Poll

okay, gw buat polling lagi yg berhubungan dgn karakter mh. kesempatan terakhir, siapa yg anda inginkan tuk jd mh??? perlu diingat, jumlah vote tdk mempengaruhi keputusan terhdp penentuan karakter mh, gw cuman ingin liat suara hati para pembaca sekalian, t

Sheldon
6 (40%)
alden
9 (60%)

Total Members Voted: 13

Author Topic: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#  (Read 13507 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 2# 29 OCT' 11
« Reply #135 on: October 30, 2011, 08:19:28 am »
CHAPTER 3



Characters :

Elsie Han—25 tahun, tidak begitu mengerti akan 'Dirinya sendiri’. Hidup terlalu berpengangan pada ‘Apa yang dipercayainya’, yang sebenarnya—belum tentu benar.

Sheldon Han—24 tahun, dia mudah ceria ataupun akrab dengan orang-orang di sekelilingnya. Namun demikian, terkadang emosinya gampang tersulut. Tidak banyak yang mampu menebak perasaan hatinya. Namun satu yang pasti, cintanya tidak bercela.

Alden Song—24 tahun, pendiam tapi mampu menerka pikiran orang dengan sangat baik. Dia seorang pengamat jitu. Calon pemimpin yang bisa diandalkan. Namun, .. siapa yang mampu menebak perasaannya?



“Pagi, Els!”

Elsie menghentikan langkahnya di depan pintu ruang makan. Sheldon sedang melambaikan tangan padanya dengan tangan kanannya yang memegang garpu. Cengiran yang selalu menghiasi wajah pria itu tidak lepas dari wajahnya pagi ini.

Elsie mendesah,“Pagi … “ Balasnya pelan.

Lalu perhatiannya berpindah pada pria di sebelah Sheldon. Alden baru saja meletakan gelas jus orange di tangannya, dan sekarang berpaling kepada Elsie. Dia menatap Elsie, mengangguk dengan gerakan pendek.

“Pagi, nona Han .. “

Elsie segera membuang muka. “Pagi!!”

Elsie memasuki ruang makan dengan langkah agak dihentak. Kursi di depan Sheldon ditariknya hingga menimbulkan bunyi keras, lalu menjatuhkan tubuhnya di situ.

“Kenapa?” Sheldon menatap Elsie heran. “Ada yang menjengkelkanmu pagi ini?”

Elsie menarik piring berisi sarapannya. Kemudian memasukan sepotong daging ke dalam mulut. “TIDAK!!” sahutnya ketus dengan mulut terisi penuh.

Sheldon menyeringai. “Kau ingin saya percaya?”

PRANG!!

Elsie menjatuhkan garpunya ke atas piring. Menyambar minumannya dan meneguk beberapa tegukan sekaligus. Lalu menghentakannya ke daun meja. “Terserah apa pikirmu!” Kemudian Elsie bangkit dari kursinya. “Saya sudah kenyang!!”

“Kau kesal padaku karna kejadian kemarin sore?!”

Pertanyaan Sheldon sukses menghentikan langkah Elsie. Kenapa jadi berpikir seperti itu? Elsie menghembuskan nafas kuat-kuat. Apa urusannya denganmu? Dasar goblok!![/i] Elsie memejamkan mata rapat-rapat saking kesalnya.

“Jika kau tidak suka dengan tempat itu, anggap saja saya tidak pernah membawa dan menunjukannya padamu .. ,” lanjut Sheldon bijak.

Bukan itu—GOBLOK!! umpat Elsie dengan kedongkolan yang semakin menjadi-jadi dalam hati.

“Namun sekarang—ada yang ingin kukatakan padamu … , jangan pergi dulu!“

Elsie menoleh dari posisinya. “Apa?”

“Aku harus kembali ke kota hari ini. Alden akan ikut denganku. Mungkin weekend depan, aku baru bisa kembali lagi ke sini. Tapi, walau begitu_akan kuusahan kemari setiap ada waktu  … “ Sheldon tersenyum mengoda. Bibir bawahnya digigit begitu melanjutkan perkataan selanjutnya. “ … kau--akan merindukanku, kan?”

“A .. apa?” Tanpa sadar, .. Elsie melirik Alden. Yang ‘dituju’ terlihat tenang. Membalas tatapan Elsie dengan pandangan seolah ‘mengingatkan’. Elsie merasa muak dengan peringatan itu. Dengan segera dia mengalihkan perhatiannya kembali pada Sheldon. “Yaaa—kau ini_tidak tahu malu ya? Kenapa sekali berkata, selalu tidak dipikir-pikir dulu—Siapa yang merindukanmu??!!”

“Alah—jangan berpura-pura lagilah! Kau pasti akan merindukanku!” Sheldon berkeras pada ‘keyakinan’ yang dipercayainya sambil menyeringai lebar pada Elsie. “KAU_AKAN MERINDUKANKU!” ulangnya lagi dengan keyakinan yang sudah tidak mungkin dibantah.

“Cih!” Elsie mencibir, menatap malas kearah Sheldon. “Terserah apa katamu deh! Saya sudah capek menanggapinya!”

“Yeahh!!” Sheldon tertawa. Seperti telah memenangkan ‘sesuatu’ yang sangat berharga, dia menepuk pundak Alden dengan tiba-tiba. “You see, Ald? She will miss me if I am not here—by her side .. “

“Hey!” Elsie mendelik kesal. “Sudah cukup berguraunya! Itu sudah keterlaluan, Tuan Sheldon Han! Saya bukan mainanmu .. “

“Tentu saja bukan!” Sheldon mengiyakan dengan sepasang mata berbinar-binar. “Siapa juga yang bilang kau mainanku?”

Elsie menghembuskan nafasnya keras-keras. “Dan satu hal lagi—saya .. tidak akan pernah …. Mencintaimu!” lanjut Elsie dengan suara melengking tinggi.

Emosinya sudah tak tertahankan lagi. Dan … setelah mengeluarkan kata-kata itu, timbul kekhawatiran dalam hati Elsie. Dia menatap Sheldon dari balik pundaknya_memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan posisi yang memunggungi meja makan, .. di mana Sheldon dan Alden masih duduk di posisinya semula.

Di satu sisi, Elsie merasa pernyataan itu tidak pada tempatnya. Bukankah dia sudah memutuskan untuk memanfaatkan perasaan Sheldon padanya? Dengan berbicara begini, akan mengacaukan segalanya, bukan? Seharusnya dia bersikap lebih manis terhadap Sheldon. Sedangkan di sisi lain, Elsie sungguh-sungguh dibuat muak dengan kelakuan pria yang satu ini.

Raut Sheldon berubah perlahan-lahan. Menjadi datar dan dingin.“Kau … tidak akan pernah mencintaiku .. ?”

“Ti .. tidak!” jawab Elsie takut-takut.

Pandangan Sheldon yang menusuk membuatnya gentar. Elsie maju beberapa langkah, hingga tubuhnya menyentuh daun pintu.

Sheldon mengatupkan gerahamnya rapat-rapat. Sendok dan garpu yang masih dipegangnya sejak tadi, ditekan dan diletakannya di atas meja hingga menimbulkan suara bergesek halus. Alden melirik Sheldon dari posisinya. Mengambil nafas dengan hati-hati agar tidak menimbulkan ribut yang berlebihan. Dia melihat Sheldon mendorong kursi yang didudukinya dengan agak kasar, lalu berdiri kemudian berjalan kearah pintu.

“Baiklah kalau begitu .. “ Sheldon berucap halus, meninggalkan Elsie yang menatapnya keheranan.

“Apa yang terjadi padanya?”

“Kau tidak tahu?”

Elsie menoleh pada Alden. “Apa?”

Alden meletakan serbet yang digunakan untuk mengelap mulutnya. Dengan sangat pelan, dia berdiri dari tempat duduknya. “Saya sudah memperingati nona sejak semula kan? Jika nona tidak yakin dengan perasaan nona, sebaiknya hentikan semua sandiwara ini. Berhentilah memberi harapan padanya! Untuk nona ketahui, Sheld tidak akan berhenti sebelum ada kata penolakan dari nona. Jadi, jika nona masih berperasaan, jangan mempermainkannya. Berhenti sekarang, saya rasa_masih belum terlambat!”


__________



Elsie menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Sementara Alden, sudah keluar dari ruang makan itu dua menit yang lalu. Meninggalkan Elsie sendirian dengan pikiran-pikirannya yang ruwet dan kusut.

Apa saya salah? Elsie melayangkan pandangannya ke langit-langit ruangan_menghela nafas dengan berat. Haruskah saya menyuruhnya untuk ... tidak mencintaiku?—karna aku tidak layak dia cintai? Aku tidak mungkin mencintainya, dan juga tidak akan bisa menerimanya sebagai pacarku karna yang kucintai hanya Josh, dan aku terpaksa memutuskan Josh_untuk mencoba menerimanya hanya karena ingin memanfaatkannya mendapatkan hak milik papa dan mama kembali ..

Elsie meluruskan badan secara mendadak. “TIDAK!!” Kepala yang terbungkus rambut lebat dan panjang itu mengeleng dengan keras. “Saya tidak boleh melakukannya! Harta Han tidak boleh jatuh ke tangan mereka! Kakek tidak akan tenang dalam tidur panjangnya jika hal ini sampai terjadi." Sorot mata Elsie mengeras. "Saya harus melakukan sesuatu, untuk merebut kembali harta itu. Dengan cara apapun! Sekalipun menyakiti orang yang tidak bersalah seperti Sheldon. Maaf Sheld, .. karna kau berada di antara persengketaan ini. KARNA KAU MENCINTAIKU! Mencintai orang yang salah …”


_________



Dua hari kemudian, … di rumah keluarga Han …

“Bagaimana dengan wasiat kakekmu, Sheld?” tanya Tuan Han pada putranya yang saat ini sedang memasukan sesendok nasi ke dalam mulut.

Sheldon melirik sekilas, sambil melanjutkan kunyahan yang tertunda dalam mulutnya. “Baik.”

“Baik?” Tuan Han mengenyitkan alisnya.

Begitu juga istrinya, .. Nyonya Han yang masih terlihat cantik menatap putranya tak berkedip dari samping Tuan Han.

“Apa maksudmu dengan kata ‘baik’, Sheld?” tanya Nyonya Han dengan nada datar yang ditekan. “Apa saja yang sudah kau lakukan untuk mengusir anak pungut itu dari Han’s Palace?!”

“Baik ya baik!” Dengan kesal, Sheldon menghentak sendok di tangannya ke pinggir meja. “Jika kalian meragukan kemampuanku, buat apa mempercayakan tugas ini padaku?!”

“Jangan lupa—“ Nyonya Han menanggapi kemarahan Sheldon dengan sangat tenang. “ … kau yang memaksa mengambil tugas ini. Kami tidak menawarkannya padamu … “

Sheldon mendelik kesal. Piring yang sudah dijauhkan ke tengah meja, ditariknya kembali. “Iya, saya tahu … “ Sambil mmasukan suapan besar-besar ke dalam mulutnya.

“Mama harap kau masih ingat dengan tugasmu .. “

Sheldon terhenyak sesaat. Tiba-tiba, … ‘bayangan yang teramat buruk’ berkelebat di depan matanya.

“Sheld?!”

“Eh—ya?” Sheldon tersentak kaget.

“Kau dengar perkataan mama?” tegur Nyonya Han.

“Ya. Saya tahu apa yang saya lakukan … “ Sheldon mengangguk dengan pikiran yang masih menerawang.


___________



Elsie sedang menuruni anak tangga saat itu, waktu seseorang memanggil namanya dengan suara melengking.

“ELSSS!!!”

Langkah Elsie tertahan di anak tangga tengah. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk_diangkat dan ditujukan ke sumber suara itu. Seseorang telah berdiri di ruang tengah, tepat di bawah kakinya.

“Hy!!” Sheldon menyeringai, dan melambaikan tangan padanya.

Alis Elsie berkenyit, seolah tak percaya. Matanya dipicingkan, tapi tidak salah lagi—pria yang berdiri di ruang bawah itu adalah Sheldon.

“Sheld?”

“Surprise!!” teriak Sheldon sambil merentangkan tangan lebar-lebar.

“Ke .. kenapa … bisa … “ Terburu-buru Elsie menuruni tangga. “ … bagaimana bisa kau kemari? .. dan … mengapa … Kemana bibi Im … ?”

“Hey—tanyanya satu-satu dong!” ujar Sheldon sambil bergerak cepat_mengapai tubuh Elsie yang hampir terpeleset dari tangga. “Hati-hatilah!”

Elsie menjauhkan diri dari Sheldon, dan memperbaiki letak sweaternya yang agak melenceng dengan sedikit risih.

“Kenapa bisa kau kembali ke sini? Bukannya .. “ Elsie mengigit bibirnya. “.. kau marah padaku?”

“Aku?” Sheldon melebarkan mata sambil menunjuk dirinya.

“Ya—“

“Siapa bilang?” Sheldon balik bertanya dengan heran.

“Loh—waktu itu … “ Elsie menjadi kebingungan sendiri. “Kau pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Kau hanya bilang—‘terserah!’_sejenis itu .. lalu .. “

“O—“ Sheldon membuka mulut lebar-lebar, memutus perkataan Elsie_lalu dia mengangguk berulangkali. “Waktu itu, saya memang sangat marah. Tapi hanya sesaat. Kau—tidak anggap serius kan?” Sheldon berusaha menahan tawanya yang hampir meledak dengan mengigit bibir bawahnya. “Maaf jika membuatmu salah sangka …. “

“Kau … “ Elsie yang semula bingung—menjadi kesal setengah mati. Kepalan tangannya mengepal perlahan-lahan_sampai terlihat merah dan terasa perih. Dia mempelototi Sheldon, mendelik tajam padanya, sambil mengerakan kaki menjauhinya.

“Els!” panggil Sheldon. “Kau marah?”

“Tidak!” teriak Elsie. “Apa hak ku untuk marah? Lagipula, tidak ada urusannya kau denganku!”

Sekali lagi—emosi yang meluap menyebabkan Elsie melupakan rencananya semula.

“Kau tahu aku .. “ Sheldon segera mengejar Elsie dan mensejajarkan langkah mereka. “ .. aku tidak pernah benar-benar serius dengan setiap perkataanku, lagipula--Elsss!!” Sheldon menarik lengan Elsie, menghentikan langkahnya hingga berdiri berhadapan dengannya. “Apalagi padamu, ok? Aku tidak bisa marah benaran. Sungguh!”

Elsie membalas tatapan Sheldon … lekat-lekat. Berusaha mengapai satu titik atau kesungguhan pada setiap perkataannya_di mana dia bisa percaya. Tapi sungguh, dia tidak mampu melihat atau mendapatkannya, sekalipun dia sudah berusaha keras .. apalagi untuk menebak pikiran Sheldon, ... pria ini .. terlalu sulit untuk dimengerti oleh Elsie.

“Kau mengerti?” Sheldon menekankan pertanyaannya, begitu melihat Elsie membisu dalam posisinya.

Elsie menghela nafas lalu mengayun lepas genggaman Sheldon dari lengannya, kemudian meneruskan langkah ke arah pintu.

“Elsss!!”


__________



“Makan yang banyak … “

Sheldon berusaha menarik perhatian Elsie dengan cara menyumpitkan berbagai makanan_berulangkali ke piring Elsie_sampai terisi penuh. Namun, ... dia belum juga mendapat respon dari wanita itu.

“Els?”

“Apa maksudmu mengajak ku dinner di sini?” Perkataan Elsie pertama kali setelah kebungkamannya pada Sheldon semenjak tadi pagi.

BAPP!

Daging yang terjepit dalam sumpitan Sheldon jatuh ke piring lagi. “Kau … bicara .. padaku?” tanya Sheldon seakan tak percaya. “Padaku?”

“Apa masih ada orang lain di sini_sementara kau menyewa ruang VIP buat makan malam kita?” tanya Elsie agak dongkol. Entah mengapa, emosinya begitu gampang tersulut setiap berhadapan dengan Sheldon.

“Well—“ Sheldon berusaha menguasai diri dari luapan perasaannya yang sedang gembira. Sumpit di tangannya diletakan di atas meja, lalu menatap Elsie yang duduk di depannya. “Terus terang saja, kedatanganku yang mendadak di Han’s Palace_memang ada maksud tertentu. Selain, maksud yang ku utarakan semula—yaitu memberi kejutan pada mu—masih ada kepentingan lain .. “

Elsie membalas tatapan Sheldon tanpa berkedip.

“Saya telah mengatur posisimu di Han’s Group—sebagai direktur keuangan yang baru, mengantikan Tuan Oh yang sebentar lagi pensiun. Kau boleh masuk setiap saat_begitu kau telah siap bekerja … “

“APAAA?!!” Gelas yang berada di dekat Elsie hampir tumpah karna tersenggol sikunya. “Kau—kau tidak bercanda?”Sepasang mata Elsie membelalak.

Sheldon mengeleng. “Seperti yang kujanjikan padamu .. “

“Benarrrrr?!!” Elsie mencengkram lengan Sheldon kuat-kuat.

Sheldon melirik lengannya, dan kali ini dia mengangguk.

“OH!!” Elsie membekap mulut dengan sepasang tangannya. Tanpa terasa,.. air bening bergulir dari pelupuk matanya. Semakin lama, semakin deras.

“Untuk Han’s Palace, kuusahakan tidak berubah. Papa dan mama tidak akan menyita tempat itu. Kau boleh tinggal di situ_sesuka hatimu … “

Elsie terisak halus kini. Selaput matanya yang terlapis embun masih menatap Sheldon seolah tak percaya. Dia tidak tahu harus berbuat apa ketika tiba-tiba saja kedua tangannya terkembang dan merangkul Sheldon yang duduk di seberangnya. Meja yang cukup lebar seakan tidak menjadi penghalang buat Elsie buat meluapkan kebahagiaannya saat itu.

“Thank you … Really—thank you, Sheld …. “

“Sa .. saya .. “ Sheldon gelabakan sendiri mendapat perlakuan Elsie yang tiba-tiba berubah hangat. Dengan susah payah dia menekan tangan Elsie, menurunkan dari lehernya yang seolah mencekik erat hingga susah bernafas. Sheldon mengambil nafas dalam-dalam. “ … saya sudah … berjanji padamu kan?" ujarnya dengan nafas tersengal.

“Thank you … “

Untuk pertamakali, Sheldon melihat Elsie tersenyum padanya.

“Thank you very much .. “ Elsie menghapus airmata dengan punggung tangannya, sementara_senyumnya mengembang semakin lebar.

“Asal … kau bahagia … “ Sheldon berkata dengan senyum tertahan di bibirnya.

Elsie mengangguk. “Saya sangat bahagia, .. terimakasih … “ Kemudian dia mengigit bibir, menahan agar airmatanya tidak tumpah lagi. Elsie menusuk sepotong daging kecil dari piring kemudian memasukan ke mulutnya.


_____________



Alden Song melipat koran yang sedari tadi dibacanya, menekuk sedikit tubuhnya kemudian meletakan koran yang dipegangnya ke atas meja teh yang berada di dekat kakinya. Setelah itu, dia mengangkat cangkir keramik kecil yang berbentuk apik dari nampan yang tersedia di atas meja, kemudian menyeruput teh dengan sangat pelan.

Beberapa detik berlalu, … dan ponselnya yang tergeletak di sebelah nampan yang masih terisi oleh sepoci teh bergetar dan berbunyi dengan halus. Alden melirik layar ponselnya, … Sheldon Han.

Alden meletakan cangkirnya ke atas nampan, lalu mengambil ponsel tersebut.

“Hi, Sheld …. “ Alden mendengarkan dalam diam. “Sekarang? …. Hmm—baiklah … “

Tuttttt .. Hubungan diputuskan.

Alden melepaskan kaki kanannya yang tersilang dan menjatuhkannya ke lantai. Ponsel dimasukan ke saku celana setelah itu dia bangkit dari sofa dan berjalan ke pintu. Dengan sangat pelan, dia buka pintu tersebut. Melangkah keluar kemudian menutup pintu itu kembali dengan sangat halus--tanpa meninggalkan suara yang berarti.


__________


EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun