Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 38671 times)

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
I CAN’T CALM MY HEART

Chapter 11

Jandi ragu-ragu menuruni anak tangga di apartemennya sambil melirik kesana kemari seperti memastikan keberadaan seseorang. Ternyata benar, seseorang itu sedang bersandar di dinding dengan raut gelisah, ia memang masih menunggu disana. Dengan jari-jari terselip di saku celananya, lelaki tampan itu langsung menoleh saat jandi datang menghampirinya.

Junpyo :   ”Kau mau pergi?” memandang heran pada jandi yang terlihat sudah rapi dengan stilan kantor.

Jandi :      ”Ne, junpyo-yaa.. kalau sudah puas bermain, aku mohon pergilah.” ucapnya dingin tanpa sudi menatap junpyo.

Namun junpyo menghalangi langkah jandi, berdiri tepat di hadapanya membuat gadis itu tertegun kesal.

Junpyo :   ”Aku akan membawamu pulang ke Seoul.” tukasnya pasti.

Jandi hanya menatapnya dingin sementara junpyo tetap berusaha tersenyum menyikapi penolakan jandi, ini memang tidak akan mudah.

Jandi :      ”Minggirlah.”

Jandi menerobos junpyo dan pergi begitu saja, tapi junpyo terus mengimbangi langkah buru-buru jandi dan mengekorinya sambil mengoceh.

Junpyo :   ”Ayolah, Kau mau minum kopi? Aku lapar sekali. Jandi-yaa..”

Jandi tidak menggubrisnya, sampai tiba di parkiran apartemen, jandi mulai kehilangan kesabaran. Langkahnya terhenti tepat di hadapan pintu mobilnya, ia menghela nafas sambil memelototi junpyo yang sengaja membuatnya kesal. Junpyo langsung terbata-bata.

Junpyo :   ”A..a..a..aku... aku datang tanpa membawa apapun, meskipun aku tak akan tersesat tapi sejujurnya aku belum pernah kesini.” Ia menyelesaikan kalimat terakhir dengan senyum jail tersungging di bibirnya, begitu percaya diri seakan alasan ini akan berhasil membuat jandi menurutinya seperti biasanya.

Jandi :      “Hohh.. kau ini lucu sekali. Aku tidak punya waktu untuk membawamu jalan-jalan.” memonyongkan bibirnya kesal, lalu jandi masuk mobil dan pergi meninggalkan junpyo yang hanya bisa menghela nafas, berkedip berkali-kali, tak menyangka jandi jadi setega ini.

Junpyo :   ”Aiiissh.. benar-benar...” kesal setengah mati.


-------------------------------------



Di siang yang cerah dan terik, terlihat seorang gadis cantik sedang dikerumuni beberapa orang anak kecil yang berwarna kulit berbeda-beda. Mereka tertawa ceria, berebut perhatian gadis berkulit putih mulus itu. Di yayasan ini, jandi biasanya mengabdikan dirinya. Sejak ia kuliah, banyak sekali yang telah ia lakukan untuk membuat anak-anak dari berbagai negara yang sekarang dididik disini menjadi memiliki sesuatu setelah mereka kehilangan segalanya. Yayasan yang luar biasa megah, terhampar luas taman dan lapangan olah raga yang bersih, tempat jandi berdiri sekarang. Dikelilingi bangunan kokoh yang besar dan indah, tampat ini terlihat begitu tenang.

Junpyo memandang takjub hamparan yang ada di hadapannya, dia tidak menyangka kalau yayasan yang disebut-sebut appanya memang benar ada. Dan lebih dari itu, ternyata seluas ini. Suatu kebetulan kalau dia bisa menemukan jandi sekarang ini yang berada di lapangan olah raga, mengingat tidak banyak orang yang lalu lalang. Dipikirnya yayasan ini terlalu besar untuk suasana sesunyi ini, padahal di dalam ruangannya terdapat sekitar sepuluh ribu anak didik yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing sesuai tingkatan pendidikan mereka.

Lagi-lagi junpyo terpesona oleh senyum tulus jandi, gadis itu bersinar dibawah terik matahari, namun tidak mengendurkan semangatnya membuat anak-anak di sekelilingnya tertawa terpikal. Junpyo terpaku, dengan mata berbinar menatap jandi, gadis itu terlalu indah. Seketika lamunannya buyar saat merasa ada yang menggoyang-goyangkan jeansnya. Junpyo meoleh ke bawah, bibirnya sedikit terbuka heran menatap seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun, dengan wajah tanpa ekspresi tertegun sedang menatapnya. Kemudian junpyo berjongkok di hadapan gadis kecil berkebangsaan India itu, menyapanya.

Junpyo :   ”Hai...” memamerkan telapak tangan sambil tersenyum ragu karena gadis itu terus menatapnya dalam diam.

Junpyo :   ”Are you Oke?” sekali lagi ia menyapa.

Gadis kecil :   “Apa kau ini actor Hollywood?” (percakapan mereka dalam bahasa inggris)

Junpyo terkekeh.

Junpyo :   ”Aku memang setampan actor.” ocehnya sembarangan.

Gadis itu semakin memperhatikan rupa junpyo yang tampan.

Gadis kecil :   ”Kau bermain di film apa?” tanya anak itu dengan polos.

Junpyo :   ”Hmmm.... tidak ada! Tapi banyak orang yang meminta tandatanganku. Kau mau?”

Gadis kecil :   ”Baiklah kalau kau memaksa.” Gubraakkk...

Junpyo tertawa, tak percaya dengan sikap gadis India ini. Gadis itu menyodorkan sebuah kertas berwarna merah yang sudah dilipat berbentuk hati.

Junpyo :   ”Apa ini? kau yang membuatnya?” membolak-balikkan kertas itu, kemudian menandatanginya lalu mengembalikannya pada gadis cilik itu.

Gadis kecil :   ”Yes, thank you.”

Kemudian gadis itu melangkah pergi begitu saja, tapi junpyo menghentikannya.

Junpyo :   ”Tunggu dulu. Apa kau bisa mengajari ku membentuk kertas seperti ini?”

Gadis itu memandang heran pada junpyo, kemudian ia menarik tangan junpyo untuk mengikutinya ke sebuah pohon rindang yang dibawahnya terdapat banyak anak-anak yang sedang sibuk melipat kertas berwarna-warni. Ada yang berbentuk hati, pohon, rumah, dan berbagai bentuk unik lainnya. Anak-anak disana juga berkarakter sangat berbeda, terlihat jelas mereka berkebangsaan berbeda. Gadis kecil yang membawa junpyo menyuruhnya duduk di tembikar itu, kemudian menyuruh junpyo mengikuti gerak tangannya saat melipat kertas. Sementara teman-temannya yang lain bengong memandangi junpyo.

Setelah hampir setengah jam....
Gadis kecil :   ”Kau harus melipatnya seperti ini!” bentak gadis itu dengan suara imutnya, dia tidak sabaran mengajari junpyo melipat dengan benar.

Junpyo belum berhasil melipat satu kertas pun, anak-anak yang lain bahkan sudah ikut turun tangan mengajarinya tapi tetap saja junpyo hanya menghasilkan kertas buram yang berserakan.

Junpyo :   ”Aiiish... kau ajari yang benar.” banyak keringat yang menetes di dahinya, dia nyaris kehilangan kesabaran, malah menyalahkan anak-anak tak bersalah itu.

Junpyo dengan hati-hati melipat di bagian lipatan terakhir, ia nyaris berhasil, tapi lagi-lagi salah. Selama empat puluh menit, hanya itu yang junpyo lakukan, sampai beberapa anak merasa bosan dan meninggalkannya. Dan akhirnya, setelah melewati banyak kesulitan, ia berhasil juga membentuk kertas itu menjadi mirip bentuk hati. Junypo langsung melompat kegirangan.

Gadis kecil :   ”Punyaku lebih baik.” katanya pelan, sambil melirik junpyo.

Junpyo :   ”Gadis cantik, bisakah kau menolongku?” terlihat sangat antusias.

Gadis kecil :   ”Lagi?” =_=a

Junpyo menuliskan sesuatu di kertas berwarna pink itu dengan huruf hangul, kemudian menyerahkannya pada gadis kecil  itu.

Junpyo :   ”Tolong berikan ini pada gadis disana itu?”  junpyo menunjuk jauh, mengarah pada seorang gadis yang sedang duduk memperhatikan anak-anak bermain di lapangan.

Gadis kecil :   ”Nona jandi?” ia memandang curiga pada junpyo, menyipitkan matanya.

Junpyo :   ”Yes.” tersenyum membentuk lesung pipi.

Gadis kecil :   “Kau menyukainya?” memonyongkan bibirnya.

Junpyo :   “Apa?” kali ini junpyo kebingungan harus menjawab apa, dia tidak yakin kalau anak ini mau mengantar surat itu jika dia berkata ‘iya”

Junpyo :   “Aku kan sudah memberimu tandatangan, sekarang kau harus membantuku menyampaikan pesan itu.”

Gadis itu semakin menatap junpyo curiga, tapi akhirnya dia menyetujuinya. Anak itu berlari menghampiri jandi,  kemudian langsung menyerahkan kertas ’hati’ buatan junpyo padanya.

Gadis kecil :   ”Nona jandi, ada seseorang yang memberikan ini.” menyodorkan kertas itu.

Jandi :      ”Benarkah? Thank you Tina.” jandi tersenyum.

Jandi tertegun saat membaca tulisan di kertas itu, sementara gadis kecil itu terus mengoceh.

Gadis kecil :   ”Tuan itu sangat tampan, bahkan lebih tampan dari Robert Pattinson.” gadis itu bicara dengan antusias, berbeda saat ia bicara dengan junpyo.

Jandi masih menatap kertas itu....

”Aku menunggumu, Saranghamnida Geum Jandi ~ Goo Jun Pyo”


Jandi menahan senyum manisnya. Saat mengangkat kepalanya ia langsung dapat melihat sosok pria yang bertingkah konyol itu. Si gadis kecil tadi juga menatap junpyo yang mendekat pada mereka dengan tampang heran.

Gadis kecil :   ”Itu dia orangnya.” katanya polos sambil menunjuk junpyo yang menghampiri mereka.

Junpyo :   ”Thank you gadis manis.” Mengacak-acak rambut lembut gadis itu, membuatnya tersipu malu.

Jandi hanya tidak terlalu menggubris keberadaan junpyo, dia tidak terlihat heran.

Jandi :      ”Kenapa kau bisa ada disini?”

Tanpa menjawab, junpyo hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.

Junpyo :   ”Yayasan ini lebih hebat dari yang ku bayangkan. Tidak disangka Shinwa akan mengeluarkan dana sebesar ini untuk sebuah yayasan.” tersenyum bangga sambil memandang bangunan sekelilingnya yang memang megah.

Jandi menghela nafas acuh, dia bisa memaklumi sikap yang sudah menjadi ciri khas junpyo, mungkin setelahnya lelaki ini akan menganggap tempat ini hanya miliknya seorang. Gadis kecil itu menatap mereka bergantian, ia terlihat bingung. Dia juga tidak mengerti dengan pembicaraan kedua orang korea ini.

Gadis kecil :   ”Kau siapa?” menegur junpyo karena junpyo terlihat begitu menyukai jandi,  gadis ini agaknya khawatir.

Junpyo :   ”Aku? Kau bilang aku mirip actor kan?” terkekeh.

Jandi bingung memperhatikan mereka berdua yang terlihat akrab.

Gadis kecil :   ”Kau berbohong? Padahal aku sudah menyukai mu.”

Jandi melongo tak menyangka gadis kecil ini begitu berterus terang, ia tertawa geli mendengar junpyo mengaku sebagai actor.

Junpyo :   ”Benarkah? Bagaimana ini, tapi aku sudah menikah.”

Wajah gadis itu terlihat kecewa, menatap junpyo dengan pandangan putus asa.

Jandi :      ”Junpyo-yaa..” memperingatkan junpyo agar tidak asal bicara.

Gadis kecil :   ”Dengan nona jandi?” masih memandang keduanya bergantian.

Junpyo :   ”Benar, sebenarnya... aku pasti akan memilihmu gadis manis. Kau tahu, dia ini galak sekali.” berpura-pura berbisik pada gadis itu sambil menatap jail pada jandi.

Jandi :      ”Yah...” bentaknya.

Junpyo :   ”Lihat? Dia benar-benar galak.”

Gadis kecil itu sama sekali acuh, mendadak dia tidak tertarik lagi.

Gadis kecil :   ”Terserah kalian saja. Kenapa kau tidak beritahu dari awal.” ia menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian pergi begitu saja.

Jandi terkekeh menyaksikan tingkah gadis itu, saat itu junpyo menatapnya dalam diam, dengan penuh cinta. Dia merasa sangat lega bisa melihat jandi tertawa seleluasa itu, bahkan jandi sendiri tidak sadar kalau dia bisa tertawa lagi sejak ada junpyo di sisinya.

Junpyo tiba-tiba berjongkok di hadapan jandi yang duduk melipat kakinya, tawanya seketika berhenti mengantisipasi apa yang akan junpyo lakukan. Memandangnya heran.

Jandi :      ”Yah, wae?”

Tanpa basa-basi, junpyo meraih kaki jandi, membuka sepatu highheels nya perlahan. Kemudian junpyo membuka sebuah kotak yang dari tadi dibawanya, terlihat sepasang sepatu cantik dengan desain sederhana tanpa hak. Jandi tertegun, dia hanya diam kebingungan saat junpyo memakaikan sepasang sepatu itu di kaki indahnya.

Jandi :      ”Ini?”

Junpyo :   ”Aku membelinya saat berbelanja baju tadi, kau tidak boleh memakai highheels selama beberapa bulan ke depan sampai bayi kita lahir. Arasso?”

Bibir jandi sedikit terbuka, dia terkelu tak tahu harus berkata apa. Melihat junpyo begitu perhatian dengan kehamilannya, jandi mendadak ragu dengan penolakannya. Dia bahkan terharu.

Junpyo :   ”Kau tidak suka? Kalau tidak suka aku akan membelikan yang baru.”  Junpyo mengira jandi marah lagi, karena gadis itu terus saja diam.
”Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Kau nyaris mematahkan kaki ku dengan sepatu setinggi ini.”
Dia memamerkan sepatu yang tadinya dipakai jandi. Junpyo berharap jandi tertawa, tapi gadis itu tetap hanya terpaku menatapnya.
”Lalu saat pertemuan kita yang kedua, jandi-yaa.. saat itu kau tersungkur juga karena sepatu seperti ini.”
Kembali berusaha mencuri perhatian jandi dengan menunjukkan sepatu tinggi itu lagi. Tetap nihil, gadis itu tak bergeming.
”Juga saat kita tersesat di desa bibi So, kau ingat? Hahahaaaaa”
Junpyo memaksakan diri tertawa, sesekali ia melirik jandi berharap gadis itu paling tidak bisa tersenyum sedikit. Tapi mata jandi malah berkaca-kaca.

Jandi :      ”Aku memang merindukanmu, aku memang tidak bisa melupakan semua itu, bagaimana kau tahu itu?” tanyanya sinis, dengan airmata yang mulai tumpah.

Junpyo :   ”Jandi-yaa”

Jandi buru-buru menghapus airmatanya, tanpa basabasi ia pergi meninggalkan junpyo yang kebingungan. Junpyo pun hanya membiarkannya pergi, karena ia benar-benar melihat tatapan kecewa di mata jandi. Terkadang timbul keraguan kalau dirinya hanya akan terus menyakiti jandi bila tetap memaksakan keinginannya untuk membawa jandi kembali ke sisinya. Junpyo mengerti jandi pasti akan merasa dipermainkan.



            ========================




Pukul sembilan malam, pintu apartemen itu terbuka. Suasana terasa sunyi, saat melangkah masuk ternyata junpyo mendapati jandi sedang tertidur di sofa putih yang besar itu, kepalanya tersandar di bantalan. Junpyo mendekatinya, gadis yang hanya memakai tanktop dan hotpant itu tidur manis sambil memeluk sebuah buku. Yah mungkin dia tertidur saat membacanya, sepertinya begitu.

Buku yang berjudulkan ’Birthing From Within’ di tangan jandi itu sangat menarik perhatian junpyo, berhasil membuat lelaki itu senyam-senyum sendiri. Junpyo senang mengetahui jandi ternyata sangat perduli dengan kehamilannya. Perlahan ia memindahkan buku di tangan jandi, gerakannya sangat hati-hati karena takut membangunkan jandi. Kemudian junpyo menyelipkan tangan kirinya di punggung jandi hingga kepala gadis itu agak terguncang dan mendarat nyaman di pundak junpyo. Tangan kanannya menyelip di bawah lutut kaki yang mulus bagai porselin itu, tepat saat junpyo akan mengangkat tubuh mungil jandi, mata indah itu terbuka meski sangat berat.

Jandi tertegun begitu ia kembali dari mimpinya, matanya menyipit oleh silaunya cahaya lampu yang terang di ruangan itu. Dahinya terhenyit, memaksakan diri untuk sadar sepenuhnya. Apa yang dilihatnya kini? Kenapa wajah tampan itu sekarang hanya berjarak beberapa inchi tepat di hadapannya? Benarkah dia sudah terbangun dari mimpi?

Junpyo sendiri terdiam kaku dengan rasa serba salah, matanya berkedip berkali-kali seakan berkata dia bukan lah pengeran yang mencium bibir putri salju untuk membangunkannya dari tidur. Sekejap saja rasa rindu itu menggetar kuat dia hati keduanya, sudah lama junpyo menanti saat ini. Memandang wajah indah jandi dari jarak yang sangat dekat, setelah begitu lama terpisah darinya, ingin membawanya dalam sentuhan cinta.

Jandi :      ”A.. apa yang kau lakukan?” kata-kata terbata yang keluar dari bibir jandi membuyarkan lamunan junpyo.

Lelaki itu langsung melepas tubuh jandi yang nyaris berada dalam gendongannya, wajahnya memerah tak mampu menyembunyikan keinginannya yang sebenarnya.

Junpyo :   ”Kenapa kau tidur disini?”

Junpyo pura-pura acuh dan ikut menjatuhkan tubuhnya di sofa, duduk tepat di samping jandi yang masih memperhatikan gelagat salah tingkahnya.

Jandi :      ”Kau dari mana?”

Junpyo bersandar nyaman di sofa setelah berhasil menghindar dari situasi yang kaku.

Junpyo :   ”Hanya berjalan-jalan.” tersenyum.

Junpyo meraih buku yang tadi jandi baca, kemudian menyalakan televisi di hadapan mereka duduk.

Jandi :      ”Sudah makan?” masih memperhatikan junpyo yang terlihat ceria, senyam senyum sendiri.

Junpyo :   ”Sudah. Kau sendiri sudah makan?” memandang jandi curiga.

Jandi :      ”Sudah.”

Junpyo :   ”Tapi kau terlihat kurus. Bagaimana bayi kita... Apa kau kelaparan di dalam perut omma, baby?”

Junpyo meletakkan telapak tangannya di perut jandi, gadis itu sedikit menggeliat kaget, tapi dia membiarkan junpyo yang tanpa permisi sekarang menempelkan telinganya di perutnya. Darah jandi seakan berdesir saat kepala junpyo bergerak-gerak di perutnya, dia terdiam kaku tak mau menyentuh junpyo sedikitpun.

Junpyo :   ”Baby, jangan menendang perut omma ya sayang... Appa akan menjaga mu dan omma, jangan nakal disana.”

Junpyo memberi kecupan sayang di perut jandi yang membuat gadis itu memelototinya.

Junpyo :   ”Jandi-yaa, Apa dia bergerak? Dia menjawab ku?” tanyanya antusias.

Jandi :      ”Mana mungkin.”  

Junpyo :   ”Dia merespon ku. Benar, aku merasakannya.” kembali menempelkan kepalanya di perut jandi. Sepertinya itu hanya halusinasinya saja mengingat usia kehamilan jandi masih sangat muda.

Jandi :      ”Anyio... sudahlah... yah... geli sekali. Yah, Goo jun Pyo.” jandi mendorong kepala junpyo yang juga tidak mau mengalah, ia terus memaksa menempel di tubuh jandi. Mereka terus saja seperti itu, junpyo tidak mau mengalah sampai membuat jandi kelelahan akibat tertawa menahan geli.

Malam semakin larut, kedua sejoli ini masih duduk sana. Junpyo menonton pertandingan sepak bola, sementara jandi... kepalanya sudah jatuh bagun menahan kantuk, matanya hampir tidak bisa terbuka memelototi buku di tangannya. Dan akhirnya buku itu jatuh juga ke lantai, kepalanya terkulai ke sisi kiri tepat di pundak junpyo. Junpyo tersenyum melihat tingkah jandi ini sambil merangkulnya dalam dekapan, gadis itu terpejam nyaman menyandar di dada junpyo.
Tak seberapa lama mereka dalam posisi seperti ini, junpyo kemudian menggendong jandi menuju kamarnya di lantai atas. Perlahan meletakkannya di tempat tidur, manatap gadis itu dalam-dalam. Hatinya seperti ingin meledak menahan perasaannya, betapa inginnya dia menyentuh jandi. Melihat kakinya yang putih mulus sampai ke paha serta dadanya yang menantang membuat junpyo sesak nafas, dia hanya bisa menelan ludah. Sulit baginya menahan hasrat yang selama ini di singkirkannya demi harga diri jandi.

Junpyo menyelimutinya, kemudian mengecup lembut kening jandi sebelum ia keluar dari kamar itu. Mendengar suara pintu tertutup, mata jandi pun terbuka. Ternyata dia sudah terbangun sejak tadi. Jandi sebenarnya sangat merindukan junpyo, bahkan dia sangat mengharapkan kehadiran junpyo di sisinya sebab bawaan kehamilannya.

Tentu tak sedikitpun jandi merasa bahwa dirinya bukan milik junpyo lagi, tidak sekejappun. Dia masih milik junpyo, hanya saja apa yang mampu ia jelaskan? Justru segalanya tidak terlihat jelas baginya. Sementara junpyo mengira mereka telah bercerai, jandi tidak bisa mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak mau menandatangani surat itu. Tapi kenapa surat itu harus ada? Surat yang membuat orangtuanya begitu terluka dan membenci junpyo.


----------------------------------------------


Semalaman jandi gelisah, tubuh yang tadinya lelah dan mata yang tidak bisa diajak kompromi saat begitu nyaman di sisi junpyo hingga tertidur, kini mendadak segar bugar. Berkali-kali tubuhnya bolak-balik gelisah di tempat tidur. Apa yang harus ia lakukan? Kenapa rasa rindu ini menjadi-jadi?

Di sisi lain, junpyo ternyata lebih gundah lagi. Di dalam kamarnya, dia masih mondar-mandir menahan diri untuk tidak keluar dan datang pada jandi. Berkali-kali ia menyentuh gagang pintu, namun ragu membukanya. Bahkan tidak bisa duduk sekejap saja, bagaimana mungkin dia bisa tidur.

Disaat yang sama, jandi ragu-ragu keluar dari kamarnya, ia tak bisa mengendalikan langkahnya yang terus mendekat ke kamar di lantai bawah itu. Begitu juga dengan junpyo, ia menghela nafas kuat sebelum akhirnya membuka pintu kamar. Kreeeeekkk.....

Junpyo terkesiap kaget saat mendapati jandi terpaku tepat di depan pintu. Begitu juga jandi, matanya melebar seakan tertangkap basah, pipinya merona merah tanpa junpyo tahu penyebabnya. Junpyo memandang jandi dengan penuh tanya.

Junpyo :   ”Jandi? Gwenchanayo?” junpyo heran kenapa jandi tiba-tiba ada di depan kamarnya, mulanya ia mengira mungkin jandi membutuhkan sesuatu.

Jandi :      ”Oh, gwenchana... Aku...” dia tidak tahu harus bilang apa, mencari alasan yang tak muncul-muncul di kepalanya.

Tatapan junpyo mulai berubah curiga, gelagat jandi ini percis seperti saat dia datang menemui junpyo di Singapore beberapa waktu lalu.

Junpyo :   ”Waeyo? Kau butuh sesuatu?”

Jandi :      “Ah, ne. Ya, Aku.. aku ingin sesuatu. Oh, anyi.. sepertinya baby kita ingin makan sesuatu...” jawabnya antusias seperti berhasil menemukan sesuatu, sampai terkekeh salah tingkah.

Junpyo  menatap jandi dengan pandangan menyidik, senyum gadis ini sangat mencurigakan, tidak seperti biasanya.

Junpyo :   ”Ingin makan apa?” pertanyaan-pertanyaan junpyo sebenarnya memojokkan bagi jandi, dia sepertinya begitu yakin kalau jandi juga merindukannya. Merasakan sama seperti yang ia rasakan.

Jandi :      ”Itu.... Makan apa ya? Hmmm.. SUSHI.. ne, aku ingin makan sushi..” masih kesulitan berbohong.

Junpyo :   ”Mwo?” menyipitkan matanya..

Jandi :      ”Ne, Ottokhe?” memelas.

Junpyo :   ”Tengah malam begini?” nadanya menekan, dengan senyum yang dipaksakan, gigi rapat, matanya memelototi jandi yang juga bingung dengan alasannya.

Jandi :      ”APA?”

Gadis ini sebenarnya sama sekali tidak mengharapkan sushi, dia tidak pernah ngidam hal lain selain junpyo. Itu saja, sangat sederhana.

Junpyo :   ”Baiklah, ayo kita pergi.” diluar dugaan, ternyata junpyo mengiyakan keinginan konyolnya dengan mudah, jandi jadi semakin bingung.

Sebenarnya di antara mereka tidak ada yang mau mengalah, junpyo terus mendesak jandi untuk mengaku kalau sebenarnya bukan karena ’sushi’ dia mencarinya. Sedangkan jandi, terlanjur mempertahankan gengsinya untuk tidak mengaku. Dia tidak menyangka junpyo benar-benar mau mengikuti keinginannya begitu saja, dengan sangat mudah, tengah malam begini pula.

Jandi :      ”Tapi... masalahnya... Restoran sushi itu sangat jauh dari sini. Sangat jauh.” dia menekan kan pada kalimat terakhir, meyakinkan junpyo untuk tidak pergi.

Junpyo :   ”Gwenchanayo, aku yang akan menyetir. Kita ganti baju dulu.”

Jandi :      ”Apa?”

Sambil tersenyum junpyo menaikkan alisnya seakan bertanya masalah apa lagi, jandi jadi terpojok. Tapi tidak, dia tetap tidak akan mengaku.

Jandi :      ”Baiklah, ayo kita pergi.”

Tampangnya berubah kesal, sama sekali tidak seperti orang yang keinginannya terkabul. Jandi dengan raut kesal kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, junpyo hanya tersenyum melihat gadis itu berjalan kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Lima belas menit berlalu, jandi tetap tidak turun dari lantai atas. Sementara junpyo dari tadi kerepotan di dapur, bukannya berganti pakaian, dia malah sibuk mencari pembuka kaleng untuk susu yang akan di tuang ke gelas. Yang jelas junpyo sama sekali tidak ahli dalam urusan dapur.

Di kamarnya, jandi hanya mondar-mandir sambil memikirkan alasan apa yang harus dia katakan agar mereka tidak jadi pergi. Tapi belum sempat alasan itu muncul di kepalanya, tiba-tiba pintu kamar terbuka, jandi langsung menoleh panik. Melihat junpyo masuk dengan segelas susu di tangannya dan masih mengenakan kaos tidurnya, jandi merasa lega karena sebenarnya dia juga sama sekali belum berganti baju. Tapi kemudian dia juga bingung dengan tujuan junpyo masuk ke kamarnya.

Jandi :      ”Waeyo?”

Junpyo :   ”Minumlah. Kau harus menjaga kesehatan lebih ekstra karena sedang hamil. Tinggal sendirian disini tanpa ada yang memperhatikan gizi untuk kalian berdua, benar-benar membuat ku khawatir.” Junpyo menyodorkan segelas susu itu pada jandi yang dengan gugup langsung menerima begitu saja.

Seketika jandi mungkin merasa aman karena junpyo sama sekali tidak mempertanyakan soal ’sushi’ lagi. Dia ragu-ragu meneguk susu itu sampai habis sambil menatap junpyo yang tersenyum hangat padanya, kemudian meletakkan gelasnya di meja dekat mereka berdiri. Tapi ternyata susu itu meninggalkan bekas putih di ujung-ujung bibir jandi, saat itu junpyo tertegun menatap bibirnya. Ntah keberanian dari mana yang merasuki diri junpyo, dia meletakkan kedua tangannya di wajah jandi yang terhenyak kaku. Sepersekian detik, tanpa permisi, junpyo langsung melumat bibir jandi tanpa henti. Jandi sontak terbelalak, tidak siap untuk membalas ciuman penuh gairah itu. Merasa tidak mendapat balasan dari jandi, junpyo pun menghentikan lumatannya. Ia menatap gadis itu penuh harap, wajah keduanya sangat dekat. Saling menatap dengan detak jantung berdebar tak beraturan, kerinduan seketika menjelma menjadi desiran cinta yang menjelajah hati mereka.

Jandi :      ”Apa yang kau lakukan?” ucapnya pelan, tak berkedip sedikitpun. Tidak tahu juga harus berkata apa.

Junpyo :   ”Aku pikir kau juga merindukan ku. Jandi-yaa, melihatmu begitu dekat disini, di hadapanku, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.” sorot matanya menjelaskan kerinduan yang mendalam, juga harapan untuk memiliki moment itu lagi, saat mereka membahasakan cinta mereka lewat sentuhan penuh kasih.

Junpyo semakin mendekatkan wajahnya pada jandi yang tak lepas menatapnya, dahi keduanya sudah saling menempel menahan gairah rindu yang sebenarnya tak terbendung. Ntah sudah berapa lama junpyo menantikan saat seperti ini.

Jandi :      ”Andwe.” bisiknya yang terdengar seperti desahan, namun gerak tubuhnya tidak singkron dengan apa yang terucap. Mata jandi terpejam, menikmati desah nafas junpyo yang menyapu wajahnya.

Junpyo :   ”Mianhe..” balasnya tak kalah menggairahkan.

Jandi    :   ”Andwe” masih berusaha mengikuti pikirannya, jandi menunduk berusaha menghindar, tapi sekejap saja junpyo kembali memaksanya menunjukkan tatapan cinta itu, mengangkat dagunya.

Junpyo tidak perduli dengan apa yang jandi katakan, ia kembali melumat bibir gadis itu dalam-dalam. Benar saja, kali ini jandi justru membalas setiap lumatan junpyo sampai keduannya tidak ingin lepas dari ciuman yang mewakili perasaan mereka selama ini. Kedua tangan junpyo mengunci tekuk jandi mengikuti permainan bibirnya, kepala mereka memutar kekiri dan kanan diiringi desahan nikmat dengan nafas memburu. Tubuh jandi menempel lekat di dada bidang junpyo, gundukan dadanya menekan-nekan di tubuh junpyo. Kelihatannya  postur tubuh mereka yang berbeda sama sekali bukan penghalang untuk saling merengguh. Sementara kedua tangan jandi meremas-remas punggung junpyo seakan dia bersedia mengikuti junpyo untuk terbang bersama ke langit ke tujuh.

Bibir mereka tak terlepas sedikit pun, bahkan junpyo semakin merapatkan tubuh jandi ke dalam dekapannya. Entah apa yang terasa selain gairah yang menggebu-gebu, hingga tanpa terasa pakaian mereka sudah berantakan. Tangan junpyo bergriliya menuruni tubuh jandi, kini tidak ada lagi setali pun pakaian yang menyanggah di pundak mulus jandi yang dengan mudah di kecup junpyo. Bibir lelaki itu terus menyusuri lekuk wajah jandi hingga ke leher, pundak, telinga. Sementara tangannya mulai menyusup masuk ke dalam pakaian jandi, meraba-raba punggung mulusnya.  Jandi seketika menggeliat, menahan geli rabaan tangan nakal junpyo, tubuhnya berbalik membelakangi junpyo, tapi junstru semakin memberi akses pada tangan kekar itu  untuk menjelajah bagian depan tubuhnya. Junpyo juga mengunci ketat pinggang jandi hingga tetap merapat di tubuhnya, menyibak rambut lembut jandi yang menutupi punggungnya, terasa hidung junpyo menekan-nekan bagian itu, bibirnya menyapu punggung mulus istrinya itu.

Selama beberapa lama mereka menggeliat, bergerak aktif saling mengimbangi, tapi jandi yang sedang melumat bibir junpyo tiba-tiba saja berhenti. Kali ini  dekapannya pun merenggang, jandi seperti tidak sengaja melepaskan diri dari permainan ini. Dia melepas ciuman itu untuk kemudian memeluk junpyo dan bersandar di dada lelaki itu tanpa membiarkan junpyo melihat wajahnya. Junpyo yang tidak tahu apa yang terjadi pada jandi hanya bisa membalas pelukan gadis itu dengan erat.

Junpyo :   ”Jandi-yaa?” panggilnya pelan, sambil mendekap erat tubuh jandi yang bersandar nyaman di dadanya.

Jandi :      ”Mianhe, junpyo-yaa... aku lelah, aku benar-benar merasa lelah.” suaranya pelan seakan benar-benar lelah dan akan tertidur saat itu juga.

Junpyo :   ”Mwo?” tanyanya bingung.

Selalu seperti ini, junpyo mana mengerti kalau ini adalah bagian dari reaksi aneh kehamilan jandi. Setelah menggebu-gebu merindukan suaminya dan tidak bisa menahan hasratnya untuk berada dalam dekapan junpyo,  jandi bisa tiba-tiba merasa lelah dan ingin tidur setelah rindunya terbalas, begitu saja.

Junpyo :   ”Jandi-yaa” panggilnya pelan.

Jandi :      ”Hmm.... Jangan ganggu aku...” seperti orang yang sedang mengigau.

Junpyo tidak percaya dengan sikap aneh jandi ini, dia hanya bisa melongo bodoh saat mendapati mata jandi sudah terpejam nyaman sementara tubuhnya bersandar di dada junpyo.

Junpyo :   ”Yah, aku bisa gila.” ucapnya pelan. Menghela nafas berat sambil menopang tubuh jandi agar tetap dalam pelukannya, lagi-lagi harus menahan hasratnya menyentuh jandi.

Junpyo membawa jandi dalam gendongannya, kemudian meletakkannya perlahan di ranjang. Bagaimanapun, junpyo tidak tega membangunkannya, karena memang dari awal jandi terlihat sangat ngantuk. Dia membenarkan posisi tidur dan juga pakaian jandi yang sudah berantakan, dengan hati-hati menyelimuti gadis yang paling dicintainya itu. Junpyo lagi-lagi tanpa permisi ikut berbaring di sisi jandi sambil terus memandangi wajah cantiknya, tersenyum senang karena melihat jandi bisa tidur senyenyak ini. Perlahan junpyo membawa tubuh jandi dalam pelukannya, keduanya tertidur nyaman di ranjang yang hangat.

------------------------------------------------


Matahari sudah menunjukkan dirinya, udara hangat pun menyelimuti seluruh kota. Tapi dua orang itu masih tertidur nyaman. Tak seberapa lama berselang, jandi merasa gerah, tubuhnya mulai berkeringat karena memang semalam tidak menyalakan pendingin ruangan. Tepat saat matanya mulai terbuka, ada bayangan junpyo di pandangannya yang masih kabur. Dia berkedip pelan, mengira masih berada dalam mimpi. Tapi saat itu juga tubuh junpyo bergerak, sontak matanya melebar lalu segera bangun. Memang benar, mereka tidur satu ranjang. Jandi bingung apa yang terjadi? Dia mengingat semalam mereka memang berciuman, tapi seharusnya tidak tidur bersama.

Jandi :      ”Yah, Junpyo-yaa....” sekuat tenaga mendorong tubuh junpyo, tapi hanya bergerak sedikit.
”Aiiiissh... siapa suruh kau tidur disini huh? Yah, cepat bangun!”

Jandi menggoyang-goyang tubuh junpyo, lelaki itu akhirnya terbangun namun acuh dengan ocehan jandi karena sungguh dia masih ngantuk.

Jandi :      ”Kenapa kau tidur disini? Cepat bangun!”

Dengan malas junpyo menuruti kata-kata jandi, matanya masih sulit terbuka.

Junpyo :   ”Mwo? Aku ngantuk sekali.” mengucek-ucek matanya.

Jandi :      ”Tunggu apa lagi? Ayo, cepat keluar.” memukul pelan tubuh junpyo dengan bantal.

Junpyo:   ”Waeyo? Bukankah kita biasanya juga tidur bersama? Kau lupa? Semalam itu...” belum sempat junpyo menyelesaikan kata-katanya, jandi buru-buru membekap mulutnya dengan bantal.

Jandi   :   ”Hentikannn...”

Sakin kuatnya mendorong, tubuh keduanya kembali jatuh tergeletak di tempat tidur dengan posisi jandi berada di atas tubuh junpyo.

Junpyo :   ”Yah, pelan sedikit. Hati-hati jandi-yaa, kau sedang hamil.”

Junpyo buru-buru membenaran posisi jandi, gadis itu malah tertegun dengan perhatian junpyo ini. Hatinya meluluh, tanpa sadar hanya akan menambah cintanya pada lelaki itu lebih dalam lagi.

Saat sedang melamun, tiba-tiba jandi seperti mengingat sesuatu, dia langsung terperanjat.

Jandi :      ”Apa ini hari sabtu? OMO, ottokhe? Jam berapa ini?” Jandi buru-buru mencari ponselnya. Sementara junpyo hanya menatapnya heran.

Junpyo :   ”waeyo?”

Jandi :      ”Aku harus pergi sekarang, bagaimana ini? Sudah telat...” masih terburu-buru, jandi turun dari tempat tidur.

Ia langsung menuju closet, mengeluarkan beberapa pakaian untuk kemudian memasukkannya ke dalam tas yang tidak besar. Junpyo mendekatinya heran.

Junpyo :   ”Jandi-yaa, mau kemana?”

Jandi :      ”Setiap sabtu yayasan akan mengadakan perjalanan wisata untuk setiap kelas. Mereka akan pergi ke resort berkuda di luar kota pagi ini. Sepertinya aku sudah ketinggalan bis.” sambil terus beres-beres.

Junpyo :   ”Bis? Kau bisa pergi dengan mobil kan? Kita menyusul saja.”

Jandi :      ”Mwo? Siapa bilang aku mengajak mu?” memonyongkan bibirnya.

Junpyo :   ”Karena kau pasti terlambat, aku akan mengantarmu kesana.” jawabnya pasti, penuh percaya diri.

Jandi tidak memperdulikan kata-kata junpyo, dia lebih berkonsentrasi berkemas dari pada mendengar ocehan junpyo yang  dianggapnya tidak menarik. Jandi berjalan menuju bathroom, tapi dia terkejut saat junpyo menghalangi langkahnya.

Junpyo menarik tangan jandi hingga jatuh dalam pelukannya, tampaknya dia ingin menyelesaikan sesuatu yang tertunda tadi malam. Jandi memberontak, tapi akhirnya terdiam saat junpyo memaksa mencium bibirnya sejenak sebelum lelaki itu melepas bibirnya lagi.

Junpyo :   ”Aku tidak akan melepasmu, jandi-yaa.. Kau tidak tahu betapa aku sangat merindukanmu? Aku mohon.”

Sorot mata itu sangat dirindukan jandi, tatapan tulus penuh cinta yang selama ini membiusya. Jandi terkelu, dia tidak dapat memaknakan situasi ini lebih dalam lagi. Kenapa dia begitu mudah mempercayai junpyo meskipun lelaki ini menyakitinya, sangat dalam. Apa dia memang sebodoh itu? Lalu kenapa saat dia mengikuti hatinya, dia merasa seolah itu adalah langkah yang benar. Sedangkan nyatanya junpo bersalah?

Jandi :      ”Hentikan junpyo-yaa... jangan membuatku bingung.” ucapnya pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Dia mempertahankan keraguannya pada junpyo, seakan memohon agar junpyo mengerti lukanya yang terdalam.

Junpyo :   ”Mianhe jandi-yaa... Aku mengerti, tapi apapun yang telah terjadi.. Aku hanya mencintaimu. Hanya kau seorang.”

Jandi terkelu, terhipnotis oleh sinar mata junpyo yang penuh ketulusan, menusuk-menikam relung hatinya. Junpyo mendekatkan wajahnya ke wajah jandi, bola mata jandi mengikuti keindahan wajah tampan itu hingga tak ada jarak lagi antara keduanya. Bibir junpyo menempel di bibir jandi yang sedikit terbuka, sekali kecupan, dua kali, kepalanya kini memiring, semakin melumat bibir jandi lebih dalam lagi. Perlahan... menikmati setiap desiran yang diimbangi detak jantung mereka yang berdegup cepat.

Junpyo meraih tubuh jandi dalam pelukannya hingga gundukan di dada gadis itu menempel lekat di tubuh junpyo, semakin membangkitkan gairahnya. Sementara lumatan-lumatannya memaksa jandi membalas dengan sepenuh hati, gadis itu tak kalah agresif memainkan lidahnya beradu dengan lidah junpyo yang sudah ahli melakukannya. Cukup lama, keduanya menikmati ciuman penuh kerinduan itu, sebelum junpyo membawa jandi dalam gendongannya dan meletakkan tubuh gadis itu di ranjang.

Dengan lembut junpyo perlahan melucuti pakaian jandi, begitu juga sebaliknya. Hingga berserakan dimana-mana, keduanya benar-benar polos. Jandi bahkan sulit menelan ludahnya saat menyadari junpyo yang kini berada di atasnya benar-benar siap ’menyerangnya’. Benar saja, junpyo lagi-lagi melumat bibir jandi tanpa ampun. Jandi membalasnya tak kalau bernafsu, keduanya bergerak aktif tanpa henti. Junpyo menyusuri setiap inchi lekuk tubuh jandi tanpa ada yang terlewati, lidahnya bermain liar di setiap daerah yang dianggap sensitif bagi seorang wanita. Menindih tubuh mungil jandi, meremas kulit mulusnya yang sedikit saja akan menimbulkan bekas merah. Begitu juga jandi, tidak mampu menjelaskan betapa saat ini sudah sangat lama ia rindukan. Menikmati setiap sentuhan junpyo, memainkan perannya sebagai seorang istri hingga suaminya itu mencapai kepuasan. Berguling di ranjang seolah keduanya memperebutkan posisi atas, jandi bahkan tak segan-segan memainkan perannya sampai junpyo menggeliat menahan geli oleh jilatan dan lumatan gadis itu.

Desahan memenuhi ruangan yang atmosfirnya semakin memanas, keringat keduanya menyatu lekat membasahi tubuh mereka. Dan itu baru pemanasannya saja, sebelum junpyo bersiap memasuki tubuh jandi.

Junpyo :   ”Sayang, kau siap? Aku akan melakukannya perlahan.” bisiknya di telinga jandi yang terus-terusan mendesah oleh ulah nakal jari-jari junpyo di sekitar antara kedua pahanya.

Jandi :      ”Oh.. cepatlah... Aaahh... junpyo-yaa” kali ini jari-jari jandi meremas rambut lebat junpyo, menahan kenikamatan yang tidak ingin segera berakhir.

Tubuh junpyo merenggang setelah sebelumnya menimpa rapat tubuh mungil jandi, ia berlutut di hadapan jandi yang terkapar dengan kaki terbuka. Junpyo perlahan memasuki tubuh jandi, seketika gadis itu berteriak tertahan. Semakin dalam, dan dalam... hingga jandi merasakan sesuatu nyentuh rahimnya berkali-kali. Gadis itu terus mengerang, meremas-remas apa yang didapatnya, masih terasa sakit disekitar pahanya karena terlalu sempit dimasuki ’benda besar’ milik junpyo.

Berkali-kali junpyo mendorong keluar masuk tubuh jandi, terdengar desahan-desahan tak jelas dari mulut mereka yang masih saling melumat. Tiba-tiba.....

Telililitttt..... tiiiittt.. telililittt....... ponsel jandi berdering. Mulanya diacuhkan, tidak tertarik menghentikan permainan yang lagi seru-serunya. Tapi ponsel itu meraung-raung tak tahu diri, jandi yang matanya terpejam dipaksa kembali ke alam sadar setelah detik sebelumnya ia merasa terbang.

Jandi :      ”Junpyo-yaa.... berhenti sebentar.”

Maaf saja, junpyo sama sekali tidak mengindahkan kata-kata jandi, dia terus bergerak naik turun sementara jandi terpaksa mangangkat telpon itu sambil menahan kenikmatan yang sebenarnya tak tertahankan.

Jandi :      ”Halo?” suaranya serak, tidak terdengar normal. Dia bahkan tidak sempat melihat nama di layar ponselnya.

Penelepon :   ”Nona Jandi? Kau baik-baik saja?” terdengar cemas.

Jandi sedang tidak tertarik berbasa-basi.

Jandi :      ”Yes, ada apa? Cepat katakan.” masih berusaha tenang, sementara junpyo semakin kencang mengguncang tubuhnya.

Penelepon :   ”Oh, baiklah... saya hanya ingin memastikan anda ikut perjalanan hari ini. Bagaimana? Kami sudah harus berangkat.” ternyata dari yayasan, orang ini kelihatannya bingung mendengar reaksi jandi.

Jandi :      ”Baiklah, Kalian pergi duluan saja. Saya akan menyusul. Aw...”

Penelepon itu terdiam sekejap, dia berusaha menebak apa yang sedang jandi lakukan. Suaranya memburu, juga terdengar ’aw’ O.o
Belum sempat orang itu bicara lebih lanjut, ternyata jandi sudah memutuskan sambungan telponnya. Demi Tuhan, orang tersebut pasti sedang melongo, jandi tidak pernah bersikap acuh seperti ini sebelumnya.

Kembali dalam permainan yang memang sengaja diselesaikan dalam jangka waktu yang panjang, jandi kembali kehilangan konsentrasi, ponselnnya terlepas begitu saja dari genggamannya, mana dia perduli. Gadis itu justru bangkit dan mendorong tubuh junpyo, sekarang posisi jandi berada di atas tubuh junpyo, lelaki itu masih melongo tidak percaya dengan agresifitas jandi.


Jandi :      ”Ayo kita selesaikan ini.” katanya pasti, terbentuk lesung pipi dalam di pipinya.

Junpyo berkedip berkali-kali. Tidak, dia tidak sempat berfikir, jandi langsung mengguncang tubuhnya cepat.

Junpyo :   ”Ohhh....”

Sekarang giliran junpyo mengerang, sebentar saja rasa itu hampir mencapai puncaknya.

Junpyo :   ”Hentikan... aku mohon... jandi-yaaa.... Jangan sekarang....”

Jandi :      ”AH... AH... AH....”

Dia tidak perduli dengan yang junpyo katakan.

Junpyo :   ”Pelan sedikit.. Aku... mohon... Kau sedang... hamil.. ”

Junpyo terbata-bata mencemaskan bayi yang ada di kandungan jandi, tapi sekejap saja dia tidak sanggup protes lagi. Jandi semakin mempercepat gerakannya hingga keduanya mencapai puncak di waktu bersamaan. Saat itu juga tubuh jandi terkulai lemas sambil ngos-ngosan-jatuh di dada junpyo yang juga masih melayang setelah menumpahkan seluruh benihnya di dalam rahim jandi, lelaki itu langsung mendekap tubuh jandi yang berada di atasnya.


------------------------------------------


Setelah semuanya kembali normal, detak jantung pun sudah stabil, junpyo berguling sekali hingga tubuhya menimpa tubuh jandi.

Junpyo :   ”Gomawo jandi-yaa... Karena mu, aku selalu merindukan saat-saat kita seperti ini.”

Keduanya saling bertatapan penuh kerinduan, junpyo mengecup mesra kening istrinya itu penuh kasih sayang. Jandi hanya diam, menyandarkan kepalanya di dada junpyo.

Jandi :      ”Omona, Aku harus pergi. Junpyo-yaa, ini sudah sangat terlambat. Ayo cepat, kau bilang mau mengantarku. Cepatlah.”

Jandi buru-buru menarik selimutnya, nyaris turun dari ranjang. Tapi junpyo menarik tubuhnya, memeluknya erat.

Junpyo :   ”Tidak bisakah kita seperti ini sebentar lagi? Aku masih sangat merindukanmu.”

Jandi :      ”Andwe-yaa Goo Jun Pyo, ini sudah sangat terlambat, lihatlah di luar juga sudah mendung.” menunjuk ke kaca besar yang langsung berhadapan dengan gedung pencakar langit lainnya. Memang lumayan gelap, namun suhu udara terasa panas.

Jandi berusaha lepas dari pelukan junpyo, tapi lelaki itu hanya tersenyum, justru sibuk mencium pipi hingga pundak jandi, apa saja. Semakin mengencangkan pelukannya.

Junpyo :   ”Sebentar saja, Bagaimana kalau sekali permainan cepat? Sekali lagi ok?” pujuknya, berusaha meyakinkan jandi.

Jandi :      ”Yah, andwe... lepaskan...” jandi menggeliat, merengek agar junpyo melepas dekapannya.

Junpyo :   ”Baiklah, mulai sekarang aku akan menuruti semua keinginanmu. Tapi berjanjilah satu hal padaku.”

Junpyo memegang kedua pundak jandi, menatapnya penuh keseriusan.

Jandi :      ”Mwo?” tanyanya ragu.

Junpyo :   ” Aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi..”

Sorot mata tajam dan kelam ini sungguh menggetarkan hati jandi, penuh pengharapan, juga mengisyaratan ketakutan disana. Tapi apa yang bisa jandi berikan? Dia tidak sanggup berjanji begitu bayangan orangtuanya melintas di pikirannya. Hanya saja, hatinya terus datang pada junpyo. Ntah apa yang membuatnya begitu percaya pada cintanya, padahal perceraian itu membuktikan kesalahannya mempercayai junpyo.

Jandi :      ”Datanglah padaku seperti ini, jika aku harus berlari.”

Keduanya saling bertatapan, perlahan tapi pasti sebuah senyum mengembang di wajah mereka. Membentuk sepasang lesung pipi kembar, satunya di pipi jandi, dan satu lagi di pipi junpyo.



         ==============================



Mobil toyota corolla biru itu membelah jalan lurus, sekarang sudah berada sekitar satu jam dari pusat kota. Dikelilingi hamparan padang ilalang berwarna kuning yang menjulang di sisi kiri dan kanannya membuat suasana jalan yang sepi terasa menyeramkan, ditambah lagi awan mendung tepat di atas mereka membuat jandi gelisah. Saat itu angin bertiup kencang, terlihat jelas ilalang-ilalang itu bergoyang hebat. Jandi sama sekali tidak menikmati perjalanan ini, junpyo yang sedang menyetir berkali-kali menenangkannya.

Junpyo :   ”Jandi-yaa, kau yakin ini jalannya?”

Jandi :      ”Ne, aku juga belum pernah kesini.” memandang ke jalan yang dianggapnya menyeramkan ini.

Junpyo :   ”Tenanglah, pasti ada perumahan di sekitar sini.”

Jandi :      ”Tapi kenapa sepi sekali? Junpyo-yaa... kita pulang saja.”

Junpyo :   ”Mwo?” belum sempat junpyo protes, guyuran hujan deras semakin membuat keduanya ragu. Mau mundur pun terlambat.

Jandi :      ”Omona.... junpyo-yaa... ottokhe? Aku takut..”

Hujan yang deras benar-benar mengaburkan pandangan, junpyo kesulitan melihat jalan meskipun dengan kecepatan minimun.

Junpyo :   ”Tenanglah, aku disini, jangan takut. Tempat ini sepertinya justru sangat nyaman dan tenang.”

Tiba-tiba saja DUUUAAAARRRRR.... sepertinya tidak setenang itu.

Jandi :      ”GYAAAAAAAA....” jandi meloncat memegang tangan junpyo yang juga bergetar sakin kagetnya oleh suara petir, kilat menyambar-nyambar.

Jandi :      ”Junpyo-yaaa...” memelas, mungkin berharap junpyo menenangkannya dengan cara yang lebih logis.

Junpyo :   ”Sepertinya disana ada rumah, kita berhenti dulu sebentar.” menunjuk sebuah bangunan yang lampunya menyala, berjarak beberapa meter dari padang ilalang itu.

Jandi :      ”Andwe...tidak boleh junpyo-yaa, ini bukan Korea. Aku tidak mau!” tampaknya jandi sangat ketakutan, mungkin membayangkan dirinya seperti berada di  film-film hantu box office.

Junpyo :   ”Tapi berbahaya menyetir dalam keadaan seperti ini.”

Jandi tidak tahu harus berkata apa lagi saat junpyo benar-benar singgah ke rumah itu, mobilnya memasuki pagar kayu yang sudah banyak yang runtuh. Semakin dekat semakin jelas kalau bangunan kayu itu ternyata seperti gudang penyimpanan rumput ilalang kering. Untuk menghindari hujan, junpyo memarkirkan mobilnya di dalam gudang yang pintunya terbuka lebar.

Jandi memandang ngeri ke sekelilingnya, dia memperhatikan setiap detail sudut gudang yang tidak terlalu luas itu dengan perasaan cemas. Sama sekali tidak berani turun dari mobil.

Junpyo :   ”Biar aku lihat dulu.”

Jandi langsung menarik tangan junpyo yang akan segera membuka pintu mobil, mencegah lelaki itu turun.

Jandi :      ”Andwe. Tidak boleh.. junpyo-yaa.. aku takut. Jangan turun.” memelas panik.

Junpyo :   ”Sepertinya masih ada orang disini.”

TOK TOK TOK......

Jandi :      ”AWWWW.....”

Jandi buru-buru menutup mata dan telinganya rapat-rapat, dia benar-benar ketakutan saat seseorang mengetuk kaca mobilnya.



               End Of Chapter

            ===========================


« Last Edit: October 24, 2011, 10:19:36 am by Be my self »