Poll

okay, gw buat polling lagi yg berhubungan dgn karakter mh. kesempatan terakhir, siapa yg anda inginkan tuk jd mh??? perlu diingat, jumlah vote tdk mempengaruhi keputusan terhdp penentuan karakter mh, gw cuman ingin liat suara hati para pembaca sekalian, t

Sheldon
6 (40%)
alden
9 (60%)

Total Members Voted: 13

Author Topic: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#  (Read 13323 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 3# 30 OCT' 11
« Reply #150 on: November 12, 2011, 12:55:20 pm »
CHAPTER 4



Characters :

Elsie Han—25 tahun, tidak begitu mengerti akan 'Dirinya sendiri’. Hidup terlalu berpengangan pada ‘Apa yang dipercayainya’, yang sebenarnya—belum tentu benar.

Sheldon Han—24 tahun, dia mudah ceria ataupun akrab dengan orang-orang di sekelilingnya. Namun demikian, terkadang emosinya gampang tersulut. Tidak banyak yang mampu menebak perasaan hatinya. Namun satu yang pasti, cintanya tidak bercela.

Alden Song—24 tahun, pendiam tapi mampu menerka pikiran orang dengan sangat baik. Dia seorang pengamat jitu. Calon pemimpin yang bisa diandalkan. Namun, .. siapa yang mampu menebak perasaannya?




Alden Song memarkir mobilnya di halaman depan gedung Han’s Group. Setelah mematikan mesin mobil, dia keluar dengan tergesa-gesa. Begitu berada di dalam lobby yang luas dan megah_dengan lantainya yang hampir mencapai tingkat tiga dan dinding-dinding beserta langit-langitnya yang terukir halus, Alden mengamati keadaan sekeliling dengan seksama. Seolah mencari sosok seseorang yang telah membawanya ke tempat itu. Tidak diperdulikannya, lirikan-lirikan heran dan penuh tanya dari beberapa pasang mata penjaga lobby yang sedang bertugas di tempat jaga mereka.

Lalu, .. perhatian Alden jatuh pada sosok berambut merah pekat yang saat ini sedang celingak-celinguk gelisah di balik pilar penyangga gedung dekat lift. Alden menajamkan pandangannya. Setelah menyakini bahwa pemilik kepala itu orang yang dicari, Alden mendekati pilar tersebut dengan langkah tenang.

“Sheld?!”

Orang yang dipanggil Alden tersentak kaget. Punggungnya yang ditegakan secara mendadak_hampir menabrak dinding di belakangnya. Sheldon membelalakan matanya pada Alden.

“Ald—malaikatku!!” Sheldon berlari ke arah Alden kemudian mencengkram lengannya erat-erat. “Kau harus menolongku!! Mama baru saja menelepon. Dia bilang rapatnya batal, dan sekarang juga dia akan kemari—melihat-lihat Han’s Group ..”

“Kau sudah memberitahukannya di telepon .. “ Alden tiba-tiba memutus perkataan Sheldon. Alisnya berkenyit perlahan. “Tunggu dulu—kau, belum beritahu mama mu?”

“Beritahu bagaimana?” Sheldon mengarahkan pandangannya ke lift, lalu naik ke atas, sebelum berbalik kembali pada Alden. “Kau tahu Els berada di atas, dan jika mama mengetahui alasan keberadaannya di sini—saya tidak tahu apa yang akan dilakukannya .. “

Alden melipat tangannya di depan dada. “Jadi, apa yang kau inginkan dariku?”

“Apa saja!” ujar Sheldon cepat dan sengit. “Lakukan apa saja yang terbaik menurutmu! Asal—jangan sampai mama bertemu dengan Els! Kupercayakan padamu, kau pasti mampu melakukannya.”

Sheldon menepuk lengan Alden lalu berlari ngebut ke arah salah satu lift yang terbuka.

“Sheld!!” teriak Alden. Dia bermaksud menyusul Sheldon tapi lift yang membawa sahabatnya tersebut sudah tertutup begitu dia sampai di depannya.

“Hn—“ Alden menghembuskan nafas lewat hidungnya.

Dua menit lamanya dia tidak bergerak. Berdiri di depan lift dan berpikir. Setelah puas, .. barulah dia memutar badan dan mulai mengayunkan kakinya—menuju pintu utama yang terdiri dari kaca-kaca besar dan pintu berputar.

“Ald?”

Panggilan yang cukup lantang dan berkesan agak kaget itu membuat Alden mengangkat kepalanya yang tertunduk menatap lantai. Alden berusaha tersenyum begitu mengetahui siapa yang memanggilnya.

“Tante Han … “

“Kau mencari Sheld?” Mrs. Han mendekati Alden dengan raut dibuat berseri mungkin. “Lunch bersama?”

“Semula memang begitu .. “ Alden membalas senyum Mrs. Han dengan ramah. “Tapi saya baru diberitahu sekretarisnya kalau dia sedang sibuk. Ada proyek yang harus diselesaikannya hari ini juga. Saya rasa, Sheld tidak punya waktu untuk melayani saya hari ini. Jadi, .. mungkin lain kali saja saya mencarinya .. “

“O—“ Mrs. Han mengangguk-anggukan kepalanya.

“Apa tante juga mencarinya buat makan siang?” Alden bertanya dengan halus. “Jika tante yang mengajaknya, mungkin dia akan bersedia menyisihkan waktu .. “ Alden membungkukan badannya. “Kalau begitu, saya permisi, tante .. “

Namun langkah Alden baru sampai setengahnya ketika panggilan Mrs. Han terdengar kembali.

“Tante rasa—tidak ada gunanya juga menganggunya saat ini .. “ Mrs. Han mengerakan kakinya dengan cepat, berhenti dan menghalangi_tepat di depan Alden. “Jika Nak Ald tidak keberatan .. ,” senyum kecil tersungging di bibir wanita itu, “ .. bagaimana jika_‘makan’ bersama tante .. ?”

“Hn—“ Alden membalas senyum itu, tapi dia tidak berkata apa-apa.

“Nak Ald tidak bersedia memberi kehormatan ini bagi tante?”

Senyum di bibir Alden mengembang semakin lebar. “Tentu saja bukan, tante. Silahkan saja, tante tentukan tempatnya .. “

Tangan kanan Alden terkembang. Mempersilahkan Mrs. Han untuk berjalan mendahuluinya. Menuju tempat di mana mobilnya terparkir.


*****



Sementara itu di ruang kantor Elsie …

Sebuah berkas diletakan Elsie ke atas meja. Tangannya bergerak—akan mengambil laporan keuangan bulanan yang tergeletak di sudut meja saat pandangannya jatuh pada seraut wajah yang sedang mengamatinya dari jarak yang sangat dekat.

“HOY!!” teriak Elsie. Laporan keuangan di tangannya hampir melayang seiring sepasang matanya yang terbelalak lebar. “Sejak kapan kau berada di sini?!!”

Sheldon tertawa. “Sejak tadi, .. tapi kau tidak menyadarinya. Kau ini—rajin sekali .. “

“Fuhh—“ Elsie menghembuskan nafasnya_agak kesal. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya dengan nada dibuat sesabar mungkin.

Sheldon mengangkat pundak, lalu berdiri dari kursinya. “Lunch bersama. Di luar!!” jawabnya mantap.

“Sekarang?” tanya Elsie heran, sambil melirik jam tangannya yang kecil dan berbentuk manis.

“Iya, sekarang!! Dan harus di luar!!” ulang Sheldon tegas.

“Memangnya kenapa?” tanya Elsie kembali. Terdengar berubah cuek dan tidak perduli. “Saya tidak lapar. Lagian, saya sudah menyiapkan sandwich buat lunch siang ini .. “

“Tidak bisa!! Harus makan di luar!!!” Sheldon tetap ngotot. Tangannya menyambar laporan di tangan Elsie dan menghempaskannya di atas meja.

“HEYY!!” Elsie meloncat dari kursinya. “APA YANG KAU LAKUKAN?!!”

“Sudah kubilang, kan--Makan di luar?!!!” sahut Sheldon dengan nada keras yang dibuat secuek mungkin. Namun walau begitu, sepasang matanya berputar liar dan gelisah.

Elsie mengamati setiap gerak-gerik Sheldon dengan seksama.

“Ada sesuatu?” tanyanya kemudian, dengan nada menyelidik.

"EH?!" Sepasang mata Sheldon melebar. "A .. apa .. ?” Dia balas bertanya kikuk.

“Pasti ada yang kau sembunyikan .. ,” kata Elsie dengan nada datar. “Katakan padaku sekarang juga  .. “

“Tidak ada!!” Sheldon membuang mukanya.

Pada saat itu—ponselnya berdering … KRING KRING KRING ..

