Poll

okay, gw buat polling lagi yg berhubungan dgn karakter mh. kesempatan terakhir, siapa yg anda inginkan tuk jd mh??? perlu diingat, jumlah vote tdk mempengaruhi keputusan terhdp penentuan karakter mh, gw cuman ingin liat suara hati para pembaca sekalian, t

Sheldon
6 (40%)
alden
9 (60%)

Total Members Voted: 13

Author Topic: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#  (Read 13659 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
SPOILER ...




"Nona .... " Bibi So membungkuk dan tersenyum ramah.

"Bibi ... menungguku ... ?" tanya Elsie heran.

"Saya takut nona akan tersesat di sini. Rumah ini terlalu besar buat orang yang untuk pertama kali menginjakan kaki di sini, seperti nona ... ," jelas Bibi So panjang lebar. "Lagipula, .. saya berkewajiban mengantar nona ke ruang makan. Sebentar lagi, acara makan malam akan dimulai. Tuan muda pasti sudah siap di sana ... " Bibi So menelusuri penampilan Elsie dengan pandangannya. "Hm--tidak disangka ..  gaun yang sudah limabelas tahun ini begitu pas di tubuh nona. Tuan muda benar-benar jeli matanya, .. hingga bisa menduga ukuran tubuh nona sama dengannya. Yah, walau sedikit ketinggalan jaman tapi ... nona tetap terliat mempesona dalam balutan gaun nyonya ... "

Setelah berkata begitu, Bibi So sudah bermaksud beranjak dari tempatnya. Namun, langkahnya terhenti oleh perkataan Elsie yang lebih mirip gumaman pertanyaan.

"Nyonya?"

Bibi So menoleh dari posisinya. Dia tersenyum. "Ibu dari tuan muda ... "

"O--" Elsie manggut-manggut di tempatnya. Tanpa sadar, dia tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata dia telah sangka, .. bagaimana mungkin dia mengira, nyonya yang dimaksud Bibi So itu istri dari Alden Song?





Sepeninggal Bibi So, ....

"Makanlah ... "

Setelah mengatakan itu, Alden mengambil sendok dari atas meja di samping mangkuknya_menyendok sesuap demi sesuap sup di dalam mangkuk dan memasukannya ke dalam mulut dengan sangat pelan.

Elsie melihat semua itu, ... pria di depannya tidak bersuara, khusuk dengan makan malamnya.

Alden mengangkat mangkuk nasinya,  menyumpit dengan pelan-pelan dan membawa butiran-butiran nasi putih tersebut ke dalam mulutnya. Dia mengunyah dengan tenang dan dengan gayanya yang tanpa cacat. Dia terlihat sangat berwibawa saat makan, .. sungguh merupakan contoh dari anak orang kaya yang terdidik dengan baik. Tangannya silih berganti menyumpit lauk yang diinginkan, memakannya dengan tanpa memperlihatkan bahwa dia makan karna 'lapar', tapi terlebih karna ini merupakan 'kewajiban'.

Sudah lewat tujuh menit ketika Elsie menghela nafas dan mulai menyantap makan malamnya. Percuma mengatakan apa juga, orang ini--sepertinya terbiasa makan tanpa bersuara--HUH!! Berpikir begitu, Elsie melahap makanannya dengan sedikit kesal.




Mata Elsie menyipit, menghujam lekat wajah Alden yang sekarang sedang melanjutkan makan malamnya. Pria itu bergerak tenang, seolah insiden kecil tadi,_tidak pernah terjadi dan sama sekali tidak berpengaruh terhadap dirinya.

Dia begitu tenang, ... begitu percaya diri. Seolah segala sesuatu ... berada dalam genggaman tangannya, ... berada dalam kendali dan kuasanya. Tidak akan meleset dari perhitungannya. Apa yang dilakukannya, ... apa yang sudah diputuskannya, ... dan apa yang dipikirkannya, benar adanya. Tidak ada yang salah dalam tindakannya. Dia tahu apa yang 'harus' dan 'pantas' dilakukan. Maupun apa yang 'tidak boleh' dan mesti 'dihindarinya'.

Tatapan Elsie meredup. Orang seperti dia, .. begitu jauh ... begitu tinggi, ... seolah tidak teraih. Sudah pasti dia tidak suka wanita seperti aku.  Dia pasti berpikir, aku ini begitu rendah, begitu tidak berguna, ... tidak berpendirian, ... tidak tahu apa yang dilakukan. Elsie menghela nafas dan menundukan kepalanya. Kenapa, ... kenapa aku merasa begitu kecil di hadapannya ... ? Dan kenapa .... hatiku ... terasa ... nyeri ... ? Berpikir sampai di sini, entah mengapa, bibir Elsie jadi terkelu.




Elsie menunjuk ke depan, ke lukisan di depannya. "Dia ... ?"

Alis Bibi So berkenyit semakin dalam. "Sudah saya bilang kan? Lukisan itu tuan muda .. "

"Bukan itu maksudku!" tukas Elsie yang tiba-tiba berubah keras. "Maksudku, siapa sebenarnya dia? Dari keluarga mana? Bagaimana reputasi dan kedudukannya di London ini?"

Bibi So sedikit menyusut begitu diberondong pertanyaan beruntun dari Elsie. Dia agak gentar ketika menjawab lambat-lambat. "Dia .. tuan muda Alden Song. Tentu saja pewaris dan pemilik tunggal dari Tax-Jack, perusahaan migas terbesar yang berpusat di Brunai ... "

Elsie terhenyak sampai ujung kakinya menyentuh kaki sofa.  "Alden Song! Alden Song!" Bibirnya komat-kamit mengulangi nama itu.




Sheldon menghempaskan majalah di tangannya ke atas meja kecil di café kecil yang sedang dikunjunginya dengan Alden siang itu.

"Coba kau bilang--dia bisa kemana?!" umpatnya keras. "Di Han's Palace_tidak ada! Tidak juga ke kantor! Bahkan tempat yang mungkin didatanginya, sudah kudatangi, tapi tetap saja tidak kutemukan-HUHH!!”

Alden yang duduk di depan Sheldon memperhatikan kejengkelan sahabatnya yang membuncah itu dalam diam. Cangkir kopi yang sudah habis diminumnya diletakkannya di atas meja kemudian meraih sepotong cookies dan mengigitnya pelan.

“Menurutmu, apa dia marah padaku?” tanya Sheldon yang berubah jadi khawatir. “Memang benar sih mama sudah keterlaluan, tapi kan .. saya sudah menjanjikan padanya bahwa semua akan baik-baik saja … “ Sheldon mengacak-ngacak rambutnya frustasi. “Kenapa dia masih takut dan meragukan semua itu? Meninggalkanku? OH__TIDAKKK!!”

BRAKKKK!!

Sheldon mengebrak meja. Tubuh jangkungnya berdiri tegak dari kursi dengan sepasang mata terbelalak menakutkan.

“Bisakah kau lebih tenang dulu?” Untuk pertamakalinya, Alden mengeluarkan suaranya.

“Bagaimana saya bisa tenang?!” balas Sheldon dengan nafasnya yang memburu. “Dia meninggalkanku!!! Kau dengar itu?!! DIA MENINGGALKANKU!!!!”


« Last Edit: November 27, 2011, 12:37:24 am by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun