapa .. keadaannya masih seperti ini .. ?" Aku berpaling pada dokter Kwon.  "Kenapa, dokter Kwon? Bukankah seharusnya ,dia segera sembuh begitu selesai diobati?”

“Sembuh?” Kelopak keriput milik dokter Kwon melebar.

“Iya .. “ Aku mengigit bibir dan berkeras. Sekalipun tahu bahwa itu tidak mungkin. Penyakit Wine terlihat parah, .. jadi bagaimana mungkin dia akan segera sembuh begitu diobati oleh dokter Kwon?

Tapi aku ingin memiliki harapan itu.

“Sembuh apanya?” dokter Kwon melangkah lebar-lebar kearah kami. Tatapannya tertuju pada Wine dengan raut keras seperti tadi. “Lihat keadaannya!” lanjut dokter Kwon sambil menunjuk Wine. “Dalam keadaan seperti itu—apa kau kira dia bisa sembuh dalam sekejap? Malaikat sekalipun tidak mungkin melakukannya? Lagipula … “ dokter Kwon merentangkan sepasang tangannya kesal. “Sudah berapa kali saya peringati agar tidak makan stroberi? Beginilah akibatnya!!”

Alisku berkenyit. “Ma .. makan stroberi .. ?”

Dokter Kwon mengalihkan perhatiannya padaku. “Oo—dia habis makan stroberi kan?” dokter itu balas bertanya.

Aku mengeleng pelan. “Ti .. tidak. Me .. memangnya, .. apa hubungannya .. makan stroberi dengan penyakit Wine .. ?”

Dokter Kwon membuka mulut.

“Dokter Kwon!” Coffee segera menepuk lengan dokter Kwon, .. tapi terlambat ..

“Dia alergi stroberi. Apa kau tidak tahu?” Setelah berucap begitu, dokter Kwon berpaling pada Coffee, “Mwo?”

Coffee menahan nafas. “Aniyo .. ,” lalu pandangannya berpindah padaku, “ … sudah terlambat … “

“Alergi stroberi?” Layaknya orang linglung, aku mengulangi kata itu. Terdengar seperti pertanyaan, tapi sesungguhnya aku tidak memerlukan jawaban.

“Stro, .. bukan seperti itu .. “ Chocolate menjatuhkan tangannya di pundak ku, .. kemudian menekan dengan lembut. “ .. jangan berpikir yang tidak-tidak .. “

“Berpikir apa .. ?” tanyaku heran, bercampur bingung. Seperti berada dalam mimpi, aku berpaling pada Wine yang masih terbaring nyenyak dalam tidurnya. “ .. memangnya apa .. yang seharusnya kupikirkan .. ?”

“Tidak ada!” tandas Coffee cepat. “Benar. Kau tidak harus memikirkan apa-apa! Setelah Wine sembuh, dia akan menjelaskan segalanya kepadamu … “

“Saya sering heran … “ Suara dokter Kwon membuat orang-orang dalam ruangan tersebut berpaling padanya—kecuali Wine tentu saja. Karna dia masih terbaring lemah di ranjangnya. “ … kenapa penyakitnya sering kambuh akhir-akhir ini? Anak ini—sudah makin bandel saja, .. padahal dulu dia tidak seperti itu … Dia tidak pernah mau menyentuh buah stroberi, sekalipun dipaksa … “

“Dokter Kwon!” tegur Coffee pelan. “Cukup bicaranya … “

“Weeyo?” dokter Kwon berkenyit heran. “Tugasku untuk mengingatkannya—begitu juga kalian. Benar-benar berbahaya kalau kebandelannya dibiarkan terus-menerus. Dia harus menjauhi buah stroberi, apalagi memakannya, sebelum dia sembuh … “

“Alergi stroberi?” Entah mengapa kata-kata itu membuatku merinding. Tanpa sadar, .. pandanganku menurun ke wajah Wine. Bintik-bintik dan bentol-bentol yang mengerikan. Aku yakin dia sangat menderita.

Lalu ... , perlahan-lahan, sangat samar dan sayup, … sebuah suara memasuki pikiranku. Sangat akrab--karna itu suara Wine.

"Aku benci strawberry!!"
"Terlebih padamu!"
"Bau yang menyebar dari tubuhmu membuatku puyeng. I hate you, strawberry!!!"

"Berdiri di situ!"
"Jangan mendekat!"
"Aromamu terlalu menusuk! Membuat ku muak!"

"Yaa--hentikan ulahmu!!"
"Jangan mengorek dan mengotori makanan-makanan ini dengan sumpitmu!!"
"Kau reseh banget!!"
"Sudah kubilang kau jorok! Dan kejorokanmu membuatku muak! Makanan-makanan ini sudah tercemari oleh .. "
"YAA--"
"Jangan sekali-kali menyentuhku!!"

"An .. antwee!!"
"Kau .. kau lakukanlah sendiri .. "
"Tidak mau!!"
"A .. aku .. pokoknya .. tidak bisa!!"
"Bangun!!"
"Selalu sial berdekatan denganmu!!"

“Jangan menyentuhku!”
“Kuperingatkan untuk terakhir kalinya—jangan sekali-kali menyentuhku LAGI!”

"Yaa--Jangan mendekat!!"
"Yaa--berdiri dari situ!!"

"Akh!!"
"DOKTER KWON!!!"

“Masih tanya?!!”
“Semua gara-gara kau!

"Jika kau memerlukan ini ... Aku bersedia meminjamkannya ... "
"Akhhh--aku sudah tidak tahan lagi!!!"

"Ini--"
"Ini .. bukan penyebab dari ..  sikap ku padamu ... Dulu mungkin iya, tapi ... tidak sekarang ... "

“Aku .. aku tidak .. punya waktu untuk .. menjelaskan ini padamu .. ,”
“A .. aku harus pergi, Strawberry-a .. “
.. tapi ingat apa yang akan kukatakan ini—Semua bukan kesalahanmu. Apa yang ter .. jadi padaku .. bukanlah .. ke .. salahanmu, .. araso … ?”
“Aku tidak apa-apa .. ,”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Kembalilah ke rumah .. “
“Tidak. Jangan mendekat! A .. aku .. harus pergi!”

“A .. aku mencintaimu, .. dan .. bagaimana denganmu? .. A .. apa yang akan kau lakukan .. ?”
“Aku tidak apa-apa! Jawab dulu pertanyaanku!”
“Apa kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku? .. Mau jadi pacarku, Strawberry Im?”
“A .. aku tidak apa-apa. Ha .. hanya sedikit pusing. Kau—antar .. aku ke .. klinik dr. Kwon, Strawberry-a .. “
“Palli … ,”


Aku bergerak mundur selangkah. Kutatap Wine tidak percaya. Suara-suara tadi--masih terus mengiang-ngiang di telingaku.

"A .. alergi itu, ... bu .. bukan .. karna .. aku kan .. ?"

"Dia harus .. Eh--" Mata dokter Kwon melebar. "Apa katamu?"

Aku tidak menghiraukan dokter Kwon. Kutatap Coffee dan Chocolate menyayat, .. meminta kepastian yang entah mengapa  .. kuyakini ... 'kebenarannya'.

"Hmm--itu ... " Coffee menelan ludahnya. Dia terlihat gelisah. Tangan kirinya mengurut-ngurut bagian belakang kepalanya sambil menatap Chocolate--mencoba mendapat dukungan dari temannya yang satu itu. Chocolate menghela nafas. Seperti juga Coffee, dia terlihat enggan menjawab.

"Berhubungan denganku .. ?" ulangku buat menyakinkan. Aku ingin seseorang menjawab 'TIDAK!' buat pertanyaanku. Penyakit itu tidak ada kaitannya denganku. Bukan aku yang menjadi penyebabnya. Namun, .. tidak seorangpun dari mereka yang bersuara.

"Alergi pada Stro?" Jidat dokter Kwon yang sudah berkeriput mengerut. "Kenapa?" dokter tua itu kelihatan sangat heran.

Tapi itu hanya sesaat, .. sebentar kemudian, kelopak mata dokter Kwon melebar. Dia seperti baru menyadari sesuatu. Kebenaran yang mungkin sangat terlambat. Diamatinya aku dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu berbalik lagi dari kaki sampai ke ujung kepala. Aku melihatnya menghirup dalam-dalam. Rautnya berubah. Alisnya berkenyit sangat dalam ketika menghampiriku. Dia menghirup sekali lagi.

"Aroma ini ... ," dokter Kwon menatapku dengan sepasang mata terbelalak lebar. "Stroberi!" serunya kencang. "Jadi benar isu selama ini--Stro, kau beraroma stroberi ... "

Aku tidak berani menatap dokter Kwon. Saat ini, aku merasa sebagai orang yang paling berdosa. Mataku melirik ke segala arah dengan resah, .. sementara bulir-bulir airmata kembali menuruni sepasang pipiku.

"Penyebab alerginya Wine adalah kamu ... ," dokter Kwon menghela nafas. Kepalanya mengeleng berkali-kali.

"Miane .. miane .... " Aku menangis tersedu-sedu. Kututup wajahku dengan sepasang tangan. Berulangkali aku mengelengkan kepala. "Miane Wine-a ... A .. aku tidak bermaksud begitu .. Miane ... "

Dengan sekujur tubuh gemetar, kuturunkan tanganku perlahan-lahan. Kutatap Wine--dengan perasaan campur-aduk, yang tidak mampu kuredam kembali. "Miane ... "

Aku berbalik membelakangi Wine. Kuhapus airmataku dengan punggung tangan. Kepalanku terkepal, .. aku sudah mengambil keputusan. Sambil mengigit bibir, .. kuarahkan kakiku ke depan. Namun belum selangkah aku melangkah, .. tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangan tanganku.

"Aku tahu apa ... yang ... ingin kau lakukan ... " Suara serak dan lemah dari Wine.

Mataku terbelalak, .. aku menoleh dengan cepat "Wine ... ," aku mendesah lirih.

" .. A .. aku ti .. tidak akan .. membiarkannya ... "

" .... "

“Jangan renggut kebahagiaan itu dariku .. ," Wine menelan ludah dengan susah payah, .. kemudian menjilat dan membasahi bibirnya yang kering dan pecah-pecah.

"Le .. lepaskan saya .. ," kataku memelas. " .. biarkan saya pergi ... Saya mohon, Wine ... "

"Tidak akan!" Wine mengeleng sambil memejamkan matanya. Dia terlihat sangat menderita.

"Le .. lepaskan saya ... "

"Strawberry ... "

“Saya ingin mengembalikan kebahagian itu—bukan merenggutnya! ," seruku agak keras. Sungguh--aku sudah tidak tahan lagi. Melihat penderitaannya--hatiku terasa sangat sakit. Seperti tercabik-cabik berpuluh-puluh cakar tajam, .. ataupun tertusuk beratus-ratus pisau yang dilemparkan langsung ke hatiku. "Lihat keadaanmu! Kau akan mati kalau berkeras bersamaku, Araso? Hentikan kegilaanmu, .. saya mohon, Wine-a .. Biarkan saya pergi ... "

Kembali, .. lagi-lagi airmata yang saat ini sangat kubenci--mengalir kembali dengan deras. Agak kasar, kusapu dengan punggung tanganku. Kemudian, tanganku yang satu lagi, yang masih digenggam Wine, kugerak-gerakan hingga terlepas dari cengkraman Wine. Aku memantapkan hati--melangkah ke depan. Tidak kulihat, bagaimana Wine dengan susah payah menyangga tubuhnya, bangun dari atas pembaringan.

“Dengan pergi dariku—berarti kau merenggut kebahagiaan itu. Aku tidak dapat hidup tanpamu, Strawberry, .. kau dengar itu?”

Langkahku terhenti.

"Tidak ada yang bisa membuatku melepaskanmu .. Tidak juga keegoisanmu, Strawberry .... "

Aku memejamkan mata, .. menengadahkan wajah ke langit-langit ruangan yang dilapisi kayu tua dan menghela nafas berat. Jangan begini, Wine .. Saya mohon. Saya tidak ingin menjadi beban bagimu .. Saya tidak ingin kau menderita hanya demi aku ... Aku tidak pantas mendapatkannya ...

"Baik. Kau boleh mengambil keputusan meninggalkanku. Ataupun menolak cintaku karna merasa bersalah. Aku tidak akan melarangmu, Strawberry. Tapi kuperingatkan--kau juga tidak berhak menghalangi keputusanku untuk terus mencintaimu, karna aku ... tidak akan menyerah ... "

Tubuhku jadi kaku seketika. Aku tidak mampu bergerak ketika sebuah tepukan terasa di pundak ku.
 
“Beri dia kesempatan, Stro-a .. ," kata Coffee yang sudah berdiri di belakangku. "Dia--yang menderita saja tidak menyerah, kenapa kau begitu mudah melepas kebahagiaanmu ... "

"A .. aku ... " Aku menangis kembali.

"Kami sahabatnya .. ," sambung Chocolate. Dia tersenyum lembut. "Seperti juga kau--kami juga tidak ingin melihatnya menderita .. Tapi kami tahu kalau kebahagiaannya adalah kau, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa .. Kami hanya bisa mendukung keputusannya ... " Chocolate menyentuh lenganku. "Beri kesempatan padanya .. Kalian pasti akan bahagia ... "

Aku mengigit bibir, .. bulir-bulir airmata masih setia menemani pelupuk mataku--membasahi wajahku. Aku memutar tubuh lambat-lambat, hingga berhadapan dengan Wine.

Dapat kulihat jelas, wajahnya yang semakin pucat. Irisnya yang redup tapi memancarkan harapan. Dia berusaha tersenyum, .. walau terlihat menyakitkan. Dia mengangguk ketika aku mengeleng, dan mengulurkan tangan begitu aku mengusap airmata yang menuruni pipiku.

"Kemarilah .... "

"Ti .. tidak .. " Aku meremas jemariku keras-keras. "Aku akan menyakitimu ... "

"Tidak apa-apa .. " Wine tersenyum, dan mengeleng dengan kekuatan yang tersisa. "Kemarilah ... "

"Ti .. tidak ... " Aku mengeleng kuat-kuat, dan membuang muka kearah lain.

"Strawberry Im!"

Aku memejamkan mata. Tidak bisa ... Aku tidak bisa menghindar lagi. Panggilan itu begitu bertenaga, .. seolah menarik ku untuk melihat padanya. Memaksaku untuk ... menghambur ke pelukannya.

Aku berlari kearah Wine, .. masuk ke dalam dekapannya, .. menangis sepuas-puasnya.

"Pabo ... ," desah Wine lirih.

"Miane .. miane ... " Aku menyusupkan wajahku dalam-dalam di dadanya. Mungkin ini yang terakhir kalinya sebelum ... Wine benar-benar sembuh dari penyakit yang selama ini menghinggapinya.


_________ oOo ___________

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun