Author Topic: My Job Is... your Job...?!?!? (Chapter 8) 1st February 2013  (Read 9557 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Chapter 6

Matahari bersinar terik, membuat beberapa orang menghentikan pekerjaannya dan beristirahat sejenak. Joo ri terlihat duduk, menatap seseorang yang tengah disibukkan dengan kegiatannya, sama sekali tidak memperdulikan panas yang terik.

“bagaimana..”tanya seseorang tiba-tiba, memberikan sebotol air mineral dingin pada Joo ri

“tak ada masalah…”jawab Joo ri, tersenyum menatap orang itu dan menerima air mineral yang diberikan orang itu “gomawo…”tambah Joo ri
Keduanya terdiam sesaat, menatap kearah yang sama “darimana saja kau Luke…”tanya Joo ri lagi

“biasa… letJen memanggilku… dan… Jenderal sudah kembali…”

“ooohh… benarkah…?”seru Joo ri tiba-tiba, menatap Luke tidak percaya

“ne… tadi aku bertemu dengannya di kantor dan...kau merindukannya bukan…”

Joo ri diam, menatap Luke sesaat “ahni…”jawab Joo ri

Luke tersenyum diam ditempatnya, menatap Joo ri “tapi dia merindukanmu…” tambah Luke kemudin, menatap Joo ri tersenyum.

Joo ri diam, menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyumnya.


“berikan aku air minum…”seru seseorang tiba-tiba, mengambil air mineral milik Joo ri atau lebih tepatnya merebut secara tiba-tiba.

“heii…!! Ausshhh…”seru Joo ri, menatap orang itu kesal

“bukankah ini untukku…”ujar orang itu lagi, membalas tatapan Joo ri dan dengan tiba-tiba menjatuhkan dirinya di tengah-tengah, antara Joo ri dan Luke

“YYA!!!”seru Joo ri semakin kesal, menatap Yong jun kesal. Ketiganya terdiam, tidak melakukan apapun hingga akhirnya Joo ri berdeham keras, mencoba mengawali pembicaraan “…eheemmm…”

Berhasil membuat Luke dan Yong jun memalingkan wajahnya, menatap Joo ri “…aku sudah menemukan seseorang untuk menjadi manajermu…”ujar Joo ri, sambil kemudian menyerahkan sebuah map coklat pada Yong jun. Yong jun terlihat diam sesaat menatap Joo ri bergantian dengan map yang kini masih berada ditangan Joo ri.

“aku tidak membutuhkan manajer…”ujar Yong jun membuang muka tidak peduli dan meneguk air mineralnya kembali.

“harus…”ujar Joo ri keras

Yong jun menatap Joo ri sedikit takut namun egonya lebih meraja dihatinya “siapapun yang kau minta menjadi manajer ku harus aku seleksi dulu… aku tidak ingin menerima sembarang orang untuk menangani semua keperluanku…”ujar Yong jun tegas, dan bangkit dari tempatnya, menatap Joo ri dan Luke dengan gayanya yang angkuh. Joo ri terlihat diam ditempatnya, menatap kepergian Yong jun kesal
“ciihh… pantas saja…” ujar Joo ri sedangkan Luke terlihat diam ditempatnya, menatap tersenyum kepergian Yong jun.

*********


Hari berlalu dan Yong jun masih melakukan pekerjaannya seperti biasa… seperti biasa, dingin di hari yang hangat, sombong di tempat senyum saling menyapa.
Joo ri menatapnya tersenyum sesaat sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya menatap Luke yang menatapnya tersenyum, yang dibalas dengan sebuah senyuman lebar khas Luke untuknya “… nanti… dia akan datang… dan tolong perketat penjagaan… jangan biarkan hal ini bisa memancing siapapun untuk melakukan kejahatan di saat pertama kali kita menerima tamu…”

Luke tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya “siapa… siapa yang akan datang…”
Joo ri menatap Yong jun “…seseorang…”

“siapa dan dimana… aku tidak akan pernah mengijinkan kau atau laki-laki itu menerima tamu dirumahku…”ujar Yong jun ketus, menatap Luke kesal. Luke membalas tatapan Yong jun sama dinginnya, namun senyum masih terlihat terkembang diwajah Luke sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan Yong jun dan Joo ri untuk melakukan perintah Joo ri.

Yong jun mengalihkan pandangannya menatap Joo ri. “apa!!”ujar Joo ri ketus, membuat Yong jun sedikit bergetar ditempatnya.

“peraturanku tidak bisa dilanggar”ujar Yong jun tiba-tiba, membalas perkataan Joo ri.

“…aku tidak menerima tamu dirumahmu… aku punya tempat lain…”

“…aku tidak ikut…”

“harus… bukankah kau yang bilang untuk melihat orangnya dulu…”

Yong jun diam ditempatnya “… bukankah sudah aku bilang sebelumnya… tidak ada…”

“aku lelah!!”ujar Joo ri keras, menatap Yong jun marah, “aku hanya ingin
melakukan tugasku dengan baik… dan tugasku bukan menjadi manajermu..! aku tidak habis pikir kenapa sunbae menjadikanku bodyguardmu… bukankah masih banyak orang lain…”

“ne… terlebih aku…”ujar Yong jun yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Joo ri, ditempatnya, menatapnya semakin kesal dan marah.

********

“bagaimana kabarmu nak…”ujar seseorang ditengah hangatnya terik mentari siang di tengah cuaca yang dingin karena hujan yang baru saja turun membasahi bumi.

“gwenchana haraboji… lalu bagaimana haraboji sendiri… bagaimana urusan haraboji…”

Sang kakek terlihat tersenyum menatap sang cucu yang diam ditempatnya menunggu jawaban sang kakek yang sangat ia rindukan.

“…ne… hanya sedikit flu beberapa hari yang lalu… sepertinya kakek terlalu lelah…”

“auushhh… Joo ri sudah sering bilang… kakek harus menjaga kesehatan kakek… apapun pekerjaan kakek jika tubuh kakek tidak kuat.. kakek harus beristirahat… kita melakukan janji antar lelaki saat itu…”ujar Joo ri tegas, yang kemudian bangkit dan duduk di sisi kaki sang kakek dan perlahan mulai memijat kaki sang kakek lembut dan sayang “ Joo ri mohon… jaga kesehatan kakek… hanya kakek satu-satunya yang Joo ri punya… Joo ri tidak minta yang lain… hanya itu..”

Kakek Joo ri terlihat tersenyum dan mengusap kepala Joo ri yang bersandar di pangkuan sang kakek.

“… ne arasso… kakek tahu… mianhe…”

Joo ri diam, tersenyum ditempatnya, menikmati kehangatan pangkuan sang kakek yang sejak kecil selalu membuat dirinya nyaman dan menenangkan dirinya.

“ahhh… kata LetJen Kang…dia memilihmu untuk menjadi seorang bodyguard…”

“auusshhh… tolong kakek jangan bahas itu…”seru Joo ri yang kemudian bangkit dan berjalan menjauh kemudian duduk di meja kerja sang kakek. Sang kakek terlihat menatapnya lembut tepat saat Joo ri melihat sebuah berkas di mejanya.

“kemarilah nak… ceritakan pada kakek bagaimana pekerjaanmu itu…”

“ahniyo…”

“kalau begitu… pijat kakek lagi…”ujar sang kakek yang kemudian membuat Joo ri tersenyum menatapnya dan melangkah mendekati sang kakek.

Joo ri mulai menggerakkan tangannya yang terlihat lemah gemulai namun kuat. Ia tidak pernah mempergunakan tangannya itu untuk memasak atau melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan perempuan, yang sering ia lakukan dengan tangan itu adalah memukul jatuh orang lain dan menembak seseorang dengan pistol kesayangannya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Instingnya memerintahkan dirinya untuk selalu waspada dengan apapun dan siapapun di tempat manapun seperti sekarang ini…

Joo ri mulai menggerakkan jemarinya di kaki pundak sang kakek saat tiba-tiba Joo ri bertindak lebih cepat dan mulai mengacungkan pistol magnum hitam dengan garis perak kesayangannya di kepala seseorang yang mengendap dan mendekati keduanya.


“…ok… ok… ok… ahjussi kalah…”

“sunbae… apa yang kau lakukan mengendap-endap seperti itu…”

“ahni… hanya mencoba instingmu sebagai seorang tentara… dan ternyata itu masih ada… bagaimana kabar anda Jenderal…”ujar LetJen Kang yang kemudian terlihat membungkukkan tubuhnya dihadapan Jenderal Lee

“ah… gwenchana… apa aku sudah setua itu.. hingga semua orang harus menanyakan keadaanku…?”

“haraboji…”Seru Joo ri. Joo ri tersenyum dan memasukkan kembali magnumnya kedalam sarungnya “…ahhh.. bagaimana dengan Yong jun…?

“jangan tanya itu… cucuku ini benci membahas itu…”ujar Jenderal Lee

“haraboji… bukan cucu… aku sekarang kolonel…”ujar Joo ri marah, menatap sang kakek.

“mwo…? Ada apa…? Apa ada masalah…?”

“ne ahjussi setiap hari selalu bermasalah jika aku bersama dengannya…”

“ada apa…?”

Joo ri diam ditempatnya tidak ingin menjawab, namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu “…sunbae… bisakah aku meminta pertolonganmu…?”ujar Joo ri menatap LetJen Kang

“ahhh… ini baru kabar baru… kolonel kita meminta bantuan…”ujar Jenderal Lee, menatap Joo ri tersenyum simpul.

“haraboji…!!!”

“baiklah… mianhe…”

“apa yang bisa aku lakukan untukmu… katakan…”

“ne…”

***********

“apa yang kalian lakukan…?”ujar Joo ri terkejut dengan apa yang ia dapati setelah ia kembali dari berkunjung dari kakeknya. “kenapa dengan wajah kalian… oh tidak kau juga… lihat!! Lebam biru diwajahmu…”ujar Joo ri yang melangkah cepat mendekati Yong jun yang duduk tak jauh dihadapannya.

Joo ri baru akan menyentuh luka Yong jun sebelum tiba-tiba Yong jun bangkit dari tempatnya menatap Joo ri marah.

Joo ri diam ditempatnya, menatap Yong jun kesal “apa yang terjadi…”tanya Joo ri mengalihkan pandangannya menatap Luke yang bangkit dari tempatnya, melangkah kearah lemari es didapur, mengambil sesuatu dari sana.

“apa yang akan kau lakukan?!”tanya Yong jun marah, menatap Luke yang tengah berkutat di balik pintu lemari es, mengambil sesuatu “jangan lakukan itu… aku peringatkan jangan lakukan apa yang ada dipikiranmu… aku tidak…” namun terlambat, ketakutan yang ada dipikiran Yong jun terjadi, seiris daging segar terlihat mendarat di wajah Yong jun yang memar tak berbeda dengan Luke.

“ahhh… sudah aku bilang..aku tidak ingin seperti ini…”keluh Yong Jun kesal, menatap Luke semakin kesal dan marah, namun menekan daging di ujung bibir dan matanya erat.

“itu akan lebih baik jika hanya kau biarkan saja…”

“auuusshhh…”

Joo ri menatap keduanya dan tersenyum kecil menatap keduanya “kalian berdua benar-benar terlihat sangat akrab…”

“YYA!!!”seru Yong jun tanpa diperdulikan oleh Joo ri yang melangkah meninggalkan keduanya di ruang tamu rumah milik Yong jun.

Yong jun diam ditempatnya, menatap kepergian Joo ri sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya menatap Luke yang duduk tak jauh dihadapannya.

“apa?!?”tanya Luke keras, menatap Yong jun sengit. Yong jun diam, menatap Luke tak kalah sengitnya “…kau!!”seru Yong jun lirih, menatap arah Joo ri sebelumnya pergi.

“…”Luke diam, tidak memperdulikan Yong jun

“jangan katakan apapun tentang apapun yang kita bahas sebelumnya!!” ujar Yong jun, melangkah mendekati Luke dan meletakkan daging segar yang ada diwajahnya keras, tepat dihadapan Luke. Luke tersenyum ditempatnya, menatap kepergian Yong jun yang terlihat sangat marah sekaligus kesal padanya.

Luke tersenyum menatap Yong jun “…kau memiliki sesuatu dan ingin melindungi sesuatu yang sama kawan… dan aku tidak akan menyerah, hanya karenamu…”ujar Luke lirih, menatap punggung Yong jun yang menghilang masuk kedalam kamarnya, tersenyum.

********

Malam menjelma. Bulan muncul, meninggi menggantikan matahari. Joo ri terlihat diam, meneguk kopi hangatnya dan sesekali menatap secarik kertas ditangannya. Begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran seseorang.

“apa yang kau lakukan…?” tanya seseorang tiba-tiba, menatap Joo ri, membuatnya terkejut

“ahhh… ahniya… hanya surat ancaman yang lain…”

“ancaman…?”

“ne… hanya sedikit bingung… sepertinya surat ini tidak ditujukan padaku…”

“benarkah…”

“ne…sedikit bingung dengan isinya… disini ditujukan pada seseorang… dan sama sekali tidak untuk mengancam keselamatan Yong jun…”ujar joo ri, mengalihkan pandangannya menatap orang itu “…bagaimana menurutmu Luke…?”tanya Joo ri lagi sambil menyerahkan secarik kertas itu pada Luke yang kini berdiri dihadapannya yang dibatasi meja diantara keduanya.

“…”Luke diam, membaca kertas itu “… tidak ada yang aneh… hanya surat seperti biasa…”ujar Luke

Keduanya terdiam saling menatap, melemparkan argument keduanya melalui pikiran mereka, hingga tidak menyadari kehadiran seseorang hingga sebuah cahaya menghalangi cahaya dari rembulan.

“apa yang kalian lakukan gelap-gelap seperti itu…”

Joo ri dan Luke memutar tubuhnya, menatap orang itu. Keduanya sama sekali tidak terlihat terkejut “…kau bangun Yong jun…?” ujar Luke tiba-tiba, menatap Yong jun tersenyum.

Yong jun melangkah mendekat dan mengambil dengan kasar secarik kertas yang berada di tangan Luke.

“yya!!”seru Joo ri kesal

“apa ini…?”tanya Yong jun, menatap kertas ditangannya dan Luke serta Joo ri bergantian.

“bukan urusanmu… berikan kertas itu…”seru Joo ri yang kemudian mengambil kertas itu dari tangan Yong jun.

“auushhh…”

Kini ketiganya terlihat duduk mengelilingi meja di antara ketiganya. Yong jun menatap Joo ri curiga sedangkan yang ditatap hanya diam, menikmati secangkir kopi hangat ditangannya. Sedangkan Luke terlihat diam, tidak memperdulikan Yong jun.



Yong jun menarik napas panjang, menatap Joo ri “ini…”ujar Yong jun kemudian, sambil memberikan sesuatu pada Joo ri.

“apa ini…”

“baca…”ujar Yong jun

Joo ri diam, menatap Yong jun dan mulai melakukan apa yang dikatakan oleh Yong jun. Joo ri membuka amplopnya “undangan…?”

“ne… itu undangan pernikahan seorang sutradara… aku tidak ingin datang… tapi… ternyata aku harus datang…” ujar Yong jun

“…ya… datang saja…”ujar Joo ri, sambil kemudian bangkit dari tempatnya dan memberikan undangan itu kembali pada Yong jun dan beranjak pergi meninggalkan keduanya, namun…

“kau ikut denganku…”ujar Yong jun kemudian, menghentikan langkah Joo ri serta membuat Luke tersedak.

“mwo…?!”seru keduanya

“ne… kau… temani aku… datang bersamaku…”ujar Yong jun

“ahni!!”

“kau akan datang denganku…”ujar Yong jun lagi, lebih tegas dari sebelumnya dan kini benar-benar terdengar mengancam. Joo ri diam menatap tajam Yong jun. Yong jun diam, membalas tatapan Joo ri penuh keyakinan dan kemudian melangkah pergi meninggalkan keduanya, diam tidak berdaya ditempatnya.

Luke diam menatap kepergian Yong jun dan beralih pada Joo ri yang menatap kesal pada Yong jun.

“ikut saja… bukankah kau juga harus menjaganya… jika kau datang dengannya, maka kau bisa lebih menjaganya…”ujar Luke, menatap Joo ri tersenyum, kemudian bangkit, menepuk bahu Joo ri pelan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Joo ri.

********


Malam menjelma, bulan menjemput, bintang menemani. Yong jun terlihat terdiam menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

“ausshh!!! Pasti dia tidak akan datang…?”ujar Yong jun kesal, menatap Luke. Luke diam, tersenyum ditempatnya, antara memperdulikan dan tidak. Dengan cepat Luke bangkit dari tempatnya, meninggalkan Yong jun yang menggerutu dengan keterlambatan Joo ri, dan tak lama akhirnya…

“maaf… aku terlambat… ada sesuatu yang harus aku lakukan tadi…”ujar Joo ri, menatap Yong jun terengah dan berhasil menghentikan langkah Luke yang memutar tubuhnya ke dapur dan mengambil minuman untuk dirinya dan perlahan ia melangkah mendekati Joo rid an memberikan gelas yang lain ditangannya.

“minum dulu…”ujar Luke

“ahhh… terima kasih…”ujar Joo ri, menerima gelas yang diberikan Luke. Joo ri akan meneguknya sebelum tiba-tiba Yong jun merebutnya dan menegaknya hingga habis “aahh… sudah tidak ada waktu lagi… sebaiknya kau segera bersiap-siap…”ujar Yong jun ketus, menatap Joo ri marah.

“ahni… aku pergi dengan ini saja…”

“MWO?!?!”

“YYA!! Tidak perlu berteriak… memang apa masalahmu…”ujar Joo ri tidak kalah kerasnya.

Yong jun diam ditempatnya, menatap Joo ri dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Saat itu Joo ri benar-benar terlihat seperti pekerjaannya, seorang tentara.

Malam itu Joo ri mengenakan celana jeans belel dengan kaos putih dan jaket kulit hitam ditambah lagi, rambut Joo ri yang diikat seadanya, berantakan. Sama sekali tidak pantas untuk pergi kesebuah acara resmi.

“apa?!?”seru Joo ri marah, menatap Yong jun yang seakan tengah menilai dirinya, penampilannya.

“cihh… kau benar-benar… ganti bajumu!!”seru Yong jun

“ahni”

“wae… kau harus menggunakan pakaian yang rapi… dan lepaskan semua senjata yang menggantung ditubuhmu itu..!1”

“mwo?!?! Antwe!!!”

Keduanya terdiam, tidak memperdulikan Luke yang terlihat tersenyum geli menatap keduanya.

“…lagipula…aku tidak pernah bilang kalau aku akan pergi denganmu… cari saja orang lain!!”seru Joo ri benar-benar kesal kemudian beranjak pergi meninggalkan Yong jun yang diam dan Luke yang tertawa keras ditempatnya, namun hanya beberapa langkah, tiba-tiba Yong jun menarik tangan Joo ri kuat dan menariknya pergi.

“YYA!!! LEPASKAN!!!”seru Joo ri, membuat tawa Luke terendam oleh teriakannya.

Yong jun tidak memperdulikan teriakan Joo ri dan tetap membawa Joo ri masuk kedalam mobilnya.”duduk diam!! Jangan melakukan apapun!! Ausshhh!! Kau benar-benar wanita yang merepotkan!!”seru Yong jun, menatap Joo ri yang duduk disisinya kesal.

Luke terlihat diam, menatap keduanya dalam mobil dari jendela rumah Yong jun, meyakinkan sesuatu.

*******

“diam!! Dan turuti apa kataku… kau ini..!! ausshhh!!!”seru Yong jun ketika keduanya berada di sebuah butik pakaian, dimana Yong jun memeberikan beberapa pakaian untuk dicoba oleh Joo ri.

“YYA!! Aku tidak bisa menggunakan pakaian seperti ini!!”seru Joo ri setelah hampir 10 pakaian ia coba namun tidak satupun yang membuat Yong jun menghentikannya.

Yong jun diam, menatap Joo ri dengan pandangan marah dan ternyata cukup membuat Joo ri menundukkan kepalanya, menyerah. Bukan benar-benar menyerah, hanya karena Yong jun membawa semua senajatanya dan Joo ri yakin Yong jun dapat menarik pelatuknya jika Joo ri terlalu banyak protes atau bertingkah.

“coba pakaian ini…” ujar Yong jun memberikan 10 lagi pakaian untuk Joo ri coba

“lagi?!?!” seru Joo ri semakin kesal.

“ya…”

“sampai kapan…?”

“sampai aku puas… dan diamlah… lakukan saja apa yang aku perintahkan…” ujar Yong jun, menatap Joo ri marah dan memberikan dengan paksa pakaian di tangannya pada Joo ri.

Joo ri menuruti keinginan Yong jun, dan mulai mencoba satu persatu pakaian yang diberikan Yong jun, hingga akhirnya…

Joo ri keluar dengan sebuah gaun panjang berwarna putih tulang dengan hiasan dibagian perutnya. Warna putih itu semakin menunjukkan putih dan segarnya kulit Joo ri, membuat Joo ri terlihat manis, sekaligus cantik.

Yong jun terlihat diam ditempatnya ketika menatap Joo ri yang terlihat malu-malu menunjukkan pakaian yang dicobanya.

“jelek bukan… aku ganti yang lain saja…”

“ahni!! Tunggu dulu… aku ambil itu!1”ujar Yong jun yang kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Joo ri yang menatap kesal Yong jun.

Yong jun tersenyum menatap Joo ri yang membalas tatapan kesalnya dengan kemarahan dari Joo ri “cih..!! benar-benar sial…”ujar Joo ri lirih yang melangkah perlahan kesofa dimana semua senjata dan sepatu kets kesayangannya berada.

Joo ri mengenakan perlengkapan dan semua senjatanya ketubuhnya kembali. Dua senjata magnum hitam dengan garis perak kesayangannya, revolver kecil yang ia letakkan di kakinya, sebuah pisau dan beberapa senjata yang lain.

Joo ri berjalan mendekati Yong jun yang tengah berdiri, menunggunya. Yong jun menatap Joo ri dari kepala hingga ujung kaki.

“lepaskan sepatumu…”ujar Yong jun, menatap sinis pada sepatu kets Joo ri.

“waeyo?!?!”seru Joo ri semakin kesal dengan Yong jun

“lepaskan dan ganti dengan sepatu ini…”jawab Yong jun, sambil memberikan sepati high heels pada Joo ri.

“ahni!! Ahniya… ahniya… ahniya…ahniya… antwe!!”seru Joo ri, menatap semakin marah pada Yong jun.

“harus!! Lepaskan sepatumu sekarang!!”seru Yong jun tidak kalah keras, mendorong tubuh Joo ri jatuh terduduk di sofa dan melepas paksa sepatu Joo ri tentu saja dengan bantuan pelayan butik tersebut untuk memegangi lengan Joo ri yang terus memberontak.

“ahni!! Lepaskan aku!! Aku tidak mau!! LEPASKAN!!”seru Joo ri seraya kemudian, Yong jun melepaskan sepatu kets yang diberikan oleh Joo ri dan mengenakan sepatu high heels di kaki Joo ri

“AHHHH!!! ANTWE!!!”seru Joo ri ketika sepasang sepatu itu berhasil berada di sepasang kaki Joo ri. Yong jun tersenyum senang, menatap kemenangannya yang berhasil memakaikan sepatu yang sangat dibenci oleh Joo ri.

“pakai itu sampai akhir nanti… dan lepaskan semua senjatamu…!!”ujar Yong jun lagi

“antwe!!”

“lepaskan!!”ujar Yong jun keras, menatap Joo ri dengan membelalakkan matanya.

“ANTWE!! Kau boleh melakukan semuanya padaku… mengganti pakaian ku dan membuatku memakai sepatu yang menyusahkan ini… tapi tidak dengan senjataku!!”

Yong jun diam, menatap Joo ri serius, kemudian helaan napas terdengar darinya “…baiklah…”ujar Yong jun yang kemudian mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah angka speed dial di ponselnya.

“ahh.. tuan Kang.. maaf…”

“akhhh!! Apa yang kau lakukan…”ujar Joo ri yang merebut ponsel Yong jun tiba-tiba, menghentikan percakapan Yong jun dengan siapapun yang ia telepon saat itu “baiklah!! Kau tidak perlu seperti itu… tapi paling tidak kau harus membawa sebuah senjata di sakumu… jika terjadi sesuatu maka kau akan dapat melindungi dirimu…”ujar Joo ri yang kemudian menyerahkan ponsel Yong jun kembali dan kemudian bertahap Joo ri melepaskan semua senjata ditubuhnya. Satu persatu Joo ri memberikannya pada Yong jun, pertama sepasang magnum hitam dengan garis perak yang ia letakkan di sarung pistol yang ia letakkan ditubuhnya seperti rompi, sebuah revolver bersamaan dengan sarungnya yang ia ikatkan di betisnya, sebuah pisau disisi lain revolver tersebut.

Tak lama Joo ri juga mengangkat gaunnya lebih keatas, namun terhenti “…jangan mengintip… putar tubuhmu…”ujar Joo ri ketus

“waeyo..?”

“lakukan!!”seru Joo ri. Yong jun tersenyum menatap Joo ri dan segera memutar tubuhnya membelakangi Joo ri.

Joo ri melepaskan semua senjata ditubuhnya yang tanpa diketahui Yong jun membuat beberapa orang pelayan toko tersebut tercengan dengan mulut terbuka menatap Joo ri yang ternyata mengeluarkan banyak senjata dari tubuhnya termasuk senjata besar dan laras panjang (disimpen dimana ya itu senjata… ahhh… namanya aja Cuma cerita… fiktif belaka…he he he he)

“sudah…”tanya Yong jun tanpa membalikkan tubuhnya

“ne…”

“semuanya…”

“ne… semuanya…”ujar Joo ri meyakinkan.

“bagus…”ujar Yong jun yang kemudian memutas tubuhnya, dan betapa terkejutnya Yong jun ketika menatap tumpukan senjata-senjata di hadapannya.

“sebanyak itu…?”tanya Yong jun tidak percaya

“ne… itu sudah semuanya…”ujar Joo ri, menatap Yong jun meyakinkan.

“…”Yong jun diam ditempatnya, menatap Joo ri sama seperti sebelumnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki “… dimana kau menyembunyikan semua itu…”ujar Yong jun lirih, tanpa dapat didengar oleh Joo ri.

“ini… bawa ini”ujar Joo ri sambil memberikan senjata revolver laras pendeknya pada Yong jun “dan jaga dirimu sendiri..”ujar Joo ri, aku hanya dapat menggunakan tenaga tanpa senjata…”ujar Joo ri yang kemudian melangkah pergi, meninggalkan Yong jun, yang masih terdiam ditempatnya.

“ayo… katamu kita sudah terlambat…”ujar Joo ri, menatap Yong jun, menunggu.

*********

“kau benar-benar menyebalkan Yong jun-ssi… bagaimana bisa kau menyuruhku mengenakan pakaian seperti ini…”keluh Joo ri lirih

“kau pengawalku… maka kau harus bisa menyesuaikan dengan kegiatanku…” jawab Yong jun yang sama sekali tidak disadari oleh Joo ri.

“auusshhh…”ujar Joo ri lirih, memalingkan wajahnya.

Joo ri melangkah pelan bersisian dengan Yong jun. Joo ri terlihat diam hingga kedatangan seseorang membuatnya terlihat lebih bersemangat. Joo ri melangkah cepat, tersenyum menghampiri orang itu.

“oppa…”panggil Joo ri tersenyum, melangkah cepat



Ji hoon memutar kepalanya menatap Joo ri dan tersenyum takjub menatap Joo ri.
“woow…”ujar Kang Ji hoon, menatap Joo ri tidak percaya dan tersenyum.



“oppa… kau juga datang…”ujar Joo ri, menatap Ji hoon tidak menyangka

“ne… mereka mengundangku… dan kau…?”

“ne… aku harus datang dan harus mengenakan pakaian yang menyusahkan ini… benar-benar menyebalkan…”ujar Joo ri, menatap sinis Yong jun yang sudah berdiri disisi Joo ri.

“kau punya tugas untuk menjagaku…”

“tapi tidak perlu seperti ini…”

“cukup… kita harus menemui kedua mempelai untuk mengucapkan selamat…”

“tapi…”

“oppa…!!’seru seseorang tiba-tiba, menghampiri Ji hoon yang berdiri dihadapan Joo ri dan Yong jun. Joo ri terlihat diam menatap orang itu, sedikit sebal juga.

“ini minumannya…”ujar Yeun jin, sambil kemudian memberikan minuman mana Ji hoon.

“gomawo Yeun jin-aa…”

Choi Yeun jin terlihat sangat cantik malam itu dengan gaun putih, rambut di gelung dan sebuah pita bunga berwarna pink yang menghiasinya. Joo ri terlihat diam, menundukkan kepalanya.

Yong jun diam, mengetahui itu, kemudian berdeham keras “…ayo…ikut aku… kita harus menemui kedua mempelai dna mengucapkan selamat…”ujar Yong jun yang kemudian menarik tangan Joo ri untuk mengikutinya

“…” Joo ri menghela napas keras dan mengikuti langkah Yong jun.

Joo ri melangkah diam, tanpa sekalipun lengah dengan sekitar. Ia menatap beberapa sudut yang mungkin dapat digunakan oleh orang-orang yang mengejar sang Siberian husky dan mengancam keselamatan Siberian husky nya itu.

“yya… apa yang kau lakukan..”ujar Yong jun ketika menyadari tangan Joo ri melingkar dilengan Yong jun untuk berpegangan.

“yya… aku takut jatuh dengan sepatu ini…”

“yya!! Takut?!?! Bukankah kau tdai dapat berlari dengan sepatu itu ketika mengejar Kang Ji hoon…?”

“ausshhh…” Joo ri menyadari kesalahannya.

Tak lama setelah memeberikan selamat selesai, Joo ri kembali berjaga, melihat sekitarnya, menjaga Yong jun, hingga tiba-tiba seseorang mendekapnya dari belakang dan berhasil membuat sedikit keributan karena tiba-tiba juga Joo ri menarik lengan orang yang mendekapnya, memitingnya dan menjatuhkannya hingga jatuh terkurap dengan salah satu lengan yang dipelintir oleh Joo ri.

“akkh!! Kau menyakiti lenganku…”ujar Kim bum, kesakitan

“ahh… mianhe…” ujar Joo ri yang kemudian melepaskan pelintirannya, dan perlahan membantu Kim bum bangun.

“gwenchana… aku juga yang salah, karena tiba-tiba memelukmu…”

“mianhe…”ujar Joo ri sambil membungkukkan separo tubuhnya pada Kim bum, semua tamu yang hadir dan juga kedua mempelai. “maaf… maaf…”ujar Joo ri.

Yong jun diam, tidak memperdulikan Joo ri hingga tiba-tiba dengan gerakan cepat, Yong jun menggendong Joo rid an membawanya pergi. Desing peluru terdengar tepat setelahnya, membuat beberapa orang tamu yang menyadarinya mulai pergi disusul oleh tamu yang lain.

Joo ri diam ditempatnya, menatap Yong jun yang terlihat tengah berlindung dibalik pohon bersamanya dan mengintai siapapun yang menembakkan pelurunya ditengah kerumunan. Yong jun menggenggam pistol yang diberikan Joo ri layaknya seorang tentara yang tengah mengintai musuhnya.

Joo ri menatap takjub pada Yong jun, tidak menyangka.

“apa kau tidak memiliki senjata apapun di tanganmu…”tanya Yong jun

“ahni!! Tak ada… bukankah kau bilang untuk melepaskan semuanya… jadi aku benar-benar melepaskan semuanya…”

“ausshhh… bodoh…”

“kau yang bodoh…”

Keduanya diam dan kembali mengintai. Tak lama tiba-tiba sebuah peluru menghantam keras pohon dimana tempat keduanya berlindung dan membuat keduanya kembali siaga dan bersembunyi kembali.

“auusshhh… cari bantuan… kita tidak mungkin menghadapinya… dan lagipula kita tidak tahu berapa banyak mereka…”

“ausshh… tentu saja… aku sudah terlatih…”ujar Joo ri kesal, menekan sebuah nomer di ponselnya dan kemudian segera terhubung dengan seseorang.

“Luke… butuh bantuan…”ujar Joo ri yang kemudian segera menutup ponsel ditangannya dan kembali waspada.

“auusshhh… apa tidak ada orang lain…?”ujar Yong jun kesal

Joo ri diam menatap Yong jun aneh sekaligus kesal


***********

End Of Chapters