Holaaaaaaaaa semuanyaaaaaaa.... Mianhe yaa belum balas komennya, tapi gomawoooooooo udah ninggalin jejak.
![[briggin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/4.gif)
Ntar pasti dibales klw udah bisa OL lama
UPDATE nya belum siap, Sop ileeer dolo yaaak
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
-----------------------------------
Jaekyung : ”Apa maksudmu?” Menantang tatapan menuduh dari jihoo.
Jihoo : ”Meskipun aku sangat marah, tahukah kau kenapa saat itu aku berdiam diri disini?”
Sejenak senyap, sebelum jihoo melanjutkan kata-katanya. Kepanikan di mata jaekyung sudah cukup menjelaskan maksud jihoo yang sebenarnya.
Jihoo : ”Karena aku tidak yakin dengan perasaan jandi.”
Jaekyung, maupun junpyo yang ikut menguping seketika terhenyak. Apalagi junpyo, dia begitu tertarik mendengar pembicaraan mereka.
Jihoo : ”Meskipun aku begitu yakin dengan perasaanku, tetap saja tidak cukup untuk menggagalkan pernikahan itu.”
Kali ini jaekyung mulai pucat, ia menghindari tatapan jihoo, mulai bereaksi tidak wajar.
Jaekyung : ”Untuk apa kau menceritakan ini padaku?”
Jihoo : ”Apa kau yakin dengan perasaan junpyo? HINGGA KAU BEGITU YAKIN UNTUK MENGHANCURKAN PERNIKAHAN MEREKA?”
Jihoo mendadak murka, menatap geram pada jaekyung yang langsung terpojok oleh tuduhannya yang begitu pasti.
Jaekyung : ”Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti. Tidak seharusnya kau membawaku ke tempat ini, aku tidak tertarik dengan dongeng pernikahan mereka. Sampai kapan kau mau menjadi begitu menyedihkan? Seharusnya kau berterimakasih padaku.”
Seperti maling yang tertangkap basah, jaekyung langsung beranjak meninggalkan tempat itu. Tapi langkahnya terhenti tepat saat ia berbalik dan menangkap sesosok pria jangkung yang sedang berjalan ke arahnya sambil menatapnya tajam. Tampang yang murka itu sungguh menghancurkan nyali jaekyung, membuatnya ketakutan.
Jaekyung : ”Junpyo” ia terbelalak ngeri, lidahnya kelu, rautnya penuh ketakutan seakan riwayatnnya akan tamat saat itu juga.
Junpyo datang dengan segala kemarahannya, ia langsung menyerang jaekyung, mencekiknya tanpa ampun. Gadis itu meronta-ronta ketakutan, sementara jihoo memandang ngeri tingkah brutal junpyo. Dia tidak menyangka junpyo bisa sekejam itu pada jaekyung.
Junpyo : ”KAU SUDAH GILA HAH?”
Junpyo membentaknya dengan keras, cekikannya semakin kuat hingga jaekyung sulit bernafas, sampai terbatuk-batuk. Melihat junpyo begitu berang, jihoo segera melerai keduanya. Ia menarik tangan junpyo dan mendorong tubuh jaekyung hingga gadis itu tersungkur sakin lemasnya. Jaekyung meringis kesakitan memegangi lehernya. Tapi junpyo masih belum puas, ia kembali mencengkram tangan jaekyung yang bahkan belum sempat bernafas lega, hanya saja terhalang oleh jihoo. Sahabatnya itu buru-buru menghempas tangan junpyo.
Jihoo : ”YAH KAU BISA MEMBUNUHNYA.”
Bukannya merasa bersalah, jaekyung malah semakin berani memberontak. Bukan seperti dirinya yang penurut, junpyo tidak menyangka jaekyung bisa melakukan ini.
Jaekyung : ”Kau pikir kenapa selama ini aku tetap diam melihatmu dengan wanita-wanita itu? Kenapa aku harus membiarkanmu begitu saja menikah dengan wanita lain? Apa aku malaikat? Kini kesabaranku sudah habis”
Junpyo : ”HAN JAEKYUNG!!!”
Junpyo membentaknya keras, matanya merah seakan ingin menelan gadis itu, dirinya dikuasai oleh emosi yang membumbung.
Jaekyung : ”Tidak Junpyo-yaa, aku tidak bisa merelakan hatimu juga. Meski kau menikah dengan wanita manapun di dunia ini, asal kau tetap mencintaiku, aku akan tetap bernafas.”
Jaekyung tetap bertahan dengan menunjukkan semua keegoisannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Meskipun ia tahu akan segera hancur, ia akan tetap bertaruh sampai akhir.
Junpyo : ”Kau sudah gila.” tatapannya tidak menyangka.
Jaekyung : ”Junpyo aku mohon... aku memang gila mencintai mu! Aku memang gila mencintai seorang presdir shinwa. Aku tahu, aku tidak akan bisa memiliki mu, tapi asalkan aku memiliki hati mu, aku rela segila ini.”
Bulir airmata mengalir deras di pipi jaekyung, junpyo tak bergeming meskipun ia mulai mengerti perasaan gadis itu. Junpyo mulai menyadari dirinya ikut andil dalam mengacaukan perasaan jaekyung, tapi dia benar-benar tidak bisa menahan rasa muak dengan semua yang jaekyung lakukan ini.
Junpyo : ”Mianhe, ini memang salah ku. Selama ini aku membuatmu salah menilai perasaanku. Tapi aku tidak berfikir itu cinta.” Sikapnya masih sedingin es, sorot matanya tajam-tak memaafkan.
Jaekyung : ”Kau bohong. Kau hanya marah padaku. Kau mencintaiku.”
Seandainya ia dapat menyesali sesuatu, tidak lain hanyalah harus mendengar kata-kata junpyo barusan. Gadis ini bahkan tidak rela menerima kenyataan itu.
Junpyo : ”Aku tidak pernah mencintai gadis manapun selain jandi, ntah sejak kapan aku menyadarinya, tapi dialah satu-satunya wanita yang kucintai.”
Jihoo yang dari tadi tertunduk langsung menatap junpyo lekat. Inilah maksudnya, untuk apa dia melakukan semua ini, inilah yang ia cari. Jihoo hanya ingin memastikan perasaan junpyo pada jandi. Ia ingin mengakhiri dengan pasti permainan yang sebenarnya sudah lama berakhir sejak jandi dan junpyo saling jatuh cinta.
Jaekyung : ”HENTIKAAAANN.” jaekyung menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan, teriakannya menggelegar di seisi ruangan gereja yang kosong itu.
Tapi junpyo tetap tak bergeming, kata-katanya terus menghantam hati jaekyung dengan seluruh keegoisannya. Nada junpyo melunak, namun bagi jaekyung semua itu tetaplah pisau yang membelah-belah harapannya selama ini.
Junpyo : ”Aku bersalah padamu Han Jaekyung. Demi paman Han, maafkan aku...”
Jaekyung : ”ANDWEE! TIDAK MUNGKIN! INI TIDAK MUNGKIN!”
Jihoo : ”Jaekyung-yaa, tenanglah...”
Jaekyung : ”ANDWE! JANDI, GADIS ITU, DIA... AKU MEMBENCINYA. AKU BENCI KARENA KAU MENCINTAINYA. AKU BENCI KARENA DIA MENGANDUNG ANAKMU. AKU MEMBENCINYA.”
Junpyo : ”MWO? Jandi, kau bilang jandi kenapa? Jandi.... hamil?” --------------------------------
