Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 38107 times)

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
I CAN’T CALM MY HEART

Chapter 10
Shinwa Group


Hari itu, dua puluh karyawan Shinwa dikumpulkan berjejer dengan kepala tertunduk di hadapan seorang Goo Jun Pyo. Presdir mereka yang katanya keras kepala itu mengintrogasi mereka semua di dalam ruangannya sejak tadi pagi, hingga siang ini beberapa diantara mereka sudah pucat, ada juga yang terjatuh berlutut di lantai sakin pegalnya berdiri selama berjam-jam dalam diam. Ini memang terlihat gila, tapi lelaki ini juga tidak pernah merasa berdosa, ia hanya berdiam diri dan melamun setelah lelah berteriak sambil menuduh mereka satu per satu.

Junpyo :   ”Kenapa ini bisa terjadi? Kapan aku menandatangi surat brengsek itu. Katakan, siapa diantara kalian yang memaksa ku menandatanginya?”

Lagi-lagi dia menayakan hal yang sama, tatapannya tetap tajam mengerikan dengan nada tinggi. Junpyo terlihat kacau, dia sendiri kebingungan. Seingatnya mana mungkin ada orang yang berani memaksanya, dia tidak habis pikir kenapa di surat cerai itu bisa ada tandatangannya. Mulai putus asa karena dua puluh orang di hadapannya tak ada yang mengaku. Ya, setelah dengan teliti mengingat, hanya dua puluh orang inilah yang bertugas meminta tanda tangannya.

Junpyo :   ”Aku tanya sekali lagi, SIAPA YANG MEMBAWA SURAT ITU?” lagi-lagi ia berteriak. Nyali semua orang yang ada disitu langsung ciut.

Sementara karyawan lain di luar sana saling berbisik, mereka prihatin dengan nasib teman-teman mereka di dalam. Junpyo kali ini memang kejam, jelas-jelas dia melampiaskan kemarahannya pada mereka. Sikap dingin dan brutalnya kembali lagi, bahkan terlalu tidak manusiawi.


         

         =================================




Setelah lelah seharian bertingkah konyol dan tetap tidak menemukan apapun, malam harinya dia hanya menyendiri di kantornya. Junpyo bahkan belum pulang ke rumahnya sejak dari New York, terkadang ia menginap di hotel. Sejujurnya dia terlalu takut, begitu takutnya ketika tak mampu membendung rasa rindu pada jandi. Dia bahkan masih memungkiri kalau jandi sudah pergi dari sisinya, tidak percaya bahwa mereka benar-benar sudah berpisah. Pada awal pernikahan mungkin  hal ini pernah terpikir olehnya, tapi ntah sudah berapa lama, ia bahkan tak ingin berpisah dengan jandi sejenakpun.

Tak terpikir olehnya kemana harus mencari jandi, bagai sesosok mayat yang hidup tanpa tertarik pada apapun. Ya, sudah beberapa hari berlalu, tubuhnya terlihat semakin kurus. Sinar matanya kelam tak bernyawa. Setiap hari dia hanya datang ke rumah mertuanya itu, dan berujung dengan keributan. Junpyo juga menghubungi rumahnya setiap saat untuk menanyakan apakah jandi sudah kembali. Dalam sehari, berkali-kali ia menghubungi ponsel jandi yang memang sudah tidak aktif, setiap kali ponselnya berdering dengan penuh harap junypo buru-buru menjawab telpon itu. Berharap jandi akan menghubunginya, karena ia tidak percaya jandi akan melupakannya begitu saja. Jandinya terlalu manis untuk berbuat sekejam ini, baginya hati jandi terlalu hangat untuk membiarkannya kembali menjadi sosok yang dingin.

Namun hari demi hari yang terlalu berat ini terkadang membuatnya ragu, apakah jandi bahkan tak ingin melihatnya lagi? Apa jandi benar meninggalkannya? Rasa putus asa ini menusuk-nusuk hatinya berkali-kali. Hanya air mata yang akhirnya terurai, tanpa mampu menjelaskan cinta dan rindu yang kini menyakiti keduanya.

”Ntah kemana dirimu berlari, nilaimu tak kan pernah surut di tingkat hatiku, bayangan di cerminpun tak sanggup menyamai rupamu, mengisi keberadaanmu, maupun menenangkan hatiku. Jadi kembalilah.... sebelum kau menyiksa cintaku lebih dalam lagi... Setidaknya, izinkanlah aku berkata maaf...”



         ===========================



Kediaman keluarga Yoon


Woobin dan yijung mendatangi jihoo. Tak disangka, lelaki ini terlihat jauh lebih tenang. Tidak seperti biasanya saat terjadi sesuatu pada jandi, mungkin akan sama tak berdayanya dengan junpyo. Mungkin juga jihoo akan menjadi orang pertama yang akan mencarinya kemana-mana. Tapi kali ini jihoo seakan mengetahui sesuatu, tidak heran kalau woobin dan yijung terus memaksanya bicara. Mereka berdua duduk di hadapan jihoo, mengintrogasinya seakan lelaki itu adalah penculik nomor satu.

Yijung :   ”Jihoo-yaa, junpyo sudah kehilangan akal, sebentar lagi dia gila. Ayo, katakan sesuatu.”

Woobin :   ”Kau tahu kan dimana jandi? Dia pasti mengatakan sesuatu padamu. Yah, dibanding junpyo, dia memang terlihat lebih manis padamu.” celotehnya asal ceplos.

Jihoo hanya diam, tidak menunjukkan ekspresi apapun. Keduanya saling melirik satu sama lain, mereka mulai kehabisan akal membujuk jihoo untuk bicara. Mereka mulai gelisah, berkali-kali menghela nafas kesal.

Jihoo :      ”Untuk apa dia mencarinya? Bukankah mereka sudah bercerai? Kenapa aku harus mengatakannya, tapi kalian tahu kan aku mencintai jandi?”

Woobin dan yijung jadi bingung, jawaban itu sama sekali tidak lucu untuk saat ini. Mereka berharap simpati jihoo dengan kondisi junpyo, tapi jihoo malah memojokkan mereka. Seolah dia sangat berniat mengusir keduanya, menunjukkan kalau dia tidak perduli sama sekali. Baiklah, anggaplah mereka tak mendengar apapun, meski apa yang dikatakan jihoo memang benar. Akhirnya mereka pergi dengan tangan kosong.




         =============================




Woobin dan yijung menemui junpyo di kantornya pada tengah malam, lelaki itu masih seperti itu, hanya diam dengan sorot mata kelam. Tampilannya berantakan, dia juga baru saja kembali dari rumah jandi untuk mencarinya lagi. Kedua sahabatnya ini berusaha menemani, tapi dia tidak tertarik dengan apapun ajakan mereka. Beberapa gelas minuman keras sudah cukup menemaninya. Serketaris jung juga dari tadi berdiri di pojok menunggui tuan mudanya ini dengan tampang khawatir.

Yijung :   ”Jihoo juga tidak tahu keberadaan jandi.” katanya ragu, memecah kebisuan karena sikap junpyo yang acuh. Tapi kali ini dia menoleh, mendengar nama jandi, dia berharap mendapat setitik harapan.

Woobin :   ”Dia benar-benar tidak tahu.” Timpalnya meyakinkan, takut junpyo akan bereaksi berlebihan pada jihoo, misalnya mendaratkan bogem untuk memaksa jihoo bicara (?)

Yijung :   ”Kau benar-benar tidak ingat soal tandatangan itu?”

Junpyo terlihat frustasi.

Junpyo :   ”Mereka semua tidak menyodorkan surat itu padaku.” jawabnya ketus.

Woobin :   ”Semuanya?” Ragu-ragu ia melirik pada serketaris jung, tapi lelaki paruh baya itu sejenak terperanjat. Yijung yang juga mendapati reaksinya itu langsung terhenyit ragu, seolah berkata ’tidak mungkin’. Kemudian serketaris jung memalingkan wajahnya, mengindari tatapan menuduh yijung.

Malam semakin larut, keduanya meninggalkan junpyo sendiri di kantornya. Serketaris jung juga sudah pulang. Tapi malam itu, ternyata junpyo benar-benar tidak sanggup menahan rindunya pada jandi. Dia memberanikan diri pulang ke rumah saat malam sudah sangat larut, setelah seluruhnya sunyi.


------------------------------------------


Kediamana keluarga Goo


Tubuhnya sempoyongan, dengan mata yang nyaris tak terbuka junpyo menabrak dinding kesana-kemari. Ia membuka pintu kamarnya, kamar ini sudah lama tak berpenghuni, gelap. Sorot matanya nanar, menatap dengan penuh kepedihan ranjang yang kini berada tepat di hadapannya. Terbayang olehnya malam-malam dimana dirinya dan jandi memadu kasih, senyum gadis itu, lembut geraknya yang penuh kasih, gelak tawa keduanya. Seolah itu semua nyata terdengar dan terlihat. Tapi ketika bulir air mata jatuh di pipi junpyo, ia tersadar kalau ranjang itu kini kosong, terbentang rapi tanpa tersentuh. Seketika itu juga junpyo tersungkur-terduduk di lantai. Ia menangis menahan perih di hatinya akibat rindu yang tak berujung, tak habis-habis mengkarmakan diri dalam keputus-asaan. Kini hanya bersisa isak tangis junpyo yang dalam, mendegup-degup detak jantung yang menyayat. Ia terkulai lemah membiarkan dirinya tersiksa, menikmati setiap detik rasa bersalah dalam dirinya hingga ia terlelap disana.


== Keesokan harinya ==

Tiiitt... tiiiiittt.... ponsel junpyo berdering, dering yang panjang berhasil membangunkannya dari tidur yang hanya beberapa jam itu. Matanya terbuka perlahan, kepalanya terasa berat. Junpyo berusaha duduk sementara seluruh tubuhnya terasa sakit, ia bahkan masih mengenakan pakaian lengkap dengan sepatu di kakinya. Saat melirik sekitarnya barulah ia sadar ternyata semalam dia tertidur di lantai, tepat di hadapan tempat tidur yang kosong itu.

Junpyo buru-buru menjawab telponnya dengan suara yang masih serak.

Junpyo :   ”Yeoboseyo?”

Jihoo :      ”Datanglah ke Gereja di dekat Yayasan St. Maria”

Junpyo :   ”Mwo? Waeyo?”

Tiiiiiiiiiiiiiiiiitttt.....

Telepon dari jihoo itu putus begitu saja, kesadaran junpyo langsung utuh memikirkan apa yang dimaksud jihoo sebenarnya. Itu, adalah gereja dimana dia menikah degan jandi, di tempat itu mereka saling mengikat janji sebagai suami istri. Junpyo mendadak antusias, ia sungguh berharap akan menemukan jandi disana. Junpyo langsung bangkit, buru-buru tancap gas menuju ke lokasi yang berjarak cukup jauh itu.




         ==========================



Di sebuah Gereja yang megah


Jihoo memasuki gereja megah itu, situasinya sangat sunyi. Sebuah gereja yang dikelilingi pepohonan besar yang daunnya sedang berguguran, teduh. Di dalamnya berdiri sesosok wanita yang sedang memandang bingung seluruh ornamen indah disana, sementara jihoo mendekati gadis yang memunggunginya itu.

Jihoo :      ”Tempat ini sangat indah kan?”

Gadis itu berbalik. Han Jaekyung tersenyum ragu pada jihoo.

Jaekyung :   ”Kenapa kau membawa ku kemari?”

Jihoo dengan tenang berjalan menyusuri gereja yang luas itu, diikuti jaekyung yang masih penasaran dengan tujuan jihoo yang pagi-pagi mengajaknya ke tempat ini. Tidak mungkin hanya jalan-jalan, hari ini juga bukan hari minggu makanya gereja terlihat kosong di pagi buta begini.

Tiba-tiba langkah jihoo terhenti di barisan kursi deretan ke dua.

Jihoo :      ”Di tempat ini gadis yang ku cintai menikah. Tepat disini, aku berdiri menatapnya. Dia terlihat sangat cantik, berdiri disana... bersama sahabatku.” jari telunjuknya mengarah lurus ke depan, menunjuk ke suatu posisi dimana jandi dan junpyo mengikrar sumpah waktu itu.

Jaekyung terkelu, matanya tak berkedip menatap jihoo dengan penuh tanya.

Jihoo :      ”Saat itu, kau akan merasa tak bernyawa, melihat seorang yang kau cintai menjadi milik orang lain meskipun orang itu juga sangat kau sayangi.” katanya pelan.

Jaekyung :   ”Apa maksudnya ini? Jihoo-yaa...” alisnya terhenyit, tidak berniat berkomentar.

Jihoo :      ”Sekarang semuanya sudah berakhir.” nadanya begitu pasti.

Jaekyung :   ”Apa?” semakin bingung.

Jihoo :      ”Kau mencintai junpyo, dan aku mencintai jandi. Mereka sudah bercerai, bagaimana kalau kita bekerjasama untuk memiliki apa yang menjadi hak kita?”

Jaekyung semakin ragu, dia tidak tahu lelaki ini sedang serius atau mengejeknya.

Jaekyung :   ”Jihoo-yaa...”

Jihoo :      ”Kenapa kau lakukan itu?” kali ini jihoo menoleh dengan tatapan tajam menusuk bola mata jaekyung. Gadis itu terlihat ketakutan.

Di sisi lain, mobil junpyo tiba di komplek gereja yang sangat luas, ia buru-buru keluar dari mobil dan berlari menuju ke dalam gereja. Tepat di sisi pintu samping, wajah antusiasnya mendadak luntur, langkahnya memelan ketika yang dia dapati ternyata bukanlah jandi. Tapi jihoo dan jaekyung yang sepertinya sedang saling menatap tajam. Ragu-ragu junpyo mematung di sisi pintu itu, sedangkan keduanya membelakanginya hingga tak menyadari kehadiran junpyo.

Jaekyung :   ”Apa maksudmu?” Menantang tatapan menuduh dari jihoo.

Jihoo :      ”Meskipun aku sangat marah, tahukah kau kenapa saat itu aku berdiam diri disini?” tanyanya sinis.

Sejenak senyap, sebelum jihoo melanjutkan kata-katanya. Kepanikan di mata jaekyung sudah cukup menjelaskan maksud jihoo yang sebenarnya.

Jihoo :      ”Karena aku tidak yakin dengan perasaan jandi.”

Jaekyung, maupun junpyo yang ikut menguping seketika terhenyak. Apalagi junpyo, dia begitu tertarik mendengar pembicaraan mereka.

Jihoo :      ”Meskipun aku begitu yakin dengan perasaanku, tetap saja tidak cukup untuk menggagalkan pernikahan itu.”

Kali ini jaekyung mulai pucat, ia menghindari tatapan jihoo, mulai bereaksi tidak wajar.

Jaekyung :   ”Untuk apa kau menceritakan ini padaku?”

Jihoo :      ”Apa kau yakin dengan perasaan junpyo? HINGGA KAU BEGITU YAKIN UNTUK MENGHANCURKAN PERNIKAHAN MEREKA?”

Jihoo mendadak murka, menatap geram pada jaekyung yang langsung terpojok oleh tuduhannya yang begitu pasti.

Jaekyung :   ”Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti. Tidak seharusnya kau membawaku ke tempat ini, aku tidak tertarik dengan dongeng pernikahan mereka. Sampai kapan kau mau menjadi begitu menyedihkan? Seharusnya kau berterimakasih padaku.”

Seperti maling yang tertangkap basah, jaekyung langsung beranjak meninggalkan tempat itu. Tapi langkahnya terhenti tepat saat ia berbalik dan menangkap sesosok pria jangkung yang sedang berjalan ke arahnya sambil menatapnya tajam. Tampang yang murka itu sungguh menghancurkan nyali jaekyung, membuatnya ketakutan.

Jaekyung :   ”Junpyo” ia terbelalak ngeri, lidahnya kelu, rautnya penuh ketakutan seakan riwayatnnya akan tamat saat itu juga.

Junpyo datang dengan segala kemarahannya, ia langsung menyerang jaekyung, mencekiknya tanpa ampun. Gadis itu meronta-ronta ketakutan, sementara jihoo memandang ngeri tingkah brutal junpyo. Dia tidak menyangka junpyo bisa sekejam itu pada jaekyung.

Junpyo :   ”KAU SUDAH GILA HAH?”

Junpyo membentaknya keras, cekikannya semakin kuat hingga jaekyung sulit bernafas, sampai terbatuk-batuk. Melihat junpyo begitu berang, jihoo segera melerai keduanya. Ia menarik tangan junpyo dan mendorong tubuh jaekyung hingga gadis itu tersungkur sakin lemasnya. Jaekyung meringis kesakitan memegangi lehernya. Tapi junpyo masih belum puas, ia kembali mencengkram tangan jaekyung yang bahkan belum sempat bernafas lega, hanya saja terhalang oleh jihoo. Sahabatnya itu buru-buru menghempas tangan junpyo.

Jihoo :      ”YAH KAU BISA MEMBUNUHNYA.”

Bukannya merasa bersalah, jaekyung malah semakin berani memberontak. Bukan seperti dirinya yang penurut, junpyo tidak menyangka jaekyung bisa melakukan ini.

Jaekyung :   ”Kau pikir kenapa selama ini aku tetap diam melihatmu dengan wanita-wanita itu? Kenapa aku harus membiarkanmu begitu saja menikah dengan wanita lain? Apa aku malaikat? Kini kesabaranku sudah habis”

Junpyo :   ”HAN JAEKYUNG!!!”

Junpyo membentaknya keras, matanya merah seakan ingin menelan gadis itu, dikuasai oleh emosi yang membumbung.

Jaekyung :   ”Tidak Junpyo-yaa, aku tidak bisa merelakan hatimu juga. Meski kau menikah dengan wanita manapun di dunia ini, asal kau tetap mencintaiku, aku akan tetap bernafas.”

Jaekyung tetap bertahan dengan menunjukkan semua keegoisannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Meskipun ia tahu akan segera hancur, ia akan tetap bertaruh sampai akhir.

Junpyo :   ”Kau sudah gila.” tatapannya tidak menyangka.

Jaekyung :   ”Junpyo aku mohon... aku memang gila mencintai mu! Aku memang gila mencintai seorang presdir shinwa. Aku tahu, aku tidak akan bisa memiliki mu, tapi asalkan aku memiliki hati mu, aku rela segila ini.”

Bulir airmata mengalir deras di pipi jaekyung, junpyo tak bergeming meskipun ia mulai mengerti perasaan gadis itu. Junpyo mulai menyadari dirinya ikut andil dalam mengacaukan perasaan jaekyung, tapi dia benar-benar tidak bisa menahan rasa muak dengan semua yang jaekyung lakukan ini.  

Junpyo :   ”Mianhe, ini memang salah ku. Selama ini aku membuatmu salah menilai perasaanku. Tapi aku tidak berfikir itu cinta.” Sikapnya masih sedingin es, sorot matanya tajam-tak memaafkan.

Jaekyung :   ”Kau bohong. Kau hanya marah padaku. Kau mencintaiku.”

Seandainya ia dapat menyesali sesuatu, tidak lain hanyalah harus mendengar kata-kata junpyo barusan. Gadis ini bahkan tidak rela menerima kenyataan itu.

Junpyo :   ”Aku tidak pernah mencintai gadis manapun selain jandi, ntah sejak kapan aku menyadarinya, tapi dialah satu-satunya wanita yang kucintai.”

Jihoo yang dari tadi tertunduk langsung menatap junpyo lekat. Inilah maksudnya, untuk apa dia melakukan semua ini, inilah yang ia cari. Jihoo hanya ingin memastikan perasaan junpyo pada jandi. Ia ingin mengakhiri dengan pasti permainan yang sebenarnya sudah lama berakhir sejak jandi dan junpyo saling jatuh cinta.

Jaekyung :   ”HENTIKAAAANN.” jaekyung menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan, teriakannya menggelegar di seisi ruangan gereja yang kosong itu.

Tapi junpyo tetap tak bergeming, kata-katanya terus menghantam hati jaekyung dengan seluruh keegoisannya. Nada junpyo melunak, namun bagi jaekyung semua itu tetaplah pisau yang membelah-belah harapannya selama ini.

Junpyo :   ”Aku bersalah padamu Han Jaekyung. Demi paman Han, maafkan aku...”

Jaekyung :   ”ANDWEE! TIDAK MUNGKIN! INI TIDAK MUNGKIN!”

Jihoo :      ”Jaekyung-yaa, tenanglah...”

Jaekyung :   ”ANDWE! JANDI, GADIS ITU, DIA... AKU MEMBENCINYA. AKU BENCI KARENA KAU MENCINTAINYA. AKU BENCI KARENA DIA MENGANDUNG ANAKMU. AKU MEMBENCINYA.”

Junpyo :   ”MWO? Jandi? Kau bilang jandi kenapa? Benarkah jandi hamil?”

Junpyo terbelalak kaku, tubuhnya goyah. Bagaimana mungkin dia harus mengetahui kalau dirinya telah kehilangan dua orang sekaligus? Jandi bahkan pergi tanpa mengatakan kalau dirinya hamil. Junpyo terjatuh ke lantai, butir airmata mulai membasahi pipinya.

Jihoo hanya memperhatikannya dengan tatapan yang tak kalah terluka, sementara jaekyung berurai airmata hingga terisak. Dia kalah, hatinya terluka menyaksikan cinta di mata junpyo. Melihatnya begitu tersiksa kehilangan jandi, dada jaekyung rasanya bergemuruh. Tetap saja, dia tidak bisa menerima kenyataan.

Junpyo tiba-tiba pergi meninggalkan tempat itu, tapi jaekyung berlutut menarik kaki junpyo-memaksa lelaki itu untuk tidak melangkah. Tapi junpyo sama sekali tak bergeming oleh tangisan jaekyung.

Jaekyung :   ”Aku mohon jangan pergi, junpyo-yaa.. Mianhe...” dia terus memeluk kaki junpyo kuat.

Lelaki itu tidak perduli, dia bahkan tak menoleh sedikitpun.

Junpyo :   ”Jika terjadi sesuatu pada jandi dan bayiku, aku tak akan pernah memaafkanmu.”

Junpyo melanjutkan langkahnya meninggalkan jaekyung yang tersungkur sambil menangis histeris, bahkan junpyo tidak perduli meskipun gadis itu terus meneriakkan namanya. Ia meninggalkan jakyung begitu saja, tidak menghukumnya, tidak juga memaafkannya. Gadis itu tersiksa oleh cintanya sendiri.



         ==============================



Shinwa Group


Pagi itu juga, tidak biasanya yijung dan woobin sudah berada di kantor junpyo. Mereka langsung menuju ruangan presdir Shinwa itu, tapi ternyata dari pagi junpyo belum tiba di kantor. Serketaris jung menyapa mereka, ketiganya saling memberi hormat.

Serketaris Jung :   ”Tuan muda belum tiba disini, saya juga belum bisa menghubunginya. Saya akan menyuruh serketaris mengantarkan kopi.”

Serketaris jung sedikit membungkuk untuk kemudian meninggalkan woobin dan yijung menunggu disana. Tapi yijung menghentikannya.

Yijung :   ”Tunggu pak Jung.”

Lelaki itu menoleh dengan penuh tanya, dari bahasa tubuhnya terlihat ia seperti menghindari sesuatu, mengantisipasi kata-kata yijung selanjutnya.

Yijung :   ”Kami datang kesini untuk bertemu dengan mu. Ada yang ingin ku tanyakan.”

Suasana menjadi lebih kaku lagi.

Serketaris jung :   ”Ada yang bisa saya bantu?”

Woobin :   ”Surat cerai itu, apa kau yang membawanya pada junpyo?”

Siiiiiiiiiiiinggg....... Sikap woobin begitu pasti, pertanyaannya lebih terdengar seperti tuduhan. Tapi serketaris jung tetap diam, sikapnya semakin tenang seakan dia sudah mengantisipasi semua ini dari awal. Hanya menatap keduanya dengan pandangan teduh, bahkan tersungging sedikit senyuman di bibirnya. Sementara woobin mulai ragu, dia jadi bingung harus bagaimana karena pertanyaannya hanya dijawab dengan senyuman yang sama sekali tidak mempesona. Yijung menatap tajam pada serketaris jung, menunggunya bicara.

Sereketaris jung :   ”Saya rasa saya tidak perlu menjawabnya.”

Yijung :   ”Apa karena Han Jaekyung?”

Yijung semakin mendesaknya, kali ini ia berhasil melihat kepanikan di mata pak Jung.

Serkeataris Jung :   ”Semua itu tidak ada hubungannya dengan nona Han”

Woobin :   ”Lalu untuk apa?”

Serkeataris jung :   ”Tuan muda akan segera menerima surat pengunduran diri, saya tidak perlu meluruskan apapun disini.”

Yijung :   ”Tidak semudah itu, junpyo mungkin saja akan membunuh jaekyung. Dan kau mau pergi begitu saja?”

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, ternyata junpyo dengan wajah kusut masuk tanpa mendengar pembicaraan mereka.

Junpyo :   ”Kenapa kalian disini?” sambil menuju ke meja kerjanya, ia memandang heran pada woobin dan yijung, kemudian beralih ke pak jung. Junpyo hanya heran karena sejak ia masuk mereka terus diam.

Kebingungan junpyo semakin menjadi-jadi saat ia melihat sebuah surat di atas mejanya, surat pengunduran diri serketaris Jung.

Junpyo :   ”Ada apa ini? Pak Jung, apa maksudnya ini?”

Junpyo memandang pak jung dengan penuh tanya sambil menunjukkan surat itu padanya, sementara yijung dan woobin juga menunggu jawaban dari pak jung. Mereka menduga-duga, apa pak jung berani mengatakan yang sebenarnya.

Junpyo :   ”Pak jung?” junpyo kembali memanggilnya karena pak jung masih saja diam.

Lelaki paruh baya itu bagai berada di ujung jurang, ia terpojok. Meskipun sudah memutuskan untuk melompat, namun tetap merasa berdosa karena harus mendahului takdir Tuhan. Rasanya begitu berat untuk mengatakannya, awalnya ia tak menyangka akan menyakiti junpyo sedalam ini.

Serketaris Jung :   ”Tuan Muda, saya lah orang yang membawa surat itu pada anda. Untuk itu, saya akan membayar semua kesalahan ini.”

Junpyo terpaku, ia tak percaya. Bagaimana mungkin orang yang begitu dekat dengannya justru menusuknya dari belakang? Junpyo bahkan tidak memasukkan pak jung diantara dua puluh karyawan yang tertuduh kemarin. Junpyo shock, tubuhnya goyah kebingungan. Yijung dan woo bin hanya memperhatikan keduanya, bahkan tatapan yijung tetap tidak puas dengan pengakuan pak jung. Ia yakin ada hal yang lebih dalam lagi dari pada hanya sekedar kesalahannya sendiri. Di luar dugaan mereka, junpyo bahkan sudah tahu semua ini adalah perbuatan jaekyung. Karena itulah ia sulit mempercayainya, ia seratus kali lebih percaya kalau ini hanya perbuatan jaekyung seorang.

Junpyo :   ”Kenapa? Kenapa kau membelanya?” nadanya menekan, tatapanya dingin penuh kemarahan. Tentu saja, dari apa yang barusan terjadi di gereja, sekarang ditambah lagi dengan semua kebohongan ini. Junpyo sangat marah karena mereka sudah mempermainkannya sejauh ini, terlebih lagi karena ia harus kehilangan jandi yang sedang mengandung anaknya. Dia mengira pak Jung berbohong dan hanya berusaha membela jaekyung. Siapa pun yang membela jaeyung saat ini akan menjadi musuhnya.

Junpyo :   ”AKU TANYA, KENAPA KAU MEMBELANYA?” semakin berang.

Pak jung mulai merasa semuanya sia-sia begitu menyadari junpyo sudah mengetahui jaekyung dibalik semua ini.

Woobin :   ”Apa maksudmu junpyo-yaa? Benarkah jaekyung yang melakukannya?”

Baiklah, woobin sudah berhasil memperjelasnya. Bagaimana dengan pak jung? Apa dia masih tidak mau berkata jujur? Sementara tatapan geram junpyo memaksanya untuk memberi penjelasan.

Serketaris Jung :   ”Ini sepenuhnya adalah tanggung jawabku. Hukum saja aku.” katanya pelan dengan kepala tertunduk.

FLASHBACK

Junpyo :   “Eotthoke dokter? Gwenchanayo?”

   Junpyo memperhatikan lekat setiap pergerakan tangan dokter itu, egonya sedikit tidak terima saat si dokter meletakkan stetoskop di dada jandi, melepaskan satu buah kancing kemejanya. Junpyo jadi gelisah tak menentu. Konyol memang, ingin sekali rasanya dia menyingkirkan tangan dokter itu.

Dokter :   “Gwenchana, istri anda hanya kelelahan. Sepertinya dia belum makan apapun sejak kemarin, perutnya kosong. Mungkin juga sedikit stress, jadi harus banyak istirahat dan minum air putih.”

Junpyo :   “Benarkah?” menatap jandi dengan raut cemas.

Dokter :   “Ne, saya akan memberi vitamin dan beberapa obat demam. Yang penting istri anda harus banyak istirahat.”

Junpyo :   “Baiklah, berikan obat yang terbaik.”

Dokter :   “Arasso Tuan Muda, Kalau begitu saya permisi.”

Junpyo :   “Pak Jung, antarkan dokter keluar.”

Mr. Jung :      “Ne tuan muda.”

Junpyo duduk di sisi jandi yang sedang terbaring lemah. Mata indah itu belum juga terbuka, wajah cantik masih pucat. Junpyo ingin menyentuhnya, namun ragu.

Serketaris jung kembali dengan membawa dua buah map.

Serk. Jung :   “Tuan muda, ini dokumen yang harus anda tanda tangani. Mengenai rapat hari ini, para relasi bersedia menundanya.”

Junpyo mengambil dokumen-dokumen itu, menandatanganinya satu persatu dengan tatapanya kosong. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu, tidak berkonsentrasi dengan berkas-berkas itu.

Junpyo :   “Pak Jung, apa Independent sedang dalam kesulitan? Apa istriku bekerja terlalu keras akhir-akhir ini?”

Junpyo tidak tau dari mana kata-kata itu berasal, semuanya keluar begitu saja dari mulutnya. Kali ini benar-benar seperti seorang suami sungguhan.

Serk. Jung : “Anyi tuan muda, Independent Group baik-baik saja. Justru sangat baik. Nona geum bekerja sangat keras dan hasilnya sangat memuaskan. Hanya saja, beberapa hari ini nona tidak pulang dari kantor.”

Junpyo :   “Jincaa?”

Belum sempat Serkeraris jung menjawab, desahan halus jandi sudah mengalihkan seluruh perhatian junpyo.

Jandi :   “Emm…. Junpyooo”

Junpyo panik, terlukis kekhawatiran di wajahnya. Suara jandi lebih terdengar seperti rintihan, sebenarnya ia belum sadar penuh, matanya sulit terbuka. Seperti orang mengigau, tidak terlalu sadar dengan ucapanya.

Junpyo :   “Ne, jandi… Geum Jandi… Kau sudah sadar?”

Jandi :   “Junpyo….” Panggilnya lagi, begitu lirih. Junpyo menggenggam erat tangan jandi.

Setelah mengambil kembali map di pangkuan junpyo, serketaris jung keluar dari kamar mereka sambil tersenyum. Sementara seluruh perhatian junpyo tertuju pada jandi.


END OF FLASHBACK


Yijung menghela nafas tak menyangka, begitu juga dengan junpyo yang benar-benar lemas mendengarnya. Ternyata mereka benar sudah merencanakan semua ini.

Junpyo :   ”Aku bisa gila.” ucapnya pelan sambil memandang bingung.

Serketaris jung :   ”Aku tidak bermaksud menjadikan ini sebagai alasan untuk menyakiti mu maupun nona Geum, tapi karena dia adalah puteri sahabatku.” masih tertunduk, seolah siap untuk dipenggal sekalipun.

Junpyo terhenyak, ia semakin terkelu, tak sanggup mengatakan apapun. Mengingat seorang yang disebut ’sahabat’ oleh pak jung, mendadak ia menjadi begitu tak berdaya. Justru sesuatu dalam dirinya tiba-tiba saja mengutuk, menyalahkan dirinya sendiri.

Serketaris Jung :   ”Karena sejak ayahnya meninggal dunia, tak ada yang bisa membuatnya tersenyum selain tuan muda sendiri. Karena anak itu, begitu mencintai anda, tak ada yang bisa kulakukan agar sahabatku itu tenang, selain menjaga puterinya.”

Kali ini kata-katanya penuh dengan penyesalan, ia merasa sangat bersalah dan siap menerima semua resiko atas perbuatannya. Dari semua ini junpyo baru menyadari kalau pak jung benar-benar membantu jaekyung selama ini. Mulai dari kecil sampai tumbuh dewasa, meskipun gadis itu selalu berada di sisinya, tapi orang tuanya tidak pernah mengetahuinya. Keberadaan kaekyung memang begitu terlindungi tanpa disadarinya. Baru-baru ini jaekyung juga bisa dengan mudah menerobos kantornya, juga segampang itu menemukan junpyo ketika meeting di hotel tempo hari saat jandi juga datang di tempat yang tidak tepat dan waktu yang salah. Semua keanehan ini baru disadari junpyo sekarang, ternyata pak jung dibalik semua itu.

Serketaris Jung :   ”Semua ini kesalahan ku, mohon tuan muda melepaskan nona Han.”

Junpyo :   ”Cukup... Aku bilang SUDAH CUKUP”

Junpyo berteriak dalam kebingungan, ia tidak mau mengetahui semua kebohongan ini lebih banyak lagi. Dia bahkan sudah tidak sanggup berfikir, junpyo dengan geram merobek-robek surat pengunduran diri pak jung sebelum akhirnya ia pergi dari sana. Meninggalkan pak jung yang masih tertunduk, dan juga kedua sahabatnya yang ikut merasakan kesedihannya.



            ========================



Dua minggu berlalu, hari-hari dilewati junpyo dengan menyiksa dirinya sendiri. Ia duduk di sebuah bar sendirian, hanya ditemani beberapa botol minuman alkohol. Ponselnya dibiarkan terus bergetar sampai si penelepon kelelahan mencoba. Setiap hari kerjanya hanya mabuk-mabukkan, dia terus saja berdiam diri, tidak pernah mau ditemani. Ia seperti kehilangan segalanya. Hilang ketertarikan dengan apapun, tak mampu berbuat apapun.

Di tengah sulitnya mengendalikan rasa bersalahnya, ada rindu yang tak terbendung. Dia seperti kehilangan kekuatan untuk terus berharap jandi kembali, sakit ini menyesakkan dadanya. Bahkan tak mampu memajamkan mata sakin cemasnya pada jandi dan bayinya. Dalam hati terus memohon jandi kembali, berharap kepedihan ini berakhir sebelum jandi benar-benar melupakannya.

Menyadari jandi sudah terlalu lama jauh darinya, airmata junpyo meluap begitu saja. Meski sekuat hati menahan, tapi lagi-lagi ia menetes, tidak bisa berhenti. Dengan cintanya saat ini, bermimpi pun ia tak mampu untuk berhenti. Ini pertama kalinya terasa begitu menyakitkan bagi junpyo, meskipun hanya bisa meninggalkan bekas luka untuk jandi, keegoisannya tetap berharap jandi tidak menyerah semudah ini.

Malam itu junpyo mabuk berat hingga ia tertidur di bar. Karena bar ini tempat langganan junpyo dan teman-temannya, seorang pelayan disana menghubungi jihoo untuk menjemput junpyo. Hal ini sudah terjadi berhari-hari.

Jihoo membopong junpyo ke rumahnya, membaringkannya di tempat tidur. Junpyo berkali-kali mengingau memanggil nama jandi, minta maaf, atau apapun yang sejenis memohon. Bahkan dalam tidur pun dia menangis, jihoo tidak menyangka akhirnya cinta junpyo bisa sedalam ini.

jihoo menghela nafas sambil menatap junpyo. Apa yang harus ia lakukan? Atau, haruskah ia melakukan sesuatu? Selagi ia menatap junpyo yang sudah tak sadarkan diri, jihoo terbayang saat terakhir kali jandi menemuinya sebelum ia pergi. Gadis itu memang tidak mengatakan kalau dia akan pergi, bahkan saat itu jandi terlihat baik-baik saja. Meskipun jihoo tahu sebenarnya dia sedang berada dalam situasi yang sangat menekan.

FLASHBACK

Malam sebelum jandi menghilang, gadis itu tiba-tiba datang ke rumah jihoo. Keduanya duduk di teras yang remang, saat itu angin dingin bertiup kencang.

Jandi :      ”Haaaah.. rasanya begitu tenang”

Jandi menghirup udara dingin ini dalam-dalam dan menghembuskannya seakan begitu lega. Jihoo memperhatikannya lekat. Saat itu pemberitaan tentang perceraian jandi dan junpyo sedang menjadi topic dimana-mana, tentu bukan waktunya bagi jandi bisa terlihat begitu tenang.  

Jihoo :      ”Apa yang akan kau lakukan?”

Jandi :      ”Anyio. Oppa, jaga dirimu. Arasso?” ia tersenyum.

Jihoo mulai ragu harus bagaimana, jandi memang seolah akan pergi.

Jihoo :      ”Kau ingat saat aku mengatakan kau harus tetap menggenggam tangan ku? Aku akan melindungi mu jandi-yaa. Bertahanlah!”

Keduanya saling menatap seolah memberikan kekuatan satu sama lain, juga menunjukkan rasa bersalah yang dalam. Kata-kata jihoo itu justru mengingatkan jandi pada seseorang, yang juga memintanya untuk tidak melepas genggamannya. Ada beban di hati jandi yang sulit dijelaskan, sebenarnya dia datang kesini untuk itu.

Jandi :      ”Bagaimana ini? Seseorang juga mengatakan hal yang sama. Untungnya kita diciptakan dengan dua buah tangan, jadi aku bisa menggenggam keduanya.” Dia malah terkekeh, tawa yang menyayat hati karena sebenarnya dirinya tak setegar itu.

Jihoo :      ”Soal kejadian hari itu, anggap itu tidak pernah terjadi.” jihoo tetap menunjukkan ekspresi serius. Kejadian saat ia mengungkapkan perasaannya pada jandi, dia tahu hal ini hanya akan membebani jandi.

Jandi :      ”Mianhe oppa, bodohnya aku mencintainya. Aku tidak tahu bagaimana caranya tidak mencintainya. Aku sungguh tidak tahu bagaimana cara membencinya, aku memang sebodoh ini.” jandi tersenyum, namun ia tidak bisa menahan tangisnya. Buru-buru ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan kelemahannya.

Jihoo menatapnya dengan perasaan sesak di dada, apa yang bisa dia lakukan hanyalah merangkul jandi, membawa gadsi itu dalam pelukannya. Meskipun rasanya semakin sakit, tapi setidaknya gadis yang dicintainya ini bisa menangis lega, sedalam-dalamnya.


END OF FLASHBACK


Jihoo :      ”Tidak seharusnya aku yang lebih dulu mencintainya, karena pada akhirnya harus mengetahui betapa dia sangat mencintaimu.” Jihoo bergumam pada dirinya sendiri sambil menatap junpyo yang tertidur nyenyak, bahkan rasa sesak itu belum hilang.

Setelahnya, ia berlalu dari kamar itu, melangkah perlahan penuh pemikiran. Dalam diam jihoo berdiri menatap lurus keluar jendela, jari-jarinya terselip di saku celana. Dia terlihat seperti harus memutuskan sesuatu saat itu juga.


== Keesokan harinya ==


Pagi itu begitu cerah, embun menetes di dedaunan, menambah segar suasana. Junpyo sedang duduk melamun di meja makan yang langsung menghadap ke kebun bunga di depannya, sambil menyeruput teh yang disediakan pelayan. Sementara jihoo baru saja keluar dari kamarnya, lelaki ini sudah terlihat rapi, berbeda dengan junpyo yang masih saja kusut. Ia mendekati junpyo, duduk di sampingnya.

Jihoo :      ”Gwenchanayo?”

Junpyo :   ”Aku akan menemukannya, aku akan menjadi seorang ayah, aku tidak akan melepaskannya. Haah..” junpyo seakan menertawai dirinya sendiri yang begitu tak berdaya.

Tanpa basa-basi lagi, jihoo tiba-tiba menyodorkan sesuatu pada junpyo. Melihat itu adalah sebuah tiket pesawat, junpyo menatap jihoo penuh tanya.

Jihoo :      ”170111, jika belum diganti, itu adalah kode apartemennya.”

Jawaban jihoo itu membuat junpyo terkelu, masih terdiam-bingung.

Jihoo  :   ”Aku tidak bisa memastikan dia berada di Boston, tapi sepertinya jandi memang disana.” kemudian jihoo menghindar dari tatapan junpyo yang penuh takjub. Seakan jihoo ingin berkata ’cepatlah pergi sebelum aku menyesal.’

Junpyo :   ”Gomawo.” semampunya ia menahan rasa bahagia yang meluap-luap, yang pasti karena ia tahu betapa beratnya jihoo juga menahan perasaannya selama ini.



         ===========================



BOSTON
Early Morning



Seperti pagi-pagi sebelumnya, dengan mudahnya mata indah itu terbuka, tak ada lagi tidur yang nyenyak belakangan ini. Begitu mata coklat itu terbuka sempurna, ia semakin larut dalam kesepian. Tubuhnya bahkan enggan bergerak dan kepalanya masih betah bertumpu di bantal. Setiap kali menyambut dunia di pagi hari, yang terbayang hanya wajah lelaki yang dicintainya, Goo Jun Pyo. Jandi bahkan tersenyum dengan sendirinya sebelum menyadari keberadaannya. Hanya dengan membayangkan junpyo membalas senyumnya, ia tak mampu menahan air mata.

Bukan ingin melupakan, tapi lelaki itu hidup di dalam luka hatinya. Meski merasa lari adalah jalan terbaik, meski ia sudah mencoba untuk menghapus namanya, meski menggigit bibirnya sekuat tenaga untuk tidak menyebut namanya, tapi hati jandi tetap berteriak, bahwa cintanya hanya junpyo. Bahkan musim telah berganti menjadi hangat, namun hatinya masih saja terasa sedingin salju. Rasanya sudah begitu lama pergi, meninggalkan hidupnya di tempat yang lain.

Terkadang kerinduan memaksanya untuk segera kembali, kembali bertaruh apapun yang terjadi. Sesulit itu baginya menahan perasaan ini, ditambah lagi kehadiran bayi di perutnya yang sepertinya selalu memaksa jandi merindukan ayahnya. Tapi dengan luka yang junpyo tinggalkan, menangispun rasanya tidak cukup menjadi penenang.

Dengan malas jandi beranjak, membuka gorden di kamarnya, langit masih menyatakan fajar. Sesosok bulan masih menggantung indah di langit yang biru. Jandi bersandar di kaca itu sambil menghela nafas panjang, tatapannya nanar lurus ke depan. Sungguh baru kali ini dirinya terlihat begitu rapuh, kehilangan kekuatan. Sejenak jandi menikmati perihnya sebelum memulai aktivitas seperti biasanya, sebelum ia datang kepada anak-anak di yayasan dan tersenyum sepanjang hari di hadapan semua orang.

Dimulai dengan membersihkan apartemen sebelum pergi ke yayasan. Jandi menuruni anak tangga sambil membungkuk-membelakangi, tanganya yang memegang kain pel dengan sigap menggosok-gosok lantai atau apapun yang di lewatinya. Jandi masih mengenakan tanktop putih dipadu hot pants, perutnya masih terlihat rata. Saat sedang asik membersihkan sofa, tiba-tiba aktivitasnya terhenti, jandi terdiam seperti memastikan mendengar sesuatu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, dan mulai merinding ketika menyadari tak mungkin ada orang lain disana selain dirinya. Ia berusaha acuh, kemudian kembali menyalakan penyedot debu. Tapi lagi-lagi ia mendengar suara benda jatuh dengan cukup keras.

GUBRAAAAAAKKK

Jandi langsung terpaku, ia buru-buru mematikan penyedot debu itu karena suara berisiknya menghalangi telinga jandi memastikan suara apa tadi itu. Jandi mendadak tegang ketakutan, ia melangkah pelan menuju dapur yang sebenarnya tak bersekat. Dengan menggenggam kuat sebatang tongkat di tangannya, jandi ragu-ragu melirik setiap sudut dapur. Benar, pintu kulkas terbuka. Dan ada seseorang yang sedang berjongkok disana dengan berbagai makanan yang tumpah di lantai.

Jandi :      ”GYAAAAAAAAAA.....” jandi yang belum melihat dengan jelas langsung memukuli orang itu dengan tongkatnya. Brak bruk brak bruk... sementara orang tersebut juga berteriak kesakitan sambil menggeliat.

”Aw aw.. yah.. gya... hentikan! Hentikan! Ini aku... yah... jandi-yaaa.... hentikaannn...”

Setelah suaranya terdengar jelas, jandi baru menyadari siapa pemilik suara itu. Ia langsung terpaku dengan mata membulat besar, tongkatnya jatuh begitu saja. Matanya langsung berkaca-kaca menatap sesosok pria jangkung yang sangat dirindukannya itu.

Junpyo :   ”Aiiissh... sakit sekali.... aw...”

Junpyo sibuk memeriksa beberapa lebam di tubuhnya akibat pukulan brutal jandi, sementara jandi masih menatapnya bingung. Matanya tak berkedip sedikitpun, begitu tertegun dengan bibir sedikit terbuka. Junpyo yang menyadari ditatap seperti itu jadi ikut kaku, mata keduanya bertemu.

Junpyo :   ”A..a..a..aku.. aku lapar.” Ia terlihat bodoh karena terbata-bata seperti itu, ditambah lagi suara perut menyambut pengakuannya.

Jandi masih terkelu, ia baru sadar kalau ini benar-benar junpyo. Bukan mimpi.

Jandi :      ”Kau... Apa yang kau lakukan?” masih tak menyangka.

Junpyo :   ”Kenapa disini tidak ada makanan? Sejak tadi malam aku kelaparan. Aiiisshhh” Junpyo langsung mengalihkan pertanyaan jandi.

Jandi :      ”YAH, Apa yang kau lakukan disini? Hoh, seharusnya aku menggati kode apartemen ini.” jandi masih tersengal menghela nafas pendek, tak terpikir olehnya si pemilik apartemen yang tentu masih ingat kodenya adalah sahabat orang ini.

Junpyo :   ”Waeyo? Aku datang kesini untuk.... untuk menjemput istriku.” kalimat terkahirnya terdengar ragu.

Jandi :      ”Aku tidak punya waktu untuk bermain-main lagi, pergilah.” tatapannya dingin dan sinis. Kembali seperti saat awal mereka bertemu.

Junpyo :   ”Bermain-main? Aku tidak...”

Junpyo tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat ia menangkap sorot mata jandi yang menerobos lurus retinanya. Mata coklat yang indah itu memantulkan cahaya bening oleh air yang terkumpul di pelupuknya. Ada perasaan yang luar biasa bergejolak diantara keduanya, sulit sekali dijelaskan namun rasanya ingin meledak. Rindu ini, tak mampu lagi dibendung, tidak lagi. Airmata mengalir deras begitu saja di pipi jandi tanpa ia sadari, semakin menusuk hati junpyo.

Junpyo :   ”Jandi-yaa...” panggilnya pelan.

Jandi langsung membalikkan tubuhnya, ia menghindar. Mengelak, menyembunyikan airmatanya.

Jandi :      ”Ntah bagaimana kau bisa tiba-tiba muncul di hadapan ku, tapi pergilah. Tinggalkan aku seperti tak pernah terjadi apapun.” katanya pelan sambil melangkah pergi.  Tapi kata-kata junpyo menghentikannya.

Junpyo :   ”Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Jandi kembali menatap junpyo, dia tidak mengerti apa yang junpyo bicarakan.

Jandi :      ”Mwo?

Junpyo :   ”Bayi yang ada dalam kandungan mu, Anak ku. Kenapa tidak mengatakan kalau kau sedang mengandung?”
 
Serrrrrrrrrr..... darah jandi seakan berdesir, bagaimana junpyo tahu? Seingatnya dia tidak pernah memberitahukan siapapun tentang kehamilannya. Junpyo perlahan mendekati jandi.

Junpyo :   ”Bagaimana mungkin menganggap tidak pernah terjadi sesuatu antara kita, aku begitu bahagia mengetahui akan segera menjadi seorang ayah.”

Junpyo kini berdiri tepat di hadapan jandi, keduanya saling bertatapan lekat.

Jandi :      ”Kau lupa, kita sudah bercerai. Hanya karena aku mengandung, bukan berarti kau tidak menceraikan ku kan?” sorot matanya penuh kekecewaan.

Junpyo :   ”Jandi-yaa...”

Sejujurnya jandi mengira junpyo mencarinya hanya karena lelaki itu ingin mengambil anaknya. Kehadirannya tidak mengubah kenyataan kalau junpyo telah menceraikannya sejak pertengkaran malam itu.

Jandi :      ”Pergilah, aku akan mengubah kode apartemennya, jadi kau tidak perlu kembali kesini.”

Lagi-lagi jandi buru-buru pergi, tapi junpyo menarik tangannya, langkahnya terhenti karena junpyo menggenggam tangannya kuat.

Junpyo :   ”Aku disini untuk menjaga bayi ku.” ucapnya konyol.

Jandi :      ”Mwo?” memandang junpyo dengan kesal, tapi lelaki itu malah terlihat menyembunyikan senyum simpul. Sepertinya dia memang sengaja berbuat sesuka hatinya, seperti biasa.

Junpyo :   ”Aku mengkhawatirkan bayiku. Lihat, kau membersihkan seluruh ruangan ini sendirian, apa tidak ada pelayan disini? Aku melihatmu turun di tangga itu seperti ini, bagaimana kalau kau jatuh?” Ia benar-benar memperagakan saat jandi menuruni tangga tadi sambil mengoceh-memonyongkan bibirnya, mencari-cari alasan memojokkan jandi agar dia diizinkan tinggal disini.

Sementara jandi hanya bisa menghela nafas tak percaya, matanya berkedip berkali-kali. Menggigit bibir bawahnya menahan kesal, memperhatikan sikap konyol junpyo. Yang benar saja, bisa-bisanya lelaki ini bersikap seolah tak terjadi masalah antara mereka.

Jandi :      ”Hoh, aku bisa gila. Apa urusannya denganmu? Tiba-tiba muncul dan mengatur semuanya.” ikut memonyongkan bibirnya.

Junpyo :   ”Tentu saja demi kau dan anak pertama kita. Kau belum sarapan kan? Mana ada ibu hamil yang diet. Bagaimana kalau bayi ku kelaparan disana.” Junpyo langsung letakkan telapak tangannya di perut jandi yang langsung mengelak. Jandi memandangnya tak percaya.

Jandi :      ”YAH, apa yang kau lakukan?”

Junpyo :   ”Waeyo? Sini, aku ingin mendengar anakku, mungkin ia manangis kelaparan.”

Lagi-lagi junpyo menarik pinggang jandi yang ramping, kali ini ia menempelkan telinganya di perut jandi yang langsung menggeliat geli. Tapi junpyo terus membekap pinggangnya.

Jandi :      ”Yah, hentikan. Kau.. yah.. aww.. hahaha.. aaw.. hihihihihihi... lepaskan...” Jandi tertawa menahan gelinya, padahal dia bahkan sama sekali tidak dalam mood untuk tersenyum.

Setelah junpyo melepasnya, jandi langsung menendang kakinya. Tapi karena sudah mengenal dengan baik reaksi jandi, kali ini junpyo berhasil lolos. Tatapan jandi semakin marah, dia buru-buru pergi tapi junpyo lagi-lagi menarik tangannya hingga jandi jatuh ke dalam pelukannya.

Sejenak keduanya terdiam, hanya detak jantung yang berdegup kencang yang mewakili perasaan mereka. Selama beberapa menit mereka dalam posisi seperti itu. Junpyo semakin hanyut mendekap tubuh mungil jandi. Aroma tubuh dan wangi rambut ini sudah lama ia menantinya, ia semakin menyandarkan kepala jandi dengan nyaman di dada bidangnya hingga sulit bagi jandi untuk melepaskan diri dari dekap hangat yang sangat dirindukannya itu. Hatinya telah berhasil menemukan muaranya dan sejujurnya ia takut tersesat lagi.

Junpyo :   ”Mianhe... Jeongmal mianhe... aku sangat merindukanmu.”

Pernyataan itu berhasil menumpahkan airmata jandi hingga mengalir deras sampai terisak, membasahi kemeja yang dipakai junpyo. Bahunya naik turun ikut tergoncang melepas perasaan rindunya, sementara junpyo semakin memeluknya dengan erat.

Hanya itu saja yang bisa junpyo jelaskan, dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya lebih jauh lagi. Tidak akan mengatakan kalau semua ini adalah perbuatan jaekyung, tidak bisa mengatakan kalau sudah sejak lama dia tidak pernah menginginkan adanya perceraian. Sampai saat ini, setidaknya junpyo memang masih melindungi nama jaekyung, tidak mungkin memberitahukan pada semua orang kalau jaekyung yang harus bertanggung jawab dengan terjadinya perceraian ini. Tapi junpyo akan melakukan apapun semampunya untuk memenangkan hati jandi lagi.

---------------------------------------

Setelah jandi kembali ke kamarnya, ia kembali menangis, dadanya terasa begitu sesak. Seseorang yang selalu dirindukannya hadir di hadapannya, namun tetap tak ada alasan baginya untuk bersamanya lagi. Semua itu mengingatkannya pada malam dimana ia dipaksa ommanya untuk menandatangi surat cerai itu.

FLASHBACK

Mrs. Geum :   ”Apa yang kau tunggu? Kenapa kau jadi sebodoh ini?”

Omma jandi ini meletakkan secarik kertas berisi pernyataan cerai yang sudah ditandatangani junpyo tepat di hadapan jandi. Ia memaksa jandi  untuk menandatangi kolom kosong yang bertuliskan namanya.

Jandi :      ”Tidak omma, apa omma lupa, kalian yang memaksaku untuk menikah dengannya. Apa kalian sekarang juga akan memaksaku untuk bercerai?”

Mrs. Geum :   ”Lalu, apa sekarang kau mau bilang kalau kau sudah mencintainya?”

Jandi :      ”Omma, tak bisakah aku memiliki hidupku sendiri?” mata jandi mulai berkaca-kaca.

Mrs. Geum :   ”Kau lihat apa yang terjadi pada appa mu? Dia bukan saja menghancurkan Independent grup maupun keluarga kita, tapi apa kau tega melihat appamu seperti ini?” omma jandi menangis sesegukkan, wanita ini memang menjadi begitu keras dan terluka sejak suaminya tercinta jatuh sakit.

Melihat ommanya begitu menderita, jandi tidak tahan. Tak ada yang mampu ia lakukan untuk menyembuhkan lukanya, ia justru berfikir mungkin kehadirannya hanya akan semakin menyempitkan hati ommanya yang awalnya begitu bijaksana. Dia merasa akan melukai ommanya lebih parah lagi, oleh karena dirinya tak  mampu bercerai dengan junpyo. Saat itu jandi hanya bisa menghindar dari paksaan itu, agar tidak semakin durhaka,.

Jandi :      ”Mianhe omma, jeongmal mianhe.”

Lalu jandi pergi meninggalkan ommanya begitu saja, sementara ommanya tidak tahu kalau saat itu jandi akan pergi tanpa kembali lagi.
Malam itu juga, jandi menemui jihoo untuk meluruskan perasaannya, dan keesokkan harinya dia pergi ke Boston.


END OF FLASHBACK



               End Of Chapter

            =======================
« Last Edit: October 24, 2011, 10:21:22 am by Be my self »