Poll

okay, gw buat polling lagi yg berhubungan dgn karakter mh. kesempatan terakhir, siapa yg anda inginkan tuk jd mh??? perlu diingat, jumlah vote tdk mempengaruhi keputusan terhdp penentuan karakter mh, gw cuman ingin liat suara hati para pembaca sekalian, t

Sheldon
6 (40%)
alden
9 (60%)

Total Members Voted: 13

Author Topic: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#  (Read 13622 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER 1





Characters :

Elsie Han—25 tahun, tidak begitu mengerti akan 'Dirinya sendiri’. Hidup terlalu berpengangan pada ‘Apa yang dipercayainya’, yang sebenarnya—belum tentu benar.

Sheldon Han—24 tahun, dia mudah ceria ataupun akrab dengan orang-orang di sekelilingnya. Namun demikian, terkadang emosinya gampang tersulut. Tidak banyak yang mampu menebak perasaan hatinya. Namun satu yang pasti, cintanya tidak bercela.

Alden Song—24 tahun, pendiam tapi mampu menerka pikiran orang dengan sangat baik. Dia seorang pengamat jitu. Calon pemimpin yang bisa diandalkan. Namun, .. siapa yang mampu menebak perasaannya?



Sepasang mata redup dengan raut kusuh itu menatap nanar sarapan di depannya. Ada sepiring ham dingin, dengan dipadu dua butir telur rebus dan segelas susu yang menempel di piring sebelahnya. Bibir mungil itu mengeluarkan desahan halus, sebelum kemudian menjauhkan piring berisi sarapan tersebut darinya. Sesaat tubuh mungilnya membujur kaku. Hingga menit kelima dia baru mengalihkan perhatiannya keluar jendela.

Seperti perkiraan semula … salju mulai turun. Serpihan-serpihan kecil berwarna putih yang halus perlahan-lahan melayang turun--mengapai tanah lembab yang diguyur hujan deras tadi subuh. Angin di luar bertiup sangat pelan dan lembut, .. berdesir halus menjatuhkan sisa-sisa dedaunan yang berwarna coklat kusam.

Wanita itu mendesah kembali. Segalanya terasa tenang, .. berlainan sekali dengan perasaan hatinya yang sangat galau saat ini.

Suara derak pelan yang diikuti derap halus dari hak sepatu yang saling bersahutan memasuki telinga wanita yang saat ini sedang memejamkan matanya itu. Kepala yang dinaungi rambut lebat panjang itu berputar perlahan ke arah pintu. Sepasang matanya menyipit. Alis indahnya berkenyit perlahan-lahan ketika berusaha mengapai daun pintu yang dibuka pelan dari luar. Seorang pelayan tengah baya yang membukakan pintu baginya dini hari tadi tampak memasuki ruang makan dengan diikuti .. dua orang pria dari belakang.

Pelayan tersebut sesekali melongok ke belakang. Ekspresinya terlihat agak gelisah ketika sudah sampai di depan wanita itu. Dia kemudian membungkukan badannya dengan hormat.

“Nona, .. tuan muda .. ,” kata pelayan itu sambil mengarahkan tangannya ke pria yang berdiri tepat di belakangnya. Agak jauh di dekat pintu, pria satunya lagi menghentikan langkahnya.

Wanita yang dipanggil nona melihat kearah pria yang dimaksud si pelayan. “Hmm—“ Wanita itu mengangguk pelan—mengiyakan walau terlihat agak terpaksa.

Pria yang dimaksud tiba-tiba mengeser pelayan yang menganggu pandangannya kearah wanita di depannya itu ke samping. Postur jangkung itu memperlihatkan luapan perasaannya saat ini. Wajah tirus dan tampan itu tersenyum lebar. Tangan kanannya yang semula tertancap di saku celana menunjuk kearah wanita di depannya dan menjentik keras.

“Elsie??!!!!” Teriak pria muda tersebut tiba-tiba. “Benar ini Elsie??!!!”

“Eh?” Orang yang dipanggil mengenyitkan alis heran. “Benar .. “ Lalu Elsie melirik pria satunya—yang berdiri di belakang pria yang berteriak tadi, agak menyandar di daun pintu.

Satu lagi pria jangkung di saat seperti ini … Elsie menghela nafas berat. Dia merasa sulit bernafas dikelilingi dua pria jangkung secara bersamaan. Seakan hatinya terhimpit batu besar yang teramat berat. Lalu pandangannya dialihkan kembali ke pria pertama. Dia menjadi ragu-ragu ketika mengeluarkan pertanyaan lebih lanjut.

“Kau … Sheldon .. ?”

“BINGOOO!!” teriak Sheldon.

Sheldon segera menjatuhkan tubuhnya di kursi di depan Elsie. Sepasang matanya berbinar-binar ketika menatap wanita itu.

“Kau masih ingat .. ?” Senyum lebar tersungging di wajahnya yang tampan. “Kira-kira … sudah berapa lama kita tidak bertemu? Hmm—kalau tidak salah, .. sudah hampir limabelas tahun ya? Saya masih ingat waktu itu kita masih duduk di bangku sekolah dasar—bagaimana papa dan mama memaksa pergi dari rumah ini setelah perselisihan mereka dengan kakek .. Saya sangat merindukan saat-saat itu dan saya berharap … “

“Kapan kau menginginkan saya pergi dari sini, dan Han’s Group?!” Elsie menyela dengan tiba-tiba—memutus perkataan Sheldon yang belum selesai.

Sheldon tercekat. Raut yang semula ceria dan bersemangat itu—tiba-tiba berubah diam. Tatapan tajam tertuju pada Elsie. Membuat wanita itu menjadi gelisah dan serba salah.

Sebenarnya, .. apa yang telah terjadi dengan pria ini? Elsie mengenyitkan alisnya. Yang mana—sifatnya yang sebenarnya? Mengapa sikap yang semula hangat tiba-tiba saja … berubah jadi … begitu mengerikan? Tatapan itu membuatku tidak bisa bernafas, dan juga—tidak mampu menjawab. Limabelas tahun, .. yah—waktu limabelas tahun kurasa memang bukan waktu yang singkat untuk mampu mengingat dan menjajahi sifat seorang saudara sepupu yang sudah lama tidak bertemu. Elsie kemudian mengelengkan kepalanya keras-keras.

"Memangnya siapa yang bilang kedatanganku kemari untuk menyita Han's Palace dan memaksamu keluar dari Han's Group?" Sheldon mengenyitkan alis tidak senang.

"I ... itu ... " Elsie menjadi gagap. Keseganannya semakin menjadi-jadi ditatap sedemikan rupa oleh pria di hadapannya. Seakan Sheldon sedang menyalahkannya buat kesalahan yang sungguh tidak dipahaminya. "Bu .. bukankah .. begitu ... ?"

"Siapa bilang?!!!" Tatapan Sheldon makin menusuk.

" ... "

Elsie membungkam, dan tidak mampu menjawab pertanyaan Sheldon yang ditujukan padanya.

Lima menit berlalu, dan orang-orang dalam ruang makan itu tidak mengeluarkan suara. Sheldon mendorong punggungnya sampai menyandar di punggung kursi. Matanya menatap lekat kearah Elsie.

"Saya tidak akan mengusirmu dari rumah ini, begitu juga dari Han's Group!"

"Apa?!!!" Elsie hampir terlonjak dari kursi begitu mendengar pernyataan Sheldon selanjutnya. Sepasang mata bundar yang selama sebulan ini tidak bercahaya—terbelalak lebar.

Sheldon menganggukan kepala menyakinkan. "Ya!"

"Ta ... tapi .... ," lanjut Elsie pelan dan ragu-ragu. " ... bagaimana ... de .. dengan orangtuamu .... ? A .. apa mereka ... mengijinkannya ... ?"

"Memangnya sejak kapan saya perduli dengan pendapat mereka?!" balas Sheldon keras.

"Eh?!" Kali ini Elsie benar-benar terlonjak kaget. Meskipun ditilik secara seksama pria ini merupakan sepupu angkatnya, namun .. reaksinya barusan  sangat sulit untuk dimengerti. Apa maksudnya dengan semua ini?

Elsie membalas tatapan Sheldon dengan lebih mendalam. Menyelidikinya dengan seksama. Dan .... dia melihat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya sekarang. Atau tepatnya—dia merasa dapat menebaknya. Tapi ... mungkinkah?

"Maksudmu, .. walau bagaimanapun—kau akan mempertahankan keberadaanku, dan kedudukanku dalam keluarga Han?"

Sheldon menatap Elsie tanpa berkedip. "Ya!"

“Kau tidak akan mengusirku, apapun yang terjadi?”

“Sudah kubilang iya!” Sheldon menjawab agak kesal.

Elsie menghembuskan nafas sambil menganggukan kepalanya. Dia yakin sekarang. Dan dia mengerti—perkiraannya tidak mungkin salah. Dia melihat cahaya itu. Kesempatannya untuk mendapatkan Han's Group kembali, ... lewat Sheldon.

TIDAK! Teriak hati Elsie begitu sebuah rutukan berdengung dalam hatinya. Ini bukan keinginanku! Aku tidak sepicik itu. Tidak!! Aku melakukan ini demi kedua orangtuaku dan kakek. Mereka tentu tidak akan setuju kalau harta kekayaan Han sampai jatuh ke tangan orang-orang picik itu. Meskipun aku hanya anak angkat dari papa dan mama, tapi mereka menyayangiku. Mereka menaruh harapan besar padaku. Begitu juga kakek, .. Untuk mempertahankan Han's Group. Kakek sering bilang, .. dia tidak suka dengan tingkahlaku putrinya yang satu itu. Beliau menghapus nama putrinya dari hak waris karena tidak ingin melihat Han's Group hancur ataupun tercemar di tangan putrinya itu. Sehingga—hanya papa dan mama yang akan mendapatkan kekayaan kakek jika beliau meninggal nanti. Namun sayang, papa dan mama ikut meninggal dalam tabrakan mobil yang sangat brutal itu. Sekarang masalahnya, kakek tidak mencantumkan namaku dalam surat warisnya. Aku tidak berhak terhadap kekayaan tersebut karena aku .. bukan bermarga Han. Hanya putri satu-satunya dari kakek yang berhak. Dan orang itu adalah ... ibunya Sheldon.

"Kau tahu maksudku, kan?"

Elsie menghujamkan tatapannya sekali lagi ke mata Sheldon. Untuk lebih memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi akibat harapan yang terlalu tinggi. Tapi tidak! Dia tidak sedang bermimpi.

Yah, ... dia melihat peluang emas itu. Semua terletak pada Sheldon. Hanya Sheldon harapannya satu-satunya kini. Tatapan pria itu sekarang ... sama dengan tatapannya limabelas tahun yang lalu. Ketika dimana Sheldon cilik berkeras tidak mau pindah dari Han's Palace ini. Karna Sheldon tidak merelakannya. Karna Sheldon menyukainya. Pria ini .... masih Sheldon cilik yang sama. Meskipun tadi dia melihat perbedaannya tapi ... bukankah kekerasan hati itu sudah ada dalam Sheldon sejak dulu? Tidak salah lagi, DIA SHELDON YANG SAMA. Dia bisa diandalkan!!

"Saya mengerti!" jawab Elsie setelah mengambil keputusan bulat.

"Bagus!" Sheldon tersenyum lebar.

Elsie jadi terpana dibuatnya. Aneh rasanya melihat seorang pria bisa ceria, murka, kesal dan tersenyum dalam waktu yang hampir bersamaan.

Sebenarnya, terbuat dari apa dia? Elsie menghela nafasnya.

"Apa?"

"Hah?" Mata Elsie membulat. "Apa?!!" tanyanya tidak mengerti.

Sheldon menatap Elsie. Sesaat kemudian dia menyengir kecil, lalu mengangkat pundaknya. "Tidak ada. Lupakan saja!" Mendadak, alis tebal miliknya terangkat tinggi-tinggi. "O ya--" Seakan teringat akan sesuatu, dia berpaling ke belakang. "Ald--masuklah! Jangan berdiri saja di situ!" Sheldon melambaikan tangan pada pria jangkung yang sejak tadi mematung di depan pintu.

"Saya lupa mengenalkannya padamu, Els." Sheldon menyentuh lengan pria jangkung yang sekarang sudah sampai di sampingnya. "Ini sahabat baik ku--Alden Song! Ald--ini Elsie yang sering kuceritakan padamu."

Alden Song? Elsie mengenyitkan alisnya. Nama itu terasa akrab bagiku. Tapi di mana aku pernah mendengarnya?

"Alden Song!"

"Eh?!!" Sapaan itu menyentak Elsie. Dia mengangkat kepala dan melihat Alden sudah menyodorkan tangan kearahnya.

"Senang berkenalan denganmu, Nona Han."

"Elsie Han ... ," Elsie menyambut tangan Alden dengan agak gugup. Setelah itu, Elsie menyilahkannya duduk di kursi yang bersebelahan dengan Sheldon.

“Bibi …” Elsie memberi isyarat agar pelayan tengah baya tadi melayani Sheldon dan Alden.

Pelayan itu mengangguk kemudian memutar tubuhnya kearah para pria yang duduk di depan meja makak. “Tuan muda dan Tuan Song mau sarapan apa? Ada …”

Namun sebelum pelayan tersebut menyelesaikan perkataannya, Sheldon sudah memotong dengan cepat. “Tidak usah, bi! Saya dan Ald masih ada keperluan di luar. Kami sarapan di luar saja .. “

Sheldon berdiri dari kursinya sambil menepuk halus pundak Alden. “Kita berangkat sekarang, Ald!”

Alden mengangguk pelan. Kursi yang didudukinya didorong dengan gerak lambat ke belakang, lalu berdiri dengan gaya santai.

Sheldon memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu dengan senyum tipis tersungging di bibir. Kemudian dia berpamitan pada Elsie.

“Sampai ketemu nanti sore, Els. Dan kau jangan kemana-mana, karna ada yang ingin kubicarakan setelah kepulanganku nanti .. “

Elsie mengangguk halus. “Ya .. “

Senyum tipis masih tersungging di bibir Sheldon ketika beranjak dari posisinya. “Let’s go, Ald!”

Dan Alden mengekorinya dengan tenang dari belakang.

Elsie mencibir. Ternyata hanya seorang pengikut setia! Dia tertawa sendiri buat prasangkanya tadi.

Saat itu, seorang pelayan muda dengan rambut yang sedikit berantakan memasuki ruang makan dengan terburu-buru.

“Nona …. “

Elsie menatapnya heran. “Ada apa?”

“Tu .. Tuan Josh …. “

“Josh?!!” Elsie terlonjak dari kursinya. “Kenapa? Apa yang terjadi pada Josh?”

“Tuan Josh sudah pulang. Dia .. menanti nona di ruang depan .. “

“OH!!”

Tubuh Elsie terhempas kembali ke kursi. Matanya terpejam, dan dia menghela nafas kuat-kuat. Mengapa semua urusan ini datangnya beruntun? Haruskah dia meluruskan masalahnya dengan Josh sekarang juga? Jika tidak, … bagaimana mungkin dia memulai rencana yang sudah diambilnya barusan.

“Nona akan menemuinya, atau …”

“Saya akan menemuinya!” Elsie bangun dari duduknya. “Sekarang!!”

Setelah mengepal tangan dan merapikan celana jeansnya yang agak kusut, Elsie berjalan tegap kearah pintu. Pandangan bertanya dari pelayan yang menyampaikan berita mengiringi kepergiannya dari ruang makan.




**********



Elsie menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang depan. Seorang pria berpostur tinggi dan kekar terlihat sedang duduk sambil mengerak-gerakan kakinya di sofa di tengah ruangan. Pria itu membelakangi Elsie sehingga tidak terlihat jelas wajahnya. Namun, Elsie dapat menebak siapa orang itu. Tanpa melihat sekalipun, dia sangat hapal dengan bentuk punggung dan pundak yang lebar itu. Begitu juga model rambutnya yang terpotong pendek dan agak menjulang ke atas.

Elsie memasuki ruang depan dengan gerak lambat. Dia masih mempertimbangkan, ... haruskah melakukan tindakan itu? Belum sampai satu menit, Elsie sudah mengambil keputusan. Dia harus! Apapun alasannya itu. Apapun yang akan terjadi selanjutnya. Separah apapun akibat yang akan ditimbulkannya--Dia tahu, .. inilah jalan keluar satu-satunya yang dimilikinya saat ini. Bagaimanapun, ... dia tidak ingin Han's Group terlepas dari genggaman tangannya. Karna dia tahu, .. inilah yang paling tidak ingin dilihat oleh mendiang kedua orangtuanya. Begitu juga kakeknya yang meninggal dalam kecelakaan mobil yang sama.

"Josh ... "

Pria yang duduk di tengah ruangan membalikan tubuh dengan cepat.

"Elssss!!!"

Segera saja, Josh berdiri dari duduknya. Wajahnya berseri-seri, .. layaknya seorang kekasih yang sudah lama tidak bertemu dengan kekasihnya. Dan ini wajar karena ... Elsie memang kekasihnya yang sudah lama tidak ditemuinya. Kesibukan yang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan membuat Josh sudah tidak bertemu dengan Elsie satu bulan lamanya.  

Josh menjulurkan sepasang tangannya, kemudian menarik Elsie ke dalam pelukannya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya pria itu dengan nafas agak tersengal. Perasaannya tidak menentu saat ini, .. antara suka dan duka. Senang karna akhirnya bisa bertemu kembali dengan Elsie, kekasih yang dicintainya. Sedih karena ... merasa menyesal tidak bisa menemani Elsie ketika kekasihnya itu kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya.

"Saya .. baik-baik saja ... ," jawab Elsie pelan di sela-sela leher Josh.

"Maaf saya tidak bisa pulang waktu itu .. ," sesal Josh. Sepasang matanya terpejam seiring tarikan nafasnya yang terdengar sangat dalam dan panjang. "Saya sudah mengusahakannya namun ... Tuan Kim tidak mengijinkannya .. Dan kau tahu--saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu, Els ... "

"Saya tahu ... " Dengan tidak kentara, Elsie melepaskan diri dari dekapan Josh. Sepasang tangan yang bertengger di pundaknya ditekannya dengan halus hingga terlepas dari badannya. "Tidak apa-apa ... "

"Tapi, .. saya sangat mengkhawatirkanmu .. ," kata Josh bersungguh-sungguh. "Kau tahu .. ?"

"Ya, saya tahu!" sela Elsie cepat dan tegas. "Sudah kubilang saya tidak apa-apa. Kau tidak perlu merasa menyesal ... "

"Tapi ... "

"Ada yang ingin saya bicarakan denganmu!" putus Elsie, .. sebelum Josh sempat meneruskan perkataannya.

Alis pria itu terangkat. "Saya?"

"Ya!" Elsie mengangguk.

Josh tersenyum lembut. "Apa itu?"

Elsie tidak segera melanjutkan perkataannya. Jemari tangannya bergerak pelan meremas kemeja wolnya yang terjuntai sampai ke pinggang. Dia masih agak ragu. Namun begitu bayang-bayang kedua orangtua dan kakeknya melintas dalam pikirannya, .. dia tahu—dia tidak mungkin menghindar lagi. Karna dia memang tidak boleh! Kesepuluh jemarinya menekan kuat ujung kemeja wolnya.

Elsie mengangkat kepala kemudian menatap Josh lekat-lekat. "Berjanjilah dulu padaku!"

Josh tidak mampu menahan tawanya melihat reaksi Elsie. "Apa?" tanya pria itu dengan nada mengoda. "Kau aneh sekali hari ini. Serius sekali ... "

"Apapun yang akan kukatakan selanjutnya, .. kau tidak boleh membantah!" sahut Elsie tegas. "Apapun itu--jangan biarkan keputusan ini sampai melukai hatimu!"

"Els .... " Raut Josh yang semula kocak dan geli berubah perlahan-lahan. Melihat keseriusan Elsie, sekujur tubuhnya jadi tegang mendadak. Bibirnya gemetar dan suaranya menjadi kering ketika berkata. "Ada sesuatu ... ?"

"Hubungan kita .. sampai di sini saja ... "

Jawaban itu laksana petir menyambar di siang hari bagi Josh. Dia merasa, atau lebih tepatnya—ingin merasa—telah salah dengar. Sepasang matanya terbelalak lebar. Tubuhnya mengejang ketika mengulang kata itu. "Pu ... putus ... ?"

"Ya! Putus!" Elsie mengiyakan dengan nada datar.

"Ta .. tapi mengapa ... ?"

" ... " Elsie tidak menjawab.  

"Karna ... ketidakhadiranku saat kematian orangtua dan kakekmu .... ? .. Apa karna itu, Els ... ?"

" ... " Masih kebisuan yang didapatkan Josh.

"Tapi kau juga tahu .... aku melakukan itu karena ... "

"Bukan karena itu!" sela Elsie tiba-tiba. "Sudah kubilang saya tidak apa-apa dan tidak menyalahkanmu untuk itu!"

"Lalu kenapa ... ?"

"Tidak apa-apa!" Elsie mengulangi jawabannya dengan nada melengking.

"Els ... "

"Semua karena saya sudah capek menunggu. Dan saya rasa, semua sudah tidak berarti lagi sekarang ... Sudah tidak perlu lagi …" Elsie menahan airmatanya agar tidak tumpah ketika mengatakan ini. Meski dia tahu ini jalan terbaik, namun .. tidak bisa dipungkuri hatinya terasa sakit melihat kesedihan Josh--pria yang sudah dikencaninya selama dua tahun ini.

"Tidak perlu lagi?" Josh tertawa dengan suara serak. "Setelah apa yang telah kukorbankan selama dua tahun ini, kau berkata--semua tidak perlu lagi?"

"Sorry! Jika memang itu yang kau ingin kau dengar dariku."

"Bukan itu yang kuinginkan!" pekik Josh.

"Maaf!!" sela Elsie, tanpa bergeming sedikitpun. "Ini yang terbaik. Kematian kedua orangtuaku dan kakek mungkin akan memudahkan hubungan kita. Namun, .. bukan itu yang kuinginkan. Aku tidak bisa melepaskan Han's Group, dan juga marga Han begitu saja. Sedangkan kau--kurasa akan lebih adil bagimu untuk tidak berkorban lagi untuk ku. Aku tidak ingin menunggu. Tidak!" Elsie mengelengkan kepalanya keras-keras. "Aku tidak mungkin menunggu!! Jika kulepaskan kesempatan itu--kepemilikan terhadap Han's Group akan pergi begitu saja dari tanganku ... "

Josh mengatur pernafasannya yang tersengal, kemudian memiringkan kepalanya ke samping. "Kesempatan apa yang kau maksud?" tanyanya tidak mengerti.

Elsie menegakan badannya. Dan tanpa menjawab pertanyaan Josh, dia memutar tubuh membelakangi Josh dan mulai melangkahkan kakinya. "Yang jelas, hubungan kita berakhir sampai di sini. Kau tidak perlu mencariku lagi ... "

"Els!!!"

Panggilan menyayat dari Josh membuat Elsie memejamkan matanya. Dua bulir airmata menuruni sepasang pipinya. Tidak!! Saya tidak boleh lemah saat ini! Saya melihat cahaya itu ..., dan hanya Sheldon--dia harapanku satu-satunya ...

"Jangan pergi!!! Elssss!!!"

Bodoh!!! Jangan mengharapkanku lagi!! Berjuanglah demi dirimu sendiri, demi masa depanmu. Saya tidak pantas kau perlakukan begini. Berhentilah berkorban untuk ku, .... tidak pantas ...

Perlahan tapi pasti, daun pintu di belakang Elsie mencapai kerangkanya. Teriakan-teriakan yang melengking dari dalam ruangan memelan, kemudian menghilang seiring tertutupnya daun pintu.



******
« Last Edit: October 22, 2011, 10:02:06 pm by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun