«
Reply #225 on: September 05, 2011, 02:27:38 am »
I CAN’T CALM MY HEART
Chapter 8
Kediaman keluarga Yoon
Jandi bergegas menuju kamar jihoo, lelaki itu sedang terbaring lemah di tempat tidurnya. Perlahan ia mendekat.
Jandi : “Oppa…”
Panggilan jandi tak mendapat respon dari jihoo, bukan karena suaranya terlalu halus, hanya saja sepertinya jihoo sudah tertidur pulas dan sama sekali tak sadarkan diri. Sejenak jandi memperhatikan seisi kamar jihoo yang luar biasa berantakan, dahinya terhenyit heran. Ini sama sekali bukan gaya hidup jihoo, jandi terlalu mengenalnya, tak pernah sekalipun mendapati jihoo dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Bau alkohol begitu kentara tercium olehnya, dengan puluhan botol berserakan di meja sampai ke lantai menambah pengapnya ruangan ini. Sebenarnya sudah hampir dua minggu botol-botol itu disana, tidak seorang pelayanpun diizinkan masuk oleh jihoo untuk membersihkannya. Seorang pelayan yang mengantar jandi tadi terlihat sangat khawatir dengan keadaan tuan mudanya, ia terlihat tertekan karena tidak tahu harus bagaimana selama ini.
Pelayan : ”Nona, apa yang harus saya lakukan, tidak biasanya tuan muda seperti ini. Sudah dua minggu saya tidak diizinkan menyentuh apapun disini. Dia juga jarang pergi bekerja, sementara dia tidak perduli dengan siapa saja yang menemuinya. Ia menyetir sendiri dalam keadaan mabuk, saya sungguh takut nona.”
Pelayan itu menatap jandi penuh harap, ntah apa yang yang membuatnya yakin akan mendapat solusi dari kehadiran jandi. Sementara gadis itu dari tadi hanya terdiam kaku, tak percaya dengan keadaan jihoo saat ini. Belakangan ini jihoo memang selalu menghindari teman-temannya, dia selalu sendirian kemana-mana, tidak datang dengan rutin ke rumah sakit, hampir saja ia menelantarkan pasien-pasiennya. Mengingat selama ini dia adalah seorang dokter yang sangat perhatian dan manusiawi pada semua pasiennya.
Jandi sendiri heran, apa yang membuat jihoo bisa menjadi pemabuk seperti ini, tidak tahu penyebab berubahnya sikap jihoo ini adalah karena dirinya. Tapi meskipun begitu, sebagai orang yang sangat dekat dengan jihoo, bagaimana bsa ia tak tahu apapun. Seharusnya ia bisa lebih memperhatikan jihoo, tapi belakangan ini dia malah tidak pernah lagi bersama jihoo. Lebih sering bermesraan bersama suaminya tanpa tahu terjadi masalah pada jihoo. Ia jadi merasa sangat bersalah
Jandi : ”Istirahatlah, kau pasti sudah bekerja keras demi jihoo oppa, kali ini biar aku yang akan mengurusnya.”
Semalaman jandi menunggui jihoo, dimulai dengan membersihkan seluruh isi kamar jihoo setelah pelayan tadi menuruti perintah jandi untuk meninggalkannya sendiri. Jandi mulai mengumpulkan satu demi satu botol minuman, membersihkan lantai dan mejanya, merapikan setiap sudut kamar jihoo. Sesekali ia menyeka titik-titik keringat di dahinya, ntah kenapa sebentar saja dia merasa begitu kekelahan. Bukan karena seorang jandi tidak pernah bersih-bersih sebelumnya, mengingat dia lah yang selalu membersihkan apartemen mereka saat di Boston. Mengingat kembali hari-hari itu, jandi jadi tertegun-terhenti dari kerjanya. Perlahan ia mendekati jihoo, menatapnya dengan senyuman prihatin. Terbesit kerinduan disaat-saat mereka bersama, hidup yang rasanya tak pernah sepi, tak pernah sulit, tak pernah merasa sedih maupun khawatir pada apapun, tak pernah ada yang membebani. Jihoo selalu ada di sisinya, menjaganya, membantunya dalam segala hal, membuatnya tertawa, juga sering mengajaknya bertengkar. Kalau diingat-ingat lagi, seharusnya jandi sangat bergantung pada jihoo, tapi lihat apa yang diperbuatnya setelah menemukan junpyo dalam hidupnya? Ia bahkan tak tahu terjadi masalah pada jihoo.
Dulu, jihoo selalu menyuruhnya membersihkan ini dan itu, ntah dia sengaja atau tidak, mereka sering berdebat karena hal ini. Jandi protes karena dia merasa sudah merapikan semuanya dengan sempurna, tapi di mata jihoo masih saja ada yang kurang. Tak disangka jihoo seperfeksionis itu.
Terkulum senyum pahit di bibir jandi saat mengingat itu semua, menatap sedih pada jihoo yang dahinya terbalut perban yang cukup basah karena keringatnya. Bagaimana seorang dokter bisa begitu ceroboh mengurus dirinya sendiri, tanpa sadar jandi terkekeh halus memperhatikan jihoo yang masih tertidur pulas. Perlahan jandi membuka perban di kepala jihoo untuk kemudian menggantinya dengan hanya menempelkan perban kecil disana, ia juga memperbaiki posisi tidur jihoo dan menyelimutinya.
Sakin lelahnya, tanpa sadar jandi tertidur di sofa kamar jihoo. Dia bahkan tidak tahu ponselnya meraung-raung di tengah malam yang senyap ini, karena ponsel itu hanya bergetar tanpa mengeluarkan suara.
--Di sisi lain--
Junpyo terlihat sedang mondar-mandir di kamarnya, rautnya begitu kusut, agaknya tertekan, sambil menggenggam kuat ponsel di tangannya. Sesekali ia memberanikan diri menghubungi jandi, tapi justru tidak ada jawaban. Dan itu hanya akan membuatnya semakin kesal, jantungnya berdetak cepat, susah payah menahan kakinya melangkah-ke tempat dimana pasti ia akan menemukan jandi. Junpyo berkali-kali menghela nafas kuat, menahan emosi yang bergejolak dalam dadanya yang seolah akan meledak. Terkadang menengadah, mencoba tenang, tapi tak bisa. Jakunnya naik turun seakan tercekik oleh beban yang sedang dirasanya.
Malam semakin larut tapi ia bahkan tak bisa duduk dengan tenang, bagaimana junpyo bisa tidur sementara jandi tidak ada di sisinya. Selain sudah tidak terbiasa tidur di ranjang ini tanpa jandi, keberadaan gadis itu di sisi jihoo sungguh membuatnya gerah. Ingin sekali junpyo datang ke tempat itu sekarang juga, lalu menyeret jandi pulang apapun yang terjadi. Hanya saja ada sesuatu dalam dirinya yang begitu membebani, merasa tak pantas mengikuti egonya. Ia benar-benar tak pantas, ketika terus dibayangi sorot mata jihoo yang nanar saat lelaki itu mengucapkan kata-kata yang menusuk nuraninya tadi.
Seakan telah memutuskan sesuatu, junpyo tiba-tiba melangkah lebar menuju closet, ia buru-buru mengambil sebuah tas besar dan memasukkan beberapa pakaiannya kesana.
====================
KEESOKAN HARINYA
Jihoo menatap jandi yang masih tertidur pulas di sofa kamarnya, dalam diam, hanya menatapnya lekat-lekat. Gadis itu ada disini, tapi kenapa ia tetap merindukannya lebih dalam lagi. Seperti orang bodoh yang terus berdiri di hadapannya, tanpa bisa menjelaskan apa yang sedang dirasakannya. Dia seolah terus saja meneriakkan namanya, berlari menuju pada gadis yang begitu dekat di sisinya. Tapi, sekuat apapun hatinya berteriak, sebanyak apapun ia memanggil, seperti apapun ia berharap jandi menoleh, gadis yang dicintainya ini tetap tak pernah tahu. Ia hanya akan kelelahan, lelah mendengar dentuman perasaannya sendiri.
“Tak dapatkah kau mengerti, cintaku hanya kau seorang.” batinnya.
Seolah menyadari namanya dipanggil, kali ini mata jandi mulai bergerak. Melihat pergerakan itu, jihoo dengan tenang langsung menjauh dengan kedua tangan terselip di saku, ia menghindar. Tak ingin jandi menangkap tatapan penuh cinta yang masih membekas jelas di matanya itu, tidak mudah memang menghapusnya begitu saja.
Mata yang masih mengantuk itu perlahan terbuka, meski pandangannya masih kabur tapi jandi langsung bisa menangkap sosok jihoo meski hanya terlihat punggungnya.
Jandi : “Oppa..” panggilnya buru-buru, dengan raut khawatir.
Langkah jihoo terhenti, tanpa menoleh. Mungkin karena ’cinta’ di matanya masih enggan pudar, masih terlihat jelas. Sementara jandi merasa aneh dengan sikap jihoo.
Jandi : ”Oppa, kau baik-baik saja? Maaf aku ketiduran disini. Bagaimana luka mu?” Mulanya agak segan, ragu dengan sikap jihoo yang dingin.
Jihoo : “Gwenchana.” jihoo masih juga belum mau menoleh menghadap jandi.
Kali ini jandi benar-benar penasaran, ia mendekati jihoo yang berdiri kaku. Tidak perduli meskipun jihoo akan marah, ia hanya ingin memastikan apa yang terjadi pada jihoo. Sejenak jandi semakin ragu saat berada tepat di belakang jihoo tapi lelaki ini masih saja tak menoleh, ia memberanikan diri meraih tangan jihoo, memaksa jihoo menghadap ke arahnya. Tapi sepertinya jandi salah, setelah menatap lekat wajah jihoo tapi tak sedikitpun ada yang berbeda dari tatapan lelaki ini. Masih seperti biasa, menatap jandi dengan tatapan teduh, raut tanpa ekspresi, tak tahu apa yang ada dipikirkannya, selalu begitu.
Keduanya terdiam sesaat, jandi memperhatikannya penuh tanya saat semakin lama tatapan jihoo mulai menusuk lurus hingga ke relung hatinya. Mendadak ia jadi begitu ragu dengan sikap jihoo, sampai lidahnya terkelu. Ntah apa arti tatapan lelaki ini, tak pernah bisa ketahuan. Tapi dia bisa berubah dalam sekejap, seperti saat ini, dalam hitungan detik menunjukkan seolah ia baik-baik saja.
Jihoo : ”Jandi-yaa aku lapar, Ayo kita makan.”
Jandi yang masih terkelu, hanya bisa membiarkannya berlalu tanpa mendapat jawaban pasti tentang apa yang terjadi padanya. Jandi jadi semakin tak mengerti kenapa jihoo benar-benar berbeda dengan keadaannya semalam. Secepat ini dia baik-baik saja?
------------------------------------------
Jandi dan jihoo menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh pelayan, jandi sesekali melirik ragu pada jihoo yang sama sekali tidak terlihat seperti orang terluka, dia melahap makanannya dengan tenang.
Jandi : ”Oppa, sebenarnya apa yang terjadi? Kau mabuk sampai mobil mu menabrak. Apa yang membuatmu minum sebanyak itu?”
Jandi memperhatikannya dengan raut khawatir, meski agak ragu, karena jihoo kini terlihat baik-baik saja.
Jihoo : ”Itu hanya kecelakaan kecil, jangan khawatir.” jawabnya tenang, sambil tersenyum seperti biasa.
Jandi : “Tapi, apa kau terluka? Maksudku, apa dahi mu mulai membaik? Sudah diperiksa ke rumah sakit?”
Jihoo : ”Kau lupa, aku seorang dokter. Semuanya baik-baik saja. Ohya, sudah lama sekali kita tidak sarapan bersama seperti ini.” Dia lagi-lagi mengalihkan pertanyaan jandi.
Jandi : ”Hmm, benar. Aku baru saja memikirkannya semalam. Aku rindu saat kita di Boston.”
Jandi memamerkan senyum manisnya yang membentuk lesung pipi dalam, membuat jihoo kembali berdebar. Gawat, perasaannya justru semakin dalam saja, dia gagal menyingkirkannya meski sudah sampai sejauh ini.
Jihoo : “Lalu, apa kau berencana kembali ke Boston? Jika ya, maka aku akan membawamu kembali kesana.”
Well, anggaplah dia sedang bercanda, tapi wajah tanpa ekspresi itu tidak bisa menjelaskan apa maunya sebenarnya. Sejenak jandi terhenyak dengan sorot mata yang menatapnya penuh keseriusan, ia segan harus berkata apa.
Jandi : “Hoh Oppa.. bagaimana bisa begitu?” bibirnya meruncing, berusaha mencairkan suasana yang dari tadi kaku, agaknya sikap aneh jihoo ini membuat jandi tidak nyaman.
Sempat terlintas pikiran yang dianggapnya konyol, gadis ini terlalu pintar untuk berfikir salah. Hanya saja itu terlalu konyol baginya. Ya-jihoo memang sedang berusaha menyembunyikan sekaligus menunjukkan perasaannya dalam waktu yang bersamaan.
Jihoo : “Karena aku juga ingin kembali kesana, itupun jika kau mau kabur bersamaku.”
Kedua mata jandi berkedip berkali-kali, berfikir apa jihoo masih mabuk?
Jandi : “Appa bisa membunuhku, kabur sekarangpun rasanya sudah terlambat.”
Bukankah kata-kata itu seharusnya berupa penyesalan? Tapi kenapa dia malah tersenyum malu? Lagi-lagi jihoo merasa sesuatu menusuk-nusuk dadanya.
Jihoo : ”Apa karena Goo Jun Pyo?”
Skakmat, jandi terhenyak! Dia bahkan tidak tahu jawabannya, hanya saja... Tiba-tiba terjadi reaksi yang aneh dalam dirinya sampai-sampai garpu dan pisau di genggamannya terlepas begitu saja...
”HOEK HOEEEK...” O.O
Jandi buru-buru menutup rapat-rapat mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak, keringat dingin mengucur. Ia langsung berlari ke toilet di sisi kanan ruang makan, memuntahkan isi perutnya disana sampai lemas, wajahnya pucat, dan masih saja terasa mual.
Sementara jihoo terperanjat ngeri, ia terpaku tanpa bisa berbuat apapun. Sebagai seorang dokter, tentu reaksinya itu sangat keterlaluan, melupakan pertolongan pertama yang seharusnya sangat mudah dilakukan oleh dokter genius seperti dirinya. Tapi justru, karena dia tahu pasti gejala apa yang sedang dialami jandi. Benarkah semuanya sudah terlambat?
===========================
Shinwa Group
Jandi mendatangi junpyo di kantornya setelah ia kembali dari rumahnya dan tidak menemukan junpyo disana. Kata pelayan, dini hari tadi junpyo pergi dengan sebuah tas besar di tangannya. Karena itulah jandi buru-buru mencarinya di kantor, tapi junpyo benar-benar tidak ada, bahkan serketaris jung berani-beraninya tidak menjawab telponnya.
Jandi : “Aiiishh.. benar-benar, sulit sekali menemuimu.” Cetusnya kesal.
Seorang serketaris yang tadi sempat kelabakan mencari junpyo kemana-mana, akhirnya tiba di ruangan junpyo untuk memberitahu jandi bahwa junpyo sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri.
Jandi : “Mwo? Ke Luar Negeri?”
Serketaris : ”Benar nona, kabarnya presdir akan kembali dalam dua hari.”
Jandi : “Benarkah?” dengan tampang kecewa.
Serketaris : “Maafkan saya nona, tapi saya juga baru tahu tadi. Sepertinya sangat mendadak jadi saya tidak mendapat kabar kemana beliau pergi.”
Serketaris ini sepertinya merasa tidak enak membuat jandi mendadak terlihat begitu murung.
Serketaris : ”Tapi, apa anda baik-baik saja nona? Wajah anda pucat sekali.” memperhatikan wajah jandi yang tampak lelah.
Jandi : “Oh, aku baik-baik saja.”
Sebenarnya memang ada yang aneh dengan jandi, beberapa hari ini ia seolah tak bisa bernafas jika tidak bertemu junpyo. Bukannya ke dokter, tapi dia malah kesana-kemari mencari suaminya itu. Puncaknya saat semalam ia nekat menemui junpyo ke club, bertingkah konyol seperti itu ia pun tidak pernah membayangkannya. Dan reaksi itu terus saja muncul seperti sekarang ini, keinginannya untuk bertemu dengan junpyo luar biasa menggebu, tidak seperti biasanya.
Jandi hanya bisa meninggalkan kantor junpyo dengan tampang kecewa. Herannya, ia sama sekali tidak putus asa, terus berfikir sepanjang jalan apa yang harus ia lakukan untuk bertemu dengan suaminya itu. Sepanjang hari perasaan itu malah semakin menjadi-jadi, semakin gelisah, semakin sensitif. Junpyo baru meninggalkannya dalam hitungan jam, tapi kenapa ia seolah sangat kehilangan. Bahkan jandi tidak sempat terfikir kenapa suaminya itu pergi tanpa pamit, dia hanya sempat memikirkan bagaimana caranya bisa bertemu junpyo, meskipun bibirnya terus mengoceh kesal.
“Kau bahkan tak menjawab telpon dan pergi tanpa memberitahuku, benar-benar cari mati huh? Goo Jun Pyo, awas saja nanti.” >.<
Tapi tiba-tiba jandi terdiam, seperti mengingat sesuatu.
Jandi : ”Benar!” Dengan semangat ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
=========================
Singapore
Pukul 10 pm
Serketaris Jung : “Tuan muda, Mr.Albert sudah menunggu.”
Junpyo : “Baiklah, kita kesana. Oh, tunggu dulu pak Jung, apa istriku menelpon?”
Serk.Jung : “Ne tuan muda, saya juga sudah memberitahu serketaris kantor.”
Junpyo : “Benarkah? Dia mencariku ke kantor?”
Serketaris jung mengangguk membenarkan. Junpyo terdiam sejenak.
“Mianhe jandi..” batinnya.
Junpyo yang diikuti serketaris Jung dan beberapa Staffnya di Singapore menuju ke restoran Hotel Shinwa, ia melangkah pasti-penuh percaya diri, bertemu seorang pria paruh baya yang langsung menyambutnya. Pria ini sebenarnya orang Korea blasteran Inggris yang menjadi pengusaha besar di Inggris, kebetulan dia sedang melakukan perjalanan bisnis di Asia dan diketahui menginap di Hotel Shinwa Singapore. Sebenarnya junpyo bisa saja terbang ke Eropa untuk bertemu dengannya, hanya saja Junpyo mengambil kesempatan ini hanya sebagai alasan untuk lari dari kepenatannya di Korea semalam.
Mereka bersalaman kemudian junpyo mempersilahkannya duduk.
Junpyo : “Annyeonghaseo ”
Mr. Albert : “Anyeonghaseo Mr.Goo, lama tidak bertemu.”
Junpyo : “Bagaimana dengan pelayanan Hotel kami, apa kau merasa nyaman?”
Mr.Albert : “Oh, everything is great. Aku sangat menikmati kunjungan ku di Singapore berkat Shinwa. Hahaha..”
Junpyo : “Ah, kebetulan kau kesini dan mengunjungi Hotel kami makanya aku kemari, berkunjunglah juga ke Korea.”
Mr.Albert : “Tentu saja. Ngomong-ngomong, aku langsung menandatangi kontrak kerjasamanya begitu mendengar visi dan misi proyek kita ini. Dia benar-benar membuatku tertarik.”
Tampang junpyo mendadak bingung, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan bule ini. Dia bahkan belum menyinggung soal proyek itu sedikit pun.
Junpyo : “Sorry?”
Mr.Albert : “Ya, Istri anda sangat pintar, saya sangat tertarik dengan ulasannya. Dia gadis yang menyenangkan.”
Junpyo : “WHAT?” Junpyo terbelalak tak percaya, si Mr jadi bingung.
Junpyo langsung menoleh ke kiri dan kanan seperti mencari sesuatu. Istri katanya? Jandi? Ya-yang mana lagi? Apa-apaan jandi bisa ada disini, pikirnya panik.
Mr.Albert : “Ya, kami sudah membicarakaan semuanya, soal project Shinwa di Inggris. Tentu saja aku juga akan mendukung rencana Shinwa membangun pabrik lagi disana, karena ku dengar kalian akan mengambil tenaga kerja Korea, tentu saja aku mendukung. Aku akan membantu sebisa ku.”
Junpyo masih bingung, dia bahkan tidak konsen lagi dengan ocehan si Mister. Dia semakin shock-seperti melihat hantu saat jandi tersenyum sambil berjalan mendekat ke arahnya. Gadis itu mengenakan gaun anggun dan sepertinya dia sudah lumayan lama berada disini. Junpyo tak bisa berkata apa-apa, ia hanya berkedip-kedip bingung. Sementara jandi terus tersenyum pada junpyo yang kaku memamerkan tampang bodohnya.
=========================
--Di kamar Hotel--
Tak seberapa lama setelah makan malam dengan Mr.Albert selesai, junpyo tidak sabar lagi menanyakan maksud kedatangan jandi kesini. Setelah sepanjang pertemuan tadi ia sama sekali seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, semua konsep yang ada di kepalanya buyar begitu saja karena kehadiran jandi.
Junpyo : “Yah, bagaimana bisa kau kemari?”
Jandi : “Waeyo? Siapa suruh kau tidak mengangkat telpon ku? Pak jung juga, kenapa tidak menjawab telpon ku?”
Bukan hanya junpyo yang jadi sasaran, serketaris jung yang dari tadi tertunduk pun ikut terkena imbas kekesalannya.
Serk.jung : “Maafkan saya nona.”
Junpyo : “Aiissshh... Aku bisa gila. Kenapa kau jadi seperti ini? Aku tidak suka seorang gadis yang menempel terus seperti lintah.”
Jandi : “Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini.” Jawabnya polos dengan bibir diruncingkan, tidak kalah ngototnya, seolah dia sudah siap dengan kata-kata ketus dari junpyo.
Junpyo : “Mwo?” O.o
Jandi : “Ntahlah, aku juga menyadari hal itu ketika sudah bertemu dengan mu. Bisa-bisanya aku sampai kesini demi seorang pria yang mengataiku lintah.”
Junpyo : “Kau... aish.. sudah, pulang saja. Aku juga akan kembali besok.” jawabnya acuh.
Jandi : “Kenapa berbohong? Aku tau besok kau akan ke China. Appa mu mengatakannya padaku” tersenyum bangga, penuh kemenangan. Kali ini sikapnya sungguh kekanakan.
Junpyo menghela nafas-ia tak percaya ini, dia langsung menoleh pada Serketaris Jung. Ya benar, serketaris Jung semakin tertunduk pertanda mengaku telah memberitahukannya pada Presdir di New York. Sebenarnya, jandi menghubungi appa junpyo untuk menanyakan keberadaan junpyo karena ia tahu serketaris jung pasti selalu melaporkan kegiatan bisnis junpyo pada appanya.
Junpyo jadi pusing, kenapa sikap jandi yang cuek tiba-tiba berubah jadi manja begini. Sebenarnya tidak sepenuhnya berubah, sayangnya masih menyisakan sifat keras kepalanya, buktinya ia berhasil menemukan suaminya ini. Mengejar junpyo sampai sejauh ini tentu saja bukan gayanya, anggaplah kali ini jandi sangat ceroboh. Junpyo jadi pusing tujuh keliling.
Serketaris jung meninggalkan mereka berdua saja, junpyo masih acuh, sedangkan jandi merasa tak diperdulikan.
Jandi : “Junpyo-yaa, tiba-tiba tidak menghubungiku, apa kau marah?”
Tak ada jawaban, junpyo masih memalingkan wajahnya.
Jandi : “Junpyo-yaa..” memelas.
Junpyo : “Untuk apa berada disini? Bukankah kau harus merawat Oppa-mu itu?” jawabnya datar, terlihat jelas dia sedang cemburu pada jihoo.
Jandi : “Jadi kau marah karena itu? Semalam aku...”
Belum sempat jandi menyelesaikan kata-katanya, junpyo langsung menghela.
Junpyo : “Tidurlah, besok pagi kita kembali ke Korea.”
Sikapnya semakin dingin, ia seperti tak ingin membahasnya. Sudah cukup baginya saat jandi memilih melepas tangannya.
Jandi : “Bagaimana dengan China?”
Junpyo : “Kau tidak usah ikut campur soal itu.”
Jandi : “Waeyo? Kenapa kau bersikap seperti ini? Fine, aku minta maaf soal Mr.Albert, tapi appa memintaku membantumu. Karena aku mengenal putrinya.”
Kalimat terakhirnya agak ragu. Dia tau junpyo akan semakin marah karena sifat gengsi junpyo yang selangit itu tak akan membiarkan jandi selalu berada di langkah yang sama dengannya dalam hal bisnis, itu membuat junpyo risih.
Junpyo : “Kau mengenal semua rekan bisnisku? Karena itu kau berhak ikut dalam setiap perjalananku?” menatap jandi tajam.
Sebenarnya junpyo hanya mencari-cari alasan saja untuk menghindar. Cemburu dan berbagai perasaan menjadi satu. Bodohnya, ia malah menyakiti jandi.
Jandi : ”Junpyo-yaa” mulai ragu dengan tindakannya, melihat junpyo benar marah.
Junpyo : ”Lalu apa maksudnya menggunakan tenaga kerja Korea? Kau sama sekali tidak tahu konsepku.”
Jandi : ”Itu... coba pikirkan, bukankah lebih baik kita menciptakan lapangan kerja baru untuk orang Korea sendiri? Orang Korea juga sangat ahli, Shinwa memiliki fasilitas canggih, itu sudah cukup.”
Junpyo sejenak terdiam, memikirkan bagian yang salah dari kata-kata jandi. Tapi istrinya ini terlalu benar.
Junpyo : ”Kau ingin katakan padaku kalau kau ini genius? Siapa suruh kau ikut campur?” Dia terlalu gengsi untuk menurunkan kadar emosinya.
Jandi : “Goo Jun Pyo.. kenapa kau jadi bersikap seperti ini?”
Junpyo : “Lalu kau ingin aku bagaimana? Bukankah dari awal aku sudah memperingatkan untuk tidak mencampuri urusanku? Tapi lihat, kau malah mengejarku kesini.”
Mata indah jandi mulai memerah, mendengar kata yang begitu kasar dari mulut junpyo membuat jandi goyah. Kenapa junpyo bicara seperti awal mereka menikah, bukankah akhir-akhir ini seharusnya hubungan mereka sudah membaik. Bahkan ia meminta jandi percaya padanya, tapi lihat sikap plinplannya. Jandi benar-benar tak mengerti, apa yang membuatnya berubah-ubah.
Jandi : “Kau bilang aku seperti lintah, lalu kau mau bilang aku ini terlihat seperti seorang idiot yang mengejarmu? Kau juga tidak suka aku mengenal banyak orang? Aku rasa itu hanya alasanmu saja.” Suaranya mulai bergetar.
Junpyo : “Mwo?”
Melihat jandi sangat terpukul, tatapan junpyo berubah ragu, seakan mengantisipasi kata-kata selanjutnya.
Jandi : “Jika Han Jaekyung-ssi yang datang kemari apa kau juga akan mengatakan dia seperti lintah?”
Mata bulat coklat itu mulai berair, junpyo sampai terkelu menantapnya.
Junpyo : “A..aku.. kenapa kau jadi bawa-bawa jaekyung?”
Tatapan jandi berubah penuh kekecewaan, tanpa berlama-lama-dia pergi begitu saja membawa butiran air di ujung-ujung matanya, membuat junpyo jadi serba salah. Bukan itu maksudnya menghindar dari jandi, tapi karena rasa bersalahnya pada jihoo. Tidak, sebenarnya siapa suruh jandi lebih memilih melepas tangannya dan pergi menemui jihoo. Bodohnya lelaki ini terlalu cemburu dan tak tahu harus berbuat apa. Lalu ia mundur untuk menghindari kekacauan ini, tidak disangka jandi bisa mengejarnya sampai kemari.
Melihat jandi benar-benar pergi, junpyo jadi serba salah dan langsung mengejarnya.
Junpyo : “Yah.. Geum Jandi..”
Jandi terus berjalan tanpa perduli panggilan junpyo yang terus mengikutinya sampai keluar kamar. Ia menangkap lengan jandi dan menariknya. Bukan hanya itu, diluar dugaan, bibir basah itu langsung mendarat di bibir jandi yang terbuka sakin shocknya. Mata jandi melebar, bahkan junpyo melumat bibirnya semakin dalam, memaksanya tak bergerak. Cengkraman tangan junpyo di tekuk leher jandi memaksa bibir jandi semakin menempel dengannya.
Jandi masih terdiam tanpa berkedip saat junpyo melepas bibirnya dan berbisik dalam jarak hanya beberapa inchi.
Junpyo : “Inikan yang kau inginkan? Kau merindukanku?”
Jandi semakin terkelu, wajahnya mendadak merona merah, bibirnya yang sedikit menganga bahkan tak bisa berkata ‘Ya’ seolah junpyo telah menyumpal penuh mulutnya. Belum habis kebingungannya kini bibir kenyal itu kembali menyerangnya dengan lumatan-lumatan nikmat yang sungguh tak ingin ditepisnya. Mata lelaki ini terpejam, jandi tak berdaya melawan, hanya bisa memandang wajah sempurna yang menempel di wajahnya. Sekejap rasa ‘haus’ akan kehadiran junpyo terobati begitu saja, sungguh aneh.
Junpyo mengebu-gebu-melahap habis bibir jandi yang dibalas oleh jandi dengan penuh gairah. Ciuman dan kecupan hangat menjelajah di seluruh wajah jandi sampai ke leher. Tangan junpyo yang kekar mengunci tubuh jandi ke tubuhnya, erat. Tapi tiba-tiba jandi melepas ciumannya begitu saja.
Jandi : “Junpyo-yaa, tiba-tiba aku merasa sangat lelah.”
Junpyo tampak tak puas, seluruh jiwa raganya sedang membara, bagaimana bisa berhenti begitu saja.
Junpyo : “Tapi...”
Kata-katanya terhenti, memang benar, saat ia menatap wajah jandi yang pucat dan dahinya berkeringat, junpyo jadi khawatir.
Junpyo : “Sayang, kau sakit? Mana yang sakit?” rautnya berubah panik.
Jandi : “Anyio” memegang pipinya yang pink untuk memastikan.
Junpyo melirik keadaan sekelilingnya, ya-mereka masih berada di luar kamar. Untungnya tak ada siapa-siapa disitu, kalaupun ada –apa pedulinya- mengingat siapa pemilik tempat ini. Junpyo merangkul jandi untuk masuk ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Tapi apa yang didapatnya?
Selama lima belas menit junpyo mondar-mandir gelisah sambil sesekali melirik jandi yang matanya sudah terpejam nyaman. Dia jadi serba salah, gadis ini tadinya datang menggebu-gebu ingin bertemu dengannya, tapi sekarang dengan wajah tanpa dosa dia malah tidur pulas tanpa menuntut apapun. Seolah tak perlu bertanggung jawab akan kehadirannya yang membuat junpyo gelisah.
Bagaimana bisa dia tidur begitu saja, sedangkan selama ini mereka tidak pernah tidur sebelum ’kelelahan’ sepanjang malam, junpyo selalu ingin menyentuhnya, untuk itulah dia menghindar. Saat merasa begitu bersalah pada Jihoo, juga karena ia tidak bisa menahan cintanya pada jandi. Saat itulah ia merasa lebih mudah meninggalkan Korea dari pada harus tidur tanpa jandi di sisinya sementara dia juga harus menahan dirinya untuk tidak melangkah ke rumah jihoo.
Tapi setelah susah payah menghindar, sekarang jandi malah datang sendiri padanya. Sejenak ia tidak sempat memikirkan perasaan jihoo. Dia sibuk menahan hasrat yang jandi ciptakan.
“Aish.. Kau datang hanya untuk menyiksaku seperti ini? Aku mohon bangunlah.” gumamnya dalam hati.
Junpyo masih mondar-mandir gelisah, sesekali dia push up sampai puluhan kali. Meminum setobol air dalam sekali teguk seolah luar biasa dehidrasi. Bahkan ia mandi di tengah malam begini, tapi tetap saja masih merasa panas. Malam ini waktu terasa berlalu terlalu lamban, sudah banyak yang ia lakukan, tapi jandi masih juga belum bangun. Sementara rasa rindunya sudah sampai ke ubun-ubun. Lama-lama junpyo tidak tahan lagi, ia ’terpaksa’ membangunkan jandi.
“Jandi-yaa..” Bisiknya pelan di telinga jandi, tapi tak ada reaksi. Dua kali junpyo mondar-mandir, ia kembali membangunkannya.
“Jandi-yaa..” Panggilnya lagi, kali ini jandi bergerak, tapi matanya masih pejam.
“Yah..” panggilnya semakin pelan, semakin putus asa. Dia terduduk malas di sisi jandi. Tiba-tiba muncul harapan…..
Jandi : “Uummmm….” jandi sedikit bergerak, mendengar itu junpyo langsung berubah antusias, setidaknya kali ini ada jawaban. Ia buru-buru mendekati jandi, sebelum… BRUUUK…
Tubuh jandi sembarangan berbalik dan tanpa sengaja mendorong tubuh junpyo yang duduk di ujung ranjang sampai terjatuh.
Junpyo : “Yaaah...” teriaknya kesal.
Mata jandi langsung terbuka, ia buru-buru bangun karena panik mendengar teriakan. Jandi menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tak menemukan apapun sebelum tiba-tiba kepala junpyo muncul dari bawah tempat tidurnya. Jandi berteriak kaget.
Jandi : “Gyaaaaaaaaa.......” langsung menutup wajahnya tanpa sempat melihat siapa orang itu.
Junpyo : “Yaaahhhh….” Membentak kesal.
Ragu-ragu jandi melirik, matanya membulat besar, mulutnya membentuk huruf O besar saat mendapati wajah kusut junpyo menatapnya kesal sambil menggosok-gosok kepalanya.
Jandi : “Kau?”
Junpyo : “Jadi siapa lagi?”
Jandi : “Hoh, membuat ku kaget saja. Kenapa belum tidur? Ini sudah malam.” Jawabnya acuh sambil membantu junpyo berdiri.
Junpyo : “Itu.. itu karena aku… tidak bisa tidur begitu saja.” Katanya cepat dengan wajah merah merona tanpa berani menatap jandi.
Tapi Jandi terlalu ngantuk untuk mendengar penjelasan junpyo, tanpa basa-basi dia kembali tidur. Junpyo jadi panik, haruskah perjuangannya membangunkan jandi sia-sia begitu saja, bahkan bekas benturan di kepalanya masih terasa sakit, mana boleh dia kehilangan kesempatan lagi.
Junpyo: “Yaaah yaah yaah..”
Dengan cepat, junpyo menangkap tubuh jandi sebelum kepalanya berhasil menyentuh bantal, jandi melotot kaget. Kedua tangan junpyo memegang punggung dan kepalanya, posisi mereka sangat rapat hampir menimpa, jandi menatap junpyo yang hanya berjarak beberapa inchi darinya, ia berkedip-kedip bingung.
Junpyo : “Ehm, ehem.. Jandi-ya.. aku.. aku… aku merindukanmu.”
Mulut jandi terbuka heran, ngantuknya langsung sirna, pipinya langsung memamas, bahkan sampai sudah menelan ludah. Tapi tatapan junpyo itu sungguh menggetarkan hatinya, tubuhnya berdesir sampai ujung kaki.
Jandi : “Junpyo-yaa..” sahutnya sampai tertunduk malu sambil menggigit bibir bawahnya, dia jadi salah tingkah.
Junpyo : “Mianhe telah membangunkanmu, tapi aku sangat merindukanmu.”
Jandi tersipu malu saat junpyo mendekatkan wajahnya, hidung mancungnya menyentuh pipi jandi, bibirnya mendekat, dan menempel manis di bibir jandi. Dikulumnya bibir merah kenyal itu perlahan, semakin dalam dan lembut. Kepalanya memutar kekiri dan kanan, tangannya mengunci tengkuk jandi untuk semakin merapat. Jandi pun membalasnya sempurna, melumat bibir suaminya itu dengan perasaan rindu bergelora. Tangannya melilit di leher junpyo, keduanya beradu lumatan di ranjang yang hangat dan luas itu.
Nafas keduanya memburu, ciuman itu penuh desahan, apalagi saat tangan nakal junpyo menyibak gaun jandi dari bawah. Lidah junpyo bermain di leher yang putih dan mulus itu, seluruh bagian tubuh mereka bergeriliya tanpa henti.
Jandi berteriak tertahan saat junpyo mengguncang tubuhnya terlalu keras.
Jandi : “Oh.. junpyo, rasanya perutku sakit. Pelan sedikit.”
Junpyo : “Benarkah? Mianhe sayang...”
=============================
Keesokan harinya,
Changi International Airport
Junpyo : “Pak Jung, apa appa sudah menandatangani kontrak dangan GHconstraction?”
Sambil membolak-balik berkas-berkas yang ada di tangannya, sambil menunggu keberangkatan pesawat mereka ke Korea.
Serk.Jung : “Tuan muda, sebenarnya itu…” jawabnya ragu.
Junpyo : “Ada apa?”
Serk.Jung : “Presdir ingin proyek ini diserahkan pada anda.”
Junpyo : “Padaku?”
Junpyo langsung menoleh pada jandi yang dari tadi memperhatikan kesibukan mereka, dia hanya duduk diam tanpa mau ikut campur.
Jandi : “Kau harus ke New York?” ya, berurusan dengan perusahaan Amerika itu berarti junpyo memang harus menyusul ayahnya ke New York.
Junpyo hanya diam menatap jandi dengan perasaan bimbang, ia tidak yakin bisa pergi tanpa jandi. Hanya saja, mungkin ini masih bisa didiskusikan dengan appanya mengingat orang tuanya itu sangat menyayangi jandi, sepertinya dia tidak terlalu khawatir
Selama 10 menit menunggu.
Pak Jung : “Tuan Muda, Pesawat akan berangkat sekarang.”
========================
Shinwa, Seoul
Beberapa hari berlalu
Junpyo masih dalam perdebatannya bersama Mr.Goo melalui sambungan telepon, tentang rencananya ke New york, beberapa hari ini dia terus membicarakannya, berharap appanya berubah pikiran.
Junpyo : “Appa, kenapa harus aku? Jadi kau benar-benar menyuruh ku kesana?”
Tapi karena dia tidak berterusterang dengan alasannya yang tidak ingin meninggalkan jandi, jadinya appa junpyo mana mengerti. Sebentar-sebentar junpyo melirik jandi yang sedang duduk manis menunggunya di sofa.
Mr.Goo : “Proyek ini membutuhkan waktu dan proses yang lama, appa tidak punya tenaga untuk itu. Lagi pula jika kau berhasil, para pemegang saham akan semakin mengukuhkan posisi mu sebagai Presdir baru?”
Junpyo : “Tapi Appa.... aku baru saja menikah. Appa lupa itu?” Kali ini junpyo berbisik sangat pelan sambil melirik jandi yang sedang asik membaca, jujur saja dia takut terdengar oleh jandi, dia juga mengatakannya dengan terpaksa, benar-benar menahan gengsinya.
Senyap! Sejenak tidak ada suara dari seberang sana
Junpyo : ”Appa?”
Senyap itu hanya sekejap sebelum tawa appanya meledak.
Mr.Goo : “Hahahhahahaha… Kau ini, ingin menggunakan alasan itu sementara waktu itu kau meninggalkan istrimu tanpa kabar? Anak nakal! Kau pikir appa tidak tahu, awas kalau kau bertindak semena-mena pada menantuku.”
Junpyo hanya bisa menghela nafas, sudah bisa ditebak, tak akan ada yang percaya kalau perasaannya sedalam itu.
Melihat junpyo menutup teleponnya, jandi langsung mendekat padanya, memberanikan diri bertanya.
Jandi : “Eottokhe? Kau banar-benar harus pergi?”
Junpyo mengangguk ragu sambil terus memperhatikan reaksi jandi.
Junpyo : “Kau tahu, aku tak pernah bisa menolak kemauannya?”
Jandi : “Arasso.. karena itu kita juga bisa sampai menikah kan?”
Junpyo langsung terhenyak, heran dengan kata-kata telak jandi, kenapa gadis ini selalu sensitif begini akhir-akhir ini. Dia bahkan mengekor kemana-mana, sesaat saja tidak bertemu, jandi sudah muncul lagi di hadapannya. Beberapa hari ini junpyo kebingungan menghadapi jandi, tidak bisa bicara sedikit keras pun padanya atau gadis ini akan langsung menangis. Ya- dia jadi secengeng itu. Junpyo jadi pusing.
Junpyo : “Bukan begitu maksudku. Bahkan jika aku terlahir kembali, kau satu-satunya yang ku butuhkan di sisiku.”
Junpyo menatap jandi dalam-dalam, membelai wajahnya lembut. Berharap kata-kata tadi bisa meredakan sensinya.
Junpyo : “Proyek ini sangat besar, dan appa menyerahkannya padaku.”
Jandi : ”Aku tahu, pergilah.” jawabnya putus asa.
Junpyo “Lalu, bagaimana denganmu?”
Jandi : ”Ntahlah, hanya saja aku merasa nanti akan sangat sulit.”
Junpyo : ”Mwo?”
Sambil berfikir, jandi menjelaskan dengan gamblang.
Jandi : ”Sesuatu selalu membawaku padamu. Jadi aku tidak yakin akan baik-baik saja kalau kau pergi.” katanya polos.
Tampang jandi yang genius itu tiba-tiba jadi bodoh, dahinya berhenyit seakan berfikir keras, tapi tetap saja tidak mengerti dirinya sendiri. Apalagi junpyo, ia tak mengerti dengan yang jandi katakan.
Junpyo : ”Aku juga merasa kau sangat aneh.”
Jandi : “Mwo? Kau mau bilang aku mengganggumu?”
Oh, junpyo benar-benar frustasi, lagi-lagi dia bersikap sensitif seperti ini.
Junpyo : “Bukan seperti itu, kenapa kau selalu buruk sangka dan protes padaku akhir-akhir ini? Aku hanya.. mencemaskan mu.” Kata terakhirnya terdengar pelan.
Jandi membuka mulutnya untuk kembali protes, tapi tidak jadi. Kalau dipikir-pikir, yang junpyo katakan memang benar. Jandi hanya meruncingkan mulutnya.
Junpyo : “Kalau begitu, ikutlah dengan ku ke New York.”
Jandi : “Mwo?” matanya melebar, sedikit berbinar.
================================
Di Sore Harinya,
Seoul Hospital
Jandi tersenyum bahagia sepanjang jalan pelannya menyusuri lantai rumah sakit yang sangat besar itu. Tangannya memegang kuat secarik kertas yang bagai emas baginya, tatapannya menerawang. Sinar bola-bola mata itu berkaca-kaca seakan terpampang sesuatu yang sangat menakjubkan di depannya. Langkah pelannya itu terhenti di dekat escalator, untuk kesekian kalinya ia memegangi perutnya yang rata dengan rasa sayang dan senyum takjub. Sakin senangnya ia terus mengingat kata-kata dokter barusan.
FLASHBACK
--Ruang Dokter--
Dokter : “Selamat Nona, anda sedang mengandung.”
Jandi : “APA?” matanya melebar tak menyangka, mulutnya sudah terbuka ingin berteriak “Jadi benar?” tapi ia belum bisa berkata-kata. Hatinya masih terlalu takjub mengetahui ada seorang bayi di dalam perutnya, anak Goo Jun Pyo. Sejak saat inilah matanya mulai berkaca-kaca tanpa henti.
Dokter : “Usia kandungannya baru memasuki minggu ketiga. Dengan sendirinya rasa mual yang anda keluhkan tadi perlahan akan menghilang, saya akan memberikan beberapa resep obat dan vitamin.”
Jandi hanya tersenyum bahagia. Melihat jandi masih tak bisa berkata-kata, si Dokter pun melanjutkan.
Dokter : “Apa ada keluhan lain nona?”
Pertanyaan dokter menyadarkannya dari lamunan.
Jandi : “Oh, anyio dokter. Itu… hanya saja, terkadang perasaan saya menjadi tidak nyaman di saat-saat tertentu.”
Ia mulai mengingat sikap sensitifnya belakangan ini pada junpyo, ya-hanya pada junpyo. Juga, rasa kehilangan yang hebat saat ia tidak bersamanya. Aneh sekali, bahkan saat ini, ia sangan merindukan ayah dari anak di kandungannya ini.
“Jadi karena bayi mu ada di perutku?” pikirnya, sambil tertawa sendiri mengingat sikapnya akhir-akhir ini yang tak lelah mengejar-ngejar junpyo.
Dokter : “Benar, di saat hamil memang terkadang menjadi sangat sensitif, ini pengaruh hormon, saya sudah meresepkan vitamin untuk kestabilannya. Nona tenang saja, ibu hamil tidak boleh terlibat stress.” Si dokter pun ikut tersenyum dengan kebahagiaan jandi.
Jandi : “Ne, gomawo Dokter.”
END OF FLASHBACK
Sekali lagi jandi mengusap perutnya sambil berbisik pelan “Goo Jun Pyo”
Jandi menyelipakan kertas hasil tes tadi di saku jeansnya, saat melangkah tiba-tiba ponselnya berdering. Dia buru-buru merogoh tasnya mencari ponsel tersebut, melihat nama seseorang di layar ponselnya sekejap saja senyumnya langsung luntur.
“Jaekyung Onnie” nadanya pelan, hampir tak terdengar. Kemudian Jandi segera mengangkat telponnya meski sangat ragu.
“Yeboseyo?”
Suara dari sebrang sana- Jaekyung : “Jandi-yaa.. bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin ku katakan.”
Jandi terdiam sejenak, perasaannya semakin tak enak. Kebahagiaannya yang hampir sempurna perlahan mulai diragukan, suara seseorang ini seperti peringatan atau bahkan seakan ancaman yang sejenak tadi terlupakan olehnya.
Jandi : “Ne onnie.” Jawabnya lemas.
=======================
Di Tepi Sungai Han
Sinar rembulan terpantul indah di permukaan air, sungai Han yang tenang terkadang telihat berkelap-kelip oleh cahaya lampu kota Seoul. Menyulap pemandangan yang terhampar di depan mata Han Jekyung yang sedang terpaku tegak menatap lurus dalam hening. Tak seberapa lama ia menunggu, seorang gadis cantik datang mendekat setelah turun dari mobil mewahnya.
Jandi-yang dari tadi ditunggu akhirnya tiba.
Jandi : “Annyeong onnie.” Sapanya ramah, seperti biasa, meski kali ini agak ragu. Tak tahu apa yang akan dikatakan jaekyung padanya.
Jaekyung menoleh pada jandi, rautnya penuh ketegangan, jandi tersenyum ragu.
Jaekyung : “Annyeong, kau datang.” Dari kata-kata dan nadanya, sepertinya ada hal penting yang sudah siap untuk dikatakan.
Jandi : “Ne, lama tidak bertemu.” Jandi berusaha mencairkan suasana yang dari tadi tak cair-ciair.
Jaekyung : “Dari mana aku harus memulainya, tapi ku dengar kau mengejar Junpyo sampai ke Singapore?”
Seerrrr.... angin dingin langsung terasa menusuk ke tulang. Jandi agak terkejut dengan kata-kata jaekyung yang begitu ketus tanpa basa-basi.
Jandi : “Itu...”
Belum sempat jandi menjawab, jaekyung kembali menghela seolah tak membutuhkan satu alasan pun.
Jaekyung : “Aku rasa kau sudah salah paham.”
Jandi terhenyak, bagaimana bisa jaekyung bersikap seperti ini, tanpa menghiraukan perkataannya, gadis ini seolah menembaknya dengan membabi buta. Hak apa yang membenarkan sikapnya ini?
Jandi : “Dhe?” Jandi bingung dengan sikap jaekyung yang begitu terus terang.
Jaekyung : “Aku hanya ingin mengatakan... Sejak dulu, aku sudah terbiasa melihat junpyo bersama wanita lain.”
Jandi terdiam seolah berada di kursi kesakitan pengadilan, didakwa atas sesuatu yang ia tak mengerti.
Jandi : ”Apa maksudnya ini?”
Jaekyung mulai berdongeng...
Jaekyung : “Dengar jandi-yaa, aku tak akan melepasnya.”
Jandi kembali terperanjat, kata-katanya datar namun sangat menusuk. Kekhawatiran mulai memenuhi hati jandi, ia terlalu baik untuk diteror meski dengan cara sehalus apapun.
Jandi : “Onnie..” panggilnya pelan. Ntah apa yang diharapkan jandi, apa kerendahan hatinya ini dapat menyadarkan wanita itu? Jandi tak seharusnya berharap terlalu banyak.
Jaekyung : “Junpyo.. dia tidur dengan gadis manapun yang ia mau, untuk sesaat. Hanya sesaat, lalu ia akan selalu kembali padaku.”
Jandi : “Kau sudah keterlaluan onnie” suaranya mulai bergetar.
Sesuatu yang sangat menyakitkan terasa menusuk hatinya. Kebahagiaan yang baru didapatnya hari ini langsung berubah menjadi ketakutan yang tiba-tiba menghantui relung hatinya. Ia mengkhawatirkan bayinya –bayi Goo Jun pyo.
Jaekyung : “Ku pastikan kau hanya salah satu diantara mereka.”
Belum habis jandi berfikir, dia kembali dikejutkan oleh ancaman jaekyung yang menyakitkan, gadis ini menyerangnya terus dan terus.
Jandi : “Anyi, aku mempercayai-nya.” Dengan nada yang terdengar ragu, membuat jaekyung tersenyum sinis.
Jaekyung : “Junpyo kekasihku, dia akan selalu datang padaku. Dan aku tidak segan-segan untuk mempertahankannya seumur hidupku. Rumah tangga kalian tidak akan berhasil.”
Kata-katanya seolah kutukan di telinga jandi, ia tak menyangka jaekyung akan mengatakan ini padanya. Mulanya, jandi benar-benar merasa bersalah pada jaekyung, tapi melihat kenyataan seperti ini jandi juga merasa berhak atas sesuatu yang tak sepenuhnya miliknya. Ya, Hati junpyo, kepada siapa ia bertaut?
Jandi tidak ingin berada dalam situasi ini lebih lama lagi, ia merasa sangat konyol harus berdiam diri mendengar ancaman-ancaman jaekyung. Jandi pun buru-buru pergi meninggalkan jaekyung yang menatap punggungnya menjauh dengan perasaan galau dan –tetap- sakit. Dahi jaekyung terhenyit menahan gejolak perasaan yang membuat matanya mulai merah berair. Tidak, bukan menyesal mengatakan semua ini, tapi lebih tepatnya ia juga merasa tak sanggup. Jaekyung tahu sejak awal dia telah kalah-pasti kalah.
Perlahan jaekyung tertunduk dengan tatapan nanar, tangisnya mulai terisak, ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya, tak ingin terlihat oleh siapapun. Saat melangkah meninggalkan tempat itu, ia menginjak sesuatu yang sangat menarik perhatiannya karena diyakini adalah milik jandi. Sebuah kertas, tergeletak di atas pasir, sebelumnya tak ada.
“Pasti ini milik jandi” pikirnya.
Jaekyung memungut kertas yang terlipat rapi itu, dengan lancang meski agak ragu ia membaca kertas itu dengan teliti. Betapa terkejutnya dia, matanya terbelalak ngeri menatap kertas tak bersalah itu, mulutnya sedikit menganga langsung ditutup oleh tangannya yang bergetar.
“Ini.. ini.. andwe!” katanya terbata-bata dengan tampang ngeri membayangkan sesuatu yang tertulis disana.
“Jandi hamil?” ucapnya pelan, dan langsung terduduk lemas di tanah tempatnya berdiri. Matanya memandang bingung ke segala arah, meremas kertas malang itu tanpa ampun. Tangisnya pecah lagi, air mata berlinang deras. Dadanya terasa sesak, ia menekan bagian itu dengan tangan yang menggenggam kertas tersebut seakan menahan sakit disana.
“Bagaimana mungkin junpyo?” demi Tuhan betapa lirih suaranya itu, lebih terdengar seperti isakkan. Putus asa mendapati kenyataan ini. Benar-benar KALAH TELAK!
End Of Chapter
================================
« Last Edit: October 23, 2011, 07:17:51 am by Be my self »

Logged