Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 37955 times)

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
I CAN’T CALM MY HEART


Jandi langsung menarik tangan junpyo yang akan segera membuka pintu mobil, mencegah lelaki itu turun.

Jandi :      ”Andwe. Tidak boleh.. junpyo-yaa.. aku takut. Jangan turun.” memelas panik.

Junpyo :   ”Sepertinya masih ada orang disini.”

TOK TOK TOK......

Jandi :      ”AWWWW.....”

Jandi buru-buru menutup mata dan telinganya rapat-rapat, dia benar-benar ketakutan saat seseorang mengetuk kaca mobilnya.

Chapter 12


Seorang pria tua berbrewok yang hampir memutih seluruhnya tampak berusaha mempertajam penglihatannya, memastikan isi di dalam mobil yang pakir sembarangan di gudang jerami miliknya. Jandi masih menutup telinganya rapat-rapat dengan mata terpejam, sedangkan junpyo malah turun menghampiri pria itu tanpa takut sedikitpun.

Junpyo :   “Apa anda pemilik tempat ini?”

Pria tua itu sedikit menghernyitkan alisnya, sikap junpyo yang acuh membuat si pak tua ini risih, dipikirnya lelaki muda ini sungguh tidak sopan.

Pria tua   “Benar, kalian orang asing, sepertinya orang Asia?”

Junpyo :   ”Kami dari Korea. Hujannya sangat lebat, anda pasti tidak keberatan kan kami singgah disini sebentar?” kalimatnya lebih seperti memaksa untuk disetujui.

Pria tua :   ”Kalian mau kemana? Apa kalian tidak tahu akan ada badai hari ini?” tanyanya dengan vokal yang berat ala orang tua.

Jandi yang merasa senyap, perlahan membuka matanya. Junpyo sudah tidak berada di sisinya, ia langsung panik. Sekali menoleh ternyata junpyo sedang berbincang dengan seorang pria tua tepat di depan mobilnya. Merasa semuanya aman-aman saja, jandi juga ikut turun dan mendekati mereka meski ragu. Ia berjalan lambat-lambat menghampiri keduanya, si pria tua itu memperhatikan jandi yang tampak agak takut. Melihat situasi semakin kaku, junpyo langsung mengenalkan jandi.

Junpyo :   ”Dia istriku.”

Si bapak tersenyum pada junpyo, kemudian kembali menoleh juga tersenyum pada jandi sambil berkata...

Pria tua :   ”Jangan takut nona, badai akan segera berlalu.”

Jandi sedikit malu oleh tingkahnya sendiri, pria itu pasti tahu dia takut bukan karena badai.

Junpyo :   ” Apa ada resort di sekitar sini?”

Pria tua :   ”Oh, resort itu. Kalian mau kesana? Kira-kira sekitar satu jam lagi dari sini.”

Jandi :      ”Kalau begitu maaf, kami pasti mengganggu pekerjaan anda.”

Pria tua :   ”Tidak, aku sudah mau pulang. Rumah ku di belakang sana, kalian bisa singgah sebentar sampai badainya berhenti.”

Jandi :      ”Ah tidak!” setengah berteriak, buru-buru menghela. Junpyo melirik heran.

Jandi :      ”Maksudku, mereka sudah menunggu disana. Kita harus segera pergi.” tersenyum paksa.

Melihat jandi sepertinya sangat takut sampai-sampai bertingkah konyol tidak seperti biasanya, junpyo pun seolah membelanya.

Junpyo :   ”Benar, kami disini saja.”

Pria tua :   ”Baiklah, aku pergi.”  

Pak tua ini langsung meninggalkan mereka yang menatap punggungnya dengan perasaan bersalah, tapi kemudian pria itu kembali menoleh dan berteriak ”NANTI TUTUP PINTU ITU. OK?”

Jandi membungkuk sambil tersenyum mengiyakan, dia merasa tidak enak setelah berprasangka buruk pada pak tua yang ramah dan baik hati itu. Junpyo menatap jandi di sebelahnya, tersungging senyum seolah menertawai sikap jandi.

Junpyo :   ”Ternyata kau benar-benar penakut, Haaah...” tersungging senyum penuh kemenangan di bibirnya dengan pandangan menggoda jandi, seolah dia mendapatkan kelemahan gadis itu.

Jandi :      ”Mwo? Aku tidak takut.”  memalingkan wajahnya, menyembunyikan sorot mata berbohong karena dia memang takut.

Junpyo :   ”Saat di desa bibi so, kau juga ketakutan seperti ini. Tak disangka gadis galak bisa takut dengan hal-hal semacam itu.” senyumnya semakin memojokkan jandi.

Jandi :      ”Yah.”

Belum sempat jandi protes, tiba-tiba junpyo meraih tangan gadis itu dan menariknya dalam dekapan, memeluk jandi dari belakang. Jandi terdiam, pelukan hangat junpyo membuyarkan konsentrasinya. Membingungkan, kenapa junpyo begitu ahli membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan.

Junpyo :   ”Tanganmu dingin.”

Junpyo menggenggam erat kedua tangan mungil jandi, meremas-remasnya seolah menyalurkan kehangatan cintanya. Jandi semakin terkelu kaku, tidak merenggang sama sekali. Tepat diluar sana, terasa bergemuruh, hentakan kuat hujan deras yang mengguyur bumi, tak ada yang terlihat selain itu. Mereka berada dalam kebisuan selama beberapa menit dalam posisi seperti itu.



Jandi POV

Aku merasakan hangatmu, tak ada yang berubah. Sejak saat pertama kau menyentuhku, meski dalam keadaan yang ku benci sekalipun, kau tetap sehangat ini. Detak jantungku menjadi tak beraturan, dag dig dug... seperti menggema dalam atmosfir yang senyap. Menuntunku pada arah cinta yang tak mampu ku kendalikan. Aku jadi bodoh, sebodoh sekarang ini, seumur hidupku, tak mampu menahan hatiku yang akan selalu tertuju padamu. Jangan memaksa ku untuk berhenti, tidak juga menyuruhku berjalan bersamamu, karena kau membuatku bingung. Sentuhan mu, membahasakan cinta. Sikap mu,  membelah-belah hatiku. Atau aku hanya terperdaya? Meski yakin tak akan selemah itu, anggaplah begitu, juga terkadang aku percaya sepenuhnya. Aku meridukannya, seperti ini.


Junpyo POV

Sayang, terkadang embun muncul tanpa hujan di malam hari, tak perlu asalan baginya untuk menyejukkan. Dan aku disini, menolehlah padaku, ikutilah jalan setapak dalam relung mu untuk mempercayaiku. Maafkan, cinta kita yang membara harus membeku seperti salju dalam sekejap, itu salahku. Tak mungkin memaksamu, tapi aku disini, lihatlah aku. Genggam tanganku seperti ini, jangan pergi dengan membawa separuh nyawaku, aku tersiksa dalam menjalani sisa hidup setengahnya lagi. Beradalah di sisi ku, aku akan melindungimu. Meski belum pernah seindah semestinya, tapi tahukah kau bahagiaku tak pernah sedalam ini, hanya ketika bersamamu. Cukup bagiku, aku tak butuh apapun lagi. Bersabarlah di sisiku.


Ntah naluri atau apa yang menyatukan mereka, seketika saja keduanya menoleh bersamaan. Saling memandang satu sama lain, seakan mendengar batin berbicaras. Dalam jarak yang teramat dekat, jandi menoleh-menengadah-menatap bayangannya yang terpantul di bola mata kelam itu.

Jandi :      ”Kau... bicara padaku?” menatap junpyo penuh tanya, dia bahkan tidak yakin mendengar suara. Bukan karena guyuran hujan yang deras, tapi memang karena hati junpyo yang berbicara.

Junpyo agaknya terkejut, bagaimana mungkin jandi bisa mendengar isi hatinya. Dia tak mampu berkata meski bibirnya telah terbuka, masih menatap wajah indah yang berjarak beberapa inchi darinya, seakan terhipnotis. Tanpa sadar,  wajahnya mendekat begitu saja ke wajah jandi, masih memeluknya dari belakang. Mata indah itu membesar saat wajah junpyo hampir tak berjarak lagi darinya, jandi buru-buru menghindar, memalingkan wajahnya ke depan. Junpyo terdiam, bagaimana ini? Jandi menolaknya?

Jandi :      ”Lihat, hujannya masih deras.” jari telunjuknya mengarah keluar, jandi jadi salah tingkah, berusaha mengalihkan perhatian junpyo.

Junpyo hanya diam, bukannya tak mengerti maksud jandi yang menghindarinya, tapi lelaki ini malah semakin mempererat pelukannya. Kepalanya merunduk, hidungnya sudah menempel di leher jandi yang semakin panik, agak melengkuh geli. Bahkan sedikit merinding.

Jandi :      ”Jangan junpyo-yaa, bagaimana kalau ada orang yang melihat.” tubuhnya menggeliat berusaha menghindar, buru-buru melepas dekapan erat tangan junpyo yang melingkar di pinggangnya. Junpyo masih saja tak mau mengerti, tampangnya agak kecewa, bagaimanapun dia masih ingin memeluk jandi.

Junpyo :   ”Tidak ada orang disini.” jawabnya bodoh namun penuh percaya diri.

Tapi nyalinya langsung menciut saat jandi memelototinya kesal, menggerutukan giginya.

Junpyo :   ”Ne, arasso... aku hanya ingin memelukmu.” memonyongkan bibirnya.

Junpyo melepas jas yang sedang ia kenakan, jandi langsung melangkah mundur dengan tatapan mengantisipasi.

Jandi :      ”Apa lagi kali ini huh?”

Kali ini junpyo tidak bergeming, dia tetap mendekati jandi yang terus menjaga jarak darinya. Tapi tiba-tiba gadis itu sama sekali tak memberontak, dia hanya menurut saat junpyo kembali menarik tangannya, dan ternyata hanya memakaikan jasnya itu di pundak jandi, menjaga gadis yang dicintainya ini dari terpaan angin kencang karena ia hanya memakai mini dress yang dari tadi melambai-lambai tersapu angin. Kemudian junpyo kembali memeluknya dari belakang dengan hangat, postur tubuh junpyo yang jangkung benar-benar membuat jandi nyaman bersandar di dadanya. Suasana menjadi kaku, tapi jandi tidak protes, sementara junpyo memeluknya semakin erat. Hela nafasnya yang hangat menyapu sekitaran pipi jandi, menjadikannya merona merah. Keduanya tetap berada di posisi seperti itu sampai hujan agak mereda, dan badai berlalu....




         ==============================




Di sebuah Resort,


Setelah perjalanan yang dramatis, akhirnya junpyo dan jandi tiba di sebuah resort yang menjadi tujuan mereka. Resort ini tidak terlalu mewah, tapi sangat luas. Terdapat taman bermain yang menyajikan hamparan bunga bermacam-macam, miniatur bangunan terkenal di dunia, sampai kebun binatang, dan lapangan pacu kuda. Memang hujan badai tadi sepertinya tidak terlalu berpengaruh sampai ke sini, tapi sampai sore begini masih gerimis dan mendung. Tanah yang luas di sekeliling resort juga becek dan berlumpur.

Mobil mereka tiba tepat di depan lobi, jandi yang baru turun langsung disambut oleh seorang wanita berkulit hitam yang sepertinya seusia dengannya. Wanita itu terlihat lega karena jandi akhirnya tiba juga.

Evelyn :   ”Jandi, akhirnya kau datang.” langsung memeluk jandi.

Jandi :      ”Maaf eve, aku terlambat. Apa semua baik-baik saja?”

Eve :      ”Tentu. Yang penting kau sampai dengan selamat. Aku khawatir karena tadi kau bilang terjadi badai.”

Jandi :      ”I’m fine. Bagaimana anak-anak? Kamu pasti kerepotan sendirian.”

Eve :      “Sebenarnya aku tidak sendirian.” sejurus kemudian perhatiannya menjadi buyar, tertuju pada sosok jangkung tampan yang dari tadi hanya diam memperhatikan mereka berdua dengan tangan terlipat di dada.

Merasa di tatap selama itu, lelaki ini dengan mempesona menebar senyum pada eve.. ‘oh Tuhan dia tampan  sekali’ batinnya.

Jandi :      ”Apa maksudnya tidak sendirian?”

Jandi justru heran menatap eve yang tiba-tiba bungkam, ia menangkap sorot mata penuh kekaguman yang terpancar dari mata coklat eve, lurus ke depan-di belakang jandi. Jandi menoleh, begitu menyadari dia lupa dengan kehadiran junpyo, mendadak membuatnya merasa tidak nyaman.

Eve :      ”Siapa dia?” sedikit berbisik tanpa melepas pandangannya dari junpyo.

Lelaki ini mendekat, jandi jadi panik, ia buru-buru mengalihkan perhatian eve dengan menyeretnya pergi dari sana.

Jandi :      ”Oohh... Aku lelah sekali, dimana kamar ku?”

Jandi langsung pergi dari sana sambil menarik tangan eve yang masih saja menoleh ke arah junpyo, meninggalkan lelaki itu kebingungan. Ya, jandi sengaja melakukannya, sebelum junpyo mengoceh kalau dia adalah suaminya, seperti biasanya.



------------------------------------------



Di kamar, jandi yang baru selesai mandi dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang agaknya buru-buru, diikuti suara yang tidak asing baginya.

”Jandi-yaa... Jandi-yaa...”

Jandi menoleh ke arah pintu dengan raut kaget, dengan buru-buru, mau tidak mau ia terpaksa membuka pintu kamar dan langsung menarik tangan junpyo untuk masuk ke dalamnya.

Jandi :      ”Yah, apa yang kau lakukan?” tukasnya agak ditekan agar suara yang keluar tidak terlalu keras.

Junpyo :   ”Waeyo? Yah... Kenapa kau buka pintu dengan penampilan seperti ini? Bagaiaman kalau orang lain yang datang?” milirik jandi dari ujung rambut sampai ujung kaki, gadis itu hanya memakai handuk. Dahi junpyo terhenyit pertanda protes seenaknya.

Jandi :      ”Orang lain apanya? Jelas-jelas kau berteriak, semua orang juga bisa mendengarnya!”

Junpyo :   ”Benarkah? Karena aku yang datang, makanyaa....” dengan nada menggoda.

Belum sempat junpyo menyelesaikan kata-katanya jandi lagi-lagi memarahinya.

Jandi :      ”Yah, aku hanya tidak mau semua orang mendengar teriakanmu.” balik memonyongkan bibirnya.

Junpyo :   ”Siapa suruh kau menyuruhku tidur di kamar yang lain, aku tidak mau!” ucapnya acuh, memalingkan wajahnya seperti anak kecil yang menuntut sesuatu.

Jandi :      ”Mau bagaimana lagi? Kita tidak sedang berbulan madu. Lagi pula disini banyak anak-anak.”

Alasan jandi sepertinya tetap tidak masuk akal bagi junpyo.

Junpyo :   ”Ada apa denganmu? Makanya tadi kau tidak mau mengenalkan ku pada temanmu? Arasso, aku memang teraniaya!” manggut-manggut tak jelas, yang sebenarnya semakin memojokkan jandi.

Jandi :      ”Yah, Goo Jun Pyo.” Panggilnya pelan, jandi jadi ragu dengan sikapnya melihat raut kecewa junpyo.

Junpyo :   ”Lagi pula kita memang belum bulan madu secara resmi, mau bagaimana lagi?” Bahunya terangkat acuh, sambil melirik jandi.

Melihat jandi melemah, sikap junpyo langsung berubah nakal. Belum sempat jandi mengelak, tangan junpyo sudah meraih tubuhnya dalam gendongan.

Jandi :      ”YAH...”

Meski gadis itu meronta, tapi junpyo berhasil membawa tubuhnya ke ranjang. Handuk jandi sudah sedikit berantakan, tersibak di bagian paha dan memamerkan kaki mulus yang indah itu. Tatapan junpyo berubah nakal, juga dengan senyuman yang tak kalah nakalnya. Sekarang tubuhnya sudah berada di atas jandi, menindih gadis itu yang hampir putus ada menolaknya. Pasalnya bibir junpyo merayap di leher jandi, jangankan menolak junpyo, ia bahkan tidak punya tenaga untuk bicara. Menggeliat menahan geli, ingin marah tapi malah tertawa kecicikan, bahkan tidak bisa meredam suaranya yang terkadang sedikit berteriak.

Jandi :      ”Yah, GOO JUN PYO”

Bukannya mereda, junpyo malah semakin cepat bergerak, jandi menggeliat geli sampai menitikkan air di ujung matanya.

Jandi :      “Okay, okay.. yah.. hentikan!”

Kali ini junpyo menghentikan aktifitas jailnya, ia menatap jandi sambil memamerkan senyum manis dengan lesung pipi dalam. Matanya berbinar penuh cinta, rasa bahagia merasuk begitu dalam. Junpyo bahagia karena ada jandi di sisinya, gadis ini tertawa bersamanya, setiap hari dia merindukan saat bersamanya seperti ini. Seperti saat mereka dulu, berlama-lama di tempat tdur pada pagi hari, dan membuatnya begitu berat beranjak untuk bekerja. Sudah lama ia merindukan perasaan seperti itu.

Dengan sisa-sisa senyum akibat tawa yang tak tertahankan tadi, jandi menatap junpyo dalam-dalam. Bola matanya dipenuhi wajah tampan yang hanya berjarak beberapa inchi dari hidungnya, sinar mata keduanya terpaut, menatap penuh kekaguman. Lagi, rasa rindu itu menjelma begitu hangat dalam sukma. Tanpa aba-aba, perlahan wajah junpyo semakin mendekat, bibir mereka saling menyentuh, semakin dalam, dan dalam. Tubuh junpyo yang berat tertahan oleh tangannya yang menopang di sisi kiri telinga jandi, sementara wajahnya semakin dalam menyatu dengan wajah jandi. Hidung mancung itu menekan-nekan pipi mulus  jandi, bibirnya dilumat perlahan dan dalam. Wajah junpyo memutar kekiri dan kanan, bolak-balik seiring lumatan yang dibalas lebih lembut oleh jandi. Desah nafas sudah mulai terdengar, sedikit memburu karena tak ada yang mau mengalah hingga jandi agak tersengal.

TOK TOK TOK

Ya, suara ketukan pintu yang cukup kencang itu memaksa jandi dan junpyo kembali ke alam sadar. Ciuman mereka terlepas, junpyo terlihat bingung, sementara hasratnya sudah di ubun-ubun. Jandi yang mulai panik langsung memperbaiki posisinya, mendekap handuknya di bagian dada yang –sayangnya- belum terlepas.

”Jandi? Jandi?”

Teriakan lembut itu semakin membuatnya panik, ia tahu betul siapa pemilik suara itu. Evelyn dengan sabar menunggunya membuka pintu, dia tidak tahu kehadirannya yang sangat mengganggu kali ini benar-benar tidak diharapkan. Di dalam kamar, jandi sibuk mendorong junpyo untuk menyembunyikannya. Tapi lelaki itu sama sekali tidak berniat, malah mengoceh kesal.

Junpyo :   ”Yah, kenapa aku harus sembunyi?” Masih saja acuh dengan raut khawatir jandi.

Jandi :      ”Aiiishhh.. ssstttt...... jangan keras-keras!” hampir tak terdengar, hanya gerak bibir yang jelas terbaca oleh junpyo. Dengan jari telunjuk menempel di bibir junpyo yang masih merah akibat ciuman panjang tadi.

Junpyo :   ”Waeyo?” memandang jandi bingung, penuh tanya.

Jandi :      ”Please...” memelas, memohon agar kali ini junpyo menurutinya saja.
Junp
yo yang awalnya berfikir, mau tidak mau terpaksa menurut, untuk kali ini saja.

Junpyo :   ”Baiklah, tapi pakai pakaian mu dulu.”

Dengan malas ia menuju bathroom, setengah hati mengorbankan harga dirinya yang setinggi langit itu.


Krekkkkk... setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pintu itu terbuka. Eve yang awalnya cemas langsung merasa lega karena jandi baik-baik saja.

Jandi :      ”Sorry eve, tadi aku sedang mandi.”

Eve :      ”Ya, aku juga berfikir begitu.” tersenyum.

Pandangan jandi tertuju pada sesosok gadis kecil yang hanya diam memandangnya.

Jandi :      ”Tina, kau kenapa?”

Eve :      ”Jandi, bisakah kau menemani tina? Aku harus mengurus Michael, dia agak rewel malam ini. Anak- anak sudah makan, mereka terlihat lelah makanya rewel. Tina, kau tidur bersama nona jandi saja ya?”

Jandi dengan senang hati menerima kehadiran tina, hanya saja saat ini ada junpyo yang tidak akan betah lama-lama di dalam sana. Dia jadi khawatir orang-orang akan salah paham kalau ketahuan dia menyembunyikan lelaki yang sebenarnya suaminya sendiri.

Jandi :      ”Baiklah, tina kau disini saja yaa..”

Gadis kecil itu hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi.

Eve :      ”Ohya, sepertinya temanmu tadi sangat kelelahan, dia tidak keluar dari kamar, panggilah untuk makan malam.”

Jandi :      ”Apa? Oh, baiklah.” berusaha menyembunyikan raut bohongnya.

Eve :      ”Tina, kamu tidurlah, jangan rewel yaa..”

Tina lagi-lagi hanya mengangguk tanda sepakat. Setelahnya, jandi membawa gadis itu bersamanya ke tempat tidur. Saat itu juga, junpyo keluar dengan wajah kesal, dahi terhenyit. Benar saja, dia tidak akan betah disana. Tina yang menoleh menatapnya langsung bisa mengenali sosok yang kemarin membuatnya terpesona.

Tina :      ”Oh?  Tuan ini....” jari telunjuk mungilnya mengarah pada junpyo.

Jandi :      ”Tina, jangan takut ya, kau mengenalnya kan?”

Junpyo :   ”Apa-apaan ini? Yah, kenapa anak ini ada disini?” tampangnya berubah bingung, semakin tidak senang, mulutnya terbuka seakan tak percaya kali ini benar-benar apes.

Jandi :      ”Memangnya kenapa? Ini kamar ku.” jawabnya ragu-ragu, jandi lebih memilih menantangnya dari pada membujuk lelaki keras kepala ini.

Junpyo :   ”Lalu dia tidur dimana? Disana?” jari telunjuknya mengarah pada sofa yang tertata di dekat jendela.

Gadis kecil bernama tina itu pun ikut menoleh mengikuti jari telunjuk junpyo, dia terlihat murung seolah mengerti arti penolakan junpyo, membuat lelaki ini ragu akan sikapnya.

Jandi :      ”Yah, Goo Jun Pyo” nadanya agak menekan, sambil memelototi junpyo.

Tina :      ”Aku tidak mau tidur disini.”

Gadis itu langsung melepas tangan jandi yang dari tadi dipegangnya erat, dia merasa kecil hati gara-gara junpyo. Jandi panik ketika anak itu menuju pintu dan nyaris memutar gagangnya, buru-buru ia mencegah tina keluar dari kamar.

Jandi :      ”Tina, maaf yaa.. Kamu tidur disini bersamaku ok? Hanya kita berdua.” di kalimat terakhirnya, jandi melirik junpyo sambil menggigit bibir bawahnya geram.

Junpyo :   ”Mwo? Yah... Aku tidak mau tidur sendirian.” (Dalam bahasa korea)

Junpyo masih saja ngotot, dia malah buru-buru berbaring di ranjang dengan posisi seolah sangat nyaman, tak menghiraukan kata-kata jandi. Percis seperti anak kecil yang berebut perhatian ibunya. Jandi menggendong gadis yang berusia 6 tahun itu, setidaknya untuk membuatnya nyaman. Tapi junpyo yang melihat itu tiba-tiba sontak beranjak dari tempat tidur, mengagetkan jandi.

Junpyo :   ”Yah, jandi-yaa.. Kau sedang hamil, cepat berikan dia padaku.”

Tanpa sempat jandi mencerna kata-katanya, junpyo langsung merampas tubuh mungil tina dan menimang anak itu dalam gendongannya. Jandi yang sempat terkejut dengan reaksi junpyo, hanya terpaku tak percaya, kenapa hal semacam itu bisa terfikir olehnya. Dia bahkan sama sekali tidak merasa keberatan, tapi junpyo begitu mengkhawatirkannya.

Jandi hanya termangu, baru saja junpyo menolak kehadiran tina, tapi apa yang dilihatnya sekarang ini sungguh membuatnya haru. Junpyo malah tersenyum sambil menggendong gadis kecil yang sekarang tertawa keras karena merasa senang saat junpyo mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi dan menurunkannya mendadak. Terus seperti itu, mereka terlihat akrab.

Junpyo :   ”Kau  suka? Bagaimana kalau begini?”

Junpyo mendudukan tina di pundaknya, kemudian berlari kecil mengelilingi jandi yang menatap mereka penuh haru sambil tersenyum. Disambut gelak tawa tina yang membuat kamar itu jadi terasa sangat ramai.



--------------------------------------------




Malam semakin larut, jandi perlahan menggeser tangan junpyo yang bertengger di tubuhnya. Tanpa ingin membuat suara, ia bangkit dari tempat tidur.  Tersenyum menatap tina yang tertidur pulas di sisi junpyo, ya... setelah lama bergulat memperebutkan posisi tidur di dekat jandi, akhirnya mereka kelelahan, gadis kecil itu akhirnya tidur dengan kepala tersandar di lengan junpyo. Junpyo sendiri berada di tengah antara jandi dan tina tetap memeluk erat jandi dalam tidurnya. Jandi seketika mengusap perutnya, mendadak merasa tidak sabar menunggu kelahiran anak mereka.

Jandi merapikan pakaiannya sebelum kemudian keluar dari kamar pelan-pelan, saat membuka pintu kebetulan sekali evelyn sedang berjalan ke arahnya. Jandi pun terkesiap menutup pintu, tak bermaksud membanting pintu itu, tapi suara yang ditimbulkan percis begitu.

Eve :   ”Jandi? Kau kenapa?” justru eve malah khawatir, dan berjalan semakin cepat mengarah padanya.

Jandi :      ”Oh tidak, aku hanya ingin memastikan anak-anak sudah tidur. Tina juga sedang tidur.”

Jandi terlihat kaku, berusaha membelakangi pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat. Tapi eve sama sekali tidak berfikir jandi menyembunyikan sesuatu. Hanya saja.... kreeeekkkk..... pintu itu terbuka. Dan junpyo muncul dari kamar jandi dengan tampang tanpa dosa, memperhatikan jandi dan eve bergantian.

Junpyo :   ”Hai?” tersenyum ceria tanpa mengerti situasi.

Mulut eve langsung terbuka, ingin berkata tapi sakin kagetnya dia jadi lupa mau bilang apa. Sementara wajah jandi mendadak merona merah, tertunduk merasa bersalah.

Eve :   ”Jandi?” panggilnya pelan, dia sebenarnya sama sekali tidak mempermasalahkan siapa junpyo sebenarnya, hanya saja dia tidak mengerti kenapa jandi tidak jujur saja.

Junpyo :   ”Apa yang terjadi?”

Tanpa ada yang menjawab sapaan junpyo, tiba-tiba suara teriakan merenggut seluruh perhatian ketiganya.

”JANDI”

Seorang pria bule berwajah tampan dengan semangat berlari ke arah mereka, tepatnya menuju pada jandi. Dia tersenyum lebar memamerkan deret gigi yang berbaris sempurna, sorot matanya berbinar. Begitu tiba disana, lelaki itu langsung memeluk jandi erat. Terlalu erat bagi junpyo yang langsung terbelalak menatap aksi si bule yang menurutnya ekstrim.

Mark :      ”Apa kabar?”

Sekejab lelaki bernama Mark itu melepas pelukannya dan menatap jandi dengan takjub, tangannya tercagak di kedua pundak jandi yang juga mulai tersenyum antusias padanya.

Jandi :      ”Mark? Kau juga datang?” nadanya tak percaya, terlihat sangat senang.

Mark :      ”Tentu, akhirnya kita bertemu lagi. Kau sama sekali tidak berubah,  selalu cantik seperti ini. Aku merindukanmu.”

Lagi-lagi tanpa memperdulikan pandangan sekitarnya, lelaki bule itu sembarangan memeluk jandi yang juga menyambutnya ramah. Sepertinya mereka memang sedekat itu.

Junpyo menganga tak percaya, menarik nafas dalam sambil berkedip berkali-kali, sulit dijelaskan suhu panas hatinya sekarang ini. Berusaha menahan amarah, lelaki ini berani-beraninya memeluk jandinya.

Junpyo :   ”Ehem.”

Tanpa membiarkan mereka berlama-lama melepas rindu, junpyo langsung mendekat dan menarik tubuh jandi untuk kemudian dirangkulnya. Jandi terhenyak dengan sikap junpyo, meliriknya heran. Namun seperti biasa, junpyo malah tersenyum dingin penuh percaya diri sambil menatap mark.

Junpyo :   ”Sayang, dia temanmu juga?” menatap tajam pada mark.

Eve yang dari tadi melongo memperhatikan mereka sama sekali masih tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Jandi menatap junpyo penuh tanya, ada  apa dengan sikap lelaki ini? sementara mark juga terlihat bingung, dengan alis terhenyit memandang mereka berdua bergantian.

Jandi :      ”Ini Mark, dia sahabat jihoo oppa.” katanya ragu, ya.. ragu mengenalkannya pada junpyo yang tak jelas maksud dan tujuannya.

Tenyata, mark juga seorang dokter yang berteman dengan jihoo dan jandi sejak kuliah dulu, teman sejawat jihoo yang juga sering membantu yayasan.

Mark :      ”Jandi, siapa dia?” dengan raut dan nada bingung.

Jandi :      ”Diaaa...”

Belum sempat jandi menjawab, junpyo sudah menyodorkan tangannya untuk berjabat.

Junpyo :   ”Kalau sahabat jihoo, berarti juga temanku. I’m Jandi’s husband.” O.o

Junpyo tersenyum sinis dengan penuh percaya diri, jandi langsung menoleh/menengadah-memelototi junpyo di sampingnya. Sementara mark yang terdiam kaku, masih tak menyangka, lambat-lambat ia menyambut tangan junpyo. Dan eve agaknya terbelalak kaget, pasalnya jandi tidak mengatakan apapun tentang pria ini sebagai suaminya. Tapi eve langsung memeluk jandi dengan perasaan senang, benar-benar surprise.

Eve :   ”Oh, kau melewatkan kabar bahagia ini dari ku huh?  Benarkah? Kau sudah menikah? Selamat jandi.”

Jandi hanya tersenyum kecut, dia tidak suka dengan cara junpyo mempertkenalkan diri.

Junpyo :   ”Baiklah, ini sudah malam ayo kita tidur sayang.”

Jandi kesal minta ampun, menggigit bibir bawahnya sambil memelototi junpyo yang terus merangkulnya kuat untuk masuk ke kamar tanpa basa-basi. Ketahuan olehnya kalau junpyo sengaja menjauhkannya dari Mark. Sementara eve dan Mark menatap heran pada mereka berdua.



---------------------------------------------



Keesokan harinya,



Pagi ini terasa sejuk, anak-anak sudah berhamburan melakukan kegiatan yang mereka sukai. Mereka mengelilingi kebun, bermain dengan teman-teman, ada yang menggambar, memberi makan kuda, juga beberapa dari mereka belajar menanam bunga. Semuanya sudah terlihat disana, kecuali junpyo. Jandi yang berada di lapangan pacu kuda bersama mark terlihat menikmati pagi yang indah ini, mereka menyuapi beberapa kuda bersama-sama. Akibat hujan kemarin, lapangan outdoor untuk pacu kuda masih becek dan berlumpur di beberapa titik, sedangkan bagian indoornya tidak terlalu luas, dimana mereka berada saat ini.

Jandi :      ” Hari ini mungkin kita akan kembali ke yayasan lebih lambat, karena kemarin anak-anak belum sempat bermain.”

Mark :      ”Mereka mungkin tidak mau pulang karena asik bermain.” sambil menyuapi kuda.

Jandi :      ”Mark, Aku dengar kau bekerja di salah satu Rumah Sakit di London, tidak disangka kita bisa bertemu lagi sepert ini.”

Mark :      ”Ya, kau benar. Hoh, aku sangat merindukanmu. Sebulan sekali aku berkunjung ke yayasan. Kebetulan aku tiba akhir pekan, karena tidak ada petugas medis yang ikut perjalanan ini jadi ku pikir akan menyenangkan, ternyata benar sangat menyenangkan karena bisa bertemu denganmu. Kau sendiri, semalam eve bilang kau sudah berada disini lumayan lama. Kenapa tidak menghubungi ku?”

Mereka tampaknya sangat menikmati suasana itu karena sudah lama tidak bertemu.

Jandi :      ”Haah.. pantas saja eve bilang dia tidak sendirian, ternyata kau! Aku mengira kau pasti sangat sibuk mark.” tersenyum manis.

Mark :      ”Jandi, aku tidak mengira kau sudah menikah.” menoleh pada jandi, menatapnya-menunggu jawaban. Tapi jandi hanya membalas tatapannya tanpa berniat menjawab pertanyaan yang dia tak mengerti dimaksudkan untuk apa.

Mark :      ”Maksudku, mungkin aku sulit percaya kau sudah menikah, tapi... apa jihoo baik-baik saja?”

Baru kali ini jandi menyadari bahwa mungkin hanya dirinya sendirilah yang paling terlambat mengerti perasaan jihoo terhadapnya, ternyata mark pun tahu tentang itu. Terus terang, pertanyaan ini membuatnya sedikit risih.

Jandi :      ”Jihoo, dia... yang paling mendukungku setiap saat.” kenangnya, dengan rasa bersalah yang juga datang menyelimuti kalbunya. Tapi jandi berusaha tidak menunjukkan perasaan itu pada mark, dia kemudian tersenyum, bahkan mengalihkan pembicaraan.
”Wah, lihat.. makannya banyak sekali.” sambil mengusap kepala seekor kuda yang terus saja makan dengan lahap apapun yang jandi berikan. Kuda itu menggeliat saat mark juga ingin menyentuhnya.

Mark :      ”Hahaha... dia kuat sekali. Kau mau menungganginya?”

Jandi hanya tertawa, belum sempat dia berkata tiba-tiba sebuah suara yang terdengar sinis malah menghela pembicaraan mereka tanpa segan.

Junpyo :   ”Tidak boleh. Seorang Dokter pasti tahu kalau wanita hamil tidak boleh menunggang kuda.”

Disana, junpyo dengan tangan terlipat di dada mematung indah menatap mereka dengan santai. Senyum tipis tersungging di bibirnya, kemudian ia mendekat dan lagi-lagi langsung merangkul jandi yang menatapnya kesal. Mark tampaknya terus menerus mendapat kejutan, dia masih belum bisa mencerna kata ’hamil’ yang keluar dari mulut junpyo.

Mark :      ”Jandi? benar kau sedang hamil?” tanyanya tenang, memastikan apa yang baru di dengarnya dari junpyo.

Jandi :      ”Iya, lain kali kita berkuda ok?” tersenyum ragu.

Junpyo juga tersenyum bangga sambil menatap tajam pada mark, memaksa lelaki itu untuk juga tersenyum.

Junpyo :   ”Bagaimana kalau berkuda dengan ku saja? Aku juga sudah lama tidak melakukannya. Ayo?” nadanya terdengar dingin, sikapnya yang seolah menantang itu membuat jandi sangat kesal.

Jandi :      ”Yah.” memelototi junpyo agar mengurungkan niatnya. Tapi junpyo hanya mengangkat bahunya, acuh.

Mark :      ”Baiklah.”

Tak disangka, mark justru mengiyakan tantangan junpyo dengan sangat tenang.



-------------------------------------------



Kuda coklat itu berlari kencang, menuruti pukulan sang penunggang, terus berlari berusaha membuat jarak dari kuda hitam di belakangnya. Kaki kuda-kuda itu mulai ternodai oleh genangan lumpur karena harus melewati spot becek di arena outdoor. Suaranya memekik, sekuat teriakan pacu si penunggang. Junyo terus mengikuti mark yang cukup tangguh, berjarak tidak terlalu jauh di depannya. Sorot matanya tajam, memandang lurus ke depan. Seperti pasukan berkuda yang mengejar musuh bebuyutan, dia memacu kudanya secepat mungkin.

Jandi menunggu mereka di tempat semula, sejujurnya dia tidak tertarik dengan perlombaan yang tidak penting ini. Dia tahu, ego junpyo sama sekali tidak terbendung. Jandi justru khawatir, karena arena pacu yang licin dan berlumpur. Sementara mark dan junpyo semakin jauh menghilang dari pandangannya, ia tidak tahu  kemana perginya mereka.

Disisi lain, mark yang sudah unggul tiba-tiba saja laju kudanya melambat, bahkan berhenti. Di dekat sebuah taman yang terdapat banyak anak-anak yang sedang bermain. Junpyo memandangnya heran, sekarang kuda keduanya berjalan santai beriringan.

Mark :      ”Aku menang kan?” tanyanya sambl menoleh ke sisi junpyo di sebelahnya, sambil tersenyum bangga.

Junpyo :   ”Menang apanya? Aku tidak tahu finishnya sedekat ini.” tentu saja junpyo tetap mempertahankan gengsinya.

Mark :      ”Disini banyak anak-anak, akan berbahaya kalau kita lanjutkan.”

Junpyo :   ”Kalau begitu seharusnya ini belum berakhir.” masih menantang.

Mark tertawa, dia menertawai sikap junpyo yang tidak mau kalah.

Mark :      ”Kau juga sahabat jihoo?”

Junpyo :   ”APA?” memastikan pendengarannya.

Junpyo mengira dia salah dengar karena pertanyaan mark yang tiba-tiba saja berubah haluan. Mereka bicara cukup keras karena berada di alam terbuka, juga jarak antara keduanya.

Mark :      ”Kau hebat.”

Kali ini mark tersenyum sinis menatap junpyo, junpyo sendiri tidak mengerti apa yang mau dikatakan orang ini.

Mark :      ”Seharusnya aku berani mengambil langkah seperti mu. Tapi aku tidak bisa, karena jihoo sahabatku.”

Dahi junpyo terhenyit.

Junpyo :   ”Apa maksudmu? Kau juga menyukai istriku?”

Mark :      ”Tarnyata kau memang tahu perasaan jihoo pada jandi, bagaimana kau bisa melakukannya?” kali ini pertanyaan mark sungguh membuat junpyo panas.

Tentu junpyo mengerti apa maksud lelaki ini sebenarnya, masalah antara dirinya dan jihoo, dilema yang terjadi selama ini, apa yang diketahui lelaki ini hingga dia berani menjudge junpyo sebagai perusak hubungan jihoo dan jandi.

Junpyo :   ”Jihoo baik-baik saja.” Tukasnya dengan perasaan ragu, memancing tawa dari mark.

Mark :      ”Benarkah? Bodohnya aku. Kalau tahu begini seharusnya aku yang berada di sisi jandi.”

Kali ini junpyo tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dari jarak antara kedua kuda mereka, bisa-bisanya junpyo meraih kerah baju mark dan menariknya geram. Kuda mereka hampir berbenturan, bahkan memekik bersamaan.

Junpyo :   ”Jandi mencintaiku. Meskipun jihoo tidak melepasnya, jandi hanya akan mencintaiku saja. Dan kau, tidak mendapat apapun.” rahanganya mengatup geram, remasan jarinya pada baju mark semakin kuat. Egonya seakan terpancing, tak seharusnya dia menjelaskan apapun pada orang ini. Tapi ia bahkan ingin meninju wajah si bule tidak tahu diri ini, pikirnya.

Sementara jandi melihat keduanya dari kejauhan, rautnya berubah khawatir melihat posisi junpyo dan mark sekarang ini. Semua orang yang melihat juga tahu kalau mereka sedang bertengkar. Jandi meremas-remas jarinya, dia merasa junpyo akan melakukan seenaknya seperti biasanya.

Tapi mark terus saja memancing, dia seperti sengaja memancing kemarahan junpyo. Padahal awalnya dia sedikit terkejut dengan tingkah konyol junpyo, yang terlihat jelas cemburu padanya.

Mark :      ”Benarkah? Lalu kenapa kau tampak tidak yakin?” tersenyum siniz.

Junpyo :   ”Kau...”

Bogem mentah nyaris mendarat di wajah bule itu, tapi ketika junpyo menariknya semakin kuat, kudanya malah mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi sambil memekik keras dan panjang. Tubuh junpyo oleng, bukan hanya cengkramannya pada baju mark saja yang terlepas, tapi tubuhnya pun ambruk jatuh ke tanah yang lembab.

”Yaaaah”  BRUUUK.

Jandi dari kejauhan berteriak kencang ”GOO JUN PYOOO!”

Tanpa babibu, ia berlari ke arah junpyo, cukup jauh.

Mark merasa lucu melihatnya, ia langsung turun dari kudanya sambil menahan tawa. Junpyo sendiri kesal bukan main, ia menatap tajam pada mark sambil meringis menahan sakit dan malu. Ia masih tersungkur di tanah dengan bercak-bercak tanah di sebagian pakaiannya. Mark menyodorkan tangannya, bermaksud menawarkan bantuan untuk junpyo berdiri.

Mark :      ”Biar aku bantu.” sambil tersenyum menahan tawa.

Junpyo yang sudah kadung kesal langsung menepis tangan lelaki itu dengan kasar.

Junpyo :   ”Tidak usah!”

Jandi menghampiri mereka dengan raut cemas, ia pun langsung berlutut di tanah tanpa takut pakaiannya kotor.

Jandi :      ”JUNPYO-YAA Kau terluka? Gwenchanayo?” (dalam bahasa korea)

Ia langsung memegang tangan junpyo, kakinya, juga dadanya, yah beraba-raba memastikan suaminya itu tidak terluka. Mungkin mark memang tidak mengerti dengan apa yang jandi ucapkan, tapi melihat gadis ini begitu khawatir junpyo terluka, terlihat jelas olehnya betapa jandi ternyata sangat mencintai pemuda ini. Benar yang di katakan junpyo, jandi memang mencintainya, cinta itu terpancar dari sinar matanya, membuat mark terkelu menyaksikannya.

Junpyo yang menyadari hal itu justru memanfaatkan situasi ini untuk sekedar pamer, dia tidak mau dikatakan perebut jandi dari jihoo. Dia hanya ingin menunjukkan meskipun orang mengira jandi akan berakhir bersama jihoo, tapi kenyataannya jandi hanya mencintainya.

Junpyo :   ”Aw, sakit sekali. Disini.” ia meletakkan tangan jandi di dadanya.

Jandi :      ”Disini? Apa sakit sekali?” rautnya cemas.

Junpyo :   ”Disini juga.” kali ini ia meletakkan tangan jandi di pergelangan kakinya.

Mark mengehela nafas kuat sambil tertawa tak menyangka, junpyo sungguh konyol. Dia tahu lelaki ini sedang pura-pura kesakitan.

Mark :      ”Jandi, biar aku lihat.”

Kali ini jandi menyingkir, ia mempercayakan junpyo pada mark yang notabenya seorang dokter. Junpyo jadi panik, mark langsung memegang pergelangan kakinya dengan posisi ekstrim (menurut junpyo) , ia dengan keras memutar pergelangan kaki junpyo.

Mark :      ”Yang ini?” KREEEEKK...

Junpyo :   ”AAAAAAAAAAAA...” junpyo berteriak kesakitan.

Jandi dan beberapa anak yang melihat kejadian itu langsung terbelalak. Sedangkan junpyo langsung mendorong tubuh mark, dia memegang pergelangan kakinya kuat, menahan sakit  -yang benar-benar sakit. Melihat itu, jandi jadi mengerti kalau tadi junpyo hanya pura-pura, karena ekspresi sakitnya berbeda dengan sekarang yang ubun-ubunnya seakan berasap.

Jandi dengan wajah tanpa ekspresi langsung menarik tangan junpyo untuk kemudian menopangkannya di pundak, ia perlahan membopong tubuh jangkung itu dan mengajaknya pergi dari sana. Mark hanya memperhatikannya saja sambil tersenyum menahan tawa.




            ==========================





Di dalam kamar,

Junpyo keluar dari bathroom setelah membersihkan tubuhnya dari sisa lumpur, ia melihat jandi seperti sedang menuggunya, kedua tangan terlipat di dada, memandang keluar jendela. Junpyo mendekatinya.

Junpyo :   ”Jandi-yaa..” panggilnya pelan.

Jandi menoleh, dahinya yang semula terhenyit pertanda kesal mendadak berubah ragu. Lelaki ini hanya menggunakan handuk putih yang terlilit di pinggang. Tubuh dan rambutnya masih basah, menyajikan pemandangan yang eksotis dengan kulitnya yang coklat. Perut dan lengannya memamerkan otot-otot yang mengundang untuk disentuh. Tapi kemudian jandi menggelengkan kepalanya seakan mengumpulkan konsentrasi yang sempat buyar.

Jandi :      ”Goo Jun Pyo.. apa yang terjadi? Kalian bertengkar?” tanyanya serius.

Junpyo :   ”Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran”

Melihat jandi marah dan bukannya membela, junpyo pun mempertahankan gengsinya.

Jandi :      ”Kau selalu saja begitu. Disana banyak anak-anak yang melihat kalian bertengkar.”

Junpyo :   ”Kau marah padaku hanya karena lelaki itu?” tanyanya sinis.

Jandi :      ”Lelaki itu apanya? Dia temanku, juga sahabat jihoo oppa. Kau mana boleh bersikap seperti itu?”

Junpyo :   ”Aku juga sahabat jihoo, tapi kau tidak pernah semanis itu.” wajabnya acuh sambil menghindari tatapan jandi.

Jandi :      ”Lihat, sekarang seakan kalian berebut menjadi sahabat jihoo? Oh, aku bisa gila.” menghela nafas berat, menggigit bibir bawanhya sakin kesalnya.

Junpyo :   ”Lalu aku harus bagaimana? Membiarkannya memelukmu seenaknya? Kau tahu, aku benar-benar ingin meninju wajahnya.”

Jandi :      ”YAH”

Junpyo :   ”Kalian tertawa seakan aku bukan siapa-siapa bagimu. Apa karena dia menyukaimu?” junpyo menyipitkan matanya, memandang jandi dengan tatapan menuduh. Menancap di kedua bola mata coklat itu, menekan pada kalimat terakhirnya.

Jandi :      ”Sikapmu ini sungguh kekanakan.” jandi tidak habis pikir dengan sikap junpyo yang tetap tidak merasa bersalah.

Junpyo :   ”Aku tidak perduli.” semakin dingin.

Jandi :      ”Arasso, kau memang selalu seperti ini, berbuat sesuka hatimu. Kau benar-benar lupa kalau sebenarnya kita sudah bercerai? Kau mengatakan pada semua orang kalau aku istrimu? Berpura-pura sakit? Juga ingin memukul temanku? Kenapa kau tidak juga berubah? Apa mau mu?”

Junpyo :   ”KITA BELUM BERCERAI!!” bentaknya kuat. Junpyo kembali terlihat begitu mengerikan, dia marah.

Mulanya jandi terdiam sesaat, dia shock karena junpyo membentaknya. Mengisyaratkan sikap yang percis seperti saat mereka baru bertemu, sorot matanya tajam mengobrak-abrik perasaan jandi. Gadis itu goyah, junpyo seolah memaksanya menjadi seorang tersalah, mengaburkan siapa yang sebenarnya bersalah diantara mereka.

Jandi melangkah mundur, ia lebih memilih menghindari sikap junpyo yang mulai liar. Ia ingin pergi begitu saja meninggalkan junpyo, tapi baru berjalan beberapa langkah, junpyo langsung menarik tangannya hingga tubuh jandi dipaksa berbalik hingga jatuh dalam dekapan tangan junpyo yang lansung melilit di pinggangnya. Jandi meronta, berusaha melepaskan diri dari junpyo.

Jandi :      ”Lapaskan!”

Bukannya menuruti, junpyo malah semakin mendesak tubuh jandi merapat ke tubuhnya yang polos di bagian atas, ia mendaratkan bibirnya dengan paksa di bibir jandi. Menciumnya secara brutal, gadis itu menolak, bukan karena ciumannya, tapi sikap kasar junpyo membuatnya takut. Apa daya, wajah jandi terkunci ketat dalam kengkraman jari-jari junpyo yang terselip diantara rambut panjangnya. Meskipun memutar wajahnya ke kiri dan ke kanan, menutup mulutnya rapat-rapat, tapi junpyo tetap memaksanya.

Jandi :      ”EMMMM....” mendorong tubuh kokoh itu namun tak berhasil.

Sampai tiba-tiba junpyo sendiri yang melepas ciuman itu, tapi dia sama sekali tidak memberi kesempatan pada jandi untuk menjauh, lagi-lagi junpyo menarik tangannya kemudian memeluk jandi erat-erat seakan begitu takut kehilangan gadis ini. Tangannya yang semula mencengkram keras tubuh jandi kini melemah, lelaki itu membenamkan wajahnya di pundak jandi. Membuat gadis ini ragu saat akan mendorong tubuhnya lagi.

Junpyo :   ”Aku cemburu.” suaranya bergetar.

Jandi terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Junpyo yang semula mengerikan langsung berubah begitu rapuh, membuatnya luluh lantah. Pernyataan itu, menegaskan kalau dirinya seolah sangat mencintai jandi, sementara selama ini jandi mengira lelaki itu hanya menomorsatukan egonya saja, dia salah.

Selama beberapa saat dalam diam,  junpyo menarik tubuhnya hingga keduanya merenggang, menatap wajah jandi dari jarak yang sangat dekat. Dahinya menempel di dahi jandi sementara kedua tangannya menyentuh pipi mulus gadis itu. Dengan bibir yang sedikit terbuka, juga tubuhnya yang bergetar, menerjemahkan batinnya sedang kesulitan menahan butiran air yang menitik di ujung-ujung matanya yang kelam. Jandi terkelu.

Junpyo :   ”Karena dia bilang kau sangat berarti bagi jihoo, aku ingin menunjukkan kalau kau hanya mencintaiku, bukan jihoo. Katakan, aku tidak merebutmu darinya.” kali ini suaranya terdengar begitu berat, serak, putus asa.

Ia tampak tertekan, meski marah, tapi rasa bersalah itu terpancar dari sorot matanya. Jandi terdiam bingung, dia baru menyadari alasan junpyo ingin memukul mark. Lelaki itu mungkin sudah melukai harga dirinya, lelaki yang juga pernah meyatakan cintanya pada jandi tapi ditolak mentah-mentah. Lelaki itu, sama sekali tidak sebanding dengan junpyo, kalaupun seandainya junpyo merebut gadis yang dicintai sahabatnya, tidak sebanding dengan penghianatan yang mark lakukan pada jihoo. Jandi juga baru saja mengetahuinya, ternyata mark sudah mengetahui perasaan jihoo padanya sejak dulu, tapi mark tetap menyatakan perasaannya pada jandi dengan mudah. Jelas sangat berbeda dengan apa yang terjadi antara dirinya, junpyo, dan juga jihoo. Lelaki itu kehilangan kesempatannya bukan karena jihoo, tapi karena jandi memang hanya memiliki perasaan sebagai seorang teman padanya, tidak lebih.

Jandi :      ”Saranghae Junpyo-yaa... Kau benar, aku hanya mencintaimu. Dan dia yang salah...” gumamnya pelan berusaha membesarkan hati junpyo, menyentuh pipi lelaki itu lembut.

Junpyo :   ”Aku bersalah pada jihoo? Katakan lagi jandi-yaa, kau mencintaiku?”

Jandi :      ”Anyi, kau tidak salah. Meskipun apa yang terjadi antara kita sangat menyakitkan, aku... aku tidak bisa berhenti mencintaimu.. Hanya saja, saat ini aku sangat takut.” lebih terdengar seperti desahan.

Junpyo :   ”Itu sudah cukup, jangan bicara lagi.” Kata-kata jandi belum selesai sempurna, tapi bagi junpyo itu sudah cukup. Ia sudah mengerti, tanpa membiarkan gadis itu membuka lukanya lagi.

Hembusan nafasnya menyapu wajah jandi, hidung mereka bahkan sudah bersentuhan.

Tanpa basa-basi junpyo kembali melumat bibir jandi, menciumnya mesra, berharap itu bisa menghilangkan ketakutan yang jandi rasakan. Ciuman yang semakin bergairah, saling melumat dengan mulut yang terbuka dan menutup sambil memainkan lidah mereka, saling mendorong, saling bertaut.

Suara desahan halus jandi berkali-kali terdengar, ia manggeliat saat bibir junpyo dengan cepat menjelajahi lehernya. Semakin dalam, menekan tekuk jandi tanpa memberi kesempatan lepas dari tangan kekarnya. Meraba-raba punggung jandi, memaksa jandi semakin mengencangkan lilitan tangannya di leher junpyo. Jandi mendesah halus, saat jari-jari junpyo semakin liar menyingkap mini dress yang dipakainya, paha mulus itu menjadi saksi remasan geram saat birahi junpyo tak terkontrol lagi, meninggalkan bercak merah bekas jarinya. Dada jandi menekan kenyal dada bidang junpyo yang tak tertutupi sehelai benang pun, memberi akses pada bibir junpyo menyusuri lekuk tubuhnya.

Sekejap junpyo terhenti, ia terhenyak menatap gundukan indah yang putih mulus tanpa cela, mengintip keluar dari gaun jandi. Meski bukan yang pertama baginya, junpyo tak habis-habisnya mengagumi tubuh indah jandi yang seutuhnya adalah miliknya. Sejauh ini, ia tidak lagi bisa menahan hasratnya sebagai seorang pria, ia membutuhkan jandi, saat ini juga.
 
Cuaca yang lembab membawa keduanya dalam peraduan kehangatan setelah junpyo membawa jandi ke ranjang. Sekejap saja pakaian jandi sudah berserakan di lantai, handuk junpyo pun ntah kemana. Keduanya polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi. Ranjang itu sudah berantakan, sementara kedua sejoli ini masih saja menggeliat disana. Hampir setengah jam berlalu, tapi mereka belum menyelesaikan satu ronde pun. Berkali-kali erangan juga pekikan tertahan-terdengar cukup kencang, tapi junpyo masih juga belum mulai memasuki tubuh jandi.

Jari-jari jandi terselip antara rambut lebat junpyo, terkadang juga menggenggamnya kuat, melambangkan kenikmatan yang sedang direnggutnya sekarang. Junpyo yang berada di atas jandi menumpu berat tubuhnya pada lengan yang tersanggah di tempat tidur, agar tidak menimpa perut istrinya. Kali ini bermain sangat lembut dan lambat, meski sebenarnya sangat menggebu, tapi ia juga mengkhawatirkan kehamilan jandi.

Jandi :      ”Junpyo-yaa, ayo sekarang.”


Wajah tampan itu menatap jandi sendu, ia tersenyum puas seakan berhasil mendesak jandi dalam gairah tak tertahankan. Junpyo kembali melumat gundukan di dada jandi, sementara jarinya bergriliya hingga bagian bawah. Memainkan jarinya diantara kedua paha, jandi mengerang nikmat.

Jandi :      ”Junpyo-yaa..  aku.. aku mau...”

Kalimat itu tak selesai diucapkan, junpyo kembali melumat bibir jandi, membekap mulutnya hingga sedikit meronta ketika jari-jari nakal junpyo tak kunjung berhenti menelitik daerah paling sensitif itu. Mengerang dengan nafas tak beraturan, tersengal dan lumer sudah sudah, tak tersisa tenaganya untuk mengerang lagi.

Junpyo :   ”Kau suka?”

Jandi :      ”Ne.” mengangguk cepat seakan terhipnotis, wajahnya merona pink  menyambut senyum puas junpyo.

Tak seberapa lama erangan halus kembali terdengar saat perlahan akhirnya junpyo memasuki tubuh jandi yang pada bagian itu sudah basah dimana-mana. Ia sangat berhati-hati, tanpa hentakan, juga tidak terlalu mengguncang perut jandi. Tapi berhasil membuat jandi mendesah nikmat cukup kuat, jari-jari gadis itu mengepal di punggung junpyo tanpa sadar, kali ini giliran junpyo yang memekik- tergaruk kuku lentik jandi yang tak seberapa panjang. Tidak lama mengguncang tubuh jandi, junpyo tidak lagi dapat menahan dirinya, tangannya yang tadi menopang tiba-tiba saja lemas, mengepal-menarik sprai putih itu kuat-kuat, tubuhnya jatuh menimpa tubuh jandi seiring orgasme yang dirasakannya berbarengan dengan jandi yang sebenarnya sudah beberapa kali mencapai puncak.




         =========================




Eve :   ”Jandi, kami berangkat sekarang. Kalian berhati-hatilah nanti.”

Jandi :      ”Eve, aku ikut dengan kalian saja. Junpyo bisa menyetir sendirian, iya kan?” menatap junpyo yang dari tadi berdiri di sampingnya, memaksa sebuah persetujuan.

Junpyo :   ”Aku tidak yakin. Jalannya.... belok kesana, setelah itu....” terlihat sekali dia pura-pura sedang berfikir.

Jandi mencibirnya, dia tahu junpyo tidak sebego itu.

Eve :   ”Sudahlah, aku bisa mengurusnya. Kau kan sedang hamil, naik bis rasanya tidak akan nyaman. Anak-anak juga tidak rewel kok, serahkan padaku.”

Jandi :      ”Baiklah, kalian hati-hati yaa,,” keduanya berpelukan sebentar.

Kemudian eve menaiki bis, anak-anak sudah menunggunya di dalam untuk perjalanan pulang kembali ke yayasan. Dia melambaikan tangan pada jandi, junpyo dan juga mark yang berdiri di dekat mobil.

Mark :      ”Jandi, dari sini aku juga akan langsung ke Bandara.”

Jandi :      ”Ya, Mark. Sampai bertemu lagi.”

Jandi memeluk mark, keduanya tersenyum. Junpyo hanya menyipitkan matanya memandang keharuan mereka, bagaimanapun dia tidak suka perpisahan.

Junpyo :   ”Ayo kita berangkat sekarang.”

Junpyo membuka pintu mobil, mempersilahkan jandi masuk tanpa mengizinkannya berlama-lama memeluk lelaki lain. Setelah jandi masuk ke mobil, junpyo mendekati mark, menyodorkan tangannya untuk berjabat.

Junpyo :   ”Have a safe trip, bro.”

Mark menyambut tangan junpyo, keduanya bersalaman erat sebagai laki-laki.

Mark :      ”Kau juga. Sampaikan salam ku pada jihoo.”

Kemudian mobil mereka lebih dulu melaju, disusul oleh mark, semuanya kembali ke Boston.




         =============================




Beberapa hari berlalu setelah liburan itu, jandi kembali beraktifitas seperti biasa. Memasuki minggu ke sepuluh kehamilannya jandi mulai bergerak agak lambat, ia mulai dapat merasakan secara nyata keberadaan janin di perutnya. Meskipun tubuhnya yang kecil tidak begitu menampakkan perubahan pada ukuran perutnya secara signifikan. Hubungannya dengan junpyo juga semakin mambaik. Mereka sibuk membahas tentang kelahiran bayi mereka, tanpa berani menyinggung tentang Seoul sedikitpun. Belum ada solusi akan hal itu, sementara jandi tidak ingin membahasnya, dia tetap tidak mau pulang kesana. Dia akan marah dan sedih setiap kali junpyo membujuknya pulang, karena itu masalah ini hanya memuai begitu saja.

Mereka hanya menikmati hal-hal sederhana yang biasa mereka lakukan sehari-hari, tak pernah sekejap pun junpyo lupa kalau jandi sedang mengandung. Dia  memperlakukannya bak permaisuri, terlalu memanjakan jandi, bahkan terkadang membuat jandi kesal karena terlalu berlebihan. Di pagi hari tanpa rasa jijik junpyo ikut menemani jandi di toilet selagi istrinya itu mengalami morning sickness. Dia juga memperhatikan gizi jandi selama tidak ada pelayan yang mengurusi hal ini, memaksanya minum susu tiga kali sehari, terkadang itu membuat jandi mual. Saat berbelanja, langkah junpyo selalu tertuju pada spot yang menjual perlengkapan bayi, disini mereka sering berdebat karena jandi belum mau membeli apapun. Junpyo juga sering memberinya surprise, pernah ia menyiapkan candle light dinner yang romantis di atap gedung apartemen. Dengan iringan musik dan makanan korea yang secara khusus dimasak oleh seorang koki, membuat jandi terwah-wah saat itu juga. Ntah dari mana dia bisa mendapatkan izin itu, bahkan mereka bermain kembang api di balkon kamar jandi. Setiap hari mereka lewati dengan mesra, terkadang bertengkar kecil dikarenakan sikap arogan junpyo, tapi selalu saja berakhir di ranjang. Suasana apartemen menjadi berwarna sejak kehadiran junpyo, kenangan bersama jihoo tergantikan begitu saja di apartemen ini oleh tingkah konyol, mengesalkan, juga kehangatan junpyo.



Seperti siang ini, junpyo seperti biasa menjemput jandi di yayasan untuk megajaknya makan siang. Sudah hampir satu jam dia bermain dengan anak-anak disana sambil menuggu jandi, tidak pernah sedikitpun ia terlambat mengawasi jadwal makan jandi.
Tidak seberapa lama, junpyo melihat jandi keluar dari salah satu gedung disana bersama seorang wanita paruh baya. Junpyo tersenyum dan melambaikan tangannya ketika pandangan gadis itu tertuju ke tempat dimana ia berdiri, ya-junpyo selalu berada disana menunggunya.

Wanita paruh baya yang ternyata adalah kepala sekolah, tertawa menyaksikan tingkah junpyo yang begitu manis, orang-orang disana sudah terbiasa dengan kehadiran suami jandi ini.

Kepala sekolah :   ”Suami mu sudah datang nona jandi, dia sangat manis. Hahaha” mengedipkan sebelah matanya, menggoda jandi.

Jandi tersenyum malu, junpyo memang langsung populer di lingkungan yayasan sebagai suami yang sempurna. Bagaimana tidak, dia selalu datang dengan tingkah yang dianggap jandi konyol, tapi bagi mereka perhatian junpyo itu adalah idaman semua wanita. Di sela-sela waktu, dia datang membawakan manisan asam yang biasanya disukai wanita hamil dalam jumlah yang sangat banyak. Meskipun berniat membagikannya pada orang-orang disana, tapi tak banyak yang mau memaknnya. Mungkin dia lupa, tidak semua orang di yayasan itu sedang hamil seperti jandi, dia sendiri juga ogah mencicipinya. Junpyo juga menunggu jandi tepat di depan gedung dengan payung di tangannya ketika turun hujan, takut jandi kehujanan. Bukan hanya itu, dia juga membawakan jacket untuk wanita yang dicintainya itu. Wanita-wanita disana iri bukan kepalang pada jandi, selain tampan, suaminya itu juga sangat perhatian. Tidak dipungkiri, meski terkadang risih, tapi hatinya luluh seiring waktu. Jandi yang sebenarnya adalah gadis yang sangat mandiri, sekarang jadi begitu bergantung pada junpyo.

Kepala sekolah :   ”Baiklah, saya pergi duluan, sampai jumpa.”

Jandi sedikit membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum pada wanita itu, kemudian berjalan menuju pada junpyo yang berada di bawah pohon rindang. Baru saja jandi tiba, junpyo langsung memelukknya sambil tersenyum seolah sudah sangat lama merindukannya.

Junpyo :   ”Aku merindukanmu.” katanya pelan sambil memeluk jandi erat.

Benar saja, sikapnya selalu seperti ini. Tapi jandi merasa senang, dia sebenarnya juga sangat merindukan junpyo meski mereka tidak bertemu hanya dalam hitungan jam.

Jandi :      ”Junpyo-yaa, anak-anak melihat kita.”

Beberapa anak disana tertawa menyaksikan ini, mereka saling berbisik, sukses membuat pipi jandi merona merah. Junpyo melepas pelukannya, kemudian menggenggam tangan jandi, berjalan menuju mobil yang terparkir di dekat sana. Kemudian pergi ke sebuah restoran untuk makan siang.

Di dalam perjalanan, ponsel junpyo berdering. Tapi junpyo bahkan tidak bergeming apalagi menjawabnya, sama sekali acuh. Jandi menatapnya heran, wajah lelaki itu mendadak seperti sangat risih.

Jandi :      ”Junpyo-yaa, kau tidak mau menjawab telponnya?”

Junpyo :   ”Tidak perlu dijawab, aku tidak ingin diganggu.”

Sebenarnya sudah berkali-kali seperti ini, saat bersama jandi setiap kali ada telpon junpyo tidak pernah mau menjawabnya. Setiap kali ditanya jawabnya selalu seperti itu ”TIDAK PENTING. TIDAK MAU DIGANGGU.” selalu saja. Jandi agaknya tahu kalu telpon itu pasti dari Seoul, tapi dia juga tidak ingin menanyakannya. Karena setiap kali membahas Seoul, junpyo pasti memaksanya untuk pulang. Karena itu jandi berlagak tidak mau tahu, tidak menanyakannya lebih lanjut.

Dia hanya tidak tahu kalau sebenarnya junpyo sangat tertekan akan hal ini, dia tidak ingin menyakiti jandi dengan mengajaknya kembali ke Seoul. Tapi di sisi lain, tidak mungkin baginya untuk terus berada disini. Junpyo tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia hanya tidak ingin kembali ke Seoul tanpa jandi. Dan itu sangat sulit, dia terpaksa diam, berusaha tidak menyinggung tentang masa depan hubungan mereka.

Junpyo :   ”Jandi-yaa, setelah makan siang kita ke rumah sakit ya? Aku sudah membuat janji dengan dokter kandungan.”

Jandi :      ”Tapi aku baru saja kontrol dua minggu yang lalu.”

Junpyo :   ”Kau tahu, aku sudah lama menunggu saat seperti ini. Aku ingin melihat anak kita.” junpyo tersenyum senang sambil sesekali menoleh pada jandi di sebelahnya yang juga hanya tersenyum.



------------------------------------------------


Di sebuah Rumah Sakit terbesar di kota itu, junpyo memperhatikan setiap detail gambar yang tertampil di monitor USG saat dokter menjelaskannya. Tatapannya takjub, juga berkaca-kaca, begitu antusias sampai mulutnya terbuka tak mampu berkata-kata. Ia menggenggam tangan jandi erat saat itu, menertawai dirinya sendiri seolah begitu lucu melihat separuh dari hidupnya berada di dalam perut wanita yang sangat ia cintai itu. Kebahagiaan ini sulit dijelaskan, mendadak gengsinya hilang, bahkan rela terlihat cengeng kali ini.

Junpyo :   ”Dia bergerak?” junpyo sedikit membungkuk memperhatikan monitor dari jarak yang sangat dekat.

Sang Dokter tersenyum, padahal belum terlihat jelas, tapi junpyo sangat antusias.

Dokter :   ”Beberapa bulan ke depan akan terlihat lebih jelas, si ibu harus rajin merangsang bayi, bisa jadi dia akan lebih cepat bereaksi.”

Junpyo :   ”Dia laki-laki atau perempuan? Oh, tidak. Tidak. Lebih baik surprise saat kelahiran saja. Iya kan sayang?”

Junpyo tanpa segan langsung memberi kecupan sayang di dahi jandi, membuat gadis itu malu. Matanya mendelik kesal pada junpyo, giginya juga menggertak. Si dokter malah senyam-senyum saja.

Dokter :   ”Jenis kelamainnya juga belum bisa terlihat sekarang.”


-----------------------------------------------


APARTEMEN

Tak terasa, hari sudah malam. Jandi masih sibuk membaca buku setelah makan malam tadi, kepalanya tersandar di pundak junpyo yang duduk di sebelahnya sambil menonton televisi. Saat merasa lelah, kepala jandi turun begitu saja dan menopang di paha junpyo sementara dirinya berbaring di sofa tanpa melepas sedikitpun pandangannya dari buku yang sedang di bacanya.

Junpyo :   ”Sayang, ayo tidur. Sudah larut.”

Jandi :      ”Sebentar lagi.” jawabnya acuh.

Junpyo :   ”Jangan membaca terlalu dekat, nanti mata mu sakit.”

Jandi :      ”Tidak, aku sudah biasa. Hanya sedikit pusing.”

Junpyo :   ”Ayo bangun.”

Junpyo sedikit bergeser agar kepala jandi terlepas dari pahanya, sontak saja gadis itu bangun karena tidak nyaman, protes.

Jandi :      ”Yah, kau jahat sekali.” memonyongkan bibirnya.

Junpyo :   ”Ayo kita tidur.” Bukannya minta maaf, junpyo malah mengambil kesempatan itu untuk langsung mengangkat tubuh jandi ke dalam gendongannya.

Jandi :      ”Yah.”

Buku itu terlepas jatuh ke lantai sakin terkejutnya. Sedikit menggeliat, jandi terus saja mengoceh manja saat dibawa oleh junpyo ke lantai atas, ke kamarnya.

Jandi :      ”Aku belum mau tidur.”

Junpyo :   ”Kita tidak langsung tidur.”

Jandi :      ”Lalu?”

Junpyo :   ”Kau akan tahu nanti.”

Jandi :      ”Aku sudah tahu.”

Junpyo :   ”Kalau begitu jangan protes lagi.”

Jandi :      ”Aku tidak protes.”

Junpyo :   ”Kau tadi protes.”

Jandi :      ”Anyio.”

Junpyo meletakkan tubuh gadis itu perlahan, membenarkan posisi bantal di kepala kemudian menyelimutinya dan memberi kecupan hangat di dahi jandi. Gadis ini hanya memperhatikannya saja, tapi mendadak rautnya berubah heran saat junpyo mau beranjak dari sana. Jandi langsung menarik tangannya.

Jandi :      ”Kau mau kemana?” menatap junpyo penuh tanya tanpa melepas genggamannya, bahkan semakin erat.

Junpyo :   ”Ponselku tertinnggal di bawah, aku mau mengambilnya sebentar.”

Jandi :      ”Oh, okay. Aku menunggumu.” tersenyum penuh arti dengan tatapan menggoda sampai-sampai junpyo berkedip berkali-kali, dia tertawa melihat jandi begitu tidak sabaran kali ini. Senyum yang semakin merekah di wajah cantik jandi memang membenarkannya.

Junpyo :   ”Ne, aku segera kembali.” membalas senyum jandi, memamerkan lesung pipi manisnya.

Setelah pintu itu tertutup rapat, jandi beranjak ke bathroom. Selama beberapa saat ia mempersiapkan dirinya untuk menyambut junpyo saat kembali ke kamar nanti, dengan cepat jandi juga memilih gaun tidur seksi yang jarang sekali ia kenakan.
Tapi sudah beberapa menit jandi mondar-mandir gelisah, junpyo masih tak kunjung datang, tidak salah kalau dirinya jadi cemas dan memutuskan untuk mencari junpyo di lantai bawah.


-----------------------------------------


Nyambuuuungggggggggggg ke bawah  [smiley-dance013] ~~~~~
« Last Edit: November 16, 2011, 09:15:12 am by Be my self »