Dengan gugup dan tergesa-gesa Sheldon mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Wajahnya menjadi cerah begitu melihat nama yang terpampang di layar ponsel.

“Ald!!” sapanya langsung dengan posisi membelakangi Elsie.

Elsie mengenyitkan matanya ke punggung Sheldon, dan memasang telinga agar dapat menangkap pembicaraan Sheldon di telepon_yang sekarang berubah sangat pelan.

“Bagaimana?”

Terdengar Sheldon bertanya dengan nada ditekan yang sedikit bergetar.

“Sungguh?!”

Elsie memicingkan matanya. Dia melihat pundak yang semula membujur kaku itu bergerak ke bawah_lega.

“Sudah di luar? .. Sedang makan bersama? … Ya, bagus. Thanks, Ald … “

Sheldon mengembalikan ponselnya ke saku celana dan berputar menghadapi Elsie. “Tidak masalah!”

Elsie yang tidak menyangka gerakan mendadak itu tersentak ke belakang. “HAH?!!”

“Kau makan saja di sini.” Sheldon tersenyum lebar. “Saya tidak akan menganggu dan memaksamu lagi. See you—“

Pria itu melambaikan tangannya kemudian melangkah ke pintu.

“Bye—“ kata Sheldon sebelum keluar dari ruang kantor Elsie.

“What?!” seru Elsie.

Namun pintu sudah ditutup oleh Sheldon.

“What’s the hell?” Elsie mengangkat sepasang tangannya tak percaya. “What’s going on with him?!!” teriaknya keras-keras. “Dasar gila!!!”     


******



“Teh di sini sedap ya?”

Mrs. Han tersenyum sambil meletakan cangkir teh di tangannya ke atas meja yang terbuat dari kaca.

“Ehm—“ Dengan sangat tenang, Alden ikut meletakan cangkir di tangannya ke atas meja.

“Kau suka, Nak Ald?”

Alden tersenyum. “Saya tidak apa-apa. Biasanya, saya minum teh yang diseduh bibi Park. Saya tidak terlalu tahu tentang teh yang baik .. “

“Benarkah?!!” Mrs. Han melebarkan matanya seolah tak percaya. “Bagaimana mungkin? Kukira orang sepertimu—akan menyukai teh .. “

Alden membalas pernyataan Mrs. Han tersebut dengan senyuman. Lalu dia kembali mengangkat cangkir tehnya. Menyeruput teh hijau yang masih mengepulkan asap tipis dengan pandangan yang dialihkan ke luar jendela.

“Salju mulai turun lagi?”

“Hn—“ Alden mengangguk. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari arah jendela.

“Nak Ald!”

Alden menoleh. Perlahan, punggungnya disandarkan di kursi, dan kakinya yang tersilang_menyentuh kaki meja. Alis Alden sedikit berkenyit. Dia tahu—masalah yang sering dihindarinya itu_akhirnya datang jua. “Ya, tante?”

Mrs. Han memusatkan perhatiannya pada bola mata Alden. “Tante ingin tahu—bagaimana keputusanmu tentang … proyek setahun yang lalu … “

“Ehm—“

“Bisa kau berikan jawabannya sekarang?” Mrs. Han melebarkan matanya.

“Keputusan tidak berada di tanganku, tante .. ,” jawab Alden tenang.

“Ah—omong kosong!” Mrs. Han mengibaskan tangannya tak sabar. “Jangan bilang kau tidak punya kuasa untuk itu. Tante tahu kau ‘BISA’!”

“Tidak semudah yang tante kira .. “ Alden berkeras walau suaranya tetap terdengar tenang dan lembut.

“Tidak mungkin!! Satu kata saja darimu … “

Alden mengangkat tangan kirinya dan meletakan cangkir tehnya yang sudah tak bersisa di pinggir meja.

“Saya harap tante bisa memahami. Hal ini sangat besar untuk kuputuskan sendiri. Semua harus dipertanggung-jawabkan, dan kurasa—tante mengerti … “

“Jadi?” tanya Mrs. Han yang berubah kaku. “Kau tidak mau menerimanya?”

“Mungkin saya harus mendiskusikannya dahulu .. “ Alden berdiri dari kursinya. Membungkuk sedikit pada Mrs. Han, dengan senyum lembut yang masih tersungging di wajah tirusnya yang tampan. “Permisi, tante. Saya sungguh-sungguh menghargai makan siang ini. Mungkin lain kali kita bisa melakukannya kembali .. “

Sekali lagi, Alden membungkukan badannya. Kemudian dengan langkah tegap yang teramat tenang, dia berjalan ke pintu keluar utama.

Mrs. Han mengamati kepergian Alden sambil mencengkram erat pegangan di cangkir tehnya.

“Kau tidak pernah berubah. Dari dulu sampai sekarang, kau tidak menganggap ‘kami’. Heran_kenapa Sheld masih saja betah bersahabat denganmu—HUHH!!”


*****



“Kau melakukannya?!!” Sheldon membelalakan matanya pada Alden yang duduk di kursi tepat di hadapannya.

“Hn—“ Alden mengangguk.

“WOWW!!” Sheldon berteriak. “Bravo, man!! Akhirnya kau mengeluarkan penolakan itu!!” Sheldon tertawa sambil memegangi perutnya. "Tapi kalau dipikir-pikir_benar juga sih. Ajang perjudian sama sekali tidak cocok denganmu. Pembukaan kasino, ... hal yang mustahil ... "

Alden melirik Sheldon dengan agak jengkel. Majalah yang sejak tadi dibacanya—diletakannya di atas meja. “Kalau bukan karna kau—saya tidak perlu melakukannya!”

“Apa salahnya?” Sheldon tertawa geli. “Sudah seharusnya kau menolaknya sejak dulu, kan? Jika tidak, kau tidak akan menghindar terus dari mama ku selama ini .. “

“Siapa bilang?” tukas Alden serius. “Saya tidak perlu menghadapinya kalau bukan karna kau!”

“Lalu, apa saya harus berterimakasih padamu?” goda Sheldon.

“Jika kau ingin melakukannya—“ Alden menempelkan punggungnya di sandaran kursi. “—saya tidak akan menolaknya ..”

“Tapi …. “ Sheldon mencondongkan badannya ke depan. “ .. saya sudah melakukannya .. ," sambil tersenyum mengejek.

“Kau—“ Alden menahan nafas. Sepertinya—gaya bercanda Sheldon yang kadang-kadang dirasanya keterlaluan_tidak akan bisa berubah. “Ketawalah terus!”

Alden berdiri dari duduknya, dan menepuk halus bagian belakang celananya yang dirasanya berdebu. “Setelah ketahuan beneran sama mama mu, barulah kau tahu bagaimana artinya menangis .. “

Alden memutar badan dengan pelan ke arah pintu keluar café. Perlahan, dia melangkahkan kakinya.

“EH!” Sheldon tersentak bangun dari posisinya. “Tunggu dulu!! Apa maksudmu?! Aldddd!!!”

“Ada baiknya kau menceritakan semuanya pada mama mu, sebelum dia menemukan sendiri kenyataan yang sebenarnya .. ,” sahut Alden sambil mengerakan kaki hingga sampai di depan pintu. Dengan sangat tenang, dia membuka pintu tersebut, .. hingga menimbulkan bunyi pelan dari lonceng kecil yang tergantung di atas pintu.

“ALDD!!” Teriakan Sheldon terputus seiring tertutupnya pintu café serta lirikan tajam dari para tamu yang berada di café tersebut.

Sheldon mempelototi orang-orang di sekitarnya, lalu menghempaskan punggungnya kembali ke sandaran kursi. Dia menghembus nafas panjang-panjang.


******



Sekretaris Elsie menyodorkan sebuah karangan bunga yang terdiri atas berpuluh-puluh tangkai mawar merah pagi itu.

Elsie mendongak, mengenyitkan alisnya.

“Untuk ku?”

Sekretaris Elsie, Nona Kim yang berpenampilan berwibawa dan sedikit kolot, tersenyum. “Iya, bu .. “

“Dari siapa?”

Nona Kim tidak menjawab. Sepasang tangannya yang mengenggam karangan bunga tersebut diulurkan lebih ke depan.

Masih dengan alis berkerut, Elsie menerima karangan bunga tersebut.

“Kartu namanya ada di dalam, bu .. “ Nona Kim memberitahu.

Elsie mengangguk. Sejenak diperhatikannya kuntum-kuntum mawar yang terlihat segar itu. Kemudian pandangannya beralih ke kartu kecil warna pink yang terselip di antara tangkai-tangkai yang sudah digunting duri-durinya.

“Jika ibu tidak ada perintah lain, saya keluar dulu … “ Terdengar suara Nona Kim berbicara.

Tanpa mengalihkan perhatiannya dari kartu kecil yang sekarang berada di tangannya, Elsie mengangguk.

Sayup-sayup Elsie mendengar detak hak sepatu Nona Kim menjauhinya. Suara pintu dibuka dengan pelan, lalu ditutup kembali. Elsie masih menatap penuh tanya kartu di tangannya, … lalu dengan agak ragu, dibukannya kartu tersebut.


HAPPY BIRTHDAY, ELSIEEEEE!!!

Agak kaget??? Hahaha kurasa begitu.
Aku juga tidak menyangka harus merayakan hari ulangtahun mu seperti ini. Ada tugas mendadak yang diberikan mama pada ku_selama seminggu ini di Las Vegas. Jadi, tidak bisa kembali tepat di hari ulangtahunmu.
Kutugaskan Tuan Park untuk mengirimimu buket bunga dan kartu ucapan selamat ‘MULAI’ hari ini sampai hari-hari seterusnya--sampai aku kembali.

Semoga kau bahagia selalu, .. dan mendapatkan apa yang kau inginkan. Amin.


hug and kiss from your man,

SHELDON HAN



Elsie tidak sadar ketika senyuman itu mengembang di bibirnya.

“Dasar .. “ Elsie mengeleng-gelengkan kepalanya sambil menutup kartu tersebut. “ …. Kadang-kadang, dia benar-benar memalukan .. “

Kartu kecil itu dilemparnya ke sudut meja, .. lalu Elsie tenggelam kembali dalam pekerjaannya.


*******



Sekitar pukul 12 siang, pintu ruang kantor Elsie diketuk dari luar.

“Masuk!!” Perintah Elsie yang masih disibukan oleh tumpukan-tumpukan berkas yang sedang dihadapinya sampai saat ini. “Saya tidak makan siang di luar hari ini, Nona Kim. Tolong belikan sandwich untuk ku .. “

“Saya ke sini bukan untuk mengajakmu makan siang!”

DEG! Tangan Elsie yang bersiap menandatangani sebuah laporan_terhenti. Itu bukan suara Nona Kim .. , pikir Elsie.

Dengan cepat Elsie mengangkat kepalanya.

“Kau?!!”

Alis Elsie berkenyit sangat dalam.

Alden Song, yang berdiri di ambang pintu, melangkah masuk setelah mengangguk pendek pada Nona Kim yang membukakan pintu buatnya.

“Saya bisa sendiri, Nona Kim. Terimakasih banyak .. “

Nona Kim membalas salam Alden dengan menunduk malu-malu. Wanita itu baru beralih pada Elsie, yang saat ini sedang menatapnya tajam-tajam, setelah Alden melewatinya, .. seolah dia tidak melakukan kesalahan dengan membiarkan Alden masuk ke ruang kantor Elsie tanpa seijin majikannya itu.

“Saya akan membelikan makan siang yang ibu minta sekarang juga. Permisi .. “

Nona Kim membungkukan badannya lalu berlalu dengan bergegas-gegas.

“Kau mau apa?”

Elsie mengenyitkan alis tidak senang melihat Alden bergerak mendekatinya. Lalu tiba-tiba, kartu pink yang tadi pagi dilempar ke sudut meja tertangkap oleh pandangannya. Suatu perkiraan melintas dalam kepala Elsie.

"Kau bukannya ... "

Namun belum selesai pertanyaannya, Alden sudah memotong dengan cepat.

"Saya ke sini bukan untuk makan siang dengan mu, kalau itu yang kau kira ... "

"Ta .. pi, ... bukannya .. Shel ... " Elsie berkata ragu-ragu_yang segera diputus Alden kembali.

"Tidak!! Sheldon tidak memintaku untuk mewakilinya merayakan ultah denganmu." Alden menatap Elsie tajam-tajam. "Dan jika kau benar-benar mengenalnya, kau akan tahu--dia tidak akan melakukan kekonyolan itu! Mungkin saja tingkahlakunya terasa kekanak-kanakan, ataupun kadang-kadang terasa tidak masuk akal, ... tapi_ ... meminta pria lain menghabiskan waktu dengan wanita yang dicintainya--sampai matipun tidak akan dilakukan Sheldon. Itu bukan stylenya!!"

"O--" Elsie membuka mulut lebar-lebar. Dia tidak sanggup berkomentar apa-apa dikuliahi habis-habisan oleh Alden.

Alden membuka tangan kanannya yang terkepal kemudian menyodorkan sesuatu yang diambilnya dari saku celana.

"Dari Sheld ... "

Elsie mengejapkan matanya sekali lalu mengalihkan perhatian pada benda yang berada di tangan Alden.

"Kunci??"

"Ya--kunci .. "

Alden mengerak-gerakan tangannya. Elsie mengulurkan tangan, dan dengan ragu-ragu mengambil kunci tersebut.

"Untuk ku?"

Alden mengangguk_sambil memasukkan sepasang tangannya ke dalam saku celana.

"Dia menitipkan kunci itu kemarin_setelah menerima perintah mendadak dari orangtuanya untuk segera terbang ke Las Vegas."

"Tapi, .. ini kunci apa?" tanya Elsie keheranan_sambil membolak-balik kunci kecil warna perak di tangannya.

Alden mengangkat pundaknya. "Sheldon cuma nitip pesan pendek. Hutan taman belakang. Dia bilang, kau akan mengerti maksudnya ... "

"Hutan taman belakang?" Elsie mengenyitkan alisnya. "Maksudnya apa?"

"Saya tidak tahu .. " Alden memutar badan kearah pintu.

"WOY!!"

"Jangan bertanya apa-apa padaku, nona .. " Alden berkata sambil melangkahkan kakinya_tanpa berpaling kepada Elsie. "Seperti yang kuperingati dulu_asal kau memahami perasaanmu dan tidak mempermainkannya, yang lain--aku tidak perduli .. "

Alden membuka pintu, untuk kemudian melangkah keluar. Elsie memperhatikan daun pintu tersebut terayun lemah, sampai menutup pada kusennya.


******



Elsie merapatkan jaket kulitnya di depan dada. Angin berhembus kencang saat itu, menerbangkan rambut panjangnya ke udara, .. sementara serpihan-serpihan salju yang cukup tebal menerpa wajahnya. Elsie memicingkan mata_mengarahkan pandangannya ke hutan di belakang taman_dimana dia berada sekarang. Sudah hampir duapuluh menit lamanya dia berdiri di posisi seperti itu, ... memikirkan pesan dari Sheldon.

"Apa maksudnya dengan hutan taman belakang ... ?" Gumam Elsie sambil mengelus-ngelus dagunya.

"Apa ada sesuatu ... ?"

Perlahan, ... dan tanpa disadarinya, .. kaki Elsie bergerak lambat_masuk ke dalam hutan.

"Ini ... " Langkah Elsie terhenti di sebatang pohon. Matanya melebar, .. dan tangannya terangkat perlahan, jemarinya menyentuh tanda panah yang tergores dengan jelas di batang pohon tersebut.

Elsie mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan. Dan diliatnya kembali tanda panah tersebut_di batang pohon yang lain, berjarak sekitar tiga batang pohon, ... pohon keenam di depannya juga seperti itu_begitu seterusnya.

Elsie menyipitkan matanya. "Apa lagi yang direncanakan orang itu ... ?" katanya sambil mengeleng pelan.

Elsie menghela nafas, lalu perlahan dia mengikuti tanda panah tersebut_masuk semakin ke dalam hutan. Hingga sampai_hampir di penghujung hutan, langkah Elsie terhenti. Tertangkap jelas oleh penglihatannya sekarang_'surga kecil' yang pernah ditunjukkan Sheldon padanya.

"Rumah kubah .. " Elsie mendesis halus.

Kakinya bergerak ke depan, ... ke tempat peristirahatan berbentuk kubah yang dilihatnya saat itu bersama Sheldon. Ada yang lain sekarang, .. sebuah gubuk kecil, yang atapnya juga berbentuk kubah, berdiri bersisian dengan tempat peristirahatan kecil tersebut.  Terlihat jelas gubuk kecil tersebut baru didirikan akhir-akhir ini. Pilar dari kayu yang menyangganya dan juga lantai dari pualam yang mengalasi teras depannya, masih baru.

Elsie sampai di depan pintu gubuk kecil tersebut. Sesaat dia hanya berdiri seperti itu_tidak bergerak sedikitpun. Menatap pintu yang terbuat dari kayu mahoni itu nanar, .. kemudian dia menoleh ke belakang, menyelusuri kolam yang dipenuhi tanaman air dan bunga-bunga kecil yang mengapung di atasnya dengan pandangannya, .. kemudian berpindah ke jembatan melengkung yang dilapisi salju tebal.

Elsie mengigil dan menyusut di balik jaket yang membalut tubuhnya. Dia merasa kedinginan. Dengan tangan gemetar, Elsie merogoh ke dalam saku jaketnya_mengeluarkan kunci kecil yang siang itu diberikan Alden padanya.

"Apa benar ... "

Dengan ragu-ragu, ... Elsie memasukan anak kunci tersebut ke lubang kunci yang terpasang di pintu.

"Cocok ... ," desisnya halus.

Grekkggg, ... pintu tebal tersebut terbuka dengan bunyi halus.

Elsie berdiri termangu di depan pintu yang mengangga lebar di depannya. Keadaan di dalam sungguh membuatnya tergangga. Dia tidak pernah menyangka, atau mengira sedikitpun kalau ... gubuk kecil yang terlihat sederhana dan kosong dari luar ini, ternyata tertata rapi dan apik di dalamnya.

Sebuah perapian batu bercorak kuno berdiri di tengah ruangan_merapat di dinding.  Cerobong asapnya memanjang ke atas_terhubung sampai ke atap yang berbentuk kubah. Setumpuk ranting kering teronggok di dekat tungku perapian, seolah telah disiapkan sebelumnya_khusus untuknya di situ.

Elsie mengalihkan pandangan ke tengah ruangan. Sebuah nampan berisi teko, lengkap dengan cangkir mungil terletak di atas meja. Juga sekaleng biskuit kesukaannya. Elsie mengenyitkan alis sambil mendekati meja tersebut.

"Cookies ... ?"

Tangan Elsie terulur_mengambil kaleng biskuit tersebut. Dibukanya penutup kaleng itu, ... dan ... lagi-lagi dia tergangga. Secarik kertas didapatinya dalam kaleng tersebut. Terlipat rapi di antara cookies-cookies yang tersusun rapi. Elsie mengambil kertas itu_ dan membukanya.

Happy Birthday, Els ^^
--Sheldon Han--


" .... Dia .. yang menyiapkan .. gubuk ini ... dan ... semuanya ... ?" Gumam Elsie serasa tak mampu untuk percaya.

Dengan pikiran menerawang, dia meraih sepotong cookies kesukaannya kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Elsie mengunyah cookies tersebut dengan sangat pelan.

"..... "

Kemudian dia berjalan kearah perapian. Menyalakan api dengan ranting-ranting kering dan geretan baja yang tergeletak di lantai dekat perapian. Setelah api tersulut, Elsie berdiri dari jongkoknya dan berjalan ke meja--mengambil teko dan mengisinya dengan air yang diambil dari keran yang terpasang di bak cuci lalu memanaskan air menggunakan perapian tersebut.

Elsie kembali ke meja, mengambil sepotong cookies lagi lalu berjalan ke sofa_menjatuhkan dirinya di situ. Dia berbaring terlentang sambil menerawangkan pandangannya ke langit-langit pondok yang menjulang tinggi di depannya. Setelah air mendidih, Elsie berjalan kembali ke perapian. Menyeduh teh lalu menuangkannya ke cangkir yang diambilnya dari nampan.

Setelah itu dia kembali ke sofa. Menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil menyesap tehnya. Pandangannya diarahkan ke jendela yang menghadap ke kolam. Dari situ_dia dapat melihat riak-riak kecil air kolam yang belum seutuhnya membeku dan yang tidak tertutupi tanaman air yang sejenis teratai, terterpa angin. Daun-daunnya yang berbentuk lebar terayun-ayun mengikuti gerak angin. Begitu juga_bunga-bunganya yang berbentuk kecil-kecil terangguk-angguk berirama.

"Hmm .... nyaman sekali di sini ... "

Elsie memejamkan mata_menghirup udara dalam-dalam. Dia menyesap tehnya kembali, sambil menyandarkan kepalanya ke punggung sofa. Kemudian Elsie menaruh cangkir tehnya ke lantai, mengembalikan posisinya ke posisi semula. Dia bernafas dengan sangat pelan sambil menarik selimut wol yang terlipat rapi di sofa dan menyelimuti tubuhnya.

"Segalanya terasa nyaman di sini .... "

Perlahan tapi pasti, .. desah nafas Elsie semakin halus. Dia tertidur dengan kepala tergolek lemah di sandaran sofa.


*****

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun