Chapter 6
Cast
Goo Hye sun aka Goo Min Hye
Lee Min Ho aka Lee Sun Ho
Park Min Young aka Miny
Lee dong hae aka Mr Stuyoshi
[/size][/color]
Haruskah aku menyusul sunho dan mengatakan kalau aku yang menggoda sunho agar sunho terbebas dari amukan sang eomma? Tapi tak mungkin karena ku rasakan disekitar pangkal pahaku terasa ngilu begitupun pada perutku, masih sakit...
Ku mohon eomma.. ini tidak sepenuhnya kesalahan sunho
----------
“mianhae... cheongmal mianhae eomma”
“seharusnya kau berfikir masak-masak, jika keluarga minhye tahu, terutama appanya, ia tak akan melepaskanmu”
“aku sudah siap dengan segala resiko yang ada, bila perlu aku akan menikahi minhye eomma”
“kau ini... eomma tak habis pikir denganmu, kita ini hanya orang biasa, sedangkan mereka adalah orang ternama di korea, otakmu kau taruh dimana”
“tapi kami saling mencintai eomma...”
“kau... kau... yaaa... lee sun ho, eomma tak pernah mengajari bertindak gegabah, apa kau fikir dengan kata cinta kau bisa menyelesaikan masalah yang ada, jika appa minhye tahu, kau bisa menebak apa yang terjadi, eomma rasa perkebunan peninggalan appamu akan terancam, dan kau akan menghancurkan semuannya, huhuuu” ku dengar eomma sunho mulai menangis, ini benar diluar dugaanku, segera ku bangkit dari ranjang itu, dan menghampiri sunho dan eomma
“itu tak akan terjadi eomma” bujuk sunho meyakinkan eomma, dipeluknya tubuh eommanya, namun eomma sunho segera menepisnya dan mendorong tubuh jakung itu, hingga terduduk lemas
“jangan sentuh aku..”
“eomma..”
“kau mau jadi apa... ha? Kau merasa hebat saat meniduri anak orang!?”
“ini bukan kesalahan sunho eomma” aku melangkah mendekati eomma dan sunho dengan masih terbalut selimut tebal.. meski agak tertatih melangkah, sudah.. aku tak mampu menahan butiran bening ini, hingga menyeruak keluar, beribu penyesalan bergelayut di otakku, dan aku sadar, mana ada penyesalan datang lebih dahulu..
Ku tata hatiku untuk mempersiapkan bibir ini mengatakan sesuatu pada eomma sunho, dan ku berharap ia mau mendengarnya, dan aku mohon dengarlah... walaupun sekarang ku lihat tatapan sendu itu menatap penuh harap padaku.
“ini bukan sepenuhnya kesalahan sunho eomma, minhye.. minhye tak mampu menolak saat sunho melakukan itu eomma, karena minhye sangat mencintai sunho lebih dari apapun, mungkin ini terdengar konyol, perjumpaan dengannyapun belum genap 1 bulan, namun hubungan ini sudah sejauh ini, itu karena minhye yakin dengan rasa yang ada saat ini, dan minhye mohon pada eomma,,, jangan menyalahkan sunho,, atau eomma memang berniat memisahkan kami... sunholah laki-laki yang mampu mengajarkan pada minhye arti sebuah hidup, hidup minhye jauh lebih berwarna saat mengenal sunho.. apalah kehidupan saat ini jikalau tak ada sunho...kami melakukannya atas dasar suka sama suka.. dan minhye harap eomma mengerti,, hiiikkss.. minhye berharap... eomma.. eomma tak membenci minhye karena selain sunho, minhye sangat menyayangi eomma, eomma sudah minhye anggap seperti ibu kandung sendiri” aku terlalu banyak bicara, kuatatap wajah sunho yang tertunduk menatap lantai, hingga akhirnya ku sejajarkan tubuhku dengan sunho sedangkan eomma duduk di atas kursi yang ada di ruang itu
“apapun yang terjadi nanti, bila perlu aku akan melepas goo’s grup untuk hidup bersama kalian!” kalimatku itu sontak membuat sunho menatapku dan saat itu juga aku tengah menatapnya hingga kini mata kami saling bertemu
“yaaa... goo min hye, apa yang kau katakan ini?”
“apa kau tak ingin aku bersama kalian?” tanyaku pada sunho, aku takut ia mengatakan sesuatu yg tak ingin ku dengar
“sudahlah minhye,,, jangan mengatakan sesuatu yang akan membuatmu menyesal” eomma bangkit dari duduknya dan berdiri
“aku akan menceritakan pada appa masalah ini, namun untuk saat ini ku rasa belum saatnya eomma, dan aku sudah dewasa, ku pikir aku sudah mampu menentukan jalan hidup, dengan siapa aku hidup itu adalah hakku”
“eomma tak mampu berbuat apa-apa.... kehidupan kalian yang jalani, namun saat rintangan menhadang eomma berharap kalian mampu berfikir dewasa, kalau kalian harus selalu saling menjaga...”
“eomma marah padaku??” bibirku kelu saat mengatakan itu
Mendengar pertanyaanku sontak eomma memelukku sambil menangis
“bagaimana bisa aku marah padamu, eomma hanya kesal dengan tingkah sunho padamu, eomma pikir ia memaksamu, jika itu terjadi eomma tak akan menganggap ia sebagai anak eomma...”
“tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka eomma, tak ada paksaan.. minhye berharap sunholah yang akan mendampingi hidup minhye kini dan seterusnya”
“maafkan eomma sudah berfikir macam-macam sayang”
“anyi... seharusnya, minhye yang minta maaf pada eomma, hingga buat eomma khawatir”
“baiklah.. eomma harus ke kebun segera untuk memetik hasil panenan pagi ini, cepat bersihkan badanmu sayang... atau kau perlu bantuan eomma?”
“anyi.. minhye bisa sendiri eomma”
“ara.. eomma pergi dulu, dan kau sunho!”
“dhe?”
“jangan membuat eomma marah lagi padamu, jaga minhye...”
“pasti”
Sepeninggal eomma kini hanya aku dan sunho yang masih duduk di lantai
“minhye-a!”
“mwo?”
“kau percaya padaku?”
“percaya apa?”
“bahwa aku tak akan meninggalkanmu selepas ini?”
“jika kau berani meninggalkanku, ku pastikan tanganmu akan ku potong abis abisan, dan akan ku mutilasi tubuhmu”
“yaa... aku serius..”
“aku tak pernah berfikir kalau kau akan meninggalkan ku, karena entah perasaan apa in, meyuruhku meyakini bahwa cintamu tulus untukku, dan aku akan selalu percaya bahwa kau akan berada di sampingku selamanya, kecuali otakmu sudah terbentur sesuatu yang keras hingga membuatmu hilang akal, namun aku tak akan menyerah sampai kau benar-benar mengakui keberadaanku yang dulu sempat ada mengisi hatimu”
Mata elang itu menatapku tajam dan dengan sigap lengan kekar itu mengunci tubuhku, memelukku erat diantara selimut tebal yang masih melekat kini
“tak akan aku lupa kata-katamu, kau telah mencintaiku dengan tulus dan aku lebih dari itu...”
Ucapannya berakhir di keningku, mengecup lembut keningku dan sedikit menyibak rambut panjangku yang agak berantakan. Setelah itu aku pun beranjak, namun lagi-lagi rasa ngilu dan sakit di bagian tubuhku, hingga memaksaku untuk berjalan tertatih, melihat itu sunho segera membopong tubuhku
“yaa....”
“aku tak tega melihatmu kesakitan, kau mau mandi kan,,,? Aku antar kau mandi” aku tak menolak
------------------
Tubuhku perlahan di letakkan di dekat wastafel
“kamar mandi disini beda jauh dengan kamar madi di rumahku hingga ku rasa bingung saat tak melihat ada bathub di dalam sini,
“tunggu disini, aku akan mengambilkan bak besar untukmu...”
Tak lama sunho datang membawa bak ukuran besar namun tak sebesar bathub yanga ada, hingga tangan terampil sunho memasukan sabun cair ke dalamnya di kucek2 hingga kini bak mandi itu penuh dengan busa.. “kalau aku mandi dalam bak itu, ku rasa hanya setengah dari badanku yang akan tenggelam.. baiklah tak masalah..” ikirku dalam hati hingga kini sunho mencoba melepas selimut yang sedari tadi menempel di tubuhku... deg... deg... deg... jantungku terpompa lebih cepat, hebusan udara hangat mejalar di tubuh, karena kini wajah sunho menatap tubuhku yang tanpa terbalut kain sehelaipun “apakah kami akan bercumbu lagi disini” batinku, namun dugaanku mungkin salah, karena wajah tampan itu berpaling ke arah bak tersebut dan meletakku dengan hati ahati, owh,,, benar saja.. bak ini terlalu sempit untukku, hingga kini dadaku terlihat dan tak tertutup oleh busa, ku merosot sedikit, dan kaki yang malah keluar dari bak itu... saat menyaksikan kakiku terjuntai di atas bibir bak, ku lihat sunho berusaha menahan gairahnya, ku tersenyum di balik keterdiamanku, hingga akhirnya ku lihat wajahnya semakin mendekat ke arah pergelangan kakiku, sengatan listrik seperti menghujam aliran darahku... ia mengecup kakiku hingga sebatas betis saja, karena pahaku tenggelam dala busa sabun
“apakah akubisa lepas dari keterkaitan mata elang itu... mata itu beralih menuju bibirku yang sudah agak terbuka, pelan tapi pasti bibir padat itu telah menempel di bibirku, sedikit menyesapnya,,, hingga kini lidahnya menerobos masuk mencari pasangannya, aku tak mampu menolak, karena masih ada sisa-sisa gairah semalam yang membuatku terbang ke langit ke 7,,.. kini kurasa pijatan tangan sunho di dadaku,, oh tidak kalau sampai berlanjut di kamar mandi dan eomma datang aku bisa malu...
“sun... sunho-a...”
“hemmm?”
“aku ingin mandi, dan kurasa aku harus segera pulang... paman jung pasti khawatir karena aku tak pulang semalaman”
“mwo?” sunho segera menatapku dengan pandangan yang seolah tak rela saat aku melepas ciuman kami
“jangan membuatku bersalah untuk kedua kalinya pada eomma... keluarlah..”
“aaahhhh... baiklah...”
------------------
Setelah membersihkan badanku, kini aku minta sunho mengantarku pulang mengingat aku datang kemari tidak menggunakan mobil pribadi, setelah berpamitan pada eomma , kamipun bergegas menuju Goo mansion
“gumawo sunho-a..”
“ne...”
“oh ya... ssebulan lagi aku ulang tahun, ku harap kau datang”
“mwo... 1 bulan lagi? Yaaa.... ku pikir undangannya terlalu cepat buatku minhye”
“aku sengaja memberitahumu sekarang, agar kau mempersiapkan diri saat itu, lagian saat ultah nanti appa akan pulang dari newyork, saat itu ku harap apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku”
“aku tak akan meninggalkanmu, jika kau yang minta”
“baiklah... aku masuk dulu...”
“minhye-a...!” panggilan sunho membuatku menoleh ke belakang lagi
“dhe?” aku terdiam memandang langkah sunho yang semakin dekat denganku, beberapa detik kemudian kecupan lembut mendarat di bibirku... hanya beberapa detik saja
“cheongmal saranghae,,,” tak mampu berkata lagi, hanya sekilas senyuman terpancar dari bibir ini... dan ku segera melesat masuk ke dalam
-------------
Hari-hari berjalan seperti biasa , aku masih sibuk dengan Goo’s grup, namun sesekali menyambangi butik untuk persiapan ultah yang sudah tinggal 2 minggu lagi, aku ingin ultah kali ini berbeda apalagi, ada sunho yang sekarang ada disampingku..
Malam telah tiba, badan ini semakin letih karena seharian berkutan dengan tugas kantor, belum lagi memilih gaun untuk malam ultah,, aku yang memang seharusnya memilih sendiri,,, saat merasa tubuh ini sudah sangat legket, hingga kini ku basuh tubuh ini dan rasanya segar sekali dengan aroma bunga mawar...
Setelah membersihkan tubuh aku langsung membenamkan tubuhku di atas kasur empuk, rasanya malam ini bakal tertidur pulas...
-----------
Bar 2xx selalu rame dengan pengunjung, terlihat sunho tengah sibuk menuangkan minuman pada pengunjung yang datang, dia selalu bersemangat, ia bekerja keras, bahkan ia menambah jatah kerjanya agar mendapat gaji lebih, 2 minggu bukan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang buat membelikan kado istimewa buat wanita yang kini mengisi hatinya,,, bukan wanita yang kini tengan mencoba merayunya
“oppa, kau terlihat begitu lelah, seharusnya kau sekarang tidur di rumahmu, kau mengambil jam tambahan, ku rasa kerja dengan jadwal semula tidak akan membuatmu kelaparan oppa...”
“sudahlah miny,,,! Kau terlalu banyak bicara... kau urus sana pelangganmu”
‘aku sedang sepi oppa.... belum ada laki-laki itu mengajakku untuk berkencan... lagian jika ada.. aku dbayar sangat murah, makin hari, uang yang dikasih semakin sedikit... gila itu orang.. yang pali setia ya itu, si gendut dengan kumis tebalnyaa, kurasa malam ini dia tak datang.... taku ketahuan istrinya kali”
“kurasa kau salah miny.... lihat dibelakngmu... seseorang tengah tersenyum kearah sini”
Miny membalikkan tubuhnya, dan benar saja,,, laki-laki yang dibicarakan sudah datang, tapi miny tak mengubrisnya.. ia dia saja... terlihat wajahnya memelas pada sunho
“oppa... selamatkan aku...! malam ini aku tak ada gairah untuk meladeninya”
“itu sudah menjadi pekerjaanmu... dan kau sendiri yang mau”
Sunho malah pergi meninggalkan miny dengan tampang bodohnya
“gantikan aku sebentar ya... aku mau ke belakan” pinta sunho pada rekannya”
“baikalah jangan lama-lama”
‘Ok”
----------
Sunho berusaha menghindar dari miny, namun tanpa sunho sadari miny membututinya dari belakang
“mau kemana oppa?” panggilan oppa itu saja membuat sunho sakit kepala,,, secara umur mereka saja Cuma beda 3 bulan, tapi jika minhye yang memanggil oppa mungkin ia sangat senang, tapi itu tak mungkin umurnya saja lebih muda 2 tahun darinya... yang ada minhye yang dipanggil nuna olehnya... tapi mana mau sunho, minhye bukan kakaknya, tapi kekasihnya...
“yaaa.... oppa..!” rengek miny saat menyadari sunho tak kunjung berpaling
“wae? Kau kenapa membututiku...?”
“oppa kenapa menghindar?”
“layani saja sana pelangganmu”
“oppa cemburu?” wajah miny terlihat sumringah saat ia menyangka sunho cemburu pada laki-laki gendut yang setiap malam menidurinya
“mwo? Cem... cemburu?, cemburu pada siapa?”
“oppa.... oppa tak perlu malu, aku bisa kok menolak laki-laki gendut itu malam ini, ku tahu oppa malu kan... sebelum2nya oppa menolak untuk berkencan denganku, tapi ku rasa oppa sekarang mulai memikirkanku, oppa sangat bersemangat untuk kerja,,, bahkan oppa hampir 24 jam kerja, supaya tetap berjumpa denganku, menjagaku dan dekat denganku, gumawo oppa” miny yang merasa sangat super keGRan itu menggelayutka lengannya ke pinggang sunho
“yaaa.... lepaskan miny... kurasa kau tak perlu berpikir sekeras itu, karena bagaimanapun aku tak akan pernah tertarik padamu”
“mwo? Oppa.... kau jangan bicara seperti itu, lalu untuk apa kau berkerja sampai sesusah ini, kupikir gaji yang kau dapat dengan kerja paruh waktu tak akan membuatmu kelaparan... lau untuk apa kau menambah waktu kerja jika tak ingin selalu bertemu denganku, jika oppa malu mengatakan itu, aku memakluminya... dan kapan saja aku selalu siap melayani oppa”
“aaaaiiissshh... sampai kapanpun aku tak akan berkencan denganmu walau hanya sedetik...” sunho segera melepas pelukan miny, dan segera masuk kedalam bar lagi
“yaaaaaa oppaaaa........ apa kekuranganku? Aku ini cantik dan tubuhku juga bagus dan seksi... kau ini laki-laki atau apa, sehingga sulit sekali kugoda”
“maaf miny, kau bukan tipe wanita idamanku”
----------------
H-7, pesta ulang tahunku semakin dekat, ku harap saat hari itu tiba semua hati berbahagia... aku, sunho, dan juga appa,,,,,
“sunho?, aissshhh..... sudah hampir 3 minggu aku tak pernah melihat bahkan menelponnya, dia juga tak pernah menelponku... apa ia lupa padaku?, tak mungkin... ia gak mungkin seperti itu, tapi dalam waktu yang kurasa sangat lama,,, bayangkan saja 3 minggu... apakah tidak cukup lama untuk merindukan kekasihnya? Aku... juga sangat sibuk belakangan ini, tapi aku mau dia yang menelpon duluan, bukannya aku... ku kira dia akan merindukanku juga.... setidaknya ucapan selamat malam saja... tapi tak ada sama semakali... awas kau lee sun ho, kau mau cari mati ya...??”
Kuambil ponsel yang ada di atas meja samping ranjangku. Ku tekan nomornya dan..... tuuuuut....... tuuuut..... tuuuut.... cukup lama menanti sambungannya... ooohhh... dia tak kunjung membalas panggilanku, apa yang ia lakukan sehingga tak sempat, apa ia masih di bar?, tidak mungkin.... ini sudah ewat dari jadwal kerjanya... atau dia sedang bermain-main dengan perempuan centil yang bernama... siapa namanya? Auuussshhh aku lupa,,, baiklah... sekali lagi lee sunho, jika untuk yang kedua kalinya tak diangkat juga.... aku akan melabrakmu ke rumah
Tuuuuuuuuuuuuttt.............. tuuuuuuuuuuuttttt..
5 detik kemudian, akhirnya terdengar suara berat sunho
“ne, yeoboseo minhye-a?”
Bukan hanya suara sunho, tapi juga suara ribut... owwwh... dugaanku benar... suara ribut itu, pasti ia masih di bar
“yaaa..... kenapa lama sekali mengangkat panggilanku?”
“mian... aku sedang sibuk minhye.... nanti ku telpon lagi...” tuut...
“yaa... Lee...!” belum sempat memarahinya, sambungan terputus
“mwo?, aku belum selesai bicara... kau.. kau kenapa sunho-a... apa aku begitu mengganggumu?, tak pedulikan aku lagi?, aaaaarrrrrggggg”
Rasa kesal dan takut menghampiriku... kenaa ia berubah dingin begitu..
------------
Pagi telah tiba... cahaya mentari telah menerobos masuk lewat celah tirai, ku bangun dan langsung menatap jam weker yang ada tepat disisi kanan ranjang, ku lihat ponselku mengeluarkan cahaya kecil menandakan ada pesan masuk, ku buka... tertera nama My SUN, nama yang ku berikan untuk lee sun ho di kontak Hpku
“ku harap kau tak berpikir macam-macam, aku tetap disampingmu... aku selalu mencintaimu, selamat pagi... dunia yang indah dan wanita yang indah... saranghae minhye”
Aku tersenyum saat melihat pesan masuk yang mungkin orang katakan sangat sederhana, namun mampu membuatku bahagia, kemarahan semalam entah hilanglah sudah
------------------
H-1
“agashi...!”
“ada apa paman jung?”
“saya ingin mengingatkan, bahwa tepat pukul 10 Tuan besar, appa agashi akan tiba di incheon”
“mwo?, sekarang sudah pukul berapa?”
“pukul 9.15 menit”
“baiklah... persiapkan mobilnya kita segera menjemput appa... saya ingin selesaikan ini sebentar lagi” aku masih membereskan erkas-berkas yang berserakan di atas ranjang, mengingat pagi ini aku tak menuju kantor
Aku dan paman jung segera berangkat menuju incheon setelah semua siap, tidak lama menunggu akhirnya wajah yang sangat kurindukan
“appa.....!! teriakku saat menemukan sosok itu, oh ia terlihat semakin tua saja... tapi tidak mengurangi ketampanannya
“minhye sayaaaaang!”
“minhye pikir appa tidak jadi pulang”
‘tidak mungkin, appa tentu saja pulang nak, hampir satu tahun tak pulang appa sangat kesempian disana, untung kerjaan itu membuat semangat appa bertahan...”
“appa pasti sangat lelah, sebaiknya sekarang kita langsung pulang, karena besok app harus fit..”
“baiklah....”
Diperjalanan aku melepas rindu pada appa, sangat rindu padanya, dalam lelahnya masih saja memikirkan Goo’s grup... sedikit jengkel, karena ku tahu perjalan jauh membuatnya lelah
-----------------
Pukul 10 malam, tepat kini aku berada di tengah kerumunan para tamu, gedung besar ini menutup pandanganku untuk mencari sosok jakung itu, dimana dia? Apa ia lupa kalau acaranya malam ini?
Terus saja ku edarkan pandanganku pada kerumunan orang-orang yang ada disana, walaupun acara pestanya masih sangat lama, tapi aku tak ingin ia terlambat
“minhye-a........!!”
Ne?”
“sa...”
“jangan sekarang.....!, ini belum saatnya” tolakku pada salah satu temanku sewaktu SMA dulu”
“baiklah princess... kau selalu seperti ini, seharusnya aku ingat itu”
“nikmati saja pestanya dulu...”
“Ok”
Sampai kapan aku akan menunggu sunho, belum juga ku lihat batang hidungnya... tiba-tiba terdengar suara yang menggema seisi ruangan ini
“Hadirin semua, saya sangat berterima kasih pada kalian... tertama teman-teman minhye, yang menyempatkan diri untuk datang meriahkan ulang tahun putriku tercinta Goo min hye”
“appa” desahku saat melihat appa telah berada di atas panggung, hingga memaksaku untuk ikut naik ke panggung setelah mendengar seruan appa
“Minhye... kemarilah sayang”
Saat hendak berjalan menuju panggung... tiba-tiba
“minhye-a...!!”
Suara itu...
“yaaa... kau? Kenapa baru datang?”
“mian, aku tadi...”
“Goo min hye... kemarilah sayang.... pestanya harus kita mulai sekarang” appa kembali memanggil dan itu membatku harus meninggalkan sunho yg baru saja datang
“pergilah...”
Malam semakin larut, namun tak mengurangi kemeriahan pesta ini, hadiah yang ku terima dari appa sebuah kalung bermata ruby,,, namun hadiah yang ku tunggu-tunggu kali ini dari sunho...
“gumawo appa... untuk hadiahnya malam ini” senyumku mengembang namun pandanganku tertuju pada orang yang duduk manis di seberang sana
-----------
Sebentar lagi... 5 menit lagi waktu akan berganti...
“ayo sayang.... kita hitung mundur setelah itu tiup lilinnya”
“dhe”
Nyanyian ucapa selamat ulang tahun terdengar dan setelah itu acara peniupan lilin
“akhirnya putri semakin dewasa... dan ku pikir ia sudah saatnya menentukan pilihan hidup yang nantinya akan hidup bahagia dengan pasangannya... aku sudah punya calon untuknya, Mr. Stuyoshi...”
Bagai tersambar petir di siang bolong, jantungku seakan mau lepas rasanya saat tiba-tiba kalimat yang tak terduga keluar dari bibir appa..
“mwo? Mak... maksud appa... apa?”
“minhye, maafkan appa tidak bicara lebih dulu, namun appa sudah terlanjur mengundang Mr. Stuyoshi kemari... kau lihat laki-laki yang memakai tuxedo berwarna putih itu? Meski umurnya 1 tahun lebih muda darimu, tapi appa jamin sifatnya lebih dewasa dari umurnya”
“appa, ini tak ada dalam pembicaraan kita kemarin”
“sudahlah... appa sudah tak mampu menolak tawaran appanya”
Laki laki bernama Stuyoshi itu melangkahkan kakinya semakin dekat kearahku hingga rasanya aku ingin kabur saja malam ini, namun genggaman tangan appa sangat erat... mau menangis tak mampu.. yang ada di otakku sekarang hanya Sunho, bagaimana dia... kucari sosok itu,... mwo? Ia tak ada.. kemana dia..
“hello Minhye, nice to meet you” kudengar sapaan dengan bahasa asing itu.. ia terlihat seperti yang apa katakan, tapi aku tak berfikir akan menjalin hubungan lebih dengannya
“i’m so sorry, i must go on...!”
Sekuat tenaga kutarik tanganku meninggalkan appa dan pesta ini, berlari mencaro sosok sunho, untungnya aku cepat walaupun kakiku sudah sangat lecet karena berlarian dengan kaki berhighheels tinggi
“yaaaa...... Lee Sun ho.! Mau kemana? Hohs hohs..”
“......”
“jangan menatapku seperti itu!” ucapku saat kusadari tatapan sunho yang terlihat sangat tak kumengerti
“ku pikir ada baiknya kau melanjutkan pestamu, jangan hiraukan aku”
“kenapa?, kau takut dengan appa?, kau takut dengan laki-laki yang bernama Stuyoshi itu, kau sadar gak sih.... aku sudah menunggu kehadiranmu begitu lama, dan sekarang kau pergi tanpa mengucapkan selamat padaku.... kau”
“mian... ku pikir, aku akan menyerahkan ini lain kali saja... tapi karena kau sudah ada disini... sekarang ulurkan tanganmu”
“untuk apa?”
“ulurkan saja...”
“saengil chukkae minhye-a.... “ seiring dengan ucapan itu, sesuatu yang dingin melingkar di salah satu jariku...
“ini?”
“mian... hanya ini yang mampu kuberi... karena.. aku ingin melamarmu malam ini, walau dengan tanpa lilin romantis, karena bintang akan lebih romantis,,,, walau tanpa alunan musik, namun ada semilir angin malam yang lembut... “
“hikksss..........” aku tak mampu berkata setelah ini, yang ada kupeluk erat tubuh jakung itu,, ingin ku katakan bahwa sunho yang aku harapkan bukan laki-laki lain
“apapun keputusan appa, jangan sekali-kali kau bertindak sesukamu meninggalkan aku seperti tadi... aku mohon.. aku mohon”
Tebece ^’^
Kasih saran setelah ini.... gumawo