Author Topic: THE PRISONER OF PRINCE Chapter 8 21102012  (Read 25298 times)

Offline hye sun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1252
    • View Profile
Re: THE PRISONER OF PRINCE CHAPTER 5 16 October 2011
« Reply #360 on: December 21, 2011, 11:52:32 am »



Song Ok Sook aka Bibi Ma





CHAPTER 6


Jandi melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor panjang, diiringi bibi Ma yang berjalan terlebih dahulu. Sesekali ia tatap lagi tembok kokoh istana itu, sambil membawa tas kecil yang berada digenggamannya_menggenggamnya erat mencoba menghilangkan rasa takut yang kali ini semakin menghantuinya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai diruangan itu. sebuah ruangan yang terletak dilantai dua istana Goo Jun Pyo.
 
CRAKKKKKKKKKK pintu itu terbuka, saat sang pelayan memutar kunci dan menyentuh gagang pintu.

Dalam sekejap, Mata bulat itu segera menangkap sebuah kamar indah dengan ranjang ukuran besar, dibalut dengan seprai berwana keemasan tebal. Ruangan itu tertata rapi dengan barang- barang mewah yang bernilai seni tinggi, elegan, dan terkesan sangat mewah.






Pada awalnya ketakjuban menghiasi pikiran geum jandi, namun  ketika ia sadar bahwa kini ia “tawanan” diistana sang Pangeran, seketika itu juga ruangan mewah yang ada dihadapan terasa bagai penjara.

“masuklah” nada pelayan terdengar dingin dan datar.

Jandi melangkahkan kakinya yang gemetar, mengikuti setiap langkah pelayan. Matanya mengamati satu persatu keindahan “penjara” yang ada dihadapannya. “apakah ada lubang dikamar ini, untukku agar bisa lari?” bisiknya dalam hati.

 “ini…akan jadi kamarmu, nona” tukas bibi ma sembari membukai tirai yang membuat gelap kamar itu.

Jandi hanya diam tidak menjawab diiringi wajah yang tertunduk_ menggenggam erat tas itu ditangannya, mencoba menghilangkan rasa takut yang selalu hinggap sejak kejadian dimalam terkutuk itu.

SRETTTTTTTTTTT

Untuk beberapa saat ia menyipitkan mata indahnya_merasa silau saat cahaya mentari pagi yang menyinari rungan itu sampai akhirnya, ….

Tubuh mungil itu seketika kembali gemetar dengan hebat, saat bola mata indah itu menatap wajah arrogant yang kini tergambar jelas dihadapannya!




“bagaimana, apa…kau menyukai kamarnya nona?” tanya bibi Ma yang tidak pernah mengetahui bahwa gadis itu kini ketakutan luar biasa.

“nona ?” panggil bibi Ma sembari menatap heran, dan dengan perlahan melangkahkan kakinya mendekati tubuh kaku jandi.
 
“apa…yang anda lihat?” pelayan tua itu seolah menyelidik. “ohh, itu…lukisan Prince Jun. setiap kamar mewah diistana ini…. Dihiasi dengan lukisannya, nona.” Bibi Ma menjelaskan seolah mengetahui apa yang ada dipikiran gadis yang kini berdiri disampingnya.

Jandi yang pada awalnya hanya terdiam kaku , kini membalas pernyataan pelayan tua itu.

“bo…bolehkah, lukisan itu…. diturunkan….?” Tukasnya dengan nada parau.

Bibi Ma tersenyum dingin “jangan pernah melakukannya nona!”

Jandi menatap gugup wajah pelayan….




“Terus terang….saya benar- benar terkejut akan perintah prince Jun untuk membawamu kekamar ini, jadi… menurut saya…. Pergunakan kebaikan prince dengan sebaik- baiknya, jangan pernah merubah apapun dikamar ini…. termasuk lukisan dan… foto- foto yang berada disisi tempat tidurmu”

Jandi lagi- lagi hanya diam dengan pandangan ketakutan. Saat ia sadar bukan hanya lukisan itu yang akan menemani tidurnya, tapi juga foto- foto arogant tampan sang pangeran yang menghiasi kamar mewah itu.

 Untuk sesaat ruangan terasa hening….

“baiklah!, kalau begitu…aku…akan meninggalkanmu disini” bibi Ma, melirik wajah pucat jandi.

“kau akan bekerja….sepulang Prince Jun dari SHINWA” Jandi mengigit kuku- kuku jarinya, ketika ia kembali dikuasai rasa takut saat mendengar nama lelaki itu ditelinganya.

Pelayan Ma melirik heran, dan dengan tidak menggubris perilaku aneh gadis itu ….ia langkahkankan kakinya perlahan, meninggalkan ruangan itu seolah malas jika harus bersama gadis yang menurutnya sangat tidak menyenangkan. Gadis yang hanya memiliki pandangan mata kosong, dengan wajah pucat pasih, meski terkadang bibi Ma sadar, jandi adalah gadis yang sangat cantik dengan mata bulatnya yang indah.

TUP terdengar pintu ditutup, jandi menghela nafasnya lagi- lagi membiarkan kedua mata bulatnya mengamati ruangan itu….

Dan dengan langkah tatih ia tatap lukisan wajah arrogant prince Jun, mencoba menjadikan wajah itu “kebiasan” dan bukan ketakutan baginya…..

“ lukisan ini terasa nyata….  Seolah kini ia berdiri dihadapanku…dengan tatapan mata tajam yang membunuh, …., memilikiku, menginginkanku….menghancurkanku kapanpun ia inginkan….”

Untuk sesaat jandi membiarkan matanya menatap hanya satu arah_memberanikan diri melawan ketakutan yang kini semakin menguasainya….

Hingga akhirnya……

BUZZZZZZZZ terasa hembusan dingin, membuat bulu roma bergidik

“kenapa….aku terus merasakan nafas itu….desahan itu…yang semakin membuatku takut!” bisik jandi saat ia merasakan kesendirian akan udara yang seketika terhenti diruangan itu.

“aroma nafasnya…. Aroma…Tubuhnya yang kini semakin menjalar diotakku” mata jandi seolah memburu saat nafasnya seketika terasa sesak

“hentikan…hentikan….hentikan!!!”bisiknya tertahan, sembari menjatuhkan tubuhnya kelantai.

Ia gigit kuku- kukunya untuk kesekian kali, dengan tubuh gemetar sembari sesekali menyeka bibirnya, kulit serta lekuk lehernya yang kali ini terasa ada hawa hangat yang membelenggu disetiap inchi tubuhnya.

“hentikaaaaaaaaan!” seketika terdengar suara jeritan yang menghiasi kesunyian ruangan yang baru beberapa menit yang lalu ia tempati, dan dengan matanya yang berair jandi seketika tersentak saat tiba- tiba!

CRAKKKKKKKK terdengar pintu terbuka, membuat dentuman besar saat pintu itu beradu pada dinding tembok.

seorang wanita berdiri tepat didepan pintu, dengan pandangan menusuk memandang tubuh jandi yang bersimpuh ketakutan dilantai.

“a….apa yang kau lakukan?” suara itu seolah menekan dengan matanya yang terbelalak, “ Apa yang kau lakukan disini!!!!” jerit minyoung kali ini saat ia sadar, “rival”nya tepat berada dihadapan.


------------




“dia perawan, saat aku bercinta dengannya?” junpyo bergumam diantara lamunannya, terpaku didepan meja kerja sembari memainkan pena dengan jemari.
Untuk sesaat “rasa bersalah” kembali menghantuinya….

“tidak mungkin” junpyo menggeleng “ aku masih ingat kejadian malam itu, kejadian disaat ia bagai pelacur murahan, terbaring dalam pelukan bajingan itu!!”

“tidak mungkin!!!!”jerit minho sembari melempar pena dan kertas kerja hingga berhambur kelantai.

Dengan nafas memburu, prince jun mencoba menenangkan dirinya…

“aku tidak pernah salah atas apa yang kulihat!” kali ini junpyo berbisik, sembari menahan geram dan amarah yang berkecamuk saat mengingat kejadian lima tahun yang lalu.

“dan aku bukanlah iblis yang Pemaaf geum jandi”bisik prince jun “aku tidak pernah menyesali yang terjadi semalam, tidak!”

“aku tidak akan pernah menyesal!!!!”


…..



“apa yang kau lakukan disini!!!!” jerit minyoung sembari melirik tas pakaian yang tergeletak disisi tubuh jandi.

Jandi yang terisak_gemetar, memandang wajah wanita yang perlahan menghampirinya.

“beraninya kau berada dikamar ini, kamar yang bukan…..” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba- tiba….

“Agashi!” suara bibi ma terdengar bagai lengkingan, membuat minny membalikkan tubuhnya menatap dingin wajah bibi Ma.
“hentikan kemarahan anda, dan biarkan prince Jun yang menjelaskan semuanya.”

“Jun??? jadi…oppa yang sengaja membiarkan pelayan ini untuk tinggal satu kamar dengannya??!!!” jerit park min young yang seketika membuat jandi terkejut bukan main.




“a…apa maksud anda, agasshi….a…apa maksud anda….?” Tanya jandi dengan suara gemetar, mengangkat tubuhnya yang sedari tadi terbujur lemah.

“huh!, jangan katakan bahwa kau tidak tahu, nona pelayan!” minyoung memicingkan matanya “aaa, aku lupa bahwa kau pelayan baru dirumah ini!, baiklah Kalau begitu…Aku akan menjelaskan padamu nona pelayan, bahwa kini…kau berada dikamar kekasihku, kekasihku …Goo Jun Pyo, !!!”

“Agashi….!! mari kita selesaikan semuanya diluar, saya yakin…. Tindakan anda barusan benar- benar akan merugikan diri anda sendiri!”bibi ma mencoba meraih lengan minny sampai akhirnya, gadis itu menolak dengan liar.

“beraninya kau bicara begitu padaku, pelayan tua!!!” balas park min young. “ oppa harus menjelaskan semua ini, dan aku tidak membutuhkan pelayan tua sepertimu untuk menenangkanku!”

Dengan cepat park min young meninggalkan kamar sembari menghentakkan kakinya saat Kecemburuan kini menghiasi hati dan jiwanya. Ia melangkah sambil menjerit_jeritan hebat dalam tangisan yang memecah di kesunyian istana itu.



Jandi terpaku, berdiri masih dengan dua kakinya yang gemetar….

”ja…di…i…ni ka…marnya ?” suara jandi terdengar gemetar. “anda….membohongi saya, bibi….?” Tanya jandi sembari menahan tangisnya yang akan memecah.

Bibi Ma tersenyum mendengar ucapan jandi yang kini terlihat menangis. Gadis itu seolah tidak percaya bahwa Prince Jun  benar- benar akan menjadikan dirinyanya seorang “budak” diatas tempat tidurnya…

“yang saya tahu….saya hanya menjalankan tugas nona, karena bagi pelayan setia berbohong sama sekali bukanlah suatu dosa baginya” tukas bibi Ma dengan nada parau “jadi…saya rasa, saya tidak harus meminta maaf kepada anda….”

Bibi ma terdiam sejenak setelah memberikan alasannya, begitu juga dengan jandi yang hanya mampu terisak. Untuk sesaat mereka saling bertukar pandang, sampai akhirnya pelayan tua itu melangkahkan kaki_ berjalan, meninggalkan ruangan.

Namun, sebelum sampai ke muka pintu ruangan , wajah tua itu membalikkan pandangannya kebelakang_menangkap lagi ketakutan diwajah jandi.

“jangan pernah tinggalkan kamar ini, sebelum ada perintah dari Prince Jun. Karena kau tahu…bagaimana kekejaman prince saat perintahnya diacuhkan,bukan?”suara itu seolah mengingatkan, membuat tubuh gemetar jandi semakin melemah.

Dan,….

BUKKKKKK tubuh itu seketika rebah, seiring suara pintu yang tertutup. Gadis itu terjatuh sembari terisak_menunjukkan kepada dunia, bahwa kini ia tiada berdaya.

Dalam tangisnya ia tatap lagi lukisan prince yang berdiri gagah, seolah kini mengamatinya dengan pandangan mata yang tajam….

“siapa kau sebenarnya….. siapa kau??! …..”isak jandi  “tuhan!! Tolong aku…tolong aku….”



------------------------------------


Ny. Geum tersadar dari lamunannya, ketika terdengar ketukan pintu. Ia tatap asal suara, sembari mengangkat tubuh lemahnya…..

CRAKKKKKK, terdengar suara pintu yang dibuka.

“mickey?” sapa Ny.Geum sembari tersenyum kecil “masuklah…” tukas Ny.Geum dengan suara yang pelan.

“apa…bibi sudah merasa baik?” tanya mickey sembari merangkul punggung tua itu.

“untuk saat ini, aku tidak merasakan apapun mickey. Karena rasa sakit akan kehilangan puteriku, membuatku…. Tidak mampu lagi melakukan apapun, bahkan jika hanya untuk menangis” suara Ny.Geum terdengar lemah  sembari merebahkan tubuhnya diatas kursi tua, diikuti mickey.

“bibi…. Aku tidak pernah tahu masalah yang sebenarnya, dan aku hargai jika bibi tidak ingin menceritakan semua padaku” mickey berujar sembari menggenggam tangan Ny.Geum yang gemetar. “tapi…. Aku mohon, lakukan sesuatu. Aku berjanji akan membantumu bibi, karena… jandi adalah teman baikku, aku mohon bibi….aku mohon….” Suara mickey terdengar memelas, dengan tatapannya yang rapuh.

“tidak ada keadilan dunia yang mampu menolong puteriku” suara Ny.Geum terdengar parau. “lelaki itu memiliki semuanya, dia mampu melakukan apapun yang ia inginkan mickey”

“bagaimana mungkin bibi!, bibi tahu bahwa lelaki itu membawanya, bibi juga mengenal bajingan itu! Aku juga yakin setelah Mr.Jang mendengar kejadian yang sebenarnya, beliau tidak akan tinggal diam!” nada mickey kali ini terdengar kesal.

“tidak…. Semua sia- sia mickey, karena …..” Suara itu terhenti seolah menahan tangis, saat tenggorokanpun terasa pekat.

"karena??" mickey kembali berujar dengan suara menyelidik “ka….katakan padaku bibi”

“karena….lelaki itu berhak atas puteriku, mickey”

Mickey membelalakkan kedua matanya ketika mendengar pernyataan dari Ny.geum.

“berhak? Apa maksud bibi, aku…tidak mengerti”

Ny.Geum menundukkan pandangannya, air matanya menetes perlahan....

“yang kau tahu lelaki itu membawanya, membawanya paksa. Tapi…apa kau tahu kenapa ia melakukannya, mickey?” suara Ny.Geum kembali terdengar melemah.

“bi…bi jangan membuatku takut, tolong…jelaskan semua padaku bibi, siapa lelaki itu, siap lelaki itu!” nada mickey kembali meninggi.

Untuk sesaat Ny.geum tidak menjawab pertanyaan dari pemuda yang kini ada dihadapannya, ia hanya menangis_menangisi yang telah terjadi. Sampai akhirnya, dengan terpaksa ia buka kembali masa lalu dari kehidupannya, ketika Mickey kembali mendesak dengan permohonannya…

“dia berhak….karena dia….suami dari puteriku, suami dari geum jandi, dia…suaminya, mickey….Prince Jun adalah suaminya….” Isak Ny.Geum, kali ini dengan tangisan yang memecah, seolah tidak mampu menahan, diiringi keterkejutan luar biasa dari lelaki yang kini ada dihadapannya.

 
“bwo?!”





-----------



BUZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ

Mobil bercat merah itu melesat kencang, diiringi semilir angin yang berhembus kencang disiang itu. Mobil itu seolah berlari mengejar waktu, dan terhenti saat sang pengemudi yakin ia telah tiba pada tujuannya….







Langkah kaki jenjangnya terlihat sedikit memburu, saat memasuki SHINWA. Dengan angkuh park min yong melangkah dengan gaun mini berwarna hitam, rambut pirang yang tergerai_ dihiasi sepasang giwang mutiara dikedua telinganya.

Semua mata menatapnya, saat mereka yakin gadis itu terlihat habis menangis ketika kedua mata bulatnya, tampak terlihat sembab. Beberapa orang berpandangan seperti itu, tapi tidak dengan beberapa lelaki “hidung belang”, yang memperhatikan gaun mininya, meski gadis itu hanya memperlihatkan kulitnya yang pucat.

TAP TAP TAP

Minny melangkah memasuki lift yang akan membawanya menuju kantor Goo Jun Pyo. Wajahnya terlihat menekuk _ masih tampak terlihat kesal luar biasa, menggerutu aneh sembari sesekali menggigit bibirnya…

.
.
.


“ dimana, oppa!?” tanya park min yeong tanpa ragu kepada sekretaris muda yang sedang asyik berkutat dengan tugasnya.
Sekretaris itu sedikit tersentak, dengan wajah heran saat tiba- tiba seorang gadis asing terdengar menyapa dengan suara yang terdengar menekan dan kasar….

“o…oppa…?” tanya sekretaris sembari mengerutkan dahinya.

“ya!oppa!!!”

Meski pada awalnya sekretaris itu tampak terlihat bingung, namun Beruntung sekretaris itu dengan cepat mencerna maksud dari gadis yang menurutnya dungu saat mencari “oppa” di perusahaan Besar itu.

“maksud anda…. Tuan Goo?” tanya sekretaris.

“apa kau bodoh!atau mungkin kau tuli!, tentu saja Goo Jun Pyo!, kekasihku!” jerit Park Min Young, membuat beberapa pasang mata yang berada diruangan lagi- lagi menatap heran atas tingkah gadis “terhormat” sepertinya.

“jika anda menyebutkan nama Tuan Goo, dengan jelas, mungkin…. Saya tidak akan bertanya ulang pada anda Agasshi” nada sekretaris terdengar sedikit datar dan menekan.

“dan, … dengan sangat menyesal, saya ingin mengatakan pada anda bahwa Tn. Goo tidak ingin diganggu saat ini, Agasshi”
“katakan padanya, minny ingin bertemu!”

“saya minta maaf, tapi…. Saat ini Tuan Goo benar- benar tidak ingin diganggu karena setengah jam lagi, akan diadakan rapat penting, Agashi”

Raut wajah Park min young seketika mengendur, saat untuk kesekian kali sekretaris itu membuatnya kesal.

Dan dengan rasa kesalnya yang sedari tadi tertahan, tanpa ragu ia langkahkan kakinya kali ini mencoba menerobos masuk, tanpa peduli saat sekretaris menarik lengannya mencoba menahan.

“Agasshi, tunggu!!!”, Agasshi!!!”



CRAKKKKKKKKKKKKK

Terdengar pintu yang terbuka, membuat prince jun membelalakkan kedua mata tajamnya, saat melihat keberadaan minyoung dengan nafas tersengal diikuti  sekretaris yang terlihat gugup dihadapannya.

“sa…saya…sudah menjelaskan kepada nona ini bahwa anda tidak ingin diganggu Tuan, tapi….”

“keluarlah!” junpyo mematahkan ucapan sekretaris itu.

“ba….baiklah, saya permisi!” jawab sekretaris sembari menutup pintu setelah sempat melempar pandangan kesal pada minyoung.

Untuk sesaat ruangan terasa hening saat Mereka saling bertukar pandang, sampai akhirnya keheningan menghilang ketika junpyo menanyakan langsung maksud kedatangan gadis itu.




“ada apa minny?, ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya junpyo sembari memainkan kursi yang ia duduki.

Dapat terlihat jelas Prince mengetahui maksud kedatangan gadis itu ke kantornya.




“oppa!, kenapa kau biarkan pelayan itu tinggal satu kamar bersamamu, katakan kepadaku, kenapa?!!!” jerit minyoung dengan sedikit terisak.

“kau memang pengintaiku yang sempurna, minny!” junpyo mengangkat salah satu alisnya “terus terang, aku sangat tidak suka jika kau…. Terlalu ikut campur dalam urusan pribadiku”

Perlahan, prince jun mengangkat tubuhnya…..

“aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan, minny dan tidak ada satu orangpun yang melarang keinginanku, termasuk dirimu!”

“kau kekasihku, bagaimana mungkin…. Aku membiarkanmu satu kamar dengan wanita lain, dan yang lebih menjijikkan lagi jika wanita itu adalah seorang pelayan!”

“aku menginginkannya!, tidak peduli ia seorang pelayan atau pengemis sekalipun!” nada prince jun kali ini terdengar meninggi.




“oppa!!!” isak minyoung sembari melangkahkan kakinya mendekati prince jun, menyentuh setiap sisi jas yang membalut tubuh kekar lelaki itu. “aku juga akan menyerahkan semuanya jika kau meminta, jika kau inginkan….aku akan memberikan semuanya, termasuk tubuhku”

Junpyo menatap dalam wanita yang kini mendekat intim padanya…

“minny, please…” junpyo tersenyum dingin

“aku bersumpah apapun yang kau inginkan, aku akan lakukan oppa…..”

 “jadi…. Kau akan menyerahkan tubuhmu jika aku inginkan, sayang?” junpyo berujar sembari tersenyum nakal.

“ya…. Aku akan menyerahkan apapun yang kau inginkan, karena kau tahu, aku sangat mencintaimu…oppa…” bisik minny mencoba merayu lelaki yang ada dihadapannya.

“tapi sayang….saat ini aku sedang tidak menginginkanmu, minny” jawab prince jun dengan nada datar. “saat ini…aku masih ingin bermain bersama pelayanku”  

BUKKKK dengan kekuatannya minny memukul dada kekar yang ada dihadapannya.

“bagaimana dengan aku?!, kau katakan bahwa aku kekasihmu, dan pada kenyataannya aku harus menerima saat ada wanita lain yang terbaring disisimu!”

“bukankah kau mencintaiku minny! Dan inilah aku!, aku bisa menginginkan siapapun yang aku inginkan!, jadi tolong, jangan terlalu ikut campur, jika kau memang ingin terus bersamaku!”

Minny menyeka air matanya, sembari menatap tajam prince jun.

“aku ingin tahu, bagaimana reaksi bibi saat ia mengetahui bahwa kau tidur dengan pelayanmu!” jerit park min young, yang membuat prince jun semakin kesal atas ucapan gadis itu.

“jika kau melakukannya, aku bersumpah tidak akan pernah mengizinkanmu ada dihadapanku, meski itu hanya bayanganmu Park Min Young!!” ancam prince jun dengan suara parau.

“oppa!!!”

“pergilah!, kau bisa menginap dihotel ataupun apartement yang kau inginkan, jika memang…. Kau merasa tidak nyaman atas tindakanku!”

“oppa!!!”

“pergilah!!” teriak prince Jun.

Park min young menangis sambil menggigit kecil bibirnya, ia tahu ini kesalahannya karena terlalu ikut campur akan urusan lelaki yang sangat dicintainya….

Dan pada kenyataannya, ucapan bibi Ma telah terbukti. Minny telah menyesali tindakan yang telah ia lakukan!

“aku membencimu oppa….aku membencimu!!!” jerit park min young, sembari melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu, diiringi hempasan pintu yang membuat prince Jun sadar, gadis itu kini benar- benar terjebak akan permainannya.





----------------------------------


Jandi duduk disisi ranjang, sembari memeluk erat kedua kakinya. Matanya menatap tajam, dengan pandangan yang tertuju hanya kepada satu arah, PINTU!!!

Sedari tadi ia hanya berada dikamar itu tanpa melakukan apapun kecuali menangis. Bahkan ia juga sama sekali belum mengisi perutnya dengan apapun meski bibi Ma telah beberapa kali membawakan makanan untuknya.

“aku tidak lapar” itulah alasan yang ia berikan setiap pelayan Ma menyuruhnya untuk makan.

Suasana kamar mewah itu sedikit remang karena jandi hanya menghidupkan satu lampu yang berada diatas meja kecil_disisi ranjang. ia merasa ruangan gelap akan lebih nyaman, saat matanya tidak harus menangkap setiap wajah yang berada diruangan itu.

Entah berapa kali mata bulatnya, melirik jam yang ada dikamar itu, seolah bersiap- siap menyambut pangeran iblis yang mungkin akan datang menemuinya malam ini.

Tentu saja lelaki itu akan menemuinya, karena pada kenyataannya kamar mewah itu tidak lain adalah miliknya, milik Prince dan jandi…. Hanya boneka mainan yang menunggu sang pemilik muncul dihadapan.

.

.

.



Jam dinding sudah menunjukkan pukul Sembilan malam, udara lagi- lagi terasa menusuk kulit hingga melemahkan setiap sendi tulang. Selimut hangat kini akan terasa nyaman untuk digunakan, apalagi jika digunakan oleh gadis yang tertidur dalam “ketakutannya”, mencoba menghilangkan beban yang kini dirasakan, dengan memejamkan matanya meski hanya untuk sesaat.

CRAKKKKKKKKKKKK pintu kamar itu terbuka, dengan perlahan. Tampak sesosok tubuh berdiri tepat dimuka pintu, sembari mengamati suasana kamar yang remang.

TAP TAP TAP

Langkah kakinya terdengar berat, sambil perlahan mendekati tubuh yang tergolek_meringkuk dilantai seolah nyenyak didalam tidurnya.

Dahinya mengkerut, seolah bertanya pada dirinya sendiri_menatap aneh gadis mungil yang tertidur diatas lengan putihnya. Mencoba mencari orang yang diinginkan, namun harus terperangkap dalam pesona saat kedua mata tajam itu terpesona akan “mutiara putih” yang ada dihadapannya.

“siapa dia?” tanya lelaki itu dalam hati. “apakah…mainan baru sepupuku?”tanyanya lagi.

“cantik…. Sangat cantik… lebih cantik dari mawar- mawar kesukaanku” bisiknya sembari membelai lembut rambut yang menutupi sebelah sisi wajah gadis yang letih karena menangis.

Tanpa ragu, ia angkat tubuh itu kedalam pelukannya, membawanya dengan sangat hati- hati keatas tempat tidur, saat ia yakin tubuh gadis itu terasa beku karena kedinginan.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk membiarkan tubuh mungil itu terbaring nyaman diatas ranjang yang lembut, dengan selimutnya yang tebal.  Lelaki itu tersenyum tipis, wajah “dingin” nya seolah ikut menyeringai, ketika memandang wajah letih yang terbaring dihadapannya…

Untuk beberapa saat ia terus berdiri, memandang kecantikan itu. Dan seolah malu atas tindakannya, lelaki itu melangkahkan kakinya keluar dengan perlahan.

namun ketika lengannya menyentuh gagang pintu, pemuda itu kembali membalikkan tubuhnya lagi_mencoba meyakinkan dirinya bahwa gadis itu benar- benar nyaman akan selimut tebal yang membalut tubuhnya.

“aku masih sangat merindukan mawar- mawarku, mungkin….ada baiknya aku kembali kepada mereka sekarang ” bisiknya, seolah berbicara pada gadis yang kini tengah melayang kealam mimpi.


----------



“apa kau tahu, bahwa….” Pelayan itu melirik sekitar, dan karena suasana terasa cukup sepi malam itu ia melanjutkan kalimatnya lagi. “pelayan baru itu, kini berada di kamar Prince Jun” suara itu berbisik.
“bwo? Kau…yakin?” tanya salah satu gadis pelayan.

“ya!, aku melihat Bibi Ma membawanya masuk kekamar pribadi Prince”

“aigoo, kurasa….gadis itu akan menjadi santapan malam prince malam ini “

“kau benar, tapi… aku sedikit heran saat prince lebih menginginkan seorang pelayan diatas tempat tidurnya, hal yang tidak biasa”


TAP TAP TAP, terdengar langkah kaki menaiki tangga, membuat kedua gadis pelayan terkejut bukan main, saat mereka yakin majikan tampan mereka berjalan seolah menghampiri….

Prince jun melangkah dengan lunglai. Matanya tampak terlihat lelah, diiringi wajah tampan yang kusut. Berjalan, sembari meletakkan salah satu tangannya didalam mantel.




Satu persatu ia langkahkan kakinya melewati setiap anak tangga. Sesekali ia pandang keadaan sekitar, saat mata tajamnya menangkap beberapa pelayan yang masih asyik mengerjakan beberapa tugas- tugas kecil mereka.



“tidak biasanya…prince jun pulang selarut ini, saat pelayan baru itu mungkin tengah menunggunya” bisik seorang pelayan, saat dengan arogant prince berjalan_melewati mereka.

“kau benar, sudah hampir pukul 10 malam, dan sepertinya….ia terlihat… mabuk”

“mabuk?” pelayan melirik punggung prince yang berjalan menjauhi. “kau benar, ia benar- benar terlihat mabuk”



Prince tahu kini beberapa pelayan sedang membicarakannya, dan seolah tidak peduli, Dengan langkah berat, ia lewati setiap koridor istana yang akan membawa prince keperaduan mewah miliknya.



CRAKKKKKKKKK, terdengar pintu kamar yang dibuka…

Suasana kamar itu terlihat remang, karena hanya ada satu cahaya lampu yang menyinari. Dan ketika matanya menangkap kegelapan yang lebih menguasai seperti hatinya, seketika itu pula terbesit cahaya kecil, saat ia memandang jandi yang terbaring tenang diatas tempat tidurnya, meringkuk bak bayi kecil_melayang kealam mimpi…..

Prince menarik sungging bibirnya, senyum Iblis kini dapat terlihat dengan jelas dalam keremangan cahaya….

Perlahan, ia langkahkan kakinya masuk, sembari melepaskan mantel, diikuti jas yang membalut tubuh kekarnya, dan dasi yang membuat nafasnya seolah tercekat. Kini yang tersisa, hanya kemeja putih, dengan leher yang terbuka….

“suatu kejutan, menemukanmu dalam keadaan seperti ini Anthea….” Bisik prince jun sembari memandang wajah cantik itu. memandang jandi, saat beberapa bagian tubuhnya yang tersingkap dan tanpa sadar benar- benar terlihat begitu sangat menggoda ….

“aku merindukan air matamu, jandi_a…” bisik prince dengan pandangan mata yang sendu sembari tersenyum “setan”, menyentuh pipi merah itu sesaat.


Tanpa ragu, ia tarik selimut yang membalut tubuh jandi sebelum akhirnya ia rebahkan tubuhnya, kali ini dengan posisi yang “tidak biasa” saat tubuh besar itu menindih tubuh mungil yang ada dihadapannya _ menjadikan lengan kekarnya sebagai penyangga dan  ia bisa pastikan "penyangga" hanya akan di gunakan untuk sesaat.


Ia tatap wajah itu dengan dalam, mata…hidung…dan bibir yang semakin membuat prince jun sadar bahwa ia menginginkan gadis itu, tidak peduli jika malam ini jandi kembali akan menolaknya.

dengan jemarinya, ia buka satu persatu kancing baju yang menutupi tubuh jandi, dengan tidak melepaskan pandangan matanya dari kecantikan gadis yang berada dipelukannya_keharuman tubuhnya yang lembut, dan kecantikan kulitnya yang bersinar didalam keremangan cahaya kamar itu.....

dengan lembut dan tanpa ragu Prince mengkecup kedua mata itu perlahan, hidung, bibir, dagu, dan menyusur_bermain diseputaran leher jenjang anthea, menikmati aroma khas tubuh gadis itu, menyesap dengan lidahnya….

Prince jun tersenyum saat anthea bergerak_seolah terkejut karena rasa geli akan ciumannya, namun sama sekali tidak membuka mata, saat lagi- lagi rasa lelah kembali mengikat tubuhnya….

Keuntungan mutlak bagi prince saat tubuh itu kembali melayang kealam mimpi, seolah pasrah akan takdir yang harus ia terima malam ini.

Dengan nafas yang memburu, prince kembali melancarkan “serangannya” kali ini mendekatkan tubuhnya lebih dekat, intim pada tubuh anthea, merasakan dekapan dada dan tubuh mereka yang bersatu_ diikuti desahaan saat ia sadar, bibirnya kembali bertaut dengan bibir “budak”nya…

“kecupan itu berubah menjadi ciuman yang seolah semakin menguasai  diantara desahan saat prince jun sadar ada sesuatu yang begitu menuntut dalam dirinya. Yang ia tahu itu hanya gairah atau mungkin rasa “cinta” yang tanpa ia sadari kembali muncul didalam dirinya…..”

“disetiap ciuman, bayangan masa lalu hadir akan senyuman, dan tawa yang pernah menemani kehidupannya yang terasa indah, dan ketika kecantikan itu muncul saat mata itu terpejam_ menikmati akan tindakannya, seketika itu juga ciuman itu semakin menuntut dan menguasai, diiringi sentuhan liar pada setiap lekuk tubuh mungil, Anthea……”


Jandi yang masih terlelap dalam tidurnya, mulai tersadar saat ia merasakan nyala api yang seolah berkelap- kelip, ketika sentuhan dan ciuman itu semakin menguasai_membuatnya menikmati masih dengan matanya yang terpejam, mendesah saat tangan itu mulai bermain didadanya dan tersentak ketika nyala api itu kian berkobar dan membakar tubuhnya, ….

“akhhh” nafas jandi tersengal saat dengan cepat ia dorong tubuh itu dari atas tubuhnya.

“a…a…apa…yang …kau…lakukan!” jerit jandi sembari menyeka bibirnya, yang kini terasa bagai alcohol.

Junpyo menjauh namunhanya beberapa senti dari tubuh Anthea, dan terkekeh atas tindakan gadis itu kepadanya.

“kau bertingkah, seolah ini pertama kali kita melakukannya, anthea. Ayolah, akan terasa lebih indah jika kau tidak menolak!”

“aku mohon cukup!! lepaskan!!!” jerit jandi, saat junpyo menarik kembali tubuhnya dengan mudah_membawanya kedalam pelukan yang kembali terasa membuatnya sulit bernafas.

“cukup!!” isak jandi saat junpyo kembali bermain dileher jenjangnya. dipukulnya dada kekar yang kini menahan seolah bagai tembok kokoh.

“cukup….. hentikan!!, hentikan….” isak jandi kali ini memohon sembari menggenggam erat kemeja yang kini mempertontonkan dada kekar sang prince.

“ciumannya mulai bermain lagi pada bibirku, menyesap, bermain dengan lidahnya hingga sulit untukku bernafas. Aku tahan tubuh kekar, yang semakin mendekapku intim, namun ia menahan lenganku dengan cepat dengan dadanya saat untuk kesekian kali sentuhannya bagai ratusan rajam yang semakin menyakitiku”

“hentikan….hentikan” isakku sembari berdesah, saat rasa sakit akan sentuhan itu menjadi terasa indah, membakar tubuhku, dari dada hingga sampai ke tenggorokanku…..

Beberapa saat penolakan itu berlangsung, namun saat usaha itu hanya suatu bentuk kesia- siaan, dengan tubuh yang lemah anthea terdiam, sambil membiarkan lelaki itu menikmati setiap lekuk tubuhnya, bibirnya, yang terasa bagai tusukan sembilu. Air matanya menetes, sembari menggigit bibirnya kuat_saat lagi- lagi ia tidak berdaya dalam pelukan junpyo yang memaksa, kasar, dan menyakiti!

.


.



Nafas memburu seketika berhenti saat tubuh jandi terdiam dalam setiap sentuhannya. Dengan wajah dingin junpyo mengangkat kepalanya_menghentikan perbuatannya_memandang wajah gadis yang menangis dipelukannya.
 Ia tatap wajah pucat itu sembari menyentuhnya perlahan, dan dengan kepala yang menunduk ia biarkan bibir tebalnya menyentuh telinga Anthea…..

“jangan….pernah memaafkan ku anthea, jangan pernah… memaafkanku….”ia hentikan kalimatnya sembari menyeka air mata “budaknya”. “seperti halnya aku…yang tidak…akan…pernah…memaafkanmu….tidak…akan pernah…” junpyo berbisik lagi kali ini diiringi bola matanya yang tajam, dalam keremangan cahaya …..



Jandi menangis dalam pelukan junpyo, saat lelaki itu kembali menguasai tubuhnya, menciumnya_ciuman yang lembut namun liar, memacu setiap adrenalin seiring sentuhan Prince yang seolah mahir akan gerakannya.

Jandi memejamkan matanya, deguban jantung semakin kencang saat ia merasakan perbedaan ketika prince melakukan hal itu untuk kedua kalinya_menyatukan tubuh mereka, merasakan setiap desahan nafas yang terasa hangat disetiap pori wajah cantiknya.

“jun…pyo…” lirih jandi, dengan gemetar saat tubuhnya kembali bersatu dalam keperkasaan Prince Jun, “jun…pyo….” Lirihnya lagi, sembari menggenggam sisi seprai dengan erat.

Selama Beberapa menit syurga dunia kembali dirasakan Prince ketika menikmati tubuh “budaknya”, namun entah mengapa kali ini terasa berbeda, saat jandi merasakan “sesuatu” yang terkadang tidak ia mengerti….

Dan ketika semuanya berakhir, ia genggam kemeja putih yang membalut sebagian tubuh Prince, memandang mata lelaki itu seiring nafas mereka yang seirama….




“apa…kau menikmatinya Anthea?” prince Jun berbisik, sembari tersenyum puas saat jandi hanya terdiam dalam pelukannya.

“kau akan terbiasa akan hal ini, sayang…ketika aku menginginkanmu” bisiknya lagi.


Perlahan ia angkat tubuhnya dari Jandi, menarik selimut dan menutup tubuh gadis yang kini memandangnya dengan pandangan sendu. Prince yang merasa “canggung’ akan pandangan itu seketika membalikkan tubuhnya_duduk disisi ranjang sembari meregangkan otot kepalanya.


“kesalahan …apa….yang telah aku lakukan…padamu tuan” tanya jandi dengan terisak.

“cobalah mengingat, agar kau sadar atas apa yang pernah kau lakukan padaku” suara prince terdengar datar, namun terasa berat.

 “kenapa…kau tidak membunuhku ?” ucapan jandi seketika membuat prince tersentak dalam wajah terkejutannya. “dengan membunuhku, kau tidak akan melihat wajahku didunia ini lagi, paling tidak, itu jalan terbaik yang bisa kau lakukan untuk membalasku, tuan” bisik jandi kali ini dengan nada menekan.

Prince membalikkan tubuh, memandang tajam mata gadis yang kini seolah menantangnya. “bukankah aku telah melakukannya ?” mata tajam itu seolah memicing. “aku melakukannya dengan perlahan, sayang….”

“yang kutahu, kau menunjukkan cara betapa kau masih mencintai Anthea, nama yang sering kau ucapkan ketika kau memanggilku”

Prince terdiam sejenak, dan seolah menyembunyikan “rasa itu”, Prince sengaja terkekeh atas ucapan jandi yang menurutnya tidak masuk akal. Dan dengan mengerutkan dahi prince kembali mencoba melindungi dirinya.

“mencintaimu?” prince tersenyum sinis “jangan katakan kau telah mengingat semuanya setelah kita bercinta, Anthea”

“tidak, aku tidak ingat! Aku belum mengingatnya, namun yang kutahu….kau sangat mencintai Anthea Tuan, bahkan sampai saat ini aku bisa merasakannya dengan jelas!”

“tutup mulutmu, nona pelayan!” suara prince seketika terdengar bagai jeritan diiringi urat- urat kemarahan yang jelas tergambar diwajahnya.

“aku memang tidak mampu mengingat apapun, yang kuingat hanya namamu yang mungkin terasa tidak asing ditelingaku. Namun aku bisa pastikan, bahwa kau mencintai Anthea, sangat mencintainya!”

Seketika prince beranjak dari duduknya, mengangkat tubuh kekar itu_menghampiri anthea dan dengan cepat menarik tubuh gadis itu_membawanya kedalam pelukan, pelukan yang semakin terasa menyakitkan saat jemari itu menggenggam erat lengannya.

“aku tidak pernah mencintai gadis yang pernah mengkhianatiku, seperti dirimu jandi_a!!” dengan kuat ia guncang tubuh itu “gadis kotor yang terbaring bagai pelacur murahan, dan meraih apapun demi uang, demi ambisinya!” jerit junpyo sembari memandang wajah jandi dan menyusur pada bibir jandi yang ranum.

“dan seperti yang kau tahu, kau lelaki pertama bagiku Tuan, tidak ada lelaki lain! lelaki pertama yang tidur bersamaku atau tepatnya PEMERKOSA!” jandi menatap junpyo, kali ini dengan pandangan jijik hingga membuat junpyo sadar Jandi yang dulu ia kenal telah kembali kehadapannya.

“mungkin saat ini aku masih tidak mengingat apapun, melupakan sesuatu yang terkadang mengganjal dipikiranku. Dan aku berjanji setelah mengingatnya, aku akan datang padamu.” Suara Jandi terdengar mengancam sembari meneteskan air matanya.

“Dan ketika hari itu tiba, aku bersumpah TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU, TIDAK AKAN PERNAH!”  



-----






TO BI KONTINYU

[devil2] [devil2] [devil2] [devil2] [devil2] [devil2] [devil2]




MIAN klo ceritanya membosankan, dan mungkin...agak sedikit kasar.... [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
ditunggu kritiknya  [biggrin] [biggrin] [biggrin]



« Last Edit: January 05, 2012, 09:53:27 pm by hye sun »



[lovestruck] [lovestruck] Couples who love each other tell each other a thousand things without talking [lovestruck] [lovestruck]